Berawal dari Badar

Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta benda mereka, maka keluarlah menyongsongnya, semoga saja Allah menjadikannya harta rampasan bagi kalian.” Itulah tawaran Sang Panglima Perang, Rasulullah saw., dalam memecah “kebuntuan” ekonomi di Madinah. Meskipun jumlah umat Islam semakin bertambah, semakin kuat dan teguh aqidah Islamnya, tetapi perekonomiannya semakin lemah. Solusinya hanya satu: merebut harta benda dari kaum kafir Quraisy di Mekah.

Ternyata kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan itu membawa harta yang melimpah milik penduduk Mekah, seribu ekor unta yang sarat dengan muatan bernilai kurang lebih 50.000 dinar emas. Ini momentum bagi tentara Islam untuk melancarkan pukulan telak terhadap perekonomian penduduk Mekah.

Sebagai penanggung jawab kafilah Quraisy, Abu Sufyan bergerak ekstra hati-hati dan penuh waspada sebab jalan menuju Mekah amat rawan. Apalagi terdengar kabar bahwa Muhammad saw., sudah memobilisasi pasukannya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy. Segera dia menyewa Dhamdham bin Amir al-Ghifari untuk menyeru orang-orang Quraisy agar menyusul kafilahnya.

Semua perangkat dan kondisi yang ada mendorong kedua pasukan ini ingin berperang walaupun keduanya enggan berperang. “… Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu) tetapi Allah berkehendak melaksanakan satu urusan yang harus di laksanakan, yaitu agar orang-orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata, dan agar orang-orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42) Di Badarlah kedua pasukan itu bertemu dan perangpun tidak terelakkan.

Aqidah Perang

Perang Badar merupakan pertarungan sengit antara dua aqidah: Islam dan Kafir. Kekuatan tentara Islam sebanyak 313 orang laki-laki ( 82 dari kaum Muhajirin dan 170 kaum Anshar) berhadapan dengan pasukan Kafir Quraisy sekitar 1300 tentara bersamanya 100 kuda dan 600 perisai dan ratusan unta. Sebuah pertarungan yang tidak seimbang di setiap peperangan sepanjang sejarah.

Namun, persenjataan, organisasi ketentaraan, jumlah personal yang bagus tidaklah cukup untuk meraih kemenangan selama prajurit-prajuritnya tidak memiliki aqidah qitaliyah yang kuat dan akhlaq juang yang tinggi. Sebab, tentara manapun sekalipun ia Kafir, pasti memiliki aqidah qitaliyah (keyakin yang berhubungan dengan perang yang ia lakukan). Berakar dari aqidah qitaliyah inilah tentara itu memerangi orang lain. (Syeikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz, Al-Umdah fi I’dadil ‘Uddah, Rambu-Rambu Jihad, 2009,11)

Lihat respon ahli Badar, Al-Miqdad bin Amr, “Wahai Rasulullah, teruslah maju, kami selalu bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa, “Pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” Akan tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu dan berperanglah. Sesungguhnya kami akan berperang bersama kamu berdua.”(Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, 2012, 302). Begitu kuat aqidah perang para mujahid Badar, mereka berperang untuk mencurahkan satu tujuan yaitu menegakkan kebenaran bersama Allah dan Rasul-Nya. Mereka yakin bahwa mereka benar-benar di atas satu kebenaran, sedangkan musuh-musuhnya berada di atas kebathilan sehingga wajib untuk diperangi. Kemudian Rasulullah menegaskan kembali aqidah perang-nya, “Berjalanlah kalian dan bergembiralah. Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku (kemenangan atas ) salah satu dari dua kelompok ( kafilah dagang Abu Sufyan atau pasukan perang Abu Jahal). Demi Allah, seakan aku tengah menyaksikan kematian musuh.”

Akibat amaliyah istisyhad para ahli Badar abad lima belas terhadap hancurnya WTC, maka pada 16 September 2001, fir’aun Amerika George Walker Bush laknatullah ‘alaihmengumandangkan aqidah perang-nya, “This Crusade, This war on terrorism is going to take a long time.” Inilah perang Salib, perang melawan terorisme yang memakan waktu lama. Dilanjutkan oleh Menlu Perancis, Juppe Allen pada 24 Maret 2011, “Kita akan membombardir kaum Muslimin di Arab Saudi dari Suriah sebagaimana Libya. Perang Salib di Libya harus menjadi contoh bagi Arab Saudi, Suriah dan Negara-negara Islam lain.” Dan Libya pun pernah dibombardir oleh fir’aun Amerika Barack Obama dengan sandi operasi odyssey dawn.

Aqidah perang ketiga fir’aun tersebut, bukan tanpa kritik. Justru banyak menuai kritik tajam dari sesama kaum kafir. Paul B. Farrel pernah membuka kedok fir’aun Amerika dalam tulisannya, America’s Outrageous War Economy, edisi 18/08/2008. “Ekonomi Amerika adalah ekonomi perang. Bukan ekonomi manufacturing, bukan ekonomi pertanian, bukan ekonomi jasa, bukan pula ekonomi konsumen. Mari kita jujur dan secara resmi menyebutnya “ekonomi perang” Amerika yang kasar. Akui saja, jauh di dalam hati kita, kita suka perang, kita menginginkan perang. Kita membutuhkan perang, menikmati dan tumbuh dari perang. Perang ada dalam benak kita. Perang merangsang benak ekonomi kita. Perang mendorong semangat kewirausahaan kita . kita memiliki masalah cinta dengan perang. Dan 54 % dari pajak orang Amerika bersedia diserahkan untuk mesin perang.” (jecahyono.wordpress.com/2011/02/08/ekonomi-perang-Amerika)

Ada benarnya nasihat asysyahid kama nahsabuhu Syeikh Usamah bin Laden, “Sungguh musuh kita benar walaupun dia pendusta, ketika ia mengajarkan pada anak-anaknya, “Kamu berperang berarti kamu hidup.” Inilah hakikat yang diajarkan orang-orang kafir kepada anak-anak mereka dan mengirimkan kepada kita pemahaman sebaliknya. (Syeikh Usamah bin Laden, At-Taujihat Al-Manhajiyyah 3, Idha’at ala Thariqil Jihad). Sebuah keyakinan yang bersandar pada firman Allah bahwa Salibis-Zionis menyandarkan kebenaran aqidah perang mereka pada bisikan-bisikan syetan, “Tidakkah kamu lihat bahwasanya Kami telah mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir mengusung mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh. (QS. Maryam: 83)

Perang = Solusi

Badar pun menjadi saksi, ketika dua pasukan harus mengawali pertempurannya dengan “duel” fisik. Ali bin Abi Thalib melawan al-Walid, Hamzah melawan Syaibah dan Ubaidah melawan Uthbah. Ali dan Hamzah memenangkan adu duelnya sedangkan Ubaidah dan uthbah mengalami luka parah. Kemudian Uthbah dibunuh oleh Ali dan Hamzah, sementara Ubaidah mengalami putus kakiknya dan menjemput syahid lima hari setelah peperangan. Sebagai bukti bahwa perang menjadi solusi bagi kedua pasukan, maka Ali bin Abi Thalib pernah bersumpah dengan nama Allah bahwa ayat berikut diturunkan berkaitan dengan pertempuran mereka, “Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar karena Rabb mereka.” (QS.Al-Hajj: 19)

Sejalan dengan itu terjadi pula “duel” do’a antara dua komandan tertinggi: Muhammad saw, dan Abu Jahal laknatullah alaih. Rasulullah saw berdo’a tatkala melihat pasukan Quraisy menyerang, “Ya Allah, ini orang-orang Quraisy telah menyongsong dengan kesombongan dan keangkuhannya, menentang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kami hanya memohon pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, hancurkanlah mereka esok hari.” “Ya Allah, jika kelompok kecil ini sampai dibinasakan hari ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di permukaan bumi.”

Abu Jahal pun mencari keputusan ( dari Allah), “Ya Allah, dialah ( Rasulullah saw) yang telah memutus rahim kami dan membawa sesuatu yang tidak kami ketahui. Karena itu, hancurkanlah dia esok hari. Ya Allah, siapa di antara kami (berdua) yang lebih Engkau cintai dan ridhai di sisi-Mu, maka berikanlah kemenangan baginya hari ini.”

Allah lebih memilih aqidah yang benar dan pantas untuk tetap eksis di bumi ibtila’ ini, “Jika kamu (orang-orang Musyrik) mencari keputusan, maka telah datang kepadamu, dan jika kamu berhenti maka itulah yang lebih baik bagimu; niscaya Kami kembali pula. Dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal: 19)

Akhirnya, munajat Rasulullah saw dijawab oleh Allah “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir .” Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 12,9)

Badar Modern

Bagaimana strategi menghadapi musuh Badar Modern yang tergabung dalam koalisi Yahudi-Salibis dunia yang diwakili oleh Amerika, Yahudi, Inggris dan negara-negara Kristen Barat? Abu Mush’ab As-Suri menilai strategi Al-Qaidah tergolong brilian dan terbukti unggul. Umat Islam berbaris di belakangnya. Belum pernah ada jama’ah yang meraih prestasi gemilang sepanjang dinamika perjuangan menegakkan Islam di alam modern. (Visi Politik Gerakan Jihad, 45)

Itulah yang pernah dicontohkan Rasulullah saw dalam perang Badar. Beliau menjadi panglima tertinggi pasukan muslimin. Sedangkan pasukan musyrikin tidak mempunyai panglima tertinggi, sebagia besar mereka menonjolkan egoisme pribadi seperti Uthbah bin Rabi’ah dan Abu Jahal. Meskipun satu barisan dalam memerangi Islam tetapi keduanya justru berseberangan dalam berpendapat dan tujuan.

Begitu pula koalisi musyrikin modern pasca “bangkrutnya” Amerika, mereka kehilangan kendali yang ada hanya ketakutan demi ketakutan seperti yang dilansir National Intelligence Council (NIC) Amerika dengan judul “Mapping The Global Future ( Memetakan Masa Depan Global )” dengan memasukkan analisis badan-badan intelijen dari 15 negara. Laporan tersebut menjelaskan ada 4 skenario dunia pada 2020: pertama, naiknya Cina dan India ke pentas dunia. Kedua, Amerika tetap berperan dalam membentuk dan mengorganisasikan perubahan global. Ketiga, kembalinya kekhilafahan Islam. Keempat, munculnya lingkaran ketakutan terhadap ancaman teroris. ( Kompas, 16 Februari 2005)

Rasulullah saw menggunakan strategi baru yang belum pernah digunakan oleh kelompok manapun dalam sejarah peperangan di dunia Arab, yakni formasi barisan berlapis.Sementara pasukan Quraisy berperang dengan taktik menyerbu dan berlari layaknya orang-orang tawuran. Ini salah satu faktor penting di antara faktor kemenangan lainnya. Syeit Khaththab menganalisa bahwa rahasia kemenangan panglima-panglima besar seperti Iskandar (Alexander The Great), Hanibal, Napoleon, Moltke Rommel dan Rundstedt, karena mereka menerapkan taktik perang atau menggunakan persenjataan baru yang belum pernah dikenal di dunia peperangan. (Ar-Rasuul Al-Qooid, 101)

Sedangkan para Mujahidin Badar modern, khususnya pada dekade 1990-2000 pasca Perang Salib jilid III dan berdirinya Tatanan Dunia Baru (New Word Order), menurut Abu Mush’ab As-Suri ( Perjalanan Gerakan Jihad, 2009,31) mulai menerapkan Jihad Individu.Fenomena ini terinspirasi oleh amaliyah istisyhad nya Sulaiman Al-Halabi yang berhasil membunuh jendral Kleber panglima Perancis yang memimpin penjajahan Al-Jazair saat berada di Mesir. Berbagai kalangan sipil, militer dan lembaga milik atau yang mendukung kaum Salibis terkena gerakan aksi serangan jihad individu. Benih-benih perlawanan seperti ini menjadi poros terpenting bagi perlawanan di arena Badar Modern. Wallahu’Alam Bishowab.

Muntaha Bulqini | Jurnalislam

Benalu Umat

Siapakah yang tidak mengenal Abrahah Al-Asyram tokoh legendaris asal Yaman yang terkenal dengan pasukan gajahnya. Masa kejayaannya ditandai satu hal: Bagaimana caranya memindahkan ibadah Haji bangsa Arab dari Ka’bah di Mekah menuju Al-Qalis, gereja megah di Shan’a, Yaman. Kesombongannya membuat marah para pemuka Quraisy yang tidak terima bila rumah Tuhan mereka (Baitullah) diserupakan dengan Al-Qalis. Akibatnya, Al-Qalis pun dibakar dan diratakan dengan tanah oleh kaum Quraisy. Dari sanalah Abrahah diabadikan sebagai Asbabun Nuzul, surat Al-Fiil.
Muqatil bin Sulaiman meriwayatkan dalam tafsir Ibnu Katsir, “Kemudian Abrahah menyiapkan diri dan pergi dengan membawa pasukan yang cukup banyak dan kuat dengan seekor gajah yang sangat besar, yang diberi nama Mahmud. Dan Najasyi, raja Habasyah juga mengirimkan pasukan untuk hal yang sama.” Kedua rezim itu berencana membalas dendam atas hancurnya Al-Qalis, dengan meluluhlantahkan Baitullah (Ka’bah) di Mekah.
Mentalitas Abdul Muthalib
Sebelum memasuki Mekah, Abarahah berhasil merampas 200 ekor ternak unta milik seorang rezim Quraisy Mekah, Abdul Muthalib. Maka terjadilah perundingan antara Abdul Muthalib dan Abrahah. Abrahah bertanya kepada Abdul Muthalib, “Ada perlu apa wahai Abdul Muthalib?” Abdul Muthalib menjawab, “ Permintaanku adalah agar dikembalikannya 200 ekor unta yang telah engkau rampas.” Padahal Abrahah mengira Abdul Muthalib akan menanyakan perhal Baitullah yang ingin ia hancurkan. Abrahah menjawab, “Ketika aku melihatmu, aku merasa takjub dan segan terhadapmu. Namun, setelah mendengar permintaanmu tadi, semua anggapanku tentangmu menjadi sirna. Engkau sekarang tidak lagi berharga di mataku.”
Abrahah sangat meremehkan Abdul Muthalib dan menganggapnya hina. Sebab ia hanya membicarakan perihal 200 untanya yang dirampas dan tidak menyinggung perihal Baitullah sedikitpun. Abrahah berkata, “Apakah engkau hanya sibuk memikirkan 200 ekor untamu yang dirampas ? Sementara terhadap Baitullah yang menjadi simbol agamamu dan agama nenek moyangmu tidak engkau pedulikan. Sesungguhnya tujuanku ke sini adalah ingin menghancurkan dan meluluhlantahkannya.” Abdul Muthalib menanggapinya, “Sesungguhnya aku hanya pemilik unta-unta itu, sedangkan Baitullah (Ka’bah) itu mempunyai pemilik sendiri (Allah) yang akan selalu mempertahankannya.”
Kemudian Abdul Muthalib kembali kepada kaum Quraisy dan memerintahkan mereka supaya keluar dari Mekah dan berlindung di puncak-puncak gunung karena khawatir akan terkena amukan bala tentara Abrahah.
Respon Abdul Muthalib terhadap Abrahah merupakan sikap pasif dan tidak wajar, yang menggambarkan seorang yang hidupnya karena sesuap nasi. Hanya karena menyambung hidup, anak-anak, unta dan kesenangannya. Dia tidak memedulikan agama Allah dengan asumsi bahwa Allahlah yang akan menjaganya.
Tidak sedikit orang yang bermental seperti Abdul Muthalib dan masyarakatnya yang hidup di zaman ini. Mereka cemas dan tersiksa melihat musuh-musuh Allah menindas umat Islam. Lalu, hanya pasrah dan menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan. Padahal sunnah (ketentuan) yang ada sudah jelas, “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Mentalitas Abu Jahal
Tatkala perang Badar usai Rasulullah bersabda, “Siapa yang melihat apa yang terhadi dengan Abu Jahal ?” Orang-orang pun berpencar untuk mencarinya lalu dia ditemukan oleh Abdullah bin Mas’ud dalam keadaan sedang menanti detik-detik akhir ajalnya. Lantas Abdullah bin Mas’ud menginjak lehernya dan menarik jenggotnya agar dapat memenggal kepalanya. (Ar-Rahiq al-Makhtum, Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung Muhammad, Jakarta, Darul Haq, 2013,324)
Dalam sakaratul maut, Abu Jahal bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud, “Untuk siapakah kemenangan hari ini ?” Abdullah bin Mas’ud menjawab, “ untuk Allah dan Rasul-Nya, Allah sungguh telah menghinakanmu .” Namun orang yang kejam dan keras kepala itu berkata, “ Sampaikan salam kepada Muhammad bahwa aku tidak menyesali permusuhanku kepadanya, juga saat sekarang. (Abu Mush’ab As-Suri, Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002: Sejarah, Eksperimen dan Evaluasi, Solo, Jazeera, 2009, hal. 207-208)
Setelah percakapan di antara keduanya selesai, Ibnu Mas’ud memenggal kepala Abu Jahal dan membawanya ke hadapan Rasulullah saw., “Wahai Rasululllah saw., inilah kepala musuh Allah, Abu Jahal.” Beliau bersabda, “Benarkah, demi Allah yang tiada tuhan yang haq selain-Nya.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali, kemudian bersabda, “Inilah Fir’aun umat Ini.”
Bagaimana Abu Jahal, orang kafir yang telah kalah, jiwanya terancam, menderita kerugian, dan sudah pasti menuju ke neraka, tetap menunjukkan kesombongan, keteguhan, kebanggaan dan dedikasi terhadap apa yang diyakininya, meskipun dia sesat.
Mental seperti Abu Jahal ini masih mendominasi di kalangan elit masyarakat kita dari pemimpin tertinggi sang presiden sampai terendah sang RT. Sudah tahu sesat masih dipertahankan bahkan dengan harga mati sekalipun.
Mentalitas Abullah bin Ubay
Ibnu Ishaq mengatakan, Rasulullah datang ke Madinah yang penduduknya dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul al-Aufi. Tidak seorangpun dari suku Aus dan Khazraj yang berselisih tentang kemuliaannya. Suatu peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya, sampai kedatangan Islam. Pengikut Abdullah bin Ubay bin Salul telah menyiapkan mahkota baginya dan akan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka. Namun Allah mengutus Rasul-Nya dan mereka tertarik dengan ajaran baru tersebut. Karena itu, Abdullah bin Ubay bin Salul dengki dan berpendapat bahwa Rasulullah saw telah merampas kekuasaan darinya. Tetapi ia sendiri tidak sanggup menahan kaumnya berbondong-bondong memeluk Islam. Ia pun memeluk Islam dengan terpaksa dan terus menyimpan bara kedengkian dan kemunafikan dalam dirinya. (Shirah Ibnu Hisyam I/ 584-585, Dr. Jabir Qamihah, Musuh-Musuh Islam, Jakarta, Qisthi Press, 2004, hal.31)
Dia adalah api dalam sekam. Ia tidak mungkin memerangi Rasulullah saw atau memusuhinya secara terang-terangan, karena mayoritas penduduk Madinah bergabung di bawah panji Islam. Ia juga tidak mungkin tetap dalam kekafiran karena akan mengucilkan dirinya sendiri dalam masyarakat bahkan anaknya sendiri, Abdullah. Namun, ia bisa melakukan tipu daya merencanakan pengkhianatan dan melakukan serangan mematikan pada kesempatan yang tepat. Hingga api dendam dan dengki yang memenuhi rongga dadanya dapat terpadamkan. Agar bisa melakukan itu semua, ia harus menjadi seorang “muslim”. Kedok Islam ini memungkinkannya untuk melakukan serangan sebanyak mungkin pada waktu yang tepat.
Mental seorang Abdullah bin Ubay lebih berbahaya daripada seorang kafir, karena kemunafikan hakikatnya adalah kekafiran. Kemunafikan dilindungi oleh sebuah “benteng” yaitu Islam, meskipun hanya kulit luar belaka. Mental seperti Abdullah bin Ubay paling mendominasi dalam tubuh umat. Kolaborator Yahudi dan Musyrikin, namun tidak pernah dikeluarkan dari status orang Islam. Dia kerap lepas dari jerat hukum Islam, penampilannya meyakinkan, selalu berkata dengan multi makna dan berdiplomasi yang sukar ditandingi.
Apa makna kehadiran mentalitas dari ketiga tokoh di atas? Dalam beragama dan bermasyarakat kita sering melihat mereka yang tangannya berlumuran darah umat, perut mereka penuh dengan uang hasil kemiskinan umat. Sedangkan otak mereka penuh korupsi, kolusi, nepotisme, “sajadah” dan “haram jadah”. Prinsip ketiga mentalitas itu, “tidak bisa memandang kebenaran kecuali bila keluar dari dirinya.”
Dahulu Yudas Eskariot adalah benalu dalam dakwah nabi Isa as. Dahulu sepuluh saudara nabi Yusuf adalah benalu dalam keluarga nabi Ya’kub as, mereka sama baik dalam sejarah dan darahnya. Ada satu Musa dan satu Isa untuk satu Fir’aun, satu Samiri dan satu Yudas. Hari ini, ratusan Yudas, ratusan Samiri bahkan ratusan Fir’aun berkeliaran menjual aset bangsa dan membantai umat Islam. Mereka senantiasa dilindungi konstitusi dalam rangka kerja sama dengan “penadah” dan “penjarah asing.”
Wallahu ‘Alam.
Muntaha Bulqini | Jurnalislam

Penakluk Pasukan Ahzab

Seorang panglima yang brilian adalah dia yang bisa menggunakan taktik atau senjata baru dalam peperangan. Khandaq (parit) merupakan taktik atau senjata baru kedua yang digunakan Rasulullah saw untuk berperang setelah taktik “barisan berlapis” dalam perang Badar.

Ide penggalian parit itu berasal dari Salman Al-Farisi, dialah penakluk Ahzab pertama sehingga Rasulullah memberikan pujian pada Salman, “Salman adalah dari kami, golongan ahli bait,” untuk memotivasi lahirnya ide-ide yang bermanfaat, memuji mereka yang beramal bagi kemajuan umat dan mengikis fanatisme golongan.

Penakluk Ahzab kedua yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, yang berhasil membunuh intelijen Yahudi dengan sepotong tiang kayu. Ketika si Yahudi mengitari rumah-rumah penampungan kaum wanita dan anak-anak. Kejadian itu membuat komunitas Yahudi berpikir bahwa Madinah memiliki penjaga-penjaga yang gagah berani dan sulit untuk ditembus. Setelah itu, umat Islam lepas dari ancaman bahaya yang hendak menimpa mereka.

Perang Ahzab termasuk perang urat syaraf yang lebih banyak mengandalkan propaganda. Untuk masalah ini Allah telah mempersiapkan seorang penakluk Ahzab dari kabilah Ghathafan, Nu’aim bin Mas’ud. Dia menemui nabi untuk memberitahu perihal keislamannya yang tidak diketahui oleh kaumnya. Setelah mendengar pengakuan Nu’aim, Rasulullah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau hanya seorang diri, untuk itu cerai beraikan kesatuan mereka semampu kalian untuk membantu kami, karena perang adalah tipu daya.”

Penakluk Ahzab keempat yaitu sosok intelijen muslim yang selalu dipercaya Rasulullah, Hudzaifah bin Al-Yaman. Rasulullah bersabda, “Siapa di antara kalian yang berani menjadi mata-mata untuk melaporkan musuh, niscaya ia selalu bersamaku di hari kiamat nanti?” Tidak ada seorangpun dari kami yang bersedia menyanggupi tawaran Rasulullah. Beliau kembali mengulangi sabdanya sampai tiga kali. Namun tidak ada yang sanggup melakukannya kemudian Rasulullah bersabda, “ Wahai Hudzaifah berdirilah kamu! Berangkatlah untuk memata-matai musuh.” (HR. Muslim)

Perang Dramatis
Itulah para penakluk Ahzab yang telah dipilih Allah untuk membela Allah dan Rasul-Nya, menegakkan Dienul Islam. Mereka adalah umat pilihan yang sedang diuji keimanannya melalui serangkaian peperangan. Mahmud Syeit Khaththab dalam Rasulullah Sang Panglima, mengisahkan bahwa Rasulullah memimpin 3000 umat Islam untuk melawan 10.000 tentara Ahzab di bawah komando Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah yang terdiri dari 4000 tentara musyrikin Quraisy dan 6000 tentara aliansi dari Bani Sulaim, Asad, Fizarah, Asyja’, dan Ghathafan.

Sebuah peperangan yang sangat dramatis, awal dan akhirnya berisi hal-hal yang sangat sulit dan dahsyat, sehingga Allah perlu memberikan catatan khusus dalam firmannya yaitu surat Al-Ahzab. “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Perang Ahzab

Perang Ahzab

Bagaimana tidak dramatis ? Umat Islam hanya tiga ribu dikepung oleh sepuluh ribu pasukan sekutu selama satu bulan. Ditambah dengan cuaca dingin dan badai topan yang sebenarnya Allah kirimkan untuk membantu umat Muhammad saw. Situasi sulit itu akhirnya membelah umat dalam 2 golongan: Mukmin dan Munafiq. Mu’attib bin Qusyair melontarkan kemunafikannya, “Muhammad telah menjanjikan bahwa kita akan menikmati gudang-gudang kekayaan Kisra dan kaisar Heraklius. Sementara (di saat sekarang ini) untuk buang air besar saja tidak ada satupun dari kita yang berani pergi melakukannya.” (Shoheh Tafsir Ibnu Katsir, Syeikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri, Juz 21, 241).

Sedangkan cobaan, kesukaran dan kesulitan, bagi orang-orang Mukmin, semakin menambahkan keimanan mereka. Buktinya Allah memuji para penakluk Ahzab dengan dua hal: Mati syahid atau menunggu datangnya syahid. “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati janji apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah ( janjinya).” (Al-Ahzab: 23)

Ahzab Modern
Pasukan Ahzab modern yang dipimpin Amerika sudah hamper satu abad mengepung umat Islam di seluruh dunia jika dihitung sejak runtuhnya kekhalifahan Turki pada 1924 sampai saat ini (1924-2015 = 91 tahun ). Dramatis ! 1 bulan berbanding 91 tahun. Sementara strategi koalisi Ahzab, dahulu dan sekarang tidak pernah berubah. Abu Mush’ab As-Suri menyebutnya dengan “koalisi dalang” Salibis-Yahudi yang terdiri dari Amerika – Israel atau dahulu Quraisy-Yahudi. Ditambah dengan “koalisi wayang” yang beranggotakan para penguasa bonek seperti Negara-negara Islam Timur Tengah, Asia, Afrika yang dahulu masa Rasulullah diduduki posisi kabilah-kabilah atau suku-suku di sekitar Madinah.

Dalam rangka menghancurkan pasukan Ahzab, Rasulullah membuat skala prioritas musuh. Pertama, pasukan Quraisy-yahudi seperti Bani Sulaim, Asad, Fizarah, dan Asyja’. Untuk menggempur mereka Rasulullah membuat khandaq sebagai taktik peperangan. Kedua, pasukan Yahudi bani Quraizhah yang cukup diserang dengan menggunakan peperangan opini / urat syaraf melalui sang propagandis, Nu’aim bin Mas’ud.

Sedangkan untuk menyerang pasukan Ahzab modern, mujahidin menyerukan perlawanan jihad global dengan membuat empat rangking prioritas musuh (Mush’ab As-Suri, Visdi Politik Gerakan Jihad, 2010).

Pertama, Yahudi, Nasrani Barat, Nasrani Timur. Kedua, Penguasa Kafir/ sekular, pembantu penguasa, ulama jahat, pasukan penjaga konstitusi Kafir. Ketiga, lembaga yang berafiliasi dengan penguasa, kelompok cendikiawan (kaum Liberal), kelompok fasik yang menyebarkan kekejian di masyarakat dengan berlindung di balik seni. Keempat, Ormas yang manhajnya menyimpang, Parpol nasionalis. Sebagai tambahan, prioritas Ahzab modern untuk wilayah local Indonesia bisa dilihat dari dukungan setiap musuh Islam terhadap rezim kafir di negeri ini. Misalnya koalisi yang berada dalam deretan gerbang pendukung Jokowi antara lain pengusaha tertentu, kekuatan asing dan kelompok garis keras AS (hawkish), jendral-jendal, kelompok Syiah dan konglomerat hitam. (Bambang Soesatyo, Republik Komedi ½ Presiden, 2015)

Giliran Kita
Perang Ahzab / Khandaq merupakan peperangan sengit kedua yang sangat menentukan nasib umat Islam setelah perang Badar Kubra. Andaikata koalisi Musyrikin Quraisy-Yahudi menang, niscaya lembaran sejarah Islam akan berubah. Bergabungnya pasukan Ahzab tersebut menjadi peluang emas yang tidak mungkin terulang kembali, terutama jika orang-orang Yahudi gagal memobilisasi pasukan Ahzab, apalagi gagal pula dalam memenangkan pertarungan dengan umat Islam. Artinya, di masa mendatang mereka tidak akan dapat bergabung kembali dan tidak akan mampu mengalahkan tentara Islam. Berkoalisi saja gagal mengalahkan umat Islam apalagi sendirian.

Pelajaran penting lainnya adalah taktik Mubada’ah (memulai aksi lebih dahulu) di mana umat Islam telah berpindah dari fase defensive ke fase ofensif. Oleh karena itu Rasulullah mengatakan pada para sahabatnya setelah pasukan Ahzab mundur dari medan peperangan, “Sekarang , kita lah yang menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita.”

Setelah perang Khandaq inisiatif penyerangan berpindah dari kaum musyrikin kepada umat Islam. Bahkan umat Islam tidak pernah berhenti penyerang musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya hingga Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab. Itulah kebenaran Sang Sutradara tunggal, Allah subhanahu wata’ala. (QS. Al-Ahzab: 25 )
Dalam masa pengepungan tentara Ahzab Modern, umat Islam telah melahirkan ash-Shahwah al-Islamiyyah (gerakan kebangkitan Islam) dengan berbagai bentuk dan tujuan yakni mengembalikan Khilafah, pemerintahan Islam dan kebangkitan Islam. Rekam jejak gerakan itu menjadi catatan sejarah yang panjang, sejak eksperimen Gerakan Pemuda Maroko 1963 sampai eksperimen jihad Al-Qaidah pada 11 September 2001 yang berhasil menghancurkan symbol ekonomi dajjal Amerika, WTC.

Setelah tragedi WTC, para mujahidin ash-Shahwah al-Islamiyyah seolah ingin mengatakan kepada dunia khsusunya musuh-musuh Allah, “ Kini giliran kita yang mengepung pasukan Ahzab.” Melalui strategi The Arab Spring, fir’aun Amerika sebagai komandan Ahzab Modern itu ‘bangkrut”, negaranya dibuat miskin oleh Allah. Bahkan negara-negara boneka fir’aun modern yang nota bene negara Islam pun satu demi satu hancur: Irak, Libya, Mesir, Sudan, Pakistan, Suriah, Yaman dan tinggal menunggu Saudi Arabia.

Kini, para Ahzab Modern tengah menghadapi mimpi buruk sebagai bentuk ketakutan mereka akan datangnya hari-hari gelap mereka. Salah satu alasannya adalah bahwa hampir semua negara di dunia di mana umat Islam berada sedang bergejolak untuk melawan dan menghancurkan hegemoni pasukan Ahzab. Wallahu ‘Alam.

 

Muntaha Bulqini | Jurnalislam

Rumah dan PAUDnya Digusur, Ustadz Shofi’i Sayangkan Tak Ada Pemberitahuan Terlebih Dulu

JOMBANG (Jurnalislam.com) – Pengadilan Negeri Jombang menggusur rumah ustadz Shofi’i di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Jombang, Jawa Timur, Rabu (31/8/2016). Tepat disampingnya, PAUD Tapas 1 Blimbing yang dikelola ustadz Shofi’i juga harus menjadi korban penggusuran.

Sedikitnya 150 personel gabungan TNI Polri mengamankan proses penggusuran bangunan berukuran 6×8 m2 itu. Rumah ustadz Shofi’i dan PAUD itu memang satu-satunya bangunan yang tersisa di kawasan yang rencananya akan dibangun jalan tol.

Sayangnya, proses penggusuran dinilai sepihak, karena surat pemberitahuan dari Pengadilan kepada pemilik bangunan melalui pemerintah Desa ternyata tidak sampai ke tangan ustadz Shofi’i. Bahkan saat proses penggusuran, tidak ada satu pun aparat desa yang mendampingi.

“Kami tidak pernah menerima Surat Pemberitahuan Pengosongan, Tapi yang kami terima pagi ini langsung Surat Putusan Hukum. Hal ini sangatlah disayangkan dimana tidak adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada kami selaku pemilik bangunan,” tegas Ustadz Shofi’i kepada wartawan di TKP.

Namun pihak PN Jombang mengaku tidak mengetahui bahwa Surat Pemberitahuan penggusuran tidak sampai kepada pemilik bangunan.

“Surat pengosongan sudah kami berikan ke pihak desa H-3, bila ada tidak tersampainya surat kita tidak mengetahuinya,” kata Sutadi, SH, perwakilan PN Jombang.

Selain itu, Ustadz Shofi’i juga mengeluhkan nilai ganti rugi yang tidak sepadan. “Nilai ganti ruginya tidak sesuai dan ada peraturan dalam undang-undang negara terkait ganti rugi yang tidak dipenuhi oleh pengembang,” ujarnya.

Proses penggusuran yang terjadi saat jam belajar itu membuat panik anak-anak PAUD dan orang tua murid.

Reporter: Yan Adytia

Halo Desainer, Ayo Semarakan International Hijab Solidarity Day!

Mari ikut ambil bagian untuk mendukung dan semarakan acara IHSD (International Hijab Solidarity Day).

Dengan mendesain poster-poster dawah yang bertemakan : JILBAB
#YukBerjilbabSyari

Syarat :
– Desain poster sesuai tema : Jilbab
– Format A3 (Potrait/landscape)
– Resolusi min. 300dpi
Kirim ke mdcchapterjabodetabek@gmail.com

Batas akhir pengumpulan karya :
4 September 2016

Acara IHSD yang In syaa Allah:
?Ahad, 11 September 2016
?CFD (tikum di patung kuda-dekat monas)
⏰06.00 s/d selesai

Info lebih lanjut?
?Amal (085693300996)

Powered by :
Solidaritas Peduli Jilbab, Muslim Designer Community, Islamic Otaku Community, Sahabat Muslimah, Rumah Dakwah Indonesia, Man Jadda Wajada, Komunitas Tahajud Berantai, Gerakan Pemuda ESQ 165 Jakarta, Cordofa, DDV, Gerakan memakmurkan masjid, KAMMI Jakarta, One Day One Juz, Gerakan nasional anti miras), Pendaki Hijabers, YISC Al AZHAR,Sedekah Harian, Hijab Syar’i Tangerang, Dakwah Harian, Jakarta Sinergi, Tangerang Sinergi, FSLDK, YI-Lead

International Hijab Solidarity Day
International Hijab Solidarity Day

Muhammadiyah: UU TA Cacat Secara Moral Demokratis

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Bidang Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Busyro Muqodas menyatakan undang-undang Tax Amnesty yang baru saja diberlakukan oleh pemerintah ini cacat secara moral demokratis.

“Karena secara kongkret undang-undang ini bukan hanya menyangkut orang-orang yang bermasalah dengan utang pajak. Faktanya juga ternyata menyangkut masyarakat kecil, termasuk kelompok UMKM,” katanya di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (31/8/2016).

Lebih lanjut Busyro menyatakan, seharusnya pemerintah mensosialisasikan terlebih dahulu draf undang-undang kepada masyarakat sebelum diserahkan ke DPR.

Baca juga: Pemuda Muhammadiyah: Ada Persekongkolan Jahat Mengampuni Koruptor Dibalik UU TA

“Kalau mau buat undang-undang ini naskah akademisnya itu sejak awal oleh pemerintah sebelum dibawa ke DPR apasalahnya diberikan ke elemen masyarakat madani. Seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PGI, NGO, kampus-kampus dan lain-lain. Untuk dibahas bersama. Ini tidak, jadi sepihak. Padahal ini kan juga menyangkut masyarakat dan kelompok usaha kecil,” terang Busyro.

Terkait adanya isu barter antara undang-undang Tax Amnesty dengan revisi undang-undang KPK, Busyro menilai hal itu menggangu marwah lembaga pemerintahan. Menurutnya, indikasi adanya barter itu akan membuat pemerintah terkesan acak-acakan.

“Sekarang pemerintah tidak usah menjaga gengsi, termasuk Presiden sendiri, akan bagus kalau memperhatikan dengan jiwa besar, stop dulu,” pungkasnya.

Donatur Terus Bertambah, Kesadaran Muslim Bali Berzakat Meningkat

DENPASAR (Jurnalislam.com) – Direkur Dompet Sosial Madani (DSM) Denpasar, Andy Krisna mengatakan, kesadaran ummat Islam di Bali dalam membayar zakat melalui lembaga amil zakat semakin meningkat. Hal tersebut dinilainya sebagai pertanda positif, karena dana zakat semakin mudah untuk dikelola, termasuk memeratakan pemanfaatannya.

“Memang masih banyak yang berzakat langsung ke muzakki, tapi dari dana zakat yang kami himpun melalui lembaga zakat, setiap tahunnya terus meningkat,” ungkap Andy dalam acara Sosialisasi Regulasi Pengelolaan Zakat dan Verifikasi LAZ DSM di Denpasar, Bali, dilansir dari Republika.co.id, Rabu (31/8/2016).

Andy mengatakan, pada 2015 DSM berhasil menghimpun dana zakat, infak dan sedekah (ZIS) sebesar Rp 4 miliar dan diperkirakan meningkat 20 persen atau menjadi sekitar Rp 4,8 miliar pada 2016. Hingga Agustus kata Andy, dana ZIS yang sudah terhimpun mencapai Rp 2,5 miliar.

Menurut Andy, kendati perolehan pengumpulan dana zakat masih jauh di bawah potensi yang ada, namun dia optimistis perolehan zakat DSM akan terus meningkat. Selain donatur yang sudah ada terus meningkatkan jumlah zakat yang dibayarkan, DSM juga mendapatkan donatur-donatur baru.

“Kalau dibandingkan dengan potensi zakat di Bali sebesar Rp 126 miliar, apa yang kami capai masih terbilang kecil. Tapi melihat jumlah donatur terus bertambah, itu menunjukkan kesadaran masyarakat berzakat melalui lembaga juga meningkat,” kata Andy menambahkan.

Hadir dalam kesempatan itu Kasubdit Pemberdayaan Zakat Kementerian Agama RI, Dr H Juraidi Malkan MA.

Dinilai Legitimasi LGBTIQ, MUI Tegur Menag

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kehadiran Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-22 pada Kamis (25/8/2016) lalu terus menuai kecaman.

Lukman dinilai mendukung komunitas LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Inseksual dan Queer) yang dalam acara tersebut mendapat penghargaan sebagai lembaga atau komunitas yang paling gigih memperjuangkan hak-haknya yang diberi nama Tasrif Award.

Setelah dikecam netizen melalui petisi online berjudul “Menteri Agama Lukman Saifuddin Harus Mundur’, giliran Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menegur putra Menag RI ke-9 Saifuddin Zuhri itu.

Melalui surat teguran yang beredar di media sosial, MUI menyesalkan kehadiran Lukman dalam acara tersebut karena dinilai bukan tupoksi Kementerian Agama.

“LGBTIQ sudah difatwakan oleh MUI haram hukumnya dan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945,” tegas Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin.

MUI juga menilai, kehadiran Menag yang juga menyampaikan orasi kebudayaan dalam acara itu akan dipahami sebagai legitimasi keabsahan keberadaan LGBTIQ.

Terlebih Lukman pernah menyatakan LGBTUQ sebagai masalah sosial yang mengancam kehidupan beragama, ketahanan keluarga, kepribadian bangsa serta ancaman potensial terhadap sistem hukum perkawinan di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Lukman dalam rapat antara Komisi VII DPR-RI dan Kementerian Agama pada 17 Februari 2016 silam.

“Dan pada rapat itu pula, Menteri Agama tegaskan bahwa masalah LGBTIQ mengancam generasi penerus. Bahkan LGBTIQ merupakan ancaman bagi kehidupan bangsa Indonesia yang religius,” lanjutnya.

“Ke depan kami mengharapkan kiranya Saudara lebih berhati-hati menghadiri setiap acara yang diselenggarakan berbagai pihak, sehingga tidak menimbulkan kontraproduktif dengan perlindungan umat dan kemaslahatan bangsa,” tegasnya.

Surat teguran MUI untuk Menteri Agama itu ditandatangani oleh Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, dan Wakil Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan.

Hadirilah Kajian Ilmiyah “Akhir Bahagia Insan Bertaqwa” Bersama Abu Umar Abdillah

Poster Kajian Ilmiyah
Poster Kajian Ilmiyah

HADIRILAH KAJIAN ILMIYAH “AKHIR BAHAGIA INSAN BERTAQWA” BERSAMA ABU UMAR ABDILLAH

Cita-cita seorang muslim untuk mendapatkan akhir hidup yang bahagia memanglah pantas. Namun tidak sedikit dari umat ini yang tidak mengetahui cara konkrit untuk menuju kebahagiaan tersebut, menjadi Insan Bertaqwa adalah sebuah solusi.

Untuk itu, DKM At taubah bekerjasama dengan Yayasan Adhwa’ul Bayan, KUAT, AMANAR, INTIFADA, PW Pemuda PERSIS Banten, LSMI, FS3I, MPI Banten,Wahdah Islamiyah Banten, Jurnalislam.com, Sayuti.com, MADINA Banten

Menggelar Kajian Ilmiyah dengan Tema:

*AKHIR BAHAGIA INSAN BERTAQWA*

Bersama :
Ust Abu Umar Abdillah
Dai MADINA dan Pimred Majalah Ar-Risalah

Tempat: Masjid At Taubah, Jl.Raya Jakarta km 03, Kp.Kemang Patung, Kota Serang

Hari/tanggal: Sabtu, 03 September 2016

Jam: 09:00-11:45 WIB

GRATIS UTK UMUM (IKHWAN & AKHWAT)

Ajak keluarga, saudara, tetangga, dan teman untuk mengikuti nikmat iman berbuah pahala di taman surga ini.

Kontak Person:
Abu Nurul: 087772326079
H. Witono: 08179185904

Bersama Mbah Wono, WM 2000 Santuni Eks PSK dan Preman di Gudang Kuning, Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Warung Murah (WM) 2000 kembali mendatangi Kampung Marjinal Gudang Kuning, Gilingan, Banjarsari, Solo, Selasa (30/8/2016). Kehadiran WM 2000 di Kampung yang terletak di pinggiran rel Stasiun Balapan Solo itu untuk mendukung gerakan dakwah Mbah Wono.

Mbah Wono adalah da’i di lingkungan Marjinal, Gilingan yang membina mantan Pekerja Sex Komersial (PSK) dan preman.

“Kita sudah tiga kali di Gudang Kuning ini, nanti dengan berkoordinasi sama Mbah Wono, target kita supaya bisa tepat sasaran. Mana yang yatim, mana yang lansia, jompo, janda, soalnya Mbah Wono kan yang tahu persis kondisi masyarakat sini,” kata Ketua WM 2000 Nur Sawaludin.

Dalam kesempatan itu, Mbah Wono juga ikut menyalurkan nasi bungkus kepada anak yatim dan orang jompo. Ia berharap gerakan WM 2000 dapat merata di wilayah binaannya itu.

“Kalau bisa terjadwal nanti saya gerakkan, biar bagaimana WM 2000 ini bisa dinikmati anak-anak yatim, jompo yang gak bisa jalan. Terus nanti dikasih identitas bungkus atau plastiknya dikasih identitas WM 2000, biar mereka tahu ini dari WM,” ujar Mbah Wono.

Kedatangan WM 2000 disambut meriah warga sekitar. Hal itu diungkapkan Sukino (52) warga Rt 08/13 dan Titik warga RT 01/13 yang kebagian 2 bungkus.

“Seneng sekali mas, kalau bisa gantian to mas di wilayah sana, biar merata,” ucap Titik.