Internet Dikunci, Ekonomi Rontok dan Ribuan Nyawa Melayang di Iran

Internet Dikunci, Ekonomi Rontok dan Ribuan Nyawa Melayang di Iran

IRAN (jurnalislam.com)- Pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah Iran tidak hanya memutus komunikasi rakyat dengan dunia luar, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi fantastis, memperparah krisis kemanusiaan, serta mendorong warga mencari jalur koneksi ilegal demi bertahan hidup dan menyuarakan kebenaran. Di balik dalih “keamanan nasional”, kebijakan ini membuka gambaran gelap tentang negara yang kian mendekati model penguncian total ala Korea Utara baik secara ekonomi maupun digital.

Menurut Whisper Security, perusahaan keamanan siber yang didirikan Ranjbar, Iran kehilangan sekitar US$37,5 juta per hari, atau setara Rp588,7 miliar per hari akibat pemadaman internet.

Sebagai perbandingan, pemadaman internet selama satu pekan pada tahun 2019 juga terkait protes anti-pemerintah diperkirakan menyebabkan kerugian hingga US$1,5 miliar, atau sekitar Rp23,55 triliun.

Ranjbar mengatakan pemerintah Iran kini menerapkan “internet dua tingkat”:
“Konektivitas untuk negara, kegelapan untuk rakyat.”

Ia mengungkapkan bahwa dari pemindaian terhadap 16,7 juta alamat IP, infrastruktur yang berafiliasi dengan negara—seperti sistem perbankan dan media propaganda—tetap online dan bahkan dapat diakses dari luar Iran.

𝗥𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗧𝗲𝘄𝗮𝘀, 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗗𝗶𝗯𝗹𝗼𝗸𝗶𝗿

Sejak pemadaman dimulai, kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan ribuan orang tewas dalam penindakan aparat keamanan.

Organisasi Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 3.428 demonstran tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap—angka yang mereka sebut sebagai “minimum absolut”.

Paige Collings, aktivis senior di Electronic Frontier Foundation, menegaskan bahwa pemutusan internet merupakan pelanggaran serius HAM.

“Memutus akses telekomunikasi dan internet bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia dasar, tetapi juga serangan langsung terhadap kemampuan masyarakat untuk mengakses informasi dan berkomunikasi,” ujarnya.

𝗦𝘁𝗮𝗿𝗹𝗶𝗻𝗸 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗝𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗮𝗸𝗵𝗶𝗿

Meski diblokir, dokumentasi penindasan terus muncul ke dunia luar. Para aktivis Iran dilaporkan beralih ke Starlink, jaringan satelit orbit rendah milik Elon Musk, untuk tetap terhubung.

Rex Fox O’Loughlin, analis di IISS Six Analytic, mengatakan bahwa sejak awal 2021 para aktivis telah menyelundupkan terminal Starlink ke Iran. Ia memperkirakan puluhan ribu perangkat kini beredar di dalam negeri.

Namun, Starlink juga menjadi target. Terdapat laporan pengacauan GPS dan gangguan sinyal radio kelas militer untuk memutus koneksi satelit tersebut.

Situasi ini mendorong Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa Paris tengah menjajaki kemungkinan memasok terminal Eutelsat sebagai alternatif.

“Bagi rakyat Iran, akses internet yang andal sangat penting untuk berkomunikasi dengan dunia dan menyampaikan kondisi di lapangan,” kata O’Loughlin.

Namun ia mengingatkan bahwa kepemilikan perangkat satelit di Iran dapat berujung pada tuduhan spionase, dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.

“Saat ini, meskipun berisiko, itu tampaknya menjadi satu-satunya pilihan untuk koneksi berkelanjutan,” pungkasnya. (Bahry)

Sumber: TNA

Bagikan