Umat yang Keruh Berasal dari Hati yang Keruh Karena Cinta Dunia

Umat yang Keruh Berasal dari Hati yang Keruh Karena Cinta Dunia

SERANG (Jurnalislam.com) – Hati adalah harta berharga yang dimiliki oleh setiap insan, ia sangat mempengaruhi kualitas seorang insan, seperti dikabarkan oleh sebuah hadist “Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh anggota dan jika maka rusaklah seluruh anggota, ketahuilah itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Khotib Iedul Fitri di Masjid Al-Muhajirin Waringin Kurung Serang Banten Senin (2/5/2022) lalu ustadz Mahruroji mengingatkan kepada jamaah melalui isi khutbahnya tentang besarnya pengaruh hati pada setiap insan bahkan ummat.

Ustadz Mahruroji mengingatkan bahwa kemampuan kita melaksanakan serangkaian ibadah selama bulan Ramadhan bukanlah disebabkan shalih/shalihahnya kita, melainkan atas ijin, nikmat dan pertolongan Allah, karenanya sangat tak pantas kita untuk menyombongkan diri kita dihadapan manusia apalagi dihadapan Sang Pencipta, sebaliknya ibadah dibulan Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang tawadhu merendah kepada Allah SWT dan peduli kepada sesama.

Ustadz Mahruroji mencontohkan nabiyullah Muhammad SAW, beliau menjadi insan terpilih bukan semata karena tampan wajahnya, melainkan karena ia sang pemilik hati yang bersih. Sangat berbeda dengan kebanyakan insan yang sibuk menata fisik penampilannya agar tampak indah namun lupa memperhatikan keindahan hatinya, maka mengapa kita dapati umat hari ini tampak keruh tidak lain karena keruhlah hatinya. Mengapa banyak insan yang gemar berselisih, jidal, sombong tidak lain karena keruh hatinya, dan penyebab hati keruh adalah cinta dunia. Cinta dunia lah yang membuat kaum muslimin bertikai dan saling bermusuhan.

Rasulullah mengatakan kepada para sahabat “Jika kalian tahu perkara syurga dan neraka seperti aku mengetahuinya, maka tentu kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa dalam hidup di dunia ini”

Ustadz Mahruroji menjelaskan bahwa perjalanan dari dunia keakhirat kampung halaman kita sangatlah panjang, dan beliau memberi perumpamaan bahwa pulang mudik saja tentu kita memikirkan bekal yang cukup, kendaraan yang baik agar selamat sampai kampung halaman, namun pernahkah kita berpikir untuk bekal perjalanan menuju kampung halaman diakhirat, telah cukupkah bekalnya, baikkah kendaraannya. Kata beliau lagi sebaik-baik bekal untuk pulang kampung akhirat adalah takwa. Dan Ramadhan seharusnya adalah pencetak insan-insan yang takwa.

Berakhirnya Ramadhan, umat Islam ada pada 2 golongan, golongan pertama adalah mereka yang berbahagia karena mengisi Ramadhan dengan amal-amal yang mendekatkan diri pada Allah SWT, jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi mereka setidaknya mereka punya bekal indah. Sedangkan golongan kedua adalah mereka orang-orang yang menyesal yang sibuk di Ramadhan tahun ini dengan urusan dunia dan dunia, jika Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terakhir maka penyesalanlah yang mereka bawa, dan waktu tidak akan pernah kembali. Berapa banyak orang-orang di dalam kubur berharap kembali ke dunia hanya untuk berbuat amal baik.

Jika kita melihat pada siroh bagaimana kaum Muslimin berkali-kali meraih kemenangan? Itu dikarenakan mereka memiliki hati yang bersih yang peduli kepada saudara Muslim sebagaimana kepedulian kepada diri sendiri bahkan mereka lebih mendahului kepentingan saudara muslim dibandingkan kepentingan diri mereka sendiri, mereka itulah yang menjauhi cinta dunia dan sebaliknya ketika mereka mengalami kekalahan tidak lain penyebabnya adalah cinta dunia.

Diakhir khotbahnya, ustadz Mahruroji berpesan kepada jamaah shalat Ied agar mohon ampun kepada Allah atas segala kecacatan dalam beribadah dibulan Ramadhan tahun ini, meminta agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan dan meminta pertolongan Allah agar dapat beribadah maksimal pada bulan Ramadhan tahun depan.

Reporter : Jumi Yanti Sutisna

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close X