Dilema Utang dan Ibu Kota Baru

Oleh Ainul Mizan*

(Jurnalislam.com)–Dalam sebuah rapat terbatas pada Senin, 29 April 2019, Presiden Jokowi telah memutuskan akan memindahkan ibu kota ke luar jawa (dw.com, 30 April 2019).

Daerah di luar jawa yang menjadi alternatif adalah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hal tersebut disampaikannya saat usai makan siang bersama karyawan PT KMK Global Sports I di Kelurahan Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Selasa (30/04/2019).

Kepala Bappenas sendiri secara serius menggarap keputusan pemindahan ibu kota tersebut.

Paling tidak menurutnya, ibu kota baru nanti membutuhkan luas lahan sekitar 40 ribu hektar dan menyerap dana sekitar Rp 466 trilyun.

Pengamat ekonomi INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, mewanti – wanti agar pembiayaan proyek ibu kota baru tidak membebani APBN maupun APBD, yang tentunya dengan neraca yang defisit akan rawan terjadinya utang.

Dengan rasio bunga utang 7 – 8 % dan tertinggi di Asia Pasifik, tentunya adanya utang baru yang semakin besar akan memperkecil ruang fiscal Indonesia.

Terkait keputusan untuk memindahkan ibu kota ini, tentunya akan menjadi langkah tidak bijaksana di tengah beban utang Indonesia yang sudah pada angka sekitar Rp 4.800 trilyun.

Sedangkan dalam pelunasannya menggunakan mekanisme gali lubang tutup lubang. Sektor pajak masih menjadi andalan untuk membayar cicilan utang sekaligus bunganya.

Sementara realisasi pajak di tahun 2017 mencapai Rp 1.151 trilyun atau hanya 89,7 % dari target APBN-P (BBC Indonesia, 12/03/2018).

Artinya penggenjotan penerimaan negara dari sektor pajak kembali akan semakin membebani rakyat.

Begitu juga, keputusan ibu kota baru menjadi tidak bermakna di tengah kondisi perpolitikan Indonesia yang belum stabil pasca pemilu 2019 ini.

Sedangkan untuk mengeksekusi ibu kota baru membutuhkan kebijakan politik.

Sebuah kebijakan politik yang tidak kejar tayang, mengingat penyiapan ibu kota baru menurut Kepala Bappenas, membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 tahun.

Artinya keputusan ibu kota baru itu baru bisa dieksekusi melalui pemerintahan baru yang akan terbentuk.

Dan sistem politik lima tahunan memang tidak didesain untuk bisa mengeksekusi kebijakan pemindahan ibu kota.

Indikatornya adalah wacana pemindahan ibu kota ini digulirkan semenjak jaman Soekarno. Walhasil di setiap rejim politik di Indonesia masih belum bisa mengeksekusi wacana pemindahan ibu kota.

Catatan Pemindahan Ibu Kota

Adalah sebuah keniscayaan adanya pemindahan ibu kota bagi sebuah negara dan sistem pemerintahan.

Sebagai contoh, Amerika Serikat pernah pindah ibu kota dari New York ke Washington DC.

Bahkan Kekhilafahan Islam pernah pindah ibu kota beberapa kali melebihi negara maju manapun di dunia.

Kota Madinah, Kufah, Baghdad, Damaskus dan Konstantinopel (menjadi Islambul, Turki) pernah menjadi ibu kota Khilafah Islam.

Uniknya walaupun beberapa kali pindah ibu kota, Kekhilafahan Islam tetap menjadi adidaya hingga sekitar 13 abad.

Berikut ini adalah beberapa yang mestinya diperhatikan dalam pembentukan ibu kota baru bagi sebuah negara dan pemerintahan.

Pertama, Landasan falsafah ideologi yang mendasari pembentukan ibu kota baru. Hal ini akan mempengaruhi eksistensi ibu kota baru tersebut dan urgensinya.

Jika landasan falsafah dari ibu kota baru tersebut adalah pragmatisme politik, tentunya akan melahirkan masalah baru, baik terkait dengan pembebasan tanah dan ranah sosial.

Di antara pragmatisme politik yang menjadi alasan adalah kondisi rawan banjir, kepadatan penduduk yang tidak merata maupun kepentingan politik praktis lainnya seperti kondisi politik yang memanas.

Dalam Islam, falsafah ibu kota baru adalah tanggung jawab negara untuk memakmurkan semua rakyatnya di setiap jengkal wilayahnya dan menjaga daerah perbatasan dengan musuh.

Kedua, Kebijakan ekonomi yang mensejahterakan semua. Ekonomi Islam menggariskan bahwa kepemilikan ekonomi itu terbagi dalam tiga ranah. Ada ranah kepemilikan individu, kepemilikan umum dan negara.

Sumber energi, tambang, hutan, lautan dan kekayaan alam yang dikandungnya merupakan kepemilikan umum yang dikelola negara demi kesejahteraan rakyat.

Sedangkan BUMN dan BUMD akan menjadi kepemilikan negara dan pemegang hak pengelolaan kepemilikan umum.

Dengan demikian akan tersedia sumber dana yang mencukupi dalam pembentukan ibu kota baru.

Walhasil pintu pengambilan utang luar negeri ditutup rapat – rapat, karena negara sadar bahwa utang luar negeri hanya akan menjadikan negara tidak mandiri dan tidak berdaya dalam politik internasional.

Ketiga, Adanya kebijakan pemerataan kemakmuran dan kemajuan di seluruh wilayah negara.

Pemerataan kemakmuran dan kemajuan dilakukan dengan mengambil dua lini kebijakan.

Yakni pembangunan didasarkan kepada kebutuhan bukan jumlah kekayaan yang dihasilkan dan proses pemerataan jumlah penduduk di setiap wilayahnya.

Pada aspek pembangunan daerah, daerah – daerah yang mempunyai kebutuhan yang besar akan dilakukan pembangunan dengan baik.

Dorongan Islam

Dengan demikian, keinginan daerah untuk otonomi bahkan referendum bisa dicegah. Tidak ada lagi kesenjangan ekonomi dan prasarana kehidupan antara daerah dan pusat.

Adapun pada proses pemerataan penduduk bisa dilakukan dengan adanya program transmigrasi yang berkesinambungan. Dengan pemerataan pembangunan di daerah tentunya akan menjadi daya dukung bagi pemerataan penduduk.

Bahkan Islam mendorong agar umat Islam menjaga daerah perbatasan,”mata yang tidak tidur karena menjaga perbatasan adalah mata yang tidak akan tersentuh api neraka.”

Dengan dorongan iman tidak hanya dorongan materi, akan menjadi energi kuat bagi akselerasi sebuah daerah yang memungkinkannya menjadi ibu kota baru bagi sebuah negara.

Demikianlah beberapa hal yang akan menjadikan pembentukan ibu kota baru bukanlah hanya sekedar impian. Tinggal persoalan keberanian politik untuk mengadopsinya.

*Penulis adalah seorang pengajar, tinggal di Malang

Salimah Laweyan Berbagi Ceria Ramadhan

SOLO (Jurnalislam.com)- Berbagai kegiatan digelar menjelang datangnya bulan Ramadhan, seperti yang dilakukan pengurus  Salimah Laweyan, Sabtu (4/5/2019).

Mereka menggelar bakti sosial berupa pembagian sembako gratis untuk pra dhuafa di sekitar kecamatan Laweyan.

 

Sebanyak 125 paket disiapkan dan untuk dhuafa yang berhak diberikan kupon atau girik.

Para penerima santunan ini tampak bergembira menerima paket sembako yang berisi beras, gula, teh, kecap, dan mie telur.

Dalam sambutannya, Ketua Salimah Surakarta Rianna Wati mengingatkan peserta tentang “Keutamaan Ramadhan dan amalan unggulan yang bisa dilakukan siapapun,” katanya

 

Sementara itu, Ketua Salimah cabang Laweyan Muthmainnah Wahab berharap kegiatan yang sudah dilakukan rutin sebelum Ramadhan ini bisa terlaksana dengan baik.

 

“Paket sembako yang diberikan merupakan sumbangan dari banyak pihak. Ada yang menyumbangkan dana, ada juga yang menyumbang barang seperti beras,” ungkapnya.

 

“Dengan kegiatan ini diharapkan para dhuafa dapat merasakan kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan. Marhaban ya Ramadhan,” tandas Muthmainnah.

Sambut Ramadhan, PIPEBI Solo Ajarkan Anak Berbagi

SOLO (jurnalislam.com)- Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) Cabang Solo turut meramaikan momen pra-ramadhan dengan Tarhib Ramadhan 1440 H, Sabtu (4/5/2019).

Kegiatan ini merupakan acara perdana dalam rangkaian Pesantren Kilat (Sanlat) yang akan digelar pekan pertama Ramadhan, tanggal 6-10 Mei 2019.

Acara Sanlat sendiri diinisiasi oleh para istri pegawai untuk Syiar Ramadhan di lingkungan keluarga besar Bank Indonesia Cabang Solo.

Sebelum rombongan tarhib seluruh peserta berkumpul dan dilakukan seremoni pemberangkatan oleh ketua PIPEBI Solo, Ira Bandoe.

Dalam sambutannya Ira mengajak seluruh peserta agar menyambut Ramadhan dengan ceria.

Peserta tarhib bertolak dari Perumahan BI menuju jalan Adi Sucipto di sekitar perumahan dengan membawa berbagai poster ajakan menyambut Ramadhan.

Anak-anak yang mengenakan mahkota lucu dan membawa balon warna warni berjalan dengan tertib. Mereka juga membagikan makanan kecil untuk orang-orang di sekitar lokasi.

Dengan acara ini panitia berharap Syiar Ramadhan lebih dirasakan khususnya di Perumahan BI Solo. Cuaca yang panas tidak menghalangi anak-anak untuk berbagi dan mensyiarkan rukun Islam ketiga ini.

Dengan Berzakat dan Sedekah, Raih Pahala Terbaik di Bulan Ramadhan

JAKATA(Jurnalislam.com) — Ramadan 1440 H tinggal menghitung hari. Beragam persiapan dan agenda kegiatan, termasuk ibadah dan amal kebaikan  menjadi satu keniscayaan bagi segenap umat Islam, termasuk di dalamnya menunaikan rukun Islam, membayar zakat.

Banyak lembaga zakat pada bulan ini kian genjar mengajak masyarakat untuk berzakat dan bersedekah, salah satunya Baitul Mal Hidayatullah (BMH).

Laznas BMH dengan program utama dakwah dan pendidikan selama ini terus berkiprah dan bergerak, terutama di wilayah pedalaman, kepulauan, dan perbatasan tidak lain dan tidak bukan karena zakat kaum Muslimin.

“Salah satu program yang mendapat perhatian tinggi kaum muslimin dan korporasi adalah dai tangguh. Program yang secara langsung menyentuh aktivitas inti para dai di pedalaman, perbatasan, kepulauan dan daerah terpencil serta pinggiran untuk di kota-kota,” kata Direktur Utama BMH, Marwan Mujahidin saat konferensi pers di kawasan Pasar Minggu, Jumat (03/05/2019).

Dia menjelaskan, dana zakat, infak, dan sedekah telah berkontribusi bagi lahirnya energi perubahan masyarakat Indonesia yang boleh dibilang belum menikmati pemanfaatan perkembangan teknologi secara memadai.

“Lebih-lebih dai tangguh yang bertugas membina suku terasing, sudah barang tentu, bukan lagi tidak ada fasilitas, keluar masuk hutan adalah pekerjaan hariannya,” ujarnya.

Pada Ramadhan 1440 H, Laznas BMH mengusung tema Ramadhan Raih Pahala Terbaik.

“Kami mengajak kepada seluruh kaum Muslimin untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan-kebaikan yang tidak saja mendatangkan pahala bagi kehidupan sendiri, namun juga mendatangkan maslahat besar di tengah-tengah kehidupan umat. Ramadhan Raih Pahala Terbaik,” papar Marwan Mujahidin.

Digelar Pasca Ijtima Ulama, Ini Delapan Rekomendasi Helatan Multaqo Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Multaqo ulama, habaib, dan cendekiawan Muslim, yang digelar di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, pada Jumat malam, 3 April 2019.

Acara menghasilkan delapan rekomendasi. Pertama, menegaskan kembali kesepakatan pendiri bangsa dan alim ulama, yakni bentuk negara Indonesia adalah NKRI.

” NKRI adalah bentuk negara yang sesuai dengan Islam yang rahmatan lil alamain di Indonesia, Pancasila dasar negara dan falsafah bangsa,” ujar Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Manarul Hidayat.

Kedua, memasuki bulan suci Ramadan, umat Islam hendaknya bersama-sama meningkatkan ukhuwah islamiyah.

Juga menjalankan silaturahmi, menghindari fitnah dan perpecahan, serta saling memaafkan.

“Tiga, kami menghimbau umat Islam untuk bersama-sama mewujudkan stabilitas keamanan dan situasi kondusif, mengedepankan persamaan persamaan persaudaraan satu sama lain dari pada menonjolkan perbedaan,” ucap dia.

Keempat, umat Islam diajak untuk menghindari dan menangkal segala bentuk provokasi.

Apalagi  kekerasan dari pihak yang tidak bertanggung jawab selama dan setelah bulan Ramadan.

Hidayat melanjutkan, pesan kelima yakni mengajak umat Islam untuk senantiasa mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

“Enam, kami mengajak umat Islam untuk tidak terpancing dalam melakukan aksi inkonsistitusional, baik langsung ataupun tidak. Itu bertentangan dengan ajaran Islam,” kata dia.

Pesan multaqo yang ketujuh yakni mengajak masyarakat untuk saling berlomba dalam kebaikan guna meningkatkan ekonomi, sehingga dapat ikut terlibat dalam proses pengentasan masalah ekonomi.

“Delapan, kegiatan multaqo ini akan dilakukan terus menerus dalam rangka mengawal implementasi kesepakatan yang dibuat hari ini,” ujar Hidayat.

Ramadhan, Bulan Jihad

Oleh: M Rizal Fadillah

(Jurnalislam.com)–Ramadhan adalah bulan sucinya umat Islam. Melaksanakan ibadah “magdhah” untuk shaum.

Bulan beribadah dan mendekat kepada Allah. Hari-hari untuk beramal sholeh karena pahala yang dilipat gandakan.

Bulan ketika Allah buka pintu ampunan selebar-lebarnya pada hamba yang banyak melakukan dosa dan kesalahan. Luar biasa istimewa bulan barokah ini.

Meski fokus ibadah baik shaum maupun ibadah ikutannya seperti shalat tarawih, tadarus Al Qur’an, atau memperbanyak shadaqah, bulan Ramadhan adalah bulan da’wah dan jihad.

Bulan perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan serta menumbangkan kezaliman.

Keliru menafsirkan bahwa karena bulan Ramadhan maka umat Islam akan sabar dalam bentuk tak boleh marah, nerima keadaan, diejek, ditampar, dianiaya pasrah saja. Tak ada perlawanan. Sabar.

Justru umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlawanan, perjuangan, dan kemenangan. Agama mengajarkan dalam konteks substansi ajaran maupun kesejarahan.

Sukses perang Badar, penaklukan kota Makkah, perang Qadisiyah mengalahkan Persia, menghancurkan Romawi di Tabuk, Sirakusa, maupun Manzikert, penaklukan Andalusia.

Kekalahan Tartar Mongol oleh Sultan Qurtuz, kemenangan Shalahudin atas pasukan salib Jerusalem hingga sukses Mesir mengalahkan Israel terjadi di bulan Ramadhan. Kemerdekaan negara Indonesia juga terjadi di bulan suci ini. Bulan Ramadhan adalah bulan jihad.

Rencana pengumuman hasil Pilpres dan Pileg pada 22 Mei yang bertepatan dengan 17 Ramadhan menjadi tolok ukur. Apakah KPU bekerja jujur dan adil atau masuk dalam pola curang yang tersistematisasi.

Bila nekad dan merekayasa kemenangan mengikuti “order” maka KPU berarti telah “disorder” dan siap melawan perlawanan umat dan rakyat.

Dengan alasan umat sedang shaum, maka dianggap akan sabar menerima begitu saja keputusan.

Bulan Perjuangan

Nampaknya asumsi demikian akan keliru. Umat menyadari status bulan Ramadhan sebagai bulan perlawanan dan perjuangan. Justru kemungkaran akan segera ditumbangkan. Spiritualitas umat bereskalasi menguat.

Kecurangan yang “terbiarkan” pada Pemilu 2014 tidak akan terulang saat ini. Ada suasana dan spirit yang jauh berbeda. Yakin bahwa pemenang Pilpres adalah Prabowo. Jokowi dan kroni nya layak untuk diantar “mudik”.

Sebagai “syahrul jihad” umat siap merebut kemenangan di bulan Ramadhan.

Menghancurkan kekuatan komunis PKI yang ingin bangkit, merontokkan kapitalis aseng yang mendominasi, memporakporandakan faham-faham sesat yang mengotori agama.

Melawan skenario dan kolaborasi OBOR China, menumbangkan kezaliman yang meminggirkan kekuatan umat, serta melakukan revolusi moral dan akhlak untuk mengubah budaya yang serba permisif dan hedonis.

Kaum muslimin Indonesia, selamat melaksanakan shaum di bulan Ramadhan 1440 H. Selamat mendekat kepada Allah SWT. Berda’wah dan berjihad. Nashrun minallah wa fathun qoriib.

Bandung, 3 Mei 2019, Penulis adalah Pendiri Masyarakat Unggul Institut (Maung Institut)

Banyak Petugas KPPS Meninggal, MUI Sarankan Ubah Sistem Pemilu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan masukan terkait banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia saat bertugas dalam Pemilu serentak 17 April lalu.

MUI mengusulkan kepada Pemerintah dan DPR untuk mengkaji ulang dan mengevaluasi penyelenggaraan Pemilu serentak antara Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif dalam waktu sehari.

“Mereka (petugas KPPPS meninggal) kan manusia ada batas kerjanya, tapi buat kerja selama 24 jam. Selanjutnya itu (sistem pemilu) harus dievaluasi, dirubah sistemnya, Pileg harus dipisah dari Pilpres,” kata KH. Moh. Adnan Harahap, Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI kepada Jurnalislam.com, Sabtu (04/05/2019).

Sebelumnya, MUI juga menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya petugas-petugas KPPS saat melaksanakan tugas negara untuk mengawal Pemilu serentak tahun 2019.

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi mengimbau agar pemerintah memberi perhatian penuh terhadap pengorbanan para petugas KPPS tersebut.

“Kepada Pemerintah MUI mengimbau kiranya bisa memberikan perhatian dan imbalan sepantasnya atas jasa dan pengorbanan mereka,” kata Zainut.

MUI juga mengimbau kepada semua pihak untuk tetap menjaga suasana aman dan kondusif, menjauhi segala bentuk provokasi dan ujaran kebencian yang berpotensi memecah belah umat, bangsa dan negara.

Hingga hari Kamis (2/5) data yang diterima KPU lebih dari 400 petugas KPPS meninggal dunia dan 3.658 petugas KPPS sakit.

BAZNAS Gelar Fashion Show Tampilkan Karya Para Mustahik

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menggelar acara ‘Fashion Show on Train’, memamerkan kerajinan kain Batik Tuban, Jawa Timur dan Tenun dari Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Kamis (02/05/2019).

Kain yang dikenakan para model ini merupakan mahakarya para mustahik (penerima manfaat zakat).

Kolaborasi antara Rumah Batik dan Tenun Indonesia, yang merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi BAZNAS.

Kegiatan ini juga terselenggara atas kerja sama antara BAZNAS dengan PT. Railink.

Rangkaian acara Fashion Show dimulai dari Stasiun BNI City, Jakarta hingga Stasiun Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengatakan, acara ini bertujuan untuk menggugah semangat masyarakat memulai ibadah di Bulan Suci Ramadan 1440 H menggunakan hasil program pemberdayaan zakat.

“BAZNAS memberdayakan ibu-ibu mustahik di Tuban dan NTT melalui program Rumah Batik dan Tenun Indonesia.,” kata Bambang.

Awalnya, katanya, mereka ini adalah buruh dan ibu rumah tangga yang belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena kurangnya pengetahuan dan modal.

Ia menambahkan, kain-kain yang diproduksi ibu-ibu ini menerapkan konsep ramah lingkungan dengan prinsip eco-fashion, memanfaatkan bahan-bahan dari alam.

Mahakarya ini tentu menjadi kebanggaan karena juga sebagai cara melestarikan budaya Indonesia.

Bambang menjelaskan, dengan dipamerkannya kain hasil karya para mustahik di acara fashion show seperti ini.

Diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan semangat para ibu-ibu dalam memproduksinya.

“Acara fashion show untuk menampilkan karya mustahik ini sebagai cara meningkatkan produksi kain dan mengenalkan kepada masyarakat lebih luas. BAZNAS berharap, para mustahik pengrajin kain ini dapat meningkatkan kemandirian, perekonomian, dan kesejahteraan tercapai,” ujarnya.

Kain Batik Tuban dan Tenun Ende ini beberapa kali dipamerkan dalam berbagai acara, seperti Eco Fashion Week 2018, Puteri Kartini 2019, dan acara Fashion Show di mal-mal di daerah perkotaan.

Pemerintah Harus Serius Selidiki Penyebab Kematian Ratusan Petugas Pemilu

SOLO (Jurnalislam.com)- Direktorat Relawan Nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi, Mustofa Nahrawardara mendesak pemerintah untuk serius mencari penyebab kematian 300 lebih anggota KPPS yang meninggal saat bertugas di Pemilu 2019.

“Ini ketidakwajaran, apalagi ditambah dengan ada yang meninggal hampir 400 orang yang sakit hampir 3000 orang ini ketidakwajaran,” katanya kepada Jurniscom di Solo, Rabu, (1/5/2019).

Yang tidak masuk akal lagi, menurutnya,  karena jika orang lelah maka banyak orang lain yang tentu juga lebih lelah, tapi tidak sampai menyebabkan sakit dan meninggal dunia.

Menurutnya, banyak kejanggalan terkait kematian para petugas pemilu.

Sudah seharusnya bila pemerintah serius, disarankan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

“Jadi ini nanti diketahui ada hubungannya atau tidak,” tambahnya.

Menurutnya, kalau kemudian ini dianggap wajar kematiannya maka harus di lakukan otopsi terhadap para jenazah.

“Kalau memungkinkan itu kalau perlu dibongkar lagi yang 300 lebih jenazah itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah melakukan proses audit terhadap KPU melalui TPF.

Hal ini guna memberikan transparasi ditengah masyarakat yang banyak meragukan netralitas KPU di pemilu 2019 saat ini.

“Setelah dibentuk TPF lalu KPU perlu diaudit. Karena salah satu tugas dari TPF adalah merekomendasikan audit KPU,” paparnya.

 

Desakan Pembentukan TPF Kecurangan Pemilu Terus Bergulir

SOLO (Jurnalislam.com)- Tokoh muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya ikut mendukung dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF) di Pemilu 2019 saat ini.

Menurutnya, banyak kejanggalan dalam proses pemilu yang menghabiskan dana sekitar Rp 25 triliun itu.

“Itu aspirasi masyarakat karena ada ketidakwajaran yang terjadi pada proses pemilu, baik itu sebelum pencoblosan selama pencoblosan sampai pasca pencoblosan itu ada ketidakwajaran,” katanya kepada Jurniscom di Solo, Rabu, (1/5/2019).

Pertama, menurutnya, adanya keterlibatan aparat yang mengancam salah satu paslon sejak sebelum Pemilu terhadap masyarakat.

“Sudah ada ancaman ancaman yang mendeklarasikan terhadap salah satu paslon,” tambahnya.

Yang kedua, katanya, selama pencoblosan keterlibatan oknum aparat juga yang juga terjadi pelanggaran-pelanggaran.

“Kecurangan-kecurangan yang semua orang sudah tahu karena videonya pelaku kecurangan sudah tersebar luas, juga diatur pula oleh KPU. Bawaslu juga mengakui apalagi BPN, itu selama pencoblosan,” ujarnya.

Lebih Lanjut, kata Mustofa, paska pencoblosan masih terjadi kejanggalan seperti saat penghitungan suara sampai rekapitulasi seterusnya sampai input data KPU.

“Ternyata terjadi kecurangan jadi kecurangan ini terjadi sejak lama bukan yang sekarang, sejak sebelum Pemilu selama pemilu sampai pasca Pemilu masih ada kecurangan,” pungkasnya.