Berita Terkini

Sekolah Surabaya Terapkan Tiga Metode Pembelajaran Saat Pandemi

SURABAYA(Jurnalislam.com)–Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, menerapkan tiga metode pembelajaran untuk peserta didik jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) selama pandemi COVID-19.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan selama pandemi COVID-19 telah membuat suasana di seluruh dunia berbeda seperti hari-hari sebelumnya, seperti perubahan dalam kebiasaan hidup, termasuk pula pada proses belajar mengajar di sekolah.

“Kami berharap agar anak-anak tidak ragu, takut atau kurang nyaman dengan kondisi yang berbeda, karena perubahan ini adalah upaya untuk mencegah virus tersebut,” papar Risma, Minggu 09/08.

Tiga metode yang diterapkan, jelasnya, mulai dari pembelajaran daring, luring melalui penugasan di masing-masing rumah siswa hingga yang terbaru adalah bekerja sama dengan stasiun televisi swasta.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Supomo mengatakan walaupun dalam suasana yang sangat terbatas, kualitas pembelajaran ini diperlukan agar pembelajaran terlaksana optimal.

Untuk itu, lanjut dia, Dispendik Surabaya menyiapkan beberapa varian metode pembelajaran agar anak-anak tidak merasa bosan.

“Kerja sama bersama televisi itu adalah varian pilihan dengan harapan semua anak Surabaya bisa belajar dengan mudah,” kata Supomo.

Menurut dia, pihaknya juga menyediakan akses literasi belajar bagi siswa jenjang SD dan SMP baik itu melalui daring maupun luring dengan memberikan materi tugas setiap minggu kepada anak-anak.

“Itu semua kita lakukan supaya kualitas pembelajarannya bagus. Mereka anak-anak tidak bosan. Dengan demikian pembelajaran ini berjalan dengan menarik,” katanya.

Sedangkan pada metode pembelajaran baru melalui siaran langsung di televisi swasta, para pelajar dapat langsung bertanya kepada para pengajar melalui sambungan telepon. Para pengajar di program belajar melalui televisi itupun diisi oleh para guru berdasarkan mata pelajarannya.

Pengajar itu berasal dari sekolah negeri maupun swasta di Surabaya. Bahkan, pihaknya juga telah mengatur jadwal mata pelajarannya sedemikian rupa.

reporter: Budi

Satgas: 5824 Warga Indonesia Meninggal Dunia Karena Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah kembali melaporkan perkembangan jumlah kasus positif Covid-19 di Tanah Air. Hingga 11 Agustus 2020, kasus positif virus Corona (Covid-19) bertambah 1.693 kasus sehingga akumulasinya menjadi 128.776 orang.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Satgas Covid-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/, perkembangan jumlah tersebut berasal dari hasil pemeriksaan sebanyak 25.791 spesimen dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat sebanyak 83.710 orang. Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah menjadi 5.824 orang. Sementara itu, sebanyak 85.928 suspek Covid-19.

Sebelumnya, kemarin total kasus positif Covid-19 di Indonesia per tanggal 10 Agustus 2020 berjumlah 127.083 orang. Untuk kasus yang sembuh sebanyak 82.236 orang, sedangkan jumlah yang meninggal sebanyak 5.765 orang.

Sumber: sindonews.com

Pemerintah: Kasus Aktif Covid 39 Ribu Orang

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Juru Bicara sekaligus Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan jumlah kasus positif aktif Covid019 di Tanah Air sebanyak 39.082 kasus atau sekitar 30,8% dari total kasus per 10 Agustus 2020 sebanyak 127.083 kasus.

Wiku menjelaskan bahwa persentase kasus aktif ini artinya kasus COVID-19 yang masih ada di masyarakat. “Kami ingin menyampaikan tentang persentase kasus aktif. Kasus aktif artinya kasus yang masih ada di masyarakat kasus COVID-19 dibandingkan dengan kasus kumulatif atau terkonfirmasi positif,” ujar dalam Konferensi Pers virtual di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (11/8/2020)

“Itu adalah kasus dari awal sampai dengan sekarang. Itu menunjukkan jumlah kasus secara keseluruhan, tapi kalau kita lihat pada hari ini maka kita bisa melihatnya dari sisi kasus aktif,” sambung Wiku.

Tercatat kasus aktif sebanyak 39.082 kasus yakni sebesar 30,8% dari total kasus yang ada. “Dan kalau kita lihat dari kasus aktif yaitu pada tanggal 10 Agustus kemarin, kasus aktifnya adalah 39.082 kasus. Ini artinya adalah 30,8% dari seluruhnya yang ada. Sedangkan kesembuhannya ada 82.236 atau 64,7%. Sedangkan sisanya, kematian sebesar 5.765 itu adalah 4,5%,” ungkap Wiku.

“Cara melihat seperti ini adalah kita kalau melihat by chart seperti ini kita harus memastikan bahwa kasus aktifnya yang ada setiap hari harusnya makin kecil dan kasus kesembuhannya harus makin besar. Dan kasus kematiannya harus makin kecil. Jadi kalau dengan perspektif seperti ini kita akan bisa melihat lebih alamiah dalam kondisi sebenarnya,” imbuh Wiku.

Sementara itu, Wiku mengatakan bahwa kasus positif COVID-19 juga mengalami penurunan. “Kemudian kalau kita lihat dari grafik tersebut yang perlu kita perhatikan sebenarnya adalah naik turunnya angka kasus positif. Dan inilah yang harus kita jaga dan kebetulan beberapa hari terakhir kasus positifnya menurun. Dan kemarin adalah kasusnya adalah 1.687 pertambahannya,” paparnya.

Sumber: sindonews.com

Ikhtiar IKADI Bangkitkan Ekonomi Umat

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Mendorong solusi ekonomi umat di tengah pandemi, Ikatan Dai Indonesia (IKADI) menggelar Seminar Ekonomi Keumatan 2020 di Jakarta, Sabtu (8/8/2020).

 

IKADI menilai berbagai pembatasan, menyebabkan aktifitas ekonomi masyarakat melambat bahkan terhenti, tidak terkecuali kalangan para da’i. Para da’i yang sebelumnya banyak terlibat dalam aktifitas dakwah konvensional berbasis tatap muka dari kampung ke kampung, dari masjid dan sekolah satu ke lainnya,  saat ini menghadapi perubahan situasi dan kondisi yang sangat drastis.

 

Ketua IKADI Prof. Dr. KH. Achmad Satori Ismail mengatakan bahwa seminar digelar untuk membangkitkan aktivitas ekonomi umat ini, khususnya di masa pandemi COVID-19.

 

“Para ahli, para pemikir di bidang ekonomi, para praktisinya dihadirkan untuk membangkitkan gairah ekonomi umat ini. Dan harapannya bukan sekedar seminar, tapi diharapkan umat Islam bangkit di era COVID atau pasca COVID-19 ini dengan kegiatan-kegiatan ekonomi yang jelas,” kata dia dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

 

Seminar berskala nasional ini menghadirkan para pakar dan praktisi dibidang ekonomi umat, seperti Ustadz Abu Syauqi, Ustadz Salim A. Fillah, Hernawan Adi Wibowo, dengan Keynote speaker yaitu ketua IKADI Prof. Dr. KH. Achmad Satori Ismail.

 

Acara ini disiarkan langsung melalui Channel Zoom dan Youtube IKADI, pada pukul 08.30 – 11.30 WIB. Alhamdulillah lebih dari 1000 peserta menghadiri seminar daring ini.

 

Sebanyak 350 peserta yang berasal dari dewan pengurus pusat, wilayah dan daerah seluruh Indonesia bergabung melalui channel zoom, dan sebanyak 650 lebih peserta tercatat bergabung secara langsung pada channel youtube.

 

Salurkan Kurban untuk 62.225 Dhuafa, Sinergi Foundation Siap Tanam Ribuan Pohon

BANDUNG(Jurnalislam.com)–Sinergi kebaikan kita dalam program Green Kurban 2020 telah menceriakan 62.225 penerima manfaat dari Indonesia, Gaza dan Muslim Rohingya.

Program yang diinisiasi Sinergi Foundation ini menyalurkan daging kurban untuk dhuafa yang kebanyakan berprofesi sebagai buruh tani, nelayan, dan pedagang kecil di pelosok desa, serta masyarakat terdampak COVID-19 di simpul miskin perkotaan.

Alhamdulillah, hewan kurban Sahabat membawa kebahagiaan Idul Adha dan membantu memberikan pangan bergizi bagi mereka yang kesulitan ekonomi,” kata Eggie Ginanjar, Direktur Green Kurban.

Ia melanjutkan, “Kami ucapkan Jazakumullahu khairan katsiraan untuk semua muqarib yang sudah berkurban melalui Green Kurban – Sinergi Foundation,”

Eggie menuturkan, langkah Green Kurban tak hanya berhenti sampai di sana. Kini, langkah berikutnya adalah menanam pohon sebagai penghijauan. Sebab ikhtiar Green Kurban adalah menanam 1 pohon untuk setiap hewan yang dikurban.

Dalam kurun waktu 2013-2019 program Green Kurban berjalan, ada sekitar 28.197 bibit pohon yang ditanam dan disebar di berbagai wilayah.

Salah satu pohon yang ditanam adalah bambu yang dinilai ahli dapat memperbaiki lingkungan. Sejak 2017, Green Kurban menanam ribuan bibit bambu yang dikenal sebagai tanaman konservasi lingkungan di Selaawi Garut.

Ada lebih 2.000 bibit pohon bambu ditanam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk – Kab. Garut. Daerah ini menjadi salah satu wilayah kritis langganan banjir setiap tahunnya.

“Tentu ini diharapkan bisa memperbaiki lahan kritis seperti risiko erosi, banjir, dan longsor. Insya Allah, tahun 2020 pun kami berencana menanam bambu,” kata Eggie.

Ia pun memohon doa dan dukungan masyarakat luas agar Green Kurban terus menebar manfaat dan cinta bagi sesama, dan juga untuk bumi.

 

Verifikasi Selesai, SK Bantuan Pesantren di Masa Covid-19 Segera Terbit

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Kementerian Agama menerima amanah berupa anggaran sebesar Rp2,599 triliun untuk membantu pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam di masa pandemi Covid-19.

 

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono mengatakan, proses verifikasi penerima bantuan sudah selesai dan Surat Keputusan (SK) Dirjen Pendidikan Islam akan segera terbit.

 

“Insya Allah, SK bantuan akan terbit tanggal 12 atau 13 Agustus 2020. Proses verifikasi sudah selesai,” terang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Rabu (11/08/2020).

 

“SK sudah mencantumkan nama pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam, lengkap dengan alamat dan nomor rekening yang telah dibuat tim Direktorat. Para penerima akan mendapat surat pemberitahuan sebagai penerima, termasuk bagaimana mencairkannya,” sambungnya.

 

Menurutnya, proses verifikasi dilakukan secara cermat dan teliti untuk memastikan bantuan diberikan tepat sasaran. Proses persiapan dan pelaksanaan pemberian bantuan ini juga melibatkan Kementerian dan Lembaga terkait di luar Kemenag.

 

“Besar harapan kami, bantuan ini dapat meringankan beban pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam yang tentunya ikut terdampak dengan pandemi ini,” tuturnya.

 

Waryono menambahkan, anggaran akan diberikan sebagai Bantuan Operasional (BOP) untuk 21.173 pesantren. Jumlah ini terdiri dari 14.906 pesantren dengan kategori kecil (50-500 santri) yang mendapat bantuan sebesar Rp25juta. Lalu ada 4.032 pesantren kategori sedang (500-1.500 santri), yang akan mendapat bantuan Rp40juta.

 

“Bantuan juga akan diberikan kepada  2.235 pesantren kategori besar dengan santri di atas 1.500 orang. Nilai bantuannya adalah Rp50juta,” ujarnya.

 

Selain pesantren, bantuan juga akan disalurkan sebagai BOP untuk 62.153 Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Masing-masing MDT akan mendapat Rp10juta. Bantuan juga diberikan untuk 112.008 Lembaga Pendidikan Al Qur’an (LPQ). Masing-masing LPQ akan mendapat bantuan Rp10juta.

 

“Selain bantuan operasional, Kemenag juga berikan bantuan pembelajaran daring kepada 14.115 lembaga. Masing-masing lembaga akan mendapat Rp15juta, namun diberikan per bulan Rp5juta selama tiga bulan,” tandasnya.

Entrepreneur Muslim Berbagi Tips Agar Para Dai Mengambil Peluang di Masa Pandemi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Pendiri Rumah Zakat, Ustaz Abu Syauqi dalam Seminar Ekonomi yang digelar Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) memaparkan materi bagaimana entrepreneur bisa mengambil peluang yang ada di masa pandemic.

 

Ia mengajak para dai membangun mindset dan  memiliki jiwa enterpreunership dan optimis melihat banyak peluang dalam era Covid-19.

 

Ustadz Abu Syauqi juga membuka dan merubah mindset para Da’i dengan pembahasan yang berfokus pada pembangunan kesadaran atau mindset kebangkitan ekonomi dai dan keluarga dai sebagai penopang dakwah Islam.

Covid-19 ini bukan hanya ujian atau musibah, tetapi juga menyimpan keberkahan dan peluang bagi siapapun yang cerdas dan memandang pandemi ini sebagai peluang.

 

Pembicara lainnya,  Ustadz Salim A. Fillah, peraih penghargaan Da’i Milenial di acara Grand IKADI Awards 2020 mengajak agar dai membangun mindset bahwa berda’wah lewat media sosial itu niscaya, mudah, murah dan efektif.

 

Diberikan contoh-contoh aplikasi dakwah yang saat ini dilakukan oleh Ustadz Salim A. Fillah dan beliau berbagi tips dan trik praktis yang diharapkan bisa langsung bisa dipraktikan para Da’i setelah acara seminar daring ini.

 

Di akhir sesi seminar daring ini, Hernawan Adi Wibowo (Founder Hervet, Garnesia, Krenies – Bendahara Umum Komunitas TDA) menyampaikan kiat-kiat tentang bagaimana menghadapi era covid dari sisi enterprenership.

 

Pengalaman beliau pribadi dalam membangun dan meningkatkan secara drastis pertumbuhan penjualan (400%) di masa covid 19 ini.

 

Beliau berfokus pada cara memilih produk yang tepat untuk dikembangkan di era covid ini sekaligus memberikan  kiat cerdas membesarkan jaringan dan menumbuhkan usaha-usaha di era pandemi Covid-19.

 

Gandeng BMH, Klub Innova Jatim Salurkan Bantuan untuk Mualaf Tengger

JATIM(Jurnalislam.com)–Klub Innova Jawa Timur menggelar konvoi touring ke puncak B29 Senduro, Lumajang yang dilanjutkan dengan aksi sosial berbagi & peduli bersama Mualaf Suku Tengger. Sabtu, 8/8/20.

Aksi sosial yang dilakukan Klub Innova Jatim ialah berbagi paket sembako untuk para Mualaf Suku Tengger setempat yang membutuhkan bantuan pipanisasi  saluran air di masjid Baiturrahmah Hidayatullah, Senduro, kabupaten Lumajang.

Penyaluran paket sembako dan bantuan dana pipanisasi dari Komunitas Innova Jawa Timur yang menggandeng Laznas BMH berlangsung di halaman masjid Baiturrahman Hidayatullah, Desa Argosari, kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang pada hari sabtu (08/08/2020).

“Alhamdulillah, bantuan yang diberikan Klub Innova Jatim yaitu berupa paket sembako untuk masyarakat muslim mualaf suku tengger dan bantuan sebesar tiga juta rupiah untuk batuan pipanisasi masjid Baiturrahman Hidayatullah,”Ungkap Bripka Wiji Arif Wibowo, S.Sos, selaku penggagas ide kegiatan & anggota Klub Innova Jatim sekaligus anggota Polres Gresik.

Kegiatan yang dilakukan Klub Innova Jatim bertujuan untuk membantu perkembangan penyebaran agama Islam di seluruh pelosok negeri. Dalam aksi sosial ini, Komunitas Innova Jawa Timur menggandeng Laznas BMH dalam penyaluran bantuan.

“Kami dari Klub Innova Jatim mempercayakan Laznas BMH dalam penyaluran bantuan, Karena kami tahu BMH  memiliki pengalaman yang luas dalam hal kemaslahatan umat Islam di Indonesia,”Imbuh Deddy Purwono, S.E, selaku Ketua Distrik Gresik Klub Innova Jatim.

Sayyid Abu Bakar Syatha dan Ijazah Nama”Haji Achmad Dachlan”

Oleh : Arsyad Arifi (Muhammadiyah Yaman)

Guru dalam “kerata basa” atau pepatah Jawa adalah ”tiang kang digugu lan ditiru” atau orang yang dijadikan panutan dan yang diikuti segala perilaku hidupnya. Filosofi ini tentunya tak lepas dari infiltrasi norma-norma Islam didalamnya.

Islam memandang guru adalah sesosok qudwah dari segala aspek kehidupannya baik secara kognitif maupun afektif. Hal ini dikarenakan guru dalam artian ulama adalah pewaris yang menggantikan posisi seorang nabi dalam menuntun umat seperti dalam hadis,

 

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

 

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Hal inilah yang benar-benar dipegang oleh Muhammad Darwisy muda semasa berguru kepada Sayyid Abu Bakar Syatha.

 

Biografi Sayyid Bakri Syatha al-Masyhur

Sayyid Abu Bakar Syatha seorang tokoh ulama besar yang nama lengkapnya ialah al-‘Allamah Abu Bakar Utsman bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Beliau lahir di Mekkah tahun 1266 H/1849 M. Beliau berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya.

Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama madzhab Syafii yang  mengajar di Masjidil Haram di Mekah al-Mukarramah pada permulaan abad ke 14 H. Beliau adalah salah satu dari ribuan tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah ‘Asya’irah wal Maturidiyyah yang menjadi rujukan ulama berbagai belahan dunia, khususnya nusantara.

Sayyid Abu Bakar Syatha meninggal dunia pada tanggal 13 Dzulhijjah tahun 1310 H/1892 M setelah menyelesaikan ibadah Haji. Usia beliau memang tidak panjang (hanya 44 tahun menurut hitungan Hijriyyah dan kurang dari 43 tahun menurut hitungan Masehi). Akan tetapi umur beliau penuh manfaat yang sangat dirasakan umat muslim berbagai belahan dunia.

Jasanya begitu besar, dan peninggalan-peninggalannya, baik karya-karya, murid-murid, maupun anak keturunannya, menjadi saksi tak terbantahkan atas kebesaran ilmu beliau. Peninggalan tertulis yang menjadi “magnum opus” beliau ialah Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in yang menjadi pegangan dalam pembelajaran fikih di berbagai penjuru dunia. Sedangkan peninggalan ideologis berupa “rijal” adalah seorang murid yang bernama KH Achmad Dachlan yang mencerahkan dunia melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

 

Kisah Thalabul Ilmi

Pada tahun 1889an, yaitu beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Darwisy berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana, sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu. Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah.

Salah satunya ialah Sayyid Abu Bakar Syatha. Muhammad Darwisy bermulazamah dan mengambil banyak disiplin keilmuan termasuk qiraah al-Qur’an kepadanya, ta’dzim sebagai seorang murid sangat diperhatikan oleh beliau. Muhammad Darwisy sangat dekat dan menjadikan beliau sebagai qudwahnya dalam berbagai hal baik manhaj beragama maupun akhlak tasawufnya hingga menjadi salah satu murid yang amat dicintainya.

Hal ini ditegaskan dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi yang ditulis oleh MPI PP Muhammadiyah halaman 4, bahwasannya KH Dahlan mendalami manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam ilmu ‘Aqaid, kitab Madzhab Syafi’i dalam ilmu Fiqh dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf. Hal ini sesuai dengan gurunya tersebut karena kedekatannya inilah Muhammad Darwisy mendapat perintah gurunya tersebut untuk berganti nama baru, yaitu Haji Achmad Dachlan. Sebagai seorang murid tentunya Muhammad Darwisy menyetujuinya, karena sesuatu pemberian dari guru itu berbarokah. Dengan inilah beliau mendapatkan ijazah nama baru dari Sayyid Bakri Syatha.

Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Achmad Dachlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Dia mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya. Bakda Ashar, dia ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, dia diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Achmad Dachlan pun dipanggil Kyai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kyai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kyai Haji Achmad Dachlan.

Dari kisah inilah kita pahami bahwasannya KH Achmad Dachlan begitu memahami nilai seorang guru dalam kehidupannya. Apapun beliau lakukan demi manggapai ridha gurunya hingga mengubah nama beliau taat dengannya. Hal inilah yang beliau tanamkan kepada para murid-muridnya yang menjadi penerusnya dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Hal ini bukanlah berlebihan karena telah menjadi budaya yang dilakukan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai jumhur ulama yang merepresentasikan Islam secara umum yang musalsal hingga Rasulullah SAW. Taklim seperti inilah yang diistilahkan oleh Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba’athiyah sebagai “taklim abawy”.

Sebagai penutup marilah merenungi perkataan Sayyiduna Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru dengan seksama, beliau berkata: ”Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.”

Wallahua’lam bishawab.

 

 

PLN Diingatkan Agar Jangan Buat Masyarakat Merasa Terzalimi

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Direktur Bisnis dan Usaha Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Hendra Iswahyudi, menjelaskan soal keluhan tagihan listrik pelanggan berdaya 900 VA yang mencapai Rp19 juta. Dia mengatakan, pihak PLN sudah bertemu dengan pelanggan tersebut dan telah disepakati solusi bersama.

“Jadi masalah tagihan Rp19 juta itu sudah dibereskan, sehingga pelanggan hanya membayar kurang tagihnya Rp1.050.504 dan dicicil empat kali yang per bulannya Rp262.626,” kata Hendra dalam konferensi pers virtual, Selasa, (11/10/2020).

Dia mengatakan, pemerintah turut mengawasi sejumlah keluhan yang disampaikan masyarakat dan akan terus berusaha menemukan solusi bersama.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, berharap ke depannya tidak ada masalah serupa. PLN juga diharapkan mampu mengkomunikasikan berbagai masalah dengan lebih baik kepada para pelanggan.

“Jangan sampai orang lagi susah berbalik arah karena merasa dizalimi,” kata Rida.

Rida mengakui ada sejumlah keluhan terkait lonjakan tagihan listrik saat masa pandemi. Hal itu bukan karena salah pecatatan meter oleh PLN, tapi kata Rida, karena adanya mekanisme penghitungan rata-rata tiga bulan.

Sumber: sindonews.com