Test the Water dan Usaha Rayap-rayap Sekuleris Gerogoti Bangunan Muslim Indonesia

KEBIJAKAN yang terkait kepentingan krusial publik bisa jadi mekanismenya adalah melalui kewenangan legislatif, legislatif bersama pemerintah, atau atas inisiatif pemerintah dengan persetujuan pihak legislatif. Atau langsung oleh pemerintah melalui departemen dan dirjen terkait.

Biasanya legal opinion itu menjadi bagian dari mekanisme legitimimasi sebuah konsep yang mau diputuskan dan diimplementasikan. Atau ada proses pengkondisian opini menjadi komponen penting agar sebuah rencana/konsep itu harus di bahas dan diputuskan.

Dan niscaya juga strategi "test the water" dengan cara melemparkan opini untuk mengukur respon publik yang kemudian dijadikan pertimbangan sebuah rencana kebijakan itu dilanjutkan atau di tunda dan atau sama sekali dibatalkan kemudian mencari opsi lain.

Dalam kasus wacana pengaturan doa di sekolah bagi anak didik oleh menteri Anies Baswedan, saya lebih merasakan bahwa betapa kaum sekuler yang memegang kebijakan di sektor pendidikan dan sektor lainya tidak ubahnya seperti rayap-rayap yang kerjanya menggerogoti bangunan masyarakat Muslim Indonesia.

Sedikit demi sedikit kaum sekuler terus berusaha melahirkan kebijakan untuk memastikan pengampasan kaum muslimin dari agamanya itu terjadi. Indonesia ingin dijaga menjadi negara sekuler sejati, agama hanya menjadi simbol dan spiritualisme ansich.

Agama harus dikotak-kotak dalam doktrin sempit, tidak boleh menjadi pondasi bangunan masyarakat bernegara secara utuh. Maka sektor pendidikan adalah faktor kunci bagaimana Indonesia kedepan bisa melahirkan generasi sekuler dan mereka para "rayap-rayap", siang dan malam bekerja untuk merobohkan integritas umat Islam terhadap agamanya baik di wilayah akidah maupun syariat,” pungkasnya.

Disinilah letak pentingnya amar makruf nahi mungkar bagi para ulama dan intelektual muslim yang hanif untuk tegak berdiri menjaga umat menghadapi serbuan "rayap-rayap" sekulerisme yg lapar dan hanya mencari sekerat tulang dunia yg tidak pernah mengenyangkan dengan kerja menghancurkan Islam.

Penulis adalah Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) dan Pengasuh Majelis Al Bayan, Lamongan Jawa Timur

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X