Responsive image

BPJS Bengkak Karena Beban Penyakit Akibat Rokok Capai Rp 14,6 Triliun

BPJS Bengkak Karena Beban Penyakit Akibat Rokok Capai Rp 14,6 Triliun

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Dampak rokok pada kesehatan ternyata juga menjadi salah satu penyebab beban pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional membengkak di Indonesia.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) tahun 2017, sebanyak 10.801.787 juta orang atau 5,7 persen peserta JKN mendapat pelayanan untuk penyakit katastropik.

“Mereka menghabiskan biaya kesehatan sebesar 14,6 triliun rupiah atau 21,8 persen dari seluruh biaya pelayanan kesehatan dengan komposisi peringkat penyakit jantung sebesar 50,9 persen atau 7,4 triliun, penyakit ginjal kronik sebesar 17,7 persen atau Rp2,6 triliun,” ungkap Menkes Nila F Moeloek di gedung Kemenkes, Kamis 11 Juli 2019.

Seperti diketahui, saat ini memang terjadi transisi epidiomiologi tahun 1990 ke tahun 2017 dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular (PTM). Kini tren PTM meningkat sebesar 70 persen secara nasional dan memiliki beban Disability Adjusted Life Year (Dalys) paling besar dibandingkan penyakit menular dan cedera.

“Menurut Badan Litbangkes peringkat teratas beban penyakit (Dalys) di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2017 sebagian besar disebabkan oleh PTM yaitu stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruksi kronik dan diabetes melitus,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan meningkatnya beban penyakit karena faktor risiko hipertensi, gula darah puasa, pola makan berisiko dan merokok. Rokok sendiri merupakan faktor risiko penyakit yang memberikan kontribusi paling besar dibanding faktor risiko lainnya

“Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan PTM lainnya,” ungkap Nila.

Data WHO tahun 2017 juga menunjukkan bahwa di dunia setiap tahun terjadi kematian dini akibat PTM pada kelompok usia di 30-69 tahun sebanyak 15 juta. Sebanyak 7,2 juta kematian tersebut diakibatkan konsumsi produk tembakau dan 70 persen kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

sumber: viva.co.id

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X