Rupiah Melemah, Ekonom : Gagal Bayar Utang Swasta Sebabkan PHK Massal

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa per September 2018 turun 2,6% ke level US$ 114,8 miliar.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, penurunan cadangan devisa tersebut terbilang tipis. Hal ini dilakukan untuk menyiapkan shock besar di akhir 2018.

Menurut dia, apabila cadangan devisa dihemat untuk intervensi rupiah artinya rupiah berpotensi melemah. Hingga saat ini (5/10) nilai tukar rupiah ada di posisi Rp 15.182 per dollar Amerika Serikat (AS).

Sedangkan sampai akhir tahun cadangan devisa diperkirakan akan kembali turun ke level US$ 110 miliar. 

Dengan kondisi ini, menurut analisis Bhima, rupiah juga akan terus mengalami tekanan hingga akhir tahun. Meskipun tetap ada tekanan global. Bhima memprediksi rupiah capai level Rp 15.200-15.600 per dollar AS pada akhir tahun.

“Ditambah dengan hantaman dari dollar, pelemahan rupiah berimbas pada gagalnya bayar utang swasta. Swasta akan tunda ekspansi dan kalau terjepit bisa sebabkan PHK massal,” ungkap Bhima lansir Kontan.co.id

Bhima melihat pemerintah belum banyak mengeluarkan cadangan devisa untuk kebutuhan stabilitas rupiah. Penggerusan cadangan devisa masih difokuskan pemerintah untuk membayar utang rutin. 

sumber: kontan

Analis Prediksi Rupiah Melemah hingga Rp 15.500 Per Dolar

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Analis Panin Sekuritas William Hartanto memprediksi kurs rupiah  masih akan melemah hari ini. William memprediksi rupiah akan bergerak di kisaran Rp 15.000 – Rp 15.550 per dolar Amerika Serikat.

“Setelah data ekonomi AS semakin membaik dan pernyataan hawkish Powell, maka dollar AS akan semakin menguat,” kata William saat dihubungi, Jumat, 5 Oktober 2018 lansir Tempo.co.

Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 15.133 pada 4 Oktober 2018. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 45 poin dari nilai sebelumnya, yaitu Rp 15.088 pada 3 Oktober 2018. Sedangkan pada 4 Oktober 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 15.209 dan kurs beli Rp 15.057.

Kemarin pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar 75 poin menjadi Rp 15.139 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 15.064 per dolar AS.

“Dolar AS bergerak menguat terhadap beberapa mata uang kuat dunia, termasuk rupiah seiring data tenaga kerja di Amerika Serikat yang naik,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail di Jakarta, Kamis, 4 Oktober 2018.

Mikail mengemukakan penyerapan tenaga kerja di sektor swasta Amerika Serikat naik menjadi 230 ribu pekerja pada September, lebih tinggi dibandingkan Agustus yang sebanyak 168 ribu. “Angka itu juga lebih tinggi dari ekspektasi ekonom sebesar 185 ribu. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari lalu,” katanya lansir Tempo.co.

 

Aksi “Great Return March” Jumat ke-28, 2 Orang Syahid

GAZA (Jurnalislam.com) – Aksi “Great Return March” (Masirah Al-Audah Al-Kubra) yang dilakukan oleh rakyat Palestina di Jalur Gaza, Jumat (6/10/2018) ini memasuki aksi yang ke-28.

Aksi damai yang menuntut dihentikannya penjajahan dan blokade terhadap warga Palestina di Gaza oleh Zionis Yahudi kali memakan korban dua orang demonstran gugur sebagai syuhada.

Baca juga:  Bocah Palestina Meninggal Dihantam Tabung Gas Israel di Kepala

Kementerian Kesehatan Palestina merilis, korban meninggal akibat tembakan sniper Zionis itu adalah Faris Al-Sherawi (12) dan Mahmood Abu Saman (24). Keduanya tertembak di Timur kota Gaza.

Faris El-Serawi, wafat tertembak peluru penjajah

Selain itu, sebanyak 376 peserta aksi terluka dan 126 diantaranya mengalami luka yang cukup serius, dan lima orang kritis.

Dari jumlah korban yang terluka, 10 adalah perempuan, 30 orang anak-anak.

Selain menembak peserta aksi, peluru tentara Zionis Yahudi juga menyasar jurnalis yang meliput. Satu orang wartawan foto bernama Mohammad Al-Mishri dan seorang reporter perempuan, Dooa Zorob, terluka akibat serangan tersebut.

Dooa Zorob, wartawati yang tertembak peluru tentara penjajah

 

Mohammad Al-Mashri, juru foto, terluka di kepala terkena tembakan gas

Wafa Al-Audani, wartawan lokal yang tinggal di Gaza melaporkan bahwa aksi ini akan terus dilakukan, baik dalam bentuk protes turun ke jalan, maupun aksi kampanye di media sosial.

“Kami mengajak seluruh dunia untuk turut mengampanyekan tagar #GreatReturnMarch dan #GazaSiegeCrime sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan Zionis,” tulisnya dalam rilis yang dikirimkan ke INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi oleh Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Reporter: AW/INA

Yanmas Ansharusyariah Galang Dana di Semarang

SEMARANG (Jurnalislam) – Pelayanan Masyarakat (YANMAS) Ansharusy Syariah Semarang bersama Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-DAN) Jateng menggelar aksi penggalangan dana untuk Sulawesi Tengah di Simpang Lima Semarang, Jum’at siang (5/10/2018).

“Ya ini untuk membantu meringankan beban masyarakat yang menjadi korban gempa dan tsunami di Palu & Donggala, karena mereka masih memerlukan bantuan logistik yang banyak,” ucap korlap aksi Marjuki kepada Jurnalislam.com

Aksi tersebut dilakukan setelah sholat Jum’at di Masjid Baiturrahman Simpang Lima, dengan membentangkan spanduk ajakan untuk donasi dan di isi dengan tausiah oleh beberapa ustadz.

“Ini adalah bencana alam yang menimpa tidak hanya umat Islam, banyak juga umat non Islam, sebagai kepedulian kita kepada sesama mari sisihkan sedikit harta kita untuk meringankan beban mereka,” ajak Ustadz Agus Triyanto dari Yayasan Salafush Sholih saat memberikan tausiah.

Sementara itu Amir Jama’ah Ansharusy Syariah Semarang, Ustadz Danang Setyadi menyampaikan bahwa adanya penjarahan diakibatkan karena kurang cepatnya masyarakat untuk membantu mereka.

“Bisa jadi adanya penjarahan yang dilakukan oleh korban gempa dikarenakan kurang cepatnya kita membantu mereka, sehingga mereka melakukan penjarahan dimana-mana,” ucapnya.

Dari penggalangan dana yang dilakukan sekitar satu setengah jam itu terkumpul dana sebesar 3.785.200 yang selanjutnya akan disalurkan kepalu melalui YANMAS.

 

Dijaga Ketat TNI, Pasar Masomba Palu Mulai Beroperasi

PALU (Jurnalislam.com) – Dengan pengawalan ketat aparat TNI bersenjata lengkap, pasar Masomba hari ini, Jumat (5/10/2018) sudah mulai beroperasi. Penjagaan dilakukan untuk menghindari penjarahan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Di pasar yang terletak di Jalan Tanjung Manimbaya, Tatura Utara, Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah ini sudah menjual berbagai macam kebutuhan pokok, seperti beras, telur, minyak, bawang merah, bawang putih, buah-buahan, bahkan sayuran.

Meski demikian, kemungkinan penjualan bahan-bahan pokok ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sebab para pedagang ini hanya akan menghabiskan stok yang mereka miliki saja, sebab untuk menambah stok saat ini mereka kesulitan dari segi akses maupun kendaraan.

Baca juga : TNI Kerahkan 10 Pesawat Hercules untuk Sulteng

“Sekarang mau habiskan saja dulu stok yang ada,” kata Nasrun Woko, salah seorang pedagang sembako di Pasar Masomba, Jumat ( 5/10/18).

Meski demikian pria yang disapa pa Haji ini memilih tak menaikan harga, meski stok beras terbilang kurang.

“Kita tidak menaikan harga, soalnya kita ini kan sekarang sama – sama susah pak,” pungkasnya saat ditanya soal harga penjualan.

Reporter: Saifal | Islamic News Agency | JITU

Unik, Komunitas Kreatif Anak Muda Solo Galang Dana Peduli Palu dengan Atraksi Akrobatik

SOLO (Jurnalislam.com) – Ada yang menarik dari aksi peduli gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah kali ini. Sekelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam komunitas Sparta Run melakukan atraksi akrobatik selama 4 jam di Perempatan Ngarsopuro, Solo pada Rabu (3/10/2018).

“Sesaat lampu merah menyala, kami melakukan gerakan Parkour dan Freerunning akrobatik untuk menghibur para pengendara yang menunggu bergantinya lampu merah,” kata Ketua Sparta Run, Rezza di sela-sela aksi.

“Sambil menggalang dana tentunya,” tambahnya.

Sekitar 4 jam di waktu-waktu lampu merah, kata dia, kami berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp. 1.423.100,- yang kemudian akan disalurkan melalui Sahabat Al-Aqsa untuk diteruskan kepada korban gempa Palu dan sekitarnya.

Selain itu, ia bersama komunitasnya akan berusaha mengajak pelbagai komunitas untuk bergerak bersama melakukan aksi bakti sosial ini. Terutama kalangan anak muda yang dinilainya mempunyai semangat membantu yang sangat baik.

Lebih dari itu, ia berharap sejumlah aksi bakti sosial yang dilakukan oleh banyak elemen di Indonesia, termasuk komunitasnya tersebut dapat meringankan beban warga terdampak.

“Semoga dana yang kita kumpulkan berkah dan bisa membantu meringankan beban saudara-saudara yang terkena musibah, tetap semangat dan tabah buat saudara-saudara yang terkena bencana,” pungkasnya.

Reporter: Jumi

Sejumlah Elemen Soloraya Gelar Aksi Peduli Gempa dan Tsunami Palu

SOLO (Jurnalislam.com) – Semangat membantu korban bencana gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya terus dilakukan, seperti sejumlah elemen Soloraya di sejumlah titik keramain Surakarta pada Kamis (4/9/2018).

Aksi bakti sosial berupa penggalangan dana tersebut dilakukan sejak sore hingga malam hari. Selain itu, elemen yang terdiri dari Waroeng Murah, Komunitas Pendaki Muslim, Suami Merdeka, Relawan Al-Fath, Semut Ibrahim, Komunitas Nahi Mungkar Soloraya, dan Bang Japar Solo ini menjajakan nasi murah seharga 2.000 rupiah dengan berbagai macam lauk, dan hasilnya akan didonasikan untuk korban bencana Palu.

“Sementara baru ini yang bisa kita lakukan untuk kepedulian saudara kita di Palu, semoga ini bisa sedikit meringankan beban mereka,” ungkap korlap aksi, Mas Nur kepada Jurnalislam di sela-sela kegiatan.

Aksi penggalangan dana

Dalam aksi penggalangan dana itu, terkumpul donasi sebesar 2,2 juta rupiah. Rencananya, dana tersebut akan dikirimkan langsung ke korban bencana di Palu melalui beberapa relawan yang sudah berada disana, setelah digabungkan dari hasil penggalangan dana beberapa hari kedepan.

Sebagaimana diketahui, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tercatat hingga Rabu (3/10/2018) siang, jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.407 jiwa, ribuan korban luka berat dan ringan, korban hilang mencapai 113 orang, korban tertimbun 152 orang, dan sebanyak 70.821 orang mengungsi.

White Helmets Kini Jadi Target Pasukan Assad dan Rusia (wawancara khusus bag. 5 tamat)

ANKARA (Jurnalislam.com) – Raed al-Saleh, kepala White Helmets (Pertahanan Sipil Suriah), mengatakan kepada Anadolu Agency, bahwa kelompok mereka telah ditargetkan dengan tuduhan palsu oleh Rusia dan negara-negara lain karena mengumpulkan bukti tangan pertama atas kekejaman yang dilakukan oleh rezim Assad dan sekutu-sekutunya.

The White Helmets telah berjuang melawan dua pertarungan terpisah pada saat yang bersamaan. Ketika mencoba menyelamatkan warga sipil dari pemboman, mereka juga menghadapi bahaya karena mereka berubah menjadi “target yang sah dan terbuka” oleh rezim Syiah Bashar al-Assad dan Rusia.

Di sisi lain, mereka juga melawan kampanye kotor dan pencemaran nama baik. Al-Saleh dari White Helmets, atau Pertahanan Sipil Suriah, berbicara kepada Anadolu Agency tentang upaya mereka untuk kemanusiaan.

Baca juga: White Helmets Kini Jadi Target Pasukan Assad dan Rusia (wawancara khusus bag. 4)

Melihat ke masa depan

Tanya: Apa rencana Anda untuk masa depan Suriah?

Al-Saleh: Kami selalu punya rencana. Kami terus memperbarui rencana ini. Tiga tahun lalu, tujuan kami adalah menjadi kelompok nasional yang melayani di seluruh Suriah. Ini masih merupakan tujuan utama kami.

Namun, kami melihat bahwa situasi politik di Suriah telah berubah. Jujur, sulit untuk memprediksi kemana arah Suriah. Tujuan utama kami adalah mendirikan institusi pertahanan sipil Suriah yang mampu melayani warga Suriah.

Kami memiliki organisasi kecil yang serupa sebelum 2011. Organisasi ini berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan. Maksud saya, organisasi itu berafiliasi dengan tentara. Sedangkan tentara dikenal sebagai pihak yang tidak melayani warga sipil Suriah. Sekarang, rencana kami adalah untuk mendukung upaya yang bertujuan untuk stabilitas di Idlib dan Suriah utara.

Dengan demikian, terlepas dari semua yang terjadi, kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa ada masyarakat di sana yang memiliki potensi untuk mengangkat kawasan, mengatur wilayahnya sendiri, dan menjadi alternatif bagi rezim pembunuh (Assad) di Damaskus.

‘Turki harus memainkan peran yang lebih besar ’

T: Sebagai advokat hak asasi manusia dan kepala White Helmets yang peduli dengan kehidupan sipil, apa pandangan Anda tentang kesepakatan tentang Idlib [17 September]?

Al-Saleh: Di mata saya, perjanjian antara Turki dan Rusia adalah kemenangan besar bagi diplomasi Turki. Dalam hal itu, dengan upaya seriusnya, Turki berhasil melindungi kehidupan sipil di Idlib. Itu pencapaian yang nyata. Ini benar-benar sukses.

Menyelamatkan jutaan orang dari relokasi, serangan, dan terbunuh adalah sukses besar. Kami berharap Turki memainkan peran yang lebih besar. Kami percaya bahwa dengan menekan Rusia, Turki akan memainkan peran besar dalam menyelamatkan warga Suriah di seluruh negeri, bukan hanya Suriah utara.

Saya datang ke Turki pada tahun 2011. Semua yang saya lihat di Turki adalah rasa hormat, cinta, dan toleransi. Saya melihat bahwa kami adalah anak-anak dari negara-negara persaudaraan.

Agar adil, dulu ada persepsi yang salah tentang Turki. Turki dianggap sebagai “tiang Kekaisaran Ottoman.” Tetapi ketika saya datang ke sini, situasinya benar-benar berbeda. Setelah datang ke Turki, saya membaca banyak tentang sejarah Turki. Saya belajar bahwa ratusan ribu orang Suriah dan Turki mengorbankan hidup mereka untuk membela Canakkale [pertempuran 1915-1916] atau dalam pertempuran yang berbeda.

Kembali ke peran Turki di Suriah, Turki harus memainkan peran lebih besar untuk melindungi rakyat Suriah. Itu karena kami berada di ambang krisis kemanusiaan di Idlib. Kami berhasil melewatinya. Sekarang, kita harus memikirkan mereka yang dipaksa meninggalkan desa mereka. Kita perlu melindungi mereka yang datang dari Homs dan Ghouta.

Kami percaya dan yakin bahwa Turki akan melindungi warga Suriah yang berada di Turki maupun di Suriah. Selain warga Suriah di tanahnya, Turki melindungi 4 juta orang lainnya di Suriah utara.

T: Sebagai organisasi sipil, apakah Anda siap menghadapi serangan rezim Assad dan kelompok teror asing yang didukung Iran yang akan dilakukan di Idlib?

Al-Saleh: Sebagai Pertahanan Sipil, kami adalah struktur yang didirikan di tengah lingkungan di masa perang. Jadi kami siap menghadapi serangan kapan saja. Namun, layanan yang kami berikan selama serangan adalah tentang mengurangi kerusakan. Kami tidak dapat mencegah serangan.

Jadi sementara Anda berencana untuk mengurangi kerusakan dan bekerja untuk itu, orang lain mencegah munculnya kerusakan semacam itu (mencegah serangan), dan itu membawa kebahagiaan kepada Anda. Tidak ada yang akan mati karena serangan. Rumah tidak akan runtuh. Sekolah-sekolah tidak akan runtuh dan sebagainya. Di mata kami, ini adalah sikap yang hebat. Oleh karena itu, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan atas upaya mereka untuk melindungi warga sipil di Idlib.

Harapan untuk rakyat

T: Bagaimana rakyat Suriah melihat Anda?

Al-Saleh: Tim Pertahanan Sipil menciptakan secercah harapan bagi rakyat Suriah. Pada tahun 2015 kami melakukan polling, dan bertanya: “Siapa yang akan membantu Anda jika Anda membutuhkan bantuan?” 80 persen orang mengatakan teman atau tetangga. Pada tahun 2017, kami mengajukan pertanyaan yang sama kepada sekelompok orang lain. Kali ini, 85 persen orang mengatakan “Pertahanan Sipil.”

Bagi kami, ini adalah pencapaian luar biasa. Saya mengatakan ini di tempat lain sebelumnya: Kesuksesan terbesar kami bukanlah bahwa kami menyelamatkan 115.000 jiwa sipil tetapi fakta bahwa kami menanam benih harapan ke dalam hati dan pikiran dari sebuah bangsa yang akan kehilangan harapannya.

T: Dapatkah Anda memberikan layanan kepada minoritas di Idlib?

Al-Saleh: Sebagai Pertahanan Sipil, kami menyediakan semua orang di Suriah dengan layanan. Kami menyediakan layanan tanpa memandang etnis atau afiliasi politik atau agama orang. Tidak ada anggota Pertahanan Sipil akan bertanya kepada seseorang di bawah reruntuhan jika mereka Muslim atau Kristen. Ini tidak mungkin. Itu juga tidak rasional.

Misalnya, kami melakukan pemulihan dan perbaikan di semua wilayah. Sekitar satu setengah bulan yang lalu, kami memulihkan sebuah gereja di pedesaan Jisr al-Shugur, kami membersihkannya dan menghidupkannya kembali. Orang-orang Kristen di wilayah itu telah mulai mempraktekkan agama mereka dengan bebas.

T: Beberapa kelompok oposisi di Suriah menerima pejuang asing non-Suriah. Mengapa Anda tidak menerima sukarelawan pertahanan sipil asing ke dalam White Helmets?

Al-Saleh: Kami tidak tahu bagaimana kelompok militer menerima orang asing. Bagi kami, kami menerima dukungan keuangan dari orang asing, tetapi tidak dapat menerima mereka datang ke Suriah dan bekerja di sini. Juga, karena ini bertentangan dengan hukum pertahanan sipil internasional. Maksud saya, tidak akan menjadi masalah bagi kelompok internasional untuk membantu dan melatih kami dengan izin internasional. Tapi datang ke Suriah sebagai individu dan bergabung dengan Pertahanan Sipil di Suriah melanggar hukum pertahanan sipil internasional dan aturan internal kami.

T: Apa pesan terakhir Anda?

Al-Saleh: Sebagai kesimpulan, saya ingin mengirim pesan kepada warga kami di Suriah dan Turki. Ada banyak warga Suriah di Turki. Selain itu, ada banyak saudara Turki yang melayani di Suriah. Saya ingin saudara-saudara Suriah saya yang tinggal di Turki untuk mengikuti aturan dan tradisi Turki. Kita perlu menunjukkan sisi terang Suriah di sana. Untuk saudara-saudara Turki kita, saya ingin mereka mengabaikan kampanye kebencian di media sosial yang bertujuan menanam benih kebencian di antara kita, kita ingin mereka peka terhadap masalah ini. Kita akan melewati hari-hari ini jika kita bergerak dengan alasan bukannya emosi. Kita semua bersaudara dan satu keluarga. Jangan lupa bahwa 150 tahun yang lalu kita berada di negara yang sama.

Kendaraan Lapis Baja AS Dihajar Bom Taliban, Sejumlah Pasukan Tewas

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sejumlah tentara AS tewas dalam serangan di Afghanistan pada hari Kamis (4/10/2018), kata NATO, mencatat anggota layanan Amerika ketujuh yang meninggal di negara yang dilanda perang tahun ini.

Prajurit itu ditugaskan untuk misi Resolute Support dari NATO, yang melatih dan membantu pasukan Afghanistan. Kematian tentara itu sedang dalam proses investigasi, kata NATO.

Jenderal Joseph Votel, yang mengepalai Komando Sentral militer AS, mengatakan laporan awal menunjukkan kematian itu sebagai akibat dari “aksi tempur”, tetapi tidak ada informasi tambahan yang segera tersedia. “Hati dan pikiran bersama dengan keluarga prajurit dan unit asal dia,” Votel mengatakan pada reporter Pentagon, lansir AFP.

Baca juga: Taliban Kembali Serang Pangkalan Militer, Puluhan Pasukan Bentukan As Tewas

Juga di hari Kamis, Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengeluarkan pernyataan bertanggung jawab telah meledakkan kendaraan lapis baja AS di distrik Garmser di provinsi Helmand di Afghanistan selatan, menewaskan tentara di dalamnya.

Saat ini, ada sekitar 14.000 pasukan AS di Afghanistan, dan merupakan komponen utama misi NATO di sana untuk mendukung dan melatih pasukan lokal. Lebih dari 2.000 tentara Amerika telah tewas di Afghanistan sejak dimulainya perang pada tahun 2001.

Jumlah korban memang jatuh secara dramatis sejak penarikan pasukan tempur NATO pimpinan AS pada akhir 2014, namun beban mematikan telah bergeser ke pasukan Afghanistan bentukan AS.

Baca juga: 17 Tahun Perang Lawan Taliban Gak Kelar-kelar, Komando Pasukan AS dan NATO Diganti

Pemerintah Kabul tidak lagi melaporkan informasi jumlah korban tewas, tetapi Taliban diduga tekah membunuh ribuan tentara dan polisi Afghanistan bentukan AS setiap tahun. Votel mengakui jumlahnya meningkat.

“Pemahaman saya adalah jumlah itu meningkat,” katanya. “Ini adalah sesuatu yang kita sangat, sangat mem perhatikan,” Votel menambahkan, mencatat bahwa pasukan Afghanistan masih memakai strategi “mempertahankan diri” saat menggantikan mereka yang kalah dalam pertempuran.

Trump Perkenalkan Strategi Baru Kontraterorisme yang Jauh Lebih Luas

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Gedung Putih memperkenalkan strategi kontraterorisme baru pada hari Kamis (4/19/2018) yang menurut mereka “jauh lebih luas” daripada rencana mantan Presiden AS Barack Obama.

Strategi baru Presiden Donald Trump adalah yang pertama sejak Obama meluncurkan rencananya pada 2011.

Penasihat Keamanan Nasional John Bolton mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih, strategi baru tersebut mengakui “bahwa ada ideologi teroris yang kita hadapi, dan saya pikir sudah lama presiden berpandangan bahwa tanpa mengakui jika kita berada dalam perlawanan  ideologi, maka kita tidak bisa mengatasi ancaman teroris dengan benar,” lansir Anadolu Agency.

Baca juga: 58 Rakyatnya Tewas dalam Serangan di Konser Musik, Trump: Itu Kejahatan Murni Saja

Walaupun menegaskan retorika bahwa pemerintahan Obama bersikeras tidak membantu dalam perang melawan terorisme, strategi baru tersebut mencerminkan banyak aspek dari rencana Obama, dan juga dari Presiden George W. Bush.

“Gerakan teroris hari ini lebih cair dan kompleks dari sebelumnya,” kata laporan itu. “Meskipun kami telah berhasil menggagalkan serangan skala besar di tanah air sejak 2001, kami belum cukup mengurangi ancaman keseluruhan yang ditimbulkan teroris.”

Strategi tersebut berusaha untuk “membongkar” jaringan militan, dan “memutuskan” sumber kekuatan mereka sambil tetap memberikan tekanan untuk mencegah kemunculan mereka kembali.

Baca juga: Pelaku Pembantaian Massal di Gereja AS Seorang Kristen, Trump: Itu Gangguan Mental

Strategi baru ini juga berusaha memprioritaskan “kemampuan non-militer,” termasuk pencegahan perekrutan, dan upaya untuk mendorong kembali propaganda online.

“Ini termasuk meningkatkan keterampilan dan sumber daya masyarakat sipil dan mitra non-tradisional untuk mengurangi upaya teroris dalam meradikalisasi dan merekrut orang di Amerika Serikat,” katanya.

Baca juga: 17 Tahun Perang Lawan Taliban Gak Kelar-kelar, Komando Pasukan AS dan NATO Diganti

Penekanan laporan itu pada Iran merupakan cerminan dari Bolton, yang telah lama mengambil pendekatan hawkish ke Republik Iran dan terus melakukannya setelah mengambil alih pos Gedung Putih pada bulan April.

Saat berbicara kepada wartawan, dia juga menyebut Teheran sebagai “bank sentral internasional terorisme” setelah revolusi 1979, dan mengatakan dengan mendukung berbagai kelompok militan di wilayah itu “terus menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat dan kepentingan kita.”