Angka Kematian Global Akibat Corona Nyaris Seperempat Juta Jiwa

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)–Senin (04/05), kasus infeksi virus corona secara global telah tembus sebanyak 3,5 juta kasus, dengan angka kematian akibat COVID-19 telah mendekati 250.000 kematian.

Meski begitu, perhitungan Reuters menunjukkan tingkat kematian dan munculnya kasus baru telah melambat dari angka puncak yang terjadi pada bulan lalu.

Amerika Utara dan negara-negara Eropa adalah penyumbang sebagian besar kasus-kasus baru yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir. Namun, peningkatan drastis kasus infeksi virus corona terlihat di Amerika Latin, Afrika dan Rusia.

Rusia laporkan lebih dari 10 ribu kasus baru

Rusia telah mencatat lonjakan harian terbesar infeksi virus corona, yaitu 10.633 kasus baru yang dikonfirmasi pada hari Minggu (03/05). Angka ini menunjukkan bahwa Rusia memiliki lebih banyak kasus infeksi baru dibanding negara Eropa lain saat ini.

Menurut otoritas kesehatan Rusia, 134.686 orang di Rusia telah didiagnosis dengan COVID-19 dan 1.280 telah meninggal dunia sejak wabah COVID-19 bermula. Minggu (03/05), Rusia melaporkan 58 kematian baru akibat COVID-19.

Meskipun kasus infeksi di negara berpenduduk 145 juta itu terus meningkat, tingkat kematian akibat COVID-19 di Rusia jauh lebih rendah dibanding dengan negara-negara paling terpukul akibat virus corona seperti Italia, Spanyol dan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah menyatakan dapat mulai mencabut langkah-langkah penguncian (lockdown) mulai 12 Mei mendatang, meski keputusan itu tergantung pada perkembangan kasus di masing-masing wilayah.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan situasinya tetap “sangat sulit”.

“Skeptis dengan jumlah kasus infeksi”

Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Reuters, secara global, ada 74.779 kasus baru yang dilaporkan terjadi selama 24 jam terakhir, sehingga total kasus global mencapai setidaknya 3,52 juta kasus.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka ini sebanding dengan sekitar 3 juta hingga 5 juta kasus penyakit parah yang disebabkan oleh influenza musiman setiap tahun. Meski begitu, angka ini jauh di bawah flu Spanyol yang terjadi pada 1918 dan menginfeksi sekitar 500 juta orang.

“Kita harusnya masih skeptis dengan angka kasus infeksi yang kita dapatkan,” kata Peter Collignon, seorang dokter penyakit menular dan ahli mikrobiologi di Rumah Sakit Canberra kepada Reuters. “Itu adalah masalah besar”, tambahnya.

Menurutnya, “tingkat kematian akibat COVID-19 juga 10 kali lebih tinggi dibanding influenza untuk semua kelompok umur”.

Kasus infeksi virus corona bisa menyebabkan gejala ringan dan tidak semua orang yang menunjukkan gejala akibat virus ini mendapatkan tes COVID-19. Sementara itu, kebanyakan negara-negara di dunia juga hanya mencatat kematian yang terjadi di rumah sakit. Banyak kematian yang terjadi di rumah-rumah pribadi dan panti jompo tidak dimasukkan ke dalam data resmi.

Hingga saat ini, kematian akibat COVID-19 telah menembus angka 246.920. Kematian pertama dilaporkan terjadi pada 10 Januari lalu di Wuhan, Cina, setelah virus corona muncul di sana pada bulan Desember 2019.

Pelonggaran lockdown masih kontroversial?

Tingkat harian munculnya kasus baru di seluruh dunia berada di kisaran dua hingga tiga persen selama seminggu terakhir, jauh lebih rendah dibanding puncaknya di angka 13% pada pertengahan Maret lalu. Hal ini mendorong banyak negara untuk mulai mengurangi langkah-langkah penguncian (lockdown) yang telah ”menjungkirbalikkan” bisnis dan melumpuhkan ekonomi global.

Pelonggaran pembatasan ini terbukti masih kontroversial. Para ahli masih memperdebatkan apa strategi terbaik untuk memastikan tidak ada wabah “gelombang kedua” yang besar.

“Kita bisa saja dengan mudah memiliki gelombang kedua atau ketiga karena banyak wilayah yang tidak kebal,” kata Collignon. Ia menekankan bahwa kekebalan kelompok (herd immunity) di dunia masih kurang, yang menurutnya memerlukan sekitar 60% populasi sembuh dari COVID-19.

Di Amerika Serikat, sekitar setengah dari gubernur negara bagian telah memutuskan membuka kembali sebagian perekonomian mereka selama akhir pekan. Sementara Gubernur New York, Andrew Cuomo menyatakan keputusan tersebut sebagai langkah prematur.

Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson, mengatakan pada hari Minggu (03/05) bahwa negara telah melewati masa puncak. Meski demikian, menurutnya masih terlalu dini untuk melonggarkan tindakan penguncian.

Bahkan di negara-negara di mana perlawanan terhadap wabah COVID-19 yang dianggap sukses, seperti Australia dan Selandia Baru, para pejabatnya masih sangat berhati-hati terkait pelonggaran lockdown.

Sumber: republika.co.id

Malaysia Wajibkan Pekerja Migran Tes Corona

KUALA LUMPUR(Jurnalislam.com) — Menteri Keamanan Senior Malaysia, Ismail Sabri Yaakob mengatakan, pekerja migran harus mendapatkan tes untuk virus corona.

Seluruh pengujian tersebut akan ditanggung biayanya oleh orang yang mempekerjakan.

“Biaya pengujian harus ditanggung oleh majikan,” kata Ismail Sabri.

Ribuan warga Malaysia sudah mulai melakukan aktivitas normal sejak Senin (4/5). Bisnis dan toko-toko mulai kembali untuk pertama kalinya sejak diberlakukannya pembatasan 18 Maret untuk menahan penyebaran virus corona.

Ismail Sabri melihat, meski pelonggaran berlaku, pekerja asing di semua sektor harus menjalani pemeriksaan wajib untuk Covid-19. Anjuran itu ditekankan setelah ditemukan kasus positif virus corona di antara para migran yang bekerja di lokasi konstruksi Kuala Lumpur pekan lalu.

Pengumuman itu muncul setelah Malaysia menahan ratusan migran tidak berdokumen selama akhir pekan. Langkah itu memicu kecaman dari PBB dan kelompok hak asasi manusia. Ismail Sabri sebelumnya membela penangkapan itu dengan mengatakan bahwa semua yang ditahan dinyatakan negatif terhadap virus.

Pekerja migran telah menjadi komunitas yang sangat rentan selama pandemi. Di negara tetangga Singapura, ribuan infeksi telah dikaitkan dengan asrama pekerja migran.

Sekitar dua juta pekerja asing terdaftar di Malaysia, tetapi pihak berwenang mengatakan masih ada lebih banyak tanpa dokumen yang memadai. Para pekerja migran kebanyakan berasal dari Indonesia, Bangladesh, India dan Nepal.

Malaysia hingga pertengahan April memiliki jumlah infeksi tertinggi di Asia Tenggara. Pada Ahad (3/5), negara itu melaporkan 122 kasus baru, tertinggi sejak 14 April, dengan total hampir 6.300 infeksi.

Sumber: republika.co.id

 

BI: Inflasi Masih Rendah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bank Indonesia menyampaikan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2020 tetap rendah dan terkendali. Inflasi IHK pada April 2020 tercatat 0,08 persen (mtm), lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,10 persen (mtm).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Onny Widjanarko menyampaikan perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang melambat, serta kelompok volatile food dan administered prices yang kembali mencatat deflasi.

Dengan perkembangan tersebut, secara tahunan inflasi IHK April 2020 tercatat sebesar 2,67 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan lalu sebesar 2,96 persen (yoy).

“Ke depan, Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasarannya sebesar 3,0 persen kurang lebih satu persen pada 2020,” katanya dalam keterangan pers, Senin (4/5).

Koordinasi dengan Pemerintah tersebut termasuk untuk mengendalikan inflasi pada bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1441 H. Inflasi inti pada April 2020 tercatat melambat dari 0,29 persen (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,17 persen (mtm).

Menurut kelompok barang, perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas bawang bombay, di tengah komoditas gula pasir dan emas perhiasan yang mencatat kenaikan harga. Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,85 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan dengan inflasi Maret 2020 sebesar 2,87 persen (yoy).

“Inflasi inti yang menurun tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi tetap terjaga dan dampak permintaan domestik yang melambat sejalan dampak pandemi Covid-19,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Temukan Peluang Bisnis Baru di Era Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Hingga hari ini,  Indonesia memasuki hari ke-51 sejak Presiden Joko Widodo pada 15 Maret 2020 menyampaikan arahan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tentu saja ini berimbas pada laju bisnis dan usaha. Walau demikian pandemi COVID-19 ini mestinya dijadikan pelaku usaha menjadi momen untuk melakukan terobosan dan perubahan dalam berbisnis.

Ini untuk mempersiapkan diri menghadapi ‘new normal’ selepas pandemi COVID-19.

Hal ini disampaikan Kemal E. Gani, Pimpinan Umum Grup SWA Media, dalam sebuah diskusi virtual dalam rangka 30 tahun HUT Markplus.

“Memang akibat krisis pandemi COVID-19 ini kita menghadapi tantangan kompleks dengan pembatasan gerak sosial, bisnis pun dibatasi geraknya. Dampaknya luar biasa pada para pelaku bisnis. Convidence level konsumen di Indonesia menurun luar biasa. Sebelumnya 100%, setelah krisis jadi 15%, prioritas konsumen bergeser pada kebutuhan pokok, kesehatan, paket data, daripada belanja konsumsi yang sifatnya sekunder,” terang pria yang juga Ketua Forum Pimred Indonesia ini.

Menurutnya, walau Pemerintah Indonesia mengucurkan stimulus dana yang besar untuk dunia usaha, pelaku usaha tetap menghadapi tantangan terutama dalam hal perilaku konsumen yang berubah.

“Di konsumen kini muncul budaya baru, budaya yang lebih sehat, higienis, mengutamakan virtual dan daring baik dalam hal belanja, bekerja maupun akses informasi dan belajar,” tuturnya.

Lebih jauh ia menerangkan, dalam konteks ini, kemampuan perubahan yang terjadi pada konsumen, untuk memenangkan masa depan sangat penting.

“Dalam pengalaman krisis sebelumnya, banyak perusahaan dan produk muncul saat krisis. Kita ingat Susi Air lahir saat tsunami Aceh, perusahaan airlines yang dibangun mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti ini, sebelumnya hanya terbatas membawa produk perikanan saja, lalu berkembang sekarang mengangkut penumpang dan barang lain,” terangnya.

Selain itu, Kemal mengatakan saat terjadi krisis akibat pandemi sindrom pernapasan akut atau SARS di China pada 2003, muncul e-commerce besar yaitu Alibaba dan JD.com.

Padahal Alibaba sendiri sebenarnya ddirikan Jack Ma sejak 1999, sedangkan JD.com didirkan Richard Liu pada 1998.

“Markplus pun makin besar saat krisis, kita mestinya bisa menangkap peluang-peluang baru saat krisis. Kita juga melihat saat pandemi, Zoom meroket luar biasa,” tutur Kemal.

Ia juga yakin, walau saat ini bisnis penerbangan terhantam luar biasa akibat pandemi ini, Garuda Indonesia tetap mencari peluang bisnis lain, contohnya dengan penumpang terbatas hanya 40 orang, serta memaksimalkan armada untuk layanan logistik.

Hal yang sama dilakukan oleh Arif Wibowo CEO Airfast dengan lebih menggarap bisnis logistik. “Saya meyakini siapa yang bisa beradaptasi kondisi ekstrim, merekalah yang bisa meraih peluang untuk memenangkan bisnis di masa depan,” tandasnya.

Sumber: republika.co.id

Cina Diminta Transparan Soal Wabah Corona

LONDON(Jurnalislam.com) — Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris Ben Wallace meminta China terbuka mengenai informasi wabah virus corona jenis baru atau Covid-19.

Ia mengatakan China perlu menjawab pertanyaan soal informasi yang dibagikan tentang wabah COVID-19.

“China harus menjawab hal itu setelah kita semua berhasil mengendalikan Covid-19 dan ekonomi kita kembali normal,” ujar Ben Wallace, Senin.

“China harus terbuka dan transparan tentang apa yang perlu diterangkannya, kekurangan dan kesuksesannya,” katanya.

Sebelumnya pada Ahad (3/5), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan ada ‘sejumlah bukti kuat’ bahwa virus corona jenis baru itu muncul dari laboratorium China. “Ada sejumlah bukti kuat bahwa ini berasal dari laboratorium di Wuhan,” kata Pompeo kepada ABC.

Ia merujuk pada virus yang muncul akhir tahun lalu di China dan telah menewaskan sekitar 240 ribu orang di seluruh dunia. Termasuk lebih dari 607 ribu di Amerika Serikat.

Pompeo kemudian secara singkat membantah pernyataan yang dikeluarkan beberapa hari sebelumnya oleh badan intelijen AS. Badan intelijen sebelumnya menyebut virus itu tampaknya tidak dibuat oleh manusia atau dimodifikasi secara genetis.

China berulang kali membantah menutup-nutupi informasi wabah Covid-19. Duta Besar China untuk Inggris bulan lalu mengatakan Amerika Serikat seharusnya tidak berusaha menggertak China dengan cara yang mengingatkan pada perang kolonial Eropa abad ke-19.

Sumber: republika.co.id

Kemampuan Membangun Networking Dinilai Penting di Tengah Kondisi Wabah

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Data dari Linkedln Opportunity Index 2020 mengungkapkan bahwa 83% orang Indonesia percaya bahwa memiliki koneksi yang tepat merupakan langkah penting untuk maju dalam kehidupan.

Namun, hanya 18% orang Indonesia yang berusaha membangun jaringan (network) profesional mereka. Hal ini menunjukkan bahwa banyak yang tidak yakin bagaimana cara membangun jaringannya.

Di tengah pandemi global Covid-19, menjadi penting bagi para pekerja profesional untuk tetap membangun hubungan dengan jaringan mereka dan membentuk koneksi baru, untuk mendapatkan akses ke peluang sekarang, dan persiapan untuk masa depan.

“Sebagai komunitas global, saat ini kita menghadapi masa yang tidak pasti. Kami melihat organisasi dan pekerja di seluruh dunia terdampak efeknya. Selama masa-masa sulit seperti ini, kami percaya bahwa yang terpenting adalah membangun jaringan yang lebih kuat. Hal ini berpotensi membantu kita dalam mencari peluang baru bahkan saat kita menghadapi situasi ini hingga pulih dari krisis ini,” kata Olivier Legrand, Managing Director LinkedIn Asia Pacific.

Di Indonesia, Generasi Z dan para pria menganggap kurangnya jaringan kerja sebagai penghalang terbesar mencapai peluang.

Dibandingkan dengan kelompok umur lainnya, kurangnya jaringan dan koneksi merupakan penghalang yang lebih besar bagi generasi Z (26%) dan milenial (25%), dan lebih terasa di kalangan pria (26%) dibandingkan dengan perempuan (21%).

Kurangnya jaringan terutama menjadi penghalang bagi mereka yang mencari pekerjaan yang lebih stabil, ingin memanfaatkan keterampilan mereka, atau bahkan mendirikan bisnis.

Mereka yang memiliki jaringan dan koneksi yang lebih kuat memiliki keuntungan dalam mengakses peluang yang mereka inginkan. Di LinkedIn, inilah yang disebut dengan “Network Gap” (kesenjangan jaringan kerja). LinkedIn juga menemukan bahwa orang dengan jaringan yang kuat umumnya lebih optimis tentang masa depan mereka daripada orang dengan jaringan yang lebih sedikit atau kurang beragam. Oleh karena itu, memperkecil kesenjangan jaringan adalah kunci untuk memastikan akses yang setara bagi semua orang sehingga mereka dapat meraih peluang.

“Kita semua memiliki peran untuk mengatasi kesenjangan jaringan yang ada, baik bagi orang-orang yang baru memulai karir nya, atau bagi seorang pekerja profesional yang berpengalaman,” Olivier melanjutkan.

Pada kesempatan yang sama, Shabrina Koeswologito, Digital Manager di Mindshare memberikan testimoni bahwa membangun jaringan merupakan bagian dari kehidupan.

“Saya percaya ada tiga hal yang perlu diprioritaskan ketika membangun jaringan dengan seseorang: pertama, selalu memberikan lebih banyak daripada yang Anda terima, kedua, pastikan untuk menghargai waktu orang lain, terakhir, personalisasikan pesan Anda agar relevan dengan orang yang ingin dituju,” ujarnya.

Sementara Ananda Nadya, Senior UX Researcher di Tokopedia & LinkedIn Spotlight 2019, mengatakan, “Sebagai seorang peneliti, saya harus menjaga hubungan yang baik dengan orang lain karena salah satu peranan dalam pekerjaan saya mengharuskan  untuk dapat berkoneksi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di era digital saat ini, membangun jaringan dan koneksi juga dapat dilakukan secara online. Hal ini sangat penting, terutama karena kondisi pandemi global saat ini memberikan dampak bagi banyak industri.”

Sumber: republika.co.id

Singapura: Perlu Rencana Jangka Panjang Terkait Covid-19

SINGAPURA(Jurnalislam.com) – Pemerintah Singapura menganggap perlu ada rancangan tindakan berkelanjutan untuk jangka panjang terkait dampak dari pandemi Covid-19 mengingat vaksin belum ditemukan, demikian juga dengan pengobatan khusus antivirus corona.

Dalam pernyataan yang diterima pada Senin (4/5), Kedutaan Besar Singapura di Jakarta mengatakan Singapura meyakini kesiapan harus diterapkan atas kemungkinan pandemi Covid-19, yang mungkin akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Dengan belum adanya vaksin dan pengobatan antivirus khusus, maka penting bagi kami untuk memastikan bahwa rancangan tindakan kami tetap berkelanjutan untuk jangka panjang,” kata Kedubes Singapura.

Berbagai tindakan yang perlu dipersiapkan termasuk melakukan lebih banyak lagi tes untuk melindungi kelompok rentan. Selain itu, membatasi dan memperlambat penularan virus agar tidak memperberat sistem kesehatanserta transparan dan konsisten mengambil pendekatan rasional yang berbasis pada fakta.

Negara tersebut mengatakan akan bekerja sama dengan mitra internasional guna menjaga jalur perdagangan, jalur pasokan dan komunikasi tetap terbuka, khususnya terkait barang-barang penting seperti persediaan medis dan makanan.

“Negara-negara harus berkolaborasi untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, dan kita juga harus bekerja bersama untuk memosisikan diri dengan baik untuk pemulihan setelah situasi stabil kembali,” katanya.

Pada 1 Mei, para menteri perdagangan Singapura, Australia, Kanada, Korea Selatan, dan Selandia Baru mengesahkan Joint Ministerial Statement on Action Plans to Facilitate the Flow of Goods and Services as well as the Essential Movement of People. Melalui dokumen itu, para menteri menyetujui sejumlah hal.

Pertama, mempercepat prosedur bea cukai dan tidak mengeluarkan pembatasan ekspor pada barang-barang penting, seperti makanan dan pasokan medis. Kedua, memfasilitasi pembukaan kembali perjalanan lintas-batas esensial, dengan tetap mempertimbangkan kesehatan masyarakat sejalan dengan upaya untuk memerangi pandemi Covid-19.

Ketiga, meminimalkan dampak Covid-19 pada perdagangan dan investasi serta memfasilitasi pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dari pandemi Covid-19. Terkait perkembangan kasus Covid-19 di dalam negeri, Singapura melaporkan penurunan signifikan dalam penularan lokal selama satu bulan terakhir. Rata-rata harian jumlah kasus baru di masyarakat telah menurun dari 21 kasus per pekan, menjadi 11 pada pekan lalu.

Kasus yang masih banyak ditemukan berada di komunitas pekerja asing, meski sebagian besar kasus bersifat ringan. Para pekerja asing akan menerima perawatan medis yang sama dengan warga negara Singapura, berdasarkan komitmen yang terus digaungkan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan pemerintah setempat untuk menjaga kesejahteraan mereka.

Sementara itu, selama beberapa pekan ke depan, langkah-langkah pembatasan ketat yang diberlakukan akan semakin diperlonggar.

“Singapura juga sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk dimulainya kembali kegiatan masyarakat dan ekonomi secara aman dan bertahap setelah berakhirnya periode circuit breaker pada tanggal 1 Juni 2020. Kami harus berhati-hati dalam pencabutan larangan, dan tetap menerapkan langkah pengamanan lebih lanjut ketika melakukannya,” ujar pernyataan Kedubes Singapura.

Sumber: republika.co.id

Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Bisa Ajukan Keringanan UKT

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terdampak pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dapat mengajukan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada Rektor masing-masing.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi saat menanggapi pertanyaan salah satu mahasiswa UIN Surabaya tentang kebijakan pembatalan pemotongan 10% UKT, melalui sambungan pertemuan virtual dalam talkshow bertajuk OBSESI yang digelar Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam. “Bila ada mahasiswa yang keberatan untuk membayar UKT secara full, bisa mengajukan keringanan atau UKT banding kepada Rektor. Sehingga ini bisa diberikan keringanan,” kata Wamenag Zainut Tauhid, Senin (04/05).

Pemotongan anggaran Kemenag sebesar 2,6 triliun guna penanggulangan nasional Covid-19 disebut Wamenag menjadi faktor untuk mempertimbangkan kembali rencana pemotongan UKT PTKIN sebesar 10 persen.

“Itu jumlah yang tidak sedikit, sehingga kami mempertimbangkan kembali (pemotongan UKT),” ujar Wamenag.

“Karena apa, kami memikirkan yang lebih besar, yaitu program nasional yang itu juga bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia,” imbuhnya.

Ia menambahkan, saat ini prioritas Pemerintah untuk menanggulangi Covid-19 menjadi hal utama. Pemerintah secara serius memberikan penanganan program Covid-19 ini melalui tiga hal.

Pertama adalah bagaimana Pemerintah berusaha menyelesaikan penyebaran penyakitnya. Kemudian kedua, Pemerintah membantu masyarakat yang terdampak Covid-19.

“Hari ini banyak saudara-saudara kita yang dia dibebastugaskan dari pekerjaan, banyak juga yang tidak bisa bergerak mencari (nafkah). Itu menjadi sasaran untuk dibantu yaitu melalui program jaring pengaman sosial dan itu pemerintah memberikan bantuan itu kepada masyarakat secara nasional,” ungkap Wamenag.

Kemudian ketiga, memberikan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha, pemerintah memberikan relaksasi kepada pengusaha agar mereka tidak kolaps. “Saya ingin memberikan pemahaman bersama bahwa masalah ini harus menjadi tanggung jawab kita semuanya,” sambung Wamenag.

Hal ini diharapkan Wamenag juga menjadi pemahaman mahasiswa PTKIN. Wamenag menyampaikan .eskipun tidak ada pemotongan UKT 10 persen, PTKIN tetap memberikan peluang untuk pengajuan keringanan bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19.

“Untuk itu bagi yang berat, terutama sebagian saudara atau teman kita yang terdampak secara serius, dapat diberikan kelonggaran. Untuk menyampaikan banding kepada Rektor agar diberikan keringanan,” ujar Wamenag menegaskan.

 

Rasulullah Lebih Dermawan Saat Ramadhan

JAKARTA(Jurnalisam.com) – Nabi Muhammad SAW tetap menjalani kehidupan yang sederhana saat memasuki Ramadhan. Tapi Rasulullah SAW memperbanyak sedekahnya pada bulan suci ini.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zein bin Umar Smith, menyampaikan Ramadhan bukan bulan untuk berpesta dan bermewah-mewahan dalam mengkonsumsi makanan.

Sekarang Allah SWT menakdirkan umat Islam untuk kembali melihat hakikat Ramadhan yang sebenarnya sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.

“Rasulullah menjalani Ramadhan dengan kesederhanaan yang luar biasa, kadang-kadang beliau berbuka puasa hanya dengan sebiji kurma dan air putih,” kata Habib Zein saat diwawancarai Republika.co.id, belum lama ini.

Dia menyampaikan, umat Islam diminta melakukan hal yang sama seperti teladan Nabi SAW, walau tidak sepenuhnya sama. Minimal kesederhanaan umat Islam dalam berbuka puasa menonjol pada Ramadhan ini.

Ketua umum organisasi Islam yang menjadi wadah resmi para habib se-Indonesia ini mengatakan, biasanya selama ini saat memasuki Ramadhan jumlah konsumsi makanan keluarga meningkat, karena segala macam makanan dibeli.

Sehingga umat Islam terkesan menyalurkan hawa nafsunya terhadap makanan saat Ramadhan. “Selama ini mungkin banyak yang lupa sehingga berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, maka Ramadhan kali ini mari menjalankan ibadah puasa ala Rasulullah dengan kesederhanaan,” ujarnya.

Habib Zein mengatakan, di zaman Rasulullah banyak umat Islam melaksanakan qiamulail di rumah, sekarang umat Islam kembali kepada kebiasaan tersebut. Syiar yang biasanya ke luar sekarang syiar di dalam rumah masing-masing.

Karena pada Ramadhan tahun ini ada wabah virus corona atau Covid-19, maka umat Islam sebaiknya memanfaatkan momen ini untuk meramaikan rumah dengan berbagai kegiatan ibadah. Seperti tadabbur Alquran, sholat sunnah, mendidik anak-anak agar lebih mengenal Islam dan kegiatan ibadah-ibadah lainnya.

“Saya yakin bahwa pada saat kita beribadah di rumah masing-masing, di atas selalu terlihat kerlap-kerlip atau sinar-sinar di setiap rumah yang (penghuninya) melakukan tadabbur Alquran, membaca Alquran, tarawih bersama keluarga,” ujarnya.

Dia menanggapi kondisi masjid yang kosong di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, masjid digunakan untuk pusat pelaksanaan kegiatan sosial atau menyalurkan membantu.

Jadi kegiatan ibadah dilakukan di rumah, tapi kegiatan sosial dan koordinasi serta yang lainnya dilakukan di masjid. “Jadi di rumah tetap ada ibadah dan di masjid tetap ada ibadah, tapi ubudiyah-nya berbeda-beda,” jelasnya.

Habib Zein menerangkan, Rasulullah juga memperbanyak sedekah pada Ramadhan. Semua kegiatan ibadah dilipat gandakan pahalanya oleh Allah SWT saat Ramadhan.

Jadi pahala dari sedekah juga dilipatgandakan, terlebih kalau sedekah untuk membantu saudara-saudara yang lemah dan membahagiakan orang lain.

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, artinya apabila Muslim memiliki kemampuan untuk berbagi maka berbagilah.

Pada Ramadhan pahala sedekah dilipatgandakan, mari manfaatkan Ramadhan untuk sedekah seperti yang diajarkan Rasulullah.

“Kesempatan ibadah dan sedekah Ramadhan jangan sampai terlewat dan menyesal, bulan suci lewat sementara umur berkurang dan kita tak bisa memanfaatkan kesempatan itu nanti menyesal,” kata Habib Zein.

Sumber: republika.co.id

 

RM Wakaf Ampera Pasteur Sediakan 10.000 Paket Ifthar

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Melalui sinergi wakaf masyarakat, RM Ampera Pasteur berkontribusi menyalurkan paket ifthar untuk orang-orang terdampak COVID-19.
RM Ampera Pasteur berbasis wakaf produktif yang diinisiasi Sinergi Foundation ini menyalurkan sebanyak 10.000 paket sepanjang Ramadhan ini.

“Ramadhan di tengah pandemi, masyarakat mengalami kondisi sulit. Alhamdulillah, hasil perguliran wakaf produktif di RM Ampera Pasteur bisa membantu sesama,” kata Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation.

Ia menuturkan, 10.000 paket ifthar tersebut disalurkan pada pejuang nafkah yang berprofesi sebagai pekerja informal, seperti supir angkot, tukang parkir, pedagang asongan, dan dhuafa lainnya yang kehilangan pekerjaannya akibat COVID-19.

Asep berharap, paket ifthar lengkap bergizi dari RM Ampera ini menjadi tenaga untuk para dhuafa bertahan di tengah pandemi. Sehingga mereka bisa lebih kuat mencari nafkah, dan agar mereka bisa maksimal menjalankan puasa Ramadhan kali ini.

“Karena, seperti kita tahu, betapa dahsyatnya pandemi ini menggerus masyarakat kecil. Kini, satu porsi nasi saja sudah menjadi barang mahal bagi mereka,” katanya.

RM Ampera Pasteur adalah salah satu portofolio investasi wakaf produktif Sinergi Foundation. Setiap keuntungan yang diraih di RM Ampera ini, akan disalurkan untuk mereka yang membutuhkan.

“Alhamdulillah, dari makanan yang kita makan di sini, terus menerus mengalir kebaikan,” tandas Asep.