Berita Terkini

Digempur Corona, Ekonomi Dunia di Ambang Resesi

INTERNASIONAL(Jurnalislam.com) – Perekonomian dunia benar-benar terpukul akibat penyebaran virus corona yang semakin masif. Pelaku pasar menilai tren pertumbuhan ekonomi global akan terhenti pada kuartal I-2020, dan tanda-tanda resesi semakin kuat.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters yang melibatkan 41 institusi di Benua Amerika dan Eropa, 31 di antaranya memperkirakan ekspansi ekonomi akan berhenti pada kuartal I tahun ini. Kali terakhir perekonomian dunia mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) adalah pada 2009.

“Tidak ada keraguan. Ekspansi ekonomi terpanjang sepanjang sejarah akan berakhir kuartal ini. Sekarang masalahnya apakah kontraksi akan berlangsung lama sehingga menciptakan resesi?” kata Bruce Kasman, Head of Global Economic Research di JP Morgan, seperti dikutip dari Reuters.

Resesi bisa diartikan sebagai kontraksi ekonomi dalam dua kuartal beruntun pada tahun yang sama. Survei Reuters menunjukkan perekonomian global masih tumbuh 1,6% tahun ini, jauh melambat dibandingkan pencapaian tahun lalu.

Namun bukan berarti tidak ada resesi. Bisa saja kontraksi terjadi secara beruntun pada kuartal I dan II, kemudian baru bangkit pada dua kuartal berikutnya. Kontraksi pada kuartal I dan II sudah masuk kategori resesi.

sumber: cnbcindonesia

 

MUI Serukan Shalat Ghaib untuk Korban Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh mengimbau masyarakat untuk melakukan shalat ghaib. Hal tersebut dilakukan guna mendoakan umat Islam yang wafat akibat merebaknya virus Covid-19 alias Corona.

“Shalat ghaib bisa dilaksanakan di rumah masing-masing baik berjamaah maupun sendiri-sendiri,” kata Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan tertutlis di Jakarta, Ahad (22/3).

Asrorun juga mengimbau agar masyarakat melakukan qunut nazilah di setiap shalat fardlu. Hal tersebut dilakukan agar terhindar dari wabah serta berdoa agar wabah segera sirna.

Dia meminta pemerintah untuk melakukan pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) mengikuti ketentuan fatwa MUI Nomor 14/2020. Artinya, pengurusan jenazah terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengkafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

“Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19,” kata Asrorun lagi.

Sementara, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 64 kasus menjadi 514 orang. Jumlah angka kematian juga bertambah 10 orang menjadi 48. Data tersebut dihitung hingga hingga Ahad sore ini.

Sumber: republika.co.id

Rupiah Tembus Rp 15.950 per Dollar AS

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, kembali menembus level Rp 16.000/US$.

Pada Jumat (20/3/2020), US$ 1 dibanderol Rp 15.950/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan dengan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 7:40 WIB:

Periode Kurs
1 Pekan Rp16.515
1 Bulan Rp16.675
2 Bulan Rp16.865
3 Bulan Rp17.040
6 Bulan Rp16.866,1
9 Bulan Rp17.515
1 Tahun Rp17.673,8
2 Tahun Rp18.164,7

sumber: cnbcindonesia

Corona di RI 514 Kasus, Tersebar di 20 Provinsi

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Jumlah pasien positif corona di Indonesia per 22 Maret kemarin kembali bertambah. Angkanya kini naik 64 kasus positif sehingga total menjadi 514 kasus.

Hal ini ditegaskan Juru Bicara Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto kemarin. Selain itu, ada penambahan pasien yang sembuh menjadi sembilan orang sehingga total sebanyak 29 orang.

Namun terdapat juga penambahan yang meninggal sebanyak 10 orang. “Meninggal jadi sebanyak 48 orang, semua datanya sudah didistribusikan dan diberikan ke pemerintah provinsi,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan ini.

Sementara itu, berdasarkan provinsi, ada total 20 daerah di mana corona menyebar. DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan terbanyak yakni 40 kasus baru sehingga total menjadi 307 orang.

Selain itu Jawa Barat, dengan tambahan empat kasus baru menjadi 59 orang. Lalu Banten tetap 47 kasus dan Jawa Timur bertambah 15 kasus baru menjadi 41 orang.

Ada pula Jateng (total 15 kasus), Kalimantan Timur (9), DI Yogyakarta (5), Kepulauan Riau (4), Bali (3), Sulawesi Tenggara (3), Kalimantan Barat (2), Kalimantan Tengah (2), Sumatera Utara (2), Sulawesi Selatan (2), Papua (2), Kalimantan Selatan (1), Sulawesi Utara (1), Lampung (1), Riau (1), Maluku (1).

Menyusul Masjidil Haram dan Nabawi, Masjid Al Aqsa Akhirnya Ditutup

ALQUDS(Jurnalislam.com)- Komplek Masjid Al-Aqsa di Yerusalem per hari ini, Senin (23/3/2020) akan sepenuhnya ditutup. Hal ini diumumkan secara resmi oleh pengelola situs muslim tersebut Ahad (22/3/2020).

Langkah ini diambil guna meminimalisir penyebaran virus corona (COVID-19). Sebelumnya larangan umroh juga diberlakukan Arab Saudi untuk membendung virus ini.

“Ini merupakan pertama kalinya sejak 1967 penutupan dilakukan di situs ketiga Islam itu,” tulis AFP, mengutip Direktur Masjid Al-Aqsa, Sheikh Omar al-Kisswani.

Sejak corona mewabah, jumlah jamaah yang shalat di mesjid tersebut berkurang drastis, dari 30 ribu orang menjadi ratusan orang saja per hari. Meski ditutup, karyawan masjid masih bisa masuk dan berdoa di sana.

Sebelumnya, Israel yang mengontrol pintu masuk ke komplek Al-Aqsa sudah memblokir akses ke situs ini. Wilayah Yerusalem sendiri masih diperebutkan Israel dan Palestina.

Sementara itu, Israel melaporkan angka kasus positif corona sebanyak 1.071 orang dengan satu pasien meninggal. Sedangkan Palestina melaporkan 57 kasus di Tepi Barat dan dua kasus di Jalur Gaza.

Sebelumnya pada 20 Maret lalu, Arab Saudi juga menutup sementara halaman luar dua masjid suci di Makkah dan Madinah untuk shalat. Ini dilakukan untuk membendung penyebaran corona.

“Otoritas dan lembaga-lembaga keamanan dan kesehatan memutuskan untuk menghentikan kehadiran orang-orang dan shalat di halaman luar Masjid Al-Haram di Makkah dan Nabawi di Madinah yang dimulai dari 20 Maret,” tulis Saudi Gazette mengutip pengurus masjid tersebut

Jika Tak Lockdown, Ini Rekomendasi IDI untuk Pemerintah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memintah pemerintah menegaskan penerapan social distancing agar dapat dijalankan dengan maksimal. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah alternatif jika pemerintah tak ingin penerapakan lockdown.

“Pertama, ini masalah serius jadi harus bekerja cepat sekali nggak boleh sebaliknya,” kata Ketua Satgas Covid-19 IDI Profesor Zubairi Djoerban di Jakarta, Senin (23/3).

Dia juga menyarankan untuk menerjemahkan sosial distancing ke dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti publik. Misal batalkan piknik, batalkan rapat, batalkan arisan dan jangan ada pertemuan-pertemuan apapun dengan tetap tinggal di rumah.

Dia mengatakan, penerimaan informasi masyarakat juga harus terus diperbarui karena kerja sama dengan mereka amat diperlukan. Dia meminta pemerintah dan mengimbau media untuk tidak hanya melontarkan informasi terkait corona tapi ubah perilaku publik.

“Perliaku ini penting karena kalau mereka ini tidak mengikuti anjuran pemerintah maka bisa gagal,” katanya.

Dia meminta pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang tidak ngawur dan terbukti ilmiah untuk kemudian disebarluaskan. Dia juga mengimbau agar pemerintah melakukan tes seluas dan sebanyak mungkin secara cuma-cuma dan mengisolasi warga yang terinfeksi.

Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan dengan tegas maka sebenarnya sama dengan membatasi akses masyarakat. Namun, dia mengatakan, pengetatan pergerakan itu menjadi istilah lain dari lockdown.

“Sebetulnya kan itu sama saja tapi itu istilah lain saha, “lockdown kecil” lah. Jadi kalo lockdown bagus tapi kalau tidak lockdown asal isunya sama aja ya nggak apa-apalah,” katanya.

Sementara, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 64 kasus menjadi 514 orang. Jumlah angka kematian juga bertambah 10 orang menjadi 48. Data tersebut dihitung hingga hingga Ahad sore.

 

Saudi Laporkan Peningkatan Tajam Kasus Corona

RIYADH(Jurnalislam.com) – Pemerintah Arab Saudi melaporkan adanya peningkatan tajam pasien positif Covid-19 pada Ahad (22/3). Tercatat total infeksi mencapai 511 orang.

Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi, Mohammed Al-Abdel Ali, ada 119 kasus terdeteksi dalam satu hari tersebut.

Namun demikian, tingkat penyembuhan di negara itu disebut meningkat menjadi 18 orang, di mana dua diantaranya merupakan pasien baru.

“Kami telah berulang kali memperingatkan agar tidak menghadiri acara dan pertemuan sosial karena berbahaya bagi anggota masyarakat. Tindakan pencegahan dan pencegahan anti-korona terus berlanjut, ”kata Abdel Ali seperti dilansir Saudigazzete, Senin (23/3).

Pihaknya dalam konferensi pers mengaku, terus mendesak masyarakat untuk tinggal di rumah dan menghindari kontak dengan orang lain. Terlebih, menurut dia, 72 kasus baru dilaporkan dari warga negara asing.

Dia melanjutkan, dari 119 kasus, 72 di antaranya berlokasi di Mekah, 34 di Riyadh, empat di Al-Qatif, dan tiga di Al-Ahsa. Selain dari tiga kasus di Khobar, satu kasus di Dhahran, satu kasus di Dammam, dan satu kasus di Qassim.

Dia mengatakan, pihak Kerajaan telah melakukan 23.000 test laboratorium untuk virus corona. Sementara itu, kasus kontak dengan orang yang terinfeksi corona sedang dipantau lebih lanjut.

Lebih jauh, pihak Kementerian Kesehatan Saudi juga meminta semua orang untuk mematuhi pedoman dan arahan untuk memastikan keselamatan pribadi serta keselamatan anggota masyarakat lainnya.

Terutama dengan langkah masyarakatnya untuk menghindari berjabat tangan, terus mencuci tangan, dan menghindari pertemuan.

Sumber: republika.co.id

 

Pemkot Surabaya Pasang Bilik Sterilisasi, Kota Lain Kapan?

SURABAYA(Jurnalislam.com) — Pemerintah Kota Surabaya memasang dua bilik sterilisasi di terminal Bandara Juanda, untuk mencegah penyebaran virus corona. Dua bilik tersebut dipasang di terminal 1 dan terminal 2 Bandara Juanda.

Seluruh pengunjung yang tiba di terminal kedatangan, baik domestik maupun internasional, akan melewati bilik sterilisasi tersebut.

Kasie Pemeliharaan Bangunan dan Gedung, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP-CKTR) Kota Surabaya, Anggoro Himawan mengatakan, pemasangan dua bilik sterilisasi di T1 dan T2 Juanda Airport ini berdasarkan arahan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Hal itu sebagai upaya preventif untuk mencegah penyebaran Covid-19, khususnya di salah satu pintu masuk ke Kota Surabaya.

 

“Sementara ini arahan dari Ibu Wali Kota ada dua titik (bilik sterilisasi), jadi yang di T1 dan T2 kedatangan (Juanda),” kata Anggoro di Surabaya, Ahad (22/3).

 

Anggoro menjelaskan, di terminal 1 Bandara Juanda, tepatnya di kedatangan domestik dipasang bilik sterilisasi tipe tunnel (terowongan). Sementara di terminal 2 aatau kedatangan internasional, dipasangi bilik sterilisasi tipe chamber (ruangan). Namun, berdasarkan kajian yang dilakukan, ke depan bilik chamber yang ada di T2 Juanda akan diganti dengan tipe tunnel agar lebih cepat dan efektif dalam proses screening.

 

“Pemasangan bilik sterilisasi di tempat umum ini yang pertama kali di T1 dan T2 Juanda,” ujar Anggoro.

 

Kepala Bidang Kekarantinaan dan Surveilans KPP Kelas 1 Surabaya, Budi Santoso menyambut baik langkah preventif yang dilakukan Pemkot Surabaya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Pihaknya berharap, upaya itu juga dapat mendukung pelayanan kepada masyarakat.

 

“Semoga ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Alat ini akan beroperasi dari mulai adanya penerbangan di kedatangan dari pagi sampai malam. Penerbangan paling pagi jam 7 sampai jam setengah 11 malam,” kata Budi.

 

Communication and Legal Manager Bandara Juanda Surabaya, Yuristo Ardhi Hanggoro mengatakan, di tengah penyebaran virus corona, diperlukan pencegahan penyebaran yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dia mengaku, pihaknya telah melakukan berbagai cara dalam upaya mencegah penyebaran virus corona. Hal itu seperti melakukan penyemprotan disinfektan, kebijakan social distancing, penyediaan cairan pembersih tangan, hingga pengukuran suhu tubuh.

 

“Kehadiran bilik sterilisasi dari Pemkot tentunya akan melelengkapi, karena dapat membantu kami dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19,” kata Yuristo.

Sumber: republika.co.id

 

Malaysia Kerahkan Tentara Cegah Warga Keluar Rumah

KUALA LUMPUR(Jurnalislam.com) — Malaysia mengerahkan pasukan militer untuk menegakkan pembatasan pergerakan warga dua pekan karena penyebaran virus corona, Ahad (22/3).

Menteri Pertahanan, Ismail Sabri Yaakob, mengatakan, keterlibatan militer itu karena beberapa warga yang tidak menaati pembatasan yang sudah berlangsung sejak 18 Maret.

“Meskipun polisi telah mengatakan kepatuhan 90 persen sekarang, 10 persen bukan jumlah yang kecil,” kata Ismail.

Negara tersebut sejauh ini melaporkan sembilan kematian dan 1.183 infeksi virus corona. Sedangkan Asia Tenggara telah mencatat total lebih dari 3.200 kasus positif, dengan pusat penyebaran luas di Thailand, Indonesia, Singapura, dan Filipina.

“Di antara hal-hal yang akan dilakukan bersama oleh polisi dan tentara termasuk memblok jalan. Demikian juga untuk patroli di daerah perkotaan dan perdesaan, menjaga keamanan di rumah sakit, mengelola daerah yang padat dan mungkin tidak mematuhi perintah seperti pasar,” kata Ismali.

Kenaikan jumlah infeksi vrus corona terjadi karena tabligh akbar yang diadakan di sebuah masjid di dekat ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Acara tersebut menyumbang 60 persen dari semua kasus di Malaysia.

Sumber: republika.co.id

Stop! Jangan Jadi Agen Covid-19

Oleh: Tony Rosyid

Hanya 15 persen positif Covid-19 ketahuan gejalanya. Mungkin batuk, sesak nafas dan demam. Ini gejala umum, kata orang medis. 85 persen, gak ada tanda-tandanya.

Jika angka positif Covid-19 day to day naik drastis, karena mereka memang tak dikenali gejalanya. Tahu-tahu parah. Dua-tiga hari, pek dan mati. Terutama mereka yang daya tahan tubuhnya (imun) lemah.

Usia 0-40 tahun, umumnya relatif kuat daya tahan tubuhnya. Meski tak menjamin. Di atas usia 40 tahun, rentan. Kenapa petinju disarankan pensiun usia 40 tahun, karena fisik sudah mulai melemah.

Di atas usia 50, 60, 70 tahun, jauh lebih rentan. Ini bicara kondisi secara umum. Artinya, di atas usia 40 tahun mesti lebih waspada. Jaga stamina, hidup sehat dan lebih disiplin lagi.

Usia 0-40 tahun? Tak menjamin fisik anda semuda usia anda. Apalagi jika anda perokok, suka begadang, jarang olah raga, asupan makanan tak bergizi, kerja lelah atau stres, maka akan rentan juga.

Yang sehat? Jangan jadi agen virus. Anda kuat, dan daya tahan tubuh anda bagus, tapi anda membawa virus kemana-mana. Anda menularkan virus ke banyak orang. Diantara mereka mati gara-gara tertular dari anda.

Dosakah? Pasti! Apapun agama anda, itu dosa sosial. Itu dosa kemanusiaan. Karena anda sengaja berkeliaran di luar, berinteraksi dengan banyak orang, bersalaman dan nongkrong yang tak perlu.

Jika kita cinta bangsa ini, jangan menjadi agen virus. Caranya? Stay di rumah. Diem di rumah. Kecuali ada urusan dan kebutuhan super urgent. Itupun mesti dilakukan dengan cara-cara sehat.

Apa cara yang sehat? Jangan bersentuhan dengan orang lain, meski salaman. Jaga jarak 1,5 meter. Upayakan pakai masker. Ini baru betul-betul “Pancasilais dan pro NKRI”.

Masker susah dan harganya selangit. Itu ujian bagi bangsa ini. Di saat-saat sulit selalu ada “iblis kapitalis”. Bukannya nyumbang, malah cari keuntungan. Berharap pemerintah menertibkan. Lebih baik membagikan dengan gratis. Tidak sekedar janji. Duit dari mana? Pajak rakyat sudah dibayarkan pak!

Cara murah dan paling aman memang stay di rumah. Keluar rumah hanya untuk keperluan yang sangat penting. Tapi, bagaimana dengan para pedagang kecil, uangnya hanya untuk hidup satu-dua hari?

Dilematis! Memang, betul-betul dilematis. Pilih nyawa atau makan? Gak makan, mati juga. Disini pemerintah harus hadir. Sinergi pemerintah pusat dan daerah. Atasi mereka.

Dari mana anggarannya? Dari pagu kegiatan lain. Batalkan, atau setidaknya kurangi anggaran-anggaran untuk kegiatan lain. Perjalanan dinas, studi banding, pembelian kebutuhan yang bisa ditunda tahun depan, hentikan pembangunan infrastruktur, dan seterusnya. Alokasikan dana-dana itu untuk tangani para pasien covid-19 dan dampak ekonominya. Termasuk untuk para perdagang asongan itu.

Gak melanggar aturan? Ubah aturannya. Jangan rakyat mati karena kakunya aturan. Aturan dibuat untuk selamatkan dan sejahterakan rakyat. Bukan untuk bunuh rakyat!

Kalau anggaran sudah disiapin, paksa rakyat stay di rumah. Bukan himbauan lagi. Instruksikan! Pemerintah buat aturan dan mekanismenya. Detail, lengkap, jelas dan pastikan tersosialisasikan ke rakyat. Dan yang terpenting, dijalankan!

Sabtu kemarin ( 21/3) enam orang mati. Entah besok dan besoknya lagi. Tak banyak waktu bagi pemerintah untuk “istiharah” politik. Itu nanti. Lebih baik lakukan ikhtiar kesehatan dan ekonomi. Selamatkan dulu rakyat dengan merumahkan mereka untuk sementara waktu, sehingga tidak menjadi agen penyebaran dan korban covid-19

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa