Info Grafik Perlawanan Turki atas IS, 5.300 Lebih Ditangkap

thumbs_b_c_3b88fda3ca43e43d53b46217b65f1ecaMALATYA (Jurnalislam.com) – Lebih dari 5.300 tersangka dari kelompok Islamic State (IS) sejauh ini telah ditahan di Turki sebagai bagian dari perjuangan intens negara melawan IS, sumber-sumber keamanan mengkonfirmasi Jumat.

Menurut data koresponden Anadolu Agency, Jumat (15/07/2016) yang disusun dari sumber-sumber polisi dan militer yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media, sejumlah total 5.310 orang ditangkap, dengan 1.654 telah diserahkan ke tahanan.

Pada semester pertama 2016, dari 1.654 orang yang ditahan, 791 adalah orang asing, kata sumber-sumber.

Turki juga telah berbagi informasi dengan 144 negara lain tentang lebih dari 50.000 tersangka tersebut untuk membantu menggagalkan kegiatan IS, sambil mendeportasi 3.500 orang dari 98 negara, menurut sumber.

Turki telah mengambil langkah-langkah untuk menindak anggota IS sejak kelompok tersebut melakukan serangkaian pemboman di Turki.

Militer Turki juga telah menembaki sasaran militer IS di Suriah, saat kelompok meluncurkan roket ke kota-kota selatan Turki di dekat perbatasan Suriah.

Pada tanggal 28 Juni, IS bertanggung jawab atas pembunuhan 45 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya di Bandara Internasional Ataturk Istanbul ketika tiga pelaku bom martir, semuanya warga negara asing, melepaskan tembakan dan meledakkan diri mereka di terminal internasional.

Selain meledakkan bandara, IS telah dikaitkan dengan sejumlah bom martir lainnya di Turki dalam beberapa bulan terakhir, termasuk serangan bulan Maret di Taksim Square Istanbul yang menewaskan lima orang, serangan Januari di Sultanahmet, Istanbul yang menewaskan 12 wisatawan Jerman, dan serangan Oktober 2015 pada sebuah aksi di Ankara yang menewaskan 103 orang.

Turki memiliki empat kategori utama dalam perang melawan kelompok IS. Operasi keamanan terhadap kelompok-kelompok di Turki yang diduga memiliki hubungan dengan IS hanyalah salah satu dari kategori perang melawan IS.

Kategori kedua adalah memerangi pejuang asing yang mencoba pergi ke Suriah melalui Turki, sementara kategori ketiga adalah kontribusi Turki untuk koalisi anti-IS internasional. Kategori keempat dan terakhir dari strategi anti-IS Turki sejak 2013 adalah pertarungan nasional dan internasional untuk memotong keuangan IS.

Sebanyak 223 orang telah kehilangan nyawa mereka dalam serangan IS di Turki, di mana mereka telah menargetkan warga sipil dalam serangan bom, serangan roket, dan serangan senjata laras panjang. IS menargetkan perbatasan provinsi Kilis Turki dengan 83 peluru roket sejak Januari 2016, menewaskan 21 orang dan melukai lebih dari 80 lainnya.

Empat puluh lima orang tewas pada 28 Juni ketika IS menyerang warga sipil dengan bom dan senjata laras panjang di Ataturk Airport di Istanbul.

Tahun lalu, IS menewaskan 34 orang dalam serangan bom di distrik Suruc provinsi Sanliurfa, sementara 107 orang lainnya tewas dalam serangan bom di depan stasiun kereta api pusat di Ankara.

Angkatan Bersenjata Turki menghantam pasukan IS di Suriah setelah menggenjot serangan di provinsi perbatasan Turki. Militer Turki menyerang sasaran IS dengan badai howitzer, sistem roket, dan tank.

Militer Turki telah menewaskan lebih dari 500 pasukan IS sejak 9 Januari dalam serangan terhadap emplasemen organisasi tersebut di Suriah.

Dalam taktik lain, proses peradilan terhadap tersangka IS yang ditahan dalam operasi di dalam negeri terus berlanjut.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

 

 

Sopir Truk Serangan di Perancis Diidentifikasi Warga Lokal


03a1ba72e1ed49cc8a4f5b2a3c642874_18PARIS (Jurnalislam.com)
– Penyerang yang menewaskan sedikitnya 84 orang, termasuk 10 anak-anak dan remaja, di Nice, Prancis diidentifikasi sebagai warga Tunisia berusia 31 tahun yang tinggal di kota itu, kata kepala jaksa Paris pada Anadolu Agency, Jumat (15/07/2016).

Francois Molins menambahkan bahwa 202 orang telah terluka, dimana 52 berada dalam kondisi kritis ekstrim, termasuk 25 orang masih dalam perawatan intensif.

Kepala jaksa Paris mengkonfirmasi identitas penyerang sebagai Mohamed Lahouaiej Bouhlel, sopir pengiriman kelahiran Tunisia. Ia menikah dan memiliki tiga anak dan dilaporkan dalam proses perceraian. Istrinya telah ditahan untuk diinterogasi Jumat pagi.

“Dia lahir pada 3 Januari 1975 di Tunis dan tinggal di Nice,” Molins mengatakan pada konferensi pers di Nice.

Molins mengatakan Bouhlel diketahui polisi karena pelanggaran terkait non-teror, ancaman, kekerasan dan pencurian kecil yang dilakukan antara tahun 2010 dan 2016. Ia ditangkap pada 23 Maret tahun 2016 dan dihukum enam bulan untuk kejahatannya dan dihukum karena melakukan kekerasan dengan senjata pada bulan Januari 2016.

“Dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda radikalisasi,” tambahnya.

Molins mengatakan penyidik sedang berusaha untuk mencari tahu motif penyerang dan apakah ia memiliki kaki-tangan.

Media Prancis, mengutip tetangganya, menjelaskan Bouhlel sebagai orang yang soliter, pendiam dan non-agama.

dec1cdc703864621b69a0cd6132d5a81_18Polisi menemukan dokumen identitas dalam truk yang menabrak kerumunan orang saat merayakan Bastille Day pada Kamis malam dan identitasnya dikonfirmasi melalui sidik jari.

Molins mengatakan bahwa penyerang menyewa truk 19-ton tersebut pada 11 Juli di dekat Saint-Laurent-du-Var, dan bahwa seharusnya dikembalikan pada 13 Juli.

Dia mengendarai truk putih berpendingin tersebut sekitar 2 kilometer (1.2 mil) melalui kerumunan orang yang tengah menonton kembang api dari Promenade des Anglais sekitar pukul 23:00 waktu setempat (2100GMT).

Dia menembak berulang kali ke arah tiga polisi ketika mereka berhadapan dengannya dekat hotel. Tembak menembak terjadi tapi truk melaju hingga 300 meter lagi, kata Molins.

“Polisi akhirnya menemukan sopir tewas di kursi penumpang”, kata jaksa.

Di kabin, polisi menemukan senjata api otomatis, charger, peluru, serta senjata otomatis palsu. Ada juga dua Kalashnikov palsu dan M16, sebuah granat, telepon seluler, dan berbagai dokumen yang masih sedang diperiksa. Kami juga menemukan kartu pengemudi dan sebuah kartu lain atas namanya.”

Molins menjelaskan bahwa, “Penyerang tiba (di truk yang diparkir) sendirian dengan sepeda motor. Sepeda motor ini kemudian ditemukan di dalam truk. Truk terlihat pada sekitar pukul 10.30 pm (2030GMT) di Nice sebelum pergi ke Promenade.”

Dia mengatakan polisi menggeledah rumah penyerang dan mengumpulkan dokumen dan bahan elektronik.

“Bahan-bahan ini tentu saja sedang diselidiki,” kata Molins, bersikeras bahwa tidak ada klaim tanggung jawab, meskipun serangan itu serupa dengan seruan dari organisasi teroris.

Perdana Menteri Perancis Manuel Valls mengumumkan hari berkabung nasional tiga hari sejak Sabtu.

“Tujuan penyerang adalah untuk menanamkan rasa takut dan panik tapi Perancis adalah negara besar dan demokrasi besar yang tidak akan membiarkan dirinya tidak stabil,” katanya dalam sambutannya di televisi dari Paris.

Dia menambahkan: “Kami ingin mencapai kesatuan bangsa. Satu-satunya jawaban adalah bersatunya Perancis.”

Perdana menteri mengatakan perpanjangan keadaan darurat yang telah diberlakukan sejak serangan November di Paris yang menewaskan 130 orang akan dibahas oleh Kabinet dan di parlemen pekan depan.

Sebelum serangan di Nice, keadaan darurat itu sedianya akan berakhir pada 26 Juli namun diperkirakan sekarang akan diberlakukan selama tiga bulan lagi.

Setelah kembali ke Paris dari Avignon di selatan Perancis, Presiden Francois Hollande mengadakan pertemuan keamanan di Istana Elysee.

Menara Eiffel diharapkan menampilkan warna bendera Perancis selama tiga malam, mulai Jumat, dalam penghormatan kepada korban.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

PM Turki: Sejumlah Militer Terlibat dalam Upaya Kudeta

d82b2294-e3f5-4d98-8bc6-4d7538b9e85a_800ANKARA (Jurnalislam.com) – Militer Turki telah resmi menyatakan kudeta dan mengklaim bahwa mereka telah mengambil alih negara, menutup jembatan utama dan bandara utama di Istanbul, Aljazeera melaporkan Sabtu (16/07/2016).

The Dogan News Agency mengutip militer pada hari Jumat mengatakan, bahwa militer ingin menginstal ulang tatanan konstitusional, demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan, untuk memastikan bahwa aturan hukum sekali lagi memerintah di negeri ini, dan agar hukum dan ketertiban dipulihkan.”

Pernyataan militer berlanjut dengan mengatakan bahwa “semua perjanjian dan komitmen internasional masih akan tetap. Kami berjanji bahwa hubungan baik dengan semua negara-negara dunia akan terus berlanjut.”

thumbs_b_c_c153548cbe4a5f771fedd38a5ba91a2a

Sebelumnya, dalam pidato televisi, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan bahwa sejumlah jenderal terlibat dalam pengambilalihan pemerintah.

Dia bersumpah bahwa para pelaku akan ditahan, menambahkan bahwa pemerintah tidak akan pernah menyerahkan negara.

Presiden Recep Tayyip Erdogan dilaporkan aman, namun Anadolu Agency melaporkan bahwa Kepala Staf Turki Hulusi Akar disandera oleh sebuah kelompok dalam militer.

Erdogan dalam panggilan telepon ke penyiar radio CNN Turk pada hari Jumat mengatakan ia tetap sebagai presiden negara dan kepala tentara dan menyerukan orang-orang untuk turun ke jalan melawan kudeta.

“Kita akan atasi hal ini,” kata Erdogan, yang berbicara lewat video call ke ponsel yang dihadapkan ke kamera oleh presenter. Dia meminta para pengikutnya untuk turun ke jalan untuk membela pemerintahnya dan mengatakan komplotan kudeta akan membayar harga yang mahal

Al Jazeera melaporkan bahwa Bandara Internasional Ataturk Istanbul telah ditutup, dan semua penerbangan telah dibatalkan.

Seorang wartawan Al Jazeera di Istanbul juga melaporkan melihat perwira militer tiba di Taksim Square, dan memerintahkan semua orang untuk pergi.

“Mereka mengevakuasi seluruh Taksim Square,” reporter kami melaporkan. “Orang-orang akan pulang sekarang.”

Bosphorus Bridge dan Fatih Sultan Mehmet Bridge di Istanbul juga telah ditutup oleh tentara Turki, saluran televisi lokal melaporkan, tanpa memberikan alasan.

Dua jembatan utama tersebut menghubungkan sisi Asia Istanbul ke sisi Eropa.

Rekaman Dogan News Agency menunjukkan mobil dan bus dialihkan, menurut Reuters.

Saksi Reuters di Istanbul, kota terbesar di Turki, juga melihat helikopter berputar-putar di atas.

“Tampaknya ada perbedaan pendapat di jajaran militer,” reporter Al Jazeera Zeina Khodr, melaporkan dari Gaziantep.

Di ibukota Ankara, tembakan terdengar, saat jet militer dan helikopter terlihat terbang di atas, kata seorang saksi mata Reuters.

Turki memiliki sejarah upaya kudeta, terakhir kali terjadi pada tahun 1997, yang memaksa pengunduran diri perdana menteri Nemettin Erbakan.

_90413473_034084973-1

Deddy | Anadolu Agency | Aljazeera | Jurnalislam

 

Revisi UU Terorisme Masih Bermasalah, Pemerintah Jangan Tergesa-gesa

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Busyro Muqoddas
Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Busyro Muqoddas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik, Busyro Muqoddas menilai teror bom yang terjadi belakangan ini dimanfaatkan sejumlah pihak untuk mempercepat revisi UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

“Kami perihatin sekali ada bom di Sarina muncul adanya pernyataan revisi undang-undang terorisme. Setelah bom Mapolresta Solo ada juga statement seperti itu dari Mabes Polri dan sebagainya. Dari berbagai kasus bom yang terjadi ujung-ujungnya mendesak untuk dipercepat revisi undang-undang terorisme,” ungkap Busyro dalam siaran pers di Gedung PP Muhammadiyah Jalan Menteng Raya Jakarta Pusat, Jum’at (15/7/2016).

Padahal, menurut dia, pasal-pasal dalam revisi undang-undang tersebut masih banyak yang bermasalah. Menurutnya, masih banyak pasal yang mengancam sistem demokrasi itu sendiri.

“Pasal-pasalnya dalam revisi undang-undang terorisme, banyak pasal-pasal yang mengancam pada demokrasi. Pengancaman pada demokrasi itu pengancaman pada prinsip-prinsip negara hukum, yang seharusnya negara hukum itu harus dihormati oleh semua pihak termasuk aparat penegak hukum dalam hal ini Polisi,” terang Busyro.

Ia pun mempertanyakan ketergesa-gesaan pemerintah untuk mengesahkan revisi undang-undang terorisme.

“Kalau benar seperti itu ada sesuatu yang ingin berjalan tergesa-gesa, ada apa dibalik ketergesaan itu? Padahal kita umat beragama, ada nasihat agama sifat tergesa-gesa itu adalah sifat setan. Mudah-mudahan kita bukan bagian dari setan itu,” pungkasnya.

Reporter: Irfan Yusuf | Editor: Ally Muhammad Abduh

Tim Evaluasi Dibentuk Agar Informasi Kasus Terorisme Tidak Dimonopoli

Komisioner Komnas HAM, Hafidz Abbas dalam Siaran Pers Pembentukan Tim Evaluasi Kasus Terorisme di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jum'at (15/7/2016)
Komisioner Komnas HAM, Hafidz Abbas dalam Siaran Pers Pembentukan Tim Evaluasi Kasus Terorisme di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jum’at (15/7/2016)

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisioner Komnas HAM, Hafidz Abbas menilai pernyataan Kepala BNPT Tito Karnavian terkait Nur Rohman sudah menjadi buronan sejak tahun 2000 adalah hal yang janggal. Sebab, berdasarkan data kelahiran yang tersebar ke publik, pelaku bom Mapolresta Solo itu lahir pada tanggal 1 November 1985.

“Kalau tahun 2000 beliau (Nur Rohman-red) baru 14 tahun 1 bulan. Jadi kalau masuk SD 7 tahun beliau baru kelas 6 atau kelas 1 SMP,” kata Hafidz dalam siaran pers pembentukan Tim Evaluasi Kasus Terorisme di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jum’at (15/7/2016).

Baca juga: Komnas HAM Bentuk Tim Evaluasi Kasus Terorisme

Menurut Hafidz, dalam usia belasan tahun seseorang belum bisa berpikir di luar kepentingan diri dan di lingkungannya.

“Dalam literatur-literatur Islamiyah kita tahu betul pada usia itu dia belum mampu menganalisa jaringan global dan belum ada idealisme, dengan idenya untuk untuk berkorban segalanya. Biasanya idealisme semacam itu terbentuk pada usia-usia pendidikan tinggi,” terang Hafidz.

“Maka dari itu ada kecurigaan bahwa mungkin masyarakat perlu tahu apakah memang beliau betul-betul teroris pada waktu SD atau SMP,” tambahnya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, adanya Tim Evaluasi Kasus Terorisme dipandang perlu untuk menghindari informasi yang dimonopoli oleh satu institusi saja.

“Karena kalau tidak ada institusi lain yang bisa melihat dari sisi lain maka informasi itu tidak kaya sehingga dimonopoli oleh satu institusi sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Sehingga masukan dari tim ini perlu untuk memperkaya jalan perubahan penanganan kasus terorisme itu,” pungkasnya.

Reporter: Irfan Yusuf | Editor: Ally Muhammad Abduh

Ahistoris, Muhammadiyah Sayangkan Keputusan Presiden Tunjuk Gories Mere Jadi Staf Khusus Intelijen

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, SE, ME

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Keputusan Presiden Joko Widodo menunjuk Gories Mere sebagai Staff Khusus Bidang Intelijen juga disayangkan oleh Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak.

“Saya menyayangkan Presiden memutuskan mengangkat Staff Khusus bidang Intelijen yang mungkin juga akan mengurusi isu-isu terorisme,” katanya dalam siaran pers di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016).

Dahnil menilai Presiden Jokowi mengabaikan rekam jejak Gories Mere pengakatan Gories sebagai Staff Khusus Presiden merupakan sebuah ahistoris.

“Keputusan Jokowi mengangkat Goris Mere menurut kami ahistoris, mengabaikan rekam jejak yang bersangkutan. Publik yang hafal betul dengan rekam jejak yang bersangkutan di masa lalu saya pikir pasti memberikan perhatian khusus terhadap Gories,” terang Dahnil.

Reporter: Irfan Yusuf | Editor: Ally Muhammad Abduh

Komnas HAM Bentuk Tim Evaluasi Penanganan Kasus Terorisme

 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia resmi membentuk Tim Evaluasi Pemberantasan Terorisme di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016)
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan sejumlah ormas Islam di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016)

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) resmi membentuk Tim Evaluasi Pemberantasan Terorisme. Tim yang yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat ini akan memberikan evaluasi terkait upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88.

“Tujuan dibentuknya tim ini untuk memberikan evaluasi terhadap praktek pemberantasan terorisme oleh pemerintah yang selama ini dilakukan oleh Polri terutama densus 88 dan BNPT apakah sudah on the track atau belum,” ungkap Komisioner Komnas HAM Hafidz Abbas di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta Pusat, Jumat (15/07/2016).

Hafidz Abbas menilai penanganan kasus terorisme harus sesuai dengan prinsip-prinsip penegakan moralitas hukum, prinsip-prinsip penegakan Hak Asai Manusia, kejujuran dan transparansi.

“Kejujuran dan transparansi menjadi dua hal yang penting dalam penegakan hukum, karena tanpa dua unsur ini, penegakan hukum itu bisa dimanipulasi,” ujar Hafidz.

Tim tersebut nantinya akan melakukan pengawasan dengan cara melakukan kajian yang komprehensif, detail, serta berdasarkan kajian akademis.

“Dengan demikian, penanganan terorisme ke depan tidak melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan,” lanjutnya.

Anggota Tim Evaluasi Penanganan Terorisme sendiri terdiri dari 13 tokoh, yakni M Busyro Muqoddas, Bambang Widodo Umar, KH Salahuddin Wahid, Trisno Raharjo, Ray Rangkuti, Dahnil Anzar Simanjuntak, Haris Azhar, Siane Indriani, Hafid Abbas, Manager Nasution, Franz Magnis Suzeno, Magdalena Sitorus, dan Todung Mulya Lubis.

Reporter: Irfan Yusuf | Editor: Ally Muhammad Abduh

Hizbullah Lebanon Latih Syiah Afghanistan Fatemiyoun untuk Lindungi Kuil di Damaskus

LIBANON (Jurnalislam.com) – Didirikan oleh Korps Pengawal Revolusi Syiah Iran (IRGC) untuk berperang di Suriah atas nama pemerintah Nushairiyah Bashar Assad, Divisi Fatemiyoun Afghanistan terdiri dari Syiah Afghanistan yang terutama direkrut dari diaspora di Iran, dan beberapa dari Afghanistan. Fatemiyoun berperang untuk mempertahankan kuil Syiah di Suriah, khususnya kuil Sayyida Zainab di Damaskus. Mereka dengan demikian disebut sebagai pembela kuil, The Long War Journal melaporkan, Kamis (14/07/2016).

Media Iran mulai mengakui kematian Afghanistan pada tahun 2013. Pers Iran mengklaim bahwa Fatemiyoun telah meningkat dari brigade menjadi divisi tahun lalu, meskipun jumlah pasukan mereka sebenarnya mungkin kurang dari 10.000. Sedikitnya 383 pasukan Fatemiyoun telah tewas dalam pertempuran di Suriah, menurut media Iran, lebih rendah dari angka liputan media lokal tentang kombatan syiah Afghanistan yang tewas di Suriah yang jumlahnya sudah ribuan, dan berita seperti ini sudah biasa di Iran, terutama di kota-kota Masyhad dan Qom, yang memiliki komunitas Afghanistan yang cukup besar.

Tasnim News Agency, outlet media Iran yang berafiliasi dengan IRGC, pada 12 Juli menerbitkan laporan yang mengungkapkan peran Syiah Hizbullah Lebanon dalam pelatihan unit pasukan khusus baru Fatemiyoun. Syiah Hizbullah berada di garis depan melatih milisi lain yang didukung IRGC di Irak.

Sekelompok pasukan Syiah Fatemiyoun baru saja menyelesaikan pelatihan khusus dan kursus militer canggih, menurut Tasnim. Kekuatan ini dikerahkan sebagai “lengan tempur stimulan” bersama pejuang milisi Fatemiyoun biasa, menurut outlet media tersebut.

“Kelompok pertama pasukan khusus ini, yang dikerahkan ke berbagai daerah di Suriah, telah menyelesaikan kursus sniper canggih di bawah pengawasan penembak jitu Syiah Hizbullah Lebanon dan instruktur Afghanistan,” Tasnim mengklaim.

“Titik pentingnya adalah bahwa pasukan Fatemiyoun khusus telah dilatih di bawah instruktur terampil Afghanistan yang telah menyelesaikan pelatihan khusus di bawah pengawasan pasukan syiah Hizbullah yang terampil,” menurut Tasnim.

“Ratusan penembak jitu Fatemiyoun khusus telah dikerahkan untuk membela kuil Syiah di Suriah dan telah bergabung dengan unit-unit tempur Fatemiyoun,” klaim Tasnim.

Kelompok pasukan khusus Syiah Fatemiyoun tambahan dengan pelatihan lanjutan dalam pertempuran, kemampuan komando, perang gerilya, rudal anti-armor, rudal yang diluncurkan lewat bahu, dll diharapkan untuk bergabung dengan pasukan tempur Syiah lainnya di Suriah,” Tasnim mengumumkan.

“Fatemiyoun telah memperoleh banyak prestasi dalam membebaskan daerah yang diduduki di Suriah dan juga membela kuil di negara ini,” Tasnim membual.

Baca juga:

Inilah Data Milisi Syiah yang Berperang untuk Assad dari Berbagai Negara, Ribuan Telah Tewas

Kalah oleh Mujahidin, Hizbullah Libanon Kirim Lebih Banyak Pasukannya ke Suriah

Jaysh al Fateh: Lebih dari 100 Pasukan Syiah Suriah dan Iran Tewas dalam Serangan Bom Kembar

Jaysh al Fateh Bunuh 60 Pasukan Rezim Assad di Barat Daya Aleppo

 

Perancis: 77 Tewas dan 100 Lebih Terluka dalam Serangan Truk saat Perayaan Bastile Day

03a1ba72e1ed49cc8a4f5b2a3c642874_18PERANCIS (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 77 orang tewas dan 100 lainnya luka-luka di kota selatan Prancis, Nice, setelah penyerang menabrakkan sebuah truk ke kerumunan yang sedang merayakan hari besar nasional Bastille Day, Aljazeera melaporkan Jumat (15/07/2016).

Penyerang di belakang kemudi pada hari Kamis melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi di sepanjang pinggir laut Promenade des Anglais yang terkenal dan menabrak massa penonton yang sedang menonton pertunjukan kembang api. Polisi kemudian menembak dan membunuh sopir, kata para pejabat.

Christian Estrosi, walikota resor Perancis, mengatakan di Twitter bahwa korban tewas serangan mengerikan terbaru ini berjumlah 77 korban.

Serangan melanda saat pertunjukan kembang api – yang dihadiri oleh ribuan orang – berakhir, sekitar pukul 11.00 waktu setempat (21: 00GMT).

truck-crash

Eric Ciottio, politikus tinggi departemen Alpes-Maritime yang mencakup Nice, mengatakan truk menabrak kerumunan sepanjang lebih dari dua kilometer.

Ciotti mengatakan kepada BFM TV bahwa polisi tampaknya membunuh sopir setelah terjadi tembak-menembak. Dia mengatakan truk penuh dengan senjata dan granat.

Pejabat lokal menggambarkan insiden tersebut jelas-jelas sebagai serangan kriminal, meskipun sopir belum teridentifikasi.

Warga kota Mediterania, yang dekat dengan perbatasan Italia, disarankan untuk tinggal di dalam rumah mereka.

Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Delegasi Syiah Houthi Menuju Kuwait Putuskan Perundingan Yaman

houthi-syiah-yaman_20150326_144944YAMAN (Jurnalislam.com) – Delegasi Syiah Houthi telah berangkat ke Kuwait untuk menyimpulkan pembicaraan yang dimediasi PBB, di tengah ancaman boikot oleh pemerintah yang diakui internasional dan didukung Saudi, lansir Aljazeera, Kamis (14/07/2016).

Negosiator yang berangkat hari Kamis tersebut adalah Perwakilan dari Ansar Allah, lengan politik gerakan pemberontak Houthi, yang telah mengendalikan ibukota Sanaa sejak 2014.

Pembicaraan damai sebelumnya gagal menjembatani kesenjangan antara pihak yang bertikai, sementara gencatan senjata yang mulai berlaku pada bulan April telah dirusak oleh beberapa pelanggaran dari kedua belah pihak.

Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi menuntut implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2216, yang menetapkan penarikan kelompok bersenjata dari seluruh kota.

Pemberontak Houthi menuntut bagian kekuasaan dalam pemerintahan baru. Kelompok ini juga mendesak untuk mentransfer otoritas presiden Hadi untuk pemerintahan transisi yang baru.

Pada bulan Juni, Utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pihak yang bertikai – pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan pemberontak Houthi serta pasukan sekutu mereka yang setia kepada mantan presiden – telah merespon positif usulan roadmap yang ia sajikan untuk mengakhiri konflik.

Dia mengatakan bahwa yang tersisa untuk diselesaikan adalah batas waktu dan urutan langkah-langkah dalam rencana – termasuk ketika pemerintah persatuan nasional dibentuk.

Perang di Yaman telah menewaskan sekitar 9.000 orang dan mendorong negara tersebut ke jurang kelaparan.

Seorang pejabat tinggi Yaman mengatakan bahwa pemerintah Hadi berada di bawah tekanan dari sekutu Barat mereka untuk bergabung dengan pembicaraan. Pejabat itu berbicara kepada kantor berita AP dalam kondisi anonimitas karena ia tidak berwenang untuk berbicara kepada pers.

Pembicaraan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat tersebut terjadi tak lama setelah Ahmed, utusan PBB, melakukan kunjungan ke Sana’a, di mana ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Presiden Ali Abdullah Saleh yang terguling.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam