Ajak Milenial Kenal Islam, Komunitas Hijrah Switch_on Gelar Sharing Time di Cilegon

CILEGON (Jurnalislam.com) – Komunitas Sahabat Hijrah Kota Cilegon atau Switch_on menggelar acara sharing time di Masjid Al Muhajirin, Grogol, Cilegon, Sabtu (16/3/2019).

Ustaz Mahrurozi atau yang dikenal dengan brother Oji yang didaulat menjadi pemateri mengatakan, pemuda muslim harus didorong untuk memberikan kontribusi dan berperan dalam Islam.

“Contohlah para generasi Salaf karena mereka adalah generasi terbaik,” ungkapnya.

Sharing time atau sebutan untuk mengajak generasi muda peduli terhadap agamanya ini diminati banyak peserta. Acara dengan tema Pemuda di Persimpangan Jalan dihadiri oleh kaula muda dari daerah Cilegon dan sekitarnya.

“Saya baru ikut dua kali acara yang diadakan oleh Switch_on, acaranya bagus mengajak generasi muda kepada kebaikan dan lebih peduli sama agamanya,” kata salah seorang peserta, Rijal kepada jurniscom di lokasi.

Divisi Humas dan media Switch_on, Mera Rona menyebut komunitas hijrah ini bergerak untuk mengajak kaum muda atau milenial untuk lebih mengenal Islam.

“Harapan kami dengan adanya komunitas ini dapat mengurangi generasi muda untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat,” ujarnya.

“Bagi teman-teman yang mau ikut bergabung silakan follow kami di instagram @son.sahabathijrah, selain kajian rutin kami juga menggelar kegiatan lainnya seperti sedekah nasi bungkus, Mabit, dan kegiatan positif lainnya,” lanjutnya mengajak.

Diketahui, komunitas ini kerap mengadakan kajian disejumlah tempat dengan mengambil segmen peserta remaja dan pemuda.

Tanggapi Aksi Teror New Zealand, ISAC Desak Jokowi Gelar Aksi Solidaritas

SOLO (Jurnalislam.com) – Sekjen The Islamic Study and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono ikut mengutuk aksi teror yang menewaskan puluhan orang di Selandia Baru (New Zealand), Jumat (15/3/2019).

“Sebenarnya ini adalah tindakan teroris yang sesungguhnya,” katanya kepada jurniscom di Laweyan, Solo, Jumat, (15/3/2019).

Oleh sebab itu, Endro mendesak presiden Jokowi untuk melakukan aksi solidaritas. Ia juga meminta pemerintahan Selandia Baru untuk melakukan upaya pencegahan atas aksi-aksi serupa.

“Kita meminta kepada presiden Jokowi baik lewat duta besar atau pun atas nama kepala negara yang berdaulat melakukan sebuah solidaritas terhadap warga muslim di dunia,” ujarnya.

“Termasuk forum-forum internasional untuk melakukan upaya diplomasi, upaya-upaya diplomatik untuk bersikap agar pemerintah setempat melakukan tindakan,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, sedikitnya 40 orang tewas dan 20 lainnya terluka di dalam serangan teror di dua masjid di Selandia Baru, Jumat (15/3/2019).

“Aksi Terorisme di New Zealand Tak Dapat Hentikan Semangat Beribadah Umat Islam”

SELANDIA BARU (Jurnalislam.com) – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengatakan, aksi terorisme yang merenggut sejumlah korban di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru (New Zealand), Jumat (15/3/2019) tidak akan menghentikan semangat umat Islam untuk mendatangi masjid.

“Dan animo orang lain untuk memeluk agama Islam,” katanya dalam rilis yang diterima redaksi Jurniscom, Jumat (15/3/2019).

Maka dari itu, MIUMI mengimbau, umat Islam seluruh dunia untuk tetap melaksanakan sholat berjamaah di masjid-masjid tanpa ada rasa takut sedikit pun.

“Dengan tetap waspada menjaga diri dan lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, peristiwa ini, kata dia, memberikan pesan kepada dunia bahwa keberadaan umat Islam yang berjumlah mayoritas selalu menjadi pengayom dan mengedepankan toleransi.

“Tetapi sebaliknya jika posisinya minoritas selalu menjadi sasaran kezaliman,” tegas MIUMI.

Lebih dari itu, MIUMI juga mengimbau kepada umat Islam dunia untuk tidak melakukan tindakan balasan kepada umat lain yang tidak terlibat, dan menyerahkan urusan ini kepada otoritas atau pihak yang berwenang.

Diketahui, setidaknya 3 WNI selamat, dan 2 warga Malaysia terluka dalam serangan teror di Selandia Baru.

MIUMI: Aksi Biadab di New Zealand Rusak Perdamaian Dunia!

SELANDIA BARU (Jurnalislam.com) – Aksi terorisme yang merenggut sejumlah korban di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru (New Zealand), Jumat (15/3/2019) dikutuk oleh berbagai pihak, Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) salah satunya.

Peristiwa pembantaian sesaat melakukan ibadah salat Jumat ini dinilai, bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi antar umat beragama dan perdamaian dunia.

“Untuk itu MIUMI menuntut kepada pemerintah new Zealand untuk mengusut dengan cepat dan tuntas serta menangkap dan memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku,” katanya dalam rilis yang diterima redaksi Jurniscom, Jumat (15/3/2019).

Selain itu, MIUMI juga mendesak pemerintah Indonesia agar menuntut pemerintah Selandia Baru untuk memberikan jaminan keamanan secara sungguh-sungguh.

“Terutama keamanan masjid-masjid dan umat Islam di Selandia Baru dari tindakan biadab teroris,” paparnya.

Lebih dari itu, MIUMI mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak terpancing dan melakukan tindakan balasan kepada umat lain dalam peristiwa yang hampir merenggut nyawa sejumlah warga Indonesia ini.

“Semoga para korban digolongkan oleh Allah sebagai syuhada, terlebih lagi peristiwa ini terjadi pada hari Jumat yang mulia dan di bulan Rajab yang suci.”

“Atas nama umat Islam Indonesia MIUMI mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban,” pungkasnya.

Akademisi: Nikmati Saja Dinamika Politik Hingga 17 April

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menjelang 17 April, kondisi perpolitikan kian dinamis. Meski begitu, akademisi dan mantan ketua MK, Jimly Asshiddiqie menyebut hal tersebut sudah menjadi bagian yang wajar.

“Masa pemilu atau pilpres sepi? Kita nikmati saja dinamika politik yang seru ini,” ucapnya di Menteng, Jakpus, Kamis (14/3/2019).

Ia mengimbau semua pihak tidak perlu melakukan kampanye negatif dan kampanye hitam. Pendukung pun tidak perlu saling tuduh. 

“Politisi maupun pemimpin kita imbau bersainglah secara sehat enggak usah mengurusi calon lain. Tim relawan dan tim sukses juga,” paparnya.

Menurutnya akan lebih baik apabila kedua pasangan calon (paslon), tim relawan, dan tim sukses menerapkan kampanye positif. Yakni, dengan membeberkan kebaikan-kebaikan paslon tanpa secara eksplisit menjatuhkan paslon lainnya. 

“Harus mampu bersikap adil dan melihat dari dua sudut pandang. Dua-duanya sekarang ini sama, sudah berkampanye negatif, menyebar hoaks dan ujaran kebencian. Baiknya sudahi melihat sisi negatif lawan dan beri masyarakat informasi kebaikan-kebaikan capresnya,” tandas Jimly.

Jelang Debat Ketiga, ICMI: Kekuatan Cawapres 50:50

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie menilai kekuatan para calon wakil presiden untuk debat ketiga seimbang.

“Kalau menurut saya keduanya 50-50 sama kuat. Ini lebih ke soal ide dan cara ngomong,” katanya di Menteng, Jakpus, Kamis (14/03/2019).

Menurutnya, bukan kekuatan kandidat yang dilihat masyarakat dalam debat ketiga yang akan digelar 17 Maret nanti. Saat ini, kata dia, masyarakat sedang ingin melihat sikap kepemimpinan dari para calon pendamping.

“Rakyat itu sekarang sudah punya sikap. Mereka mau melihat sikap, karakter kepemimpinan. Itu jauh lebih penting,” ujarnya.

Untuk menyajikan itu, Jimly meminta kedua kandidat memperhatikan akurasi data. Hal tersebut diyakini bisa memantapkan sikap pemilih. Sehingga, gambaran isu-isu di debat ketiga bisa disajikan secara utuh

“Jangan sampai menambah keraguan. Jadi data-data jangan sampai ada yang salah,” pesan dia.

Usung Tema Moderasi Agama, Kemenag Gelar Pelatihan Dai Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama (Kemenag) bekerjasama dengan Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggelar program Penguatan Kader Muballigh Tingkat Nasional Tahun 2019.

Gelaran ini mengusung tema “Moderasi Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Pengkaderan diikuti perwakilan MUI seluruh provinsi di Indonesia.

Tiap provinsi mengutus 3 peserta, terdiri dari 2 Dai atau Muballigh (pria) dan 1 Muballighah (wanita). Khusus Provinsi DKI Jakarta, ada 7 Peserta, 4 Muballigh dan 3 Muballighah.

“Selamat mengikuti pelatihan muballigh-muballighah. Semoga Allah membimbing, meridhoi setiap langkah kita semua,” kata Staff Ahli Kemenag Bidang Management dan Organisasi Oman Fathurrahman saat membuka acara yang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (13/3/19).

Di setiap kesempatan, lanjut Oman, Menteri Agama selalu mengingatkan agar Dai menyampaikan esensi kepada masyarakat, bukan pemahaman teks agama secara tekstual.

Tiga tahun terakhir, Kemenag terus menggelorakan moderasi beragama. Sebab, Indonesia merupakan bangsa yang cukup beragam.

“Beragama di Indonesia ya hakikatnya bernegara, berIndonesia, begitu sebaliknya,” kata Oman.

Kemenag, kata dia, saat ini sedang membuat buku putih moderasi beragama serta modul tanya jawab moderasi beragama. Kedua buku ini nantinya bisa digunakan sebagai rujukan dalam beragama di Indonesia.

Sementara itu, Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin menyampaikan, acara ini menjadi bagian dari upaya Kemenag untuk mengakomodir dan mengoptimalisasi gerakan dakwah di Indonesia.

Kegiatan yang serupa juga sudah pernah dilaksanakan Kemenag beberapa tahun lalu yang diberi nama PCDMI (Pelatihan Calon Dai Muda Indonesia).

“Sekarang kita ulang kembali dengan Penguatan Kader Muballigh, dan bekerja sama dengan MUI. Ini perdana, dan selanjutnya kita akan mengkader 680 muballigh untuk terus dapat memberikan penguatan moderasi beragama,” ungkapnya.

Kerap Dijadikan Alat Pidana, Ini Kata ICMI Menyoal Perbedaan Pikiran

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Prof. Jimly Asshiddiqie mengatakan, suasana nyaman yang dibangun secara baik sejak reformasi dapat rusak, jika perbedaan pendapat dan pikiran selalu dijadikan alat untuk mempidanakan seseorang.

Menurutnya, tidak semua manusia umumnya masyarakat di sebuah negara, harus sama ide dan pendapatnya. Termasuk soal agama dan pilihan politik.

“Kalau semua orang masuk penjara, nanti negara kosong cuma gara-gara beda pendapat. Nanti kita kekurangan penjara sebab kepenuhan,” katanya melalui rilis yang diterima Jurniscom, Rabu (13/3/2019).

Jimly mengatakan, proses penegakan hukum memang baik dan dibutuhkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kendati demikian, hukum juga diberlakukan terhadap hal yang khusus dan berpengaruh buruk kepada masyarakat dan negara.

“Beda pendapat dan pikiran itu biasa. Biarkan saja,” ungkapnya.

Jimly menyebut, perbedaan pendapat amat wajar dan dibutuhkan untuk membangun bangsa lebih baik.

Bila seluruh proses masalah perbedaan pendapat dijadikan alat laporan pidana, maka, kata dia, nantinya dapat muncul perasaaan perlakuan yang tidak sama antara satu orang dengan lainnya.

Pendapat Jimly tersebut didasari kerapnya berbagai masalah yang diselesaikan melalui jalur hukum pidana hanya sebab kontroversi ide, perbedaan pendapat, adu argumentasi di linimasa media sosial menjelang pemilihan umum (pemilu) 2019.

BPKP: ‘Festival’ Infrastruktur Jokowi Tak Sebanding dengan Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Presidium Barisan Pemeriksa Kondisi Proyek (BPKP), Rusmin Effendy menilai festival pembangunan infrastruktur yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi.

“Setelah empat tahun festival proyek berjalan, anomali muncul. Ekonomi tak tumbuh signifikan, hanya seputaran 5%,” katanya di Cikini, Jakpus, Selasa (12/3/2019).

Ia mengatakan, industri manufaktur, yang kerap menjadi kontributor terbesar perekonomian Indonesia, malah melesu. Sumbangannya kepada PDB, kata dia, turun dari 20,25% pada Kuartal II-2016 menjadi 19,93% pada Kuartal-III 2017.

Rusmin menjelaskan, ada 245 proyek strategis nasional, mulai dari jalan tol, bandar udara, pelabuhan, bendungan, hingga proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt. Total dana yang dibutuhkan mencapai Rp4.197 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp525 triliun diambil dari APBN.

“Banyak target Pemerintah meleset. Salah satunya, jalan tol yang katanya untuk logistik justru tarifnya memberatkan angkutan truk,” paparnya.

Dia menambahkan, selain itu sederet masalah ditemukan. Bandara Kertajati sepi penumpang. Jalan tol Becakayu dan Trans Jawa tidak diminati angkutan barang karena tarif yang tinggi.

Ia melanjutkan, sejumlah bendungan ternyata tidak terkoneksi dengan jaringan irigasi. Beberapa proyek tidak sesuai dengan aturan tata ruang. Lalu masalah pembebasan tanah yang tidak tuntas memicu protes warga.

“Kami meminta pemerintah untuk meninjau ulang proyek-proyek yang termasuk ke dalam Proyek Strategis Nasional,” pinta dia.

Lebih dari itu, ia mengimbau pemerintah terkait keterbatasan anggaran. Menurutnya, pemerintah sebaiknya lebih memprioritaskan proyek-proyek yang akan berdampak langsung terhadap sektor industri manufaktur.

“Seperti jaringan jalan publik untuk angkutan barang, akses ke infrastruktur utilitas seperti pembangkit listrik, dan ladang gas bumi,” pungkasnya.

Ekonom Senior: Pengadaan Kartu Sakti Bukti Pembangunan Jokowi Tak Efektif

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ekonom senior, Faisal Basri menilai rencana pengadaan kartu sakti yang ditawarkan Jokowi sebagai tanda pembangunan infrastruktur yang dibanggakan pemerintah tidak efektif.

“Ini kan menandakan semakin banyak kartu, kebijakannya semakin nggak efektif,” kata Faisal seusai mengisi materi di acara bertajuk ‘Anomali Proyek Infrastruktur Pemeritah’ di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (12/3/2019).

Menurutnya jika kebijakan pembangunan sudah efektif tidak perlu penggunaan banyak kartu seperti saat ini.

Faisal menjelaskan bahwa ada sejumlah indikator yang harus dipenuhi agar pembangunan yang dilakukan pemerintah dapat dianggap berhasil. Salah satunya, menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak.

Jika indikator ini terpenuhi, kata dia, maka Jokowi tidak perlu lagi mengeluarkan kartu-kartu tersebut.

“Pembangunan juga harus membuat masyarakat semakin mampu membeli kebutuhan pokoknya. Jika ini terpenuhi, maka Jokowi tidak perlu mengeluarkan Kartu Sembako Murah,” pungkasnya.

“Pembangunan juga harus menciptakan pendapatan yang membuat masyarakat mampu membiayai anak-anaknya sekolah, jadi nggak perlu kartu pintar,” tuturnya menambahkan.