Haruskah Berdamai dengan Corona?

Oleh: Devita Deandra*

Beberapa hari yang lalu Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan di tengah situasi  penyebaran virus corona yang kian massif. Melalui akun resmi media sosialnya pada Kamis (7/5/20), Jokowi meminta agar masyarakat untuk bisa berdamai dengan Covid-19 hingga vaksin virus tersebut ditemukan.

Meskipun akhirnya, pernyataan Jokowi itu diluruskan oleh Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin. Bey mengatakan, maksud berdamai dengan Corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan, yang artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi COVID-19. (CNNIndonesia.com)

Namun dengan maksud dan tujuan apapun sebenarnya seruan seperti itu tidak tepat jika di serukan di tengah situasi saat ini, apalagi oleh seorang kepala negara. Melontarkan diksi yang tidak hanya membingungkan tapi juga menegaskan inkonsistensi kebijakannya.

Seolah rakyat di suruh pasrah saja dengan keadaan dan jalani hidup seperti biasanya walau berdampingan dengan makluk mungil yang mematikan.

Seruan agar ‘hidup damai’ dengan corona sebelum ditemukan vaksin menegaskan lepas tangan pemerintah dalam penanganan wabah. Tenaga medis dibiarkan maju ke medan perang dan rakyat dilepaskan ke rimba belantara tanpa perlindungan.

Tenaga medis berguguran, begitu pula dengan masyarakat di berbagai wilayah. Tentu Berawal dari lambannya penanganan di dukung dengan abainya pemerintah dalam menjamin keselamatan para pejuang garda terdepan.

Begitu pula dengan edukasi serta perlindungan negara kepada rakyatnya tak nampak pada pemerintahan demokrasi kapitalisme saat ini. Masih saja hitungan untung rugi yang selalu menjadi asas kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah, padahal seharusnya seorang pemimpin harus mengupayakan segala cara agar tidak bertambah lagi korban jiwa.

Bukan membiarkan perjuangan tanpa bekal keselamatan, ibarat berperang namun dengan tangan kosong, apakah selama menunggu vaksin di temukan akan ada nyawa yang terus di korbankan? memang inilah watak asli kapitalisme sekular.

Berbeda penanganannya dalam Islam. Islam menjadikan rakyat adalah unsur utama yang harus diselamatkan. Rakyat ibarat gembalaan yang perlu dijaga dan dirawat. Sehingga saat terjadi wabah seperti ini, Islam pun menjadikan rakyat sebagai acuan utama.

Seorang pemimpin yang bervisi Islam akan menjadikan keimanannya sebagai landasan memutuskan kebijakan.

Menyadari bahwa tugas seorang pemimpin adalah mengurus urusan umat, memberikan pengamanan serta tidak plinplan dalam mengambil keputusan Keyakinan pada Allah SWT, membuatnya tawakal dan berserah diri pada Allah dalam menghadapi wabah dan menjadi garda terdepan dalam menjamin keselamatan rakyatnya.

Menjadi seorang pemimpin di tengah wabah harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan.

Sejatinya memang negara mesti memprioritaskan urusan pengayoman terhadap kehidupan rakyat, sebab itulah cerminan dari posisinya sebagai raa’in dan junnah. Tidak boleh seorang pemimpin mengambil kebijakan yang mengabaikan nasib terlebih nyawa rakyat di dalamnya.

Dalam keadaan apa pun keselamatan rakyat senantiasa akan menjadi pertimbangan utama negara. Sebagai mana dalam sebuah hadist di sebutkan bahwa “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan disahihkan al-Albani).

Begitulah Islam sangat menjaga nyawa manusia. Terjadinya wabah mematikan tentu tidak hanya mengancam nyawa 1 orang namun seluruh orang yang ada dalam tempat tersebut, sehingga berbagai tindakan dalam mengupayakan agar terhindar pun harus di lakukan.

Bahkan pada masa Khalifah Umar. Beliau rela membatalkan kunjungan resminya ke Syam dan memutuskan kembali ke Madinah guna menghindarkan paparan wabah yang sedang merajalela di negeri itu menyebar kepada penduduk di tempat lain. Pilihan ini tentu saja akan memilki risiko sehingga sebagian sahabat Muhajirin sempat mengingatkannya:

“Anda telah keluar untuk suatu urusan penting. Karena itu kami berpendapat, tidak selayaknya Anda akan pulang begitu saja.”

Namun beliau tetap yakin dengan langkah yang telah ditetapkannya. Nyawa dan keselamatan rakyat menjadi pertimbangan utama dibandingkan urusan lainnya. Di bawah ri’ayah pemerintahan seperti inilah kesejahteraan dan masa depan rakyat akan terselamatkan sekalipun didera berbagai musibah dan ujian. Mereka percaya bahwa pemimpinnya tidak akan berlepas tangan.

Pemerintahnya tidak mungkin mengorbankan nasib mereka atas dasar pertimbangan ekonomi, apalagi menukarnya demi kepentingan segelintir pengusaha, jelas ketegasan seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan dan langkah-langkah dalam menghadapi wabah adalah hal yang harus di perhatikan oleh seorang pemimpin (kepala) negara, bukan pernyataan-pernyataan nyeleneh yang membingungkan. Wallahu A’lam.[]

*Ibu Rumah Tangga

 

 

 

 

MUI Minta Masyarakat Tidak Saling Kunjung dan Bersalaman Saat Idul Fitri

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Anwar Abbas mengingatkan kembali agar umat Islam tidak melakukan kunjungan dan bersalaman saat Idul Fitri.

Hal ini karena dapat membahayakan masyarakat dan menjadi sarana penularan virus corona.

“Kami juga meminta masyarakat untuk tidak  melakukan acara saling kunjung mengunjungi seusai shalat Idul Fitri seperti yang biasa kita lakukan karena melakukan hal itu dalam masa covid19  ini jelas sangat beresiko tinggi,” kata Anwar Abbas dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (15/5/2020).

Menurutnya juga, dalam masa covid-19 ini  tentu dianjurkan untuk tidak bersalaman.

“Apalagi dalam agama menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka  itu  hukumnya adalah wajib sementara bersalam-salaman itu hukumnya hanya sunat,” tambahnya.

Untuk itu, katanya, sebagai alternatif menyambung tali silaturahim, tetap bisa saling melakukan melalui telepon, whatsapp, SMS, dll.

Sekjen MUI Ingatkan Umat Agar Tetap Tidak Bersalaman

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Anwar Abbas mengingatkan kembali agar umat Islam tidak membahayakan orang lain, salah satunya dengan sarana bersalaman.

“Dalam masa covid-19 ini  kita tentu dianjurkan untuk tidak melakukannya (bersalaman) supaya  tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan berupa penyebaran dan penularan dari virus corona tersebut karena salah satu cara penyebaran virus ini  yang paling efektif adalah melalui salaman,” kata Anwar Abbas dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com, Jumat (15/5/2020).

Untuk itu, MUI, kata Anwar, menghimbau umat dan masyarakat untuk lebih  mengedepankan  usaha menjaga dan melindungi diri kita masing-masing  supaya tidak jatuh ke dalam hal-hal yang akan membahayakan kesehatan dan jiwa.

“Apalagi dalam agama menjaga diri untuk tidak terjatuh ke dalam bencana dan malapetaka  itu  hukumnya adalah wajib sementara bersalam-salaman itu hukumnya hanya sunat,” tambahnya.

Untuk itu, katanya, sebagai alternatif menyambung tali shilaturrahim, tetap bisa saling melakukan melalui telepon, whatsapp, SMS, dll.

PPTQ Darul Fikri Sidoarjo Lahirkan 6 Santri Hafiz Selama Pandemi

SIDOARJO(Jurnalislam.com)–Merebaknya pandemi virus covid-19 yang menyebabkan proses belajar mengajar harus dilakukan dari rumah tidak menyurutkan mental juara para santri Pondok Pesantren Tahfizh Al-Qur’an Darul Fikri (PPTQ Darul Fikri) Sidoarjo.

Para santri PPTQ Darul Fikri Sidoarjo tetap semangat untuk menjadi penghafal Al-Qur’an. Alhasil, dalam masa pandemi ini PPTQ Darul Fikri Sidoarjo berhasil melahirkan 6 santri baru penghafal Al-Qur’an.

Keenam santri tersebut adalah Hanifah Supandi binti Supandi, Zahra Auliya Diah Widuri binti Cristanto Tri Sakti Arie, Hawjan Ghassani Az Zahra binti Dani Chandra Yudho Pranoto, Aga Fahim Zaydan Taqi bin imaduddin Bahtiar Efendi, Khairina Nur Azmina binti Deni Susanto, dan M. Salman Taqiyuddin bin Kusnendar.

Menurut Muhammad Taufiq selaku Kepala Bidang Tahfizh PPTQ Darul Fikri Sidoarjo, keberhasilan ini tidak lepas dari sistem tahfizh online yang diberlakukan selama masa pandemi serta dukungan penuh dari para wali santri.

“Selama masa pandemi covid-19 ini kami mengadakan setoran hafalan online rutin setiap hari. Para santri tetap didorong untuk menghafal Al-Qur’an walaupun tidak tatap muka secara langsung. Alhamdulilah wali santri sangat mendukung sistem ini. Hasilnya 6 santri kami bisa jadi penghafal Al-Qur’an” ungkap Muhammad Taufiq, Jumat (15/5/2020).

Di sisi lain Aga Fahim Zaydan Taqi, salah satu santri yang sukses menghafal Al Qur’an selama masa pandemi mengaku bahagia dan bersyukur bisa tetap istiqomah dalam menghafal Al-Qur’an. “Alhamdulilah target saya untuk menjadi penghafal Al-Qur’an telah tercapai. Kini target terbaru saya adalah melancarkan dan mempertahankan semua hafalan Al-Qur’an yang sudah saya punyai,” pungkas Aga Fahim.

ACT Distribusi Paket Pangan Ramadan untuk Pengungsi Somalia

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Semenjak menyebarnya virus corona, kebutuhan pokok di Somalia semakin sulit untuk dipenuhi, terutama di pengungsian-pengungsian. Selain mendistribusikan bantuan di beberapa wilayah di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) juga membagikan ratusan paket pangan untuk keluarga di pengungsian di Kota Mogadishu pada Sabtu (9/5) lalu.

Semenjak adanya pandemi Covid-19, Ramadan di Somalia memang cukup sulit dibanding tahun sebelumnya. Pada Ramadan tahun ini, harga makanan naik. Ditambah serangan wabah corona yang menghambat perekonomian. Sebagai bentuk solidaritas, warga mengumpulkan apa yang mereka miliki bersama tetangga untuk dapat menikmati makan bersama.

“Saat wabah virus corona meluas di kota dan orang tidak pergi bekerja, kami mulai mengumpulkan setiap uang dari sejumlah keluarga untuk makanan,” papar warga di kamp pengungsi Mohamed Warsame Hirsi.

Selain kesulitan secara ekonomi, menjaga jarak sosial dan mencuci tangan sulit dilakukan bagi orang yang tinggal di kamp yang padat penduduk dan sanitasi yang buruk. “Kami tidak memiliki sabun untuk membersihkan tangan kami saat virus menyebar,” papar Khadija Diriye.

Hingga saat ini penyebaran virus corona di Somalia telah mencapai angka 1.089 orang dengan total kematian mencapai 52 orang. Warga pun berdoa agar dapat bertahan menghadapi wabah tersebut.

Saat ACT mendistribusikan bantuan pangan, ratusan orang menyambangi sebuah tanah lapang di Distrik Abdi Aziz, Mogadishu, Somalia. Di atas lapangan itu telah tersedia paket pangan untuk masing-masing dari mereka. Satu per satu dari mereka berbaris dan mengambil paket-paket pangan.

“Paket-paket pangan ini adalah hadiah dari masyarakat Indonesia kepada keluarga yatim dan pengungsi internal dari konflik di Somalia. Target kami ada 1.897 jiwa yang akan menerima bantuan paket pangan Ramadan ini,” ujar Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.

Masing-masing dari pengsungsi mendapatkan paket berisi gula, tepung, beras, minyak goreng, kurma, susu dan deterjen. Faradiba mengatakan bahwa para pengsungsi membutuhkan bantuan karena selain hidup di pengungsian dan terancaman pandemi Covid-19.

“Sebagai pengungsi, tentu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sangat sulit. Tambah sulit lagi dengan adanya virus corona. Mudah-mudahan paket ini dapat membantu mereka dalam melewati Ramadan kali ini,” harap Faradiba.

Wisma Atlet Rawat 702 Pasien Positif Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, hari ini merawat sebanyak 839 orang pasien secara keseluruhan.

Dari jumlah tersebut, 702 orang pasien di antaranya merupakan pasien berstatus positif Covid-19.

“Pasien rawat inap hari ini hingga pukul 08.00 WIB ada 839 orang yang terdiri atas 538 pria dan 301 wanita,” ujar Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Laksamana Madya Yudo Margono, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (14/5).

Ia menjelaskan, dari jumlah tersebut, 702 orang pasien di antaranya merupakan pasien dengan status positif Covid-19. Sisanya pasien dengan status pasien dalam pemantauan (PDP) sebanyak 73 orang dan orang dalan pemantauan (ODP) sebanyak 64 orang.

“Terhitung mulai 23 Maret, ada 2.945 orang yang terdaftar di RSD Wisma Atlet. Ada 1.193 orang pasien yang sembuh dan pulang, 98 pasien dirujuk ke rumah sakit lain, dan meninggal dunia tiga orang,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan, pelaksanaan uji coba penggunaan tanaman herbal berupa jamur cordyceps terhadap pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet  masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu. Proses pengordinasian tersebut akan dilaksanakan awal pekan depan.

“Hari Senin tim dari LIPI dan Kementerian Kesehatan Komite Etik akan datang untuk koordinasi tentang jamur itu,” ungkap Yudo.

Karena proses pengkoordinasian masih akan dilakukan pada pekan depan, maka Yudo tidak dapat memastikan kapan proses uji coba tanaman herbal tersebut akan dilaksanakan. “Belum (ada kepastian tanggal). Akan dikoordinasikan dulu,” jelasnya.

Sumber: republika.co.id

 

Orang dari Luar Negeri Dinilai Berpotensi Bawa Covid Gelombang Kedua

BANDUNG(Jurnalislam.com) —Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menguatkan koordinasi dengan semua pihak untuk mewaspadai gelombang kedua penyebaran Covid-19.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jabar Berli Hamdani, Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) berpotensi membawa SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19.

“Kita akan menerapkan protokol kesehatan bagi PPLN, mulai dari bandara Soekarno-Hatta, isolasi di BPSDM (Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Jabar, rapid test, tes swab, dan berkoordinasi dengan Gugus Tugas Kabupaten/Kota,” ujar Berli di Gedung Sate, Rabu malam (13/5).

Berli mengatakan, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar sendiri memfasilitasi kepulangan 86 warga Jabar dari sejumlah negara sejak mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Sabtu (2/5) dan kepulangan 38 warga asal Jabar dari Arab Saudi pada Selasa (5/5).

Menurutnya, setibanya di Bandara Soekarno-Hatta dan dilakukan pemeriksaan imigrasi, mereka melakuan rapid test. Berangkat menuju Gedung BPSDM Provinsi Jabar di Kota Cimahi untuk menjalani tes swab, pemeriksaan klinis dan karantina. Hal itu diterapkan untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat.

“Kalau terjadi positif swab kita berikan tata laksana kasus Covid-19 sesuai prosedur. Kalau tidak ada gejala bisa menjalankan isolasi di BPSDM, atau isolasi di rumah sakit kalau ada gejala, di 105 RS rujukan yang sudah ditetapkan Gubernur Jawa Barat,” kata Berli.

Protokol kesehatan,  akan diterapkan kepada pekerja migran Indonesia asal Jabar yang mengalami repatriasi. sejak 1 Januari-11 Mei 2020, Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinakertrans) Jabar mencatat 5.320 pekerja migran asal Jabar menjalani pemulangan.

Sumber: republika.co.id

Ramadhan di Tengah Pandemi, Sinergi Foundation Buka Konsultasi Zakat Online 24 Jam

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Guna menghindari penyebaran wabah dan untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan, Sinergi Foundation membuka layanan konsultasi zakat online bagi masyarakat luas. Layanan ini mencoba mengakomodir kebutuhan atas ilmu zakat, namun khawatir terpapar COVID-19 jika berkonsultasi langsung.

“Ramadhan adalah bulannya masyarakat berbuat kebaikan dan menunaikan zakat. Namun seringkali masyarakat belum paham terkait ilmunya. Masyarakat yang masih bingung dengan besaran zakat mal dan zakat fitrah yang harus dikeluarkan, Sinergi Consultant dari Sinergi Foundation siap membantu,” kata Asep Irawan, selaku CEO Sinergi Foundation.

Layanan konsultasi ini, lanjut Asep, dapat dilakukan melalui telepon maupun chat di WhatsApp. Ia menuturkan, Sinergi Consultant telah dibekali dengan pengetahuan memadai seputar zakat. Sehingga masyarakat insya Allah akan mendapat jawaban yang diharapkan sesuai kaidah syariat.

Selain konsultasi zakat, Sinergi Foundation juga membuka layanan jemput zakat sepanjang Ramadhan 1441 H ini. Asep menjelaskan, layanan ini hanya berlaku untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Kendati demikian, masyarakat luar Bandung yang ingin berzakat, bisa mengunjungi laman resminya di www.sinergifoundation.org.

“Kemudahan donasi juga bisa dilakukan di website www.sinergifoundation.org, scan QRIS, via e-wallet, atau transfer langsung ke rekening Wakaf, Zakat, dan Infak-Sedekah Sinergi Foundation,” katanya.

Melalui dua layanan ini, Asep mengharapkan masyarakat bisa mendapat pengetahuan terkait zakat dan menunaikannya dengan mudah. [

Polisi Masih Terus Halau Warga yang Ingin Mudik

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya masih mendapati masyarakat yang mencoba keluar wilayah Jadetabek. Sebanyak 566 kendaraan diputar balik arah kembali ke Jakarta, Rabu (13/5).

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo menjelaskan secara rinci jumlah itu terdiri dari, sebanyak 77 kendaraan diputar balik arah di Pintu Tol Cikupa dan 216 kendaraan di Pintu Tol Cikarang Barat arah Jawa Barat. Kemudian, 273 kendaraan juga diputar balik di jalur arteri.

“Itu termasuk kendaraan mobil pribadi, kendaraan umum dan sepeda motor yang diputarbalikkan di jalan arteri,” kata Sambodo saat dikonfirmasi, Kamis (14/5).

Dia menambahkan, selama 20 hari Operasi Ketupat 2020 dilakukan, tercatat sebanyak 18.225 kendaraan telah diputar balik arah saat terjaring di sejumlah pos penyekatan.

Sambodo merinci, sejak tanggal 24 April-13 Mei 2020 polisi mencatat sebanyak 4.079 kendaraan diputar balik di Pintu Tol Cikupa dan 6.264 kendaraan diputar balik di Pintu Tol Cikarang Barat arah Jawa Barat. Sementara itu, sebanyak 7.882 kendaraan lainnya diputar balik di jalur arteri.

Adapun operasi itu dilakukan terkait larangan mudik sejak tanggal 24 April 2020 pukul 00.00 WIB. Polda Metro Jaya melarang kendaraan pribadi baik motor atau mobil dan kendaraan umum berpenumpang keluar dari wilayah Jabodetabek.

Sumber: republika.co.id

Naikkan Iuran BPJS, Jokowi Disebut Permainkan Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB Nihayatul Wafiroh menyebut dikeluarkannya Perpres Nomor 64 Tahun 2020 yang menaikkan kembali tariff BPJS Kesehatan seperti mempermainkan masyarakat. Kebijakan yang keluar di masa pandemi Covid-19 ini dinilai tak beretika.

“Cukup kecewa dengan keputusan ini, karena tidak layak, tidak polite, kurang beretika, ketika dalam situasi rakyat sangat susah di pandemi, Presiden mengumumkan penurunan sekaligus kenaikkan iuran BPJS Kesehatan dalam waktu yang sama,” kata legislator yang kerap disapa Ninik ini saat dihubungi Republika, Rabu (13/5).

Legislator asal Jawa Timur ini menyebut, dengan keluarnya Perpres ini, rakyat seperti diombang-ambingkan. “Rakyat enggak mendapat kepastian bahkan rakyat cenderung dipermainkan,” ujarnya.

Berdasarkan Perpres pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan untuk Kelas I dan II per Juli 2020. Sedangkan tarif Kelas III yang kenaikannya sempat dibatalkan oleh MA kembali dinaikkan tahun depan.

“Walaupun asumsinya kelas masyarakat yang kelas 1 dan 2 adalah masyarakat yang mampu, tapi dengan adanya pandemi banyak masyarakat yang menjadi miskin baru. Dalam artian sebelumnya mampu, karena covid-19, kehilangan pekerjana dan sebagainya mereka jadi sudah layak jadi masyarakat BPJS kelas 3,” kata Ninik.

Ninik pun meminta pemerintah tidak egois untuk menaikkan tarif BPJS Kesehatan ini. Pemerintah seharusnya memperhatikan kondisi psikologi masyarakat yang masih berjibaku dengan covid-19 dan tertekan sangat lama di rumah bahkan tertunda untuk pulang kampung di saat Idul Fitri. Pemerintah, hanya menambah masalah masyarakat dengan kebijakan BPJS Kesehatan yang tidak konsisten.

“Ini membingungkan dan bikin resah masyarakat. Ayo presiden jangan main-main hati rakyat,” kata Ninik.

Ninik meminta Presiden RI Joko Widodo untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan rakyat. Sehingga, rakyat percaya presiden dan seluruh jajarannya sanggup untuk melindungi rakyatnya yang saat ini sedang mengalami musibah pandemi Covid-19 ini.

Sumber: republika.co.id