Memaksimalkan Pendidikan Ibadah Anak di Tengah Pandemi

Memaksimalkan Pendidikan Ibadah Anak di Tengah Pandemi

Oleh : Sayyaf, S.Pd.I.

(Staf Pengajar SDIT Al-Falaah Simo, Boyolali)

Mendidik bagian yang tidak terpisahkan dalam merawat sang buah hati. Orangtua wajib untuk mengetahui dan belajar terlebih dahulu bagaimana pendidikan itu dilaksanakan. Tentu saja, pendidikan yang benar dari orang tua kepada anak tidak terjadi begitu saja. Sama halnya ayah yang bekerja sebagai engineer misalnya, ada pendidikan yang mesti ditempuh agar interaksinya dengan mesin berjalan baik. Apalagi interaksi dengan anak, orangtua seharusnya lebih perhatian untuk belajar menjadi orangtua yang punya kemampuan mendidik.

Meski demikian, keberhasilan dalam dunia parenting tidak selalu diukur dari hasilnya. Kita mendengar banyak kisah, bahkan sekaliber Nabi dan Rasul, pendidikan yang mereka lakukan terhadap anaknya kadang tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Kita lihat bagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam, seorang Rasul yang mulia juga tidak dapat memastikan anaknya di jalan yang benar.

Pandemi Covid 19 masih menghantui kita semua. Dunia Pendidikan masih berduka. Dalam masa  pembelajaran selama hampir satu tahun ini, kami sangat menyadari bahwa kita semua merasakan hal yang tidak nyaman dalam mendidik anak. Pandemi yang hingga kini belum kunjung usai menjadikan tantangan yang tidak ringan bagi guru maupun orangtua. Hari ini hampir memasuki usia satu tahun pandemi di Indonesia pasca terdeteksinya pasien positif Covid-19 pada 2 Maret 2020 lalu.

Pembelajaran tidak efektif, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Peran guru pun banyak terpangkas karena sistem pembelajaran harus dilakukan secara online atau daring (Dalam jejaring). Sementara Pendidikan hampir full diserahkan kepada orangtua di rumah. Praktis pembelajaran tidak maksimal, apalagi ditunjang dengan data bahwa kesibukan orangtua dalam bekerja mencari nafkah tak bisa ‘disambi’ dengan mendampingi anak belajar daring.

Kita banyak kehilangan momen berharga dalam mendidik mereka. Bahkan tingkat paling parah adalah munculnya bibit-bibit kejenuhan belajar dari anak. Hal ini karena mungkin sudah terlalu nyaman dengan istilah stay at home. Akhirnya, kerugian di dunia pendidikan pun tak bisa terelakkan. Kerugiannya tak bisa ditaksir lagi dengan angka. Karena pada dasarnya kerugian terbesar yang dialami oleh kita semua ada pada aspek moril, bukan materi. Disadari atau tidak!

Kondisi ini tak bisa kita hindari. Perjuangan masih Panjang. Pun kita tidak tahu akan sampai kapan pandemi ini berlangsung. Prediksi akhir pandemi pun bermunculan. Ada yang mengatakan sampai 2022, bahkan sebagiannya sampai 2025. Hanya harapan demi harapan yang bisa kita layangkan untuk kebaikan pada diri Ananda meski lelah menyapa raga kita.

Tapi meskipun demikian. Masih ada kesempatan bagi kita untuk memberikan perhatian lebih dari aspek ibadah anak-anak. Jika pembelajaran normal belum bisa kita mulai, setidaknya kita bisa mengambil peran untuk pendampingan ibadah Ananda secara maksimal. Termasuk bagian dari ibadah adalah memahamkan kepada Ananda bahwa pandemi ini tidak datang kecuali dari Allah, sehingga menuntut adanya pendekatan kepada Allah dengan cara yang lebih sebagai sarana perlindungan dari segala keburukan di tengah pandemi.

Paling tidak kita memastikan bahwa ibadah shalat harus terjaga. Ananda yang masih berada dalam penguasaan kita sebagai orangtua harus selalu kita pantau dari sisi ini. Apalagi mereka yang sudah memasuki usia tamyis, usia dimana anak sudah bisa membedakan baik dan buruk. Usia dimana anak harus sudah diajarkan tentang shalat. Dan usia dimana anak harus dipukul ketika mereka meninggalkan shalat. Nilai-nilai diniyah atau agama tidak boleh kosong meskipun pandemi belum usai. Karena Pendidikan agama adalah tanggungjawab yang tidak bisa kita limpahkan kepada orang lain. Guru hanya mitra untuk menguatkan peran dalam membina ruhiyah mereka. Maka butuh kerjasama yang baik untuk menciptakan karakter ibadah yang kuat dalam diri Ananda. Perpaduan peran antara guru dan orangtua akan menciptakan keselarasan dalam melahirkan anak didik yang baik, insya Allah.

Sekali lagi, kecintaan terhadap shalat atau ibadah lainnya harus kita tanamkan sejak dini. Itu PR kita sebagai orangtua. PR yang tentunya akan kita laporkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak. Saya pun takjub dengan beberapa orangtua yang bekerja keras untuk menghadirkan suasana ibadah meski harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Seorang wali murid yang mengaku tak bisa mengaji, tapi tidak ‘eman’ mengeluarkan biaya untuk les tahfizhul qur’an bagi anak tercintanya. Hasilnya? Masya Allah. Di luar prediksi, ternyata selama pandemi si ibu bisa lega melihat anaknya telah hafal hampir 2 juz, alhamdulillah. Ukuran ini terbilang sukses karena si ibu bukanlah orang ngaji. Beliau berangkat bukan dari background seorang aktivis. Hanya seorang ibu rumah tangga yang memiliki keinginan kuat dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya, terkhusus pada hafalan Al-Qur’an. Ini hanya satu contoh. Masih banyak kisah lain yang bisa menguras air mata kita terkait upaya atau ikhtiar orangtua yang berjuang ekstra dalam membimbing anaknya meski harus berperang melawan ketidakpastian pandemi Covid 19.

Memang butuh perjuangan ekstra. Setiap upaya yang kita lakukan, pasti akan membuahkan hasil. Tinggal bagaimana cara kita menjemput hasil dari jerih payah yang kita lakukan. Masa depan mereka, ada di tangan kita sebagai orangtua. Letakkan harapan kita dalam tengadah tangan saat berdo’a. Meminta kepada-Nya untuk kebaikan dunia dan akhirat Ananda. Baarakallahu fikum.

 

 

 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close X