Serangan Udara Koalisi Arab Membom Kediaman Mantan Presiden Yaman

YAMAN (Jurnalislam.com) – Pesawat-pesawat tempur koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi membom kediaman Ali Abdullah Saleh di ibukota, Sanaa, tapi mantan presiden Yaman itu diyakini berada dalam situasi aman, saksi mengatakan. Tiga serangan udara menghantam kediaman Saleh awal hari Ahad pagi (10/05/2015), tapi presiden dan keluarganya "baik-baik saja", kantor berita Yaman Khabar mengatakan, menurut kantor berita Reuters.

Gumpalan asap terlihat membubung dari daerah yang mendapat serangan terbaru di Sanaa setelah serangan udara malam secara intensif dilakukan terhadap posisi pemberontak. Serangan-serangan tersebut dilakukan setelah pemberontak menembaki kota perbatasan Saudi pada hari Kamis.

Saleh, yang mengundurkan diri pada 2012 setelah protes  sekala nasional menumbangkan  kepemimpinannya yang berlangsung selama tiga dekade, dituduh berpihak dengan pemberontak Syiah Houthi dalam menggulingkan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi pada bulan Februari.

Serangan udara terhadap pemberontak Houthi  yang bersekutu dengan Saleh dilakukan oleh koalisi negara-negara Arab sejak 26 Maret.

Tempat tinggal Saleh ditargetkan pada hari Ahad setelah pemberontak Houthi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan menangani "secara positif" dengan berbagai upaya untuk mengangkat penderitaan rakyat Yaman.

Hal itu merupakan tanda bahwa mereka akan menerima gencatan senjata kemanusiaan lima hari yang diusulkan oleh Arab Saudi. Namun tidak diketahui apakah serangan terbaru tersebut akan mempengaruhi sikap mereka.

Reporter Al Jazeera Mohamed Vall, melaporkan dari ibukota Saudi, Riyadh, mengatakan bahwa juru bicara urusan luar negeri Houthi telah menunjukkan di media sosial bahwa mereka dapat menerima gencatan senjata, jika memang "nyata dan serius".

"Kami masih menunggu konfirmasi lebih dari sisi Houthi – konfirmasi resmi lagi," kata wartawan kami.

"Untuk pertama kalinya sejak Saudi menawarkan gencatan senjata, pernyataan Houthi itu adalah tanda-tanda bahwa Houthi mungkin berpikir untuk menerima gencatan senjata."

Serangan terbaru di ibukota juga dilakukan setelah Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman mengatakan bahwa serangan udara baru koalisi di kota Saada Yaman melanggar hukum internasional.

"Pengeboman sembarangan di daerah penduduk, dengan atau tanpa peringatan sebelumnya, adalah bertentangan dengan hukum kemanusiaan internasional," kata Johannes van der Klaauw dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

"Banyak warga sipil secara efektif terjebak di Saada karena mereka tidak dapat mengakses transportasi karena kekurangan bahan bakar. Menargetkan seluruh propinsi akan menempatkan warga sipil pada risiko," kata van der Klaauw.

Koalisi mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka telah memukul  Houthi dengan 130 serangan udara 24 jam sebelumnya.

Mereka telah meminta warga sipil sebelum pengeboman untuk meninggalkan Saada, kota di Yaman utara yang memberikan dukungan terkuat bagi  pemberontak Houthi, tapi tidak jelas bagaimana mereka bisa pergi.

Serangan udara menargetkan markas para pemimpin Houthi di provinsi Saada dan Hajja, kata Brigadir Jenderal Ahmed Asseri,  serta manghantam tank dan kendaraan militer lainnya.

Rudal juga membombardir kampung halaman pemimpin pemberontak Abdul-Malik al-Houthi di Marran, dan wilayah di dekatnya yaitu Baqim, televisi Al-Masirah melaporkan.

Serangan lainnya menargetkan landasan pacu bandara Sanaa, seorang pejabat Yaman mengatakan, dan target Houthi di distrik al-Sadda di Ibb di pusat Yaman, warga di sana mengatakan.

Di kota pelabuhan selatan Aden, pertempuran terus berlangsung pada hari Jumat dan Sabtu di pusat Crater, kabupaten Khor Maksar dan Mualla saat Houthi dan pasukan yang setia kepada Saleh menyerang pejuang lokal yang berusaha mengusir mereka dari kota.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses