Berita Terkini

Benarkan Wabah Corona Akan Berakhir Bulan Mei?

(Jurnalislam.com) – Akhir-akhir ini kita banyak mendengar hadits yang dikaitkan dengan diangkatnya wabah. Yaitu hadits yang menyebutkan wabah akan diangkat ketika muncul bintang di waktu subuh.

 

Diperkirakan bintang tersebut adalah Tsuraya akan akan muncul pada bulan Mei.

 

Terdapat beberapa hadits yang menjadi acuan dalam persoalan ini diantaranya yaitu:

 

مَا طَلَعَ النَّجْمُ غَدَاةً قَطُّ وَبِقَوْمٍ أَوْ بِقَرْيَةٍ عَاهَةٌ، إِلا خَفَّتْ أَوِ ارْتَفَعَتْ عَنْهُمْ

 

“Tidaklah terbit bintang di pagi hari, sedangkan saat itu suatu kaum atau sebuah kampung ditimpa penyakit (wabah), kecuali pasti wabah itu diringankan atau diangkat dari mereka.”

 

Hadits di atas dikeluarkan oleh Imam Thabrani, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barri, Ahmad dll

 

Diluar perselisihan keshahihan hadits tersebut, hadits berkaitan dengan العاهة (‘aahah) yaitu penyakit tanaman, wabah pada tanaman atau hama. Sebab hadits tersebut berada dalam Kitabul Buyu’ (Kitab Jual Beli) Bab Larangan Jual Beli Spekulasi.

 

Hadits di atas juga tidak berdiri sendiri namun berkaitan dengan hadits lainnya pada Kitab yang sama diantaranya:

 

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُرَاقَةَ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عُمَرَ عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ فَقَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تَذْهَبَ الْعَاهَةُ قُلْتُ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ حَتَّى تَطْلُعَ الثُّرَيَّا

 

“Dari Utsman bin Abdullah bin Suraqah ia berkata: “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang menjual buah-buahan (yang masih muda). Ibnu Umar lalu menjawab, “Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melarang menjual buah-buahan hingga penyakitnya hilang.” Aku tanyakan, “Kapan itu?” Ia menjawab, “Hingga terbit sekumpulan bintang-bintang .”  (HR. Ahmad)

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ النَّخْلِ حَتَّى يَزْهُوَ وَعَنْ السُّنْبُلِ حَتَّى يَبْيَضَّ وَيَأْمَنَ الْعَاهَةَ نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُشْتَرِيَ

 

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melarang menjual kurma hingga tampak buahnya dan bijian sampai mengeras (tampak matangnya) dan terbebas dari kerusakan/hama, beliau melarang kepada penjual dan pembeli.” (HR. Muslim)

 

Jadi hadits-hadits diangkatnya wabah penyakit yang dikaitkan dengan bintang Tsuraya adalah penyakit hama pada tanaman. Bukan berkaitan dengan pandemi virus corona.

 

Kita berharap wabah Corona segera berakhir dan negeri kita terhindar menjadi episentrum pandemi. Namun memastikannya akan berakhir pada bulan Mei adalah mendahului takdir Allah.

 

Tidak ada makhlukpun mengetahui kapan wabah ini akan berakhir, karena ilmunya di sisi Allah dengan segala hikmah-Nya. Yang terbaik adalah kita ikhtiyar yang maksimal diantaranya dengan sedekah. Karena Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda,

 

باكروا بالصدقة فان الوباء لا يتخطاها

 

“Bersegeralah sedekah, karena wabah tidak dapat mendahuluinya”.

(HR. Al-Baihaqi)

[Agus Riyanto]

 

Kemenag: Tidak Ada Dana Jemaah Haji Digunakan Untuk Penanganan Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Agama memastikan bahwa tidak ada dana jemaah haji Indonesia yang digunakan untuk program penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Kemenag juga menegaskan tidak ada rencana menggunakan dana jemaah haji untuk tujuan tersebut.

Hal ini ditegaskan Juru Bicara Kementerian Agama Oman Fathurahman merespon berkembangnya diskursus penggunaan dana jemaah haji untuk penanganan Covid-19. Wacana pengalihan dana haji ini muncul pertama kali dari usulan Komisi VIII DPR saat Rapat Kerja bersama Kementerian Agama, 8 April 2020.

“Saya pastikan tidak ada dana jemaah haji yang digunakan untuk pencegahan Covid-19,” tegas Oman di Jakarta, Senin (13/04).

Menurut Oman, pasal 44 UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah mengatur, bahwa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) bersumber dari biaya perjalanan ibadah haji (Bipih), APBN, Nilai Manfaat, Dana Efisiensi, dan/atau sumber lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

“BPIH yang bersumber dari Bipih, Nilai Manfaat, dan Dana Efisiensi berasal dari dana setoran awal dan pelunasan dari jemaah haji serta dana hasil kelolaan (investasi) Badan Pengelola Keuangan Haj (BPKH), sepenuhnya dipergunakan untuk layanan kepada Jemaah haji,” tuturnya.

Sedangkan BPIH yang bersumber dari APBN dipergunakan untuk operasional petugas dalam melayani jemaah haji. Dana yang bersumber dari APBN itu antara lain digunakan untuk akomodasi dan konsumsi petugas haji. Selain itu, dana APBN tersebut juga digunakan untuk biaya transportasi darat petugas selama di Arab Saudi, serta transportasi udara petugas haji dari Indonesia ke Arab Saudi dan sebaliknya. Anggaran rekrutmen dan pelatihan petugas haji, penyiapan dokumen perjalanan haji, sewa kantor sektor dan kantor Daker serta kebutuhan-kebutuhan operasional lainnya baik di dalam negeri maupun di Arab Saudi juga menggunakan dana APBN, bukan dana haji.

“Apabila haji batal dilaksanakan tahun ini, hanya BPIH yang bersumber dari APBN yang dapat direalokasi untuk mendukung upaya penanganan penyebaran Covid-19,” tegasnya.

“Sedangkan untuk BPIH yang bersumber dari Bipih, Nilai Manfaat, dan Dana Efisiensi akan dikembalikan ke Kas Haji yang ada di BPKH untuk pelaksanaan operasional haji pada tahun-tahun mendatang,” sambungnya.

Dalam rangka pelaksanaan operasional haji tahun 2020, kata Oman, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) mendapatkan alokasi dana dari APBN sebesar Rp486 miliar. Dari total alokasi APBN untuk Ditjen PHU tersebut, terdapat juga alokasi untuk pelaksanaan tugas dan fungsi Ditjen PHU.

“Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Arab Saudi mengenai keberlangsungan penyelenggaraan ibadah haji (PIH) tahun 2020. Oleh karenanya, Pemerintah terus mempersiapkan PIH tahun 2020,” pungkasnya.

MUI Ajak Umat Muslim Petik Hikmah dari Pandemi COVID-19 Sebagai Rahmat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Sekretaris komisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA menyatakan bahwa wabah COVID-19 bisa menjadi bala bencana atupun rahmat bagi umat manusia, tergantung bagaimana cara menyikapinya.

 

Oleh sebab itu, MUI mengajak kepada seluruh umat muslim Tanah Air agar wabah COVID-19 dapat dijadikan sebagai bentuk rahmat dengan memetik hikmah dan menjalankan ibadah serta memaknai segala sesuatunya sesuai syariat Islam.

 

“Bagaimana kita secara bersama-sama memastikan bahwa wabah COVID-19 ini sebagai rahmat bagi kita untuk memetik hikmah dan menjalankan ibadah secara lebih seksama,” ungkap Asrorun dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Senin (13/4).

 

Selain itu, MUI juga mengajak umat muslim Tanah Air untuk menyongsong ramadan dengan kesiapan lahir dan batin, fisik dan juga mental serta pemahaman baru kebiasaan baru ibadah di tengah COVID-19. Situasi dan kondisi baru menuntut pemahaman baru dan juga cara-cara baru tetap di dalam koridor syariah.

 

“COVID-19 bukan halangan untuk pelaksanaan ibadah (Ramadan). Menghindari kerumunan yang berpotensi penyebaran virus adalah ibadah di Sisi Alloh SWT. Pemahaman kita tentang tata cara ibadah harus juga diadaptasikan dengan situasi dan kondisi,” kata Asrorun.

 

Adapun melalui pemahaman makna dari syariat islam, maka umat muslim sudah sepatutnya melihat bahwa hal tersebut merupakan sebagai rahmat dan solusi bagi problem nyata yang dihadapi masyarakat sebagaimana yang sedang dihadapi seluruh umat yakni ancaman COVID-19.

 

“Bagaimana etos keagamaan ramadan bisa menjadi solusi dengan aktivitas keagaamaan kita, pada satu sisi mengingkat, di satu sisi lain menjamin keamanan dan keselamatan bangsa dan negara,” imbuh Asrorun.

 

Ibadah ramadan harus dijadikan sebagai momentum emas untuk mempercepat penanganan COVID-19 dengan etos dan semangat keagamaan.

 

Melalui kesempatan tersebut, sekali lagi MUI menjelaskan bahwa pembatasan kerumunan bukan membatasi ibadah. Menghindari kerumunan di tengah wabah COVID-19 ini justru adalah bentuk ibadah.

 

“Pembatasan kerumunan bukan membatasi ibadah, untuk itu menghindari kerumunan dalam konteks hari ini justru adalah bentuk ibadah,” pungkas Asrorun.

Polda Metro Mulai Tindak Pelanggar PSBB

JAKARTA(Jurnalislam com) – Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya memberlakukan sanksi berupa surat pernyataan terhadap warga yang melanggar ketentuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), mulai Senin (13/4) pagi.

“Teguran berlangsung mulai hari ini. Kalau kemarin sifatnya hanya teguran secara lisan, hari ini kita berhentikan kendaraannya dan diminta mengisi blanko,” kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo.

Pernyataan itu disampaikan Sambodo saat memimpin jalannya Operasi Keselamatan Jaya di Cek Poin Jalan Raya Inspeksi Saluran Kalimalang, Jakarta Timur. Pada hari keempat penerapan PSBB di Jakarta, kata Sambodo, volume kendaraan di jalur perbatasan Kota Bekasi dengan Jakarta Timur itu terpantau ramai lancar.

“Karena hari pertama kerja setelah tiga hari terakhir situasi lalin tidak banyak volumenya. Hari ini keadaan ramai,” katanya.

Namun Sambodo melihat tingkat kesadaran masyarakat terhadap peraturan PSBB dalam rangka memutus mata rantai Covid-19 semakin membaik.

“Tapi kita lihat PSBB sudah mulai bisa dipahami masyarakat. Sangat sedikit yang melanggar, dari tidak pakai masker hingga ketentuan berkendara,” katanya.

Sambodo mengatakan mayoritas pengendara sudah menggunakan masker, meski ada beberapa pengendara mobil yang sebenarnya membawa masker dalam kendaraan namun tidak dipakai.
Sumber:republika co.id

Angka Kematian Covid-19 di Inggris Tembus 10 Ribu Orang

LONDON(Jurnalislam com)– Angka kematian akibat penyakit virus korona (covid-19) di Britania Raya telah melampaui 10 ribu per Minggu malam, 12 April 2020. Lewat tambahan 710 kematian, Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) mencatat totalnya kini mencapai 10.647. Angka tersebut juga meliputi Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Untuk Skotlandia, angka kematian harian covid-19 bertambah 24, sementara Wales 18 dan Irlandia Utara 11.

Terlewatinya angka total 10 ribu terjadi saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson diizinkan keluar dari rumah sakit. Ia dijadwalkan akan melanjutkan proses pemulihannya di Chequers, kediaman resmi PM Inggris di wilayah pedesaan Buckinghamshire.

“Atas nasihat tim medis, PM (Johnson) tidak akan langsung kembali bekerja. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua orang di rumah sakit St Thomas’ yang telah merawatnya dengan baik,” ujar pernyataan resmi dari kantor PM Inggris di Downing Street.

Sebelumnya, Direktur Medis NHS Stephen Powis menilai saat ini Inggris masih berada dalam “ronde pertama” dalam perang melawan covid-19. Karena belum ada vaksin tersedia, Powis menyebut kebijakan penguncian wilayah (lockdown) kemungkinan belum dapat dicabut.

“Menjaga jarak sosial (social distancing) merupakan hal yang sangat penting dalam fase awal menghadapi covid-19,” ujar Powis, dikutip dari laman Yahoo News UK.

Powis menegaskan bahwa vaksin adalah bagian penting dalam penanganan jangka panjang covid-19. Namun, ia menyebut proses pengembangan vaksin covid-19 tidak bisa terjadi secara instan.

Saat PM Johnson belum dapat bertugas, jajaran menterinya berada di bawah tekanan untuk menjelaskan mengapa angka kematian akibat covid-19 di Inggris terus melonjak dengan cepat.

Dalam dua hari terakhir, angka kematian harian di Inggris bertambah sebanyak lebih dari 900. Jumat lalu, angkanya mencapai 980 yang bahkan melampaui jumlah harian tertinggi di Italia.

Menteri Luar Negeri Dominic Raab menjadi pengganti Johnson untuk sementara waktu.

Sumber: medcom.id

Polisi Mesir Tindak Tegas Penolak Jenazah Korban Covid-19

KAIRO(Jurnalislam.com) — Polisi Mesir menindak tegas dengan tembakan gas air mata warga di desa dekat Delta Nil karena menolak pemakaman dokter yang meninggal akibat terpapar virus corona Covid-19, Sabtu (11/4).

Kementerian Dalam Negeri menyebutkan 23 orang ditangkap dan jaksa penuntut umum menyatakan kantornya akan menyelidiki insiden tersebut. Tayangan di media sosial menunjukkan puluhan orang mengadang ambulans menuju tempat pemakaman di desa tersebut lantaran khawatir jenazah dapat menularkan virus. Mereka berhamburan ketika polisi menembakkan tabung gas air mata.

Dar al-Ifta Mesir, otoritas pusat yang berwenang mengeluarkan fatwa, mengatakan pada Sabtu bahwa siapa pun yang meninggal akibat virus corona harus ditangani sesuai ajaran agama dan “jenazahnya dihormati”.

Jenazah pengidap virus corona harus dibersihkan secara hati-hati dan dibungkus dengan kantong tertutup agar tidak menyebarkan infeksi, menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Khaled Megahed kepada lembaga penyiar Mesir milik Arab Saudi, MBC Masr.

Mesir pada Sabtu mencatat 145 kasus baru Covid-19, menambah total menjadi 1.939 kasus termasuk 146 kematian. Ikatan dokter Mesir menyebutkan hingga kini 43 dokter tertular penyakit tersebut dan tiga dokter lainnya gugur dalam perang melawan corona.

Sumber: republika.co.id

Italia Catat Angka Kematian Covid-19 Terendah Sejak 19 Maret

ITALIA (Jurnalislam.com)— Korban meninggal akibat epidemi Covid-19 di Italia bertambah 431 orang pada Ahad (12/4). Jumlah ini lebih rendah dari 619 kematian yang dilaporkan sehari sebelumnya. Sementara jumlah kasus baru menurun yakni 4.092 dari sebelumnya 4.694.

Jumlah kematian harian tersebut merupakan yang terendah sejak 19 Maret. Jumlah akumulasi kematian sejak wabah tersebut terdeteksi pada 21 Februari tercatat 19.889, jumlah tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat, menurut Badan Perlindungan Sipil. Jumlah resmi kasus positif Covid-19 juga bertambah menjadi 156.363, angka tertinggi ketiga secara global setelah Amerika Serikat dan Spanyol.

Terdapat 3.343 pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) pada Ahad (12/4) dibanding 3.381 pada Sabtu (11/4), penurunan hari kesembilan. Sebanyak 34.211 pasien dinyatakan sembuh dibanding 32.424 pada hari sebelumnya.

Corona telah memengaruhi banyak sektor kehidupan di Italia. Salah satunya adalah sektor olahraga. Di cabang sepak bola, kompetisi sepak bola Serie A termasuk yang diminati publik di Italia maupun dunia. Para pengelola klub-klub telah menyepakati melakukan pemotongan gaji para pemain dan pelatih sepak bola di Italia.

Pertimbangan atas pemotongan itu tentu untuk menjaga kestabilan finansial klub-klub di tengah minimnya pemasukan akibat terhentinya untuk sementara pertandingan, sehingga pemasukan atau pendapatan klub dari penjualan tiket tak bisa diharapkan. Direncanakan pemotongan gaji pemain sepak bola yang berlaga di kompetisi Serie A berlangsung hingga Juni.

sumber: republika.co.id

1,8 Juta Warga Bumi Terinfeksi Corona, 114 Ribu Meninggal

WASHINGTON(Jurnalislam.com) — Kasus virus corona baru yang menyebabkan Covid-19 di tingkat global telah melampaui 1,8 juta. Hingga Senin (13/4) pagi, jumlah korban meninggal di seluruh dunia setidaknya 114.194 jiwa.

Dikutip laman Worldmeters, Amerika Serikat (AS) menempati posisi pertama sebagai negara dengan kasus dan jumlah korban meninggal tertinggi. Negeri Paman Sam memiliki 560.402 kasus Covid-19.

Berdasarkan data yang dihimpun Worldmeters, dalam 24 jam terakhir terdapat lebih dari 27 ribu kasus baru Covid-19 yang tercatat di AS. Sementara korban meninggal di negara tersebut mencapai 22.105 jiwa. Jumlah itu naik 1.528 dibandingkan hari sebelumnya.

Spanyol berada di urutan kedua sebagai negara dengan jumlah pasien tertinggi. Negeri Matador memiliki 166.831 kasus Covid-19. Terdapat 3.804 kasus baru dalam 24 jam terakhir.

Sebanyak 17.209 orang telah meninggal di Spanyol akibat Covid-19. Posisi ketiga ditempati Italia dengan 156.363 kasus Covid-19. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibanding Spanyol, korban meninggal akibat Covid-19 di Italia lebih besar, yakni 19.899 jiwa. Kemungkinan besar angka itu akan melampaui 20 ribu.

Prancis menempati posisi keempat dengan 132.591 kasus Covid-19. Sebanyak 14.393 pasien telah meninggal di negara tersebut.

Jerman berada di posisi kelima dengan 127.854 kasus Covid-19. Negara yang dipimpin Angela Merkel itu memiliki jumlah korban meninggal lebih rendah dibandingkan keempat negara Eropa sebelumnya, yakni 3.022 jiwa.

Inggris menyusul di bawah Jerman dengan 84.279 kasus Covid-19. Jumlah korban meninggal di Negeri Ratu Elizabeth mencapai 10.612 jiwa.

Keenam negara tersebut telah melampaui Cina dalam hal jumlah kasus Covid-19. Wabah diketahui bermula dari sana pada Desember tahun lalu.

sumber: republika.co.id

PBB Minta Pemuka Agama Berperan dalam Tanggulangi Corona

WASHINGTON (Jurnalislam.com)— Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan para pemimpin agama bergabung dalam proses memerangi pandemi Covid-19. Hal itu dia utarakan saat umat Kristen merayakan Paskah, Muslim bersiap menyambut Ramadhan, dan Yahudi sedang menjalani Festival Pesakh (Passover).

“Hari ini saya ingin membuat seruan khusus kepada para pemimpin agama dari semua agama untuk bergabung bekerja demi perdamaian di seluruh dunia dan fokus pada perjuangan kita bersama mengalahkan Covid-19,” kata Guterres pada Sabtu (11/4), dikutip laman UN News. 

Guterres menyadari umat Kristen, Yahudi, dan Islam sedang dan akan merayakan momen komunitasnya masing-masing. “Dari keluarga yang berkumpul, pelukan dan jabat tangan serta pertemuan umat manusia. Tapi ini adalah masa yang tidak seperti yang lain,” ujarnya.

Menurut Guterres saat ini semua orang saling mencemaskan kondisi satu sama lain. “Jalanan dunia yang sunyi, tempat ibadah yang kosong, dan dunia yang cemas. Kita khawatir tentang orang-orang yang kita cintai yang sama-sama khawatir tentang kita. Lalu bagaimana kita merayakannya di saat seperti ini?” ucapnya.

Oleh sebab itu, dalam semangat periode suci, Guterres mendorong semua orang menggunakan momen ini sebagai waktu untuk mengingat, memperbarui, dan melakukan refleksi. “Seperti yang kita renungkan, mari kita berikan pemikiran khusus bagi para petugas kesehatan yang gagah berani di garis depan melawan virus yang mengerikan ini dan untuk semua yang bekerja menjaga kota tetap berjalan,” kata Guterres.

“Marilah kita memperbarui iman kita satu sama lain dan memperoleh kekuatan dari kebaikan yang berkumpul di masa-masa sulit ketika komunitas-komunitas dari beragam agama serta tradisi etika bersatu untuk saling menjaga satu sama lain. Bersama-sama kita dapat dan akan mengalahkan virus ini, dengan kerja sama serta keyakinan pada kemanusiaan kita bersama,” kata Guterres.

Hingga berita ini ditulis, terdapat lebih dari 1,7 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus telah melampaui 108 ribu jiwa.

Sumber: republika.co.id

 

Polres Bekasi Mulai Sosialisasikan Aturan PSBB

BEKASI (Jurnalislam.com) — Kepolisian Resor Metro Bekasi dalam waktu dekat akan mendirikan cek poin di sejumlah lokasi perbatasan. Cek poin ini untuk menyosialisasikan pelaksanaan status pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Secara teknis kami masih lakukan pembahasan seperti apa pemberlakuan PSBB, tapi yang pasti kita akan dirikan cek poin di perbatasan wilayah hukum kami,” kata Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan di Cikarang, Ahad (12/4).

Menurut dia,  PSBB di Kabupaten Bekasi tidak akan jauh berbeda dengan pelaksanaan serupa di DKI Jakarta di antaranya melakukan cek poin di wilayah perbatasan. “Selain di titik-titik perbatasan seperti di Tambun Selatan, Setu, Kedungwaringin, Babelan, Tarumajaya, dan Cibarusah, area yang menjadi pusat konsentrasi massa juga akan kita dirikan cek poin ini,” ungkapnya.

Hendra menjelaskan di lokasi cek poin itu nantinya akan ada aktivitas pengecekan terhadap kendaraan yang melintas meliputi pembatasan orang dalam kendaraan. “Seperti motor hanya diperbolehkan untuk satu orang. Sedangkan mobil dibatasi 50 persen dari kapasitas muatan. Begitu juga dengan kendaraan umum,” ucapnya.

Sejumlah area publik seperti pasar, mal, dan pusat kuliner juga akan menjadi salah satu sasaran pengecekan untuk penerapan physical distancing. “Jadi pada umumnya sama penerapannya, saat ini kami masih bahas sambil terus melakukan sosialisasi sebab kapan dilakukan penerapan PSBB di Kabupaten Bekasi masih dalam proses,” ujar Hendra.

Dilansir dari laman pikokabsi.bekasikab.go.id hingga Ahad (12/4) pukul 08.10 WIB, tercatat 42 orang terkonfirmasi positif COVID-10 dengan rincian 11 orang sembuh, 16 orang dirawat di rumah sakit, 7 orang isolasi mandiri, serta 8 orang meninggal dunia. Dari laman yang sama tercatat 628 orang berstatus orang dalam pemantauan (ODP), 126 pasien dalam pengawasan (PDP), 114 orang tanpa gejala (OTG), dan 1 orang pelaku perjalanan (OPP).

sumber: republika.co.id