Ketua MUI Prof Ni’am Tiba di Suriah, Disambut Wakil Menteri Wakaf

DAMASKUS (jurnalislam.com)— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, tiba di Bandara Internasional Damaskus, Suriah, Rabu (28/10/2026). Kedatangannya disambut langsung oleh Wakil Menteri Wakaf Suriah, Syekh Dr Anas Musa.

Prof Ni’am berkunjung ke Suriah untuk memenuhi undangan resmi Kementerian Wakaf Suriah yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus. Ia dijadwalkan menjadi narasumber utama dalam simposium internasional yang membahas kontribusi masyarakat Muslim terhadap pembangunan sosial.

Usai penyambutan di bandara, Prof Ni’am dan Syekh Anas Musa mengadakan pertemuan bilateral singkat untuk membahas sejumlah isu keumatan serta peluang penguatan kerja sama antarlembaga keagamaan kedua negara. Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan agenda makan siang bersama.

Dalam kunjungan itu, Prof Ni’am didampingi Duta Besar RI untuk Suriah, Lukman Hakim Siregar. Sementara itu, Syekh Anas Musa didampingi Direktur Komunikasi dan Kerja Sama Kementerian Wakaf Suriah.

Hadiri Simposium di Homs

Agenda utama kunjungan Prof Ni’am adalah menghadiri simposium internasional bertema Pertukaran Pemikiran Indonesia-Suriah mengenai Peran Masyarakat Muslim dalam Memperkuat Pembangunan Sosial.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam keterangan tersebut, simposium dijadwalkan berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di Jami’ Khalid bin Walid, Provinsi Homs, Suriah.

Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu akan mewakili ulama Indonesia untuk menyampaikan pandangan mengenai peran umat Islam dalam pembangunan sosial dan peradaban.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pertukaran pemikiran antara Indonesia dan Suriah mengenai kontribusi masyarakat Muslim dalam kehidupan sosial.

Tindak Lanjut Kerja Sama Indonesia-Suriah

Kunjungan Prof Ni’am disebut sebagai tindak lanjut pertemuan bilateral Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar dengan Menteri Wakaf Suriah Syekh Dr Mohammed Abu al-Khair di Jakarta pada 31 Oktober 2025.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati penguatan kerja sama bilateral melalui dialog antarpemuka agama dan pertukaran pengalaman di berbagai bidang yang berkaitan dengan pembangunan sosial.

Melalui simposium ini, kerja sama tersebut diharapkan menjadi ruang bagi ulama dan pemangku kepentingan kedua negara untuk bertukar pandangan mengenai peran agama dalam kehidupan masyarakat.