Yayasan Dakwah Salimah Sukoharjo Resmikan Taman Pendidikan Tahfidzul Qur’an

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Yayasan Dakwah Salimah Lentera Ummat (YDSLU) Sukoharjo, Jawa Tengah meresmikan Taman Pendidikan Tahfidzul Qur’an (TPTQ) Salimah di Gedung Salimah, Warubaki, Sukoharjo, Selasa (9/7/2018). TPTQ Salimah merupakan salah satu program pendidikan unggulan Yayasan Dakwah Salimah.

Dewan Pembina Yayasan Dakwah Salimah, Ustadz Surawijaya dalam sambutannya mengatakan, untuk terwujudnya pendidikan yang baik ada tiga faktor penting yang harus bersinergi, yaitu lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

“Selain kurikulum yang baik, kerja sama tiga pihak ini penting untuk menunjang berlangsungya pendidikan, yakni yang pertama keluarga harus mendukung, dari lembaga mendukung dan dari masyarakat juga mendukung,” jelasnya.

Ustadz Surawijaya juga menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam terwujudnya program pendidikan Yayasan Dakwah Salimah yang telah digagas tahun lalu ini.

“Alhamdulillah, kami ucapkan terima kasih kepada donatur dan kaum muslimin semua, apa yang kita usahakan bersama, ini semoga menjadi wasilah dan hujjah kita di hadapan Allah Subhanahu wata’la,” tuturnya.

TPTQ Salimah bertekad untuk mencetak generasi penghafal Al Qur’an yang shaleh dan berakhlakul karimah.

“TPTQ Salimah dengan pengajar yang kompeten di bidangya, menargetkan setelah lulus nanti bisa mencetak generasi sholeh/ sholehah, berakhlaqul karimah, mampu hafal juz 30 dan hadits- hadits pilihan,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari

Al Khaththath: “Carilah Pemimpin yang Takut Kepada Allah”

JEMBER (Jurnalislam.com) – Sekjen Forum Ummat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khathath mengatakan, umat Islam harus memilih pemimpin yang takut kepada Allah. Sebab, kata dia, kepemimpinan adalah amanah dari Allah.

“Hakikat Kepemimpinan adalah amanah dari Allah, sudah sepantasnya kita mencari Pemimpin yang takut kepada yang memberinya Amanah, bukan takut kepada pihak asing dan aseng,” katanya dalam Tabligh Akbar “Memilih Pemimpin yang Akan Datang” di Masjid Al Furqan Jember beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, pemimpin Indonesia yang akan datang harus bisa memanusiakan manusia dengan beriman kepada Allah SWT.

“Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksud adalah yang tercantum dalam konstitusi yang disusun oleh para pendiri bangsa ini, yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Itu jelas ada di pembukaan UUD 1945,” terangnya.

Selain itu, calon pemimpin Indonesia yang akan datang juga harus memahami sejarah khusunya tentang perjuangan umat Islam Indonesia.

“Yang jadi pemimpin di Indonesia harus mau terikat dengan aturan Islam. Kenapa bisa begitu? Karena negeri ini diwariskan oleh orang-orang yang berkomitmen dengan Islam,” tegasnya.

Al Khathath kemudian mengutip Firman Allah dalam Surat Al Ahzab ayat 36. “Apakah pantas bagi seorang mukmin untuk mencari opsi selain dari opsi yang sudah ditentukan oleh aturan-Nya,” tuturnya.

Mau Usulkan Calon Presiden, Hubungi Nomor ini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath menyatakan telah menyiapkan sebuah nomor untuk menampung aspirasi umat Islam dalam menentukan pemimpin dalam pilpres 2019 nanti.

“Buat seluruh umat Islam dapat menghubungi 087777787964 untuk memberikan usulan pemimpin untuk disiapkan dalam pilpres 2019,” katanya dalam Acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan topik ‘Pemimpin yang Kita Cita-citakan Sesuai Amanat UUD’45’ menuai polemik di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Selasa (10/07/2018).

Ia menjelaskan, usulan umat yang terkumpul akan dibicarakan dan ditentukan dalam pertemuan ulama dan ormas-ormas Islam.

“Semoga pilihan umat dan ulama mendapatkan presiden yang soleh,” pungkasnya.

Reporter: Gio

MUI: Indonesia Butuh Pemimpin Bermoral

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, Dr. Abdul Chair Ramadhan mengatakan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang bermoral.

“Pemimpin juga harus mempunyai moral, siapapun dan di manapun menjabat harus kedepankan moral,” katanya dalam Acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI dengan topik ‘Pemimpin yang Kita Cita-citakan Sesuai Amanat UUD’45’ menuai polemik di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al Azhar, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Karena permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini membutuhkan ketahanan nasional, ekonomi dan keluarga. Menurutnya, kepemimpinan nasional harus ada agenda transaksional di daerah maupun kepemerintahan.

Dia menjelaskan, pemimpin harus memahami konsepsi pertahanan nasional agar kepemimpinan yang sesuai undang-undang dapat terwujud. “Dia harus kreatif dan inovatif,” cetusnya.

Lalu, pemimpin juga harus mempunyai strategi politik hukum Pancagatra. Karena pemimpin harus mempunyai gagasan yang komplek agar dirasakan rakyatnya.

Pancagatra adalah aspek-aspek kehidupan nasional yang menyangkut kehidupan dan pergaulan hidup manusia dalam bermasyarakat dan bernegara dengan ikatan-ikatan, aturan-aturan dan norma-norma tertentu.

Reporter: Gio

Di Bandung, Cuaca Dingin Sebabkan Daun Membeku

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Cuaca dengan temperatur cukup rendah melanda wilayah Bandung membuat dedauan di Desa Neglasari, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat membeku. Salah seorang warga Kertasari, Yanto, mengakui adanya daun membeku setiap pagi di sana.

“Itu daun yang membeku pas pagi hari itu ada di daerah atas, daerah pegunungan, di Desa Neglasari, kebetulan teman saya ada yang tinggal di sana dan kata teman saya memang daun di sana membeku kalau pagi hari,” kata salah seorang warga Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, Yanto, Sabtu (7/7/2018) dilansir Republika.

Yanto mengaku saat ini udara pada pagi hari di tempat tinggalnya terasa lebih dingin dari biasanya. “Di Kota Bandung saja suhu, katanya mencapai 16 derajat, apalagi di sini kang, daerah saya kan daerah dataran tinggi, jadi memang sangat dingin,” tambahnya.

Menurut dia suhu udara yang dingin terutama dini hari membuat embun menjadi terasa beku. “Suka muncul embun yang akan terasa kasar seperti beku saat pagi hari. Bahkan kata teman saya yang di Neglasari, dia itu menyimpan motor di luar malam hari, ketika subuh mau dipakai itu motornya diselemuti semacam es,” jelas dia.

Ia menuturkan untuk menghangatkan badan dan ruangan warga di Kecamatan Neglasari bisanya menyalakan perapian di dalam pemanas tradisional yang disebut hawu. “Rata-rata warga punya hawu untuk menghangatkan suhu ruangan dan tubuh,” kata dia.

Ustadz Zaitun Rasmin Serukan Umat Islam Lindungi Kota-kota Suci

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Rabithah Ulama dan Dai Asia Tenggara, Ustadz Zaitun Rasmin menyeru kaum muslimin, terutama para pemimpin dan ulama agar menyikapi kota-kota suci secara adil. Terutama Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis Yahudi.

Pernyataan itu disampaikan dalam rangka Seminar Internasional bertema “Pembelaan Terhadap Tanah Suci Umat Islam” di Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2018).

“Indonesia untuk membebaskan dan membela Baitul Maqdis, tentu langkah yang kita harapkan adalah edukasi terhadap umatnya, tentang kemuliaan dan kehormatan daripada ketiga kota suci itu yaitu Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis,” kata Ustadz Zaitun dalam jumpa pers, Jumat (6/7/2018).

Ustadz Zaitun juga mengajak umat Islam untuk melakukan langkah-langkah konkret dalam membela dan melindungi Baitul Maqdis.

“Sementara umat tidak mengerti semua persoalan, sehingga barangkali ada yang kelihatannya baik tapi sebetulnya hanya menistakan transisi itu. Selain edukasi, kita akan lakukan gerakan-gerakan kampanye baik dalam bentuk media maupun kegiatan yang bersifat fisik seperti demo besar yang kita lakukan di Monas,” ujarnya.

Rencana Rahasia AS dan Israel Terkait Yerusalem Bocor, Begini Informasinya

Selanjutnya, Ustadz Zaitun mengungkapkan agar kaum muslimin tidak boleh lupa dengan kondisi kota suci yang ketiga, yaitu Baitul Maqdis yang sudah lebih dari tujuh puluh tahun dalam cengkeraman penjajahan Zionis Israel hingga saat ini.

“Semua kota suci itu harus berada dalam penguasaan, pemeliharaan, dan penjagaan umat Islam sendiri. Alasannya hakikat kota suci itulah adalah keberadaan “Rumah Allah”, yaitu mesjid-mesjid suci, dan Allah hanya mengizinkan penjaga dan pemakmur mesjid-mesjid Allah itu adalah orang-orang yang beriman, bukan orang-orang yang kafir dan menyekutukan-Nya,” paparnya.

Oleh sebab itulah, kewajiban kaum muslimin di dunia, bersatu padu untuk membela kesucian dan keselamatannya. Bahwa perjuangan membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman Zionis Yahudi sama pentingnya dengan menjaga dan melindungi Haramain dari usaha mengacaukan dan mencabutnya dari pelayannya yang sah.

5 Hal Penting Tentang Masjid Al Aqsha yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

“Dengan isu internasionalisasi Al Haramain yang hanyalah cover untuk konspirasi mengacau stabilitas. Demikian pula sebaliknya tidak adil jika menjaga kemuliaan Haramain sementara penderitaan Baitul Maqdis dibiarkan tanpa ada yang peduli,” ucap Ustadz Zaitun.

Seminar internasional yang dihadiri oleh seratus ulama dan dai dari berbagai wilayah di Indonesia. Juga menghadirkan dua narasumber yaitu: Syekh Dr. Murawih Nassar dan Syekh Dr. Isa Al-Masmali. Dalam konpers turut hadir Sekjen MIUMI sekaligus Ketua Umum Spirit of Aqsa Ustadz Bachtiar Nasir, Mudir Aam JATMAN KH Wahfiudin, dan beberapa ulama dari negara lain.

Muhammadiyah Menurut Ustadz Adi Hidayat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Nama Muhammadiyah yang diberikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan saat mendirikannya merupakan visi sekaligus misi yang harus dipahami oleh warga Muhammadiyah.

Demikian yang disampaikan dai muda Muhammadiyah Ustadz Adi Hidayat saat mengisi acara Pengajian Bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakpus, Jumat (6/7/2018).

“Di dalam Al Quran ada empat kali penyebutan nama Muhammad dan satu kali nama Ahmad. Muhammad sifatnya horizontal, hubungan sosial yang kuat sesama manusia sedangkan Ahmad bersifat vertikal, hubungan pribadi yang kuat dengan Tuhan,” tuturnya.

Jika kebaikan terhadap manusia hanya sangat bagus dalam satu aspek saja, orang Arab menyebutnya Mahmud, lanjutnya. Tapi jika seluruh aspek, menjadi Muhammad. Jika hubungan baik terhadap Tuhan hanya sangat bagus dalam satu aspek, namanya Hamid. Tapi jika seluruh aspek namanya Ahmad. Nabi Muhammad memiliki keduanya, Muhammad dan Ahmad.

Sehingga menurutnya, tidak mengherankan jika kemudian Kyai Dahlan memakai nama Muhammadiyah sebagai nama organisasi karena beliau ingin Muhammadiyah berbuat kebaikan secara maksimal di segala aspek horizontal.

Reporter: Gio

Ketua Umum PP Muhammadiyah: Silaturahim Rekatkan Persaudaraan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Silaturahim sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan manusia secara luas. Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Pengajian Bulanan PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (6/7/2018)

“Silaturahim adalah ajaran Islam yang luar biasa kaya, konsep yang mengandung banyak aspek yang dibutuhkan oleh kehidupan manusia yang esensial,” katanya.

Menurut Haedar, silaturahim bukan sekadar menjalin yang sudah ada, tetapi bahkan menyambung kembali yang sudah terputus.

“Intinya mempertautkan persaudaraan. Awalnya persaudaraan senasab, lalu seiman, bahkan kemanusiaan universal. Perbedaan suku maupun ras tidak menghalangi persaudaraan karena kita semua berasal dari Adam,” imbuhnya.

Dalam konteks bangsa dan umat, lanjut Haedar, silaturahim memiliki urgensi yang lebih besar sebab berada mencakup tataran psikologis dan sosiologis.

“Untuk menyambung silaturahim, ada masalah ego dan kepentingan. Oleh karena itu silaturahim ajarannya mudah tapi aktualisasinya sulit. Bahkan sering terjadi terhadap saudara seiman. Ada ananiyah hizbiyyah, egoisme kelompok. Hanya gara-gara masjid, mazhab dan lainnya silaturahim rusak,” terang Haedar.

Perbedaan politik juga jangan sampai memecahbelah anak bangsa, lanjutnya. Apalagi sampai putus silaturahim dan ingin membinasakan yang berbeda.

“Sebab politik adalah ranah kepentingan, hanya elit politiklah yang tahu di balik kebijakan karena mereka yang melakukan transaksi,” pungkas Haedar.

Reporter: Gio

3.000 Mahasiswa dari 54 PTKIS Ikuti PIONIR di Ponpes Cipasung Tasikmalaya

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) Kopertis Wilayah II Jabar Banten digelar di Lapangan Helipad Cipasung Kampus Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Singaparna Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (6/7/2018).

Ketua Panitia Lokal Pionir H Dendi Yuda menuturkan, kegiatan Pionir ini baru pertama kalinya dilaksanakan. IAIC menjadi tuan rumah kegiatan yang akan dilaksanakan selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu (6-8/7/2018) ini.

”Ada delapan materi lomba yang akan dilaksanakan, diantaranya voli, tenis meja, catur, syahril Quran, kaligrafi, paduan suara, riset dan lomba karya ilmiah,” tutur Dendi dilansir Radar Tasik, Kamis (5/7/2018).

Ia mengatakan, ajang ini akan diikuti sekitar 54 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIS) dengan jumlah peserta lebih dari 3.000 mahasiswa. Pionir ini menjadi ajang untuk menggali potensi mahasiswa dalam bidang olahraga, seni dan karya ilmiah.

Selain itu, menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan penguatan jaringan antar perguruan tinggi Islam swasta yang ada di Jawa Barat dan Banten.

”Kami sebagai tuan rumah sudah bersiap. Mulai dari tempat perlombaan hingga asrama. Kami sudah menyiapkan 21 asrama di Pondok Pesantren Cipasung yang bisa menampung sekitar 3.000 orang. Asrama ini akan digunakan untuk menginap para peserta,” terangnya.

Dendi juga menuturkan, ajang Pionir yang akan dihadiri ribuan peserta ini bisa mengangkat nama Kampus Cipasung dan Pondok Pesantren Cipasung yang kaya akan sejarah.

Kegiatan ini rencananya akan dihadiri selain oleh Gubernur Jawa Barat, Bupati Tasikmalaya, Rektor Perguruan Tinggi Islam, Perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dan lainnya.

“Acara akan kita mulai setelah Shalat Jumat. Dalam pembukaan ada kreasi seni, pencak silat 100 anak, tari zapin 100 santri Cipasung, ada juga defile,” ungkapnya.

Gubernur Anies Tutup Multaqo Ulama dan Dai Internasional ke-V

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi menutup gelaran Multaqo atau Pertemuan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-V di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jum’at (6/7/2018).

Dalam sambutannya, Anies berharap agar acara seperti Multaqo ini dapat terus berlangsung. Ia juga berpesan untuk penyelenggaraannya semakin lebih baik lagi.

Menurutnya, pertemuan itu penting karena dihadiri oleh para ulama dari banyak negara.

“Kita bisa merasakan dari dekat kehadiran ulama dari berbagai belahan dunia ini,” ujarnya.

Secara khusus, Anies juga menyampaikan apresiasinya kepada utusan da’i dan ulama dari Indonesia yang telah memberikan warna di kancah dunia.

“Saya ucapkan terima kasih telah ikut membawa nama umat Islam Indonesia,” terangnya.

Ini Pidato Anies Baswedan di Hadapan Para Ulama Dunia

Anies menambahkan, Multaqo tersebut juga menghasil 10 poin rekomendasi. Diantaranya adalah bagaimana memperkuat Jakarta sebagai salah satu pusat peradaban dalam konteks nasional dan internasional.

Pertemuan yang digelar sejak Selasa (3/8/2018) dihadiri oleh sebanyak 600 ulama dan dai serta para narasumber baik dari Indonesia maupun Timur Tengah.

Reporter: Yahya G. Nasrullah/ Islamic News Agency (INA)