Tanpa Koordinasi dengan HTS, Pasukan Turki Bergerak ke Dalam Provinsi Idlib

Tanpa Koordinasi dengan HTS, Pasukan Turki Bergerak ke Dalam Provinsi Idlib

ANTAKYA (Jurnalislam.com) – Konvoi 12 kendaraan lapis baja pasukan Turki telah memasuki wilayah utara Suriah dalam sebuah gerakan militer baru.

Media berita Turki melaporkan bahwa kendaraan yang membawa tentara tersebut menyeberang ke provinsi Idlib, Kamis malam (Jumat dini hari).

Perkembangan tersebut terjadi setelah Turki mengatakan bahwa pihaknya mengirim pasukan ke Suriah untuk memberlakukan zona de-eskalasi di Idlib, yang dikendalikan oleh aliansi faksi jihad Hayyat Tahrir al-Sham (HTS).

Zona de-eskalasi merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai antara Turki, yang mendukung kekuatan melawan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, dan Iran dan Rusia, yang mendukung pemerintahan Rezim Bashar.

Sumber media Turki mengatakan konvoi tersebut mencakup sekitar 80 tentara.

Sumber-sumber lokal mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pasukan tersebut menuju ke bagian barat provinsi Aleppo.

Analisis: Turki Perhitungkan Kekuatan Hayat Tahrir al Sham di Idlib

Hashem Ahelbarra dari Al Jazeera, Jumat (13/10/2017), melaporkan dari Antakya, dekat perbatasan Turki dengan Suriah, mengatakan puluhan kendaraan militer telah menyeberang ke Suriah.

“Kami tahu dari sumber yang berbeda bahwa militer Turki berada di pinggiran barat provinsi Aleppo, namun tujuan akhir mereka adalah Idlib.

“Masih harus dilihat apa yang akan terjadi pada mujahidin Hayat Tahrir al-Sham, yang dipimpin Jabhat Fath al Sham, bagaimana sikap mereka atas pergerakan pasukan Turki di Idlib?”

Warga sipil di sana kuatir akan potensi bentrokan antara pasukan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung Turki dan HTS.

Sebuah serangan militer telah terjadi akhir-akhir ini di sepanjang perbatasan Turki dengan Suriah, dimana pemerintah Turki mendukung sebuah operasi untuk mengamankan kontrol perbatasan di provinsi Idlib.

Tentara Turki mulai mendirikan “pos pengamatan” di provinsi Idlib sebagai bagian dari upayanya untuk menciptakan zona de-eskalasi, kata militer pada hari Jumat.

“Pada 12 Oktober (Kamis), kami memulai kegiatan untuk mendirikan pos pengamatan,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

Turki menghadapi banyak tantangan saat bergerak lebih dalam di Suriah, kata Ahelbarra.

“Pertama-tama, Turki perlu menerapkan zona de-eskalasi. Mereka harus memastikan bahwa tidak ada pihak yang terlibat dalam pertempuran dalam waktu dekat,” katanya.

Tantangan kedua adalah bahwa pasukan Kurdi beroperasi tidak jauh dari tempat militer Turki ditempatkan di Suriah. Turki mengatakan di waktu lalu bahwa mereka menganggap semua faksi Kurdi, khususnya organisasi SDF dan YPG, sebagai “teroris”, dan bahwa Turki tidak akan membiarkan mereka maju lebih jauh ke barat menuju Mediterania.

Bagikan
Close X