Angka Kematian Global Akibat Corona Nyaris Seperempat Juta Jiwa

Angka Kematian Global Akibat Corona Nyaris Seperempat Juta Jiwa

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com)–Senin (04/05), kasus infeksi virus corona secara global telah tembus sebanyak 3,5 juta kasus, dengan angka kematian akibat COVID-19 telah mendekati 250.000 kematian.

Meski begitu, perhitungan Reuters menunjukkan tingkat kematian dan munculnya kasus baru telah melambat dari angka puncak yang terjadi pada bulan lalu.

Amerika Utara dan negara-negara Eropa adalah penyumbang sebagian besar kasus-kasus baru yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir. Namun, peningkatan drastis kasus infeksi virus corona terlihat di Amerika Latin, Afrika dan Rusia.

Rusia laporkan lebih dari 10 ribu kasus baru

Rusia telah mencatat lonjakan harian terbesar infeksi virus corona, yaitu 10.633 kasus baru yang dikonfirmasi pada hari Minggu (03/05). Angka ini menunjukkan bahwa Rusia memiliki lebih banyak kasus infeksi baru dibanding negara Eropa lain saat ini.

Menurut otoritas kesehatan Rusia, 134.686 orang di Rusia telah didiagnosis dengan COVID-19 dan 1.280 telah meninggal dunia sejak wabah COVID-19 bermula. Minggu (03/05), Rusia melaporkan 58 kematian baru akibat COVID-19.

Meskipun kasus infeksi di negara berpenduduk 145 juta itu terus meningkat, tingkat kematian akibat COVID-19 di Rusia jauh lebih rendah dibanding dengan negara-negara paling terpukul akibat virus corona seperti Italia, Spanyol dan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah menyatakan dapat mulai mencabut langkah-langkah penguncian (lockdown) mulai 12 Mei mendatang, meski keputusan itu tergantung pada perkembangan kasus di masing-masing wilayah.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan situasinya tetap “sangat sulit”.

“Skeptis dengan jumlah kasus infeksi”

Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Reuters, secara global, ada 74.779 kasus baru yang dilaporkan terjadi selama 24 jam terakhir, sehingga total kasus global mencapai setidaknya 3,52 juta kasus.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), angka ini sebanding dengan sekitar 3 juta hingga 5 juta kasus penyakit parah yang disebabkan oleh influenza musiman setiap tahun. Meski begitu, angka ini jauh di bawah flu Spanyol yang terjadi pada 1918 dan menginfeksi sekitar 500 juta orang.

“Kita harusnya masih skeptis dengan angka kasus infeksi yang kita dapatkan,” kata Peter Collignon, seorang dokter penyakit menular dan ahli mikrobiologi di Rumah Sakit Canberra kepada Reuters. “Itu adalah masalah besar”, tambahnya.

Menurutnya, “tingkat kematian akibat COVID-19 juga 10 kali lebih tinggi dibanding influenza untuk semua kelompok umur”.

Kasus infeksi virus corona bisa menyebabkan gejala ringan dan tidak semua orang yang menunjukkan gejala akibat virus ini mendapatkan tes COVID-19. Sementara itu, kebanyakan negara-negara di dunia juga hanya mencatat kematian yang terjadi di rumah sakit. Banyak kematian yang terjadi di rumah-rumah pribadi dan panti jompo tidak dimasukkan ke dalam data resmi.

Hingga saat ini, kematian akibat COVID-19 telah menembus angka 246.920. Kematian pertama dilaporkan terjadi pada 10 Januari lalu di Wuhan, Cina, setelah virus corona muncul di sana pada bulan Desember 2019.

Pelonggaran lockdown masih kontroversial?

Tingkat harian munculnya kasus baru di seluruh dunia berada di kisaran dua hingga tiga persen selama seminggu terakhir, jauh lebih rendah dibanding puncaknya di angka 13% pada pertengahan Maret lalu. Hal ini mendorong banyak negara untuk mulai mengurangi langkah-langkah penguncian (lockdown) yang telah ”menjungkirbalikkan” bisnis dan melumpuhkan ekonomi global.

Pelonggaran pembatasan ini terbukti masih kontroversial. Para ahli masih memperdebatkan apa strategi terbaik untuk memastikan tidak ada wabah “gelombang kedua” yang besar.

“Kita bisa saja dengan mudah memiliki gelombang kedua atau ketiga karena banyak wilayah yang tidak kebal,” kata Collignon. Ia menekankan bahwa kekebalan kelompok (herd immunity) di dunia masih kurang, yang menurutnya memerlukan sekitar 60% populasi sembuh dari COVID-19.

Di Amerika Serikat, sekitar setengah dari gubernur negara bagian telah memutuskan membuka kembali sebagian perekonomian mereka selama akhir pekan. Sementara Gubernur New York, Andrew Cuomo menyatakan keputusan tersebut sebagai langkah prematur.

Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson, mengatakan pada hari Minggu (03/05) bahwa negara telah melewati masa puncak. Meski demikian, menurutnya masih terlalu dini untuk melonggarkan tindakan penguncian.

Bahkan di negara-negara di mana perlawanan terhadap wabah COVID-19 yang dianggap sukses, seperti Australia dan Selandia Baru, para pejabatnya masih sangat berhati-hati terkait pelonggaran lockdown.

Sumber: republika.co.id

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X