Pemuda Muhammadiyah: Ada Persekongkolan Jahat Mengampuni Koruptor Dibalik UU TA

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simajuntak menilai ada niatan tidak baik dalam Undang-undang Pengampunan Pajak yaitu mengampuni dosa-dosa koruptor.

“Kami melihat sejak awal dari proses ini punya kandungan untuk mengampuni dosa-dosa para koruptor, makanya kami menilai sejak proses awal sudah memiliki itikat tidak baik atau ada permufakatan jahat dibalik Tax Amnesty ini,” ungkap Dahnil kepada wartawan, Rabu (31/8/2016) di kantor Pusat Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat.

Meski Presiden Jokowi telah menyampaikan bahwa sasaran Undang-undang tersebut adalah para pengusaha besar dan pengemplang pajak, namun menurut Dahnil fakta di lapangan justru sebaliknya. Ia menilai, pernyataan Jokowi tersebut menunjukkan presiden tidak memahami secara detail undang-undang tersebut.

“Karena fakta di lapangan sebaliknya, justru yang diburu dan merasa terancam adalah justru mereka yang patuh membayar pajak, terutama kelompok usaha kecil dan menengah,” tandasnya.

Oleh sebab itu, Dahnil meminta Presiden Jokowi untuk meninjau ulang undang-undang itu dengan melihat terlebih dahulu fakta-fakta di lapangan.

“Penting sekali Pak Jokowi mengecek ulang secara operasional di lapangan, cek lagi Menteri Keuangan, cek lagi tentang pengetahuan dan sosialisasi di lapangan,” pungkasnya.

Reporter: Irfan Yusuf

Hotel di China Tidak Terima Tamu dari 5 Negara Mayoritas Muslim Termasuk Turki

CHINA (Jurnalislam.com) – Polisi di China dilaporkan telah memerintahkan hotel untuk menolak tamu dari lima negara mayoritas Muslim, lansir World Bulletin Selasa (30/08/2016).

Hotel budget di kota selatan Guangzhou mengatakan mereka telah menerima pemberitahuan dari polisi pada awal bulan Maret, memerintahkan mereka untuk menolak tamu dari Pakistan, Suriah, Irak, Turki, dan Afghanistan.

Kementerian luar negeri China mengatakan belum pernah mendengar tentang kebijakan tersebut, namun beberapa pekerja hotel telah menguatkan laporan tentang larangan itu.

Seorang pekerja hotel mengatakan kepada South China Morning Post bahwa polisi setempat mengatakan bahwa mereka harus menolak tamu dari lima negara sampai 10 September, tetapi tidak menjelaskan mengapa.

“Aku tidak jelas alasannya. Kami hanya tidak bisa menerima mereka,” seorang pekerja di hotel lain mengatakan.

Menurut laporan larangan itu tidak berlaku untuk hotel kelas atas, atau hotel budget milik rantai internasional maupun domestik. Tiga hotel yang diidentifikasi oleh Reuters semuanya independen dan mengenakan biaya sekitar $ 23 per malam.

Aturan tersebut bertepatan dengan forum pengembangan yang diadakan di Guangzhou pada 25 dan 26 Agustus, dan akan diperpanjang sampai setelah KTT G20 yang akan bertempat di Hangzhou, 620 mil jauhnya dari Guangzhou, pada 4 dan 5 September.

Meskipun terbentang jarak yang besar antara dua kota tersebut, media China berspekulasi larangan tersebut adalah upaya keamanan yang berhubungan dengan acara, yang akan dihadiri oleh profil tinggi para pemimpin dunia termasuk Presiden AS Barack Obama.

Menurut media China, para pejabat sangat prihatin tentang ekstremisme selama acara, dan mungkin takut akan adanya serangan oleh ekstrimis.

Hangzhou sendiri memiliki langkah-langkah keamanan yang ketat, dengan mengontrol ketat lalu lintas yang dilaporkan menyebabkan kemacetan lalu lintas dan pemeriksaan di pos sehingga menunda perjalanan warga. Kota ini pada dasarnya akan ditutup selama berlangsungnya acara, semua bisnis ditutup dan penduduk lokal diberi cuti dan dihimbau untuk meninggalkan kota sementara.

Selain pihak berwenang China melihat Guangzhou sebagai jalur akses menuju Guangzhou, beberapa delegasi diharapkan untuk mengunjungi Guangzhou sendiri sebelum atau setelah acara karena kota pesisir tersebut merupakan pusat industri penting, dengan populasi asing yang cukup besar.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

20 Orang Bersenjata Bergabung ke Taliban di Herat

HERAT (Jurnalislam.com) – Para pejabat mengatakan tokoh lokal yang terkenal dan berpengaruh Haji Mohid Khan telah bertobat atas kesalahannya dan bergabung dengan mujahidin Imarah Islam Afghanistan bersama 20 rekannya di dekat pusat kabupaten Kushki Kuhna sebelumnya hari ini, sekaligus juga menyerahkan 2 PKM dan 18 senapan serbu untuk Taliban, Al emarah News melaporkan Selasa (30/08/3016).

Baru-baru ini banyak tentara, polisi, milisi dan personil pemerintah Kabul di seluruh negeri yang menyerah kepada mujahidin lalu bergabung, dan proses ini hari demi hari semakin meluas.

Sementara laporan dari kabupaten Dehrawod mengatakan bahwa Taliban menyerang sebuah pos pemeriksaan milik pasukan bayaran yang terletak di daerah Shingholi sekitar pukul 03:00 pagi waktu setempat, Senin.

Menurut rincian sedikitnya 7 pasukan boneka termasuk wakil kepala polisi – Komandan Rahim – tewas di tempat dan 8 orang lain beserta 2 komandan bayaran – Ismael dan Muhammad Wali – terluka kritis. Sebuah APC juga hancur.

Deddy | Al emarah | Jurnalislam

Faksi Pejuang Suriah Peroleh Kemenangan di Provinsi Hama Utara

SURIAH (Jurnalislam.com) – Kelompok pejuang Suriah telah merebut sebuah kota strategis di provinsi Hama utara dalam serangan besar di kota-kota yang dihuni minoritas Kristen dan Syiah Alawi loyalis rezim Nushariyah Assad di utara ibukota provinsi, kelompok pejuang dan monitor melaporkan Selasa (30/08/2016), lansir Al Arabiya News Channel.

Kota Halfaya diserbu pada hari Senin setelah faksi jihad Suriah Jund al-Aqsha dan brigade Tentara Pembebasan Suriah semalam meluncurkan pertempuran menyerbu beberapa pos pemeriksaan tentara dan pro-rezim di utara pedesaan Hama.

Kota, yang terletak dekat jalan utama yang menghubungkan daerah pesisir dengan jalan raya Aleppo-Damaskus hanya berada beberapa kilometer dari kota Kristen bersejarah Mahrada ke barat.

“Kita sekarang membersihkan kota setelah membebaskannya dari rezim dan akan memberikan lebih banyak kejutan,” kata Abu Kinan, seorang komandan Jaish al Ezza, sebuah faksi pejuang Suriah yang bertempur di kota.

Pertahanan rezim Assad yang runtuh dengan cepat memudahkan para pejuang Suriah mengambil kontrol beberapa desa termasuk Buwaydah, Zalin dan Masassnah. Mereka menargetkan Taybat al Imam di sebelah timur Halfaya.

Serangan itu membawa para pejuang lebih dekat dengan kubu tentara Soran, gerbang utara tentara ke kota Hama, ibukota provinsi.

Sebuah sumber militer rezim Assad mengatakan serangan udara yang dilakukan oleh rezim menargetkan para pejuang Oposisi Suriah dan tidak membantah bahwa Halfaya telah jatuh ke para pejuang oposisi. Situs pro-rezim Syiah Assad mengatakan tentara telah mengirimkan bala bantuan ke kota-kota ini.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, yang mengkonfirmasi jatuhnya kota, mangatakan bahwa jet yang diyakini milik rezim Suriah menyerang pos-pos pejuang oposisi di daerah.

Faksi jihad Jund al-Aqsha mengerahkan pasukan bom istisyhad menyerbu pos pemeriksaan militer Assad.

Jaish al Ezza dalam sebuah pernyataan mengancam untuk menyerang pembangkit listrik Mahrada di dekat kota, yang merupakan salah satu pembangkit listrik terbesar Suriah.

Serangan tentara rezim Suriah yang didukung oleh serangan udara berat Rusia untuk merebut kembali wilayah dari mujahidin Suriah di pedesaan Hama belum mencapai keberhasilan.

Kemenangan terbaru akan mengkonsolidasikan faksi-faksi pejuang Suriah yang pada akhir tahun lalu merebut kota strategis Morek, yang terletak di utara kota Hama pada jalan raya utama utara-selatan penting untuk mengendalikan Suriah barat.

 

 

Pentagon: Pasukan SDF Dukungan AS Mundur ke Timur Sungai Efrat

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Pasukan Kurdi yang didukung AS memenuhi komitmen mereka ke Washington untuk pindah ke timur Sungai Efrat, Komandan Timur Tengah AS, lansir Anadolu Agency Selasa (30/08/2016).

“Sebagian besar Kurdi, pasukan Kurdi yang merupakan bagian dari SDF, berada di sisi timur Sungai Efrat saat ini,” kata komandan CENTCOM Jenderal Angkatan Darat Joseph Votel kepada wartawan di Pentagon, mengacu pada Pasukan Demokratik Suriah pimpinan YPG.

“Mereka telah memenuhi perintah kami,” tambahnya.

Komentar tersebut muncul saat Turki meneruskan operasi militer “Perisai Efrat” di Suriah. Operasi Perisai Efrat dimulai awal 24 Agustus dengan tujuan membersihkan perbatasan selatan Turki dari kelompok ektremis dan meningkatkan keamanan perbatasan Turki.

Turki memandang YPG sebagai afiliasi di Suriah dari kelompok teror PKK dan telah menargetkan SDF dukungan AS di Jarabulus, Suriah selatan.

Walaupun AS juga telah menunjuk PKK sebagai organisasi teroris, mereka tidak memiliki penilaian yang sama dengan Turki terhadap milisi YPG dan sangat bergantung pada YPG untuk pertempuran di Suriah.

AS telah mendesak Turki untuk menahan diri menargetkan YPG sekutu Washington.

Votel mengatakan AS “sangat mendukung” operasi Turki di sepanjang perbatasan, menyebut bahwa operasi tersebut “sangat penting dan mengucapkan selamat datang”, serta menambahkan bahwa “pertikaian” di antara mitra koalisi sangatlah “tidak membantu.

Sebuah serangan udara rezim Nushairyah Suriah pada pertengahan Agustus di dekat pasukan AS di Hasakah memaksa Washington mengirim jet tempur untuk pertahanan mereka, dan memperingatkan Rusia dan rezim Suriah bahwa mereka akan mengambil “tindakan apapun yang diperlukan.”

 

 

Turki: Operasi Perisai Efrat Terus Berlanjut Sampai Tujuan Tercapai

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sumber di pemerintah Turki menegaskan bahwa proses “Operasi Perisai Efrat” akan berlanjut sampai memenuhi tujuannya, dan bahkan menjamin kelangsungan hidup kesatuan tanah Suriah, lansir ElDorar AlShamia Selasa (30/08/2016).

Menteri Ekonomi Nihat Zabkja mengatakan, “Turki akan tetap di Suriah untuk memulihkan keamanan dan bahkan akan menumpas segala ancaman yang datang,” serta menambahkan, “Tapi alasan utama kehadiran kami adalah untuk menjaga kesatuan tanah Suriah.”

Zabkja menegaskan bahwa Turki tidak akan menerima keputusan yang akan bertentangan dengan kesatuan wilayah Suriah, dan dengan tegas menekankan akan melanjutkan perjuangan melawan “organisasi ektremis baik di negaranya sendiri maupun di luar negeri, yang digunakan sebagai alat bagi beberapa pihak sehubungan dengan proyek di Turki selatan,” ulasnya.

Menteri Turki mengatakan, “sejumlah tank kami yang ditempatkan di sana telah diserang dengan roket anti-tank, dan seorang tentara kami tewas dalam serangan itu. Pada dasarnya pihak yang memiliki roket anti-armor tidak berniat untuk melawan rezim al-Assad.”

Faksi Suriah yang terlibat dalam proses “Perisai Efrat” telah mendukung Turki secara langsung di daerah besar di utara Aleppo, di antara kota-kota penting dan strategis di Manbej Shepherd Zuta, dan bentrok dengan milisi kurdi PYD dukungan AS serta Islamic State (IS).

 

 

Lagi, Panglima Garda Revolusi IranTewas di Damaskus

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sumber media Iran mengungkapkan terbunuhnya seorang pemimpin Garda Revolusi Iran (IRGC) di daerah Sayeda Zainab dekat Damaskus Suriah akibat terluka parah, kata sumber-sumber, ElDorar AlShamia melaporkan Selasa (30/08/2016).

Kantor berita Iran Fares mengatakan bahwa Mustafa Rachidbor tewas akibat cedera selama bentrokan berlangsung beberapa waktu lalu di distrik Sayeda Zainab Provinsi Rif Dimashq, di mana ia memimpin “misi penasehat.”

Kematiannya menambah jumlah korban yang diakui oleh otoritas Iran lebih dari 400 orang tewas.

Iran mengirimkan pasukan IRGC untuk berperang di Suriah, dan merekrut milisi Irak, Afghanistan dan Lebanon, dan mereka semua telah menderita sejumlah besar korban jiwa.

 

Deddy | Al Shamia | Jurnalislam

Juru Bicara IS, Adnani, Terbunuh di Provinsi Aleppo

SURIAH (Jurnalislam.com) – Juru bicara utama kelompok bersenjata Islamic State (IS), Abu Mohamed al-Adnani, terbunuh di provinsi Aleppo Suriah, menurut sebuah situs terkait IS, Aljazeera melaporkan Rabu (31/08/2016).

Amaq, outlet media yang berafiliasi IS, mengatakan pada hari Selasa (30/08/2016) bahwa Adnani terbunuh saat memantau operasi militer di Aleppo.

Adnani, yang digambarkan sebagai pemimpin paling senior kedua IS, telah menjadi salah satu tokoh kelompok yang paling lama di IS.

Reporter Al Jazeera Patty Culhane, melaporkan dari Washington DC, mengatakan belum ada komentar atau konfirmasi langsung dari para pejabat AS mengenai terbunuhnya.

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Reuters hari Selasa bahwa AS telah mengurangi serangan udara di kota Suriah al-Bab yang menargetkan pejabat senior IS, namun operasi itu masih dikaji.

Analis menjelaskan Adnani sebagai tokoh kunci dari kelompok IS.

“Dalam memori kolektif militan, Abu Mohamed al-Adnani akan selalu menjadi orang yang mengumumkan restorasi kekhalifahan sepihak pada bulan Juni 2014,” kata ahli militan Romain Caillet, lansir Al Arabiya News Channel, Rabu.

Adnani awalnya berasal dari provinsi Idlib, Suriah barat dan bergabung dengan faksi jihad Al-Qaeda di Irak pimpinan Syeikh Abu Musab al-Zarqawi dan memegang beberapa posisi.

Aymenn Jawad Tamimi, seorang ahli kelompok militan, mengatakan kematian Adnani ” secara simbolis yang signifikan menunjukkan runtuhnya kekuatan IS.”

“Jika serangan koalisi udara memukulnya, itu menunjukkan penetrasi intelijen oleh koalisi sangat tinggi. Kalau tidak, tidak akan mungkin untuk mengambil begitu banyak tokoh berpangkat tinggi,” katanya.

Analis lain, Charles Lister, tweeted bahwa kematian Adnani merupakan “pukulan besar bagi ISIS”.

Orang Muslim Pertama di Washington DC

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Bagi sebagian besar Muslim, apa yang terjadi pada tubuh orang yang sudah meninggal tidak sama pentingnya dengan apa yang terjadi pada jiwa orang itu.

Namun, sejarawan dari semua latar belakang berebut untuk mencari jenazah dan barang-barang seorang Muslim yang dimakamkan di Washington, DC hampir 200 tahun yang lalu, karena menyentuh jiwa sejarah Amerika awal.

Almarhum Yarrow Mamout, di antara puluhan ribu – bahkan mungkin jutaan – Muslim dibawa ke Amerika selama masa perdagangan budak, tapi hanya sedikit sejarawan yang memiliki banyak informasi tentangnya.

Dokumen bersejarah menyatakan bahwa Yarrow mungkin terkubur di properti yang ia beli setelah mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1797. Tanah itu terletak di kawasan bersejarah Georgetown Washington di mana rumah-rumah yang berada di lingkungan itu sekarang dijual dengan harga beberapa juta dolar. Pemiliknya adalah pengembang real estate Deyi Awadallah, yang berencana untuk membangun dan menjual rumah baru di tanah itu. Dia tidak mengetahui apapun tentang Yarrow ketika ia membeli tanah tersebut, tapi dia bersedia untuk memberikan arkeolog kesempatan – beberapa minggu atau bulan – untuk menyelidiki sebelum ia melaksanakan rencana pembangunan rumah di propertinya itu.

“Saya mencoba untuk menghormati situasi, “katanya dalam sebuah wawancara pada tahun 2013.

Menurut James H. Johnston, Yarrow dijual sebagai budak saat masih remaja di Senegal tahun 1752. Pengacara yang berbasis di Washington dan juga seorang penulis lepas itu menghabiskan delapan tahun menyelidiki cerita Yarrow untuk bukunya di tahun 2012, “Dari Kapal Budak ke Harvard: Yarrow Mamout dan Sejarah Keluarga Afrika-Amerika (From Slave Ship to Harvard: Yarrow Mamout and the History of an African American Family).”

“Dia cukup terkenal di zamannya, tapi (di masa itu), tidak ada yang pernah memperhatikan siapakah dia,” kata Johnston. Inspirasi untuk penelitian Johnston datang setelah ia melihat dua potret Yarrow, yaitu penggambaran aristokrat seorang pria Amerika-Afrika yang berasal dari masa perbudakan.

Sebuah lukisan yang lebih populer dari dua lukisan tentang Yarrow dilukis oleh seniman Amerika awal terkenal, Charles William Peale, dan lukisan itu kini berada di Philadelphia Museum of Art. Bagi Johnston, lukisan itu mewakili martabat, ketekunan, dan ketangguhan selama masa-masa gelap sejarah Amerika.

“Orang-orang terkesan dengan lukisan itu karena Anda sedang melihat potret indah seorang pria yang tampak kaya, namun ia sebenarnya telah mengalami kondisi perbudakan yang mengerikan,” kata Johnston.

Yarrow terkenal di komunitas Georgetown. Dia adalah asisten Samuel Beall dan anaknya Brooke, dua profesional berpengaruh yang dekat dengan tokoh penting seperti Presiden pendiri AS George Washington. Ia dikenang sebagai sosok yang ceria, rajin dan sangat taat dalam imannya, berhenti untuk sholat lima kali sehari di mana pun ia berada.

Yarrow juga seorang pengusaha yang bisa membaca dan menulis. Di Georgetown, budak diizinkan untuk memiliki bisnis sampingan milik mereka sendiri, sehingga Yarrow menjadi pembuat batu bata. Bahkan, ia mendapatkan kebebasannya dengan membangun sebuah rumah untuk majikannya dan menyimpan uang untuk membangun rumahnya sendiri.

Kisah ini membuat Yarrow menjadi sebuah “catatan kaki besar” dalam sejarah, kata Amir Muhammad, direktur Museum Warisan Islam (Islamic Heritage Museum) Washington.

“Ini menunjukkan bahwa Muslim Amerika adalah bagian dari sejarah yang membentuk Amerika. Dia adalah pribadi yang nyata, bukan hanya dalam lukisan tetapi dalam karya-karya dan perbuatannya,” katanya.

Bagi arkeolog resmi Washington DC, Ruth Trocolli, setiap jejak arkeologi Yarrow membantu masyarakat untuk lebih memahami bagaimana hidup para budak, terutama budak Muslim.

Tapi upaya pemulihan sejarah ini cukup menantang. Beberapa tahun yang lalu, arkeolog menemukan sebuah pemakaman kecil dengan makam lima orang Afrika-Amerika dari era perbudakan di tanah yang berbatasan dengan bagian belakang tanah Yarrow, tapi tak satu pun dari kelima jasad tersebut yang cocok dengan deskripsi Yarrow.

Rumah Yarrow dihancurkan lebih dari satu abad yang lalu dan yang sekarang berada di properti yang dijadwalkan akan dibongkar karena secara struktural tidak sehat. Sebuah kolam renang di halaman belakang menghambat upaya penggalian. Tapi Trocolli berharap bahwa bagian terbuka dari properti Yarrow mungkin berisi fitur asli seperti sumur, jamban, gudang, atau bahkan kuburan Yarrow.

“Cerita Yarrow sangat signifikan,” kata Trocolli. “Ini adalah cerita tentang seseorang yang bertahan. Dia adalah seorang budak yang berhasil membeli kebebasannya sendiri.”

Awadallah mengakui bahwa ia memiliki minat yang lebih besar dalam bisnis real estate daripada di properti bersejarah, tapi sebagai Muslim Amerika keturunan Palestina, ia mengakui proses penyelidikan ini adalah suatu kebetulan.

“Saya tahu ada Budak Afrika yang Muslim, saya hanya tidak tahu mereka berada sedekat ini dengan rumah – hanya lima mil dari rumah saya di Falls Church, Virginia,” katanya.

Deddy | OnIslam | Jurniscom

 

Kisah Masjid Pertama di Amerika

NORTH DAKOTA (Jurnalislam.com) – Pemukim Muslim pertama dari Kekaisaran Ottoman datang ke Amerika Serikat pada tahun 1909 dan membangun masjid pertama mereka pada tahun 1929.

Imigran Muslim memiliki tempat yang unik di North Dakota dan sejarah AS. Pemukim Muslim datang ke Amerika mencari tempat yang bisa mereka anggap rumah. Dan mereka menemukan bahwa tempat itu adalah North Dakota.

Sebuah monumen pemukim awal tersebut berdiri sendirian di padang rumput di barat North Dakota. Sebuah monumen yang tidak diketahui orang-orang hanya enam mil jauhnya di Stanley. Tanpa diketahui oleh keturunan orang-orang yang beribadah di sana, dan keturunan orang yang dikuburkan di sana.

Masjid khusus ini merupakan masjid pertama yang pernah dibangun di Amerika.

“Selama periode tersebut,” Bapa William Sherman, yang menulis buku tentang para pemukim Muslim pertama, menjelaskan, “orang-orang datang ke sini karena lahan gratis.”

Tanah yang dijanjikan didatangi pemukim dari yang sekarang disebut Lebanon modern. Saat itu, wilayah tersebut berada di Suriah dan masuk ke dalam Kekaisaran Ottoman.

300 keluarga Muslim datang ke Dakota Utara. Salah satu imigran adalah Ali Omar, yang hendak direkrut menjadi tentara Ottoman tapi dia tidak ingin bertarung untuk Kekaisaran Ottoman, jadi dia datang ke Amerika Serikat. Dia datang ke North Dakota pada tahun 1909. Tapi tidak sampai 20 tahun kemudian masjid pertama di Amerika dibangun. Saat itu masyarakat yang ada tidak cukup untuk membangun masjid. Masjid ini dibangun pada tahun 1929, tempat di mana pemukim Muslim pertama bisa mempraktikkan ibadah mereka.

Tanpa pemimpin agama tetap, masjid jatuh ke tangan lain di pertengahan tahun 1930-an, Great Depression dan the Dust Bowl menimbulkan korban pada populasi Muslim. Kemudian banyak orang pergi ke pantai barat, di mana ada beberapa pekerjaan.

Orang akan berpikir bahwa ketika masjid asli ditutup maka jamaahnya akan menutup pintu sejarah North Dakota. Tapi lebih dari 80 tahun kemudian, penerus mereka tinggal di seluruh negara bagian. Keturunan dari para pemukim Muslim telah memenuhi peta. Di Williston, Bismarck, Lembah Sungai Merah. Sebuah fakta menunjukkan bagaimana para imigran mampu hidup harmonis dengan warga awal North Dakota lainnya.

Meskipun terdapat sejarah panjang umat Islam di North Dakota, namun sentimen anti-Muslim tampaknya tetap tumbuh. Lutheran Social Services diserang karena membantu pengungsi yang bermukim di Fargo. Dan restoran milik Somalia diserang bom di Grand Forks, setelah graffiti bertema Nazi disemprotkan pada bangunan.

Orang-orang yang tahu tentang Islam awal mengatakan pelajaran dapat dipelajari hari ini.

Mereka berharap sejarah Muslim dapat membantu menciptakan harmoni di masa sekarang, dan masa depan di North Dakota. Muslim dari seluruh negeri melakukan perjalanan untuk mengunjungi masjid pertama Amerika. Masjid dan pemakaman yang dikelola oleh anak-anak dan cucu pemukim asli. Mereka membahas kemungkinan mengubah perawatan situs itu ke North Dakota State Historical Society.

Sumber: KVRR | Deddy | Jurnalislam