Menyorot Pertahanan Indonesia: Kasus Pelanggaran Kapal Cina di Natuna

Rakhmat Abril Kholis*

(Jurnalislam.com)–Ada dua perspektif penting yang harus didudukkan secara proporsional pada isu ini. Pertama, terkait kapal Tiongkok yang memasuki wilayah perairan dan melanggar batas Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia.

Kedua, klaim sepihak Tiongkok terhadap wilayah perairan Natuna sebagai bagian dari negara Tiongkok berdasarkan pada aspek historis.

Pada bagian pertama, pemerintah Indonesia sebenarnya telah cukup sering menghadapi kapal asing yang melakukan illegal fishing khususnya di wilayah perbatasan.

Beberapa kebijakan seperti mengajukan nota protes diplomatik hingga penenggelaman kapal sebagai bagian deterrence effect dari Indonesia bagi para pelanggar zona perbatasan pun sudah dilakukan.

Terlebih pada kasus Natuna ini, Indonesia pada posisi yang kuat dengan basis Hukum Laut Internasional (UNCLOS 1982) dimana Indonesia dan Tiongkok keduanya ikutserta meratifikasi juga Pengadilan Internasional dalam Kasus PCA No. 2013-19 yang telah menolak klaim sepihak Tiongkok.

Atas dasar ini, seharusnya tidak ada permisif bagi kapal asing dari negara manapun yang melanggar wilayah perairan Natuna untuk ditindak secara tegas oleh pemerintah Indonesia.

Baik dengan cara mengajukan Nota Protes Diplomatik, dan lainnya. Sikap ini harus dilakukan supaya tidak menjadi legacy buruk bagi pemerintah dan seterusnya akan mendatangkan ancaman yang lebih ke depan.

Kedua, dalam aspek klaim sepihak dari Tiongkok. Pemerintah Indonesia harus serius menyikapi klaim sepihak ini. Karena akan menimbulkan efek domino ke depannya khususnya bagi keamanan wilayah perbatasan serta kemungkinan intervensi negara luar untuk ikut campur dalam kasus ini.

Sisi latar historis yang diklaim oleh Tiongkok selayaknya juga dapat direspon oleh para akademisi, sejarawan, serta budayawan Indonesia bahwa imperium kerajaan di Nusantara pun menguasai hampir seluruh bagian wilayah Asia Tenggara.

Jadi, alasan tersebut tidak cukup mampu diterima di tengah adanya hukum internasional yang telah disepakati bersama.

Pada aspek lain, tiap elemen pemerintah harus mempunyai keselarasan sikap atas kasus ini. Jangan sampai perbedaan instrumen kebijakan khususnya antara Menteri Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi celah bagi negara asing untuk mudah mencaplok wilayah perairan kita.

Operasi dan patroli besar-besaran yang dilakukan oleh TNI AL sangat tepat demi memberikan kepastian keamanan dan peringatan dini. Patroli berkala dilengkapi dengan kekuatan alutsista yang memadai di tiap perbatasan wilayah perairan Indonesia adalah hal yang mutlak untuk dilakukan.

Orientasi pertahanan nasional Indonesia harus bergeser dari yang semulanya defense oriented ke deterrence oriented sehingga kasus-kasus seperti ini tidak akan dengan mudah terjadi lagi.

Ke depan, demi mencegah kasus yang serupa dan berkepanjangan, Indonesia dapat mengusulkan adanya patroli bersama yang dilakukan oleh negara-negara ASEAN.

Hal ini menjadi bagian dari spirit Political and Security Community yang seharusnya dapat memperkuat keamanan antar negara-negara ASEAN itu sendiri.

*Analis Hubungan Internasional dan Studi Stratejik, The Westphalian Institute

Cegah Banjir, Masyarakat Diimbau Kerja Bakti Bersihkan Selokan

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengajak dan meminta semua warga, khususnya DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten serta wilayah-wilayah lainnya di Indonesia melakukan pembersihan got, gorong gorong, selokan mulai Ahad (5/1) hingga akhir Januari 2020.

Semua unsur kelurahan/desa hingga RT/RW diharapkan menjadi ujung tombak menggerakkan warga.

“Gotong royong serentak ini kiranya dimulai pukul 7 pagi hingga sore hari,” ujarnya seperti dalam keterangan tertulis, Ahad.

Kemudian, dia melanjutkan, di hari hari berikutnya kerja dan upaya gotong royong ini dilanjutkan.

Sebab, dia menjelaskan ancaman curah hujan yang tinggi hingga akhir Januari 2019 sebagaimana prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Doni juga meminta kepada semua gubernur dan kepala daerah agar memaksimalkan manajemen kebencaanan, penguatan posko serta pelibatan semua pihak baik dalam kesiapsiagaan maupun tanggap darurat.

Ia meminta gubernur, bupati, wali kota menjadi komandan satuan tugas dalam rangka pelayanan kebencanaan kepada semua warga.

“Keselamatan nyawa masyarakat adalah hukum tertinggi,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

 

Himpunan Pelajar Patani Indonesia Gelar Seminar Kebudayaan tentang Asean dan Melayu

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menjelang awal tahun 2020 Himpunan Pelajar Patani di Indonesia (HIPPI) gelar acara seminar nasional kultural ASEAN dengan menyusun tema “Menghayati dan Menghargai Kultural ASEAN”.

Seminar ini diselenggarakan di Falkutas Tarbiah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia, pada Sabtu (04/01/2020).

Tujuan tema ini digangkat adalah, pertama untuk mengenal budaya antar Negara, kedua untuk saling menhormati budaya antar Negara, dan ketiga untuk mempertahankan budaya sebagai jati diri bangsa.

Acara ini dimulai dengan menyayikan lagu Indonesia Raya, kata sambutan dari ketua pelaksanan, wakil ketua umum HIPPI, ketua POSTAR, dan perasmian acara seminar nasional kultural ASEAN oleh Dr. Randi Muhammad Gumilang, M.Pd.I (Dosen IAIN Samarinda, Kalimantan, Indonesia).

Narasumber kali ini dihadiri, pertama Rachmat Abril Kholis (Peneliti CIDES Indonesia Bid. Hubungan Internasional School of Strategis and Global Student, Universitas Indonesia), membahas mengenai “Mengapa Penting Budaya Bagi Seitap Orang”, kedua Kamarullah (Representatif UDEF, Uluslararası Öğrenci Dernekleri Federasyonu, Turki), membahas mengenai “Mengapa Budaya Harus Dipertahankan”, dan moderator Abdulkifli Dami (Wakil Ketua Umum HIPPI).

Penampilan Kebudayaan

Setelah selesai seminar nasional, di lanjutkan dengan presen dan penampilang budaya antar Negara ASEAN, pertama Negara Patani (Thailand Selatan), kedua Negara Indonesia, ketiga Negara Malaysia, keempat Negara Brunei Darussalam, dan kelima Negara Philipina.

Sufyan Doloh, salah seorang mahasiswa yang persentasi budaya Patani menyelaskan, bahwa Etnis dan kultur Melayu Indonesia, Malaysia, Singapura, Philipina dan Brunei Darussalam, adalah kultur yang sama.

Berdasar kultur bangsa Melayu yang tersisa adalah penduduk di wilayah Thailand Selatan, orang Melayu Thailand Selatan bertutur dengan bahasa Melayu sebagai bahasa Ibunda, dan beragama Islam serta mempunyai identitas yang sama dengan orang Melayu umumnya (Nusantara).

Manakala, budaya Melayu Patani mempunyai beerapa persamaan dengan budara di Indonesia, khususnya budaya yang ada di Pulau Sumatra, seperti Aceh dan Riau, yaitu mempunya pakaian tradional dan permaian tradisional yang hamper sama.

Suksesnya acara ini atas kerjasama Himpunan Pelajar Patani di Indonesia (HIPPI) dengan Pojok Seni Tarbiah (POSTAR), dan partisipasi dari beberapa mahasiswa internasional yang persentasi budaya Negara ASEAN.

Selama acara berlangsung ada beberapa zum tentang kebudayaan Patani, pameran buku-buku sejarah tentang Patani, pameran photo, dll.

NU dan Muhammadiyah Diharapkan Kompak Majukan Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Cendekiawan Muslim Prof KH Didin Hafidhuddin mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah dua ormas Islam terbesar yang dimiliki umat dan bangsa Indonesia.

Peran NU dan Muhammadiyah untuk merekatkan umat agar semakin kokoh kesatuan dan persatuannya tentu sangat diharapkan.

“Jika NU dan Muhammadiyah bergerak bersama dalam kesatuan yang rapi untuk menyejahterakan masyarakat, saya yakin akan terjadi percepatan yang signifikan,” kata Prof KH Didin, Jumat (3/1).

Ia menilai, NU dan Muhammadiyah perlu bekerja sama dalam pemberdayaan umat.

Misalnya dengan mendirikan koperasi berbasis masjid atau usaha-usaha lain yang berorientasi pada sektor ril. Maka tentu hasilnya akan sangat baik.

Ia menambahkan, jika NU dan Muhammadiyah bersama sama dalam membangun umat, pasti akan diikuti oleh yang lainnya.

“Saya sangat apresiatif terhadap ajakan Buya Anwar Abbas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang disambut baik oleh Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini. Mudah-mudahan hal ini bisa direalisasikan pada tahun 2020 ini Insya Allah,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Anwar Abbas berharap NU dan Muhammadiyah semakin kompak dan bersatu pada 2020 untuk berjuang bersama memperbaiki nasib rakyat.

Menanggapi ajakan itu, Sekretaris Jendela Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Helmy Faishal Zaini menyambut baik ajakan Buya Anwar Abbas.

sumber: republika.co.id

 

Wasekjen NU Kenang Ketegasan dan Konsistensi Tokoh Muhammadiyah Yunahar Ilyas

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengungkapkan duka dan kehilangan mendalam atas wafatnya Wakil Ketua Umum MUI Pusat dan salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas.

Masduki mengenang Prof Yunahar sebagai sosok yang lurus dan konsisten dalam perjuangan keislaman.

“Beliau banyak memberikan inspirasi untuk konsisten dalam perjuangan ya, beliau orang yang sangat lurus, ada satu pepatah, bicarakan kebenaran walaupun itu pahit di dengar, dan Prof Yunahar orang yang termasuk berbicara seperti itu,” ujar Masduki saat dihubungi wartawan, Jumat (3/1).

“Beliau juga adalah seorang muslim yang sejati, yang konsisten di dalam menegakkan prinsip-prinsip dasar keislaman,” ujar Masduki lagi.

Masduki yang juga Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat itu juga menilai Prof Yunahar sebagai sosok yang tegas.

Masduki bercerita ketegasan Prof Yunahar sebagai Wakil Ketua Umum MUI Pusat saat memimpin rapat-rapat MUI.

Prof Yunahar kata Masduki, selalu mengingatkan agar seluruh anggota untuk fokus membahas tema yang telah ditentukan.

“Biasanya kami itu di rapat MUI bisa berjam-jam karena banyak orang yang pengen ngomong dan ngomongnya itu tidak fokus, kalau yang pimpin Prof Yunahar selalu diingatkan agar tidak melebar-lebar dan fokus, beliau tegas soal itu,” ujar Masduki.

Juru Bicara Wakil Presiden itu menyebut pertemuan terakhirnya dengan Prof Yunahar saat mendampingi Wapres Ma’ruf menjenguk Prof Yunahar di RS PKU Muhammadiyah di Jogja, 7 November 2019 lalu.

Saat itu, Prof Yunahar kata Masduki sangat bersemangat menceritakan rencana transparansi ginjal yang akan dilakukannya guna kesehatannya.

“Beliau masih sangat optimis, bahwa akan melakukan transparasi ginjal dia cerita ke pak wapres sudah ada yang akan mendonorkan ginjalnya, dan waktu operasinya menunggu kesehatan optimal,” ujar Masduki.

“Saat itu beliau tersenyum sangat cerah, didampingi anak anaknya, beliau almarhum sempat kenalkan putra putrinya ke pak wapres, kami tidak mengira beliau akan meninggalkan kita semua, kami di MUI sangat merasa kehilangan ya,” ujarnya.

Sumber: republika.co.id

TPF: Polisi Sengaja Tembak Masjid dan Warga Muslim India

MANGALURU(Jurnalislam.com) — Tim pencari fakta memaparkan hasil investigasi kasus penembakan oleh kepolisian India saat mengawal aksi demonstrasi penolakan UU Kewarganegaraan, yang dinilai anti-Muslim. Investigasi internal itu mendapati bahwa penembakan dengan sengaja membidik warga muslim India.

Seperti diwartakan New Indian Express, Ahad (5/1) tim pencari fakta mendapati bahwa aksi penembakan oleh kepolisian saat mengawal demonstrasi pada 19 Desember 2019 lalu itu telah ‘direncanakan’.

Tim mengatakan, bahwa aparat bahkan dengan sengaja juga membidik pertokoan milik warga muslim bahkan menyerang masjid.

Tim pencari fakta terdiri dari perwakilan Serikat Rakyat untuk Kebebasan Sipil (PUCL) Persatuan Forum Rakyat India (AIPF) dan Konfederasi Nasional Organisasi Hak Asasi Manusia (NCHRO). Mereka mengatakan, tindakan kepolisian yang menyasar muslim itu sudah direncanakan satu hari sebelum peristiwa penembakan di Mangaluru.

Tim menganalisa 60 hingga 70 video yang beredar luas. mereka mendapat bahwa klaim kepolisian yang menyebut jumlah massa aksi mencapai 6000 hingga 7000 adalah salah. Tim mengatakan, massa aksi tidak lebih dari 200 hingga 300 orang.

Hasil penydikan juga mendapati bahwa demonstrasi diawali oleh pembubaran paksa sekitar 150 anak muda yang melakukan aksi damai oleh kepolisian sempat. Kepolisian menggunakan tindakan kekerasan untuk membubarkan aksi tersebut.

Para pemuda lantas mengaku kebingunan apakah aksi protes ingin diteruskan atau dibatalkan. Kendati, tim mengatakan aparat mengamuk dan menyerbu ke toko-toko di sekitar, menarik orang dan secara selektif menyerang warga Muslim.

Sekitar pukul 16.00 waktu setempat, tim kepolisian juga menyerang Masjid Ibrahim Khaleel di mana terdapat 80 orang yang tengah berdoa dengan damai. saat itu, kepolisian tengah berusaha mengejar pemuda tertentu ke masjid tersebut.

Aparat kemudian memulai serangan tanpa pandang bulu dengan batu dan gas air mata ke dalam masjid. Kepolisian selanjutnya mengamankan para pemimpin masyarakat untuk menenangkan situasi.

Kendati, situasi menjadi lebih buruk saat salah satu tokoh masyarakat Ashraf terluka di kepala akibat serangan polisi. Peristiwa itu selanjutnya memicu aksi besar massa.

Seperti diketahui, situasi India saat ini tengah diwarnai aksi protes dari warga atas Amandemen Kewarganegaraan baru yang dinilai sebagai UU Antimuslim. UU kewarganegaraan baru itu dinilai bias dengan kondisi India yang 14 persen populasinya menganut agama islam.

Sumber: republika.co.id

MUI Prediksi Iran Akan Balas AS Soal Pembunuhan Jenderalnya

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani dapat memicu malapetaka yang lebih besar di masa depan.

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengatakan bahwa kemungkinan Iran tidak akan tinggal diam dan akan membalas Amerika, yang akan membuat keadaan dunia semakin gawat.

“Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini tentu jelas  akan memantik ketegangan dan ancaman baru karena jelas pemerintah Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap apa yang sudah dilakukan oleh  pemerintah AS,” kata Anwar Abbas, Ahad (5/1/2020) dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Bisa jadi, kata Anwar Abbas, Ira dengan caranya sendiri yang mungkin saja tidak  terperhitungkan kapan dan bagaimana bentuknya  oleh AS dan negara lain akan membalas.

“Sehingga tidak mustahil hal demikian akan  bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang jauh  lebih besar lagi.

MUI, tambahnya, meminta Amerika dan negara-negara  adikuasa lain untuk tidak melakukan cara-cara kekerasan dan cara-cara yang tidak beradab dalam menyelesaikan masalah.

“Karena cara tersebut  akan bisa  menimbulkan masalah baru yang lebih rumit sehingga selain tidak mudah  untuk  menyelesaikannya,” kata dia.

Cara itu, dinilai bisa  juga akan menyeret dan merusak  kehidupan rakyat dan masyarakat di negara lain karena naiknya harga minyak dunia dan terganggunya perdagangan internasional yang ada.

 

Terjang Banjir, UBN Bersama Tim AQL Salurkan Bantuan kepada Para Korban

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Tim AQL Peduli bergerak cepat untuk ikut meringankan beban warga yang terdampak banjir di Jakarta.

Penyaluran bantuan disampaikan Tim AQL Peduli bersama Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) di Semanan, Kalideres dan Pesing, Daan mogot, Jakarta Barat.

 

Sekitar pukul 20.00, Jumat (3/1), Tim AQL Peduli tiba di Semanan, menembus gelapnya malam dan menerjang banjir yang masih menggenang hingga 1 meter. AQL Peduli menyalurkan bantuan makanan siap saji, makanan instan, air mineral, susu, perlengkapan bayi, selimut dan pakaian.

 

Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada korban banjir yang masih mengungsi di lantai 2 sebuah gedung perusahaan farmasi. Sekitar 100 pengungsi di tempat tersebut ditargetkan menerima bantuan.

 

“Semoga genangan banjir segera surut, dan Allah gantikan musibah ini dengan keadaan yang lebih baik. Allahumma Aamin,” kata Direktur AQL Peduli Ustadz Firman melalui keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (04/01/2020).

 

Barang bantuan dibawa oleh relawan dengan bantuan perahu karet dan rakitan agar bisa sampai ke tempat pengungsian. Akses menuju pengungsian ini lumayan sulit dan jauhnya sekitar 2 kilometer.

 

“Sehingga sejak banjir, bantuan yang masuk ke area ini pun tidak merata. Korban di pengungsian jika ingin keluar mencari bantuan dan makan, mengandalkan perahu rakitan seadanya yang terbuat dari bambu dan botol bekas yang mereka temukan, mengingat genangan air masih sepinggang orang dewasa,” katanya.

 

Saat tim AQL Peduli tiba di area pengungsian, sebagian warga sudah beristirahat dengan alas seadanya. Beberapa balita pun terlihat tertidur lelap meski suasananya pengap dan gelap karena aliran listrik belum berfungsi.

 

“Alhamdulillah kedatangan tim AQL Peduli dapat menorehkan senyum para pengungsi, masih banyak yang mereka butuhkan, karena minimnya air bersih, penerangan, pakaian serta bahan makanan,” kata Firman.

 

Tim AQL Peduli juga akan mengirimkan bantuan genset dan perlengkapan penerangan untuk dapat membantu korban di pengungsian ini. Usai membagikan bantuan dan mendata kebutuhan para pengungsi di daerah Semanan, sebagian tim AQL Peduli bergerak melanjutkan penyaluran bantuan ke Pesing, Daan mogot, Jakarta Barat.

 

Tim AQL peduli membagikan bantuan ke tiap rumah warga, dan tetap disambut senyum oleh penerima bantuan. Tepat pukul 00.00, Jumat (3/1), bantuan telah habis tersalurkan. Saatnya tim AQL Peduli kembali beristirahat agar besoknya dapat melanjutkan penyaluran bantuan ke titik terdampak banjir berikutnya.

 

“Bantuan pasca banjir juga akan mereka butuhkan, semisal alat kebersihan, perlengkapan sekolah dan lainnya, akan sangat bermanfaat bagi mereka,” kata Firman.

 

Dia mengajak seluruh kaum muslimin untuk membantu meringankan beban saudara lain yang tertimpa musibah banjir. “Doa dan bantuan kita sangat berarti bagi saudara kita, korban terdampak banjir,” katanya.

 

Bantuan dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) 7888804441, atas nama Yayasan Pusat Peradaban Islam.

Agenda Umat 2020: Mengubah Kerumunan Menjadi Gerakan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyebut ada tugas berat yang harus dilakukan oleh umat Islam agar Islam kembali berjaya di masa depan.

Tugas yang harus dilakukan oleh umat Islam tersebut yaitu mengubah sebuah kerumunan menjadi sebuah gerakan dan sebuah kumpulan menjadi sebuah gerakan.

“Untuk agenda umat saya rasa masih sama, pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita mengubah dari kerumunan menjadi sebuah gerakan dan bagaimana caranya mengubah sebuah kumpulan menjadi sebuah kekuatan, itu adalah ini,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, jum’at, (3/1/201/2020).

Menurutnya, umat Islam di Indonesia masih dapat tahap menjalin persatuan dan merajut ukhuwah diantara kaum muslimin.

“Karena kita sudah berkumpul dari berkerumun tapi kita belum punya satu kekuatan dan belum punya satu program untuk gerakan,” ujarnya.

Sehingga, katanya, di tahun 2020 ini, umat Islam harus serius melaksanakan dua agenda yang akan memberikan kemenangan bagi kaum muslimin.

“Maka kalau kita seandainya mau menang di masa depan maka 2020 tantangannya adalah mengubah kerumunan menjadi sebuah gerakan, mengubah kumpulan menjadi sebuah kekuatan insyaallah,” tandas ustaz Felix.

Banjir Jabodetabek dan Jerat Kapitalisme

oleh Ainul Mizan

Jurnalislam.com – Di awal tahun 2020 ini, Indonesia telah berduka. Hingar bingar malam perayaan tahun baru 2020 diakhiri dengan terjadinya bencana banjir di wilayah Jabodetabek. Termasuk di Jawa Barat dan di Banten.

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), banjir di Jawa Barat ada 97 titik, di Jakarta ada 63 titik dan di Banten ada 9 titik. Tentunya dengan luasnya wilayah yang terdampak banjir, ini merupakan bencana nasional.

Sedangkan jumlah korban meninggal menurut catatan Kementerian Sosial sebanyak 26 orang. Korban meninggal tersebut berasal dari sejumlah titik banjir di Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Utara, Suroto menyatakan bahwa proyek LRT dan jalan tol ibukota yang melewati Kelapa Gading telah mempersempit dan menutup tali air sehingga air tidak bisa mengalir dengan baik ke saluran air yang lebih besar.

Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan menyatakan bahwa para pelaku proyek insfrastruktur tersebut kurang memperhatikan drainase air.

Tak Perhatikan Lingkungan

Yang pasti bahwa pembangunan proyek yang tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan pemicu utama terjadinya banjir. Ditambah lagi sejak Selasa malam, 31 Desember 2019, curah hujan cukup deras.

Patut kiranya kita menilik visi ekonomi yang dicanangkan presiden Jokowi. Pembangunan insfrastruktur akan terus dilanjutkan dan aktivitas investasi akan terus ditingkatkan, lebih – lebih investasi asing.

Pembangunan insfrastruktur berupa pembangunan MRT, LRT, dan ruas jalan tol begitu masif dilakukan. Menurut Jokowi nantinya insfrastruktur akan terhubung dengan pusat – pusat kegiatan ekonomi rakyat. Baik UMKM maupun pertanian rakyat. Terbersit satu pertanyaan, apakah pembangunan insfrastruktur untuk kepentingan rakyat?

Untuk proyek tol yang sudah terwujud sepanjang 1245 km. Target 2019 dan 2020 sudah bisa dioperasikan. Tidak banyak rakyat yang menggunakannya.

Menilik dari upaya peningkatan investasi yang dilakukan dengan 2 langkah yakni proyek insfrastruktur yang masif dan penyederhanaan birokrasi pembangunan dalam investasi.  Tujuannya adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini aktivitas industri akan ditingkatkan dengan jalan investasi. Sedangkan industri membutuhkan ketersediaan bahan baku.

Dari sini bisa dimengerti kepentingan proyek insfrastruktur yang dihubungkan dengan sumber – sumber kegiatan ekonomi masyarakat. Lagi – lagi yang akan mampu bermain adalah para investor besar dan korporasi.

 

Demikianlah konsepsi ekonomi Kapitalisme. Meningkatkan pertumbuhan menjadi tujuan dari pembangunan ekonomi. Pemerataan ekonomi tidak menjadi perhatiannya. Aplikasinya di lapangan, rakyat diberikan kebebasan untuk bisa survive dalam medan persaingan ekonomi yang kejam. Yang bermodal besar dipandang sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi bangsa.

Tidaklah mengherankan bila kebijakan ekonomi lebih berpihak kepada para pelaku investasi. Bahkan sektor – sektor yang menguasai hajat hidup bangsa pun dijual atas nama investasi.

Pada kuartal II 2019, investasi asing terdapat di sektor listrik, air dan gas senilai USD 1,3 milyar. Sedangkan investasi dalam negeri pada sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi senilai Rp 20,2 trilyun. Pada sektor perkebunan, peternakan dan tanaman pangan senilai Rp 12,6 trilyun. Investasi juga terjadi di industri makanan, konstruksi dan pertambangan.

Demikianlah kebijakan yang beraroma Kapitalisme. Dampak proyek tol yang membabi buta tentunya merugikan. Secara fisik lahan untuk tol adalah bekas pepohonan dan persawahan. Di samping itu tersedia sumber mata air yang mencukupi. Tatkala diubah menjadi tol, serapan air oleh pepohonan menjadi hilang. Akibatnya curah hujan yang tinggi bisa menimbulkan longsor dan banjir. Apalagi di Jakarta selain mendapat kiriman air dari Bogor khususnya kawasan Puncak, dari Bekasi dan saat yang bersamaan terjadi pasang air laut.

Di sisi yang lain, penduduk mau tidak mau harus mencari mata pencaharian lain selain petani. Padahal ketersediaan sumber pangan bagi negara bisa disokong dari lahan persawahan yang dialihfungsikan jadi tol.

Tentunya dari kejadian banjir ini bisa diambil pelajaran penting agar bencana serupa tidak terjadi lagi di waktu mendatang. Mengenai keberadaan kota Jakarta sebagai pusat ibukota, memang sudah tidak layak. Hanya saja yang perlu digarisbawahi bahwa untuk penyiapan ibukota baru tidak bisa mendadak yang ujung – ujungnya pembiayaannya dari utang.

Kebijakan yang ditempuh dalam hal ini adalah mengupgrade setiap wilayah negeri agar layak untuk dijadikan ibu kota. Pembangunan semua wilayah negeri disesuaikan dengan kebutuhannya bukan pendapatan daerahnya.

Sehingga walau terdapat sebuah wilayah yang kecil PAD (Pendapatan Asli Daerah)nya, tetap bisa makmur. Kebijakan demikian juga akan mereduksi keinginan dari suatu wilayah untuk merdeka. Selanjutnya diikuti dengan pemerataan penduduk. Dengan demikian kegiatan perekonomian bergeliat.

Dalam sejarahnya, kekhilafahan Islam berpindah ibukota beberapa kali. Madinah, Kufah, Baghdad, Damaskus, dan Konstantinopel pernah menjadi ibukota sebuah keKhilafahan agung yang wilayahnya hampir 2/3 dunia. Dan semua itu tanpa utang.

Begitu juga pembangunan insfrastruktur digunakan pada hal – hal yang mendukung kebutuhan rakyat. Justru banyak rakyat yang saat ini mengeluhkan fasilitas jalan penghubung yang rusak dan pembuatan jembatan yang bisa menghubungkan desa dengan kota.

Ini yang perlu diperbaiki. Sedangkan pembangunan jalan tol dan rel kereta disesuaikan dengan kebutuhan. Yang paling penting adalah untuk kepentingan pertahanan negara dan terurainya macet. Itupun memperhatikan keseimbangan alam sesuai tata ruang kota.

Sultan Abdul Hamid II pernah membuat jalur kereta api dalam rangka pertahanan negara dari serbuan negara kolonial saat itu. Tidak lantas pembuatan jalan tol dan kereta api semata untuk kepentingan investasi dan korporasi.

Negara dalam mengelola SDA tidak mengundang investor dari pemodal dan korporasi. SDA itu sepenuhnya dikelola negara dan untuk sebesar – besar kemakmuran rakyat.

SDA tidak untuk diprivatisasi dalam bentuk investasi. Tenaga ahli dan korporasi diposisikan negara dengan akad kerja. Dengan begitu, sepenuhnya hasil dari pengelolaan SDA dikelola negara untuk pembangunan.

Di samping itu, pengelolaan sepenuhnya oleh negara tidak memberi peluang pemodal dan korporasi yang hanya mengejar keuntungan dalam mengelola SDA dengan menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana longsor serta banjir.

Itulah beberapa cara Islam di dalam hal menanggulangi banjir ibukota dan pembangunan insfrastruktur yang ramah lingkungan.

Tentunya kembali lagi kepada political will dari penguasa negeri ini untuk mengambil solusi Islam dalam setiap permasalahan, seraya meninggalkan solusi – solusi Kapitalisme yang justru hanya menimbulkan bencana dan kerusakan.

 

#Penulis tinggal di Malang