Peneliti ITB dan Unpad Kembangkan Alat Rapid Test Akurasi 80 Persen

Peneliti ITB dan Unpad Kembangkan Alat Rapid Test Akurasi 80 Persen

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Peneliti dan industri bioteknologi di Jawa Barat berhasil mengembangkan dua alat tes yang dapat mendeteksi virus Covid-19.

Dua penemuan tersebut diberi nama CePAD yang merupakan alat rapid test serta Surface Plasmon Resonance (SPR).

Keduanya merupakan hasil penelitian Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kepala Pusat Riset Bioteknologi Molekular dan Bioinformatika Unpad Toto Subroto mengatakan deteksi CePAD memiliki akurasi hingga 80 persen dan saat ini masih dalam proses validasi.

“Deteksi CePAD bisa mendeteksi ada virus Covid-19 atau tidak,” kata Toto melalui keterangan tertulis, Jumat.

Dia melanjutkan, metode deteksi CePAD berbasis antigen dan berbeda dengan rapid test yang ada di pasaran saat ini.

Alat rapid test yang diimpor dari China berbasis pada antibodi, padahal setiap orang yang terinfeksi Covid-19 belum tentu menghasilkan antibodi pada hari-hari awal infeksinya.

Selain itu, alat rapid test yang berada di pasaran memiliki akurasi lebih rendah dan harus diimpor dari luar negeri.

Sementara alat tes SPR berfungsi seperti alat tes polymere chain reaction (PCR) namun bisa digunakan tanpa laboratorium.

SPR mendeteksi adanya interaksi antara virus dengan antibodi. Jika terjadi interaksi, maka bisa dikatakan hasilnya positif.

Selain itu, SPR tidak memerlukan laboratorium untuk memastikan hasil tesnya. Alat ini hanya memerlukan laptop dan alat seukuran aki motor sehingga bisa digunakan secara portabel.

“Alat ini lebih murah, akurasinya masih akan kita paralelkan namun sementara ini sudah menunjukkan hasil yang positif. Hasilnya bagus, bisa deteksi spesifik terhadap SARS Covid,” jelas Toto.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menuturkan kedua alat tes ini ditargetkan akan diproduksi pada Juni 2020, sehingga tidak perlu bergantung pada alat tes impor.

Menurut Ridwan, alat tes yang tersedia saat ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehingga penemuan ini menjadi kabar baik.

“Harga dari rapid test made in Bandung ini hanya sepertiga dari harga rapid test yang diimpor dari Tiongkok,” tutur dia melalui akun Instagram.

Tes massal menjadi salah satu strategi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menekan laju kasus Covid-19 di tengah penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ridwan Kamil sebelumnya mengatakan dati total 120 ribu tes masif kepada warga Jawa Barat ternyata menunjukkan bahwa ada 63 persen wilayah yang terpantau tidak ada pergerakan Covid-19.

Hasil tes massal nantinya akan menjadi landasan kajian dan evaluasi untuk kebijakan selanjutnya agar aktivitas sosial dan ekonomi bisa berjalan.

Jawa Barat merupakan wilayah dengan kasus Covid-19 terbanyak ketiga di Indonesia setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Pada skala nasional, Kementerian Perindustrian juga menargetkan memproduksi 50 ribu alat tes PCR buatan dalam negeri pada akhir Mei 2020.

Alat tes PCR itu, lanjut dia, menggunakan analisa bioinformatika yang spesifikasinya paling dekat dengan virus SARS-CoV-2 yang menyebar di Indonesia.

Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro pada pekan lalu mengatakan alat PCR ini bisa memeriksa 32 sampel spesimen dalam waktu 1 jam 30 menit.

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X