Berita Terkini

FPI Dorong Investigasi Menyeluruh Dugaan Hilangnya 57 Orang di Ricuh 22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Tim Investigasi FPI, Ali Alatas mengatakan akan mendorong Komnas HAM untuk melakukan investigasi korban hilang yang mencapai 57 orang.

“Kita dorong betul Komnas HAM melakukan investigasi menyeluruh. Autopsi, uji balistik dll,” katanya saat konferensi pers di kawasan Tebet, Jumat (24/05/2019).

Front Pembela Islam menerima laporan hilangnya 57 orang dalam kerusuhan usai demonstrasi di Bawaslu pada 21-22 Mei.

Ali Alatas mengatakan laporan itu berasal dari para warga yang mendatangi kantor FPI maupun menyampaikannya melalui aplikasi Whataspp.

Ali mengaku tidak dapat memastikan nasib 57 orang tersebut apakah masih hidup atau meninggal dunia

“Kita masih mencari tahu kondisi mereka,” terang Ali.

Ali menerangkan pihaknya akan melakukan investigasi mengenai 57 orang yang hilang tersebut.

Pemerintah Dinilai Tebar Ancaman Terhadap Rakyat

SOLO (Jurnalislam.com)- Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono mengkritisi pernyataan sikap Presiden Jokowi dan Menkopolhukam Wiranto paska kerusuhan yang terjadi di aksi tolak kecurangan pemilu 2019 atau aksi 22 Mei di depan Bawaslu RI.

“Presiden Jokowi tidak menunjukkan karakter negarawan pemimpin yg melindungi dan peduli terhadap rakyatnya bahkan melalui menteri Polhukam terkesan mengumbar ancaman terhadap rakyat,” katanya kepada wartawan di Gedung DSKS, Solo, rabu, (22/5/2019).

Endro juga meminta Kapolri Tito Karnavian untuk melakukan investigasi atas adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan anggotanya saat bertugas di aksi 22 Mei.

Dalam aksi 22 Mei yang berakhir ricuh tersebut, tercatat 8 orang meninggal dunia yang sebagian terkena tembakan dan diduga dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Meminta Kapolri dan Kapolda Metro Jaya untuk menginvestigasi internal atas tragedi berdarah peristiwa tersebut dan mempertimbangkan pendekatan persuasif dan mengedepankan HAM,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Endro menghimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak mudah terpovokasi dan terpancing oleh isu isu yang belum jelas kebenarannya.

“Meminta kepada semua pihak untuk tetap menghormati hak hak warga dan aturan yang ada agar tercipta situasi yang kondusif, aman dan nyaman,” tandasnya.

Sebelumnya, paska kerusuhan yang terjadi di aksi 22 Mei, pemerintah melalui Menkopolhukam dan jajarannya melakukan konferensi pers di kantor Menkopolhukam Jakarta Pusat, rabu, (22/5/2019).

Dalam konpres tersebut, Wiranto menyebut telah mengetahui dalang dibalik kerusuhan yang terjadi di aksi 22 Mei, ia juga mengatakan akan menindak tegas bagi pelanggar dan dalang di aksi tersebut.

Komnas HAM Didesak Bentuk TPF Kericuhan 22 Mei

SOLO (Jurnalislam.com) – Humas Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Endro Sudarsono meminta Komnas HAM untuk membentuk Tim Pencari Fakta (TPF).

Hal tersebut guna mengusut adanya dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat kepolisian di aksi menolak kecurangan pemilu 2019 depan kantor Bawaslu RI yang berakhir ricuh.

Setidaknya, 8 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya dirawat di rumah sakit akibat menjadi korban dalam kerusuhan yang dimulai sekitar pukul 22.00 wib tersebut.

“Meminta Komnas HAM untuk segera membentuk Tim Pencari Fakta guna menginvestigasi dugaan pelanggaran HAM yang terjadi dalam tragedi berdarah Rabu dinihari, 22 Mei 2019,” katanya kepada wartawan di Gedung DSKS, Solo, Rabu (22/5/2019) sore.

Lebih lanjut Endro menyebut aksi penyampaian pendapat yang dilakukan masyarakat di depan kantor Bawaslu adalah dilindungi oleh undang-undang.

Sebab, kata Endro, aksi tersebut dilakukan masyarakat guna mencari keadilan atas adanya dugaan kecurangan yang diduga terstruktur, sistematif dan masif yang menguntungkan pihak petahana.

“DSKS bersama umat Islam tetap mensupport Aksi Damai Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) dan berjuang bersama rakyat memulihkan kedaulatan rakyat dan integritas bangsa Indonesia,” ujarnya.

“Membangun pemerintahan yang adil dan bersih menuju Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur,” tandasnya.

FPI Dorong Investigasi Menyeluruh Dugaan Hilangnya 57 Orang di Ricuh 22 Mei

Umat Islam di Persimpangan Kerusuhan 21-22 Mei 2019

Ini Kronologi Penyerangan Diduga Oknum Polisi kepada Petugas Medis Dompe Dhuafa

FPI Terima Laporan 57 Warga Hilang dalam Kerusuhan 21-22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Front Pembela Islam menerima laporan hilangnya 57 orang dalam kerusuhan usai demonstrasi di Bawaslu pada 21-22 Mei.

Ketua Tim Incestigasi FPI Ali Alatas mengatakan laporan itu berasal dari para warga yang mendatangi kantor FPI maupun menyampaikannya melalui aplikasi Whataspp.

Ali mengaku tidak dapat memastikan nasib 57 orang tersebut apakah masih hidup atau meninggal dunia

“Kita masih mencari tahu kondisi mereka,” terang Ali dalam konferensi persnya kepada media pada Jum’at (24/5) di Jakarta.

Ali menerangkan pihaknya akan melakukan investigasi mengenai 57 orang yang hilang tersebut.

Menurut dia, saat malam kejadian ratusan warga banyak yang berkumpul di Petamburan untuk menjaga kediaman Habib Rizieq Shihab.

“Mereka ini para warga yang simpatik dengan Habib Rizieq,” terang Ali.

Duka cita

FPI juga menyampaikan belasungkawa dan duka cita mendalam atas wafatnya warga masyarakat yang menjadi korban kekerasan aparat Negara.

Ketua DPP FPI Ustadz Awit Mashuri organisasinya mendo’akan semoga para korban dan warga masyarakat tersebut syahid di jalan Allah.

“Hingga saat ini, korban yang tewas menurut catatan berbagal rumah sakit di Jakarta dan keterangan resmi dari Gubernur DKI Jakarta adalah berjumlah 8 delapan orang,” kata Ustadz Awit.

Ustadz Awit mengatakan tidak menutup kemungkinan korban jiwa Ini akan terus bertambah mengingat ratusan Iagl korban yang Iuka-Iuka berat maupun ringan.

“Kami sampaikan kepada keluarga korban agar tetap tabah dan tegar menghadapi musibah ini,” ujar Ustadz Awit.

Reporter: Abdullah | INA News Agency

170 Selongsong Peluru Tajam Ditemukan di Petamburan

Terkait Tindakan Represif Polisi, Anies: Enam Korban Meninggal Dunia

Saksi Mata: Polisi Serang Warga Sipil di Tanah Abang

 

Umat Islam di Persimpangan Kerusuhan 21-22 Mei 2019

Oleh: Fajar Shadiq
Ketua Divisi Wacana Publik Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Tak lama setelah saya dapat informasi bahwa tanggal 23 Mei 2019 sudah tak ada aksi, saya menemui salah seorang perwira tinggi TNI. Kesimpulan dia terhadap aksi dua hari belakangan ini terpaksa membuat saya setuju, meski tak begitu heran. “Negara ini sudah bukan lagi rezim otoriter, tapi totalitarian,” kata dia.

Bagaimana tidak? Perintah Menkopolkam Wiranto agar aparat tak membawa senjata api banyak diabaikan para petugas di lapangan. Pendekatan kekerasan yang digunakan polisi dalam menekan para demonstran juga banyak menuai kritikan. Poin inilah yang menyebabkan pecahnya kerusuhan pada demonstrasi 21-22 Mei 2019.

Sejak aksi damai 21 Mei 2019, sejumlah wartawan media Islam turun ke lapangan. Meliput di garis depan. Mereka ini para saksi sejarah. Pada Selasa 21 Mei, hari pertama aksi damai digelar di depan Bawaslu. Aksi ini dikomandoi oleh elemen GNPF dan aktivis Islam. Korlap aksinya Munarman bersama Ustadz Bernard Abdul Jabbar.

Sejak sore, massa yang datang begitu beragam. Ada anggota ormas, pelajar, emak-emak hingga simpatisan Prabowo. Para simpatisan Prabowo ini datang dari berbagai daerah. Di antara mereka banyak yang datang dari beragam latar belakang, tapi hari itu semua patuh pada mobil komando.

Ketika sore, aksi hendak dimulai, Munarman sudah teriak-teriak lewat pengeras suara. “Cepat bikin shaf. Ketauan nih kalau orang biasa sholat, tau gimana bikin shaf. Kalau ga becus bikin shaf, berarti provokator,” teriak Maman. Massa pun menurut. Membuat barisan, berzikir, lalu mendengarkan orasi, hingga waktu berbuka tiba.

Aksi di hari pertama berjalan cukup tertib. Momen paling keren terjadi ketika emak-emak menmberikan bunga kepada aparat yang berjaga. Hingga akhirnya pukul 21.00 Munarman, turun sendiri ke lapangan membubarkan massa. Peserta aksi yang bertahan di Jalan Thamrin disisir satu-satu dan disuruh pulang.

Mereka yang masih ngotot dibentak dan diteriaki Munarman. Kebanyakan nurut dan ikut pulang. Munarman pun menyalami anggota dan para komandan polisi. “Terima kasih para ustadz, para habaib, Pak Munarman, Ustadz Bernard. Kami mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya,” teriak polisi yang menggunakan mobil pelantang suara.

KPU Diminta Evaluasi Tahapan Pemilu 2019

SOLO (Jurnalislam.com) – Aliansi Masyarakat Madani (AMM) dan tokoh masyarakat Soloraya mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menghentikan tahapan pemilu 2019.

Termasuk menahan keputusannya yang telah memenangakan Jokowi-Ma’ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019.

Menurut AMM, munculnya gerakan masyarakat yang melakukan aksi di depan Bawaslu dan berakhir ricuh tersebut akibat adanya kecurangan dalam pemilu 2019 saat ini.

“Menuntut KPU untuk menghentikan tahapan-tahapan Pemilu 2019 yang merupakan pemantik lahirnya aksi Gerakan Kedaulatan Rakyat yang menuntut pelaksanaan Pemilu 2019 yang Jurdil, Transparan dan Akuntabel,” kata ketua AMM Dr Muhammad Da’i kepada wartawan di Hotel Sahid Jaya, Solo (22/5/2019) sore.

“Bahwa tahapan ini tidak bisa diteruskan sampai kemudian tuntutan bahwa pemilu ini jurdil, transparan dan akutabel ini bisa dibuktikan dan bisa dipertanggungjawabkan silahkan tahapan ini dilanjutkan kembali,” imbuhnya.

Namun, kata Muhammad, apabila dalam perjalanannya ditemukan aspek aspek ketidajujuran, ketidakadilan dan tidak transparan, maka pemilu 2019 tidak sah.

“Tentu kita melihat hasil pemilu tahun 2019 ya tidak kredibel lagi, tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Muhammad mendesak Bawaslu untuk serius dalam menangani laporan yang dilakukan masyarakat terkait adanya dugaan kecurangan dalam pemilu 2019.

“Mendesak Bawaslu untuk menindaklanjuti secara serius dan bersungguh-sungguh terhadap laporan-laporan kecurangan yang disampaikan berbagai pihak dalam proses pelaksanaan Pemilu 2019,” tandasnya.

AMM dan Tokoh Solo Kecam Tindakan Represif Kepolisian

Polisi Bubarkan Massa Aksi yang Masih Bertahan di Depan Kantor Bawaslu

Massa Aksi 215 Masih bertahan, Minta Kawan Mereka Dibebaskan

Anies Baswedan Buka Hijrahfest 2019

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan membuka perhelatan Hijrahfest 2019 di Jakarta Convention Center, Senayan Jakarta, Jumat (24/5/2019).

Dalam sambutannya, Anies mengatakan hijrahfest bukan saja festival yang sifatnya materialistis tetapi adalah penumbuhan aspek spiritual.

“Saya mengapresiasi acara ini, karena bagaimana di abad 21 menghadirkan pesan-pesan Islam di dalam nuansa kekinian,” katanya.

Anies menilai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat seperti nada dan syair. Islam itu nada dan syairnya indah, tapi suaranya tak selalu merdu. Banyak kita temukan nada dan syair kurang baik tapi penyanyinya merdu jadi terkesan baik.

“Kalau Hijrahfest nada dan syair baik dan penyanyinya merdu,” ujarnya.

Selain itu, dia berharap perhelatan ini bisa menjadi pendorong rasa damai di ibu kota. Karena beberapa hari lalu Jakarta sempat tegang.

“Titik ketegangan cuma berada 200 meter Thamrin, lalu di Slipi, Tanah Abang dan Petamburan. Namun itu semua seakan membuat Jakarta tegang. Tapi acara ini jadi pendorong rasa damai di Ibu Kota,” pungkasnya.

Mengenang Kembali Pesan Cinta Ustaz Arifin untuk Para Peserta Aksi 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Waktu itu almarhum Ustaz Arifin Ilham, Pemimpin Majelis Ta’lim Az Zikra, mengimbau agar umat Islam menghadiri aksi super damai yang akan digelar di Monas, Jakarta pada Jumat (2/12/2016).

Berikut imbauan lengkap Ustaz Arifin Ilham untuk peserta Aksi 212 dari laman Facebooknya.

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah walhamdulillah Aksi Super Damai di Monas.

Damai para peserta aksinya, pakaian putih, berwudhu, membawa sajadah.

Damai tempatnya di Monas, nyaman untuk menyimak.

Damai waktunya dari 07.30 – shalat Jumat.

Damai suasananya, sejuk, bersih, santun dan beradab.

Damai tawshiyahnya, yang membuat cinta pada Kalam-Nya, bukan orasi yg cenderung kasar dan menghujat.

Damai juru dakwahnya, dengn bahasa penuh hikmah menyentuh dan menyadarkan tetapi juga membangkitkan selera taat.

Damai susunan acara, dimulai tawshiyah, zikir, doa dan shalat Jumat.

Damai dengan aparat di lapangan bahkan bersama TNI POLRI untuk menjaga dari provokasi.

Damai ending-nya, pulang dengan tertib, aman dan selamat.

Damai hasilnya menjadi buah bibir, “betapa indahnya ajaran Islam itu”, “betapa mulianya akhlak umat Islam itu”, “jutaan umat turun aksi bisa damai, hebat!”.

Ayooo sahabatku, keluargaku, mari kita hadiri, banjiri Aksi Super Damai ini dengan niat semata mata lilaahi demi membela Alquran-Nya dan keutuhan NKRI tercinta.

“Ingat sahabatku! Hari ini kita bela Alquran, nanti di alam kubur Alquran menjadi penerang kita. Hari ini kita bela Alquran, kelak di akhirat Alquran pembela kita”.

Allahumma ya Allah, berkahi harakah dakwah kami, selamat kaum Muslimin Muslimat, terutama saudara-saudara kami yg tertindas, dan berkahilah negeri kami tercinta Indonesia…aamiin.

Sebelumnya, Ustaz Arifin Ilham meninggal dunia pada Rabu (22/5). Kabar meninggalnya Ustaz Arifin disampaikan putranya, Alvin lewat akun Instagramnya @alvin_411 dan melalui pesan singkat KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Pimpinan Ponpes Az-zikra itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit GlenEagle Penang, Malaysia.

Begini Pesan Ustaz Arifin Ilham yang Selalu Diingat Jamaah

BOGOR (Jurnalislam.com) – Gilman Heryanto (63), pria yang rajin menghadiri pengajian Ustaz Arifin Ilham di Masjid Az-Zikra di Sentul Bogor. Selama menghadiri pengajian itu, ada satu pesan yang selalu ia ingat.

Ustaz Arifin Ilham menyampaikan kepada para jamaah dalam ceramahnya agar selalu berzikir meski berada dalam situasi sulit sekalipun.

“Jauhi larangan Allah SWT. Jangan lupa berzikir dalam menghadapi situasi apapun itu. Ketika hati tenang melalui zikir, maka Allah akan dekat dengan kita,” kata pria paruh baya ini, di Masjid Az-Zikra Gunung Sindur, Bogor, Kamis (23/5/2019) dilansir Republika.co.id

Bagi Gilman, Ustaz Arifin Ilham adalah sosok guru dan teladan. Kehidupannya pun terbilang sederhana dan semasa hidupnya sudah me-mualaf-kan banyak orang di Masjid Az-Zikra.

“Sehingga saya merasa haru, terdorong untuk mengajak orang-orang ke jalan lurus. Saya haru dengan kepergian beliau. Sejak beliau dioperasi di Penang (Malaysia) saya selalu memantau, bahkan sampai sekarang. Bahkan kalau bisa, saya ingin ikut memanggul (jenazahnya),” ujar pensiunan karyawan swasta ini.

Gilman dalam sebulan selalu menghadiri ceramah Ustaz Arifin Ilham, meski usianya tak lagi muda. Menurut dia, ada kenyamanan tersendiri saat mendengar ceramah Ustaz Arifin Ilham.

Selain itu, sejumlah warga sekitar turut berdatangan ke Pondok Pesantren Az-Zikra di Gunung Sindur, Bogor. Mereka bermaksud menyolati sekaligus mengiringi pemakaman Ustaz Arifin Ilham di area ponpes.

Salah seorang pemuda setempat, Muhamad Rizki Afandi mengatakan kehadiran Ponpes Az-Zikra yang didirikan Arifin Ilham di kampungnya, Cibadung, membawa perubahan yang luar biasa bagi masyarakat.

Dia dan kawan-kawan menjadi mudah memelajari ilmu agama sejak adanya ponpes.

“Kalau malam-malam bingung mau ngapain, kita akhirnya datang aja ke ponpes. Jadi membuat kita belajar agama, yang dari enggak tahu menjadi menjadi tahu. Kita juga jadi bisa ngaji bareng, enak ada gurunya juga,” katanya.

Sebelumnya, Ustaz Arifin Ilham meninggal dunia pada Rabu (22/5). Kabar meninggalnya Ustaz Arifin disampaikan putranya, Alvin lewat akun Instagramnya @alvin_411 dan melalui pesan singkat KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Pimpinan Ponpes Az-zikra itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit GlenEagle Penang, Malaysia.

Ustaz Arifin Ilham sempat dilarikan ke ICU sejak kemarin. Arifin menjalani perawatan akibat penyakit kanker nasofaring dan getah benting stadium 4A. Kanker jenis nasofaring ini menyerang bagian rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.

Sumber Republika.co.id

Ini Kronologi Penyerangan Diduga Oknum Polisi kepada Petugas Medis Dompe Dhuafa

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Lembaga Zakat Dompet Dhuafa diduga menjadi korban penyerangan aparat kepolisian yang melakukan tindakan represif.

Berdasarkan rilis Dompet Dhuafa yang diterima Jurnalislam.com, tim medis dan kendaraan mereka diserang oleh diduga aparat pengaman aksi, Kamis malam (22/5/2019).

Berikut kronologi penyerangan terhadap tim medis Dompet Dhuafa berdasarkan pengakuan korban:

                Pukul 23.50

Tim mendapat instruksi untuk bergerak dari posisi sebelumnya di persimpangan Jalan Sabang. Tim pertama di kendaraan Isuzu Panther terdiri dari 1 orang perawat, 2 tim dokumentasi, dan 1 orang driver.

Tim kedua dengan kendaraan taktis Toyota Hilux terdiri dari  2 orang perawat dan beberapa orang tim pendukung.

–              00.16 WIB

Dalam waktu yang sangat singkat, pasukan pemukul massa yang terdiri atas satuan brimob dan polisi berpakaian preman datang mengusir massa yang berada di sekitaran Sarinah.

Kepolisian datang meringsek dan mendekati kendaraan Dompet Dhuafa. Tim yang ada di dalam kendaraan Dompet Dhuafa diminta turun.

Tim satu yang ada di dalam kendaraan Panther tidak mau turun, dan beberapa aparat seketika memukul kendaraan Isuzu Panther dengan tameng dan tongkat pemukul.

Kaca bagian depan belakang, dan sebelah kanan hancur. Tak berselang lama kendaraan berhasil keluar dari kerumunan dan pergi meninggalkan lokasi.

Tim kedua yang berada di kendaraan Toyota Hilux mengikuti perintah untuk turun dan mereka diminta jongkok di depan kendaraan oleh seorang aparat.

Satu anggota tim lainnya, terjatuh dari kendaraan dan langsung dipukul dan diinjak oleh anggota kepolisian.

Anggota kepolisian yang lain membentak-bentak. Padahal tim sudah menyampaikan bahwa kami adalah TIM MEDIS, “kami medis, kami medis.”. Seketika anggota kepolisian semakin banyak dan mennyuruh kami untuk pergi.

Ketika kami akan pergi itulah anggota kepolisian memukul, baik dengan rotan maupun tameng, juga menendang.

Akibatnya, 2 orang tim mengalami luka cukup serius di bagian kepala dan dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Darat.

Karena disaat yang sama, mobil kami yang sudah mulai bergerak dihentikan oleh salah seorang dari brimob, kami sampaikan bahwa kami tim medis, namun dia tetap memukul kaca mobil bagian depan berulang kali dan menyuruh untuk maju.

Seketika saja, ada anggota lain yang memukul kaca depan berulang kali hingga pecah. Dan satu orang anggota polisi juga mengeluarkan senjata api sejenis FN yang ditodongkan ke arah kami.

Kemudian, kami diminta untuk membuka kaca dan saat itu kunci langsung dimatikan kemudian dicabut dan dilempar ke dashboard. Di saat bersamaan, anggota lainnya memukul spion kanan dan kaca samping hingga pecah berantakan.

Pukul 1.00

Semua tim berhasi keluar dari lokasi, dan 2 orang yang mengalami luka-luka dibawa ke RSPAD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.  Alhamdulillah, kedua orang tim kami yang dirawat di RSPAD telah diperbolehkan pulang.