Berita Terkini

Umat Islam dan Hikmah Kekalahan Ahok

Sesungguhnya perpecahan, pertikaian dan permusuhan adalah kejahatan yang mewabah dan dosa besar yang bisa merobohkan tatanan kemasyarakatan dan bisa menutup pintu kebaikan.”~ KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Kitab al-Mawa’idz~

Oleh: Muhammad Pizaro

SETELAH melalui pertarungan panjang, pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akhirnya berhasil memenangkan pertarungan Pilkada DKI Jakarta. Berdasarkan hasil real count, secara keseluruhan Anies-Sandi memperoleh 57,95 persen suara. Sementara itu, Ahok-Djarot meraih 42,05 persen. Perolehan ini insya Allah akan mengantarkan Anies-Sandi menjadi Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Sejatinya, kemenangan Anies-Sandi tidak bisa dilepaskan dari peran besar umat Islam. Merekalah yang selama ini menjadi mesin politik sesungguhnya dari kekuatan suara Anies-Sandi. Pagi, siang, malam, umat Islam tidak henti-hentinya mengarahkan masyarakat Jakarta agar memilih pemimpin yang beriman, santun, beradab, dan peduli terhadap rakyat.

Jasa Umat Islam

Jika Anies Baswedan dan Sandiaga Uno ingin berterima kasih, berterimakasihlah kepada umat Islam, khususnyaa ustadz yang turun ke kampung-kampung, majelis ta’lim, mushola, masjid, mimba-mimbar tabligh akbar, dan lain sebagainya. Iya para ustadz yang menyapa umat di bawah. Tanpa mesin ini, kemenangan Anies mungkin masih jauh masih mimpi. Sebab kepercayaan umat Islam terhadap Anies-Sandi

Di sisi lain, kasus Pilkada DKI menunjukkan bahwa umat Islam ternyata bisa bersatu di atas segala perbedaan. Mereka tidak lagi melihat diri sebagai NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah, Salafi dan lain sebagainya.

Beberapa kelompok anti demokrasi –yang muncul hanya menjelang Pemilu—dan kadang hanya melakukan penggembosan-penggembosan Pemilu, yang sedikit besar mempengaruhi pemilih Muslim, tidak nampak. Sebaliknya, semua elemen meminta pemilih Mulim Jakarta tidak menyia-nyiakan haknya dan diminta ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Perbedaan jamaah dan harakah itu mampu disingkirkan demi tujuan mulia, yakni terpilihnya gubernur Muslim. Citra umat Islam yang selama ini sulit untuk bersatu ternyata tidak terjadi di Pilkada DKI 2017.

Isu gubernur non Muslim, sebagai common enemy (musuh bersama), ternyata mampu menyatukan barisan umat Islam yang selama berserak atas sejumlah masalah. Para ulama ternyata menyadari bahwa terpilihnya Ahok kembali sebagai gubernur adalah mudharat yang besar bagi umat Islam Indonesia. Dengan segala kebesaran hatinya, umat Islam mau melepaskan egoisme gerakan dengan menanggalkan perbedaan. Bahkan organisasi Islam yang terbiasa menyerukan untuk golput dalam pemilu pun memahami pilihan besar umat Islam.

Potensi untuk mendorong persatuan umat Islam inilah yang ditangkap dengan cermat oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Dalam aksi 212, PWNU DKI Jakarta telah menunjukkan sebuah ikhtiar untuk menyatukan barisan umat Islam, khususnya dari tubuh NU. Kelompok Nahdliyin ini mengerahkan seluruh kader dan pengurus dalam Aksi Bela Islam III di Silang Monumen Nasional (Monas) dan sekitarnya. Padahal, saat itu, keikutsertaan warga NU dalam aksi bela Islam masih menjadi kontroversi, karena secara umum PBNU melarang simbol-simbol .

Namun Wakil Ketua Tanfidziyah, PWNU DKI, KH. Munahar Muchtar, menegaskan, kehadiran NU DKI dalam aksi tersebut adalah bagian dari upaya aspirasi umat Islam dan upaya mengeratkan tali ukhuwah umat Islam. Ia menyebut NU, Muhammadiyah dan Persis adalah saudara. PWNU DKI pun punya suara yang sama dengan ormas-ormas besar Islam agar Ahok dipenjara.

“Saya yakin ini punya keberkahan, mau Nahdliyin, Muhammadiyah, Persis, semuanya adalah saudara-saudara kita. Kita bersatu, tujuan kita cuma satu: penjarakan Ahok. Titik,” tegasnya.

Menurutnya, tuntutan NU tetap satu, yakni Ahok wajib masuk penjara. “Kalau ada Aksi bela Islam keempat, PWNU akan mengerahkan seluruh komponen yang ada sampai Ahok ditangkap masuk penjara,” kata KH Munahar yang didamping Rois Syuriah KH Mahfudz Asirun kala itu.

Sementara itu, jauh sebelum hari pencoblosan, Ketua Rois Suriyah PWNU DKI Jakarta, KH. Mahfudz Asirun, menegaskan, organisasinya memiliki harapan besar atas terwujudnya persatuan umat Islam, yakni ijtimaul kalimah wal itihadul umah atau bersatunya kalimat dan bersatunya umat.

“Bersatunya NU Muhammadiyah, bersatunya ormas-ormas Islam untuk dapat pertolongan dari Allah subhana wa ta’ala. Itulah harapan kami,” tukasnya usai menggelar silaturahim dengan Rois Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin.

Ahok, sebagai common enemy, bisa menyatukan mereka tanpa mau tersekat pada backrgoun¬ identitas jamaah.

Sebuah harga mahal yang selama ini masih dicita-citakan oleh grassroot umat.

Sikap senada juga turut dikatakan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Menurutnya, tak bisa dipungkiri Aksi 212 memiliki dampak yang demikian besar bagi umat Islam. Dampak aksi tersebut, lanjut Din, menumbuhkan gairah umat Islam yang sangat besar dalam menjalin ukhuwah.

“Epilognya menumbuhkan kegairahan yang lebih besar ke arah yang mendukung ukhuwah umat Islam. Seperti (munculnya) gerakan shubuh berjamaah minimal sekali sebulan, (serta) pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Tantangan Kedepan

Pertanyaaannya kemudian adalah apakah konsistensi kesatuan umat Islam masih bertahan setelah kemenangan Anies Sandi?

Pertanyaan inilah yang harus dijawab umat Islam. Sebab, sejumlah persoalan masih melingkupi umat Islam, termasuk seperti konflik urusan furu’, yang menyebabkan elemen antar ahlus sunnah di akar rumput seolah sedang didesain untuk dibentur-benturkan, seharusnya mulai diakhuri.

Di sinilah, para ulama harus tampil memecahkan masalah. Ulama perlu duduk bersama mencari penyelesaiannya. Gairah umat menyongsong tautan tali persaudaraan haruslah berumur panjang. Tidak boleh berhenti hanya pada raihan suara Anies-Sandi. Sebab, umat Islam selama ini sudah sangat merindukan persatuan. Diamnya kita atas perpecahan hanya akan mengecewakan umat Islam. Apalagi, terpilihnya Anies-Sandi hanyalah pintu masuk menyelesaikan PR-PR yang jauh lebih besar: membangun Jakarta, bahkan Indonesia yang beradab di 2019.

Kemenangan Anies-Sandi adalah hasil perasan keringat umat Islam. Ada peran para kiai-kiai NU yang lurus, mereka yang berada di basis-basis pesantren yang tak mudah terbeli oleh iming-iming uang dan kekuasaan, para habaib (termasuk peran Habib Rizieq Shihab) yang boleh dibilang menjadi ‘martir’ berhadap-hadapan dengan kekuasan, ada Ustad Bachtiar Nasir, ikon Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF), semua ormas Islam, ada tim-tim kerja politik tersembunyi, yang siang malam bekerja tanpa sorot kamera, termasuk putra Ali Sadikin, Boy Sadikin bersama PKS dan koalisi pemenangan Anis dan Sandi.

Ada keberanian umat DKI, melawan gencarnya politik uang (money politic). Ada kelompok-kelompok kecil rela keluar-masuk gang, melawan ‘koalisi baju kotak-kotak’ yang membagi beras, minyak dan uang. Bahkan ada peran banyak ibu-ibu muslim, yang saat ini mulai sadar, bagaimana mereka harus ‘melawan’ kekuatan besar yang bersandar di Ahok-Djarot.

Masjid-masjid Jakarta berfungsi lebih, tak hanya mengurusi shalat jamaah. Takmir-takmir menghidupkan jamaah, ajakan memilih pemimpin Muslim adalah wajib. Semua umat berdiri!

Ini semua, bagian dari ‘perlawanan umat’ akibat perasaan tak berdaya. Mereka selama ini menjadi orang kalah, boleh dibilang, mayoritas media TV berada dibalik suara para Taipan, yang gencar melakukan stigma, framing kepada umat Islam, para ulama dan GNPF. Termasuk framing, pendukung Anis-Sandi adalah pendukung radikal. Pemandangan ini bisa dirasakan semua umat Islam.

Yang jelas, kemenangan ini, sudah takdir Allah Yang Maha Kuasa, yang harus disyukuri, dan segera dilanjutkan dengan membangun langkah strategis membangun umat Islam dan mendorong kesadaran bahwa umat Islam adalah bersaudara sampai akhir hayat. Sebab, rasa persaudaran itulah kunci umat Islam Indonesia mampu meruntuhkan tirani kezhaliman. Maka, alangkah sayangnya jika mimpi, cita-cita, dan persaudaraan itu hanya berhenti di kotak suara.*

Penulis Ketua Divisi Kajian Global the Centre for Islamic and Global Studies (CIGS)

Komite Palestina Serukan Mogok Makan Massal di Tepi Barat dan Jalur Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Sebuah komite pada hari Selasa (25/4/2017) menyerukan rakyat Palestina untuk melakukan pemogokan massal di Tepi Barat dan Jalur Gaza akhir pekan ini dalam menunjukkan solidaritas dengan warga Palestina yang mogok makan di penjara zionis, World Bulletin melaporkan, Selasa.

“Kami meminta rakyat kita untuk melakukan pemogokan umum sepanjang hari Kamis,” demikian bunyi sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Komite Nasional untuk Mendukung Mogok Makan (National Committee to Support the Hunger Strike) yang baru dibentuk, yang mencakup perwakilan dari beberapa faksi politik Palestina.

“Pemogokan massal tersebut akan mempengaruhi semua aspek kehidupan di Tepi Barat dan Gaza – sektor komersial, pendidikan, pemerintahan dan swasta,” tambahnya.

Komite tersebut kemudian mendesak warga Palestina untuk ambil bagian dalam sejumlah aksi yang direncanakan untuk menunjukkan solidaritas dengan para pelaku aksi mogok makan Palestina di berbagai kota.

“Kami juga menyerukan perluasan kampanye boikot yang sedang berlangsung yang menargetkan produk-produk Israel,” tambah pernyataan tersebut.

Sejumlah seruan oleh aktivis Palestina juga telah beredar di media sosial yang mendesak warga Palestina untuk melakukan demonstrasi di dekat pos pemeriksaan tentara Israel di Tepi Barat.

Lebih dari 1.000 tahanan Palestina memulai mogok makan terbuka pada 17 April untuk menuntut lebih banyak kunjungan ke penjara, perawatan medis yang lebih baik dan perawatan yang lebih baik untuk narapidana perempuan.

Aksi mogok makan tersebut dipelopori oleh tahanan lama Palestina Marwan Barghouti, yang telah mendekam di penjara Israel selama lebih dari satu dekade.

Menurut tokoh Palestina, Israel saat ini menahan lebih dari 6.000 orang Palestina – termasuk 57 perempuan dan 300 anak – di 24 penjara dan pusat penahanan.

The Prosecutors Verdict Fractures Indonesian Law: Mimbar Shari’a

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Chairman of the Sharia rostrum, Ustadz Hamzah Baya, said the prosecutor’s charges against Ahok do not only injure the law but amputate Indonesian law.

Ustadz Hamzah, explains, Ahok should have been given the maximum sentence in accordance to the crime that was charged. However, he said, the prosecutor onl hit Ahok with a sentence of 1 years probation.

“This does not just hurt the law in this country. But indeed amputate the existing law, “he said.

He continued, the trial of the blasphemy case with the defendant Ahok was just a game , he asked the community not to be too hopeful with regards the decision of the Panel of Judges.

“We can not expect too much from the the judges final decision on the hearing. We know that they will not impose a verdict or punish serious (Ahok) with religious penalty, “he said.

Because of that, Ustadz Hamzah asks Muslims to continue to fight the law with other methoda until justice is upheld.

“We must carry out our duty,( ie amar ma’ruf and nahi munkar). For the unbelievers and the hippocrates will never allow the Muslims to practice the Shari’ah of Allah on this earth. So it needs an effort or resistance to uphold justice in this country, “he concluded.

Mimbar Syari’ah is a forum for coordination and consolidation for the da’i of the enforcers of sharia in Indonesia.

Reporter: Yan Aditya

Translator: Taznim

Siap Hadapi Serangan AS, Korut Gelar Latihan Perang Besar

SEOUL (Jurnalislam.com) – Korea Utara mengadakan latihan penembakan “besar-besaran” pada hari Selasa (25/4/2017), menurut militer Korea Selatan saat memantau Korea Utara pada peringatan 85 tahun pendirian Angkatan Darat Korea-nya, Anadolu Agency melaporkan, Selasa.

Seoul telah mengantisipasi provokasi besar Korea Utara bulan ini sesuai dengan tanggal-tanggal penting termasuk ulang tahun pendiri nasional Kim Il-sung pada 15 April dan pembentukan militer negara tertutup tersebut pada 25 April 85 tahun yang lalu.

Diantisipasi melakukan uji coba nuklir atau rudal jarak jauh, namun Pyongyang malah melakukan latihan skala besar yang melibatkan ratusan senjata artileri yang ditempatkan di dekat pantai timur pada hari Selasa, kantor berita Yonhap melaporkan mengutip militer Selatan.

Walaupun senjata semacam itu menimbulkan ancaman lebih besar bagi Seoul daripada Amerika Serikat, Korea Utara juga mengirimkan sebuah pesan yang jelas ke Washington, yang telah memperkuat kemampuan regionalnya sendiri di tengah spekulasi bahwa AS sedang mempertimbangkan tindakan pre-emptive.

“Jika AS dan para penghasut perang mengamuk dengan serangan pre-emptive yang sembrono, kita akan melakukan hukuman paling brutal atas serangan pre-emptive di udara dan darat serta di laut dan dari bawah laut tanpa peringatan atau pemberitahuan sebelumnya,” surat kabar resmi Rodong Sinmun di Utara memperingatkan.

Presiden Korea Selatan Hwang Kyo-ahn juga mengeluarkan sebuah ancaman balasan, memperingatkan dalam sebuah pertemuan kabinet bahwa Pyongyang “akan menghadapi tindakan tegas yang berbeda dari apa yang telah dilakukan sejauh ini jika mereka melakukan provokasi sembrono lainnya.”

Sampai sekarang, sekutu-sekutu tersebut telah bekerja sama dengan PBB untuk menjatuhkan sanksi terhadap Korea Utara menyusul uji coba rudal nuklir dan balistiknya.

Kepala Staf Gabungan Seoul mengatakan bahwa militernya “terus-menerus menutup mata” terhadap kegiatan Korut, dengan dukungan dari pemimpin Angkatan Bersenjata Korea Selatan Jenderal Vincent K. Brooks yang menambahkan dalam sebuah upacara di Seoul bahwa “kita hanya siap siaga”.

Sekitar 30.000 tentara Amerika ditempatkan di Korea Selatan sebagai bagian dari strategi militer yang dikecam Pyongyang sebagai persiapan perang.

Militer AS Lakukan Lebih dari 80 Serangan Udara terhadap AQAP

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Pasukan agresor AS telah melakukan lebih dari 80 serangan di Yaman sejak Maret, Pentagon mengatakan Senin (24/4/2017).

Berbicara pada sebuah konferensi pers, juru bicara Kapten Angkatan Laut Jeff Davis mengatakan bahwa mereka melakukan serangan terhadap Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) pada tanggal 18 April di provinsi Maghrib, dan satu lagi pada tanggal 23 di provinsi Shabwah, lansir Anadolu Agency, Selasa (25/4/2017).

“Pasukan AS akan terus melakukan serangkaian operasi berkelanjutan melawan AQAP untuk menghalangi AQAP memegang wilayah yang dikuasai dari pemerintah Yaman,” Davis menambahkan.

AS baru-baru ini telah meningkatkan serangan drone terhadap posisi Al-Qaeda di provinsi Shabwah, Abyan dan Al-Bayda di Yaman.

Al-Qaeda dikatakan menguasai kota Mukalla, ibukota regional dari provinsi Hadhramaut selatan, bersama dengan beberapa wilayah di Shabwah dan Abyan.

Pada bulan Agustus tahun lalu, pemerintah Yaman mengklaim telah merebut kembali Abyan dari Al-Qaeda namun masih dalam pengendalian AQAP.

Yaman tetap dalam keadaan perang sejak tahun 2014, ketika milisi Syiah Houthi dukungan Iran dan sekutu mereka menguasai ibukota Sanaa dan beberapa wilayah lain negara tersebut, memaksa anggota pemerintah Yaman yang didukung Saudi melarikan diri ke Riyadh untuk sementara.

Pada bulan Maret 2015, Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan sebuah operasi militer besar-besaran di Yaman untuk membalikkan keuntungan pemberontak Houthi dan memulihkan pemerintah negara yang diakui secara internasional.

Tahun lalu, pemerintah Yaman dan pemberontak Syiah Houthi mengadakan perundingan damai yang disponsori PBB di Kuwait dalam upaya menyelesaikan konflik tersebut, di mana lebih dari 10.000 orang telah terbunuh, menurut angka PBB.

Faksi-faksi Revolusioner Hama Kembali Lakukan Serangan Balik, 27 Pasukan Assad Tewas

SURIAH (Jurnalislam.com) – Faksi-faksi revolusioner yang melancarkan serangan terhadap kekuatan rezim Nushairiyah Assad dan milisi Syiah yang didukung Iran telah mengalami kemajuan luar biasa dalam beberapa hari terakhir di desa-desa utara di desa Hama dan menguasai beberapa lokasi.

Faksi-faksi jihad dan oposisi tersebut berhasil mendapatkan kembali kendali atas pos pemeriksaan Jeb al-Doktor di sebelah barat kota Taibat al-Imam, serta pos pemeriksaan dan kota Al-Masasneh di daerah utara Hama. Mujahidin dan oposisi membunuh lebih dari 27 pasukan rezim Assad dan milisi Syiah serta menangkap 5 lainnya, koresponden ElDorar mengkonfirmasi, Selasa (25/4/2017).

Sebelumnya pasukan rezim Syiah Suriah merebut kembali lokasi yang hilang bulan lalu tersebut, terutama Mouardes dan Souran, dan berhasil membuat kemajuan lain, dan menguasai Taibat al-Imam, Helfaya dan al-Masasneh setelah pertempuran beberapa pekan, kini faksi-faksi revolusioner meluncurkan sebuah serangan balik baru.

Turki Bombardir Pasukan Dukungan AS di Suriah dan Irak, 70 Tewas

SURIAH (Jurnalislam.com) – Pesawat tempur Turki membom militan Kurdi di wilayah Sinjar Irak dan di timur laut Suriah pada hari Selasa (25/4/2017), menewaskan sekitar 70 militan dalam sebuah operasi yang meluas melawan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan PKK, militer Turki mengumumkan dalam sebuah pernyataan, lansir Middle East Eye.

Militer Turki pada hari Selasa pagi membunuh 40 teroris Kurdi di Irak utara dan 30 teroris di timur laut Suriah, kata Staf Umum Turki.

Sebuah pernyataan Staf Umum Turki mengatakan bahwa pasukan Turki melakukan serangan udara kontra-terorisme sekitar pukul 02.00 pagi (2300GMT Senin).

Target PKK yang berada di Gunung Sinjar di Irak utara dan Gunung Karacok di timur laut Suriah dipukul untuk mencegah kelompok tersebut mengirim pasukan, senjata, amunisi, dan bahan peledak ke Turki, kata pernyataan tersebut kepada Anadolu Agency.

Serangan udara di Suriah menargetkan YPG – komponen kunci dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang didukung oleh Amerika Serikat dan telah mendekat ke benteng kelompok Islam (IS) di Raqqa.

Operasi tersebut menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh operasi pimpinan AS untuk mengalahkan IS di Suriah dan mempertaruhkan meningkatnya ketegangan antara sekutu NATO Washington dan Ankara mengenai pasukan Kurdi yang sangat penting dalam melawan IS.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa pihaknya “sangat prihatin” dengan serangan udara Turki.

Milisi YPG bersama Komandan AS
Milisi YPG bersama Komandan AS

“Kami sangat prihatin, sangat prihatin bahwa Turki melakukan serangan udara hari ini di Suriah utara serta Irak utara tanpa koordinasi yang baik dengan Amerika Serikat atau koalisi global yang lebih luas,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner.

“Kami telah menyatakan keprihatinan tersebut kepada pemerintah Turki secara langsung.”

Pentagon menawarkan respons yang lebih teredam.

“Kami tidak ingin mitra kami memukul mitra lain,” kata seorang pejabat senior pertahanan AS kepada AFP.

“Kita harus tahu persis siapa yang diserang. Kami belum tahu. Kami tahu di mana serangannya, tapi kita tidak tahu persis siapa yang tewas.”

Seorang perwira militer AS mendampingi komandan YPG dalam sebuah tur ke situs-situs yang dibom Turki pada hari Selasa, kata seorang saksi Reuters, menunjukkan kemitraan erat tersebut.

“Sebagai hasil dari serangan barbar oleh pesawat tempur Turki saat fajar hari ini terhadap pusat YPG … 20 pasukan tewas dan 18 lainnya luka-luka, tiga di antaranya kritis,” kata juru bicara Redur Xelil.

Militer Turki mengatakan bahwa kedua wilayah yang menjadi sasarannya adalah “pusat teror” dan tujuan pemboman tersebut adalah untuk mencegah PKK mengirim senjata dan bahan peledak untuk melakukan serangan di Turki.

“Untuk menghancurkan pusat-pusat teror yang mengancam keamanan, kesatuan dan integritas negara dan bangsa kita dan sebagai bagian dari hak kita berdasarkan hukum internasional, serangan udara telah dilakukan … dan target teroris telah diserang dengan sukses,” Kata tentara Turki dalam sebuah pernyataan.

YPG mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa markas besarnya di Gunung Karachok di dekat perbatasan Suriah dengan Turki telah diserang, termasuk sebuah media center, sebuah stasiun radio lokal, fasilitas komunikasi dan institusi militer, pemboman udara dilakukan sekitar jam 2 pagi waktu setempat (2300 GMT), tambahnya.

Mimbar Syari’ah: Tuntutan JPU Terhadap Ahok Amputasi Hukum Indonesia

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Ketua Mimbar Syariah, Ustadz Hamzah Baya, mengatakan, tuntutan jaksa terhadap Ahok bukan sekedar mencederai hukum akan tetapi mengamputasi hukum Indonesia.

Ustadz Hamzah, menjelaskan, Ahok sudah sepantasnya mendapat hukuman maksimal sesuai pasal yang didakwakan. Akan tetapi, kata dia, JPU hanya menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun dan 2 tahun masa percobaan.

“Hal ini bukan lagi mencederai hukum di negeri ini. Tapi, sudah mengamputasi hukum yang ada,” tegasnya.

Ia melanjutkan, persidangan kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok hanyalah sandiwara belaka. Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat untuk tidak terlalu berharap kepada keputusan Majelis Hakim.

“Kita tidak bisa berharap terlalu banyak terhadap keputusan majelis hakim dalam persidangan. Kita tahu bahwa mereka tidak akan menjatuhkan vonis atau menghukum penista agama (Ahok) berat,” katanya.

Untuk itu, Ustadz Hamzah meminta umat Islam untuk terus melakukan perlawanan secara hukum maupun bentuk lainnya sampai keadilan ditegakkan.

“Kita harus menjalankan kewajiban kita, yaitu amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab orang-orang kafir dan munafiq tidak akan pernah membiarkan umat Islam menjalankan syariat Allah di bumi ini. Sehingga perlu sebuah upaya atau perlawanan untuk tegaknya keadilan di negeri ini,” pungkasnya.

Mimbar Syari’ah adalah forum koordinasi dan konsolidasi bagi para da’i pejuang penegakkan syariah di Indonesia.

Reporter: Yan Aditya

Hakim Kasus Ahok Harus Perlihatkan Independensi

JURNALISLAM.COM – Hari ini Selasa (25/4/2017), Terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Kuasa Hukumnya menyampaikan nota pembelaan (pledoi) di depan Majelis Hakim yang menyidangkan kasus penistaan agama. Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah menuntut Ahok 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun.

Majelis Hakim akan memutuskan kasus Ahok pada tanggal 9 Mei 2017. Sekarang saatnya Majelis Hakim yang menyidangkan perkara Ahok untuk menjatuhkan putusan yang seadil-adilnya dengan mempertimbangkan fakta-fakta yang muncul di persidangan dan perasaan keadilan masyarakat tanpa terpengaruh oleh kepentingan apapun.

Kasus yang menyedot perhatian publik ini, secara kasat mata, telah menyeret Majelis Hakim ke dalam kepentingan kelompok yang menghendaki Ahok dibebaskan atau dihukum seringan-ringannya.

Fakta menyolok tentang terseretnya Majelis Hakim tersebut dapat dilihat pada saat Kapolda DKI Mochamad Iriawan menyarankan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara untuk menunda pembacaan tuntutan sampai penyelenggaraan Pilkada putaran kedua selesai. Permintaan penundaan tersebut direspon oleh Majelis Hakim dengan mengabulkan saran penundaan tersebut setelah mendengar permohonan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan didukung penuh oleh Kuasa Hukum Terdakwa.

Dalam menjatuhkan putusan, hakim tidak hanya harus memperhatikan fakta-fakta persidangan, akan tetapi juga wajib hukumnya mempertimbangkan akibat putusan yang dikeluarkan tersebut di tengah-tengah masyarakat. Putusan hakim harus memberikan dampak baik bagi masyarakat, apalagi kasus yang berimplikasi terhadap hubungan antar masyarakat yang hidup dalam kemajemukan.

Majelis Hakim semestinya memahami bahwa selama ini keberadaan Pasal 156 dan 156a KUHP efektif meredam hubungan yang tidak baik antar pemeluk agama di Indonesia. Bila Majelis Hakim tidak menangkap pesan Pasal 156 dan 156a KUHP dengan baik, harmonisasi hubungan antar umat beragama yang selama ini terawat baik akan menjadi ancaman yang nyata bagi kebhinekaan kita.

Sekarang kita berikan kesempatan kepada Majelis Hakim untuk berpikir secara jernih untuk membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang independen yang bisa mempertanggungjawabkan putusan yang mereka buat demi merawat kebhinekaan dan menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum (rechtstaat).

Ditulis oleh: Miko Kamal, SH, PhD, pengamat hukum

IZI dan Lazis PLN Gelar Training Guru TPQ di Semarang

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Selasa (25/4/2017), Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) bekerjasama dengan LAZIS PT. PLN (persero) Pusat Manajemen Konstruksi mengadakan kegiatan Training Guru Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Pelatihan ini diadakan untuk meningkatkan kapasitas dan kreatifitas kepada guru TPQ.

“Kami memberikan pelatihan untuk guru TPQ karena guru TPQ sebagai salah satu pembangun peradaban ke depan. Dan para guru TPQ ke depan bisa menjadi dai atau daiyah yang mempunyai kontribusi jelas kepada masyarakat,” kata Kepala Cabang IZI Jawa Tengah, Djoko Adhi.

Para guru diberikan pelatihan tentang cara memahami psikologi anak agar para pelajar TPQ merasa nyaman dan senang untuk belajar ilmu agama. Selain itu, para guru juga dibekali pengetahun pengelolaan TPQ yang baik secara administratif guna untuk mengarahkan para guru agar menjadi juru dakwah di lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, Ketua lazis PLN Pusat Manajemen Kontruksi, Muntar Shalihun berharap, guru TPQ mampu menjadi inisiator peradaban Islam. “70 guru TPQ yang mendapat training ini harapannya menjadi inisiator peradaban Islam, dan mampu menjadikan masjid sebagai pusat pemberdayaan Islam,” tuturnya.

Para guru ini akan diasah selama setahun ke depan dan diharapkan dapat memberikan manfaat lebih kepada masyarakat.

(Siaran Pers IZI)