Komnas HAM: Negara Harus Hadir dan Menjamin Keamanan Keluarga Siyono

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KomnasHAM) Maneger Nasution meminta negara untuk hadir dalam kasus Siyono. Ia mendesak negara untuk menjamin rasa aman keluarga Siyono.

“Secara resmi kita menyatakan bahwa istri dan keluarga Siyono itu dalam pantauan Komnas HAM. Seperti yang disampaikan oleh PP Muhammadiyah Komisi Hukum dan HAM, maka Komnas HAM meminta mohon negara hadir dengan memberikan perlindungan kepada warga negaranya sendiri,” kata Maneger dalam konferensi pers di kantor Pusat PP Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (29/3/2016).

Tindakan sewenang-wenang Densus 88 terhadap Siyono dikhawatirkan akan memunculkan persepsi teror negara terhadap warga negaranya.

“Mohon agar tidak ada perlakuan atau tindakan yang bisa diindikasikan teror negara terhadap warga negaranya. Karena negara punya kewajiban konstitusi di samping melindungi, menegakkan termasuk juga memenuhi hak-hak dasar warga negara,” ujarnya.

Manager juga sepakat dengan Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah untuk melakukan otopsi terhadap jenazah Siyono.

“Dalam perspektif HAM apa kaitannya otopsi dengan HAM, yang paling sederhana itu adalah keluarga sampai hari ini tidak cukup tahu penyebab meninggalnya salah salah satu anggota keluarganya. Padahal sebetulnya adalah right to know, keluarga punya hak untuk tahu informasi yang cukup penyebab keluarganya meninggal. Itu hak keluarga,” tegas Manager saat mendampingi keluarga Siyono dalam pelimpahan kuasa kepada PP Muhammadiyah.

Ditegaskan Manager, Komnas HAM meminta negara untuk menjamin rasa aman terhadap keluarga Siyono. “Kita minta negara untuk hadir dengan menjamin rasa aman terhadap keluarga Siyono,” tambahnya lagi.

Reporter: Amru | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Hidayat Nur Wahid: Jangan Berantas Terorisme dengan Teror

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Upaya penanggulangan terorisme oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 kerap menyalahi prosedur. Wakil Ketua MPR Hidayat Nurwahid menyatakan, penanganan seharusnya tidak dengan tindakan yang bisa menimbukan kasus terorisme baru.

“Termasuk RUU Terorisme betul-betul penting untuk didudukan dalam konteks yang betul-betul bisa menghadirkan pemberantasan terorisme yang tidak menggunakan pendekatan-pendekatan terorisme yang lain,” katanya di Wisma Nusantara V Gedung MPR/DPR Jakarta Pusat, Selasa (29/3/2016).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menilai penting adanya pengawasan dan koreksi terhadap lembaga satuan elit milik Mabes Polri itu.

“Penting untuk tetap ada yang mengawasi, melakukan koreksi. Karena ada beberaapa kasus yang nyatanya salah tangkap dan dikembalikan dengan keadaan babak belur, bengap-bengap. Jadi itu bertentangan dengan HAM maupun hukum yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Terkait kasus Sitono, Hidayat Nur Wahid menyayangkan tindakan Densus 88 yang membunuh pria yang diduga teroris asal Klaten Jawa Tengah itu.

“Mengapa harus mati? Kenapa tidak dilumpuhkan saja, kemudian membongkar jaringan terorisme. Jangan memberantas terorisme dengan melakukan teror,” ujarnya Senin (28/03/2016).

Hidayat juga menegaskan, “Perlu diingat bahwa memberantas terorisme tidak boleh melanggar hukum dengan terror juga. Densus pun harus menghormati undang-undang,” tandasnya.

Reporter: Irfan Yusuf | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

 

Israel, Akar Terorisme di Dunia

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Negara Israel selalu menjadi unit satuan yang asal muasal eksistensinya "ilegal” muncul setelah Perang Dunia I.  Saat itu dunia dan bangsa-bangsa mengarah untuk “menghapus kolonialisme” dan mewujudkan kebebasan dari sandera hegemoni. PBB pun menjadi lembaga dunia yang mengawal demi menjaga perdamaian dan keamanan di dunia.

Namun Israel justru didirikan berdasarkan resolusi PBB nomer 181 tahun 1987 saat negara-negara besar menguasai kendali PBB yang kemudian memberikan “stempel legalitas dunia” atas kelahiran Israel di kawasan yang asing baginya. Ya, meski berusaha selama bertahun-tahun menyesuaikan diri, Israel tetap tidak bisa menyesuaikan dengan sejarah dan geografi Timur Tengah.

Kelahiran Israel dengan cara seperti ini, merupakan ungkapan dari gagasan baru bagi kolonialisme di era teknologi. Sebab entitas zionis yahudi Israel menjadi proyek ekspansif dan penghalang kemajuan dan modernitas di sana, terutama bagi bangsa Palestina.

Sejarawan baru Israel (anti kemapanan) menilai kelahiran Israel sebagai kelahiran yang salah yang belum berakhir hingga hari ini. Bahkan entitas penjajah yahudi Israel makin hari makin tumbuh lebih dari teroris dan menebar kekerasan.

Jika dianalisa, semua bentuk terorisme yang tumbuh di kawasan penyebab utama adalah Israel dan melebar ke seluruh dunia.

Mereka semakin intens dalam melakukan kejahatan terhadap bangsa Palestina khususnya dan bangsa Arab umumnya. Sehingga Israel menjadi teroris terorganisir yang dibina dan dilindungi oleh negara-negara kolonialisme.

Palestina sebagai tempat berdirinya Israel itu tidak mengakui eksistensi negara penjajah tersebut. Sebaliknya, Israel juga tidak mengakui negara Palestina, anehnya kemudian memberikan status kepada semua organisasi Palestina sebagai organisasi teroris.

Jadi, Israel sesungguhnya adalah entitas dengan status sebagai kanker ganas yang pengaruhnya melebar dan menjalar kemana-kemana dalam bentuk terorisme di seluruh dunia.

Usaha untuk melakukan normalisasi agar Israel diterima di kawasan itu pun dilakukan, namun tak akan bisa mengubah watak asli Israel.

Israel tetap Israel dan teroris zionis adalah sebenar-benarnya teroris dunia.

 

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam

Tim Dokter Belum Siap, Otopsi Jenazah Siyono Ditunda

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Otopsi jenazah Siyono yang rencananya akan dilakukan hari ini, Rabu (30/32016) ditunda. Keterangan tersebut diterima Suara Muhammadiyah melalui pesan singkat Busro Muqoddas. Penundaan disebabkan karena tim dokter belum siap.

Sebelumnya, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak dalam facebooknya akan mendampingi Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddass dan Manager Nasution, Anggota Komnas HAM dalam mengawal dokter-dokter Muhammadiyah yang akan melakukan otopsi jenazah Siyono.

Penundaan proses otopsi diputuskan Selasa (29/3/2016) malam dalam rapat koordinasi di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Disimpulkan dalam rapat tersebut bahwa proses otopsi akan dilakukan ketika semuanya siap.

Proses otopsi terhadap jenazah Siyono dilakukan atas permintaan keluarga mendiang Siyono. Muhammadiyah memutuskan untuk mengawal hak-hak hidup Siyono yang sudah dirampas oleh Densus 88. Bahkan Danhnil telah meminta satgas resmi Muhammadiyah, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk mengawal proses tersebut.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalslam

Taliban Rebut Pos Strategis Utama di Arghastan

KANDAHAR (Jurnalislam.com) – Para pejabat dari distrik Arghastan mengatakan bahwa sebuah pos militer utama yang terletak strategis di perbatasan daerah Shna Nari berada di bawah pengepungan Mujahidin selama 2 hari terakhir, akhirnya ditinggalkan oleh pasukan Arbaki hari Senin (28/03/2016) pukul 01:00 waktu setempat dengan sejumlah besar bala bantuan.

Seperti yang dilansir Al Emarah News, Selasa (29/03/2016), musuh yang mundur dilaporkan ditargetkan oleh Mujahidin, sebuah APC dihancurkan dan sedikitnya 2 orang bersenjata tewas.

Sebuah wilayah besar kini telah jatuh di bawah kendali Mujahidin dengan mundurnya musuh.

Laporan juga datang dari distrik Babaji, mengatakan bahwa sebuah pos pemeriksaan musuh yang terletak di daerah Awpashak dekat kota Lashkargah diserang oleh Mujahidin dalam operasi singkat, membunuh 6 orang bersenjata dan melukai 5 orang lainnya, serta merebut PKM, 4 senapan mesin dan sejumlah besar peralatan militer lainnya.

Pasukan bantuan yang mendekati lokasi ditargetkan dengan IED, benar-benar menghancurkan sebuah kendaraan jenis sedan dan menewaskan 5 orang bersenjata didalamnya, termasuk seorang komandan kunci, Masoom.

 

Deddy | Alemarah | Jurnalislam

Terima Pelimpahan Kuasa Keluarga Siyono, PP Muhammadiyah: Perjuangan Hukum Sebenarnya Setelah Otopsi

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menerima pelimpahan kuasa atas keluarga mendiang Siyono. Hal tersebut ditegaskan anggota Majelis Hukum dan HAM Trisno Raharjo dalam konferensi pers di kantor pusat PP Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (29/3/2016).

“Kami tegaskan keluarga korban dalam hal ini istri Siyono telah memberikan kuasa kepada PP Muhammadiyah. PP Muhammadiyah saat ini adalah kuasa dari keluarga almarhum Siyono dan segala tindakan yang kami anggap mengganggu privasi, ketenangan dari istri almarhum Siyono merupakan perbuatan melawan hukum,” tegas Trisno.

Keputusan itu diambil setelah PP Muhammadiyah mendengarkan pengaduan pihak keluarga yang menjelaskan kejanggalan-kejanggalan dalam kematian Siyono.

“Kasus ini menjadi penting karena ada ketidakjelasan informasi yang menyebabkan serangkaian pertanyaan-pertanyaan yang masih muncul atas meninggalnya almarhum Siyono,” katanya.

Trisno juga menegaskan akan menempuh jalur hukum apabila keluarga Siyono terus mendapat tekanan dan intimidasi dari pihak-pihak tertentu yang menginginkan kasus ini tidak diperpanjang.

“Kami mendapatkan inormasi dari keluarga bahwa ada pihak-pihak yang masih terus melakukan pendekatan-pendekatan terhadap keluarga yang menjadikan pihak keluarga tertekan. Untuk itu kami menganggap hal-hal semacam ini tidak memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan hak dari korban serta keluarga korban. Mengingat ini sudah dapat dianggap sebagai intimidasi,” terangnya.

Untuk menempuh langkah selanjutnya, PP Muhammadiyah terlebih dahulu akan melakukan otopsi jenazah Siyono guna mendapatkan petunjuk lebih terkait penyebab kematiannya.

“Perjuangan hukum yang sebenarnya yang akan kami lakukan apabila kami telah mengetahui sebab meninggalnya Siyono,” pungkasnya.

Keluarga Siyono tiba di kantor PP Muhammadiyah di Yogyakarta pada Selasa, (29/3/2016) pagi. Melalui sang istri, keluarga Siyono resmi melimpahkan kasus kematian suaminya dan menyerahkan kuasa kepada PP Muhammadiyah. Dalam kesempatan itu juga, istri Siyono menyerahkan dua gepok uang senilai Rp 200 juta yang diterimanya dari perempuan bernama Bu Ayu di sebuah hotel di Jakarta.

Kontributor: Amru | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Turki Bangun Masjid Terbesar di AS dengan Arsitektur Ottoman

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Menara kembar ditempatkan dalam sebuah kompleks sosial Islam tradisional yang disebut kulliye, mencerminkan arsitektur Ottoman klasik dalam Masjid terbesar di AS yang secara resmi akan dibuka akhir pekan ini, lansir Anadolu Agency Selasa (29/03/2016).

The Diyanet Center of America di Maryland, yang berjarak hanya 21 kilometer (13 mil) dari ibukota negara, Washington DC, secara resmi akan diluncurkan pada 2 April oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Tanah tersebut dibeli pada tahun 1990 oleh Departemen Agama Presiden Turki dan hanya memiliki masjid kecil Turki seluas 100 meter persegi (1.076 kaki persegi) dan bangunan masyarakat di atasnya, menurut arsitek kulliye, Muharrem Hilmi Senalp.

"Setelah niat dideklarasikan pada tahun 2009, kami memulai proses untuk proyek kulliye yang akan mencerminkan pemikiran dunia Islam … dengan pemahaman untuk membangun sebuah kota Turki Islam kuno, kami mencoba untuk memasukkan apa yang dibutuhkan dalam sebuah kulliye, "kata Senalp kepada Anadolu Agency.

Struktur kota klasik dari Kekaisaran Ottoman memiliki Masjid di tengah kota.

Senalp mengatakan bahwa proyek tersebut didasarkan pada jenis rencana struktur dan arsitektur Masjid yang mencerminkan gaya tradisional Ottoman Empire dari abad ke-16 dan 17.

"Ada sebuah masjid di pusat, dan taman Islam Turki di depannya. Tepat di sebelah itu, ada pusat budaya, yang merupakan harmoni arsitektur klasik dan modern."

Pusat kebudayaan termasuk perpustakaan, ruang konferensi dan pameran, sebuah aula pertemuan dan area resepsi.

Pusat Penelitian Islam (The Islamic Research Center) dalam gedung akan memberikan layanan konsultasi untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang berasal dari Turki di AS. Juga terdapat Islamic Arts Museum seluas 300 meter persegi (3.229 kaki persegi) di bawah Masjid dan 10 rumah tradisional Ottoman dalam kompleks, di mana para tamu dapat menginap.

Rumah-rumah tersebut berubah menjadi kompleks lingkungan Islam Turki, menurut Senalp.

Sambil membangun Masjid, Ottoman menggunakan sistem pengukuran yang disebut Turkish yard yang digunakan untuk sementara waktu bahkan oleh Republik Turki yang baru didirikan setelah Kekaisaran Ottoman runtuh pada awal tahun 1900-an.

Menurut Senalp, ia menggunakan sistem sambil membangun kulliye untuk mematuhi gaya tradisional.

Meskipun pembangunan kasar kulliye dikerjakan oleh perusahaan AS, semua materi yang membutuhkan keahlian (kerajinan) diangkut melalui laut atau udara dari Turki, katanya, menambahkan bahwa semua pengrajin juga datang dari Turki untuk membangun kompleks.

Mustafa Iskender, anggota tim implementasi desain proyek, mengatakan seni dan kerajinan dilakukan pada kulliye oleh pengrajin Turki yang sangat istimewa karena teknik mereka yang kuno dan hampir punah.

Iskender mengatakan ada banyak percakapan dengan otoritas AS tentang rincian arsitektur sambil membangun kompleks karena jenis struktural seperti itu tidak ada contoh sebelumnya. "Oleh karena itu, pekerjaan ini entah bagaimana menjadi kategori unik," katanya.

Seluruh kompleks ini dibangun di atas area 60.000 meter persegi (64.600 kaki persegi) dan termasuk tempat pemandian tradisional Turki untuk pria dan wanita, kolam renang, ruang serbaguna, dan sebuah kompleks olahraga dalam ruangan.

Dengan dua menara – menara untuk adzan yang memanggil jamaah untuk sholat – Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 879 meter persegi (9.461 kaki persegi) dan memiliki halaman yang cukup besar untuk menampung sekitar 3.000 jama’ah yang melaksanakan sholat pada waktu yang sama.

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

124 Milisi Komunis PKK Tewas dalam Operasi Militer Turki di Mardin

Mardin (Jurnalislam.com) – Sampai saat ini sedikitnya 124 milisi komunis PKK tewas dan tiga ditahan dalam operasi keamanan di tenggara Turki, menurut angka yang diberikan oleh gubernur provinsi, Anadolu Agency melaporkan, Selasa (29/03/2016).

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Selasa, gubernur Mardin mengatakan 124 teroris telah "amankan" di provinsi kabupaten Nusaybin Mardin sejak awal operasi sekitar dua pekan lalu.

Banyak senjata seperti senjata laras panjang, senjata berat, peluncur roket dan amunisi, serta sedikitnya 227 bahan peledak buatan tangan dan granat, juga disita dalam operasi tersebut.

Pada tanggal 14 Maret, pasukan Turki melancarkan operasi kontra-terorisme di Nusaybin di perbatasan Suriah untuk membersihkan kota dari alat peledak improvisasi dan barikade.

"Selama operasi, 22 petugas keamanan yang berjuang dengan gagah berani menjadi martir," kata pernyataan itu.

Lebih dari 350 anggota pasukan Turki telah tewas sejak PKK Juli lalu kembali melakukan operasi bersenjata.

Ribuan milisi PKK juga tewas dalam operasi di seluruh Turki dan Irak utara.

Deddy | Anadolu agency | Jurnalislam

Berakhirnya Drama Pembajakan Pesawat Penumpang Mesir “EgyptAir”

SIPRUS (Jurnalislam.com) – Pembajak pesawat jet penumpang EgyptAir diringkus di bandara Larnaca, Siprus, setelah sebelumnya menemui kebuntuan selama lima jam. Tidak ada yang terluka dalam insiden setelah pria pembajak itu akhirnya menyerah kepada pihak berwenang, Aljazeera melaporkan, Selasa (29/03/2016).

Penerbangan domestik The EgyptAir dari Alexandria ke Kairo dibajak pada Selasa pagi dan terpaksa dialihkan ke pulau.

Kementerian penerbangan sipil Mesir mengatakan pilot pesawat, Omar al-Gammal, diancam oleh penumpang yang mengikat dirinya dengan bahan peledak, tetapi kemudian Kementrian mengatakan bahwa sabuk pembajak bunuh diri tersebut ternyata palsu.

Foto-foto yang ditampilkan di televisi negara Mesir menunjukkan seorang pria paruh baya dalam pesawat memakai kacamata dan menampakkan sabuk putih dengan kantong-kantong dan kabel-kabel yang menonjol.

Teori yang bertentangan muncul tentang motif pembajak.

Presiden Siprus Nicos Anastasiades mengatakan bahwa pria itu tampaknya memiliki motif pribadi dan kejadian itu "tidak terkait dengan terorisme". TV negara Siprus mengatakan pria itu ingin menghubungi mantan istrinya, warga Yunani-Siprus dan tinggal di Larnaca.

Laporan sebelumnya mengatakan pria itu menuntut pembebasan tahanan perempuan di Mesir.

EgyptAir mengatakan terdapat 81 orang dalam penerbangan 181, termasuk tujuh orang awak. Kebanyakan penumpang dibebaskan tak lama setelah mendarat di Siprus.

Pada pukul 11.30 GMT, tujuh orang terakhir terlihat meninggalkan pesawat, satu orang lolos melalui jendela kokpit.

Berbicara kepada wartawan setelah krisis berakhir, Perdana Menteri Mesir Sherif Ismail mengatakan pembajak berkewarganegaraan Mesir tapi motifnya masih belum jelas.

"Pada beberapa saat ia meminta untuk bertemu dengan perwakilan dari Uni Eropa dan pada waktu-waktu lain ia meminta untuk pergi ke bandara lain, tapi tidak ada yang spesifik," katanya, menambahkan pria itu akan dipertanyakan untuk memastikan motifnya.

Pejabat kementerian luar negeri Siprus Alexandros Zenon mengatakan kepada wartawan bahwa pembajak tampaknya "linglung".

Saksi mengatakan kepada surat kabar Cyprus Mail bahwa pria melemparkan surat di landasan bandara di Larnaca, ditulis dalam bahasa Arab, meminta untuk dikirimkan ke mantan istrinya.

"Penumpang dan awak kami semuanya baik … Kita tidak bisa mengatakan ini adalah aksi teroris … dia tidak profesional," Menteri Penerbangan Sipil Mesir Sherif Fethy mengatakan kepada wartawan.

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

 

Persis Dukung Petisi Pencabutan Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) mendukung dicabutnya Nobel Perdamaian yang disandang Perdana Menteri Myanmar, Aung Sang Suu Kyi. Pasalnya, pernyataan Sun Kyi, "No one told me I was going to be interviewed by a Muslim" dinilai tidak mencerminkannya sebagai seorang perjuang perdamaian.

Pernyataan yang artinya “Tidak ada yang memberitahuku akan diwawancarai oleh seorang Muslim” itu ia sampaikan kepada wartawan muslim BBC saat dimintai tanggapan terkait pandangan dan sikapya terhadap nasib umat Islam Rohingya. Wawancara yang terjadi pada 2013 itu baru dipersoalkan sekarang setelah biografi Suu Kyi yang ditulis oleh Peter Popham dirilis. 

“Meskipun itu terjadi pada tahun 2013, tapi sikapnya itu jelas menunjukan karakter sesungguhnya dari seorang Aung San Suu Kyi yang telah diberi penghormatan sebagai peraih Nobel Perdamaian,” kata Wakil Ketua Umum PP Persis Dr Jeje Zaenudin melalui rilisnya kepada Jurnalislam, Selasa (29/3/2016).

Dengan terungkapnya sikap Suu Kyi itu, PP Persis mendukung petisi yang menyerukan pencabutan Nobel Perdamaian dari San Suu Kyi. “Karena sikap dan pernyataanya itu tidak mencerminkan sebagai pejuang perdamaian, justru menunjukan sebagai seorang yang berpikiran rasialis dan bersikap diskriminatif,” tegasnya.

Selain itu, PP Persis juga menyeru kaum Muslimin utk mendukung petisi pencabutan Nobel Perdamaian Sun Kyi sebagai wujud pembelaan dan solidaritas bagi Muslim Rohingya yang hingga saat ini masih diperlakukan secara zalim dan tidak berperikemanusiaan.

Seperti diketahui, sejumlah aktivis hak asasi manusia menggalang tuntutan mencabut penghargaan Nobel Perdamaian yang diberikan kepada pemimpin gerakan demokrasi di Myanmar, Aung San Suu Kyi.

"Kami meminta Ketua Komite Nobel mencabut Nobel Perdamaian yang diberikan untuk Suu Kyi. Hanya mereka yang sungguh-sungguh menjaga kedamaian yang layak menerima hadiah Nobel Perdamaian," kata para aktivis dalam petisinya.

Hingga malam ini, petisi yang diedarkan via Change.org sudah ditandatangani ratusan aktivis dan pegiat HAM, demokrasi, pegiat antikorupsi, politis, dan jurnalis di Indonesia. Petisi ini menyebar di media sosial sejak Senin (28/3/2016).

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalslam