Kasus Alfian Tanjung, Majelis Mujahidin: Pemerintah Diskriminatif!

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, pemerintah telah melakukan diskriminasi terhadap pegiat anti-komunis, Ustadz Alfian Tanjung.

Menurutnya, Ustadz Alfian hanya mengungkapkan fakta sejarah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI). Akan tetapi pemerintah justru membiarkan aktivis-aktivis anti-Islam yang kerap menyerukan permusuhan dan pelecehan terhadap Islam.

Nota Keberatan Kuasa Hukum Alfian Tanjung : Dakwaan JPU Batal Demi Hukum

“Kenapa Victor Laisdokat tidak ditangkap oleh pemerintah. Sedangkan Alfian Tanjung hanya menyampaikan dalam ceramahanya fakta sejarah tentang komunisme malah ditangkap,” ujar Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Padahal, lanjut Irfan, fakta-fakta sejarah yang disampaikan oleh Ustadz Alfian bertujuan untuk menyelamatkan bangsa dari partai yang telah dinyatakan dilarang melalui TAP MPRS No 25 Tahun 1966 itu.

Sidang Kedua, Ini 7 Poin Penting Nota Keberatan Ustaz Alfian Tanjung

“Sementara si Victor ini yang justru mengancam pembunuhan tapi dibiarkan bebas. Ini tindakan diskriminatif dan ini tidak akan menjadi baik bagi masa depan Indonesia,” kata Irfan.

Sebagaimana diketahui, Ustadz Alfian Tanjung dijerat dengan Pasal 156 KUHP dan Pasal 16 juncto Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi dan RAS, Pasal 45 junto 28 UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Irfan S Awwas: Kerjasama Pemerintah dengan Komunis Merusak Moral Bangsa

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, kerjasama pemerintah dengan Negara-negara komunis tidak membawa manfaat bagi bangsa Indonesia. Bahkan, kata dia, kerja sama itu hanya akan membawa kerusakan moral.

Irfan menyinggung soal dibebaskannya visa masuk bagi 169 negara yang membuat Cina leluasa membawa narkoba ke Indonesia.

Umat Islam Magelang Tolak Kedatangan Sekjen Partai Komunis Vietnam ke Indonesia

“Tahun 2016 sudah dibuat Undang-undang bebas masuk Indonesia tanpa visa bagi 169 negara. Dan kita lihat akibatnya Cina masuk bawa narkoba, bawa bibit beracun, bibit wortel, bibit cabe, kemudian bawa pelacur juga,” papar Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda, Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Irfan juga menanggapi kerjasama terbaru antara pemerintah Indonesia dengan negara komunis Vietnam.

“Anda bisa bayangkan nanti jika betul hasil pertemuannya dengan komunis Vietnam ini, lalu akan ada pesawat yang pramugarinya berbikini masuk ke Indonesia, ini kerusakan moral yang sangat dahsyat,” ungkapnya.

Irfan menilai, kerjasama pemerintah Indonesia dengan negara-negara komunisitu hanya akan merusak pembinaan moral yang dibangun umat Islam melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pesantren.

Maskapai Bikini Bertentangan dengan Budaya Bangsa, ISAC : Jangan Rusak Generasi Muda!

“Jadi pembinaan moral yang kita bangun melalui lembaga pendidikan, pesantren itu akan hancur dalam satu hari saja,” tegas Irfan.

Oleh sebab itu, sambungnya, hubungan pemerintah dengan negara-negara komunis tidak hanya melanggar Undang-undang No. 27 tahun 1999, akan tetapi menjerumuskan Indonesia ke dalam perpecahan.

Majelis Mujahidin: Pemerintah Semakin Mesra dengan Komunis

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Laznah Tanfidziyah Majelis Mujahidin, Irfan S Awwas mengatakan, rezim Jokowi semakin mesra dengan komunis. Hal itu dikatakan Irfan menanggapi penyambutan Presiden Jokowi atas kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam (PKV), YM Nguyen Phu Trong di Indonesia belum lama ini.

“Dari kunjungan tersebut kita bisa melihat bahwa rezim Jokowi ini semakin mesra dengan komunis,” kata Irfan kepada Jurnalislam.com di Ponpes Benda, Tasikmalaya, Sabtu (26/8/2017).

Presiden Bertemu Sekjen Partai Komunis Vietnam, Ini Pernyataan Sikap Forsika Jatim

Irfan menjelaskan, kemesraan rezim Jokowi dengan komunis itu dapat dilihat dari dua segi. Pertama, pada tahun 2016 pemerintah membuat Undang-undang bebas masuk Indonesia tanpa visa bagi 169 negara, termasuk Cina.

“Dan kita lihat akibatnya Cina masuk bawa narkoba, bawa bibit beracun, bibit wortel, bibit cabe, kemudian bawa pelacur juga,” tegasnya.

Kedua, lanjut Irfan, adalah kerjasama pemerintah dengan negara-negara komunis, yang terbaru dengan Vietnam. Padahal, kata dia, Undang-undang No. 27 Tahun 1999 mengatakan, siapa saja untuk yang berhubungan dengan komunisme atau bekerja sama baik di dalam maupun di luar negeri akan dipidana 15 tahun penjara.

Jalin Kerjasama dengan Komunis, DSKS Tegur Presiden

“Tetapi bukan hanya rezim pemerintah yang bekerja sama dengan komunis sekarang ini, komunis Cina maupun komunis Vietnam atau komunis Korea Utara, tetapi juga partai,” ungkap Irfan.

PDIP dan Nasdem diketahui berulang kali mengirimkan kadernya ke Cina untuk mengadakan ‘diklat kepempinan’ bersama Partai Komunis Cina. “Karena itu rakyat Indonesia seharusnya memprotes pemerintahan ini dan juga PDIP dan Nasdem,” pungkasnya.

Ungkapan Syukur Kepala Suku Kokoda Berada di Tanah Suci

Catatan Perjalanan Haji 1438 H Jurnalis Islam Bersatu (JITU) 5

“Apakah kita sudah sampai di Madinah?” kata Ibrahim Wugaje Haruna, kepala suku Kokoda, salah satu suku di Sorong, Papua Barat, kepada penulis saat bis yang mengantarnya dari Jeddah berhenti di depan Kantor Pusat Penerimaan Haji dan Umroh, di jalan al Hijrah, Selasa (22/8/2017).

“Ya,” jawab penulis singkat.

“Alhamdulilah… alhamdulillah,” kata Ibrahim berulang kali. “Saya harus ceritakan ini kepada orang-orang di kampung saya.”

Ibrahim lalu menempelkan ujung jarinya ke tanah, menciumnya, dan mengusapkan telapak tangannya ke muka. Mungkin itu bentuk rasa syukurnya sebab Allah SWT telah menakdirkanya tiba di kota yang dulu pernah dibangun Rasulullah SAW.

Penulis kemudian berkata kepada pria berusia 66 tahun itu. “Tempat yang Bapak injak ini, mungkin dulu pernah dilalui oleh Rasulullah SAW.”

Ibrahim terdiam.

“Dan bukit itu …” penulis lalu menunjuk sebuah bukit gersang berbatu di kejauhan, “… mungkin seperti itulah jalan yang dulu dilalui oleh Rasulullah SAW saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Ceritakan juga itu kepada orang-orang di kampung Bapak.”

Ibrahim mengangguk.

Perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah proses yang mudah. Proses itu telah dipersiapkan secara matang oleh Rasulullah SAW selama berminggu-minggu. Sebab, risiko yang akan dihadapi tidaklah kecil.

Peristiwa hijrah ini dimulai dengan pemberangkatan secara diam-diam bersama Abu Bakar Ra pada malam hari menuju arah selatan Makkah. Pada saat itu sebagian besar Sahabat sudah lebih dahulu hijrah ke Madinah.

Percobaan pembunuhan pertama berhasil dielakkan setelah Rasulullah SAW meminta sepupunya Ali bin Abu Thalib menggantikan dirinya tidur di ranjang yang biasa ia tiduri.

Setelah berhasil menjauh, Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ra bersembunyi di sebuah gua di Bukit Tsur yang terletak sekitar lima kilometer dari Makkah.

Selama di gua tersebut Rasulullah SAW telah merancang strategi penyelamatan dengan melibatkan putra Abu Bakar Ra yakni Abdullah bin Abu Bakar, sang pengembala kambing bernama Amir bin Fuhairah, dan sang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Ariqat.

Setelah itu, Rasulullah SAW tiba di kampung Quba dan mendirikan masjid seserhana bernama Masjid Quba serta shalat Jumat di wadi Ranuna. Barulah kemudian Rasulullah SAW berhasil mencapai Madinah dengan sambutan ramai mayarakat setempat.

Kisah hijrah Rasulullah SAW ini tak sekadar harus diceritakan Ibrahim Wugaje Haruna kepada masyarakat suku Kokoda saja, tetapi juga kepada seluruh Muslim, terutama kaum muda. Mengapa? Sebab, Dr ‘Abdul ‘Azhim Mahmud al-Dayb pernah berkata, sejarah bukan sekadar pengetahuan masa lalu, melainkan ilmu masa kini dan masa depan. Dengan sejarah, kita bisa mengetahui masa lalu, menafsirkan masa kini, dan merancang masa depan.

Di dalam al-Qur’an surat Hûd [11] ayat 120, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah tentang Rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat (pelajaran), dan peringatan bagi orang yang beriman.”

Dan, bagi Ibrahim, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan ibadah, namun perjalanan sejarah yang harus ia ceritakan kepada masyarakat kampungnya.

Hari ini, Kamis (24/8/2017), Ibrahim telah menikmati dan meresapi indahnya shalat di Masjid Nabawi, masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW dengan segala keutamaannya. Hari ini Ibrahim akan bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan haji.

Penulis: Mahladi | Islamic News Agency (INA)

Kainama, Mantan Pendeta yang Melepas Kerinduannya kepada Baitullah

Catatan Perjalanan Haji 1438 H Jurnalis Islam Besatu (JITU) #4

Rasa rindu Agustinus Christofel Kainama kepada Ka’bah pagi ini (25/8/2017) terobati. Usai shalat subuh, mantan pendeta Gereja Zebaot, Bogor, Jawa Barat, ini memasuki Masjidil Haram.

Sebetulnya, Kainama sudah pernah melihat Ka’bah sebelumnya. Tahun 2012, pria kelahiran Ambon ini mendapat kesempatan mengunjungi Baitullah.

Tapi selepas itu, Kainama mengaku selalu rindu dengan Baitullah. “Saya selalu ingin ke sini dan berdoa agar bisa ke sini lagi,” jelas pria yang pernah kuliah di jurusan Liturgi Teologi, Leiden ini. Seluruh biaya kuliah ketika itu ditanggung oleh Gereja Zebaot.

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Allah SWT ternyata mengabulkan doanya. Kedutaan Besar Arab Saudi mengundangnya untuk berhaji tahun ini. “Ini benar-benar seperti mimpi. Allah ternyata memberi kesempatan kepada saya untuk melihat Ka’bah lagi,” tutur Kainama

Kainama memeluk Islam pada tahu 2011. Namun, beberapa tahun sebelum itu, ia sudah gundah gulana dengan agamanya yang lama.

Setelah memeluk Islam, Kainama malah gencar mengajak teman-temannya untuk memeluk Islam. Ia bahkan tak sungkan berdakwah di gereja. “Yang paling mengedankan adalah ketika kita mensyahadatkan orang di bawah Salib,” tutur Kainama.

Buat mualaf seperti dirinya, Ka’bah adalah sesuatu yang menakjubkan. “Ketika seorang mualaf baru pertama kali melihat Ka’bah, dia bisa menangis,” cerita Kainama saat berbincang dengan penulis menjelang memasuki gerbang Masjidil Haram.

Mengapa? Sebab, melihat Ka’bah di depan mata terasa seperti Allah SWT memperlihatkan seluruh kesalahan kita di masa lalu, lalu kita menyesalinya. Bahkan, seorang mualaf seperti dirinya bisa pingsan ketika shalat di dekat Ka’bah.

Rindu untuk kembali ke Baitullah sebetulnya hal yang wajar. Bukankah semua Nabi pernah mendatangi Ka’bah dengan bersusah payah, meskipun wujud Ka’bah ketika itu hanya berupa dataran yang lebih tinggi dibanding sekitarnya?

Bukti sejarah tentang ini telah ditulis oleh Ibnu Katsir. Katanya, tak ada seorang Nabi pun kecuali telah berhaji ke Baitullah (Ka’bah).

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dalam perjalanan hajinya, Rasulullah SAW sampai ke sebuah lembah (wadi) dan bertanya kepada Abu Bakar, “Wahai, Abu Bakar, wadi apakah ini?”

Abu Bakar menjawab, “Ini adalah Wadi Asfan.”

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan, “Sesungguhnya Nuh, Hud dan Ibrahim telah melewati wadi ini dengan mengendarai onta-onta merah mereka yang dikendalikan dengan tali kekang. Sarung-sarung mereka berasal dari Aba’ dan selendang-selendang mereka dari Nimar. Mereka berhaji ke al Baitul-Atiq (Ka’bah)”.

Bahkan Allah SWT memperbolehkan kaum Muslim untuk berpayah-payah mengunjungi Ka’bah, selain Masjid Nabawi dan Masjid Al Aqsa.

Ka’bah, menurut sejumlah liteatur Islam, dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Keduanya memulai proses pembangunan dengan menambah tinggi Ka’bah menjadi 9 hasta dan lebarnya menjadi 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami.

Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Nabi Ibrahim membuat dua pintu untuk Ka’bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani.

Beliau juga membuat lubang di dalam Ka’bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka’bah. Kala itu, Ka’bah belum diberi atap.

Setelah pembangunan oleh Ibrahim, Ka’bah sempat beberapa kali dibangun atau direnovasi. Yang pertama, pembangunan oleh bangsa Amaliq dan Jurhum. Pembangunan ini dikarenakan munculnya bencana banjir yang dahsyat dan telah menghancurkan tembok Ka’bah.

Eduard, Mualaf Keturunan Yahudi yang Menginjak Tanah Suci

Setelah itu dilanjutkan pembangunan-pembangunan berikutnya, termasuk kala Rasulullah SAW 35 tahun. Kita kerap mendengar kisah fenomenal di mana Rasulullah SAW ketika itu dipilih oleh masyarakat Quraisy untuk memutuskan siapa di antara mereka yang paling berhak meletakkan hajar aswad di tempatnya.

Ada beberapa lagi pembangunan Ka’bah setelah peristiwa itu. Yang terakhir dilakukan oleh Sultan Murad IV karena beberapa bagian Ka’bah roboh oleh hujan yang amat deras. Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi pada Rabu 19 Sya’ban 1039 Hijriah. Setelah itu, hingga Kainama menginjakkan kakinya ke Masjidil Haram, tak ada lagi perombakan terhadap kiblat umat Islam ini.

Sungguh beruntung Kainama. Allah SWT telah memberangkatkannya dengan mudah. Allah memang Maha Berkehendak dan Maha Bijaksana.

Labaik Allahumma labaik.*

Penulis: Mahladi | Islamic News Agency (INA)

Haji dan Insiden Merah Putih Terbalik

Catatan Haji Jurnalis Islam Bersatu (JITU) #3

SAAT berada di shaf awal di Masjid Nabawi, sebelah saya orang India berperawakan gempal. Azan Ashar masih dua jam lagi, ketika ia pamit berwudhu. “Tolong jaga tempat ini. Nanti saya akan kembali,” pesannya. Tak berapa lama, kakek-kakek berwajah etnis China pun mengikuti jejaknya.

Yang saya kuatirkan saat itu, bagaimana kalau nanti mereka terlalu lama pergi, sedangkan shaf awal ini menjadi incaran banyak orang? Bagaimana saya menjelaskan kepada jamaah yang ingin mengambil tempat itu. Atau kepada kedua orang itu ketika nanti ada yang “menyerobot” tempat mereka?

Apa yang saya khawatirkan terjadi. Seorang Negro bertubuh tinggi besar menduduki tempat si India. Si India sendiri belum kembali, padahal kakek-kakek China tak berselang lama kembali ke posisi semula. Ah, bodo amat… lagian siapa suruh berlama-lama wudhu.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

Kira-kira 10 menit jelang azan, si India kembali. Mengetahui tempat duduknya dihuni, ia pun tak kalah akal. Duduk di antara saya dan si Negro, menghadap arah berlawanan kiblat. Dan saat iqomat dikumandangkan, bisa dibayangkan bagaimana sesak dan berhimpitannya shaf.

Si Negro protes karena menuding si India memaksakan tempat. Si India membela diri, bahkan menodongkan sikutnya. Si Negro cuma bilang, “Ittaqillah…!” Setelah itu keduanya takbiratul ihram. Begitu selesai salam, si Negro mengulurkan tangan dan disambut senyum si India. Jamaah di samping kanan-kiri mereka—termasuk saya, pun turut senyum lega.

Itu cerita dua hari lalu di Masjid Nabawi. Sementara tadi pagi saat thawaf di Masjidil Haram, ada juga sedikit insiden. Rombongan saya memilih thawaf di lantai atas karena anggota kami ada anak kecil penyandang difable. Tiba-tiba kawan saya bernama Yusuf yang persis di samping saya, diseruduk kursi roda milik jamaah berwajah India, tepat di otot di atas tumit kanannya.

Sontak, Yusuf mengaduh kesakitan sambil berusaha memegang tangan saya agar tidak jatuh. Saya pun menatap si India. “I am sorry… maaf.. maaf,” katanya berulang-ulang sambil menghentikan kursi roda yang di dorongnya.

Yusuf masih kesakitan, tapi sedikitpun tak menatap wajah penyeruduk. Sepertinya ia sudah memaafkan, meski sakitnya tidak tertahan. Sesaat kemudian, thawaf pun berjalan kembali. Si India berlalu meninggalkan saya dan Yusuf yang masih tertatih kesakitan.

***

Ibadah haji dengan segenap kompleksitas masalah di dalamnya memang seringkali menimbulkan kejadian-kejadian yang kurang menyenangkan. Jutaan manusia datang dari beragam negara, bangsa, warna kulit dan bahasa. Meski beragam, tujuan mereka hanya satu: memenuhi panggilan Allah untuk datang ke Tanah Haram serta memproklamirkan tauhid dalam lantunan talbiyah yang berulang-ulang.

Kesamaan itulah mungkin yang membuat berbagai insiden yang kurang mengenakkan dapat berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak kesumat apalagi perseteruan. Semangat persaudaraan yang dibangun di atas pondasi tauhid membuat para jamaah mudah untuk saling memaafkan dan merelakan haknya. Itulah salah satu yang membuat orang tahan menempuh kerasnya tempaan fisik selama melaksanakan manasik haji di Tanah Suci.

Mahmud Sangaji, Nelayan Sorong yang Berhaji Tahun Ini

Renungan saya tiba-tiba bubar saat saya coba buka-buka kabar berita di tanah air tercinta!

Ada yang mau berencana menggasak zakat untuk sebagai kas negara seperti pajak; ada pula prahara fitnah pembuat hoax yang diarahkan ke kelompok Muslim berjuluk Saracen. Atau, heboh insiden bendera merah putih yang dicetak dengan warna terbalik oleh panitia SEA Games 2017 di Malaysia.

Insiden itu memicu hujatan sengit, terutama di jagat media sosial. Hujatan itu seperti gendang mengiringi pejabat pemerintah yang kemudian ikut-ikutan mengecam. Gayung pun bersambut. Entah benar atau tidak, sebuah screenshot yang beredar mengabarkan warga Malaysia etnis “nganu” (yang jelas bukan Melayu), meneriakkan yel-yel “Indonesia anj*ng!” saat menyaksikan sebuah laga di acara tersebut.

Keresahan pun menyeruak, terutama dari tokoh dan komunitas Muslim. Disengaja atau tidak, insiden itu sepertinya menjadi lahan empuk untuk memperlebar jurang Malaysia-Indonesia, dua negara dengan warga serumpun. Tak hanya rumpun, secara keyakinan, Islam menjadi agama terbesar di kedua negara itu.

Ingatan saya kembali ke tahun 2013 silam, saat meliput kegiatan bersama NGO kemanusiaan Malaysia dan Indonesia di Patani, Thailand. Saat misi selesai, salah satu warga Patani menyampaikan kalimat perpisahan yang mengaduk-aduk emosi. Katanya:

“Terimakasih kepada kakak-kakak sekalian. Orang Patani menganggap orang Indonesia sebagai kakak tertua, dan orang Malaysia sebagai kakak tengah. Pesan kami, tolong jangan lupakan kami… Kalian punya adik bungsu di sini. Kami ini adik bungsu kalian…”

Tahun Ini Yayasan Al-Manarah Al-Islamiyah Hajikan 123 WNI

Istilah kakak tertua, kakak tengah dan adik bungsu menggambarkan bahwa tanpa ada ikatan agama pun, sesungguhnya mereka itu satu keluarga. Apalagi, nyatanya agama mereka juga sama, Islam. Nenek moyang dan orangtua mereka sama, hingga akhirnya badai fitnah kolonialisme kaum kafir Eropa menyekat mereka dalam bilik sempit bernama negara. Sampai detik ini.

Sekat-sekat itulah yang kemudian membuat adik-kakak dan anggota keluarga itu melupakan identitas dan sejarahnya. Yang ada dalam benak mereka adalah kebanggaan dan kehormatan sebagai sebuah negara atau bangsa. Ketika itu diganggu muncul reaksi yang tidak lagi memedulikan identitas dan sejarah tersebut.

Padahal, sekali lagi sekat itu dibuat oleh “perampok” yang datang ke rumah mereka. Setelah puas menguras isi rumah, “perampok” itu merampas sertifikat dan kemudian memecahnya menjadi sekian bagian. Sebelum badannya benar-benar pergi, para “perampok” itu meninggalkan doktrin yang membuat masing-masing merasa bangga dengan pecahan sertifikatnya. Doktrin itu mulai dari undang-undang buatan mereka hingga yel-yel semangat nasionalisme dan kebangsaan—yang hingga kini terus diawasi dari kejauhan.

***

Terlepas dari siapa dan bagaimana penguasanya hari ini, Al-Haramain (Tanah Suci) dengan ritual ibadah haji yang dijalankan, menjadi momentum kebersamaan yang tepat untuk kembali merenung tentang hakikat diri kita sebagai umat yang satu. Memang banyak bertebaran bendera atau syal yang menunjukkan asal negara. Namun saya merasakan hari ini, di sini, negara hanya sebuah sarana untuk membantu menjawab pertanyaan darimana kita berasal. Bukan standar apa yang membuat kita menjadi cinta atau benci.

Penulis: Tony Syarqi | Islamic News Agency (INA)

Aji Bertaubat, Pelapor: Proses Hukum Harus Tetap Dilanjutkan Sebagai Pembelajaran

KLATEN (Jurnalislam.com) – Terdakwa kasus penistaan agama, Rozaq Ismail Sudarmadji alias Aji telah menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam atas status facebooknya yang menghina Islam. Permohonan maaf itu disampaikan dalam sebuah video berdurasi 51 detik yang diunggah di facebook miliknya pada 26 Mei lalu.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Mujahidin Klaten, Bony Azwar yang juga pelapor Aji mengatakan, sebagai seorang muslim pihaknya telah memaafkan Aji, akan tetapi masalah proses hukum harus tetap dilanjutkan sebagai pembelajaran.

Mengaku Menyesali Perbuatannya, Aji Minta Maaf dan Bertaubat

“Kita pinginnya kasus ini tetap lanjut sebagai pembelajaran. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang bermain-main yang menghina Islam dan umat Islam. Itu tujuan kita,” kata Bony kepada Jurnalislam.com, Sabtu (26/8/2017)

Selain meminta maaf, Aji juga menyatakan dirinya bertaubat kepada Allah SWT dan meminta bimbingan umat Islam untuk kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Bony pun menyambut baik pertaubatannya dan akan membantu Aji untuk menjadi muslim yang baik.

“Itu yang kita harapkan, setelah kejadian kita harapkan dia betul-betul menjadi muslim yang baik, bertaubat dan kembali kepada Syariat Islam,” tutur Bony.

Insiden Bendera Terbalik, KH Cholil Ridwan: Jangan Sampai Nasionalisme Kalahkan Keislaman

“Alhamdulillah kemarin kita ketemu dengan Sulis Bajak Laut dan Rozaq di sel, ya kita manfaatkan itu untuk mendakwahi mereka,” sambungnya.

Pada 20 Mei 2017, Bony Azwar melaporkan Aji atas dugaan penistaan agama dan menyebarkan hasutan kebencian kepada umat Islam dalam status facebooknya. Sidang perdana Aji digelar di PN Klaten pada Kamis (24/8/2017).

200 Warga Sipil Muslim Rohingya Tewas dalam Serangan Militer Terbaru di Arakan Utara

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Warga sipil Rohingya sebagian besar mengalami serangan berat angkatan bersenjata Myanmar di kota-kota Maungdaw, Rathedaung dan Buthidaung setelah anggota kelompok pejuang Muslim Rohingya menyerang puluhan pasukan Polisi Penjaga Perbatasan (Border Guard Police-BGP) dan pangkalan militer Jumat pagi (25/8/2017), beberapa sumber mengatakan.

RohingyaBloger melaporkan sampai sekarang, sedikitnya 200 warga sipil diyakini tewas terbunuh oleh serangan brutal militer Myanmar dan BGP di tiga kota tersebut. Karena penembakan dan pembunuhan tanpa pandang bulu oleh angkatan bersenjata, banyak warga desa kehilangan tempat tinggalnya di wilayah tersebut.

Perusakan dan pembakaran rumah Rohingya oleh angkatan bersenjata Myanmar dibantu ekstremis Rakhine menjalar dan meluas. Di Kotapraja Rathedaung saja, 700 rumah Rohingya di desa Chein Khali dan 200 tempat penampungan di kamp pengungsi ‘Chein Hali’ telah sepenuhnya dibakar oleh pasukan gabungan militer, BGP dan ekstremis Rakhine sejak jam 7 Rabu pagi. Desa Zaydi Pyin yang telah benar-benar diblokade oleh ekstremis Rakhine yang didukung negara selama lebih dari tiga pekan sebagian dibakar namun semua penduduk desa terpaksa meninggalkan rumah mereka dengan menyerahkan properti mereka ke ekstrimis Rakhine.

Serangan Balasan Mujahidin ARSA Rohingya Tewaskan 12 Pasukan Myanmar

“Wilayah kita dalam kekacauan total sekarang. Mereka membakar rumah kita menggunakan peluncur api, menyita properti kita dan memaksa kita untuk meninggalkan rumah. Kita sepenuhnya telah menjadi pengungsi. Kita tidak tahu kemana kita harus pergi sekarang,” kata seorang warga desa dari Zaydi Pyin melalui sambungan telepon.

Ribuan pengungsi Rohingya di Rathedaung sekarang bersembunyi di hutan terdekat.

Desa Rohingya lainnya yang menderita serangan militer berat adalah:

1) Kwan Thi Pin, 2) Mi Htaik Chaung Wa, 3) Nat Chaung, 4) Taman Thar, 5) Zee Pin Chaung, 6) Lon Doong, 7) Zin Paing Nya, 8) Ye Myet Taung, 9) Kyi Kan Pyin, 10) Tharay Kun Baung, 11) Pa Nyaung Pin Gyi, 12) Padin, 13) Alay Than Kyaw, 14) Thawan Chaung, 15) Thinbaw Kwe, 16) Udaung, 17) Myint Hlut, 18) Taung Bazaar, 19 ) Phaung Daw Pyin dan banyak desa lainnya juga mendapat serangan.

Pada Hari Rabu lebih dari 50.000 warga sipil dilaporkan telah mengungsi di tiga kotapraja.

Kelompok perlawanan Rohingya, Mujahidin Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), mengklaim bahwa mereka harus melakukan tindakan defensif terhadap militer Myanmar dan pasukan keamanan karena kekejaman (oleh militer dan pasukan keamanan) terhadap warga muslim Rohingya sudah tidak dapat ditolerir, koresponden mengatakan.

Sumber: RohingyaBloger.com

Serangan Balasan Mujahidin ARSA Rohingya Tewaskan 12 Pasukan Myanmar

RAKHINE (Jurnalislam.com) – Mujahidin Arakan Rohing Salvation Army (ARSA) menyerang pos-pos penjagaan perbatasan di sepanjang perbatasan wilayah barat yang menghubungkan Myanmar dan Bangladesh. Sedikitnya 12 orang tewas termasuk lima polisi Myanmar.

Dalam serangan yang dilakukan terpisah pada hari Jum’at 25 Agustus 2017, ARSA menargetkan 24 kantor polisi dan pos terdepan di distrik Maungdaw di bagian utara negara bagian Rakhine.

Kantor Penasihat Negara Bagian Aung San Suu Kyi mengonfirmasi bahwa lima petugas polisi tewas dalam serangan tersebut, dan dua senjata dicuri oleh mujahidin Rohingya.

ARSA juga dilaporkan masuk dan menyerang dalam batalyon Light Infantry 552 sekitar pukul 03:00 dini hari.

Baca juga: Mantan Ketua PBB: Myanmar Harus Cabut Pembatasan Gerak Muslim Rohingya

Arakan Rohingya Salvation Army atau yang disingkat ARSA adalah sebuah kelompok mujahidin yang bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan sejumlah aparat keamanan pada bulan Oktober 2016 lalu.

“Kami telah melakukan tindakan defensif terhadap pasukan perusak Burma di lebih dari 25 tempat yang berbeda di seluruh wilayah,” ujar ARSA dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan online di kalangan aktivis Rohingya.

Baca juga: 

ARSA mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan tanggapan atas penggerebekan, pembunuhan dan penjarahan oleh tentara Myanmar yang ditempatkan di wilayah Rakhine setelah kematian tujuh penduduk desa awal bulan Agustus ini.

“Ketika kekejaman mereka terhadap orang-orang yang tidak bersalah telah melampaui batas toleransi kita dan mereka akan melancarkan serangan terhadap kita, kita akhirnya harus melangkah untuk membela orang-orang yang tidak berdaya dan diri kita sendiri,” tegas ARSA.

Baca juga: Puluhan Pasukan Bentukan AS Terbunuh dan Terluka, 9 APC Hancur dalam Serangan di Helmand

Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Komisi Penasehat yang dipimpin oleh mantan kepala PBB Kofi Annan mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan pembatasan terhadap Muslim Rohingya di daerah tersebut.

Setelah penyelidikan sepanjang tahun mengenai situasi di Rakhine, komisi tersebut mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan kekerasan, menjaga perdamaian, menumbuhkan rekonsiliasi dan menawarkan harapan kepada penduduk yang tertekan.

BAZNAS Award 2017 Inspirasi Wujudkan Kebangkitan Zakat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memberikan penghargaan kepada sejumlah BAZNAS, Lembaga Amil Zakat (LAZ) provinsi, kabupaten/kota serta Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pemerintah, BUMN dan swasta serta perusahaan yang konsisten menunaikan kewajiban dalam membayar Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Tak hanya itu, BAZNAS juga menganugerahi penghargaan kepada kepala daerah, sejumlah media dan penulis buku yang konsisten mendukung program-program Kebangkitan Zakat.

Selain pemberian penghargaan BAZNAS Award, BAZNAS juga memberikan hadiah kepada sejumlah pemenang aneka lomba, seperti Lomba Pidato Zakat, pembuatan Game Board Zakat, Jingle dan Mars serta Vlogging.

Pemberian penghargaan dilakukan pada malam puncak Penganugerahan BAZNAS Award 2017 yang digelar di Aula HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (25/8).

Turut hadir dalam malam penganugerahan BAZNAS Award, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, sejumlah duta besar negara asing, gubernur, walikota dan bupati.

Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengatakan BAZNAS Awards ini merupakan kegiatan yang kali pertama diselenggarakan dan merupakan rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT RI ke 72 bertajuk Zakat Untuk Indonesia.

“Saya berharap kegiatan berskala nasional ini memberi dampak positif untuk terus menginspirasi dan mendukung program kebangkitan zakat di Indonesia dan bahkan dunia,” ujarnya.

Menurut mantan Mendiknas ini, tujuan digelarnya Festival Zakat dan BAZNAS Award ini selain untuk mempererat tali silaturrahim antara lembaga pemerintah dan non pemerintah, juga untuk meningkatkan semangat juang dalam meraih prestasi BAZNAS sesusai visi dan misi BAZNAS.

“Selain itu juga untuk memupuk semangat kebangsaan antar generasi untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global,” ungkapnya.

Sementara menurut Ketua Panitia Festival Zakat dan BAZNAS Award 2017 Jaja Jaelani, dalam puncak acara malam penganugerahan BAZNAS Award 2017 akan diumumkan para pemenang perlombaan, baik pemenang BAZNAS Award maupun aneka perlombaan seperti pemenang Lomba Board Game Zakat, Lomba Pidato Zakat, Lomba Jingle dan Mars Zakat serta Lomba Vlogging.

Selain mendapat uang pembinaan, masing-masing pemenang akan menerima sebuah tropi dan piagam penghargaan.

“Pelaksanaan Festival Zakat dan BAZNAS Award ini berlangsung sukses dan saya merasa gembira dan bangga karena penganugerahan BAZNAS Awards ini merupakan salah satu program untuk terus mendukung mewujudkan kebangkitan zakat,” tutup Jaja Jaelani yang juga Sekretaris BAZNAS.

Dalam malam penganugerahan BAZNAS Award akan dimeriahkan pertunjukan para pergelaran seni budaya reliji nusantara, seperti marawis, angklung serta Mars dan Jingle Zakat.

Siaran Pers