Berita Terkini

Hilangkan Nilai Religiusitas, MUI Kritik Dewan Pengawas KPK

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, mengkritik Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi yang menyusun kode etik bagi pimpinan KPK baru.

Pasalnya, Dewas membuang nilai dasar religiusitas yang sudah  ada dalam nilai-nilai dasar KPK sebelumnya, yaitu religiusitas, integritas, keadilan, profesionalisme,  kepemimpinan dan menggantinya dengan nilai dasar sinergi.

“Membalik posisi ini jelas sangat tidak bertanggung jawab karena akan menempatkan manusia di atas segala-galanya termasuk di atas dari Tuhan itu sendiri. Ini jelas merupakan sebuah pemikiran yang sesat dan  membahayakan,”  kata Anwar dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (09/03/2020).

Artinya, lanjut dia, para pihak yang ada di KPK dalam pola pikir dan pola tindaknya tidak boleh mengabaikan ajaran dari agama yang diakui oleh negara. Mereka harus mengacu kepada nilai yang ada dalam ajaran agama tersebut.

“Ini penting kita sampaikan karena bukankah kita sudah sepakat untuk menjadikan pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dan hukum dasar negara di mana ke dua-duanya harus kita fungsikan sebagai kaidah penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Lantas, dia mempertanyakan kenapa Dewan Pengawas KPK tidak berdiskusi dengan para ahli yang lain yang punya pandangan berbeda? Menurut dia, dalam susunan dan hirarki sila yang ada dalam pancasila dapat ditemukan dan  simpulkan bahwa nilai Ketuhanan Yang Maha Esa itu harus menaungi dan menjiwai nilai kemanusiaan tersebut.

“Ini jelas terlihat Dewan Pengawas mengabaikan Pancasila dan pasal 29 ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa,” katanya.

Sebelumnya, nilai dasar KPK ialah religiusitas, integritas, keadilan, profesionalisme dan kepemimpinan. Akronim dari nilai dasar itu RI-KPK. Namun, dalam kode etik baru, religiusitas dihapus dan digantikan dengan sinergi.

“Kami cantumkan satu nilai dasar baru, yaitu sinergi,” kata Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2020.

Tumpak menjelaskan nilai dasar baru KPK itu diperlukan karena terjadi perubahan dalam UU KPK. UU KPK baru, kata dia, mengharuskan lembaganya melakukan kerja sama, koordinasi, dan supervisi dengan lembaga negara lainnya. “Bahkan disebut juga operasi bersama,” kata Tumpak.

Tekan Penyebaran Virus Corona, Seluruh Italia Ditetapkan Sebagai ‘Zona Merah’

ROMA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Italia telah menetapkan untuk mengunci seluruh wilayahnya dan membatalkan semua pertemuan serta meliburkan semua sekolah dan universitas hingga bulan depan.

Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte mengatakan, keputusan pemerintah baru akan mewajibkan semua orang di Italia untuk menunjukkan kebutuhan untuk bekerja, kondisi kesehatan atau alasan terbatas lainnya untuk bepergian ke luar daerah tempat mereka tinggal.

Langkah-langkah ini akan diberlakukan mulai hari ini, Selasa (10/3/2020).

“Tidak akan ada hanya zona merah, tapi akan ada Italia sebagai kawasan yang dilindungi,” kata Conte kepada wartawan merujuk pada penguncian daerah di utara.

Di samping pembatasan perjalanan, sekolah dan universitas yang sudah ditutup di seluruh negara akan diperpanjang hingga 3 April. Meskipun transportasi umum akan tetap beroperasi, namun Conte mendesak seluruh warganya untuk tetap tinggal di rumah.

Italia sejauh ini sudah mengkonfirmasi 9.172 kasus virus dan 463 kematian dan menjadi angka terbanyak setelah China.

“Kami telah mengadopsi keputusan baru berdasarkan asumsi: bahwa tidak ada waktu,” ujar Conte.

“Jumlahnya memberi tahu kami bahwa kami mengalami pertumbuhan infeksi yang signifikan, pada orang yang dirawat di rumah sakit dalam perawatan intensif dan sub-intensif, dan sayangnya, juga pada orang yang meninggal. Karena itu kebiasaan kita harus diubah. Mereka harus diubah sekarang,” tegasnya.

Itu terjadi setelah komite Olimpiade negara mengkonfirmasi semua olahraga, termasuk sepak bola, akan ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

AS Mulai Menarik Pulang Pasukannya dari Afghanistan

KABUL (Jurnalislam.com) –  Amerika Serikat (AS) mulai menarik pasukannya dari Afghanistan sesuai kesepakatannya dengan Taliban. Hal itu disampaikan juru bicara Pasukan AS di Afghanistan Sonny Leggett pada hari Senin (9/3/2020). Penarikan dilakukan di tengah kekacauan politik di Kabul yang mengancam kesepakatan itu.

Legget mengatakan, AS akan memangkas jumlah pasukan di negara itu menjadi 8.600.

“Sesuai dengan Deklarasi Bersama antara AS dan Imarah Islam Afghanistan, pasukan AS-Afghanistan (USFOR-A) telah memulai pengurangan pasukan berdasarkan kondisi menjadi 8.600 selama 135 hari,” kata Leggett dalam pernyataan yang dikutip oleh media AS.

“USFOR-A mempertahankan semua sarana dan wewenang militer untuk mencapai tujuan kami – termasuk melakukan operasi kontraterorisme terhadap al-Qaeda dan ISIS-K dan memberikan dukungan kepada Pertahanan Nasional Afghanistan dan Pasukan Keamanan,” tambahnya.

“USFOR-A berada di jalurnya untuk memenuhi level kekuatan yang diarahkan sambil mempertahankan kemampuan yang diperlukan.”

Penarikan itu terjadi ketika para pemimpin saingan Afghanistan masing-masing dilantik sebagai presiden dalam upacara terpisah pada hari Senin (9/3/2020), menciptakan kerumitan bagi AS ketika negara itu mencari cara untuk bergerak maju dalam perjanjian yang ditandatangani akhir bulan lalu, dan mengakhiri perang selama 18 tahun.

AS belum mengikat penarikan diri dengan stabilitas politik di Afghanistan atau hasil spesifik dari pembicaraan damai semua rakyat Afghanistan. Sebaliknya, itu tergantung Taliban dan komitmennya untuk mencegah “kelompok atau individu mana pun, termasuk al-Qaeda, dari menggunakan tanah Afghanistan untuk mengancam keamanan AS dan sekutunya.”

Di bawah perjanjian damai, penarikan pasukan AS harus dimulai dalam 10 hari setelah kesepakatan ditandatangani pada 29 Februari. Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan pada 2 Maret bahwa ia telah menyetujui dimulainya penarikan, yang kemudian akan dikoordinasikan oleh komandan militer di Afghanistan.

Pejabat AS mengatakan bahwa pasukan yang pergi sekarang telah dijadwalkan untuk berangkat, tetapi mereka tidak akan diganti. Esper mengatakan Jenderal Scott Miller, komandan AS di Kabul, akan menghentikan sementara penarikan dan menilai kondisi begitu tingkat pasukan turun ke 8.600.

Rencana jangka panjang adalah bagi AS untuk menghapus semua pasukan dalam waktu 14 bulan jika kondisi keamanan terpenuhi.

49 Warga Iran Tewas Akibat Covid-19 dalam Sehari, Total Menjadi 194

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Departemen Kesehatan Iran pada Ahad (8/3/2020) mengumumkan, korban meninggal akibat wabah virus Corona di Iran naik menjadi 194 orang.

Juru bicara Departermen Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour mengatakan, 49 orang tewas dalam 24 jam terakhir, sementara 743 kasus baru ditemukan, menjadikan jumlah kasus yang dikonfirmasi menjadi 6.566.

“Setidaknya 22.177 orang saat ini dalam perawatan medis, sementara jumlah pasien yang pulang mencapai 55.404,” katanya dalam konferensi pers di ibukota Teheran, Ahad (8/3/2020).

Sementara itu, pemerintah Turki bulan lalu telah menutup perbatasan darat dan menunda perjalanan udara ke Iran.

Selain Cina, Italia, dan Korea Selatan, Iran adalah negara yang terkena dampak terburuk sejak wabah penyakit Desember lalu.

Sebagai bagian dari upayanya menahan virus, Teheran telah mengambil beberapa langkah, termasuk penutupan semua sekolah dan institusi pendidikan tinggi, membatalkan acara olahraga, dan melarang pejabat pemerintah meninggalkan negara itu.

Pertama kali terdeteksi di Wuhan, Cina pada bulan Desember, virus, yang secara resmi dikenal sebagai COVID-19, telah menyebar ke lebih dari 80 negara.

Korban kematian global hampir 3.500, dan lebih dari 100.000 kasus dikonfirmasi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sebagai bagian dari upaya penanggulangan wabah, pemerintah telah menutup perbatasan dan menunda perjalanan darat dan udara dengan negara-negara yang paling parah dilanda.

Setelah menyatakan wabah darurat kesehatan internasional pada bulan Januari, bulan lalu WHO memperbarui tingkat risiko global menjadi “sangat tinggi.”

Rakornas IKADI Lahirkan Risalah Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ikatan Dai Indonesia (IKADI) telah menyelesaikan rapat koordinasi nasional (Rakornas) yang digelar di Jakarta sejak 7 hingga 9 Maret 2020.

Rakornas yang dihadiri oleh seluruh pengurus wilayah dan daerah se-Indonesia itu membahas soal beragam isu global-aktual, strategi keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan.

Rakornas tersebut menghasilkan Risalah Jakarta yang berisi 9 poin rekomendasi menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi umat Islam.

SALAH JAKARTA

Atas bRIerkat rahmat Allah _Ta’ala,_ Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) di Jakarta pada tanggal 12 – 14 Rajab 1441 H bertepatan dengan 7 – 9 Maret 2020 yang dihadiri oleh seluruh Pengurus Wilayah (PW)dan Pengurus Daerah (PD) se-Indonesia membahas beragam isu global-aktual, strategis keummatan, kebangsaan dan kemanusiaan, menghasilkan rekomendasi (Risalah Jakarta) sebagai berikut:

1. Memperkokoh IKADI sebagai penebar Islam _rahmatan lil ‘alamin_ dengan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh sarana, media dan data, serta meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam berdakwah.
2. Memperkuat soliditas dan loyalitas organisasi melalui peningkatan hubungan koordinatif yang berkelanjutan.
3. Memberikan perhatian secara khusus terhadap dakwah generasi milenial.
4. Menyerukan kepada para dai agar memanfaatkan jaringan keummatan untuk kemandirian ekonomi.
5. Memperkokoh relasi dan komunikasi serta kerja sama dengan berbagai elemen umat, baik lokal, nasional maupun internasional.
6. Mengajak segenap elemen bangsa untuk mengokohkan _Al Mitsaq Al Wathani_ (Kesepakatan Berbangsa dan Bernegara) dan tidak membenturkan Islam dengan Pancasila.
7. Menghimbau umat Islam untuk menjalankan pola hidup sehat dan islami, serta membentengi diri dengan banyak ibadah, dzikir, doa dan tawakkal sebagai langkah preventif terhadap virus corona dan penyakit berbahaya lainnya.
8. Mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang melanggar HAM terhadap umat Islam di India, Palestina dan negara lain, dan mendorong pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif sesuai dengan amanat konstitusi.
9. Menghimbau para dai IKADI agar bersama kaum muslimin untuk _muhasabah, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala_ dengan memperbanyak amal shalih, ibadah dan do’a demi terwujudnya _Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur_.

_Jakarta, 14 Rajab 1441 H / 09 Maret 2020 M_

Sekjen IKADI
Ahmad Kusyairi Suhail, MA

7 Hal yang Perlu Anda Ketahui Soal Virus Corona

Jurnalislam.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan darurat kesehatan global atas virus corona baru yang telah menewaskan lebih dari 3.630 orang di seluruh dunia menyusul wabah di kota Wuhan di Cina tengah.

Lebih dari 106.000 kasus infeksi telah dilaporkan secara global, sebagian besar di Cina daratan.

Inilah tujuh hal yang perlu Anda ketahui tentang virus ini:

1. Apa itu coronavirus?
Menurut WHO, coronavirus adalah keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti sindrom pernapasan akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Virus ini pada awalnya ditularkan antara hewan dan manusia. SARS, misalnya, ditransmisikan dari kucing luwak ke manusia sementara MERS pindah ke manusia dari jenis unta.

Beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan yang belum menginfeksi manusia.

Nama coronavirus berasal dari kata Latin corona, yang berarti mahkota atau halo. Di bawah mikroskop elektron, gambar virus tampak seperti korona matahari.

Virus corona baru, diidentifikasi oleh otoritas Cina pada 7 Januari dan sejak bernama COVID-19, adalah jenis baru yang sebelumnya tidak diidentifikasi pada manusia. Sedikit yang diketahui tentang itu, meskipun penularan dari manusia ke manusia telah dikonfirmasi.

2. Apa gejalanya?
Menurut WHO, tanda-tanda infeksinya termasuk demam, batuk, sesak napas dan kesulitan bernafas.

Dalam kasus yang lebih parah, itu dapat menyebabkan pneumonia, kegagalan banyak organ dan bahkan kematian.

Perkiraan saat ini dari masa inkubasi – jumlah waktu antara infeksi dan timbulnya gejala – berkisar dari satu hingga 14 hari. Kebanyakan orang yang terinfeksi menunjukkan gejala dalam lima hingga enam hari.

Namun, pasien yang terinfeksi juga tidak menunjukkan gejala, artinya mereka tidak menunjukkan gejala apa pun walaupun memiliki virus di sistem mereka.

3. Seberapa mematikannya?
Dengan lebih dari 3.630 kematian yang tercatat, jumlah kematian akibat virus corona baru ini telah melampaui korban wabah SARS 2002-2003, yang juga berasal dari Cina.

SARS membunuh sekitar 9 persen dari mereka yang terinfeksi – hampir 800 orang di seluruh dunia dan lebih dari 300 di China saja. MERS, yang tidak menyebar luas, lebih mematikan, membunuh sepertiga dari mereka yang terinfeksi.

Sementara coronavirus baru lebih tersebar luas di Cina daripada SARS dalam hal jumlah kasus, tingkat kematian masih jauh lebih rendah sekitar 2 persen, menurut WHO.

4. Di mana kasus telah dilaporkan?
Sebagian besar kasus dan kematian telah dilaporkan di Tiongkok – sebagian besar di provinsi Hubei.

Kematian juga telah dikonfirmasi di Hong Kong, Filipina, Jepang, Prancis, Taiwan, Korea Selatan, Italia, dan Iran.

Virus ini telah menyebar ke banyak negara di kawasan Asia-Pasifik serta di Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah dan Afrika.

Sebagian besar kasus di luar China adalah di antara orang-orang yang baru kembali dari China. Namun, kasus penularan dari manusia ke manusia telah dicatat di beberapa negara dan pertanyaan telah diajukan tentang kasus-kasus tanpa kaitan yang jelas dengan Cina.

5. Apa yang dilakukan untuk menghentikan penyebarannya?
Para ilmuwan di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin tetapi mereka telah memperingatkan bahwa kemungkinan tidak akan tersedia untuk distribusi massal sebelum 2021.

Sementara itu, otoritas Cina secara efektif menutup Wuhan dan membatasi perjalanan ke dan dari beberapa kota lain, yang memengaruhi sekitar 60 juta orang.

Banyak maskapai penerbangan internasional telah membatalkan penerbangan ke China. Beberapa negara telah melarang warga negara Cina memasuki wilayah mereka dan beberapa lagi telah mengevakuasi warganya dari Wuhan.

6. Dari mana asalnya virus?
Otoritas kesehatan China masih berusaha untuk menentukan asal virus, yang mereka katakan kemungkinan berasal dari pasar makanan laut di Wuhan di mana satwa liar juga diperdagangkan secara ilegal.

Pada 7 Februari, para peneliti Cina mengatakan virus itu bisa menyebar dari spesies hewan yang terinfeksi ke manusia melalui trenggiling yang diperdagangkan secara ilegal, yang dihargai di Asia untuk makanan dan obat-obatan.

Para ilmuwan telah menunjuk kelelawar atau ular sebagai sumber virus.

7. Apakah ini darurat global?
Pada 30 Januari lalu, WHO mengatakan Wabah ini sekarang merupakan darurat kesehatan global.

Keputusan untuk membunyikan alarm tingkat lanjut dibuat setelah kasus pertama penularan dari manusia ke manusia di luar China dikonfirmasi.

Peringatan kesehatan internasional adalah peringatan kepada negara-negara di seluruh dunia untuk mengoordinasikan respons mereka di bawah bimbingan badan kesehatan PBB.

Ada lima keadaan darurat kesehatan global sejak 2005 ketika deklarasi itu diresmikan: flu babi pada 2009, polio pada 2014, Ebola pada 2014, Zika pada 2016, dan Ebola lagi pada 2019.

 

Sumber: Al Jazeera

Arab Saudi Perketat Penyebaran Corona di Mekkah dan Madinah

MAKKAH(Jurnalislam.com) — Pemerintah Arab Saudi makin memperketat penyebaran virus conona di tanah suci. Bahkan, Arab Saudi pada hari Kamis lalu (5/3) telah mengumumkan bahwa Masjidil Haram  di Makah dan Masjid Nabawi di Madinah ditutup satu jam setelah sholat Isya dan akan dibuka satu jam sebelum sholat Subuh (subuh) pada setiap harinya.

Ini adalah tindakan pencegahan terbaru untuk mencegah penyebaran coronavirus di Arab Saudi.

Seperti dilansir Arab News, pihak Kerajaan Sadui itu telah menangguhkan semua ziarah umrah pada hari Rabu lalu itu karena adanya kekhawatiran akan penyebaran virus corona.

Maka pihak berwenang pun telah membersihkan Masjidil Haram sebagai persiapan untuk sterilisasi, setelah penangguhan kunjungan Umrah baru-baru ini.

Seorang pejabat Saudi mengatakan operasi pembersihan tersebut merupakan “tindakan pencegahan sementara” yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”

Pada bagian lantai atas tetap terbuka untuk sholat. Namun, dalam video yang diposting secara online pada hari Kamis lalu ternyata menunjukkan area mataf tampak sepi dari kerumunan jamaah yang mengelilingi Ka’bah.

Daerah di sekitar Ka’bah linny, misalnya tempat para peziarah melalukan Sa’i yakni berjalan mengelilinginya tujuh kali dan di antara bukit Safa dan Marwah malah akan tetap ditutup sampai larangan Umrah dicabut. Shalat hanya akan dilakukan di dalam Masjidil Haram.

Selain itu membawa makanan dan minuman ke masjid sekarang dilarang’ Akses jamaah yang ingin minum ke wadah Zamzam sementara akan dihentikan.

Arae makam di Masjid Nabawi Madinah yang menampung kuburan Nabi Muhammad dan dua sahabatnya, Abu Bakar Siddiq dan Umar ibn Al-Khattab, juga akan ditutup untuk jamaah.

Sumber: ihram.co.id

RSPI Puji Pemprov DKI soal Penanganan Virus Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI SS) Mohammad Syahril memuji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memberi cadangan (backup) rumah sakit rujukan untuk orang dalam pemantauan (ODP) virus Corona baru (Covid-19).

Ia pun menyarankan media untuk bantu mengumumkan delapan RS rujukan Corona.

“Bagus, DKI ini memberikan dukungan (backup) kepada kita semua ini, ya. Tolong wartawan bantu mengumumkan ada delapan rumah sakit rujukan Corona,” ujar Syahril di Jakarta, Jumat.

Syahril mengatakan di RSPI SS saat ini masih menerima rujukan pasien terduga mengidap (suspect) Covid-19.

Hanya saja, dari 11 ruangan isolasi yang disediakan sudah terisi sembilan. Sementara satu ruangan isolasi tidak bisa diisi sembarangan karena diperuntukkan hanya untuk pasien yang membutuhkan alat bantu pernapasan (ventilator).

RSPI SS hanya memiliki satu kamar tersisa yang dapat dipastikan steril dan bisa dipergunakan untuk mengisolasi pasien suspect Covid-19 yang tidak membutuhkan ventilator tersebut.

Oleh karena itu, ia meminta wartawan menyampaikan dalam beritanya agar rumah sakit lain tidak sembarangan merujuk pasien ke RSPI SS jika belum betul-betul memenuhi kriteria mengidap penyakit menular tersebut.

“Mohon sampaikan ke rumah sakit yang lain, janganlah asal kirim pasien. Harus betul memenuhi kriteria. Kasihan lo pasien jauh-jauh ke sini ternyata nggak (negatif), akhirnya kita masukkan ke ruang biasa. Karena sayang ruang isolasinya kalau dia nggak perlu ke sana,” kata Dirut RSPI SS tersebut.

Dia juga menyampaikan bahwa pasien yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) tak dibebani biaya apa pun terkait penangan Covid-19 karena negara sudah menjamin biaya pengobatan dan perawatan mereka.

Sementara itu, Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI SS) dr Dyani Kusumowardhani mengatakan pasien yang dirujuk ke RSPI SS hendaknya memiliki kriteria pasien dalam pengawasan (PDP). Di antaranya memiliki gejala penyakit seperti influenza seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, namun disertai dengan radang paru-paru baik ringan, sedang, maupun berat.

Persyaratan kedua, memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri yang negara tersebut sudah terjangkit Covid-19 atau ada kontak langsung dengan orang yang sudah dinyatakan positif. “Masuklah ke dalam kriteria itu dulu, kalau sudah masuk kriteria pasien dalam pengawasan (PDP) maka silakan kirim ke sini,” kata Dyani.

Sumber: republika.co.id

dr. Corona Pimpin Muhammadiyah Covid-19 Command Center

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua “Muhammadiyah Covid-19 Command Center”,  dr Corona Rintawan menyampaikan tim akan mengkoordinasikan berbagai program yang melibatkan potensi dan jejaring Muhammadiyah.

Koordinasi dilakukan mulai dari pencegahan, skrining, dan tata laksana awal.

“Muhammadiyah akan menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki semaksimal mungkin membantu pemerintah agar wabah ini segera teratasi,” kata dr Corona.

Berbagai tindakan preventif yang disiapkan adalah sosialisasi dan pendampingan ke Sekolah dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Termasuk prosedur untuk dosen, guru, mahasiswa dan siswa yang cukup banyak akan pulang dari penugasan atau kegiatan di luar negeri.

Sosialisasi dan pendampingan ini juga meliputi tata cara penggunaan masker, penggunaan hand sannitizer, etika batuk–bersin dan deteksi dini.

Sementara RS Muhammadiyah yang disiapkan untuk tata laksana awal bila ditemukan pasien yang diduga sebagai suspect dipilih berdasarkan sebaran area kerja yang dikoordinasikan oleh Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat dan Pimpinan Wilayah.

Untuk program ke sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat akan dikoordinasikan sebagai program bersama dengan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, Majelis Diktilitbang, LAZISMU, Aisyiyah, IPM, IMM dan semua organisasi kader lainnya.

Adapun daftar RS Muhammadiyah yang disiapkan di antaranya, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, RS PKU Muhammadiyah Bantul, RS Muhammadiyah Lamongan, RS Fastabiq Sehat PKU Muhammadiyah Pati, RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dan RSI Muhammadiyah Kendal.

Selain itu, ada juga RS PKU Muhammadiyah Gamping, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS PKU Muhammadiyah Gombong, RS PKU Muhammadiyah Roemani Semarang, RS Fatimah Banyuwangi, RS Univ Muhammadiyah Malang, dan RS Siti Khotijah Sepanjang – Sidoarjo.

Rumah sakit lainnya yang ditunjuk adalah RS Muhammadiyah Palembang, RS Muhammadiyah Metro – Lampung, RSI PKU Muhammadiyah Palangkaraya, RSI Jakarta Cempaka Putih, RSI Jakarta Pondok Kopi, RS Aisyiyah Ponorogo, serta RS Aisyiyah Muntilan.

sumber: republika.co.id

Seluruh Jaringan Muhammadiyah Disiapkan Siaga Hadapi Virus Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Guna membantu menghadapi virus Corona yang telah dinyatakan positif ada di Indonesia, Ormas Islam Muhammadiyah menyiagakan seluruh jaringannya mulai dari Rumah Sakit, Sekolah, Perguruan Tinggi, hingga Jaringan Kader.

Dipimpin dr  Corona  Rintawan, Pimpinan Pusat Muhammadiyah membentuk “Muhammadiyah Covid-19 Command Center”.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dr Haedar Nashir beberapa waktu lalu telah menyatakan tentang kesiapan RS Muhammadiyah menangani pasien positif virus corona covid-19.

Kamis malam (5/3), resmi dibentuk “Muhammadiyah Covid-19 Command Center” untuk meningkatkan akselerasi program.

Jumlah Rumah Sakit yang disiapkan bertambah, semula 15 Rumah Sakit bertambah menjadi 20 Rumah Sakit. Programnya meluas menjangkau sekolah, perguruan tinggi dan komunitas untuk edukasi dan pencegahan.

Pembentukan tim ini merupakan tindak lajut dari penugasan kepada Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk melakukan koordinasi.

Sesuai dengan prosedur standar yang diterapkan, sebelumnya sudah dilakukan persiapan dan simulasi untuk menangani potensi wabah sepert yang dilakukan di  RS PKU Muhammadiyah Surakarta, RS PKU Muhammadiyah Bantul dan beberapa RS Muhammadiyah/Aisyiah di berbagai kota.

“Kami percayakan penanganan virus Corona ini kepada dokter Muhammadiyah yang bernama Corona Rintawan. Bukan hanya karena ada kesamaan nama, tapi beliau memang ahlinya. Beliau spesialis emergency dari RS Muhammadiyah Lamongan yang juga koordinator Emergency Medical Team Muhammadiyah untuk misi internasional,” ujar Ketua PP Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrohman, , Jumat (6/3).