Jika Densus 88 Dibentuk Untuk Membunuh, Apa Bedanya Dengan Teroris?

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN), Ahmad Yohan mengecam pernyataan Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan yang menuding Muhammadiyah sebagai kelompok pro teroris dalam pengusutan kematian Siyono.

Menurut Yohan, yang dilakukan Muhamadiyah adalah menuntut keadilan atas meninggalnya Siyono yang dianggap tidak wajar saat diperiksa Densus 88. Yohan menilai, kematian Siyono menunjukkan Polri khususnya Densus 88 tidak profesional dan menggunakan kekerasan dalam penanganan kasus terduga teroris.

“Olehnya itu, sebagai ormas Islam, Muhammadiyah patut mengusut penyebab kematian Siyono dan pihak-pihak yang terlibat dalam kematian Siyono termasuk Densus 88, harus diadili seadil-adilnya,” kata Yohan dalam Rapimnas BM PAN di Hotel Kartika Chandra, Jumat (8/4/2016).

Kematian Suyono saat dalam pemeriksaan Densus 88 adalah preseden buruk bagi prinsip-prinsip demokrasi dan kemanusian di tubuh Polri. Menurut Yohan, kalau Densus 88 dibentuk hanya untuk membunuh, apa bedanya Densus 88 dengan teroris. Oleh sebab itu, Yohan meminta Densus 88 sebaiknya dibubarkan jika tidak memiliki protap yang jelas dalam penanganan teroris.

Pernyataan Anton dinilainya berlebihan dan sangat tendensius. "Apa motifasi Anton menyebut Muhammadiyah mendukung teroris?" tanya Yohan.

Melalui Rapimnas BM PAN 8-9 April 2016, Yohan mengusulkan agar Kadiv Humas Polri Irjen Anton Charliyan diberhentikan dari jabatannya. Ia juga mengusulkan pembentukan komisi khusus untuk membahas dukungan BMPAN terhadap Muhammadiyah dalam pengusutan kematian Siyono. []

Reporter: Zul | Editor: Ally Muhammad Abduh | Jurnalislam

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.