Berita Terkini

Sri Mulyani Curhat Skenario Terburuk Angka Kemiskinan Melonjak Tajam

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pandemi virus corona (COVID-19) yang terjadi di dunia memunculkan krisis kesehatan.

Dalam waktu singkat, krisis kesehatan ini menjalar menjadi krisis ekonomi. Sejumlah negara maju ekonominya tumbuh minus, dan bahkan ada yang sudah masuk jurang resesi.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, kemarin di DPR mengatakan, skenario berat ekonomi Indonesia tahun ini adalah masih bisa tumbuh positif 2,3%.

Ada juga skenario sangat beratnya, yaitu ekonomi Indonesia tumbuh minus 0,4% pada tahun ini. Berat dan sangat berat ini tergantung berapa lama pandemi COVID-19 akan berlangsung.

Pada skenario ini, ekonomi diprediksi tumbuh negatif 0,4%. Jumlah orang miskin akan bertambah 3,78 juta orang, dari perhitungan terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2019 yaitu 24,79 juta orang (9,22% dari jumlah penduduk). Kemudian jumlah pengangguran juga akan bertambah 5,23 juta orang, dari perhitungan terakhir BPS per Februari 2020 sebanyak 6,88 juta orang.

Soal kemiskinan, Sri Mulyani memprediksi persentase angka kemiskinan di Indonesia bakal kembali di atas 10%.

“Jumlah angka kemiskinan akan naik, Covid-19 Maret-Mei lonjakan angka kemiskinan balik seperti 2011. Seluruh pencapaian penurunan kemiskinan dari 2011 hingga 2020 ini kembali,” kata Sri Mulyani.

Ukuran kemiskinan di Indonesia bisa dilihat dari laporan angka kemiskinan BPS terakhir di September 2019.

Garis kemiskinan berada di Rp 440.538/kapita/bulan. Artinya orang penghasilan di bawah itu baru masuk sebagai kategori orang miskin.

Garis kemiskinan ini terdiri dari dua komposisi, yaitu Garis Kemiskinan Makanan Rp 324.911 (73,75%) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp 115.627 (26,25%).

sumber: cnbcindonesia

Ketersediaan Pangan Disebut Masih Aman

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Meluasnya penyebaran Covid-19 telah berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan, mulai dari sektor ekonomi, sosial, hingga ke sektor pertanian.

Situasi ini juga tidak terlepas dari upaya Pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 melalui kebijakan physical distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah.

Di sektor pangan, selain menjaga ketersediaan dan pasokan pangan, Kementerian Pertanian juga terus berupaya untuk memastikan bahwa pangan segar yang beredar di masyarakat terjamin keamanannya.

“Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKP P) yang berada dibawah Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian bersama dengan Dinas Pangan seluruh Provinsi selaku Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKP D) terus bekerja memberikan pelayanan penjaminan keamanan pangan segar asal tumbuhan” ujar Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Agung menjelaskan bahwa OKKP bertindak sebagai penjamin keamanan pangan segar asal tumbuhan (PSAT) sebelum diedarkan melalui pendaftaran baik untuk PSAT dari luar negeri dan produk dalam negeri.

Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa pangan yang dikonsumsi masyarakat kita beragam, bergizi, seimbang dan aman agar kita terus sehat, aktif dan produktif.

Selain itu, Agung menegaskan jika OKKP juga menerbitkan sertifikat kesehatan atau Health Certificate (HC) yang memiliki peran strategis dan sejalan dalam mendukung ekspor produk pertanian Indonesia, sesuai dengan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk meningkatkan ekspor tiga kali lipat.

Sementara itu, Plt Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Andriko Noto Susanto menerangkan bahwa OKKP telah mendukung ekspor melalui penerbitan sertifikat kesehatan/ HC beberapa komoditas strategis seperti pala, pisang, mangga, ubi cilembu, beras, dan pinang.

Andriko juga mengungkapkan, di masa pandemi ini, dilakukan inovasi pelayanan melalui metode jarak jauh untuk mencegah dan melindungi personel dari kemungkinan terpapar Covid-19.

“Dari tahun 2019 secara akumulasi telah dikeluarkan HC sebanyak 580 sertifikat dan pada saat masa darurat Covid19 ini, kami masih terus bekerja memberikan pelayanan kepada pelaku usaha dan telah mengeluarkan 44 Sertifikat sampai bulan April 2020,” lanjut Andriko.

Sumber: republika.co.id

Hari Pertama PSBB Jabar Masih Banyak Ditemukan Pelanggaran

BANDUNG(Jurnalislam.com) — Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Provinsi Jabar, memasuki hari kedua Kamis (7/5) ini. Menurut Juru bicara sekaligus Sekretaris Gugus Tugas, Daud Achmad, dengan diadakannya PSBB provinsi Jabar mulai hari Rabu (6/5), semua 27 kota/kabupaten di Jabar sudah mulai melakukan PSBB.

Sebelumnya, PSBB hanya dilakukan di Bodebek dan Bandung Raya yakni sebanyak 10 kota/kabupaten yang sudah melaksanakan.

“Dan perlu diinformasikan dari laporan yang ada, jadi hari pertama di beberapa daerah yang baru melaksanakan PSBB ini masih banyak masyarakat yang belum paham. Artinya Satgas di kota/kabupaten harus melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat ya,” ujar Daud kepada wartawan, Rabu (6/5) malam.

Daud mengatakan, jadi pelaksanaan PSBB ini sifatnya masih sosialisasi secara persuasi memberikan informasi kepada masyarakat yang melanggar. Pelanggarannya kebanyakan masih di seputar protokol kesehatan. Yakni, penggunaan masker, sarung tangan kemudian yang berboncengan tidak satu alamat dan sebagainya.

“Mudah mudahan hari ini dan ke depan PSBB ini bisa berjalan efektif, lebih disiplin karena masyarakat sudah bisa lebih memahami apa yang disebut dan tujuan PSBB itu,” katanya.

Sumber: republika.co.id

WHO Peringatkan Kebijakan Pelonggaran Lockdown

JENEWA(Jurnalislam.com) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (6/5) memperingatkan negara-negara yang melonggarkan lockdown akibat penyebaran virus corona.

Mereka harus mengambil langkah yang sangat hati-hari mempertimbangkan risiko peningkatan kasus baru yang dapat bergerak cepat.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan negara-negara perlu memastikan memiliki langkah-langkah yang memadai untuk mengendalikan penyebaran penyakit Covid-19. Sistem pelacakan dan penyediaan karantina harus tersedia dengan baik.

“Risiko kembali ke lockdown tetap sangat nyata jika negara-negara tidak mengelola transisi dengan sangat hati-hati dan dalam pendekatan bertahap,” kata Ghebreyesus.

Ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, mendukung kekhawatiran Ghebreyesus tentang penyakit yang telah menginfeksi 3,71 juta orang secara global dan membunuh lebih dari 258 ribu orang. “Jika langkah-langkah lockdown diangkat terlalu cepat, virus dapat lepas landas,” katanya.

Karantina wilayah yang diberlakukan pemerintah semakin tidak populer karena negara-negara mengalami peningkatan pengangguran dan kegiatan ekonomi terhenti.

Beberapa negara, seperti Jerman, Spanyol, dan Italia telah mulai melonggarkan pembatasan, sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengatakan fokusnya pada pembukaan kembali negara tersebut.

Pejabat WHO, Mike Ryan, mengatakan menjadi keputusan masing-masing negara untuk memutuskan waktu yang tepat menormalkan kembali keadaan. WHO akan mencoba menawarkan saran manajemen risiko jika diperlukan.

Sumber: republika.co.id

Di Masa Pandemi, Tak Perlu Menunggu Akhir Ramadan untuk Berzakat

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Sepertiga lama ibadah puasa telah dijalani dalam kondisi yang berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

Sebagian warga menghadapi kesulitan, khususnya kesulitan pangan. Dalam kondisi ini, umat islam diminta untuk menunaikan zakat fitrahnya lebih awal, tidak perlu menunggu penghujung Ramadan.

Tidak hanya ibadah puasa, umat Islam juga diwajibkan untuk membayar zakat fitrah di bulan Ramadan. Masyarakat mendapatkan beragam pilihan untuk menyalurkan zakat fitrahnya melalui Global Zakat – ACT.

Muzakki (orang yang berzakat) tidak perlu langsung menyalurkannya ke mustahik. Di Ramadan 1441 H ini, Global Zakat-ACT telah menyiapkan hingga 100 ton beras untuk disalurkan ke mustahik di berbagai daerah.

Kehadiran program zakat fitrah dari Global Zakat-ACT tak hanya dinikmati oleh mustahik saja, tapi juga para petani yang menanam beras.

Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur Program ACT mengatakan, berzakat melalui Global Zakat-ACT selain menyelamatkan nyawa serta pangan masyarakat di tengah pandemi, juga memberdayakan petani.

“Di Karawang misalnya, ACT telah meluncurkan Masyarakat Produsen Pangan Indonesia. Lewat program ini memungkinkan petani lokal menyuplai hasil panennya ke ACT untuk beragam aksi kemanusiaan, termasuk zakat fitrah,” jelas Sri Eddy.

Sejalan dengan hal tersebut, Ustadz Amir Faishol Fath, pendakwah serta ahli tafsir Alquran Indonesia di sela kunjungannya ke kantor Humanity Care Line dari ACT mengatakan, ketika ada wabah seperti sekarang ini, umat Islam diperbolehkan menunaikan zakatnya di awal Ramadan.

Hal ini mengacu pada kondisi masyarakat yang terkena imbas dan membuat keadaan perekonomiannya memburuk. “Karena masyarakat prasejahtera untuk makan tak bisa menunggu hingga hari raya tiba,” ungkapnya.

Di sisi lain, zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim. Amir menambahkan, anak yang baru lahir pun harus membayar zakat. Akan tetapi, bagi mereka yang tak mampu menunaikannya, orang yang memiliki harta berlebih bisa bantu membayarkan.

Lalu bagaimana untuk berzakat fitrah di pekan-pekan Ramadan? Amir menjelaskan, Nabi Muhammad memperbolehkan untuk berzakat di awal Ramadan atau sebelum haul.

Kebutuhan masyarakat yang mendesak, untuk kondisi sekarang saat ada wabah Covid-19, jadi alasannya. Berzakat di awal Ramadan ini bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan jiwa manusia dari kelaparan.

“Keadaan sekarang banyak orang yang kehilangan pekerjaan serta pendapatannya berkurang. Untuk itu, zakat fitrah bisa ditunaikan di awal waktu demi kemaslahatan,” tutup Amir.

UUstaz Mutammimul Ula, Ayah 10 Anak Penghafal Qur’an Meninggal Dunia

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Innalillahi wa inna ilaihi raji’iun. Salah satu tokoh yang menjadi inspirasi banyak keluarga Muslim, Mutammimul Ula, telah meninggal dunia pada pukul 07.56 WIB di Rumah Sakit Sentra Medika. Hal ini disampaikan Ismail Mutammimul Ula, putra keenam almarhum.

“Telah berpulang ke rahmatullah, ayahanda kami tercinta dan tersayang. Bapak Mutammimul Ula dalam usia 64 tahun tanggal 14 Ramadhan 1441 Hijriah/7 Mei 2020 pukul 07.56 WIB. Mohon doa, ridho, maaf dan keikhlasannya semua,” kata dia dalam keterangan yang, Kamis (7/5).

Mutammimul lahir di Sragen pada 2 April 1956 di Sragen. Dia menikah dengan Dra Hj Wirianingsih, dan dikaruniai 11 anak. Pasangan ini menjadi inspirasi bagi kalangan keluarga Muslim karena mampu menciptakan anak-anak penghafal Alquran atau hafiz.

Afsalurrahman Assalam, putra pertama, hafal Alquran pada usia 13 tahun. Anak keduanya yakni Faris Jihady Hanifa hafal Alquran saat 10 tahun, lalu anak ketiganya hafal Alquran sejak usia 16 tahun. Anak keempat, Scientia Afifah Taiba, hafal 29 juz sejak SMA.

Kemudian anak kelima, Ahmad Rasikh Ilmi, hafal 15 juz Alquran, saat buku “10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an” ditulis pada lebih dari 10 tahun lalu. Dan anak keenam Ismail Ghulam Hakim hafal 13 juz Alquran. Anak ketujuh, Yusuf Zaim Hakim, hafal 9 juz Alquran.

Anak kedelapan, Muhammad Syaihul Basyir hafal Alquran 30 juz ketika duduk di bangku 6 SD. Anak kesembilan, Hadi Sabila Rosyad, putra kesembilan hafal 2 juz Alquran saat buku “10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an” ditulis. Putri kesepuluh, Himmaty Muyassarah, hafal 2 juz Alquran saat buku itu ditulis.

Tamim dalam sebuah kesempatan mengatakan, yang menjadi kunci keberhasilan hidup di dunia dan akhirat adalah banyak amal ibadah dan berdoa. Tamim bersama istrinya memberikan perhatian pada manajemen waktu, dan istiqamah dalam mendidik anak.

Tamim dan istrinya, pun sebetulnya bukan seorang hafiz-hafizah. Almarhum Ustaz Tamim punya hafalan 3-5 juz Alquran, sedangkan istrinya, baru menghafal 2 juz. Meski begitu, mereka yakin untuk kembali kepada Alquran dan ini menjadi dasar bagi pasangan tersebut untuk menjadikan anak-anaknya penghafal Alquran. Bagi mereka, pendidikan anak harus dilakukan secara bahu-membahu baik dari ayah maupun ibu.

Sumber: republika.co.id

Satgas Covid MUI Kembali Salurkan Bantuan untuk Dai Terdampak Covid-19

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mendisdribusikan bantuan kemanusiaan berupa paket sembako untuk warga terdampak pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Satgas Covid-19 MUI Divisi Penyaluran Bantuhan, KH Najamuddin Ramly, menjelaskan rincian penyerahan bantuan tersebut yaitu 14 paket sembako kepada ustadz MIUMI DKI Jakarta, 18 paket warga dhuafa Parung Bogor, 150 paket kepada warga Tanah Rendang Kampung Melayu, Jakarta Timur, 50 Paket Pondok Pesantren Wathoniyah, Klender, Jakarta Timur, dan 15 paket untuk Masjid Attaqi guru ngaji dan dhuafa Pasar Minggu.

Selain itu, kata dia, sebanyak 50 paket diserahkan warga di rumah singgah Arrahman Pesanggrahan Jakarta Selatan, 40 paket untuk warga dhuafa di Cileduk dan Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten, dan empat paket untuk guru mengaji di Jakarta Timur.

“Total ada 473 buah paket semboka untuk periode kedua paket sembako dari Satgas Covid-19 MUI,” kata dia saat menyerahkan bantuan secara simbolis bantuan 35 paket kepada guru ngaji dan marbut kampung Cilame, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Rabu (6/5).

Dia mengatakan, bantuan berupa paket sembako merupakan salah satu program Satgas Covid-19 MUI, di samping program lain berupa edukasi spiritual secara daring.

Dia berharap bantuan sederhana ini bisa meringankan beban para ustadz dan lain-lain sehingga bisa tetap bergembira pada Ramadhan ini.

“Semoga dengan paket sembako dari Satgas MUI ini akan dapat meringankan kebutuhan para ustadz,ustadzah,guru ngaji,para muballigh/muballighah,serta Takmir masjid,sehingga semua sasaran dapat bergembira dan ceria baik melaksanakan amaliyah Ramadhan maupun jelang Idul fitri akan datang,” katanya.

Secara terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 MUI Pusat, KH Cholil Nafis menyampaikan, varian penerima bantuan ini mulai dari ustadz, guru diniyah honorer, para ustadz, pondok pesantren, masjid di sekitar Jabodetabek. “Jika ditotal sejak awal jumlah paket yang disumbangkan mencapai 3.000 paket,” ujar di.

Dia menjelaskan, bantuan Satgas Covid-19 MUI berasal dari para dermawan yang menyumbangkan lewat Satgas Covid-19 MUI salah satu di antaranya dari Kantor Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres).

Dia menyampaikan, Satgas Covid-19 MUI memiliki perhatian khusus dalam penyaluran bantuan kepada para guru maupun ustatadz. Sebabnya, para guru dan ustadz itu banyak yang sebetulnya terdampak namun mereka tidak pernah bersuara kekurangan apalagi meminta-minta.

“Inilah kewajiban Satgas utk mendistribusikan bantuan kepada yang berhak dan membutuhkannya untuk meringankan beban hidup mereka,” katanya.

Secara keagamaan, kata dia, sedekah seperti itu memang lebih baik diberikan kepada orang yang takwa dan mengemban ilmu. Para asatidz itu, ujar dia, tidak menjadi pegawai tetap di sebuah lembaga atau yayasan dan mereka tentu saja terdampak secara ekonomi. Mereka yang mengabdi secara harian dibayarnya dan tidak menjadi pegawai tetap di lembaga atau yayasan sangat terdampak.

“Secara aktivitas dan ekonomi dari kebijakan PSBB sehingga mereka berkekurangan kebutuhan hidupnya dan membutuhkan bantuan,” katanya.

Ke depan, imbuh dia, Satgas Covid-19 MUI akan memberikan bantuan finansial kepada para guru, asatidz, pesantren, dan pendakwah sehingga mereka bisa tetap istiqomah mengabdi dan berdakwah di saat pandemi Covid-19.

“Sebab bagaimanapun gangguan ekonomi dalam keluarga akan berdampak pada konsentrasi dalam menjalankan dakwah dan mengemban ilmu, ” paparnya.

Terakhir, dia berharap para dermawan yang ingin membantu para guru dan asatidz bisa disalurkan donasinya melalui Satgas Covid-19 MUI dalam Program “Bersedekah Seratus Ribu (BerSeRi).”

Di Tengah Larangan Mudik, Menhub Sebut Transportasi Kembali Dibolehkan Beroperasi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, mulai besok, Kamis (7/5), moda transportasi dapat kembali beroperasi.

Namun, Budi menegaskan, bukan berarti mudik diperbolehkan.

Kebijakan tersebut hanya menjadi penjabaran atau turunan dari Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang pengendalian transportasi selama masa mudik Idul Fitri tahun 1441 Hijriyah dalam rangka pencegahan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), bukan relaksasi.

“Artinya dimungkinkan semua moda angkutan, udara, kereta api, laut, dan bus untuk kembali beroperasi dengan catatan harus menaati protokol kesehatan,” kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR, Rabu (6/5).

Budi memastikan nantinya gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan memberikan kriteria.

Dia menjelaskan, khususnya kriteria bagi penumpang yang masuk dalam kategori bisa bepergian menggunakan transportasi umum.

“Nanti BNPB bersama Kementerian Kesehatan bisa menentukan dan itu bisa dilakukan,” ujar Budi.

Dia menambahkan, aturan turunan Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 akan segera disosialisasikan kepada khalayak umum. Dengan begitu, moda transportasi juga dapat melakukan persiapan.

Sumber: republika.co.id

 

BI: Pertumbukan Ekonomi Kita 2,97 Persen, Patut Kita Syukuri

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Bank Indonesia (BI) menyampaikan, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 sebesar 2,97 persen masih patut disyukuri meski lebih rendah daripada prediksi sebelumnya sebesar 4,4 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan tersebut masih menjadi salah satu yang terbaik karena mayoritas negara mengalami kontraksi.

“Memang kita maunya tumbuh 4,4 persen dengan upaya dari pemerintah melalui stimulus moneter dan fiskal, tapi ketika tumbuhnya 2,97 persen ini menurut saya patut kita syukuri,” katanya dalam pengarahan (briefing) BI, Rabu (6/5).

Sebagai perbandingan, China pada kuartal I 2020 tumbuh terkontraksi -6,8 persen dari 6 persen pada kuartal IV 2019. Amerika Serikat tumbuh 0,3 persen pada kuartal I 2020 dari 2,3 persen pada kuartal IV 2019.

Zona Eropa juga tumbuh negatif 3,3 persen dari 1 persen kuartal sebelumnya. Di Asia, Singapura tumbuh negatif 2,2 persen dari 1 persen pada kuartal sebelumnya.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi dunia dunia, Indonesia salah satu yang tertinggi meski tetap ada yang lebih tinggi, seperti Vietnam dengan 3,82 persen,” katanya.

Perry menyampaikan, nilai realisasi yang meleset karena perkiraan dampak Covid-19 yang terasa mulai April. Namun, ternyata dampak penanganan Covid-19 seperti pembatasan sosial sudah terasa sejak Maret.

Penanganan wabah tersebut memengaruhi berbagai kegiatan ekonomi seperti konsumsi, produksi, investasi, ekspor impor. Konsumsi masyarakat yang semula diprediksi bisa di atas 4,9 persen merosot tidak setinggi yang diperkirakan, yakni hanya sebesar 2,8 persen.

Demikian juga dengan investasi yang semula diperkirakan tumbuh 2,4 persen menjadi 1,7 persen. Perry menambahkan, dari kegiatan ini, ekspor ternyata lebih tinggi daripada yang dibayangkan. Dari prediksi semula minus 1,6 persen, jumlahnya menjadi tumbuh 0,24 persen.

Stimulus fiskal pemerintah juga telah membawa dampak positif. Stimulus seperti bantuan sosial berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Semula, proyeksi konsumsi pemerintah sebesar 2,3 persen, sementara realisasinya 3,74 persen.

Kelak, BI memproyeksi pola pertumbuhan pada kuartal II, III, dan IV masing-masing 0,4 persen, 1,2 persen, dan 3,1 persen dengan asumsi puncak PSBB pada April hingga pertengahan Juni. Pada 2021, perkiraan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi karena faktor base effect, jadi 6,6-7,1 persen jika defisit fiskal 3-4 persen.

Sumber: republika.co.id

 

Terapkan Lockdown, Afganistan Salurkan 250 Ribu Paket Pangan Gratis

KABUL(Jurnalislam.com) — Pemerintah Afghanistan mulai mendistribusikan roti gratis kepada ratusan ribu orang di seluruh negeri pada pekan ini. Upaya ini untuk mengatasi pasokan yang telah terganggu selama lockdown dan harga-harga telah melonjak.

Lebih dari 250.000 keluarga di ibu kota Kabul mulai menerima sepuluh roti ‘Naan’ per hari pada fase pertama. Presiden Mohammad Ashraf Ghani mengatakan, program distribusi roti juga dilakukan di kota-kota lain.

Ghani menyadari kenaikan harga memukul kondisi warga yang hidup di salah satu negara termiskin di dunia. Hampir lebih dari setengah penduduk Afghanistan hidup di bawah garis kemiskinan. Inflasi Afghanistan mencapai 12,1 persen di April dan inflasi makanan mencapai 27 persen, naik dari 11% sebulan sebelumnya.

“Mengingat tingginya ketergantungan Afghanistan pada makanan impor dan produk non-makanan, gangguan dalam perdagangan sebagai akibat dari penutupan perbatasan dapat memiliki dampak parah pada inflasi domestik,” kata ekonom di lembaga pemikir independen Institut Biruni di Kabul, Omar Joya, Rabu (6/5).

Lonjakan harga pangan terjadi sejak menjelang bulan Ramadhan. “Situasi Covid-19 di Afghanistan dengan cepat berubah dari keadaan darurat kesehatan ke krisis pangan dan mata pencaharian,” kata wakil direktur negara Program Pangan Dunia perwakilan Afghanistan, Parvathy Ramaswami.

Afghanistan melaporkan memiliki 3.224 kasus positif virus korona, termasuk 95 orang telah meninggal dunia. Virus korona menjadi pukulan keras ketika negara tersebut masih diliputi konflik yang telah bertahun-tahun terjadi.

“Seolah-olah ledakan dan serangan tidak cukup untuk membuat hidup kita sengsara, sekarang kita harus menghadapi ketakutan akan virus dan kekurangan makanan,” kata ibu dari empat anak yang suaminya terbunuh dalam serangan Taliban di Kabul, Amiran Jalazi.

Sumber: republika.co.id