Kematian Siyono Janggal, Pengamat Terorisme: Densus 88 Harus Diaudit Total

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menanggapi tewasnya Siyono (34), terduga teroris asal Klaten yang meninggal dalam masa penyidikan, pengamat terorisme Mustofa B. Nahrawardaya mengatakan, dirinya tidak percaya dengan perubahan karakter Densus 88 yang menjadi tida ganas.

Menurutnya, selama ini semua orang sudah tahu keganasan Densus 88 saat bekerja. Tidak ada ceritanya ada terduga yang dapat lolos dari kawalan Densus.

“Setelah ditangkap dengan cara kasar, biasanya terduga langsung diborgol, dilakban mukanya. Bahkan, kaki dan tangan terduga, 100% tidak mungkin dapat bergerak bebas, karena memborgol kaki dan tangan adalah standar baku mereka,” ujar Musthofa dalam rilisnya yang diterima Jurnalislam, Ahad (13/3/2016) pagi ini.

Ia menilai, kasus tewasnya Siyono yang menurut Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto disebabkan oleh kelelahan setelah berkelahi dengan Densus 88 di dalam mobil merupakan sebuah fenomena baru.

“Boro-boro berkelahi. Terduga menggerakkan tangan saja, kemungkinan sudah ditembak mati karena dianggap melawan. Ini adalah kejahatan extra ordinary crime. Kejahatan tingkat tinggi, yang resiko dari kejahatannya dapat membunuh banyak orang,” tandasnya.

Lebih lanjut Muthofa mengatakan, kejanggalan kematian Siyono menyisakan banyak pertanyaan yang mengharuskan pemerintah mengaudit total Satuan Khusus pimpinan Tito Karnavian itu. Sebab, jika tidak ada peningkatan kinerja maka kenaikan anggaran Rp 1,9 Triliun itu dinilainya tidak relevan.

“Namun jika kenaikan tersebut tidak menambah keahlian Densus dalam dinas, maka anggaran tersebut perlu diaudit dan kalau perlu, selama audit, operasi Densus 88 sementara dikembalikan ke Brimob terlebih dahulu,” tegasnya.

Selain itu, cara-cara Densus 88 juga perlu dievaluasi. Banyaknya pelanggaran di lokasi penggerebekan, termasuk dalam penangkapan Siyono yang dilakukan di hadapan anak-anak TK Roudhatul Athfal.

Ia melihat, jika fungsi intelijen akan ditingkatkan dengan kenaikan anggaran maka cara-cara brutal seperti itu jelas tidak elok. “Selain menyebabkan anak-anak trauma, perilaku Densus seperti itu sangat berpotensi menimbulkan dendam kesumat yang tersimpan di benak para siswa. Cara-cara itu hanya akan melahirkan teroris baru di kemudian hari,” tandasnya.

Siyono ditangkap pada Rabu (9/3/2016) saat sedang berdzikir usai shalat magrib di Masjid Muniroh samping rumahnya. Menurut kesaksian sang Ayah, Marso Diyono, saat ditangkap anaknya dalam keadaan sehat wal afiat.

Dini hari tadi sekitar pukul 02.00 WIB, jenazah Siyono tiba di rumah duka dari RS Polri Kramat Jati yang disambut ratusan petakjiah. Penyambutan jenazah Siyono sempat memicu kericuhan setelah aparat kepolisian melarang keluarga untuk melihat kondisi jenazah meski akhirnya diizinkan. Setelah dikafani ulang, Siyono langsung dimakamkan.

Reporter: Dyo | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.