DKM Baru MMR Larang Ibu-ibu Ikuti Kajian Yang Sudah Berjalan 10 Tahun

Bekasi (Jurnalislam.com) –  Pengajian rutin ummahat setiap hari Rabu di Masjid Muhammad Ramadhan terpaksa harus digelar di luar masjid karena DKM baru Masjid Muhammad Ramadhan tidak menginzinkan kegiatan rutuin tersebut diadakan di dalam masjid. Dengan menggelar karpet dan koran sebagai alas, para ibu ini terlihat semangat mengikuti kajian.

Pengurus baru DKM MMR adalah kepengurusan yang dibentuk oleh pemkot Bekasi pasca dirampasnya Masjid Muhammad Ramadhan oleh mereka hari Ahad (20/04/2014) lalu. Disinyalir mereka ketakutan akan berkembangnya dakwah tauhid dan jihad serta counter pemurtadan serta aliran sesat yang gencar diusung oleh DKM MMR sebelumnya. Akhirnya dengan penuh arogansi, Pemkot Bekasi lengkap dengan aparat kepolisian dan Satpol PP dibantu ormas FBR mengambilalih paksa Masjid Muhammad Ramadhan lalu mengganti kepengurusan MMR sekaligus mengganti namanya menjadi Masjid Raya Muhammad Ramadhan.

Baru sehari masa jabatan pengurus baru yang dibentuk oleh pemkot, kejanggalan-kejanggalan mulai terlihat. Jamaah sholat subuh pada hari Senin (21/04) hanya 4 orang, mereka juga harus menunggu pemegang kunci yang datang terlambat hingga Masjid Muhammmad Ramadhan tidak sempat mengumandangkan azan subuh. Esoknya, Selasa (22/04) hanya terdengar suara iqomah saja dari Masjid.

Dan hari ini (22/04), ibu-ibu yang biasa menggelar kajian rutinnya harus menerima kenyataan pahit. Pengajian rutin yang telah mereka adakan sejak 10 tahun yang lalu, kini dilarang oleh pengurus baru DKM MMR.

Ibu dr. Santri Sandrakencana, dengan berat hati harus menyampaikan berita tersebut di hadapan ibu-ibu yang telah sekian lama ia bina.

“Pertama masjid ini sudah dialihkan menjadi Masjid Jami’ Raya Bekasi Selatan,  jadi secara otomatis pengurus pengajian yang di kudeta tidak lagi aktif dan mohon agar ibu-ibu majlis ta’lim tidak terprovokasi atas berita yang muncul”, tuturnya dengan mimik sedih yang tak bisa ia sembunyikan

“Kita tidak dikumpulkan oleh masjid atau DKM, tapi kita bertemu dan berpisah karena Allah. Dan suatu saat kita akan bertemu denga izin Allah. Luas, ladang dakwah itu luas dan bisa bertemu dimana saja insya Allah”, imbuhnya disambut isak tangis para jamaah.

Ditengah tangisan ia menyampaikan pesannya bahwa dakwah tak berhenti sampai disini, bahkan ibu-ibu majlis ta’lim masih antusias untuk menggelar pengajian serupa dan siap ta’lim dimanapun berada.(ded412/abuzahro /amaif/voaislam)

Ummahat MMR Yang Diusir DKM

 

AKANKAH DEWAN PERS TERSANDERA?

Oleh :Ahmad Fatih ( Juru Bicara JAT )– 08561812319

JURNALISLAM.COM – Beberapa hari belakangan media Islam mengangkat berita tentang kerjasama yang dilakukan oleh Ansyad Mbai selaku Ketua Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme, Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan dengan Bagir Manan selaku ketua Dewan Pers tentang bagaimana menangani pemberitaan terorisme. Mbai mengatakan kelompok teroris menggunakan berbagai media sebagai corong teroris mulai dari media sosial hingga media online. “Sedang kita tidak dapat berbuat apa-apa,” ujarnya seperti dilansir situs hukumonline.com15 April 2014 kemarin.

Melalui MOU ini setidaknya Ansyad Mbai selaku ketua BNPT ingin mengarahkan pemberitaan semua media terkait terorisme sesuai dengan versi yang ada di BNPT dan dituangkan melalui peraturan yang ada dalam Dewan Pers. Hal ini jelas terlihat dari 2 pasal yang tercantum dalam nota kesepakatan tersebut.

Dalam Pasal 2 nota kesepahaman, BNPT dan Dewan Pers berperan aktif dalam proses penanggulangan terorisme. Kedua belah pihak pun menyusun pedoman pemberitaan penanggulangan terorisme sesuai kode etik jurnalistik. Sedangkan dalam Pasal 3 menyatakan, BNPT bertugas dan bertanggungjawab menyiapkan dan melaksanakan kegiatan pelatihan pemberitaan penangulangan terorisme melalui media massa. Penyusunan pedoman pemberitaan media massa terkait penangulangan terorisme dilakukan bersama.

MOU dan kerjasama seperti ini jelas berbahaya karena mengarahkan pemberitaan terkait terorisme hanya dari satu sumber dan satu versi yaitu versi yang disusun dan direncanakan oleh BNPT selaku pemegang hak siar terkait kasus terorisme. Dan apa yang dilakukan oleh dewan pers ini jelas melanggar peraturan dan statuta dewan pers itu sendiri.

Dalam statuta Dewan Pers yang merupakan rule (aturan) Dewan Pers dalam melaksanakan mekanisme kerjanya di gambarkan.

Bab.I.Tentang nama dan tempat kedudukan.

Pasal 1 menyebutkan:“Dewan Pers adalah lembaga independen yang dibentuk untuk melindungi kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas kehidupan pers berdasarkan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers”.

Kerja sama dengan BNPT ini jelas menandakan bahwa Dewan Pers sebagai lembaga yang tidak independen karena mereka melakukan kerjasama terkait pemberitaan terorisme hanya dari satu sumber dan bukan dari beberapa sumber.

Bab. III.Tentang Fungsi dan Tugas.

Pasal 5 menyatakan bahwa salah satu fungsi dan tugas Dewan Pers adalah melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain.

Sehingga kerjasama Dewan Pers dengan BNPT ini menggambarkan bahwa BNPT sudah mencampuri urusan pemberitaan terkait dengan kasus terorisme, dan kemerdekaan pers dalam memberitakan kasus terorisme ini akan terganjal dengan adanya MOU ini dan bukan mustahil kemerdekaan pers memberitakan terorisme yang berimbang akan tercabut.

Bahkan kalau kita singgung lebih jauh terkait kerjasama BNPT dan Dewan Pers ini jelas tidak sesuai dengan apa yang selama ini menjadi pedoman kerja jurnalis dan insan media. Sembilan elemen jurnalis Bill Kovach, Pasal 28 UUD 1945 , dan Undang – undang No 40 tahun 1999 tentang Pers menjadi saksi bisu yang membenarkan kerjasama Dewan Pers dengan BNPT.

Sembilan elemen Jurnalis yang dilanggar oleh Dewan Pers Diantaranya :

  1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pencarian kebenaran.
  2. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi.
  3. Jurnalis harus menjaga independensi dari objek liputannya
  4. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan.
  5. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi.
  6. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
  7. Dan Seterusnya

Maka apakah insan media dan para jurnalis akan tinggal diam ketika kebebasan mereka untuk memberitakan kasus terorisme yang adil dan berimbang sesuai dengan fakta dan kebenaran akan dipertaruhkan dengan adanya MOU ini?

Dan pertanyaan berikutnya apakah Dewan Pers sekarang ini sudah tersandera?Tersandera dengan kepentingan politik penguasa melalui BNPT dan kepentingan politik uang yang menggiurkan. Kalau kemarin baru hadir satu media yang menjadi rekan kerja BNPT dalam menyiarkan langsung kasus terorisme maka bukan mustahil besok banyak media yang menyiarkan kasus terorisme ini secara tidak adil melalui aturan kerjasama BNPT dan Dewan Pers ini.

Sebuah MOU yang merupakan kejahatan dalam dunia pers.Kejahatan melalui undang – undang. Wallahu A’lam. (red/)

Antara Maksiat dan I’dad

Antara Maksiat dan I’dad

oleh : Ustadz Fuad Al Hazimi

Kemaksiatan ibarat pohon, ia memiliki akar, batang dan cabang. Saat ia masih kecil kita memandangnya dengan sebelah mata dan meremehkannya. Maka ia kini menjadi besar, akarnya kuat menghunjam ke dalam tanah, batangnya tinggi menjulang mengejek kita.

Pohon yang besar tidak tiba-tiba menjadi besar. Ia dulu kecil lalu bertumbuh. Demikian juga kemaksiatan, dulunya hanya kecil lalu ada sekelompok orang yang memupuknya dan menjaganya, sementara kita hanya mengelus dada dan membiarkannya tanpa melakukan aksi apapun. Ironis memang, kita lebih memilih barada dalam iman yang paling lemah dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Dan saat kemaksiatan mulai bertumbuh, kita tidak segera sadar untuk mengimbanginya dengan i’dadul quwwah (persiapan kekuatan) sehingga saat ia sudah terlanjur besar kita merasa sudah terlambat dan tidak mampu lagi merobohkannya.

I’dad sejatinya bukan hanya untuk menyiapkan diri kita menghadapi musuh-musuh Allah di medan jihad saja, namun yang jauh lebih real dan lebih dekat adalah untuk menghadapi musuh-musuh Allah di sekeliling kita yaitu kemaksiatan dan para pendukungnya.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya”. (QS Al Anfal 60)

Bukankah para salafus shalih menyebut pelaku maksiat dengan sebutan “musuh-musuh Allah” ?

Imam Ali bin Muhammad Alaa’ud Dien atau yang lebih dikenal dengan panggilan Imam Al Khozin menjelaskan :

“Makna I’dad adalah mempersiapkan sesuatu agar bisa dipergunakan saat diperlukan”. (Lubabut Ta’wil fie Ma’anit Tanzil / Tafsir Al Khozin 3/209)

JENIS I’DAD

  1. I’dad Imani (non fisik/ta’abbud secara luas) yaitu mempelajari ilmu syar’i dan mentazkiyah diri dengan iltizam dan melaksanakan ilmu syar’i tersebut.
  2. I’dad Maddi (fisik material) yaitu dengan menyiapkan kekuatan fisik melewati program latihan serta mobilisasi infak dijalan Allah.

Mari kita segera beranjak dari iman yang paling lemah menuju iman yang sedikit lebih kuat dengan I’dadul quwwah karena kemaksiatan itu kini bukan hanya berupa perbuatan keji (khabits) saja namun juga kemaksiatan dalam aqidah seperti merebaknya agama Syi’ah, berkibarnya panji-panji demokrasi dan berbagai maksiat lainnya.

Wallohu a’lam

Mujahidah, Istri Sang Mujahid

Mujahidah, Istri Sang Mujahid

Oleh Ummu Yahya

“Orang-orang yang adil seharusnya tidak membuatmu ternganggu selama kamu (telah) menjalankan apa yang menjadi tugasmu. Kebenaran itu sungguh agung dan mulia, namun hanya segelintir orang yang menjalankannya.”

Wahai para mujahidah! Wahai para Gharibah! Wahai orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan akhirat daripada dunia! Wahai saudari seiman dan se-Islam! Wahai istri para mujahid, beserta sahabat karibnya… Segala puji bagi Allah SWT. Masya Allah, engkau sungguhlah berbeda dengan kebanyakan wanita pada umumnya. Engkaulah para  mujahidah, seperti halnya suamimu. Engkau pahlawan serta tentara Allah dan engkau memiliki hati yang teguh.

Engkau memiliki peran yang luar biasa, sebuah pesan pada kehidupan yang memang pilihan ini. Engkau senantiasa mendampingi suamimu menempuh jalan yang mulia, jauh dari dominasi kehidupan dunia yang telah banyak terkontaminasi pengaruh barat. Engkau telah mengerti bahwa menempuh jalan ini berarti mengikatkan diri pada sebuah komitmen, menghadapi resiko-resiko dan rintangan-rintangan yang mungkin muncul di depan. Sementara, para mujahid merupakan orang-orang yang paling berbahagia. Jihad bukanlah hal yang mudah; kehilangan harta, sebagian besar kawan, meninggalkan rumah dan keluarga. Kesabaranmu haruslah tak terhingga, sehingga nafsu tak mampu meruntuhkannya.  Senantiasalah berdoa kepada Allah dengan do’a “Yaa Muqallibal quluub Tsabbit Qalbi ‘Alaa Diinik.” (Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, cenderungkankanlah hatiku untuk tetap kokoh dalam Agama-Mu).

Jihad dikelilingi dengan berbagai kesukaran. Percayalah, tanpanya hidupmu akan sama halnya seperti bulir soda yang menguap oleh panas matahari, datar, pudar, dan hilang tak berarti.  Yang paling parah yang akan kamu hadapi adalah propaganda media yang memberitakan informasi dusta tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Jihad. Dan yang menyedihkan lagi, mungkin umat Islam di sekitar kita malah cenderung mempercayai berita yang datangnya dari media yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, semua ada di tanganmu wahai saudariku, menjadi penguat fakta tentang kebenaran ini dari sekian dusta yang tersebar di media. Engkau harus teguh dan kuat supaya tidak terpengaruh dengan propaganda ini.

Suamimu, sang mujahid beserta para sahabatnya diburu oleh para tentara musuh dan para pengikutnya yang kebanyakan merupakan anggota masyarakat kita. Sungguh memalukan! Dalam peperangan ini, mereka bersembunyi dibalik kebohongan yang tersebar sehingga masyarakat malah cenderung antipati dan menjaga jarak terhadap upaya-upaya jihad yang dilakukan para Mujahid yang diberkahi. Hal semacam ini mengurangi akses untuk menghimpun dukungan dari generasi muda, sehingga gerakan jihad pun menjadi terbatas. Mereka berusaha meningkatkan jumlah pembelot yang tidak siap untuk membela agamanya. Sayangnya, propaganda murahan itu telah menyebar di kalangan kaum muslimin dan memporakporandakan keyakinan mereka. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Aamiin.

Semua ada di pundakmu wahai saudariku, untuk menyadarkan dan memberi pemahaman akan eksistensi perang media ini. Engkau harus memahami bahwa musuh kita akan merekrut siapapun untuk melawan agama Allah. Teramat menyedihkan lagi, umat Islam cenderung dijauhkan dari Jihad melalui perkuliahan-perkuliahan sesat dari para pakar yang tentunya telah terpengaruh oleh musuh-musuh kita; hanya dengan harga yang tak seberapa! Namun segala puji bagi Allah, Alhamdulillah, umat Islam saat ini telah sadar dan terbangun, materi-materi jihad telah secara bebas tersebar luas di internet. Untuk itu, marilah kita ambil bagian dan tebarkanlah kebenaran dimuka bumi ini.

Saudariku seiman dan se-Islam, istri para mujahid yang terhormat…

Serukanlah kepada orang-orang sekelilingmu yang memandang buruk mengenai jihad. Berikanlah nasihat kepada mereka supaya lebih bijak dan adil, tidak hanya menerima informasi dari satu sudut pandang dan menutup telinga terhadap sudut pandang yang lainnya. Sadarkan mereka bahwa sangat penting menyerap informasi/berita dari media sekuler untuk kemudian dikonfirmasikan dengan media Islam (para Mujahidin).

Wahai istri mujahid, seperti yang telah engkau ketahui, tidaklah cukup meniti jalan ini hanya dengan balutan emosi dan keinginan untuk mengembalikan harga diri. Karenanya, adalah tugasmu pula mempersiapkan serta membekali diri dengan pengetahuan. Tingkatkan keilmuanmu dalam bidang-bidang yang mendukungmu semakin faham terhadap jalan yang ditempuh oleh Rosulullah SAW dan para Mujahid. Dalami ilmu wajib mengenai tauhid dan mengenai pentingnya agama.

Bacalah Al-Qur’an setiap hari dan berbondong-bondonglah mencari ilmu agama Islam. Biasakan diri membaca kisah-kisah teladan para Nabi dan Rosulullah SAW, menyelami bagaimana perjuangannya, kesabarannya dalam menghadapi kesulitan, serta memetik pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Baca dan fahami pula kisah-kisah para sahabat, jadikan mereka sebagai figur dan suri taudalan.

Para Mujahid – semoga Allah SWT melindungi – adalah penegak bendera tauhid, pengikut Syari’at Islam, pengikut jalan Rosul kita Muhammad SAW, pemersatu umat muslimin.

Wahai ibu para calon Mujahid, kewajiban dan tanggungjawab untuk mengajari dan memberikan penerangan kepada anak-anakmu berada dipundakmu. Mereka adalah permata berharga dalam hidupmu. Mereka adalah amanah dan tanggungjawabmu. Engkau harus mengajari mereka tentang Islam dan menceritakan sejarahnya sehingga mereka bisa belajar mencintai agama mereka dan siap berjuang dijalan-Nya. Yang tidak kalah penting dari semua itu adalah engkau juga harus mengebalkan anak-anakmu dari isu-isu fitnah dan dusta yang dituduhkan pada agama kita yang suci. Dukung mereka untuk memperdalam keilmuan yang akan memberikan banyak manfaat bagi umat.

Saudariku seiman dan se-Islam, orang-orang yang adil seharusnya tidak membuatmu terganggu kamu selama kamu telah menjalankan apa yang menjadi tugasmu. Kebenaran itu sungguh agung dan mulia, namun hanya segelintir orang yang menjalankannya. Allah berfirman, “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” [12:106] dan Nabi Ibrahim A.S. menyebutnya umat: bangsa. Saudariku tersayang, bila suatu ketika angin perjuangan menyapu hidupmu dan telingamu dipekakan oleh kerasnya suara bom dan misil, atau bahkan mendengar kabar bahwa salah satu mujahid yang tertangkap adalah suamimu, jangan pernah meninggalkannya pada saat-saat dia membutuhkanmu.

Setelah pertemuan pertamanya dengan Malakait Jibril ‘Alaihi Salam di Gua Hira, Nabi Muhammad SAW gemetar ketakutan. Pada saat itu, beliau kembali kepada istrinya, Siti Khadijah,  dan bersabda “selimuti aku, selimuti aku”. Siti Khadijah menyelimuti Rosul sehingga beliau kembali merasa aman. Rosulullah SAW pun menceritakan peristiwa di Gua Hira yang baru saja menimpanya kepada Siti Khadijah dan menambahkan bahwa pada saat itu beliau benar-benar merasa ketakutan.

Apakah ia merasa takut, gelisah, dan kebingungan? Tentu saja tidak! Sebagai seorang istri, ia berusaha menenangkan dan meyakinkan Rosulullah SAW dengan berkata “Allah tidak akan mempermalukanmu; engkau telah menyatukan tali persaudaraan; engkau menanggung beban orang-orang yang lemah; engkau membantu orang miskin dan orang yang membutuhkan; engkau memuliakan tamu dan bersabar dalam memperjuangkan jalan kebenaran.”

Saudariku yang terkasih…

Suamimu mungkin berada di puncak daftar pencarian orang, atau suatu hari mungkin saja ia tertangkap, duka cita yang mendalam mungkin akan menghiasi hari-harinya. Pada saat itu, engkaulah yang seharusnya menjadi pundak tempatnya berkeluh kesah, menjadi pendukung dan sumber kekuatan untuknya. Kuatkan ia dan ketika sebuah cobaan berat menerpanya, katakan padanya, “Sayang, semuanya baik-baik saja, tidak akan apa-apa, karena sebelum engkau, Ammar pun dulu dihinakan, Bilal dulu tetap sabar, dan Shalahudin pun akhirnya berjaya. Dan Insya Allah, engkau pun akan menang; baik itu dengan sebuah kejayaan maupun dengan kesyahidan”. [Translated by Shaza]

Sumber : Majalah Inspire Edisi 12 | April 2014 | 1435 H

MMR dirampas, Jubir JAT : “Pemerintah Phobia Syariat Islam”

Jakarta (Jurnalislam.com) – Peristiwa pengambilalihan paksa Masjid Muhammad Ramadhan oleh aparat pemerintah Kota Bekasi yang dibantu massa dari Forum Betawi Rempug (FBR) menuai tanggapan tegas dari Ahmad Fatih, juru bicara Jamaah Ansharut Tauhid.

Ahmad Fatih menegaskan peristiwa pengambilalihan itu adalah akal-akalan pemkot bekasi yang didukung oleh pihak yayasan masjid yang alergi terhadap penegakan syariah dengan dakwah dan Jihad yang sekarang mulai mendapat tempat di mata umat Islam.

“Pengambilalihan MMR oleh Pemkot Bekasi yang hendak dijadikan masjid raya Kecamatan Bekasi Selatan adalah akal-akalan Pemkot Bekasi yang digerakkan oleh Kapolsek Bekasi Selatan dan disupport pihak yayasan masjid yang memang alergi terhadap gerakan masjid yang menyuarakan penegakan syariah dengan dakwah dan jihad”, tegasnya saat ditemui jurnalislam.com di markas JAT, Senin (21/04/2014).

Beliau melanjutkan bahwa peristiwa itu adalah bukti pemerintah phobia terhadap Syariat Islam serta prototipe bagi masjid-masjid lain yang mengusung penegakan syariat Islam.

“Kejadian ini menunjukkan pemerintah tidak bersikap dewasa dalam menerima segala perbedaan yang dalam negara demokrasi harusnya di hargai. Kejadian ini juga menunjukkan pemerintah phobia terhadap syariat islam dan berusaha menghalang-halangi dan bukan mustahil kejadian ini menjadi prototipe buat masjid-masjid yang lain yang menyuarakan hal yang sama yaitu penegakan syariah”, paparnya.

Beberapa Anggota FPI Terhasut Isu Wahabi?

Dalam proses pengambialihan yang dikawal oleh Satpol PP dan aparat kepolisian, hari itu aparat juga dibantu massa dari FBR. Yang mengherankan adalah hadirnya beberapa orang berseragam FPI yang juga terlihat saat kejadian hari Ahad (20/04/2014) itu. Ahmad Fatih menjelaskan ada dua kemungkinan yang menjadi alasan keberadaan anggota FPI dalam aksi tersebut.

“Terkait dengan keberadaan FPI ikut serta dalam aksi tersebut ada 2 kemungkinan: 1. Ada sentimen perbedaan yang berusaha dibenturkan oleh pihak-pihak terkait untuk mengadu domba antara pihak dkm MMR dan FPI, isu sentimen ‘wahabi’ dan mungkin ada beberapa anggota fpi yg terprovokasi dengan isue yang dimainkan tersebut, 2. Ada setingan untuk menciptakan isu konflik yang lebih besar lagi dan sengaja pemerintah menggandeng ormas”, jelasnya.

Masjid Muhammad Ramadhan adalah masjid yang kerap dijadikan basis pergerakan oleh aktifis dan ormas Islam yang mengusung penegakan Syariat Islam di Indonesia dengan dakwah tauhid dan jihad. Anehnya, bagi sebagian kelompok umat Islam, pemahaman ini dinilainya sebagai pemahaman yang berbahaya atau sering mereka sebut dengan wahabi. Padahal belakangan diketahui, isu wahabi ini adalah isu yang digembor-gemborkan oleh kelompok Syiah untuk memecah belah ahlusunnah wal jamaah. (ded412/amaif)

Puluhan Tewas dalam Serangan Di Irak

IRAK (jurnalislam.com) – Bom istisyahidah dan serangan lain di Irak telah menewaskan sedikitnya 33 orang dan melukai 80 orang lainnya, dalam gelombang konflik di negara yang sedang menghitung mundur untuk pemilihan parlemen.

Serangan paling mematikan hari Senin (21-04-2014) terjadi di selatan Baghdad di kota Suwayrah, di mana seorang pembom istisyahidah menabrakkan mobil bermuatan bahan peledak ke dalam sebuah pos pemeriksaan polisi, menewaskan 12 orang, yaitu lima polisi dan tujuh warga sipil. Polisi mengatakan 19 orang terluka dalam serangan itu.

Di kota terdekat Madain, sekitar 20 kilometer tenggara Baghdad, pembom mobil istisyahidah lain menyerang sebuah pos pemeriksaan militer, menewaskan tiga tentara dan dua warga sipil. 12 orang lainnya terluka.

Seorang tentara Irak tewas dan tiga terluka ketika sebuah bom pinggir jalan menghantam patroli mereka di kota utara Mishahda, 30 kilometer sebelah utara Baghdad. (ded412)

 

Pemkot Bekasi Mengambil Alih Paksa Masjid Muhammad Ramadhan

BEKASI (jurnalislam.com) – Ahad (20-04-2014), ratusan massa berkumpul di sekitar masjid yang biasa dijadikan tempat kajian aktivis Islam itu. Namun, kali ini bukan massa yang hendak mengikuti kajian, melainkan sekelompok laki-laki yang didominasi seragam FBR yang serba hitam. Tampak pula beberapa laki-laki berseragam FPI yang serba putih.

Kedatangan massa tersebut untuk “mengamankan” jalannya pengambilalihan masjid oleh Pemkot Bekasi. Sumber kiblat.net di lokasi menyebutkan mereka sengaja didatangkan oleh pihak Pemkot. Setelah mengumumkan pengambilalihan, Pemkot langsung mengumumkan pengurus baru. Tak hanya itu, “Seluruh aset masjid sudah diambil alih Pemkot,” ujar sumber tersebut.

Kerumuman massa asing itu tak ayal membuat suasana cukup tegang. Apalagi malam sebelumnya aparat kepolisian sudah berjaga-jaga, lengkap dengan kendaraan water-canon segala. “Sudah ramai memang dari tadi pagi. Saya juga tidak jadi dagang karena takut,” ujar Umi, perempuan berjilbab yang tiap hari berdagang pakaian di kawasan kompleks.

Setelah diumumkan pengambilalihan dan penetapan pengurus baru, sejumlah Satpol PP pun turun tangan. Beberapa gerobak pedagang “diamankan” di halaman masjid. Aksi dilanjutkan dengan pencopotan papan nama TPM (Tim Pengacara Muslim). Yang tambah mengherankan, mereka juga mencopot sebuah papan bertuliskan anjuran berbusana muslimah dan larangan merokok.

Irwansyah, seorang aktivis yang ditemui kiblat.net tak habis pikir dengan tindakan Satpol PP tersebut. “Itu kan himbauan kebaikan, juga ada dasarnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, kenapa harus dicopot?”

Tradisi MMR yang biasa digunakan kajian aktivis pro-syariat Islam (sering disebut kelompok Wahabi), bedah buku bertema jihad, tampilnya pembicara yang “mengumbar” tudingan kafir, kehadiran massa FPI dan FBR berikut campurtangan Pemkot, serta hasrat kelompok “pengajian” lain yang ingin kuasai masjid, adalah bagian dari sejarah perjalanan masjid dengan tingkat kegiatan Islam cukup tinggi di kawasan Bekasi tersebut (ded412/kiblat.net)

 

Empat Belas Tentara Aljazair Tewas Dalam Penyergapan Mujahidin

ALJAZAIR (jurnalislam.com) – Mujahidin telah menewaskan 14 tentara Aljazair dalam penyergapan selama patroli di pegunungan timur Algiers .

Serangan di Tizi Ouzou pada hari Sabtu kemarin (19 – 04 – 2014) , 120 km timur ibukota , adalah yang paling mematikan dalam beberapa tahun terhadap pasukan keamanan negara itu .

Cabang Al – Qaeda Afrika utara, al-Qaeda in the Islamic Maghreb ( AQIM ) , aktif di Aljazair .

Pemerintah Aljazair berperang selama 10 – tahun terhadap Islam Front Keselamatan ( FIS ) , yang mendukung pengenalan hukum Islam pada 1990-an , setelah pemerintah membatalkan kemenangan FIS dalam pemilu nasional .

Mereka berjuang melawan pemerintah sekarang sebagian besar terbatas pada daerah-daerah terpencil , seperti pegunungan Kabylie .

Gunung-gunung Kabylie dihuni oleh Berber , penduduk asli Afrika Utara , yang berbicara bahasa mereka sendiri dan telah lama yang tidak puas terhadap rezim pemerintah pusat .

The Tizi Ouzou daerah dekat lokasi serangan pada hari Sabtu memiliki tingkat partisipasi yang rendah dalam pemilihan presiden Aljazair . (ded412)

Serangan Mematikan Terhadap Polisi Mesir

MESIR (jurnalislam.com) – Seorang petugas polisi dan seorang wajib militer tewas setelah penyerang bersenjata menembaki mobil patroli mereka, Kementerian Dalam Negeri Mesir mengatakan.

Serangan pada hari Minggu (20 April 2014) tersebut terjadi hanya dua hari setelah seorang polisi tewas dalam ledakan bom di Lebanon square, Kairo.

Kementerian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka yang tewas dalam serangan terbaru tersebut adalah yang berpatroli di jalan antara Kairo dan Suez.

Pejuang telah meningkatkan serangan mereka terhadap pasukan keamanan sejak militer menggulingkan presiden Mohamed Morsi Islam pada Juli tahun lalu.

Sebuah kelompok bersenjata, Ajnad Misr, telah bersumpah bahwa serangan baru terhadap pasukan keamanan tersebut adalah sebagai balasan atas tindakan keras mereka terhadap para pendukung Morsi, yang menurut Amnesty International telah merenggut 1.400 nyawa.

 

Ajnad Misr, atau Tentara Mesir, mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pos polisi pada Jumat lalu.

Namun serangan paling mematikan telah diklaim oleh kelompok Mujahidin yang terinspirasi oleh al- Qaeda dan bermarkas di Sinai, Ansar Beit al – Maqdis.

Data resmi menunjukkan bahwa lebih dari 500 orang – sebagian besar polisi dan tentara – tewas dalam serangan bom dan tembakan oleh para pejuang sejak Juli 2013.

Kebanyakan serangan bergolak di Semenanjung Sinai, namun dalam beberapa bulan terakhir serangan juga terjadi di lokasi yang lebih jauh yaitu di Delta Nil dan di ibukota.

Pada saat yang sama, lebih dari 15.000 aktivis Islam, sebagian besar dari kelompok Morsi, Ikhwanul Muslimin, telah dipenjara, sementara ratusan lainnya telah dijatuhi hukuman mati.

Pihak berwenang menyalahkan Ikhwanul atas sejumlah serangan dan memasukkannya ke dalam daftar hitam sebagai “organisasi teroris.” (ded412)

FKUB Mojokerto Larang Warganya Bangun Mushola

MOJOKERTO (jurnalislam.com) – Pembangunan mushola di Desa Ngares Kidul Kecamatan Gedek Kabupaten Mojokerto ditolak oleh aparat pemerintah setempat. Berdasarkan laporan, aparat Desa, Polsek dan Koramil meminta panitia pembangunan mushola untuk menghentikan proses pembangunan, Kamis (18/04/2014).

Surat Peringatan atas nama FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Mojokerto tertanggal 8 Maret 2014 berisi alasan penolakan dibangunnya mushola tersebut pun dilayangkan kepada panitia. Dalam surat itu tertulis Peraturan Bersama Menteri (PBM) pasal 74 ayat 2 tentang sarat dibangunnya tempat ibadah yang harus mendapat persetujuan dari minimal 60 warga setempat disertai foto kopi KTP yang dilegalisir serta kuota pengguna tempat ibadah harus minimal 90 orang jamaah. Surat Peringatan itu juga tembusannya hingga pihak Polresta Mojokerto.

 

Saat di temui di lokasi pembangunan, Nif Edy, salah tokoh masyarakat desa Ngares sekaligus pemilik tanah tempat dibangunnya musholla tersebut mengatakan bahwa pembangunan  musholla ini adalah inisiatif beliau yang melihat banyak warga desanya yang berjalan jauh dan sebagian naik motor untuk menuju ke masjid terdekat.

“Kebetulan ada tanah kosong di sebelah rumah saya, lebih baik saya bangun musholla untuk warga di sini sekaligus sebagai amal ibadah saya kelak di akhirat nanti“, tutur Pak Nif di lokasi pembangunan, Jumat (18/04/2014).

Sejak awal pembangunannya, warga desa Ngares Kidul mendukung penuh dibangunnya Musholla di desa mereka. Tidak sedikit warga yang turut membantu proses pembangunan musholla tersebut.

“Alhamdulillah Kami senang atas dibangunnya Musholla di Desa ini. Kami sebelumnya untuk dapat melakukan sholat lima waktu berjama’ah dan tepat waktu harus berjalan jauh ataupun naik motor,  Insya Allah kami Warga Ngares siap untuk bantu memakmurkan Musholla di desa kami ”, dukung Nurdin, salah seorang warga Ngares Kidul. (Abu Azzanky).

“Insya Alloh semua warga disini mendukung kami, hanya pihak aparat desa saja yang tidak setuju lalu mencoba mengintimidasi kami dengan lapor sana-sini”, lanjut Pak Nif Edy, pemilik tanah sekaligus ketua panitia pembangunan saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu (19/04/2014)

Surat yang dikirim tertanggal 8 Maret 2014 itu tidak digubris oleh pihak panitia pembangunan. Karena mushola dibangun diatas tanah pribadi dan masyarakat menyambut baik, panitia akhirnya melanjutkan proses pembangunan. Surat Rekomendasi kedua dari FKUP Kabupaten Mojokerto pun turun, kali ini dengan tembusan hingga Polda Jawa Timur.

“Saya udah buat itu surat persetujuan dari 60 warga serta tandatangannya. Disini ada sekitar 20 lebih kepala keluarga yang ikut mendukung pembangunan mushola ini”, sanggah Pak Nif

Meski aparat desa didukung aparat keamanan setempat berupaya untuk menghentikan pembangunan mushola ini, Pak Nif tak gentar. Dengan tegas beliau menyatakan akan terus melanjutkan pembangunan sampai selesai.

“Karena ini dari dana pribadi, jadi memang agak lambat proses pengerjaannya. Tapi saya akan teruskan sampai selesai. Sekarang juga juga masih ada yang kerja,” tegasnya.

Menurut informasi yang kami himpun, pelapor kegiatan pembangunan mushola di tanah milik Pak Nif Edy itu adalah seorang warga mantan aparat yang dipecat karena indisipliner. Belum jelas motif pengaduannya tentang pembangunan mushola yang didukung penuh oleh warga setempat tersebut. (abu azzanky/amaif)