Mujahidin Kashmir Bunuh 3 Tentara India dalam Serangan Mematikan

KASHMIR (Jurnalislam.com) – Tiga tentara India tewas di Kashmir di wilayah yang dikuasai India (Indian-held Kashmir -IHK) pada hari Sabtu (17/12/2016) ketika mujahidin Kashmir menembaki konvoi kendaraan militer India yang lewat di sepanjang Srinagar-Jammu Highway, menurut sumber polisi, lansir World Bulletin.

Pasukan India mengepung seluruh wilayah segera setelah serangan mendadak itu, namun mujahidin, menurut sumber polisi, berhasil melarikan diri.

Serangan di hari Sabtu terjadi di daerah yang sama pada bulan Juni awal tahun ini, di mana delapan polisi tewas dalam penyergapan serupa.

Kashmir, wilayah Himalaya yang mayoritas Muslim, dipegang oleh India dan Pakistan di beberpa bagian dan diklaim oleh kedua negara secara penuh.

Kedua negara terlibat tiga kali perang – pada tahun 1948, 1965 dan 1971 – setelah mereka terpisah pada tahun 1947, dua diantara perang tersebut memperebutkan Kashmir.

Sejak tahun 1989, kelompok-kelompok perlawanan muslim Kashmir di IHK telah berjuang melawan penjajah India untuk kemerdekaan atau penyatuan dengan negara tetangga Pakistan.

Lebih dari 70.000 warga Kashmir sejauh ini telah tewas akibat kekerasan militer India. India mempertahankan lebih dari setengah juta prajurit di Kashmir (IHK).

Inilah Rilisan Bantahan Taliban atas Klaim Undangan Iran

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Imarah Islam Afghanistan (Taliban) pada hari Jumat (16/12/2016), merilis bantahan terkait berita yang beredar di sejumlah media lokal yang menjadi bahan pemberitaan di luar negeri terkait pejabat Taliban berkunjung ke Iran menghadiri undangan Teheran, Al Emarah News melaporkan Sabtu (17/12/2016),

Berikut ini adalah rilisan bantahan yang dilansir oleh media Taliban, Voice of Jihad:

Laporan yang diterbitkan kemarin oleh beberapa situs berita berbasis di Kabul menyatakan bahwa delegasi Imarah Islam Afghanistan telah diundang oleh Iran untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional yang dijuluki ‘Persatuan Islam’.

Tidak ada kebenaran dalam klaim tersebut. Tidak ada delegasi Iamarah Islam yang telah menerima undangan dan semua laporan yang menyatakan hal sebaliknya adalah tidak benar.

Juru bicara Imarah Islam Afghanistan

Qari Muhammad Yousuf Ahmadi

16/03/1438 Hijriah 16/12/2016 Masehi

4 Faksi Pembebasan Suriah Sepakat kembali ke Medan Tempur Perangi Assad

SURIAH (Jurnalislam.com) – Empat faksi Tentara Pembebasan Suriah mengumumkan kesediaannya untuk kembali ke aksi militer memerangi rezim Assad dan mereka memberi mandat Dr. Ayman al-Harush, pejabat “Asosiasi Ulama di Suriah” untuk membentuk sebuah komite memulai inisiatif ini dan menindaklanjutinya, Eldorar Alshamia melaporkan, Sabtu (17/12/2016).

Faksi-faksi tersebut dibubarkan setelah Jabhat al-Nusra saat itu (Jabhat Fath al-Syam sekarang) menyerang markas mereka setelah konflik pecah diantara mereka, karena serdadu mereka terindikasi tentara bayaran Amerika Serikat.

“Faksi Suriah Revolusioner (Sektor Utara), gerakan Hazem, Ansar brigade, dan Jabhat Haq al-Muqatila mengkonfirmasi kesiapan untuk mengatasi perbedaan antara mereka dan seluruh faksi dan bertekad menunda penghakiman” sampai agresi rezim dan sekutunya kalah terhadap perjuangan rakyat di tanah kami,” dan mengatakan mereka sedang menunggu balasan dalam waktu seminggu.

“Asosiasi Cendekiawan di Suriah”, yang mencakup sekelompok ulama, didirikan pada 14 Juli 2016 untuk “membentuk referensi sah yang menunjukkan posisi dari setiap peristiwa besar di tempat kejadian, dan menerbitkan fatwa tentang isu-isu publik, serta membentuk pengadilan independen tertinggi untuk menyelesaikan perselisihan antara faksi.”

Ini Kabar Terakhir Pengungsi Warga Sipil Kota Mosul

IRAK (Jurnalislam.com) – Sekitar 100.000 orang telah mengungsi dari Mosul sejak serangan besar diluncurkan pada bulan Oktober untuk merebut kembali kota di Irak utara yang dikuasai kelompok Islamic State (IS) tersebut, misi PBB di Irak (the UN Mission in Iraq UNAMI) mengatakan, lansir World Bulletin, Sabtu (17/12/2016).

Dalam sebuah pernyataan hari Sabtu, UNAMI mengatakan lebih dari 106.400 orang telah terlantar akibat operasi Mosul sejak 17 Oktober.

Walaupun 9.500 dari pengungsi telah kembali ke tempat asal mereka, lebih dari 99.300 warga Irak lainnya masih mengungsi, UNAMI mengatakan.

Pekan lalu, Kementerian Migrasi Irak mengatakan lebih dari 107.000 orang telah mengungsi sejak serangan ke IS dimulai pada Mosul.

Sementara itu, Eyad Rafed dari Bulan Sabit Merah Irak memperingatkan situasi kemanusiaan yang memburuk saat warga sipil melarikan diri dari daerah-daerah yang berada di bawah target serangan oleh pasukan IS.

“Sekitar 1.500 warga sipil telah dipindahkan ke kamp di selatan Mosul dalam 24 jam terakhir,” katanya kepada Anadolu Agency.

Para pejabat Irak telah bersumpah untuk merebut kembali Mosul – yang direbut IS bersama dengan wilayah luas di utara dan barat Irak – pada akhir tahun ini.

Jenderal Iran ini Berada di Aleppo saat Pembantaian Warga Sipil

ANKARA (Jurnalislam.com) – Foto-foto baru menunjukkan komandan Garda Revolusi Iran Qasem Soleimani bertepatan dengan pembunuhan 14 warga sipil oleh kelompok-kelompok teroris Syiah pro-Assad selama proses evakuasi yang terperangkap dalam kota Aleppo di Suriah utara, lansir World Bulletin, Sabtu (17/12/2016).

Awal pekan ini atas perjanjian Turki dengan Rusia, para pejuang oposisi Suriah di Aleppo timur mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan pasukan rezim Syiah Assad untuk mengevakuasi warga sipil dari kota.

Sejak itu, sedikitnya 7.500 warga sipil telah meninggalkan Aleppo menuju banteng mujahidin di Idlib – yang terletak di dekat perbatasan dengan Turki – menurut pejabat kelompok oposisi Suriah.

Media Iran pada hari Jumat menerbitkan foto yang menunjukkan Jenderal Soleimani, kepala Pasukan Quds dari Garda elit Syiah, bersama dengan beberapa orang di Aleppo dengan latar belakang bangunan hancur.

Kehadiran Soleimani bertepatan dengan pembunuhan 14 warga sipil oleh milisi Syiah Internasional pro-Assad yang didukung Iran selama proses evakuasi.

Proses untuk mengevakuasi warga sipil dari Aleppo Timur sempat dihentikan setelah kelompok teroris asing pro-rezim menghadang konvoi sipil setelah meninggalkan Aleppo timur menuju Idlib.

Menurut koresponden Anadolu Agency di Aleppo, teroris Syiah pro-rezim tersebut menembaki konvoi bus menuju Idlib tersebut, yang membawa sekitar 800 warga sipil.

Para teroris Syiah memaksa kendaraan untuk berhenti di Ramouseh yang dikuasai rezim di pinggiran barat daya Aleppo dan mengambil semua penumpang sebagai sandera, koresponden melaporkan.

Para sandera itu kemudian dibebaskan setelah 14 dari mereka tewas oleh teroris Syiah dukungan Iran.

Walaupun Pernah Ditembus Roket Hamas, Azerbaijan Tetap Beli Sistem Pertahanan Udara Israel

BAKU (Jurnalislam.com) – Menteri Industri Pertahanan Yavar Jamalov pada hari Sabtu (17/12/2016) mengumumkan bahwa Azerbaijan akan membeli sistem pertahanan udara “Iron Dome” Israel, World Bulletin melaporkan.

“Ada kesepakatan antara Azerbaijan dan Israel mengenai pengadaan sistem ini,” kata Jamalov kepada wartawan.

Jamalov mengatakan bahwa Azerbaijan membutuhkan sistem tersebut.

Dia juga mengatakan Azerbaijan mulai mengekspor produk seraya menambahkan: “Kami menjual produk industri pertahanan ke lembaga-lembaga negara seperti AS, Kanada, negara-negara Afrika dan Korea Selatan”

Dirancang dan diproduksi di Israel, sistem pertahanan udara “Iron Dome” mulai beroperasi pada tahun 2011.

Sistem pencegat roket jarak pendek tersebut pernah ditembus oleh roket-roket yang ditembakkan oleh kelompok perlawanan Islam Palestina, Hamas, ke Israel selama Operation Protective Edge terbaru di Jalur Gaza pada bulan Juli dan Agustus 2014.

Serangan Bom Mobil Hantam Bis Umum, 13 Tentara Turki Tewas

KAYSERI (Jurnalislam.com) – Tiga belas tentara tewas dan 56 lainnya luka-luka ketika sebuah serangan bom mobil menyerang sebuah bus umum di pusat provinsi Kayseri pada Sabtu (17/12/2016), kata Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu kepada Anadolu Agency.

Dalam pernyataan yang dibuat untuk media di kota Kayseri, Soylu mengatakan tujuh tersangka telah ditahan sehubungan dengan serangan itu, sementara pencarian lima orang lainnya terus berlanjut.

“Dari 56 korban yang terluka, 12 dalam perawatan intensif sementara empat tetap dalam kondisi kritis,” katanya.

Sebelumnya, kata Staf Umum Turki dalam sebuah pernyataan, bom mobil menargetkan bus umum yang membawa pasukan yang tidak sedang bertugas dekat kampus Erciyes University pada pukul 08:45 waktu setempat (0545 GMT).

Perdana Menteri Binali Yildirim kemudian mengatakan kepada wartawan di provinsi Kahramanmaras bahwa ledakan Kayseri adalah “serangan bom bunuh diri”

“Insiden ini tidak dapat melemahkan perjuangan kami melainkan meningkatkan tekad kami,” kata Yildirim.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu juga mengutuk serangan teror. Dalam pernyataan yang dibuat di Turki pada akun resmi Twitter-nya, Cavusoglu menyatakan belasungkawa kepada keluarga para martir dan berharap yang terluka cepat sembuh.

Kepala Staf Umum Jenderal Hulusi Akar juga mengatakan kepada Anadolu Agency: “Tentara Turki bertekad untuk memerangi teroris sampai teroris terakhir dinetralkan.”

Wakil Perdana Menteri Veysi Kaynak membandingkan kejadian tersebut dengan pemboman kembar 10 Desember di Istanbul, yang menewaskan 44 orang, termasuk beberapa petugas polisi.

Pemimpin utama oposisi Partai Republik Rakyat (CHP), Kemal Kilicdaroglu, juga menelepon perdana menteri dan menawarkan belasungkawa atas serangan itu.

Penyelidikan serangan tetap berlangsung.

Dewan Agung Radio dan Televisi (Supreme Board of Radio and Television) Turki memberlakukan larangan sementara liputan media terhadap ledakan Kayseri, yang mencakup siaran langsung dari tempat kejadian, rekaman yang diambil saat ledakan dan setelahnya, dan gambar tubuh/mayat, kata dewan itu dalam sebuah pernyataan.

Tabligh Akbar Dengan Ukhuwah Islamiah, Kita Eratkan Persatuan dan Kesatuan Umat Menuju Kejayaan Islam

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh

Hadirilah Tabligh Akbar

Dengan tema :
DENGAN UKHUWAH ISLAMIAH, KITA ERATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN UMAT MENUJU KEJAYAAN ISLAM

Bersama :
Ustadz Abu Al Izz, Lc
Ketua Forum Anti Pemurtadan Bekasi (FAPB), Pemerhati Dunia Islam

? Tempat :
Musholla AR Ridho
* Cipacung Asem, Cinangka
. Serang – Banten

? Hari / Tanggal :
Senin, 19 Desember 2016

⏰ Waktu :
Jam: 20:00 sd 22:00

? GRATIS ?
UNTUK UMUM
IKHWAN & AKHWAT
Diselenggarakan Oleh :
? *DKM AR Ridho
** pemuda pemudi Cipacung asem.

Membaca Wacana Terorisme

BOMBARDIR berita soal bom panci ternyata tak begitu saja diterima masyarakat. Di media sosial misalnya, bom panci diolok-olok sebagai bom banci, atau janggalnya ‘teori’ atas bom panci tersebut. Masyarakat tampaknya semakin kritis dan menuntut penjelasan lebih terang ketimbang dan berimbang mengenai wacana terorisme. Persoalan mengenai wacana terorisme sebenarnya bukan saja bermuara di pemerintah, tetapi juga di media massa.

Media yang intens memberitakan seramnya isu terorisme bukan ada begitu saja. Bahkan David L. Altheide (2003) menyebutkan bahwa kecondongan media mengangkat berita yang menakut-nakuti mulai dari soal kriminalitas hingga wabah terinspirasi dari dunia hiburan dan di sisi lain dapat mengalihkan isu dari hal-hal yang mendasar seperti ketimpangan sosial.

Masyarakat berhak untuk kritis terhadap wacana terorisme yang digelontorkan pemerintah dan digaungkan media. Bukan karena kita tak peduli dengan korban-korban terorisme, tetapi justru karena ingin ada lagi korban berjatuhan atas nama ‘terorisme yang dikemas’ ini maka mengritiknya.

Cara media mengemas terorisme sudah memang sudah berlebihan. Bombastis, tendensius bahkan ceroboh. Ini bukan di Indonesia saja, tetapi di mana-mana, termasuk di Amerika maupun Eropa. Kita tentu paham ketika dahulu media mengemas terorisme seperti corong, persis seperti yang diinginkan Presiden Bush, maka dunia seolah tersihir ketika AS beserta koalisinya menyerang Afghanistan kemudian atas nama pre-emptive strike menyerang Irak. Dunia dibohongi bahwa di Irak ada Weapons of Mass Destruction (WMD). Wacana terorisme menurut Susan Moeller, penulis buku Packaging Terorism selalu tentang kuasa. “The Packaging of terrorism by Media or government-or even terrorist themselves-is about power. Power over us.”

Wacana terorisme khsususnya di media tak segamblang apa adanya. Bahkan tak ada definisi terorisme yang disepakati semua pihak. Terorisme itu taktik atau ideologi? (Moeller: 2009) Pemberitaan terorisme dipenuhi kejanggalan. Memakai pihak pelaku aksi kekerasan dengan label terorisme, bahkan memiliki dampak lebih berat. Ia bisa menempel pada siapa saja. Nyatanya berpikiran radikal belum tentu sejalan dengan terorisme. Kita dapat lihat misalnya ketika rezim brutal Suriah, Bashar Assad melabeli para oposisi dengan label teroris. Bahkan label ini diberikan bagi tenaga medis yang menolong kelompok oposisi.

Berbagai kritik dilayangkan pada media ketika mengemas terorisme. Mengapa media, misalnya memakai label teroris padahal pelaku aksi sudah jelas kelompok tertentu? ““Terrorism” and “Terrorist” often have little menacing -they are instead political epithets. When used, they can confuse more than illuminate a political event or environment- especially because politicians and media only rarely explain that “terrorism” is a contested concept and that the language used to make the moral case on terrorism is typically loaded.” (Moeller: 2009)

Mengapa alih-alih menjalankan fungsinya sebagai watch dog, media menjadi corong pemerintah dalam pemberitaan terorisme tanpa melakukan verifikasi atas pernyataan pemerintah? Bandingkan berbedanya pengemasan pemberitaan media soal aksi peledakan di Eropa dengan di Timur Tengah. Aksi peledakan di Eropa pemberitaan bisa jadi dikulik sedemikian rupa, namun aksi serupa di Timur tengah, pemberitaan dikemas dengan mengesankan siklus kekerasan seperti biasa belaka. Atau mengapa media dengan mudahnya menyebut aksi terror jika terkait agama pelaku tetapi gagap menyebut terror pada tindakan negara barat di Timur Tengah dan Afrika? Dan mengapa mereka tak melabeli penjajahan dengan kekejaman oleh Israel di Palestina sebagai terorisme?

Lihat pula dampak dari pemberitaan media yang biasanya menampilkan aksi ‘terorisme’ pada kulit semata; mulai dari angka-angka, ekspose berlebihan pada korban, sampai dangkalnya pemberitaan soal terorisme tanpa elaborasi lebih lanjut. Semua hal-hal tadi hanya sebagian dari kritik dari wacana terorisme. (Moeller : 2009)

Susan Moeller dalam Packaging Terrorism (2009) mengingatkan perlunya sikap kritis kita pemberitaan terhadap terorisme. “Journalism -in print, on air, online- always seems so transparent. The words and pictures are out there for us all to see. But we rarely take the time to consider the choices that are made – the language that is selected, the voices that are heard, the images that are used, the stories that are told. Whose stories are these? Why are we hearing those and not another’s Why do we see? And most of all, why does it all matter?”

Kita tentu tak lupa bagaimana rezim orde baru memakai isu Komando Jihad sebagai alat untuk mengokohkan kekuasaan di tahun 70 sampai 80an. Komando jihad ternyata tak lain adalah permainan operasi intelejen Opsus (Operasi Khsusus) di bawah Ali Moertopo. Mereka merekayasa, meradikalisasi sekelompok orang demi tujuan-tujuan politis rezim orde baru untuk mendiskreditkan politik Umat Islam saat itu. Aksi Komando Jihad seringkali muncul menjelang pemilu saat itu. Modus yang dipakai adalah pancing-jaring-tangkap. Hal ini bisa kita baca salah satunya dari disertasi Busyro Muqoddas yang kemudian dibukukan menjadi Hegemoni Rezim Intelejen. (M. Busyro Muqoddas: 2011)

Kritik terhadap wacana terorisme dan penanganannya mutlak diperlukan. Pemantauan kebijakan pemerintah terhadap isu terorisme harus dilakukan justru agar tak menghasilkan lingkaran kekerasan. Kekerasan direspon dengan kekerasan sehingga menghasilkan kekerasan lainnya yang terus berputar.

Jika kita tidak kritis terhadap wacana terorisme, malah menganggap siapa pun yang dilabeli teroris secara sepihak tanpa proses peradilan sah untuk dihabisi, maka kita akan menemukan tindakan sewenang-wenang yang berwujud state terrorism. Richard Jackson dkk, dalam pendahuluan Contemporary State Terrorism: Theory and Practice mengingatkan “Even more disturbing, government directed campaign of counter terrorism in the past few decease have frequently descended into state terrorism by failing to distinguish between the innocent and the guilty, responding highly disproportionately acts of insurgent violence , and aiming to terrify or intimidate the wider population or particular communities into submission.” (Jackson, et al : 2010)

Jangan lupakan Kasus Siyono, seorang kepala keluarga yang tiba-tiba diculik, kemudian kembali kepada keluarga hanya tinggal jasadnya saja pada Maret 2016 kemarin. Siyono, adalah korban dari ekeskusi diluar proses peradilan. Bahkan dijadikan tersangka pun ia belum pernah. Keluarganya, istrinya, anak-anaknya yang masih kecil tiba-tiba diberitahu ayahnya sudah meninggal begitu saja. Masih banyak nama-nama lain selain Siyono.

Sekali lagi, melihat wacana terorisme secara kritis bukan kita tidak peduli, tetapi justru kita tak ingin para korban aksi ‘terror’ menjadi alat bagi pihak-pihak tertentu yang mendulang keuntungan dan kepentingan di atasnya. Agar tak ada lagi korban-korban dari permainan semacam Komando Jihad buatan penguasa di era Orde Baru, agar tak ada lagi korban seperti anak-anak yang menderita seperti kasus bom gereja di Samarinda, agar tak ada lagi Siyono-Siyono lain di masa mendatang.

Penulis: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Komunitas Kultura