Berita Terkini

Ini Bahayanya Langsung Tidur Setelah Sahur

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Kebiasaan langsung tidur usai makan sahur sebaiknya segera dihilangkan.

Sebab, makan sahur yang umumnya dilakukan menjelang subuh membuat orang tak sanggup menangan kantuk. Hal ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa buruk bagi kesehatan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Vivien Maryam, SpPD, mengatakan, langsung tidur setelah makan bisa menimbulkan gastroesofageal refluks disease atau yang dikenal dengan GERD.

Kondisi ini membuat makanan yang sudah tertelan masuk ke lambung akan kembali ke saluran esofagus.

“Ini terjadi karena kita dalam posisi terbaring sesaat setelah makan,” katanya, dalam pernyataan tertulis yang dikutip republika.co.id, Selasa (28/4).

Vivien menjelaskan, GERD bisa mengakibatkan heart burn, yaitu rasa panas di dada. Hal ini terjadi akibat asam lambung naik ke wilayah esofagus dan menyebabkan tenggorokan kering, serta suara serak.

“Jika ingin tidur setelah makan, sebaiknya lakukan dua jam setelah makan,” ujarnya.

Akademisi dan Praktisi Klinis, Prof dr Ari F Syam, mengatakan, beberapa faktor disebut mencetus atau memperberat terjadinya GERD pada seseorang. Faktor tersebut antara lain obesitas, kebiasaan merokok, kebiasaan meminum alkohol, konsumsi makanan mengandung coklat, keju dan berlemak, asam, pedas, serta stres.

“GERD menjadi perhatian karena penyakit ini berhubungan dengan penurunan berbagai kualitas hidup pasien yang mengalaminya walau penyakit ini tidak akan menyebabkan kematian mendadak,” ujarnya.

sumber: republika.co.id

Wapres: Berdosa Kalau Masih Ada Tetangga Kita Kelaparan

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian sesama di sekitar tempat tinggal. Ma’ruf tidak ingin ada warga yang ekonominya rentan, tidak bisa makan karena terdampak Covid-19.

Sebab, dalam agama anjuran memberi makan orang yang miskin hukumnya wajib bagi muslim, dan berdosa jika membiarkan terjadi kelaparan di sekitar.

“Tetangga sekitar kita itu harus jadi prioritas utama kita, kalau ada tetangga kita yang sampai tidak makan, maka kita menjadi berdosa dan kewajibannya bukan hanya Fardlu Kifayah tapi Fardhu Ain,” ujar Ma’ruf dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (28/4).

Karena itu, bulan Ramadhan di tengah pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk meningkatkan solidaritas sosial. Selain, merupakan kewajiban sesama, ganjaran pahala bersedekah di Ramadhan saat Pandemi Covid-19 berlipat ganda karena banyak masyarakat yang membutuhkan.

“Karena itu tuntutan untuk kita memberikan makan orang miskin, menjadi lebih penting lagi. Rasulullah juga mengatakan siapa yang punya kelebihan bekal hendaknya dia bersedekah dengan kelebihan bekalnya itu, shadaqah yang paling besar pahalanya (adalah) ketika itu dibutuhkan oleh orang,” ujar Ma’ruf

Ma’ruf menerangkan, pandemi Covid ini, selain menyebabkan terpuruknya perekonomian, juga menambah angka kemiskinan.

Ia menjelaskan, jumlah orang miskin baru bertambah karena banyaknya masyarakat yang kehilangan lapangan pekerjaan, baik karena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dampak imbauan tetap di rumah

“Banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan banyak warung-warung kecil yang tutup, jadi jumlah orang miskin pun makin bertambah. mungkin di sekitar kita juga banyak orang-orang  yang terdampak Corona ini,” katanya.

sumber: republika.co.id

Gugus Tugas Covid-19: Terima Kasih Masyarakat

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 mengapresiasi masyarakat yang membagikan berita positif terkait pandemi Covid-19.

Pengelola akun media sosial BNPB yang tergabung dalam Gugus Tugas pun mengirim ulang konten positif itu melalui akunnya sehingga berita itu semakin tersebar luas kepada masyarakat.

“Mereka sejatinya insan-insan luar biasa, mencurahkan pemikiran dan keterampilan mereka dengan membuat konten baik dan positif di media sosial. Terima kasih untuk sumbangsih dalam berbagai pesan kepada kita dalam menghadapi virus Covid-19,” tutur Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Selasa (28/4/2020).

Doni mengatakan berita itu tidak hanya pengalaman tetapi juga pemikiran terhadap kondisi yang dihadapi di tengah pandemi Covid-19. Doni menerangkan banyak warga membutuhkan dukungan untuk dapat melewati masa krisis ini dengan baik.

“Pemerintah tidak mampu bekerja sendiri tetapi membutuhkan sinergi dan kolaborasi pentaheliks, salah satunya dari masyarakat itu sendiri,” kata Doni.

Salah satu yang beredar luas melalui media sosial pesan dari Michael Marampe, seorang dokter yang menangani pasien Covid-19.

Dalam video pendek itu, ia bercerita di hari ke delapan dalam perawatan dan menyampaikan bahwa ia bangga menjadi seorang dokter. Dengan profesinya itu ia bisa membantu dan melayani banyak orang serta tidak ada penyesalan sedikit pun.

“Buat teman-teman semua di garda terdepan tetap semangat dan wajib menggunakan APD yang lengkap, selalu semangat teman-teman semua,” pesan Michael, yang akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (25/4/2020) lalu.

Doni berharap masyarakat bijak dalam menyerap informasi yang beredar luas di media sosial. Di sisi lain, ia mengajak siapa pun yang membuat konten untuk disebarluaskan dengan bermuatan hal baik dan positif.

“Penanganan Covid-19 membutuhkan kolaborasi dan sinergi untuk saling memberikan kepercayaan dan dukungan satu sama lain,”ujar Doni.

Sumber: republika.co.id

 

Hari Pertama PSBB, Perbatasan Surabaya Macet Parah

SURABAYA(Jurnalislam.com) — Kemacetan lalu lintas terjadi di Bunderan Waru atau perbatasan Kota Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (28/4) pagi. Kemacetan parah ini terjadi saat hari pertama diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Iya itu macet karena ada screening atau pemeriksaan kendaraan yang masuk ke Surabaya,” kata Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya Eddy Christijanto.

Menurut dia, pemeriksaan kendaraan di Bunderan Waru ke arah Jalan Ahmad Yani, Surabaya, tersebut akan menjadi efek jera agar warga tidak keluar rumah atau ke Surabaya tanpa tujuan jelas.

Selain itu, Eddy menilai kemacetan di Bunderan Waru bukan kerana warga tidak mengetahui adanya pemberlakuan PSBB, melainkan warga tidak mau tahu dan menganggap PSBB layaknya seperti hari-hari biasanya.

“Mereka mungkin beranggapan PSBB hal biasa dan kalaupun ada pemeriksaan kendaraan, petugas akan membiarkan,” katanya.

Meski demikian, dia melanjutkan, pihaknya mengakui petugas yang menjaga di perbatasan Bunderan Waru kurang sehingga pada saat pemeriksaan kendaraan sempat kewalahan. “Ini akan kami tambah petugas jaga dari Satpol PP dan Linmas di sana,” ujarnya.

Untuk sanksi, dia menambahkan, pihaknya masih memberikan toleransi kepada warga pada hari pertama pelaksanaan PSBB ini. Namun, Eddy melanjutkan, bagi warga yang suhu badannya di atas 38 derajat Celsius pada saat pemeriksaan, tidak ada toleransi. “Mereka tidak boleh masuk Surabaya dan harus menjalankan rapid test,” katanya.

Sementara itu, mengenai sanksi lainnya, Eddy mengatakan, hal itu merupakan kewenangan pihak kepolisian karena Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 16 Tahun 2020 tentang pedoman PSBB tidak mengatur sanksi berupa pidana. “Kita beri peringatan secara lisan dan tertulis dan jika masih melanggar ya dihentikan, tidak boleh masuk Surabaya,” katanya.

Sumber: republika.co.id

Si Kecil Diare di Tengah Pandemi, Haruskah ke Rumah Sakit?

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Di tengah pendemi Covid-19, orang tua harus lebih ketat dalam memutuskan kapan anaknya yang mengalami gangguan kesehatan harus dibawa ke rumah sakit. Berdasarkan panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada beberapa kondisi yang membuat anak harus segera mendapatkan penanganan dokter.

“Dalam kondisi gawat darurat, seperti sesak napas atau biru pada bibir dan diare terus-menerus atau muntah-muntah disertai lemas (dehidrasi), anak harus segera dibawa ke dokter,” kata dokter spesialis anak, dr Arifianto SpA dalam Live Instagram pada akun resminya beberapa waktu lalu.

Arifianto mengatakan, anak biasanya dehidrasi karena diare, dengan atau tanpa muntah-muntah. Jadi, haruskah ke rumah sakit?

“Ketika anak diare tanpa dehidrasi, ia tidak perlu dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Di lain sisi, Arifianto mengingatkan agar orang tua mengetahui cara penanganan diare pada anak. Intinya, jangan sampai terjadi dehidrasi.

“Itu yang terpenting,” ujar dokter yang akrab disapa Apin ini.

Apa yang harus dilakukan ketika anak muntah? Menurut Apin, orang tua harus terus memberikan cairan. Berikan anak minum.

“Makin sering muntah, anak akan makin haus, meski akan dimuntahkan lagi,” ungkapnya.

Begitu pula ketika diare. Cairan dibuang saat buang air besar (BAB). Otomatis, anak membutuhkan cairan lebih banyak.

“Obatnya cuma satu, yaitu cairan. Bentunya bisa apapun, termasuk cairan hidrasi oral alias oralit. Berikan cairan terus-menerus, jangan sampai berhenti,” sarannya.

Cara mengetahui cairan yang diberikan cukup atau tidak adalah dengan melihat dari frekuensi buang air kecil (BAK) yang terus meningkat. Biasanya, orang tua melihat anak dehidrasi atau tidak dari ciri fisiknya, misalnya ubun-ubun cekung, mata cekung, dan badan lemas.

Itu merupakan patokan anak dehidrasi. Namun, terkadang agak sulit mendeteksinya karena sering kali penilaiannya subjektif.

“Anak dikatakan dehidrasi lebih mudah dilihat dari frekuensi BAK,” kata Apin.

Biasanya, anak di bawah dua tahun dikatakan dehidrasi kalau tidak pipis lebih dari enam jam. Sedangkan, anak di atas enam tahun disebut dehidrasi kalau tidak berkemih lebih dari delapan jam.

“Ini harus dilihat dari anak yang diare dalam kondisi tanpa muntah,” ujarnya.

Hal ini tidak berlaku untuk anak yang tidur. Anak tidur delapan, 10, sampai 12 jam tidak BAK, belum tentu dehidrasi. Patokan tersebut untuk anak dalam kondisi terjaga.

Perlukah diberikan obat? Menurut Apin, obat muntah dan diare tidak efektif diberikan. Sebab, prinsip muntah dan mencret adalah membuang virus dalam tubuh.

“Jangan ditahan, berikan oralit, apalagi anak yang masih ASI, berikan terus-menerus.”

Sumber: republika.co.id

Bansos Tak Tepat Sasaran Akan Jadi Masalah

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto menyoroti pendistribusian bantuan sosial (Bansos) di masyarakat yang masih tumpang tindih. Menurutnya, perlu ada terobosan dari pihak terkait untuk menyelesaikam masalah ini.

“Saya kira perlu ada modifikasi misalkan apa yang dikeluhkan kepala daerah itu, kalau Bansos BLT itu susah sampai secara cepat dan tepat karena terlalu panjang birokrasinya,” ujar Yandri saat dihubungi, Selasa (28/4).

Yandri mengatakan, salah satu cara agar distribusi Bansos tidak tumpang tindih adalah koordinasi yang baik dari tingkat pusat hinga RT/RW. Agar pendistribusian bantuan ke masyarakat tak lagi bermasalah.

“Didistribusikan misalkan kecamatan ini berapa butuhnya, camat yang ambil alih. Kemudian di situ berapa kepala desa, yang ikut urun rembuk untuk ikut menyalurkan itu,” ucapnya.

Pendataan warga juga perlu dilakukan secara tepat dan detail. Sehingga Bansos diterima tepat sasaran bagi masyarakat terdampak dan benar-benar membutuhkannya.

“Tinggal administrasi saja diperkuat dokumentasi-dokumentasinya. Misalkan tinggal siapa yang menerima, perlu tanda tangan penerima, perlu ada dokumentasi lain, perlu ada yang menyaksikan,” ujar Yandri.

Sumber: republika.co.id

Pasien Diminta Jujur, Covid-19 Bukan Aib

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengimbau masyarakat untuk bersikap jujur jika terpapar virus corona atau covid-19 agar bisa segera ditangani oleh tim medis.

Selain itu, ditegaskan jika penyakit covid-19 bukan merupakan sebuah aib.

Sebelumnya, salah seorang karyawan minimarket di Antapani Bandung positif corona dengan status orang tanpa gejala (OTG) berdasarkan hasil rapid test. Kemudian dilanjutkan dengan test swab dan hasilnya positif. Namun, yang bersangkutan masih aktif bekerja dan tidak melakukan isolasi mandiri.

Saat ini karyawan tersebut sudah melakukan isolasi mandiri termasuk 10 karyawan lainnya yang melakukan kontak erat. Sedangkan toko minimarketnya sendiri ditutup hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Kami harapkan, covid ini bukan penyakit aib. Masyarakat berterus terang saja (jika terpapar) laporkan dan informasikan jangan sampai terjadi seperti di Antapani,” ujar Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna, Selasa (28/4).

Menurutnya, pemerintah sudah mengingatkan agar karyawan tersebut melakukan isolasi mandiri. Namun pada faktanya yang bersangkutan masih bekerja. Katanya belum diketahui apakah alasan tetap bekerja karena ekonomi atau pimpinan yang menyuruh.

“Mudah-mudahan kejadian tidak terulang, dimanapun terbuka saja. Insya Allah kita semaksimal mungkin menangani,” katanya.

Ema menambahkan, pihaknya meminta kepada seluruh pemilik minimarket di Kota Bandung untuk melakukan rapid test kepada karyawannya agar memastikan aman dari covid-19 dan pembeli lebih tenang.

Positif corona atau covid-19 di Kota Bandung terus bertambah menjadi 220 orang hingga Senin (27/4) malam kemarin. Terdiri dari 220 orang terdiri dari 28 meninggal, 20 orang sembuh dan 172 orang dirawat. Jumlah tersebut bertambah signifikan dari sebelumnya yang sekitar mencapai 208 orang.

sumber: republika.co.d

Anies: Orang Berkerumun Akan Diangkut ke GOR

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan bahwa gelanggang olahraga (GOR) juga berguna sebagai salah satu instrumen penegakan hukum aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal ini disampaikan Anies dalam kunjungannya ke GOR Tanah Abang pada 25 April 2020, yang diunggah sosial media Humas Pemprov DKI Jakarta pada Senin (27/4/2020) malam.

Anies menjelaskan Pemprov DKI mempersiapkan fasilitas GOR untuk beberapa hal. Pertama, sebagai sarana isolasi mandiri bila ada warga kesulitan mencari tempat tinggal sementara.

“Warga Jakarta kesulitan tempat tinggal, misalnya kontrakan tidak bisa bayar, kemudian butuh tempat sementara, kita akan buat tempat sementara seperti ini, sehingga semua bisa tinggal di Jakarta walaupun tidak bisa di tempat yang biasanya,” jelas Anies.

Kedua, sarana untuk ‘menghukum’ warga yang masih kedapatan kumpul-kumpul lebih dari lima orang sesuai amanat Peraturan Gubernur No 33/2020 tentang Pelaksanaan PSBB dalam Penanganan Covid-19 di wilayah DKI Jakarta.

“Jadi begini. Kebijakannya semua yang berada di pinggir jalan, berkumpul, diangkat. Semua akan dimasukkan ke GOR minimal 24 jam. Di sini diperiksa, dicatat. Jadi tidak ada lagi orang yang berkerumun di pinggir jalan,” jelas Anies.

Terakhir, menurut Anies, pada bulan puasa Ramadan, banyak warga di luar Jakarta yang datang untuk mencari sedekah. Oleh sebab itu, mereka akan difasilitasi dalam GOR agar tak menimbulkan potensi kerumunan di jalan-jalan Ibu Kota.

“Makanya saya mengimbau kepada para dermawan yang ingin bersedekah, gunakan badan amal zakat, sadakah, untuk membagikannya. Jangan membagikannya sendiri di pinggir jalan karena merangsang orang berkerumun menunggu pembagian,” tutupnya.

Sumber: bisns.com

LPPI: Utang Indonesia Naik 32.5 Persen

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Pemberian stimulus fiskal dalam tiga tahap dengan nilai total sebesar Rp436,1 triliun, atau 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), untuk penanganan pandemi Covid-19, akan mengerek jumlah utang Indonesia menjadi 32,5 persen.

Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara mengatakan, sejak 2008, obat dalam menangani krisis ekonomi adalah penurunan suku bunga, pemberian stimulus moneter, dan stimulus fiskal. Dalam mengatasi perlambatan ekonomi akibat Covid-19, negara-negara di dunia juga melakukan hal serupa.

Seperti misalnya, Amerika Serikat yang melakukan stimulus fiskal besar-besaran dengan mengeluarkan kebijakan berupa pembelian sejumlah aset, termasuk aset bank. Setidaknya, besaran stimulus yang diberikan Amerika Serikat adalah 10,5 persen dari PDB.

Menurutnya, pemberian stimulus fiskal yang cukup besar bergantung pada jumlah pasien. Pemberian stimulus fiskal tersebut juga meningkakan utang negara, misalnya Amerika Serikat saat ini memiliki rasio porsi utang sebesar 107 persen dari PDB.

Begitu pula dengan Indonesia yang tidak bisa bertumpu pada APBN semata dalam memberikan stimulus. Pemberian stimulus fiskal tersebut membuat utang Indonesia meningkat menjadi 32,5 persen. Adapun, rasio utang pemerintah per Maret 2020 adalah sebesar 32,12 persen dari PDB.

“Tetapi ini masih jauh dari batas yang diizinkan Undang-Undang Keuangan Negara yakni 60 persen dari PDB, bandingkan Jepang yang utangnya 238 persen dari PDB, Jadi artinya pemerintah melakukan stimulus fiskal dalam menjaga rasio-rasio makro,” katanya.

Selain itu, Bank Indonesia juga menurunkan suku bunga acuan dan giro wajib minimum (GWM), dan membuka keran term repo. Dengan kebijakan term repo, perbankan yang mengalami kesulitan likuiditas bisa mendapatkan bantuan atas pembelian surat berharga negara (SBN) yang digadaikan di Bank Indonesia.

Bank Indonesia juga melakukan stabilisasi pasar SBN dengan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder. “Dalam rangka stabilisasi pasar sekunder, sambil berikan likuiditas pasar, maka rupiah mengalir dari kas Bank Indonesia ke perekonomian,” katanya.

Sumber: bisnis.com

Angka Kematian Turun, Erdogan: Kami Berharap Raih Kemenangan di Akhir Ramadhan

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Pemerintah Turki tengah bersiap-siap melonggarkan kebijakan lockdown mereka karena data kematian akibat pandmei corona yang kini terus menurun.

Hal ini diungkap oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin kemarin, sebagaimana dilansir dari Washington Post.

Selama ini, Turki memang tak menerapkan kebijakan lockdown penuh yang bisa memporak-porandakan negeri tersebut.

Mereka menerapkan larangan keluar rumah mingguan, sehingga memaksa orang untuk berada di rumah selama beberapa hari dalam sekali waktu.

Untuk pekan ini, larangan keluar rumah dan pembatasan berlaku mulai Jumat, bertepatan dengan hari libur nasional menurut informasi AP.

Kebijakan serupa akan diumumkan setiap pekan sampai idul fitri nanti.

“Dengan mengatasi covid-19, Turki berharap bisa merayakan kemenangan ganda di akhir Ramadan,” ujar Erdogan kepada Al Jazeera.

Sebelumnya, Erdogan sempat dikritik atas responsnya terhadap pandemi di antaranya adalah membungkam orang-orang yang kritik di sosial media dengan dalih aturan larangan penyebaran informasi tidak benar.

Gara-gara aturan ini, 402 orang kini sudah ditahan karena dinilai menyebarkan provokasi dan berita palsu di sosial media selama 42 hari ini.

Tak cuma pede Turki bakal lebaran tanpa corona, Erdogan bahkan mengatakan akan mengirimkan peralatan APD dan masker N95 dengan gunakan kapal perang miliknya untuk bantu Amerika Serikat.

Sumber: cnbcindonesia.com