Berita Terkini

Viral Bandara Penuh Sesak, AP II Akui Ada Penumpukan Penumpang

TANGERANG(Jurnalislam.com) – Pihak pengelola Bandara Soekarno Hatta, PT Angkasa Pura II (AP II) mengakui memang ada penumpukan penumpang di Terminal II Bandara Soekarno Hatta pada Kamis pagi (14/5).
Penumpukan terjadi karena proses pemeriksaan dokumen penumpang oleh tim gugus tugas udara covid-19.

“Jadi bahwa memang terjadi antrean di terminal dua karena ada proses validasi dokumen bagi penumpang yang akan berangkat, penumpang wajib, bawa tiga dokumen yaitu tiket, surat keterangan bebas covid atau keterangan sehat, surat tugas dari atasan,” kata Senior Manager Branch Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Febri Toga Simatupang kepada CNBC Indonesia, Kamis (14/5).
Ia mengatakan kondisi itu terjadi pada pagi hari pukul 04.00 saat puncak penerbangan, pada siang ini kondisi sudah lengang, bahkan sejak pukul 05.00 sudah lengang. Setelah, ini Pihak gugus tugas akan melakukan evaluasi proses pemeriksaan dokumen dan pihak AP II akan mengatur slot penerbangan.

Febri mengatakan memang pada hari ini terjadi peningkatan penumpang hingga 5.000 orang, atau tertinggi semenjak 7 Mei 2020 saat mulai dibukanya kembali penerbangan. Padahal sehari sebelumnya jumlah penumpang hanya 4.300 orang dalam sehari.

“Jumlah itu tentu sangat jauh, karena untuk normal saja, jumlah flight adalah 1.200 flight per hari. Sekarang hanya 105 flight. Sekarang 5.000 penumpang, saat normal 150 ribu penumpang,” katanya.
Sumber: cnbcindonesia

Gugus Tugas: Patuhu Norma Hidup Baru, Tetap di Rumah!

JAKARTA(Jurnalislam.com)- Dalam dua hari terakhir, jumlah pasien positif virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) di Indonesia mengalami tren peningkatan. Penularan masih terus terjadi, sehingga timbul pertanyaan besar. Sampai kapan kita harus menunggu sampai kehidupan normal kembali?

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, jumlah pasien positif corona per 13 Mei 2020 adalah 15.438 orang. Bertambah 4,67% dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan 4,67% adalah pertumbuhan harian tertinggi sejak 24 April. Dalam dua hari terakhir, laju pertumbuhan kasus bergerak naik.

“Kita harus mengubah pola hidup dengan mengubah jaga jarak, batasi waktu kalau ada kepentingan keluar rumah. Ini menjadi penting untuk kita pahami. Mari bersama untuk tetap di rumah, apabila perlu keluar rumah lakukan secepatnya. Mari kita disiplin, mari bersama saling mengingatkan, agar patuh dengan norma hidup yang baru,” papar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto.

Sumber: cnbcindonesia.co.od

Kemenkeu Nilai Seharusnya Iuran BPJS Lebih Tinggi Lagi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Staf Ahli Menkeu Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Kunta Wibawa Dasa mengatakan, besaran iuran BPJS Kesehatan seharusnya lebih tinggi dibandingkan tarif terbaru.

Dalam hal ini adalah untuk Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) atau kerap disebut sebagai peserta mandiri.

Kunta menjelaskan, berdasarkan perhitungan aktuaria, besar iuran PBPU dan BP kelas satu seharusnya Rp 286.085.

Sedangkan, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Perpres 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan yang baru diresmikan, iuran untuk kelas satu sebesar Rp 150 ribu.

“Tapi, kami tidak menetapkan jumlah tersebut karena mengikuti kemampuan membayar kita,” ujar Kunta dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (14/5).

Sementara itu, menurut perhitungan aktuaria, PBPU kelas dua dan tiga harusnya Rp 184.617 dan Rp 137.221. Tapi, merujuk pada regulasi, peserta masing-masing membayar Rp 100 ribu dan Rp 35 ribu.

Kunta menyebutkan, faktor ini yang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah melakukan penyesuaian iuran BPJS Kesehatan. Di sisi lain, ia menambahkan, sesuai ketentuan, besaran iuran perlu dikaji secara berkala. Ia mencatat, iuran JKN terakhir naik pada 2016 dan bahkan kelas 3 PBPU belum pernah disesuaikan sejak 2014.

Tujuan akhirnya, Kunta mengatakan, menjaga kesinambungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), memberikan pelayanan yang tepat waktu dan berkualitas. Termasuk di antaranya terjangkau bagi masyarakat maupun negara dengan tetap mempertimbangkan kondisi fiskal pemerintah serta kemampuan masyarakat.

Tidak kalah penting, Kunta mengatakan, penyesuaian iuran BPJS Kesehatan juga mempertimbangkan keadilan sosial. “Yang miskin tidak perlu bayar dan yang kaya membayar sesuai kemampuan,” ujarnya.

Meski naik, Direktur Jenderal Anggaran Askolani menekankan, pemerintah tetap komitmen membantu masyarakat golongan menengah ke bawah yang dalam hal ini diartikan sebagai PBPU dan BP kelas tiga.

Pada 2020, mereka membayar iuran dengan tarif yang sama seperti tahun-tahun kemarin, yakni Rp 25 ribu. Padahal, merujuk pada Perpres 75/2019 tentang Perubahan Perpres 82/2018 tentang Jaminan Kesehatan, mereka seharusnya membayar Rp 42 ribu. Selisih sebesar Rp 16.500 ini akan ditanggung oleh pemerintah pusat.

Untuk kebutuhan tanggungan ini, pemerintah telah menganggarkan Rp 3,1 triliun melalui Perpres 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Tahun Anggaran 2020. “Ini dukungan daripada membantu golongan kelas tiga PBPU dan BP agar tetap bayar Rp 25 ribu dan membantu kelangsungan BPJS agar lebih sustainable,” kata Askolani.

Sumber: republika.co.id

Maksimalkan 10 Hari Terakhir Ramadan, ACT Buka Layanan Zakat Online

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Salah satu syariat yang dijalankan di bulan Ramadan adalah dengan menunaikan zakat, terlebih memasuki 10 hari terakhir Ramadan.

Pada momen ini, mayoritas umat muslim meningkatkan amal soleh dengan sedekah dan beribadah terbaiknya. Meskipun, aktivitas di luar rumah terhambat ataupun keuangan yang tersendat akibat pandemi Covid-19, kewajiban zakat tidak bisa diabaikan.

Di tengah pandemi Covid-19, saat masyarakat diminta untuk tetap berada di rumah, Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap tetap membuka kesempatan beramal seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan momen istimewa di bulan Ramadan.

Global Zakat-Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai lembaga pengelolaan dan penyalur zakat memiliki misi untuk problematika umat akan kebutuhan pangan.

“Saat ini, masyarakat miskin bertambah secara signifikan karena dampak multikrisis akibat Covid-19. Jutaan saudara sebangsa menantikan kepedulian kita untuk sekadar mengisi perutnya di hari raya. Saatnya kita punya andil dalam menyelamatkan saudara sebangsa,” jelas Hafit Timor Mas’ud, Vice President ACT.

Pemanfaatan dana zakat untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19, baik secara fisik maupun ekonomi telah disetujui secara syariat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat Fatwa Nomor 23 tahun 2020 Tentang Pemanfaatan Harta Zakat, Infak, dan Shadaqah untuk Penanggulangan Covid-19. Fatwa ini dikeluarkan dalam rangka meneguhkan komitmen dan kontribusi keagamaan untuk penanganan dan penanggulangan wabah Covid-19.

Untuk itu, Komisi Fatwa MUI melakukan ijtihad dan menetapkan fatwa agar zakat, infak, dan sedekah dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mengatasi masalah yang ditimbulkan wabah Covid-19. Lebih lanjut, bulan Ramadan menjadi satu momentum besar untuk mendorong kolaborasi berbagai elemen bangsa bersama para ulama di Indonesia

Mengusung tema “Tunaikan Zakat, Selamatkan Umat”, Global Zakat-ACT berikhtiar untuk menyampaikan amanah para dermawan kepada para mustahik. Dana zakat yang terhimpun akan disalurkan untuk membantu masyarakat yang kekurangan pangan.

“Kemudahan untuk menunaikan zakat ditawarkan agar semakin banyak masyarakat yang terbantu dari zakatnya para muzakki atau para pemberi zakat. Tidak hanya zakat fitrah saja, dermawan juga bisa menunaikan zakat mal melalui www.IndonesiaDermawan.id,” imbuh Hafit.

Presiden Jokowi Minta Masyarakat Sabar Hadapi Corona  

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo menyampaikan cara menghadapi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), bangsa Indonesia harus terus melakukan ikhtiar lahir, berdoa, dan bersabar . Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo saat pelaksanaan Doa Kebangsaan dan Kemanusiaan yang digelar secara virtual.

 

“Selain berikhtiar dengan berbagai usaha lahirian, kita juga wajib berikhitiar dengan usaha batiniah dengan tidak henti-hentinya memanjatkan doa memohon pertolongan Allah SWT,” tutur Presiden Joko Widodo dalam acara Doa Kebangsaan dan Kemanusian pada Kamis (14/05).

 

Hal ini menurutnya harus dilakukan agar rakyat, bangsa, negara dan juga dunia segera terbebas dari pandemi ini.

 

“Marilah kita bersama-sama tundukkan kepala, merendahkan hati, kita memohon kepada Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang diberikan kesabaran menerima musibah ini dengan lapang dada, diberi kekuatan agar kita semua bisa selamat dan melewati ujian yang diberikan Allah SWT,” imbuh Presiden.

 

Presiden juga meminta agar masyarakat tenang dan sabar dalam menghadapi cobaan. “Marilah kita hadapi cobaan ini dengan tenang dan sabar, kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah titik tolak kesembuhan,” kata Presiden.

 

“Terakhir saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menghilangkan rasa cemas, menjauhkan diri dari ketakutan berlebihan, hidupkan optimisme,” pesan Presiden.

 

Presiden pun berharap masyarakat dapat membangkitkan empati dan menumbuhkan solidaritas sosial. “Inilah waktu bagi kita untuk melihat sekeliling, untuk membantu saudara-saudara kita, membantu tetangga, membantu para sabahat untuk bergotong royong meringankan beban saudara kita setanah air,” kata Presiden.

 

“Insya allah Tuhan membuka jalan bagi kita semua rakyat dan bangsa Indonesia untuk bangkit kembali,” harap Presiden Jokowi.

 

Kegiatan yang dilaksanakan bertepatan dengan “Hari Doa Sedunia” ini juga dihadiri oleh Wapres KH Ma’ruf Amin, Menag Fachrul Razi, dan Kepala BNPB Doni Munardo.

 

Hadir juga memberikan pencerahan keagamaan sekaligus memimpin doa, enam tokoh agama. Mereka adalah, Tokoh Agama KhonghucuXs. Budi Tanuwibowo, Tokoh Agama Buddha Sri Pannyavaro Mahathera, Tokoh Agama Hindu Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba dari Agama Hindu, Tokoh Agama Katolik Ignatius Kardinal Suharyo, Tokoh Agama Kristen Pendeta Dr. Ronny Mandang M.Th, dan Tokoh Agama Islam Prof. Dr. KH. M. Quraish Shihab.

 

Acara yang disiarkan secara langsung oleh TVRI, RRI, dan media nasional lainnya juga diisi pembacaan Puisi Religi oleh Pimpinan Lembaga Negara (MPR, DPR, DPD) dan para Menteri Koordinator Kabinet Indonesia Maju.

Mensos Akui Pemberian Bansos Banyak Kekurangan

BOGOR(Jurnalislam.com) — Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara mengakui data penerima bantuan sosial (bansos), khususnya untuk tahap pertama, masih tumpang tindih dan belum sempurna.

 

Mensos mengatakan pihaknya terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah (Pemda) untuk merapikan data penerima bansos.

“Kami sadar bahwa tahap pertama ini masih saja ada kekurangan dan masih ada data yang sedikit tumpang tindih, di tahap kedua Insyaa Allah koordinasi lebih baik lagi bisa diatasi dengan baik,” kata Mensos Juliari setelah mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau penyaluran bantuan sosial tunai di Kantor Pos Kota Bogor, Rabu (13/5).

Mensos mengatakan akibat pandemic Covid-19 dan semua yang dilakukan pemerintah diakuinya masih jauh dari kesempurnaan. Namun, pihaknya berupaya untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah (Pemda) dalam rangka penguatan data penerima bansos.

“Apa yang sudah pemerintah lakukan melalui bantuan sosial tunai atau BST dan bansos sembako juga untuk wilayah Jabodetabek tentu masih jauh dari kesempurnaan, kami juga terus meng-update data dari pemda juga,” ujarnya.

Pemda bekerjasama dengan Kemensos untuk mengkomunikasikan agar apabila ada warga-warga terdampak yang perlu dibantu tapi belum mendapat di tahap pertama dapat dimasukkan ke tahap kedua. “Kami juga pasti akan mengakomodasi. Jadi sebenarnya data semua sudah masuk tapi kembali lagi kita yakin bahwa data ini belum 100 persen sempurna,” katanya.

Oleh karena itu pihaknya selalu membuka diri kepada Pemda untuk melakukan penyempurnaan data. “Ini bahkan ada beberapa kabupaten/kota yang sudah mengirim data tapi minta dikembalikan lagi karena ada data-data yang belum masuk. Ada beberapa, cukup banyak juga yang minta tarik kembali karena ada warga terdampak belum masuk, jadi proses semakin berjalan akan lebih kami sempurnakan,” jelasnya.

sumber: republika.co.id

MUI Dukung Menag Soal Shalat Id di Rumah Saja

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Menteri Agama Fachrul Razi mengimbau umat Islam menyambut Idul Fitri dengan tetap tinggal di rumah. Termasuk dengan menjalankan ibadah salat idul fitri di rumah.

Menanggapi hal tersebut, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mendukung keputusan menag. Karena penyelenggaraan salat idul fitri berisiko terjadinya penularan sangat besar. Sekarang banyak orang berstatus OTG (orang tanpa gejala) sehingga terjadi penularan.

“Kita dalam agama tidak disuruh untuk melakukan hal-hal yang membahayakan dan kalau akan membahayakan Tuhan memberi kita kemudahan. Salah satu kemudahan yaitu sholat idhnya bisa di rumah saja,” katanya saat dihubungi Jurnalislam, Rabu (13/05/2020).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah menjelaskan dalam fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid 19 dalam poin 4 bahwa dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19.

“Seperti berjamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim,” katanya.

Dalam poin 5, lanjutnya juga sudah ada penjelasan bahwa dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

Ulama Indonesia dan Al Azhar Mesir Gelar Doa Bersama Daring

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia menggelar doa bersama  ulama Al-Azhar Mesir dalam menghadapi Covid-19 melalui Zoom.

Kegiatan bertema “Selamat Indonesia, Selamat Dunia Bersama” ini merupakan inisiatif Dewan Pertimbangan MUI Pusat bersama Komite Tinggi Persaudaraan Kemanusiaan dan Pondok Pesantren Tazakka, Batang, Jawa Tengah dalam merespons seruan Grand Syekh Al-Azhar Mesir 14 Mei.

Kegiatan ini akan disiarkan di TV MUI, Tazakka TV, Tawaf  TV, serta TvMUI.

“Dalam rangka menyambut Seruan Grand Syekh Al Azhar Mesir Prof Dr Ahmad Muhammad At Thoyyib untuk Doa Kemanusiaan pada 14 Mei 2020, Dewan Pertimbangan MUI bekerjasama dengan Komite Tinggi Persaudaraan Kemanusiaan dan didukung Pondok Pesantren Modern Tazakka, mengadakan acara doa bersama untuk kemanusiaan pada kamis, 14 Mei 2020, pukul 14.30 sampai dengan 15.30 WIB melalui aplikasi zoom,” ujar Ketua Wantim MUI, Prof. Din Syamsuddin, Kamis (14/5) melalui keterangan tertulis.

Acara ini berisi lima tausiyah, lima sambutan, dan tujuh doa. Tausiyah utama akan disampaikan Grand Syekh Al Azhar tentang Islam dan Kemanusiaan yang disampaikan Rektor Universitas Al-Azhar Syekh Prof Dr Muhammad Husein Al-Mahrosowi.

Kemudian, secara berurutan, tausiyah akan disampaikan Wakil Ketua Wantim MUI Prof Dr KH Didin Hafiduddin, Sekretaris Wantim MUI Prof Dr Noor Achmad, pakar tafsir Al-Quran sekaligus alumni terkemuka Universitas Al-Azhar Prof Quraish Shihab, serta ditutup Ketua Wantim MUI Prof Din Syamsuddin.

Lima sambutan dalam kegiatan ini masing-masing disampaikan Menteri Agama RI Jend. (Purn) Fakhrurrozi, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia H Muhammad Jusuf Kalla, Sekjen Komite Tinggi untuk Persaudaraan Kemanusiaan Mohammad Abdul al-Salam,  Duta Besar Mesir di Jakarta Yang Mulia Asyrof Sulton, serta Duta Besar RI di Kairo Hilmi Fauzi.

Di sela-sela sesi tausiyah dan sambutan tersebut akan ada tujuh doa. Masing-masing oleh Sekjen Majma’ Al-Buhuts al-Islamiyah Prof Dr Nadzir Iyad, Ketua MUI Sumatra Utara Prof Dr KH Abdullah Syah, Ketua MUI Sulawesi Selatan KH Sanusi Baco, Pengasuh Pondok Pesantren Tremas KH Lukman Haris Dimyati, anggota Wantim MUI sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH Hasan A Sahal, dan anggota Wantim MUI KH Abd Rasyid Abdullah Syafii. Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi akan memimpin doa pamungkas.

Sumber: republika.co.id

 

Soal Pelonggaran Penutupan Masjid, MUI: Jangan Dilakukan Kalau Membahayakan

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menuturkan, rencana pelonggaran penutupan masjid dan rumah ibadah lain harus mempertimbangkan aspek perlindungan terhadap setiap orang.

Artinya, jika itu tidak membuat orang-orang terlindungi wabah Covid-19, maka jangan dilakukan.

“Terkait relaksasi yang akan diambil pemerintah, bagi MUI, yang penting apakah dengan tindakan relaksasi itu diri dan jiwa manusia bisa terlindungi atau tidak. Kalau bisa, silakan dilakukan. Kalau tak bisa, jangan dilakukan karena berbahaya dan bertentangan dengan tujuan agama,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5).

Para ulama, jelas Anwar, menyimpulkan bahwa tujuan dari diturunkannya syariat Islam adalah untuk menjaga lima hal, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Wabah virus Covid-19 ini secara langsung telah mengancam diri dan jiwa manusia itu sendiri.

“Karena wabah tersebut telah membuat banyak orang menjadi sakit dan bahkan juga sudah banyak yang meninggal,” ujarnya.

Anwar menambahkan, dalam Islam, hukum menjaga diri dan diri orang lain agar tidak jatuh ke dalam kebinasaan adalah wajib. Karena itu, bagi MUI, jika penyebaran virus itu masih tidak terkendali, maka jangan dulu berkumpul-kumpul.

“Dan kalau sudah terkendali ya silakan berkumpul-kumpul. Tetapi meskipun sudah boleh berkumpul-kumpul, MUI tetap mengimbau umat dan masyarakat untuk tetap berhati-hati dengan memperhatikan protokol medis yang ada,” ucapnya.

Namun jika status penyebaran virus Covid-19 tidak atau belum terkendali lalu tetap ingin berkumpul-kumpul, maka boleh-boleh saja. Tetapi dengan syarat yang ketat dan setiap orang harus bisa melindungi dirinya dan orang lain secara baik.

“Kalau itu bisa dilakukan ya tidak masalah. Silakan, tetapi kalau tidak bisa, maka jangan. Karena mudharatnya jauh lebih besar dari manfaatnya,” katanya.

Soal perlu-tidaknya fatwa dalam memutuskan relaksasi penutupan masjid, Anwar menilai tidak perlu. Sebab menurut dia fatwa MUI 14/2020 sudah bisa memberikan pedoman kepada umat Muslim dan masyarakat tentang bagaimana harus bersikap.

Sumber: republika.co.id

 

Muslim Selandia Baru Siapkan Ribuan Paket untuk Para Pejuang Covid

MANAWATU(Jurnalislam.com)— Asosiasi Muslim Manawatu, Selandia Baru sepanjang Ramadhan ini begitu sibuk menyiapkan ribuan makanan  bagi orang-orang yang bekerja di garda terdepan menanggulangi Covid-19 serta orang-orang yang membutuhkan.

Asosiasi Muslim Manawatu menyediakan makanan tradisional setempat dalam kondisi panas bagi petugas medis di Rumah Sakit Palmerston Utara, Pusat Kesehatan Highbury, panti perempuan, dan tempat lainnya yang membutuhkan.

Setiap Selasa dan Ahad, akan ada dua kelompok yang bertugas memasak makanan.

Sedang dua kelompok lainnya bertugas mengemas makanan untuk pengiriman.

Mereka pun mampu memasak sekitar 700 porsi kari dalam satu panci besar saat itu. Mereka juga menyiapkan makama serupa untuk waktu berbuka yang jauh lebih besar dan terus berlangsung.

Sejauh ini, asosiasi Muslim Manawatu telah membagikan lebih dari 2.000 makanan. Mereka juga menargetkan sebanyak 5.000 orang akan memperoleh hadiah saat pengujung Ramadhan atau jelang hari raya.

Presiden Asosiasi Muslim Manawatu, Riaz Rahman, mengatakan ribuan makanan yang disiapkan itu untuk merespons warga yang menderita karena pandemim. Panitia pun memutuskan untuk memasak dan mendistribusikan pada yang membutuhkan.

“Kami memutuskan untuk membantu dengan cara yang sedikit berbeda. Mereka memenuhi kewajiban sebagai Muslim dan sebagai komunitas, sementara pada saat yang sama itu memperluas kemurahan hari mereka,” kata Riaz Rahman seperti dilansir Stuff pada Rabu (13/5).

Dia menjelaskan, ini bagian dari Ramadhan, berbagai makanan. Kedermawanan seperti berbagi makanan dan mengundang teman-teman untuk berbuka puasa adalah salah satu ajaran Islam pada Ramadhan, ini telah menjadi tradisi di semua komunitas Muslim.

Sementara itu Manajer Perlindungan Perempuan di Palmerston, Zubeda Shariss, mengatakan keluarganya telah  tiga kali melakukan pengiriman sebanyak 30 makanan.

Makanan yang diberikan disambut dan diberikan kepada mereka yang tinggal di perumahan darurat, dan bekerja dalam advokasi perempuan dan anak-anak.

“Kami menargetkan keluarga yang tidak mampu membeli makanan seperti ini, orang-orang yang telah berjuang secara finansial selama kurungan,” katanya.

Sumber: republika.co.id