Responsive image

Dalam 10 Hari 140 Warga Idlib Tewas oleh Serangan Udara Brutal Rezim Assad dan Rusia

Dalam 10 Hari 140 Warga Idlib Tewas oleh Serangan Udara Brutal Rezim Assad dan Rusia

IDLIB (Jurnalislam.com) – Jumlah korban tewas sipil di provinsi Idlib di Suriah setelah serangan udara 10 hari yang hebat telah melampaui angka 140, menurut koresponden Anadolu Agency.

Koresponden yang berbasis di wilayah tersebut mengatakan bahwa sedikitnya 40 warga sipil terbunuh sementara 70 lainnya luka-luka dalam pemboman baru di desa Armanaz, Idlib, Jumat malam.

Sejak 19 September, Idlib selatan tetap menjadi target serangan udara brutal oleh pesawat tempur Rusia dan Suriah.

Dalam serangan tersebut, rumah sakit dan sekolah setempat juga ditargetkan.

Beberapa distrik yang ditargetkan berada di dalam zona de-eskalasi Idlib, yang baru-baru ini didirikan berdasarkan kesepakatan sebelumnya — ditandatangani di Astana, Kazakhstan — antara Turki, Iran dan Rusia.

Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengutuk serangan udara mematikan tersebut.

“Kami tahu Rusia menargetkan elemen jihadis di Idlib,” katanya. “Tapi sejumlah warga sipil dan oposisi moderat juga terbunuh.”

Dia menambahkan: “Serangan terhadap warga sipil merupakan pelanggaran gencatan senjata dan pelanggaran terhadap kesepakatan Astana.”

Apakah Koalisi Telah Gagal? Begini Penjelasan Syeikh Muhaysini

Sementara itu, sedikitnya 14 warga sipil juga tewas dalam serangan di siang hari di sebuah kota di Suriah yang berada dalam jaringan “zona de-eskalasi” – tempat-tempat yang dikatakan terlarang untuk serangan semacam itu – menurut seorang pejabat pertahanan sipil pro-oposisi Suriah.

Serangan tersebut – yang dilaporkan dilakukan oleh pasukan rezim Suriah – terjadi di Ghouta Timur, yang terletak di dalam zona de-eskalasi, anggota pasukan pertahanan sipil Suriah, White Helmet, mengatakan kepada Anadolu Agency.

Selama lima tahun terakhir, Ghouta Timur tetap dikepung oleh rezim Syiah Assad.

Selama perundingan damai yang diadakan di Astana, Kazakhstan pada awal Mei, Ghouta Timur ditunjuk sebagai bagian dari jaringan zona de-eskalasi dimana tindakan agresi akan dilarang secara eksplisit.

Putaran pertama perundingan damai diadakan di ibukota Kazakhstan pada 23-24 Januari, setelah sebuah gencatan senjata ditetapkan pada 30 Desember.

Pembicaraan Astana diperantarai oleh Turki, yang mendukung oposisi Suriah, bersama dengan Rusia dan Iran, yang keduanya mendukung rezim Assad.

Suriah telah terkunci dalam perang global yang kejam sejak awal 2011, ketika rezim Nushairiyah Assad membantai aksi protes warga dengan keganasan militer yang tak terduga.

Sejak itu, ratusan ribu orang terbunuh dan lebih dari 10 juta orang mengungsi, menurut pejabat PBB.

Bagikan
Close X