Safari Ramadhan Syeikh Palestina ke Tasikmalaya

20160615_195716TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Untuk kedua kalinya Masjid Al-Amin dikunjungi Syaikh Palestina bersama Syam Organizer dalam Safari Ramadhan Bermakna bersama Imam-imam Palestina di Saguling Panjang Kawalu.

Seteleh selesai shalat sunnah terawih, Syeikh Husam Taher langsung disambut hangat oleh pihak DKM Masjid Al-Amin “Kami warga saguling sangat menyambut kedatangan saudara kita Syaikh Husam Taher, dimana pada moment bulan yang sama, pada Ramadhan tahun sebelumnya kita bertemu dengan saudara kita Syaikh dari palestina” Ujar Ustadz. Ade Ridwan dalam sambutannya.

Dalam agenda safari ini, ketua Syam Organizer Tasikmalaya menuturkan, “Acara safari imam Palestina selama bulan Ramadhan tahun ini roadshow di 160 kota dengan mendatangkan 4 syeikh dari Palestina” tutur pria yang disapa Pak Eri kepada tim liputan Jurnalislam.com, Rabu (15/06/2016).

Pak Eri menjelaskan “Ini menjadikan hal yang berbeda terutama di bulan Ramadhan, dengan hadirnya beliau dan menjelaskan keadaan sesungguhnya seperti apa keberadaan saudara kita di sana, beliau juga menyampaikan rasa terimakasih kaum muslim Palestina kepada muslim Indonesia atas bantuan yang selama ini diberikan kepada kaum muslim Palestina,”jelasnya.

20160615_195434

Syaikh Husam Taher menyampaikan risalah kepada jama’ah yang hadir bahwa “Setiap muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tanpa membedakan warna kulit putih ataupun yang berkulit hitam, dan sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah Swt adalah orang yang bertaqwa” ucap Ustadz Furqan Abdillah sebagai mutarjim Syaikh Husam Taher

Beliau menjelaskan kondisi Palestina saat ini yang tiada henti terus digempur oleh kaum Yahudi,

“Kondisi masjid Al-Aqsha terus digempur oleh serangan-serangan Yahudi laknatullah, untuk merobohkan dan meruntuhkan sehingga tiang-tiang Masjid Al-Aqsha menjadi rapuh” ujar Syeikh.

Selanjutnya beliau mengatakan, “kaum Yahudi laknatullah melarang pemuda-pemuda Palestina yang berumur dibawah 40 tahun, untuk sholat memasuki di Masjid Al-Aqsha”.

“Kenapa mereka melarang para pemuda memasuki Masjid Al-Aqsha? karena mereka tahu bahwa pemuda sebagai penerus umat yang memiliki kesepakatan untuk memperjuangkan Islam adalah mereka mereka yang berada di bawah usia 40 tahun” terangnya

Syaikh Husam Taher mengingatkan jamaah diakhir tausiyah, “Sungguh tidak ada kata uzur dan alasan bagi kita dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala ketika kita membiarkan mereka, ketika kita tidak memberikan bantuan untuk mereka terhadap kondisi saudara kita di Palestina,” tegasnya.

Acara ditutup dengan penyerahan cendramata slayer Palestine dari Syaikh Husam Taher kepada seluruh elemen DKM Masjid Al-Amin, pemuda dan Remaja Al-Amin sebagai bentuk dukungan dan kepeduliaan ummat muslim Indonesia terhadap muslim Palestina.

20160615_204257

Reporter: Lutfi | Editor: Deddy

Inilah Alasan Arrahmah.com Berikan Somasi pada Kompas

kompas-2JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sebagai media nasional yang sudah tua, Kompas ternyata tidak lagi peduli dengan etika jurnalistik dan profesionalisme, terutama ketika memberitakan media Islam. Kompas.com tanggal 15 Juni 2016 menulis dengan judul provokatif dan tendensius, “Situs Radikal Raup Rp 6 Juta Per Hari dari Google Adsense”. Isinya memfitnah Arrahmah.com dan memprovokasi pihak lain atas dasar kebencian, intoleran dan diskriminatif.

Sejumlah fitnah yang dituduhkan Kompas -yang di kalangan gerakan Islam dikenal sebagai media Komando Pastur- pada Arrahmah.com, antara lain:

Pertama, menuduh pemilik Arrahmah.com sebagai “tersangka” bom Marriot. Tuduhan ini bohong dan fitnah keji. Dalam persidangan yang dilakukan atas kasus ini tuduhan tersebut tidak terbukti. Tuduhannya hanya sebatas dokumen palsu dan menyembunyikan informasi mengenai terorisme. Mengapa Kompas dengan sengaja mendistorsi fakta kasus yang sebenarnya dengan cara menyudutkan Muhammad Jibriel Abdul Rahman?

Kedua, menyebut situs Arrahmah sebagai penyebar paham radikalisme, yang mendapatkan pemasukan dengan menjual iklan dengan platform yang disediakan oleh raksasa teknologi AS, Google AdSense. Situs Arrahmah legal dan formal sebagaimana situs media lainya, dan pemerintah telah mengaku bersalah karena serampangan melabeli media Islam dengan stigma radikal. Mengapa Kompas dengan sengaja ingin melestarikan stigma buruk, tanpa menyadari sudah berulangkali Kompas memfitnah Islam dan menyakiti umat Islam, lalu dianggap selesai dengan hanya meminta maaf?

Ketiga, menurut situs statistik Six Stat, pendapatan Arrahmah.com dari AdSense per harinya bisa mencapai 499 dollar AS (sekitar Rp 6,6 juta). Apa yang salah jika Arrahmah.com mendapat keuntungan dari kerjasama dari pihak manapun? Bukahkah pihak Kompas juga meraup keuntungan besar dari bisnis media, dan untuk membiayai misi Kristenisasi dan segala hal yang memfitnah Islam? Untuk maksud apa Kompas memprovokasi Google dengan mengatakan menurut Financial Times dapat dikategorikan sebagai tindakan dukungan terhadap terorisme, dan menurut hukum di AS, perusahaan-perusahaan teknologi itu bisa dipidana 20 tahun penjara atau denda mencapai 1 juta dollar AS.

Keempat, Kompas lebih mendahulukan opini media massa dan mengabaikan fakta pengadilan dan hukum untuk merusak citra Arrahmah. Benarlah kesan yang selama ini beredar, bahwa Kompas mengemban misi radikalisme Kristen, dengan bersikap intoleran dan diskriminatif terhadap media Islam.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka Arrahmah.com menuntut Kompas.com untuk meminta maaf. Apabila tuntutan ini tidak diindahkan, maka kami akan menempuh jalur hukum atas fitnah yang ditimpakan Kompas.

Demikian somasi ini kami sampaikan agar menjadi perhatian yang serius.‎

 

Arrahmah | Deddy

 

Ramadhan Tov: Ajak Umat Islam Boikot Produk Israel

d9e701cf391e44a4a8d81df18e4ba27c_18PALESTINA (Jurnalislam.com) – “Jangan biarkan pendudukan menyiapkan buka puasa Anda”, isi poster dari kampanye boikot terbaru yang diluncurkan di Tepi Barat yang diduduki, lansir World Bulletin, Rabu (15/06/2016).

Berjudul “Ramadhan Tov” – yang berarti “Selamat Ramadhan” dalam bahasa Ibrani – kampanye telah menyatukan mayoritas gerakan boikot Palestina lokal untuk pertama kalinya di bawah payung kelompok Boikot, Divestasi dan Sanksi internasional (Boycott, Divestment and Sanctions-BDS).

Kampanye ini bertujuan untuk mendorong warga Palestina untuk memboikot produk-produk Israel, makanan khususnya, selama dan setelah bulan Ramadhan. Sasaran mereka adalah perusahaan makanan terbesar Israel termasuk Jafora, Tnuva, Strauss dan Osem. Wajah dari kampanye ini adalah seorang tentara Israel berseragam hijau yang berbeda sedang menyajikan nampan berisi produk makanan populer Israel yang rutin dikonsumsi oleh warga Palestina selama bulan suci.

“Kami sedang berupaya meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif dari produk-produk Israel di pasar lokal. Kami mencoba untuk menunjukkan hubungan antara produk-produk ini dan pelanggaran Israel yang nyata terhadap hak-hak warga Palestina, yang diwakili melalui tentara dan pemukim,” Hazem Abu Helal , anggota komite BDS setempat mengatakan.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Sentimen Anti-Muslim Jerman Mencapai Rekor Tertinggi

thumbs_b_c_426af2d7e90e4f5c7d15ef6ff51573b9BERLIN (Jurnalislam.com) – Jumlah warga Jerman yang memiliki sikap negatif terhadap umat Islam mencapai angka tertinggi, menurut hasil penelitian terbaru oleh Universitas Leipzig yang dirilis di Berlin, Rabu (15/06/2016), Anadolu Agency melaporkan.

50 persen dari warga Jerman yang disurvei mengatakan bahwa mereka, “kadang-kadang merasa seperti orang asing di negeri sendiri karena begitu banyak Muslim yang tinggal di sini,” sementara hampir 41 persen menganjurkan larangan migrasi Muslim.

Perwakilan Penelitian mengungkapkan peningkatan sikap negatif yang signifikan terhadap Muslim dan pengungsi di Jerman, saat negara tersebut sedang mencoba untuk mengatasi masuknya pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II.

Negara dengan ekonomi terbesar di Eropa tersebut menerima lebih dari satu juta pengungsi tahun lalu; kebanyakan mereka berasal dari Suriah, Irak dan Afghanistan.

Hasil penelitian Rabu menunjukkan bahwa krisis pengungsi menjadi penyebab meningkatnya kekhawatiran atas migrasi.

Jumlah warga Jerman yang mengeluh tentang jumlah pendatang Muslim yang tinggal di negara mereka naik menjadi 50 persen tahun ini dibandingkan tahun 2009 yang berjumlah 32,2 persen.

Mereka yang menganjurkan larangan migrasi Muslim ke Jerman meningkat dari 36,6 persen menjadi 41,4 dalam setahun. Mereka yang mendukung larangan tersebut berjumlah 21,4 persen pada 2009.

Survei tersebut juga mengungkapkan prasangka masyarakat Jerman yang mendalam terhadap para pencari suaka. Hampir 60 persen menyatakan keraguan mereka mengenai apakah para pengungsi membutuhkan perlindungan internasional, dan mengklaim bahwa banyak pengungsi yang tidak benar-benar melarikan diri dari penganiayaan di negara asal mereka.

Lebih dari 80 persen warga Jerman yang disurvei berpendapat bahwa Jerman tidak harus bermurah hati ketika memeriksa aplikasi yang dibuat oleh para pencari suaka.

Negara ini telah mengalami pertumbuhan anti-pengungsi dan sentimen anti-Muslim dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh propaganda kelompok kanan jauh dan pihak populis, yang telah mengeksploitasi krisis pengungsi dan ketakutan akan adanya ekstrimis agama dan kelompok-kelompok teroris.

Gerakan kanan Jerman seperti PEGIDA dan Alternatif untuk Jerman (AFD) telah menyerukan langkah-langkah untuk membendung migrasi dan membatasi hak-hak Muslim, yang mereka anggap sebagai “ancaman potensial Islamisasi Jerman.”

Jerman memiliki jumlah penduduk 81.100.000; sekitar lima persennya adalah Muslim. Di antara hampir empat juta penduduk Muslim di negara itu, tiga juta berasal dari Turki. Banyak dari orang-orang ini bermigrasi ke Jerman pada 1960-an.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

34 Orang Tewas di Aleppo dalam Serangan Bom Rezim Assad

9f146857923b4135a93e2706efd20df5_18ALEPPO (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 34 orang tewas dalam pemboman di kota Aleppo, Suriah, sumber di dalam kota mengatakan kepada Al Jazeera, Rabu (15/06/2016).

Korban tewas pada Selasa terjadi akibat pemboman udara, penembakan dan penggunaan bom barel dari helikopter pemerintah ke arah kabupaten yang dikuasai oposisi.

Bom barel jatuh di distrik Salhen, Ferdos, dan Jisr al-Haj di Aleppo, menewaskan sembilan orang termasuk dua anak.

Pengepungan dan serangan udara di daerah Shalahudin, Sukary, Malaah, dan Castello menewaskan 25 orang, di antaranya wanita dan anak-anak.

Serangan pesawat tempur terus berlanjut semalaman hingga Rabu pagi.

Mereka yang terluka dalam serangan termasuk wartawan independen dan aktivis Hadi al-Abdullah, yang meliput pertempuran Aleppo dari daerah yang dikuasai oposisi.

Gambar yang diposting di Twitter merekam saat Abdullah terkena puing-puing akibat granat yang mendarat di dekat posisinya.

Pemboman di dalam Aleppo terjadi saat pasukan oposisi dan pasukan pemerintah bertempur dalam bentrokan berdarah di desa-desa sekitar Aleppo.

 

Deddy | Aljazzera | Jurnalislam

 

Taliban Rebut Sebuah Distrik di Uruzgan setelah Kalahkan Pasukan Afghanistan yang didukung AS

54b845359d6c48a79ce1fdedeec7a991_18AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Imarah Islam Afghanistan (Taliban) menguasai sebuah pusat kabupaten di provinsi Uruzgan Afghanistan setelah beberapa hari pertempuran melawan pasukan Afghanistan yang dilaporkan didukung oleh pasukan AS, lansir The Long War Journal, Rabu (15/06/2016)

“Taliban menyerbu markas polisi dan instalasi lain di Char Chino dan membongkar pusat pemerintahan kabupaten dan bangunan lainnya,” kata Taliban pada situs media resminya, Voice of Jihad.

Taliban melaporkan, serangan kemarin pagi menewaskan 35 boneka atau polisi dan personel militer Afghanistan. Taliban mengatakan menghancurkan dua kendaraan lapis baja dan 7 truk pickup Ford Ranger. Empat mujahidin Taliban gugur dalam serangan itu, kelompok melaporkan.

Jatuhnya Char Chino dikonfirmasi oleh Stars & Stripes, yang melaporkan bahwa koalisi internasional memberikan dukungan kepada pasukan pemerintah selama pertempuran.

Namun, juru bicara provinsi Uruzgan mengklaim bahwa kantor gubernur masih berada di bawah kendali mereka dan pasukan Afghanistan menarik diri dari markas polisi sebagai langkah taktis, Stars and Stripes melaporkan.

Taliban saat ini menguasai 39 kabupaten di Afghanistan dan memperebutkan 43 kabupaten lainnya, menurut data yang dikumpulkan oleh The Long War Journal. Kabupaten yang berada di bawah kendali Taliban dikelola oleh kelompok, atau mereka mengontrol pusat kabupaten. Biasanya Taliban mengontrol semua daerah kabupaten kecuali pusat administratif kabupaten yang diperebutkan.

Taliban mungkin mengontrol atau memperebutkan lebih banyak kabupaten.

Di Uruzgan, Taliban memperjuangkan empat kabupaten dan berhasil mengontrol satu kabupaten lagi (Char Chino).

Pertempuran di provinsi Uruzgan semakin intensif selama bulan lalu. Beberapa saat sebelum mengambil Char Chino, Taliban membunuh 11 tentara Afghanistan dan menangkap 12 lainnya di distrik Dehrawood pada 7 Juni dan pada tanggal 31 Mei, Taliban menyerbu 11 pos pemeriksaan polisi di Gizab.

Taliban menganggap Uruzgan sebagai distrik strategis, dan sebelumnya mengatakan bahwa mereka mengendalikan semua wilayah provinsi tersebut kecuali pusat kabupaten.

Dalam wawancara Voice of Jihad di bulan April 2016 dengan Mullah Aminullah Yousuf, gubernur bayangan Taliban untuk Uruzgan, ia menggambarkan Uruzgan sebagai “titik yang menghubungkan banyak provinsi” dan “merupakan benteng tradisional mujahidin yang kuat.”

“Musuh berpikir bahwa jika provinsi ini jatuh ke tangan mujahidin, akan sangat sulit untuk merebutnya kembali,” kata Yousef.

Yousef menjelaskan bahwa AS, Belanda, dan pasukan Australia berkomitmen mengirimkan kekuatan yang signifikan untuk mengamankan Uruzgan dan bertempur bersama polisi dan Arbakis, atau milisi lokal. Tapi Taliban terus bertarung dan menguasai lapangan setelah pasukan koalisi mundur.

“Setahun lalu, dengan pengecualian kantor pusat kabupaten, seluruh desa, pinggiran kota, dan lembah berhasil lepas dari tangan musuh,” Yousef mengaku pada bulan April.

Yousef mengatakan Taliban akan terus memperjuangkan pusat kabupaten, dan meramalkan bahwa hilangnya seluruh lima kabupaten akan menjadi masalah serius bagi pemerintah Afghanistan.

“Jika … mujahidin menguasai markas kabupaten seperti yang kita harapkan dan telah kita rencanakan, maka kantor pusat provinsi tidak akan mampu menolak. Ini akan menjadi pukulan besar bagi musuh, dan musuh akan meninggalkan daerah itu,” katanya.

Sekarang salah satu dari lima pusat kabupaten Uruzgan dikendalikan oleh Taliban.

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

 

Ketika Para Tokoh Islam Menggugat Kompas

DUA tulisan tajuk rencana yang dimuat harian nasional Kompas pada 28 Agustus 1997 dan 2 September 1997 begitu menyengat perasaan kaum muslimin.

Tajuk rencana yang berjudul “Kekerasan Membuat Aljazair Runyam, Korban Terus Berjatuhan” (28/8) dan “Situasi Aljazair Semakin Kusut, Ratusan Orang Dibantai” (2/9) membuat umat Islam marah karena dinilai sangat tendensius, berbau SARA, dan provokatif.

Tajuk tersebut ditulis untuk menyikapi kemenangan Partai Islam FIS (Front Islamique du Salute/Front Penyelamat Islam) di Aljazair, yang kemudian kemenangan itu diberangus oleh pemerintah berkuasa, sehingga menimbulkan gejolak.

Protes datang pertama kali dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang dimotori oleh aktivis Islam H. Ahmad Sumargono dan pimpinan Perguruan Asy-Syafi’iyah Jakarta, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i.

KISDI menilai, Kompas telah memberikan citra buruk bagi partai Islam tersebut, padahal kemenangan FIS di Aljazair, dilakukan lewat mekanisme demokrasi yang sah. Tajuk rencana yang ditulis oleh Kompas, jelas mewakili sikap resmi media tersebut dalam memandang kemenangan FIS.

Mungkin harian dengan oplah cukup besar ini tak menduga, jika dua tajuk rencananya itu akan membangkitkan kemarahan kaum muslimin di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, ratusan orang yang terdiri dari para tokoh Islam di negeri ini, anggota DPR, para aktivis ormas Islam, aktivis kampus, dan lain-lain memberikan surat kuasa kepada Tim Pembela Islam (TPI) agar menggugat surat kabar tersebut dan menuntutnya untuk meminta maaf kepada umat Islam.

tokoh-Islam-menggugat-Kompas

Diantara deretan nama tokoh-tokoh nasional umat Islam yang memberikan surat kuasa kepada Tim Pembela Islam (TPI) adalah; Dr. M. Amien Rais, Dr. Kuntowijoyo, Prof.Dr. Deliar Noer, Prof. Daud Ali, Dr. Affan Ghafar, Dr. Ahmad Syafi’I Ma’arif, KH. Misbach, KH. Abdullah Wasi’an, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, KH. A. Cholil Ridwan, KH. Abdurrahim Nur, Lc., MA, KH. Dalali Oemar, KH. Abbas Aula, H. Hussein Umar, H. Ahmad Sumargono, H. A.M Fatwa, H. Syuhada Bahri, Buya Mas’oed Abidin, M.S Ka’ban, Fadli Zon, Nu’im Hidayat, Aru Syeif Assad, Lukman Hakiem, Tamsil Linrung, H. Sulaeman Zachawerus, dan lain-lain. Tercatat ada 120 nama yang memberikan surat kuasa, yang berasal dari berbagai latarbelakang dan daerah di Indonesia.

Apa yang membuat para tokoh dan aktivis tersebut marah kepada Kompas? Berikut diantara kutipan dari kalimat yang tercantum dalam tajuk rencana Kompas yang begitu memojokkan Partai FIS dengan stigma dan penggiringan opini, seolah-olah FIS adalah kelompok berbahaya, sadis, dan brutal:

(1). “Aksi orang-orang bersenjata itu digambarkan sangat kejam, sadis, dan mengerikan.” (alinea ke-7, Tajuk 2/9/97)

(2). “Kekejaman yang dilakukan kaum militan FIS memang luar biasa. Pikiran dan emosi kita terusik serangkaian aksi pembantaian di Aljazair.” (alinea ke-4, Tajuk 2/9/1997)

(3). “Berbagai kalangan geram dan marah terhadap tindakan kaum militan FIS, yang dinilai tidak berperikemanusiaan, sadis, brutal, dan tanpa ampun.” (alinea ke-6, Tajuk 2/9/1997)

(4). “Mereka adalah korban kebrutalan kaum teroris.” (alinea le-2, Tajuk 28/9/1997)

(5). “Sentimen keagamaan yang dikampanyekan FIS justru melahirkan kekejaman, teror, dan sadisme.” (aline ke-17, Tajuk 2/9/1997)

(6). “Sulit diharapkan pula FIS akan memerintah secara demokratis sekiranya mendapatkan kesempatan untuk itu.” (alinea ke-20, Tajuk 28/8/1997)

Demikian beberapa kutipan dari Tajuk Kompas yang begitu tendensius terhadap kemenangan partai Islam di Aljazair tersebut. Majalah Media Dakwah yang terbit pada Oktober 1997 mempertanyakan sikap pers milik kelompok Katholik itu.

“Apakah benar, dua tajuk berturut-turut untuk suatu masalah yang jauh letaknya dari Indonesia tersebut dibuat dengan niat yang luhur? Cara menggiring opini pembaca agar menjadi “ketakutan” terhadap Islam, begitu sistematis dilakukan oleh Kompas,” demikian tulis majalah yang menjadi corong Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Selain dua tajuk rencana itu, beberapa judul berita Kompas pun tak luput dari protes umat Islam. Abu Alif Iman, seorang aktivis KISDI mengumpulkan beberapa kliping pemberitaan Kompas, diantaranya berjudul; 28 Orang Tewas Dibantai di Aljazair (11/2), Wanita Hamil Jadi Korban Pembantaian di Aljazair (26/6), Malam Neraka di Aljazair (28/8), dan 345 Tewas Dibantai di Aljazair (31/8).

Jauh sebelum itu, pada 1 Mei 1997, Kompas juga menulis Tajuk yang sangat berbahaya dan tendensius dengan memojokkan Necmettin Erbakan (Najmuddin Erbakan), tokoh Partai Refah (Welfare Party), Turki, yang juga guru dan senior dari Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan. Kompas membuat judul tajuk rencana, “PM Erbakan Dinilai Melakukan Siasat Politik Berbahaya Bagi Turki”.

Dalam tajuknya, Kompas memuji sekularisme ala Mustafa Kemal Attaturk dan menyudutkan umat Islam sebagai ancaman serius bagi sekularisme yang sudah ada di negeri itu. Kompas menulis, “Aktivisme kaum fanatisme dalam kehidupan publik dinilai sudah semakin mencolok, seperti sistem pendidikan. Sekiranya kecenderungan ini dibiarkan, lambat laun prinsip negara sekular yang ditanamkan pahlawan Mustafa Kemal Attaturk akan terdesak,” demikian tertulis dalam Tajuk tertanggal 1 Mei 1997 itu.

Apa yang dilakukan oleh Kompas melalui tajuknya tersebut terkesan ceroboh. Sebab, media-media besar seperti The Washington Post, The New York Time, dan Newsweek saja tidak berani menuduh FIS sebagai pelaku dari serangkaian aksi kekerasan yang terjadi di Aljazair.

Apalagi, setelah melemparkan tuduhan, dengan bahasa yang sangat vulgar, Kompas menulis bahwa korban pembantaian sadis adalah anak-anak, orangtua, wanita hamil yang dirobek perutnya dan dipenggal lehernya. Kemudian penggalan kepala itu digantung di atas pintu rumah. Luar biasa vulgarnya bahasa yang digunakan Kompas saat itu.

Berbeda dengan Kompas, media massa nasional lainnya, seperti Republika, menulis bahwa meski FIS memiliki Tentara Penyelamat Islam sebagai sayap militernya, namun mereka berkali-kali mengutuk pembantaian terhadap warga sipil tersebut.

Artinya, ada pernyataan resmi dari FIS yang membantah keterlibatan mereka dalam aksi kekerasan. Inilah yang tidak dijadikan sebagai perimbangan berita oleh Kompas.

Protes umat Islam yang diwakili oleh Tim Pembela Islam (TPI) kemudian mendapat respon dari petinggi di redaksi Kompas. Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Ninok Leksono menyatakan permintaan maaf di hadapan media massa di antaranya SCTV, ANTV, GATRA, Republika, Majalah Ummat, dan Forum Keadilan.

Ninok mengatakan, Kompas mengakui kesalahannya terkait tajuk tersebut dan meminta maaf pada umat Islam. Kompas juga menon-aktifkan penulis tajuk tersebut yang bernama Rikard Bangun.”Kami tidak bermaksud menyinggung umat Islam, tapi kalau ada yang tersinggung, ya kami minta maaf,” ujar Ninok. Selain permintaan maaf, Kompas juga memuat tajuk rencana pada 20 September yang berjudul, “Kompas Sangat Menghargai Aspirasi dan Perasaan Umat Islam.”

Selain itu pada 29 September 1997, bertempat di Hotel Sahid Jakarta, diadakan pertemuan antara Tim Pembela Islam (TPI) yang terdiri dari Hartono Mardjono, SH, Luthfie Hakim, SH, dan lain-lain.

Selanjutnya, masih bertempat di hotel yang sama, pada 3 Oktober 1997, dihadapan Ketua MUI KH. Hasan Bashri, para aktivis Islam yang tergabung dalam KISDI, dan TPI, pemimpin Harian Umum Kompas, Jacob Oetama, menyampaikan permohonan maafnya secara langsung.

Dalam pertemuan itu juga disepakati, Kompas akan memuat pernyataan maafnya dalam setengah halaman iklan di medianya dan di dua media massa Islam; Suara Hidayatullah dan Media Dakwah.

Protes umat Islam terhadap pemberitaan Kompas tidak terjadi ujug-ujug. Sebelumnya, tokoh KISDI, Ahmad Sumargono, sudah mengirimkan tuklisan-tulisan yang mengkonter pemberitaan Kompas, namun tak pernah dimuat oleh redaksi. Karenanya, jalur hukum yang ditempuh oleh umat Islam dengan memberikan somasi, adalah jalan terakhir untuk meredam kemarahan umat. Karena biar bagaimanapun, kezaliman media massa sekular terhadap umat Islam, harus diluruskan.

Namun, apakah setelah itu tulisan dan pemberitaan Kompas terhadap umat Islam berubah? Faktanya, terkait isu-isu yang menyangkut aspirasi umat Islam, seperti Perda-perda bernuansa syariat di berbagai daerah, penolakan umat Islam terhadap Ahmadiyah, kasus terorisme, dan lain-lain, pemberitaan Kompas masih menyudutkan umat Islam.

Penulis: Artawijaya

Sumber: artaazzamwordpresscom.wordpress.com

Beredar Petisi Tolak Wacana Pencabutan Perda Jam Buka Rumah Makan di Serang

petisiJAKARTA (Jurnalislam.com) – Kasus Ibu Saeni (53) seorang pemilik warung tegal (warteg) yang dirazia oleh aparat Satpol PP pekan lalu, dinilai telah dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyerang Perda Kota Serang tentang kegiatan yang dilarang dalam bulan Ramadhan.

Salah seorang warga Serang, Banten bernama Nuha Uswati, mencurahkan kegelisahannya terkait hal tersebut. Menurutnya, usulan pencabutan perda tersebut tidak sama sekali berlandaskan pada kehendak warga Serang.

Pada lama Change.org, Nuha membuat sebuah petisi berjudul “Pertahankan PERDA Perihal Jam Buka Rumah Makan Selama Ramadhan” untuk mempertahankan perda tersebut.

Berikut isi petisi yang hingga saat ini telah ditandatangani oleh 7000 orang lebih itu:

PERTAHANKAN PERDA JAM BUKA RUMAH MAKAN DI SERANG! Saya warga Serang. Bertahun tahun hidup dengan Perda yang mengatur jam buka Rumah Makan selama Ramadhan. Tidak pernah melihat atau merasakan ada gejolak apapun. Bukan hanya warung warung nasi kecil. Bukan juga seperti yang diberitakan bahwa Satpol PP hanya berani pada pedagang kecil. Salah besar. Mall mall dan rumah makan besarpun disini menerapkan jam buka sesuai Perda. Bila pada razia kemarin petugas Satpol PP dinilai tidak simpatik dan menyalahi prosedur dengan menyita makanan, maka silahkan diproses untuk pemberian sangsi atau lainnya. Bila netizen bersimpati kepada Ibu Sainah dan secara sukarela memberi bantuan, dapat kami fahami. Silahkan. Tetapi usulan dan wacana (atau rencana?) pencabutan Perda yang dilandaskan tuduhan tuduhan dari pihak luar, seperti intoleran, melanggar hak warga negara, menghalangi penghidupan, SARA, berasal dari mana suara suara itu? Silahkan dicek, mereka bukan dari masyarakat Serang. Jangan tuduh Perda ini SARA. Kami muslim-non muslim sudah biasa hidup berdampingan berabad abad lamanya. Bahkan tempat tempat peribadatan non muslim berdiri tegak, megah ditengah pusat kota Serang dan kami semua baik baik saja. Perda adalah aspirasi kami. Sama sekali tidak mendasar semua alasan yang dituduhkan untuk pencabutan Perda. Bantu kami, Pertahankan PERDA Perihal “Jam Buka Rumah Makan selama Ramadhan” di Kota Serang! Terimakasih Nuha Uswati – Serang

Petisi ini akan dikirim ke: Walikota Serang, DPRD Kota Serang, Mendagri, Presiden RI

 

Bagi anda yang setuju dan ingin menandatangani petisi tersebut, silahkan klik link dibawah ini

Tandatangani petisi

 

Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

 

Terima Donasi Rp172 Juta dari Netizen, Saeni Minta Maaf Kepada Umat Islam

Saeni sujudSERANG (Jurnalislam.com) – Siang ini, Saeni (53 tahun) didampingi suaminya, Alex menerima donasi dari netizen yang menggalang donasi untuk Saeni setelah warungnya dirazia Satpol PP Pemkot Serang sepekan lalu. Penerimaan donasi dilakukan di Bank BRI Jalan Diponegoro Serang pada Rabu, (15/06).

Pantauan JITU di lokasi, sejumlah wartawan telah berkumpul di Bank BRI untuk menyaksikan proses pemberian uang sumbangan kepada Saeni. Seorang netizen yang memiliki akun twitter @dwikaputra melakukan penggalangan dana usai pemberitaan media terkait razia Penyakit Masyarakat (Pekat). @dwikaputra berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 265.534.758

Namun, donasi yang disampaikan kepada Saeni hanya senilai Rp 172.844.160. Menurut situs kitabisa.com, tempat penggalangan dana online tersebut dikumpulkan, dana sisanya akan diberikan kepada pemilik warung yang terdampak razia penegakan Perda No 2 Tahun 2010 Kota Serang.

Ketika turun dari Lantai 2 Bank BRI, Saeni langsung sujud syukur di hadapan wartawan. Sembari meneteskan air matanya, Saeni mngucapkan terimakasih atas bantuan dari masyarakat. Kendati demikian, ia meminta maaf kepada seluruh warga Banten atas kekhilafan yang dilakukannya membuka warung di siang hari pada bulan Ramadhan.

“Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada masyarakat, juga meminta maaf kepada seluruh warga Banten, khususnya umat Muslim atas kekhilafan saya. Saya mohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Saeni yang tiba di BRI mengenakan kerudung hitam itu.

Bu Saeni berjanji ke depannya akan memuliakan bulan Ramadan dan tidak membuka warung nasinya lagi di siang hari.

Kuasa hukum Saeni, Sylvia menegaskan uang donasi dari masyarakat akan dipakai untuk pembayaran hutang, ongkos umroh, tabungan masa depan, deposito jangka panjang, serta jaminan kesehatan (BPJS).

Reporter: Fajar Aditya dan Fajar Shadiq | Editor: Ally Muhammad Abduh

PDPM Karanganyar Adakan Safari Ramadhan ke Daerah Rawan Kristenisasi

IMG-20160615-WA0027KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Pemuda Muhammadiyah Pimpinan Daerah Karanganyar mengadakan Safari Dakwah Ramadhan di Daerah Rawan Kristenisasi Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Kegiatan tersebut digelear di Masjid Jabl Nur Gondosuli Lor RT 04 RW 05, Tawangmangu pada Selasa (14/6/2016)

Kawasan yang terletak di Kaki Gunung Lawu tersebut memang sudah lama menjadi target Kristenisasi. Dari data yang dihimpun para aktifis Islam Tawangmangu, tidak kurang dari 150 warga yang mayoritas bekerja sebagai petani telah keluar dari Islam.

Dari kejadian tersebut banyak Ormas Islam yang merasa terpanggil untuk menyikapi hal tersebut, tidak terkecuali Pemuda Muhammadiyah Pimpinan Daerah Karanganyar pada Selasa malam (14/6/2016) mengadakan Safari Dakwah ke Lokasi.

Selain diisi dengan tawarih berjamaah, PD Pemuda Muhammadiyah juga membangikan bingkisan sembako kepada ratusan jamaah yang hadir. Panitia juga menggelar sarasehan menyikapi gencarnya Kristenisasi yang terjadi di daerah tersebut.

Ketua Muhammadiyah Tawangmangu, Listiyono mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai salah bentuk tanggung jawab Muhammadiyah kepada umat. “Acara ini kami laksanakan karena rasa keprihatinan kami akan maraknya kristenisasi dan bentuk tanggung jawab kami kepada umat,” ungkap Lis kepada Jurnalislam, Rabu (15/6/2016).e

“Gerakan Kritenisasi di sini memang sangat terstruktur dan masif oleh misioanris GBI diantaranya melalui Program Bagi-bagi Sembako, pengobatan gratis 3 x dalam setahun, tunjangan kesejahteraan bagi kaum miskin antara 500 – 1,5 jt/ bulan dan pinjaman Lunak untuk Modal Usaha,” tambahnya.

Dari berbagai Program di atas maka AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) Karanganyar akan berusaha untuk mencegah Kristenisasi dengan berbagai program yang diantaranya Beasiswa Pendidikan kepada dhuafa, membagikan sembako, mengadakan baksos kesehatan dan senantiasa mempererat ukhuwah dengan ormas Islam yang lain yang berada di Tawangmangu dan sekitarnya.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally Muhammad Abduh