Berita Terkini

Pengamat Nilai Pernyataan Ansor Soal Bendera Tauhid Tidak Konsisten

LAMONGAN (Jurnalislam.com) – Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai pernyataan ketua GP Ansor terkait bendera tauhid yang dibakar oleh anggotanya tidak konsisten.

Di satu sisi, katanya, Ansor menilai bahwa bendera tersebut adalah bendera tauhid sehingga harus diamankan seperti halnya al Quran yang tercecer maka dibakar.

Tapi dalam pernyataan lainnya, Ansor menganggap bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI.

“Jika membakar dianggap ingin mengamankan bendera tauhid, memang tidak ada cara yang lebih elok dan beradap untuk mengamankan bendera tauhid?? Kenapa harus dirampas dari pemiliknya kemudian di bakar bahkan dengan bangganya kemudian dipertotonkan di publik? Apa motifnya?” kata Harits dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Selasa (23/10/2018).

Ia juga mempertanyakan alasan lain Ansor yang tak konsisten, misalnya jika Ansor menganggap bendera itu adalah bendera kelompok tertentu, apakah Ansor pernah membakar bendera RMS, OPM, atau kelompok lain yang jelas –jelas menjajah Indonesia.

“Atau bahkan membakar bendera kelompoknya sendiri ketika ia jumpai benderanya berkibar karena sebuah kepentingan dan menjadi alat politik kekuasaan?” tambahnya.

Harits juga mempertanyakan klaim Ansor yang menuding bendera tauhid adalah bendera HTI.

“Kalau mereka menuduh itu bendera HTI, adakah didalam bendera tauhid itu tertulis HTI? Yang pasti cuma ada kalimat tauhid,” sindirnya.

28 Menteri Luar Negeri Eropa Tuntut Penyelidikan Khashoggi Kredibel dan Transparan

ANKARA (Jurnalislam.com) – Reaksi Uni Eropa terhadap pembunuhan sadis Jamal Khashoggi akan bergantung pada langkah-langkah berikutnya yang akan diambil oleh pemerintah Saudi, kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa pada hari Selasa (23/10/2018).

Berbicara di Parlemen Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan Uni Eropa telah “meminta Arab Saudi untuk menjelaskan peristiwa 2 Oktober melalui penyelidikan penuh, kredibel, transparan dan cepat,” lansir Anadolu Agency.

“Kami juga telah meminta Arab Saudi untuk kolaborasi penuh dengan pihak berwenang Turki.

“Kami berharap bahwa semua orang akan bekerja menuju tujuan untuk menetapkan fakta. Ini adalah titik awal,” kata Mogherini, menambahkan bahwa penyelidikan harus didorong oleh pencarian kebenaran dan bukan oleh geopolitik.

Baca juga: Erdogan: Pembunuh Jamal Khashoggi Rencana Para Pejabat Kerajaan Saudi

Mogherini mengatakan konfirmasi kematian Khashoggi adalah langkah pertama menuju kebenaran dan menuju akuntabilitas.

“Tetapi penjelasan yang disampaikan otoritas Saudi sejauh ini meninggalkan banyak keraguan dan banyak pertanyaan yang tidak terjawab.

Terkait Dewan Urusan Luar Negeri pekan lalu, Mogherini mengatakan seluruh 28 Menteri Luar Negeri negara anggota UE setuju untuk menuntut penyelidikan yang kredibel dan transparan.

“Kami sedang mengerjakan langkah-langkah dan pernyataan lebih lanjut untuk diambil bersama-sama,” tambahnya.

Baca juga: Jika Turki Minta, PBB akan Selidiki Pembunuhan Khashoggi

Khashoggi, kolumnis The Washington Post, telah hilang sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah 2 pekan menyangkal mengetahui keberadaannya, Arab Saudi beberapa hari lalu akhirnya mengakui Khashoggi tewas saat berkelahi di dalam konsulat.

Pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat dia masih di dalam gedung, menurut sumber-sumber polisi Turki. Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

LAZIS Wahdah Bangun Prototipe Huntara untuk Korban Gempa Palu

PALU (Jurnalislam.com)— Wahdah Islamiyah membuat prototipe shelter atau huntara (Hunian Sementara) yang terbuat dari bahan kalsiboard. Untuk memperkuat rangka bangunan, kayu-kayu pilihan dirancang untuk memperkokoh hunian lengkap dengan atap yang didominasi bahan seng berukuran 3 x 6 meter.

Nantinya prototipe ini akan dimanfaatkan oleh pengungsi gempa dan tsunami yang ditargetkan sebanyak 100 hunian.

“Insya Allah proyek 100 hunian telah dimulai dan akan dibangun dibeberapa lokasi,” ujar Syahruddin, Direktur LAZIS Wahdah Islamiyah, Selasa (23/10) dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com.

Seperti diketahui bersama, gempa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu telah meluluhlantakkan ribuan rumah penduduk. Sehingga kebanyakan dari mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian.

“Salah satu poin yang paling penting dalam masa pemulihan recovery adalah tersedianya tempat tinggal bagi para korban gempa dan tsunami maka dari itu kita insya Allah akan membantu mereka terkait ketersediaan hunian sementara, tahap pertama sudah proses dan selanjutnya kita terus lanjutkan di tahap berikutnya, target kita membuat mini kompleks Shelter di atas tanah yang telah kita dapatkan dari jamaah Wahdah Islamiyah,” jelasnya.

Untuk tahap awal, pada Selasa (23/10) siang, empat orang pengungsi di Jln. Sungai manonda, komplek Masjid Imam Muslim, kota Palu menerima secara simbolis shelter yang telah rampung.

Dari pihak Wahdah Islamiyah diwakili oleh Abdul Rahim kepada Hendra Setiawan, Huddin, Rida Az Zahrah dan Zulkarnain.

“Syukur kami ucapkan atas pemberian shelter ini. Semoga LAZIS Wahdah semakin dipercaya masyarakat Indonesia,” ujar Hendra.

Proses pembangunan shelter dimulai pada Kamis (18/10) yang dalam pengerjaannya dilakukan oleh delapan orang yang tergabung dalam tim shelter Wahdah Islamiyah.

Syahruddin menambahkan, hunian ini akan dilengkapi dengan WC yang layak guna dan kedepan beberapa Masjid dan Sekolah yang rubuh akan dibangun kembali guna untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi warga Sulawesi Tengah. []

Bendera Tauhid Dibakar, Aa Gym : Hati Ini Pedih, Terluka, dan Rasa Mendidih Amarah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym geram terhadap aksi pembakaran bendera tauhid oleh anggota Banser.

“Menyaksikan video pembakaran kaimat syahadat oleh oknum sebuah organisasi, sungguh benar-benar membuat hati ini sangat pedih, terluka, dan ada rasa mendidih amarah,” kata Aa Gym dalam keterangannya, Selasa (23/10/2018).

Ia meminta agar pelaku pembakaran bendera tauhid segera bertaubat kepada Allah. Walau marah, ia meminta masyarakat agar dapat menahan diri jangan sampai membuat kericuhan.

“Tetaplah menahan diri dan menjaga diri. Jangan sampai kita terjerumus melakukan tindakan-tindakan yang bisa melampui batas, dan bisa menambah masalah-masalah baru,” katanya.

Dengan kejadian in, Aa Gym berharap ada hikmah yang bisa dipetik, agar di masa mendatang tidak ada lagi orang yang mencederai kemuliaan agama.

“Dan semoga kita bisa menjadi bangsa yang bisa bersatu di jalan yang Alloh berkahi dan Alloh ridhoi,” pungkasnya.

Polisi Minta Massa Aksi Bela Tauhid Tenang dan Percaya Penegak Hukum

SOLO (jurnalislam.com)- Kapolresta Surakarta AKBP Ribut Hari Wibowo meminta masyarakat untuk dapat bersikap tenang dan menyerahkan kasus pembakaran bendera tauhid di Garut kepada aparat kepolisian.

Hal itu ia katakan kepada puluhan ribu peserta aksi bela kalimat tauhid di depan Mapolresta Surakarta, pada selasa, (23/10/2018).

“Saudara saudaraku sekalian, jaga ketertiban dan keamanan kota Surakarta, harapan saya menyerahkan semuanya kepada penegak hukum, biar diproses, kita yang di Solo juga sudah tau karena sudah ditangani polres Garut,” katanya dari atas mobil komando.

Ribut juga mengapresiasi atas sikap umat Islam dalam kasus ini, menurutnya, umat Islam dapat bersikap tenang dan tidak main hakim sendiri dengan kasus yang terjadi saat perayaan hari santri nasional itu.

“Kawan sekalian saya apresiasi dan terimakasih telah memberikan dukungan kepada Polri untuk menindak secara profesional, Polri akan bertindak sesuai hukum,” ujarnya.

Dalam aksi bela kalimat tauhid tersebut, juga dihadiri ketua Ansharusy Syariah Jateng ustaz Surawijaya, pimpinan ponpes Takmirul Islam KH. Muhammad Ali bin Naharussurur, Pakar Hukum Universitas Juanda Bogor Dr Muhammad Taufik, wakil ketua MUI Solo Ismanto dan sejumlah pimpinan ormas lainnya,

Setelah Topi Tauhid, Yayasan Visi Generasi Inisiasi Gerakan Sejuta Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Terkait perlakuan tak menyenangkan terhadap  kalimat tauhid, Yayasan Visi Generasi menginisiasi gerakan ‘Sejuta Bendera Tauhid’, setelah beberapa waktu lalu menginisiasi gerakan ‘Sejuta Topi Tauhid.’

Ketua Yayasan Visi Generasi Mahsun Sofyan mengatakan bahwa gerakan sejuta topi tauhid sudah dimulai Jumat (12/10/2018) dan tersebar di seluruh Indonesia. Namun, saat itu gerakan ini sempat mendapat penolakan dari orang yang mengatasnamakan ‘aliansi santri dan mahasiswa Jabar.’

“Kami akan melanjutkan aksi ini ke seluruh rakyat indonesia bahkan kemudian kami juga akan menginisiasi gerakan sejuta bendera tauhid supaya masyarakat indonesia lebih mencintai simbol – simbol tauhid ditengah –tengah sekarang simbol Islam yang dikriminalisasi,” kata Mahsun kepada Jurnalislam.com di Garut, Selasa (23/10/2018).

Ia mengatakan bahwa Visi Generasi siap mendukung gerakan umat Islam Indonesia untuk membela kalimat tauhid.

“Mereka adalah phobia dg simbol tauhid dan mereka tidak bisa membedakan mana simbol Tauhid milik ummat islam dan mana simbol ormas tertentu. Kami mengecam tindakan mereka yang mengada-ngada,” pungkasnya.

 

 

Jika Turki Minta, PBB akan Selidiki Pembunuhan Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – PBB pada hari Selasa (23/10/2018) mengatakan akan menyelidiki kasus yang menewaskan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi jika Turki meminta.

“Kami akan menunggu untuk melihat apakah kami mendapatkan permintaan resmi dari Turki,” kata juru bicara PBB Farhan Haq kepada wartawan. “Jika kami mendapatkan sesuatu seperti itu kami akan mengevaluasinya dan membuat keputusan berdasarkan permintaan yang kami terima,” lansir Anadolu Agency.

Agar setiap penyelidikan PBB berhasil, badan internasional akan membutuhkan kerja sama dari semua pihak terkait, Haq menambahkan.

Baca juga: Trump: Penanganan Kasus Khashoggi oleh Saudi Terburuk dalam Sejarah Menutup-nutupi

Khashoggi, yang menulis untuk Washington Post, terakhir terlihat memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Setelah menyangkal mengetahui tentang keberadaan Khashoggi selama lebih dari dua pekan, Arab Saudi pada hari Sabtu akhirnya mengatakan dia terbunuh dalam perkelahian di dalam fasilitas diplomatic itu.

Namun jasad Khashoggi belum ditemukan hingga kini, dan Riyadh belum menjelaskan narasinya tentang apa yang terjadi.

Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, mengatakan tidak lama setelah pengumuman Arab Saudi bahwa pemimpin PBB “sangat terganggu oleh konfirmasi kematian Jamal Khashoggi.”

Guterres “menekankan perlunya investigasi yang cepat, menyeluruh dan transparan tentang keadaan kematian Mr. Khashoggi dan pertanggungjawaban penuh bagi mereka yang bertanggung jawab,” kata Guterres.

Baca juga: Erdogan: Pembunuh Jamal Khashoggi Rencana Para Pejabat Kerajaan Saudi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan Selasa pagi meletakkan temuan awal negaranya dalam penyelidikannya, mengatakan pembunuhan Khashoggi adalah “direncanakan.”

Erdogan mengatakan semua informasi dan bukti yang telah ditemukan menunjukkan Khashoggi adalah korban dari pembunuhan brutal.

Tim Saudi mengeksplorasi Hutan Belgrad Istanbul dan provinsi barat laut Yalova sebelum membunuh Khashoggi, kata Erdogan.

Trump: Penanganan Kasus Khashoggi oleh Saudi Terburuk dalam Sejarah Menutup-nutupi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengkritik penanganan Arab Saudi atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, mengatakan pihak berwenang telah menutup-nutupi terburuk dari yang pernah ada”.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan di Gedung Putih bagaimana pembunuhan Khashoggi bisa terjadi, Trump mengatakan pada hari Selasa (23/10/2018): “Mereka memiliki konsep asli yang sangat jahat. Itu dilakukan dengan buruk, dan yang dilakukan kali ini adalah salah satu yang terburuk dalam sejarah menutup-nutupi.”

Kematian Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober telah menyebabkan kemarahan global.

Khashoggi, seorang kritikus bagi Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman, adalah seorang warga dan kolumnis AS untuk The Washington Post.

Baca juga: Wapres AS: Kami akan Ambil Tindakan atas Pembunuhan Brutal Khashoggi

Komentar Trump tentang insiden itu dalam beberapa hari ini berkisar dari mengancam Arab Saudi dengan konsekuensi “sangat parah” dan menyebutkan kemungkinan sanksi ekonomi, namun Trump juga mengeluarkan pernyataan lebih damai yang menyoroti peran Arab Saudi sebagai sekutu AS dalam menghadapi Iran, serta sebagai pembeli besar senjata AS.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa Washington telah mengidentifikasi beberapa individu yang bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi dan sedang merencanakan hukuman.

“Kami mengambil tindakan yang tepat,” kata Pompeo pada hari Selasa, mengatakan hukuman tersebut termasuk pencabutan visa dan menerapkan sanksi individu di bawah hukum hak asasi manusia. Dia mencatat beberapa hukuman untuk kementerian dan istana.

Baca juga: Arab Tunda Sebulan Penyelidikan Kasus Khashoggi, Trump: Tidak Ada Alasan untuk Itu

“Hukuman ini tidak akan menjadi kata terakhir tentang masalah ini,” katanya.

Riyadh awalnya membantah mengetahui tentang nasib Khashoggi namun kemudian mengatakan dia terbunuh dalam perkelahian di konsulat. Reaksi Riyadh tersebut disambut dengan skeptisisme dari pemerintah dan komentator di seluruh dunia.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membantah pernyataan Riyadh, dengan mengatakan pembunuhan Khashoggi adalah “pembunuhan politik” yang direncanakan oleh para pejabat kerajaan Saudi beberapa hari sebelumnya.

Dia berjanji untuk mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan tentang kematian Khashoggi, dan berharap tidak menuduh raja Saudi terlibat pembunuhan “kejam” itu.

Menanggapi komentar Erdogan, Trump mengatakan pemimpin Turki itu “sangat tegas” terhadap Saudi dan bahwa dia ingin mendapatkan semua fakta tentang pembunuhan Khashoggi sebelum menyetujui penilaian Turki itu.

Trump, yang mengirim direktur CIA-nya ke Turki untuk membahas masalah itu, mengatakan dia berharap akan segera mendapat laporan.

Dia menambahkan bahwa dia akan meyerahkan Kongres AS untuk menanggapi Arab Saudi.

“Mengenai apa yang akhirnya kami lakukan, saya akan meninggalkannya – dalam hubungannya dengan saya – saya akan menyerahkannya kepada Kongres,” kata Trump.

Wapres AS: Kami akan Ambil Tindakan atas Pembunuhan Brutal Khashoggi

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden AS Mike Pence pada hari Selasa (23/10/2018) berjanji bahwa Washington akan mengambil tindakan sebagai tanggapan atas “pembunuhan brutal” kolumnis Jamal Khashoggi.

Pence menyebut hilangnya dan tewasnya Khashoggi sebagai “serangan terhadap pers yang bebas dan independen” dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Washington Post, surat kabar tempat Khashoggi menjadi kolumnis.

“Administrasi kami bertekad untuk menggunakan semua sarana yang kami miliki untuk memperoleh kejelasan itu,” kata Pence.

Setelah menyangkal mengetahui keberadaan Khashoggi selama lebih dari dua pekan, Arab Saudi pada hari Sabtu akhirnya mengatakan dia terbunuh dalam sebuah pertengkaran di dalam konsulat istanbul.

Baca juga: Erdogan: Pembunuh Jamal Khashoggi Rencana Para Pejabat Kerajaan Saudi

Jasadnya belum ditemulan, dan Riyadh juga tidak menjelaskan narasinya tentang apa yang terjadi.

Pence menegaskan bahwa Direktur CIA Gina Haspel sekarang berada di Turki untuk meninjau kembali bukti dalam kasus Khashoggi.

“Kami akan mengikuti fakta. Kami akan menuntut mereka yang bertanggung jawab untuk bertanggung jawab,” katanya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa pagi meletakkan temuan awal negaranya dalam penyelidikan, mengatakan pembunuhan Khashoggi adalah “direncanakan.”

Erdogan mengatakan semua informasi dan bukti yang telah terungkap menunjukkan Khashoggi adalah korban dari pembunuhan brutal (mutilasi).

Tim Saudi mengeksplorasi Hutan Belgrad Istanbul dan provinsi barat laut Yalova sebelum membunuh Khashoggi, kata Erdogan.

Menanggapi pengumuman Erdogan, Pence mengatakan penilaian Turki “bertentangan dengan pernyataan rezim Saudi yang telah dibuat sebelumnya, dan lagi itu menggarisbawahi tekad pemerintah kita untuk mencari tahu apa yang terjadi di sini.

Baca juga: Begini Narasi Saudi atas Terbunuhnya Khashoggi dari Hari ke Hari

“Dunia sedang menyaksikan. Orang-orang Amerika menginginkan jawaban, dan kami akan meminta jawaban itu segera,” katanya. “Ketika kami menuntut mereka yang bertanggung jawab atas tindakan biadab ini, kami juga akan melakukannya dalam kejelasan, dan dalam konteks kepentingan nasional vital Amerika di kawasan ini.”

Ketika ditanya apakah ia telah melihat intelijen mana pun yang menghubungkan Pangeran Mahkota Saudi, Mohammad bin Salman, dengan penghilangan Khashoggi, Pence mengatakan ia tidak “ingin berbicara tentang intelijen apa pun yang pernah saya lihat.”

“Ketika direktur CIA kembali, dia akan memberi pengarahan kepada presiden, saya dan seluruh tim kami tentang apa yang telah diperoleh di Turki,” katanya. “Saya ingin meyakinkan rakyat Amerika, kita akan sampai ke dasar itu. Pembunuhan brutal terhadap seorang jurnalis, seorang lelaki tak bersalah, seorang kritikus, tidak akan berjalan tanpa respons Amerika, dan tanpa tanggapan internasional. “

Erdogan: Pembunuh Jamal Khashoggi Rencana Para Pejabat Kerajaan Saudi

Istanbul (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi di konsulat kerajaan di Istanbul direncanakan oleh para pejabat kerajaan Saudi beberapa hari sebelumnya.

Di depan para anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) pada hari Selasa (23/10/2018), Erdogan menjelaskan penghilangan dan pembunuhan Khashoggi, tetapi berhenti saat menuduh kerajaan Saudi atas pembunuhan “brutal” (memutilasi) yang telah menyebabkan kemarahan global.

“Pada tanggal 28 September, Khashoggi tiba di konsulat Arab Saudi untuk menyelesaikan dokumen pernikahannya,” kata Erdogan dalam pidato di parlemen Turki di ibukota, Ankara.

“Sepertinya pada waktu itu mereka [para pejabat Arab Saudi] mulai merencanakan peta jalan (roadmap) untuk pembunuhannya.”

Dia menambahkan bahwa beberapa pejabat Saudi meninggalkan Turki dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi, “menunjukkan mereka merencanakan pembunuhan itu”.

Khashoggi, 59 tahun, seorang kolumnis Washington Post dan kritikus bagi Pangeran Mahkota Saudi yang kuat, Mohammed bin Salman, hilang setelah memasuki konsulat Saudi pada 2 Oktober.

Baca juga: Jubir Erdogan: Pembunuhan Khashoggi adalah Masalah Besar

Sebelum pidato hari Selasa, Erdogan tetap diam menanggapi kasus tersebut, meskipun pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya telah membocorkan informasi tentang pembunuhan itu, termasuk informasi tentang “tim pembunuh” Saudi yang beranggotakan 15 orang yang terbang ke Istanbul dengan dua pesawat sewaan.

Setelah tekanan global yang kuat, Arab Saudi pekan lalu mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di dalam konsulat Istanbul pada 2 Oktober sebagai akibat dari “baku hantam” selama interogasi.

Otoritas Saudi menangkap 18 orang sehubungan dengan pembunuhan itu dan memecat pejabat keamanan yang dianggap dekat dengan bin Salman.

Erdogan menyebut pembunuhan itu sebagai “pembunuhan politik”, menambahkan bahwa penyelidik internasional harus diikutsertakan dalam penyelidikan.

Pemimpin Turki itu melanjutkan untuk menyebut pembunuhan “biadab”, menambahkan bahwa Ankara akan melanjutkan penyelidikannya sampai semua pertanyaan telah dijawab.

“Mengapa mereka [tim Saudi] datang ke Istanbul, atas instruksi oleh siapa?” Erdogan bertanya, menambahkan bahwa Arab Saudi harus menjelaskan mengapa mereka tidak membiarkan para penyelidik masuk ke konsulat sampai beberapa hari kemudian.

Galip Dalay, sarjana tamu di Universitas Oxford, menekankan pentingnya pidato Erdogan.

“Yang paling penting adalah Erdogan mengkonfirmasi semua yang kami dengar melalui saluran lain,” katanya kepada Al Jazeera. “Sekarang tidak lagi dikaitkan dengan pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya, tapi presiden Turki sendiri yang telah mengkonfirmasi apa yang telah terjadi,” kata Dalay.

Baca juga: Begini Narasi Saudi atas Terbunuhnya Khashoggi dari Hari ke Hari

Erdogan juga menuntut jawaban atas apa yang terjadi pada jasad Khashoggi, menyebutkan laporan bahwa seorang kooperator lokal diduga membuangnya.

“Di mana mayatnya? Ada klaim bahwa tubuhnya telah diberikan kepada orang lokal, tapi siapa orang lokal ini?” Erdogan bertanya.

“Tidak ada yang diizinkan untuk berpikir bahwa kasus ini akan berakhir tanpa menjawab semua pertanyaan ini,” tambahnya.

Presiden Turki juga mengatakan Arab Saudi mengambil langkah yang tepat dengan bekerja sama dengan Ankara dalam penyelidikan dan melakukan 18 penangkapan.

Dalay, yang juga seorang rekan non-residen di Brookings Institution Doha, menggarisbawahi “perbedaan” Erdogan dalam pidatonya antara Raja Salman dan putranya, bin Salman.

“Semua yang dinyatakan Erdogan menunjuk ke arah MBS, tanpa menyebut putra mahkota itu secara khusus,” kata Dalay, menambahkan bahwa presiden Turki jelas berusaha mencegah krisis besar antara Ankara dan Riyadh.

Pada hari Ahad, berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Fox News, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan pembunuhan Khashoggi di dalam konsulat adalah “tragedi yang mengerikan” dan bahwa MBS tidak ada hubungannya dengan itu.

Taha Ozhan, direktur penelitian di Institut Ankara, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa menurutnya Erdogan mengambil langkah yang tepat.

“Saudi sadar betul apa yang diketahui Turki, dan apa yang telah dilakukan Erdogan adalah hal yang benar, yaitu meminta Saudi untuk bekerja sama penuh dalam kasus ini.”