MUI : Jangan Halangi Anggota TNI yang Ingin Laksanakan Syariat

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentang pernyataan Panglima TNI Jenderal Moeldoko terkait TNI berjilbab. Pasalnya, dalam syariat Islam jilbab bagi wanita wajib hukumnya.

Ketua MUI Pusat Bidang Seni dan Budaya, KH Cholil Ridwan mengatakan, penggunaan jilbab bagi wanita itu dilindungi undang-undang. Semestinya, TNI bisa meniru apa yang dilakukan Polri yang telah memberikan kebebasan bagi anggotanya untuk berjilbab.

“Itu kan dilindungi undang-undang. Sementara Polri memberikan hak itu, walau mungkin kecuali bagi mereka yang memang enggak mau menggunakan jilbab, dan itu urusan dia. Tapi ini untuk anggota yang ingin melaksanakan syariat. Lagipula apa bedanya TNI dan Polri,” ujarnya seperti dilansir Okezone, Sabtu (30/5/2015)

Cholil menyayangkan pernyataan Moeldoko yang menyebut prajurit TNI yang ingin berjilbab dipersilakan bertugas di Aceh. Seharusnya, Moeldoko bisa lebih arif dalam menyikapi persoalan ini sebagaimana Polri lakukan sehingga tidak menimbulkan diskriminasi.

“Kalau berjilbab silakan di Aceh, ya enggak boleh begitu. Kan polisi enggak begitu. Saya kira jangan sampai ada diskriminasi antara Polri dan TNI. Polri ini sudah menjadi model untuk berbuat adil kepada anggotanya,” tuturnya.

Sebelumnya, Moeldoko menyatakan kalau prajurit wanita TNI yang ingin menggunakan jilbab silakan bertugas di Aceh. Hal itu diutarakan Moeldoko saat menjawab pertanyaan prajurit wanita TNI saat memberikan pengarahan di Kodam V Brawijaya, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2015).

"Aturannya sudah kita buat, tak ada larangan. Kalau mau pakai jilbab, tinggal pindah ke Aceh, selesai persoalan," ujar Moeldoko.

Ally | Okezone | Jurniscom

Gramedia Depok Batalkan Launching Novel "Akulah Istri Teroris"

DEPOK (Jurnalislam.com) – Gramedia Depok menyatakan pihaknya membatalkan acara Launching dan Book Talk Show Novel "Akulah Istri Teroris". Pernyataan itu disampaikan Asisten Manager Gramedia Depok, Aulia Siska, dengan alasan informasi tentang acara tersebut simpang siur dan telah meresahkan.

"Tadi sebenernya udah disepakati, karena sudah meresahkan. Ini kan jadinya simpang siur. Meresahkan masyarakat, karena yang disoroti adalah lomba fashion shownya, tapi informasi acara talk shownya gak kena. Jadi disepakati dibatalkan saja deh," jelas Aulia di Gramedia Depok, Jl Margonda, Depok, Jumat (29/5/2015).

Selain itu, Aulia menjelaskan alasan pembatalan dari Gramedia juga dikarenakan pihak EO dan penerbit tidak memenuhi undangan rapat untuk tehnis acara tersebut.

"Sampai sekarang pun pihaknya gak dateng. Karena kami mau negosiasi sama siapa nih? Mengenai dua orang pejabat yang akan datang ini bagaimana teknisnya? Kalau kita ngerjain semuanya hari sabtu, kita kalang kabut," lanjut Aulia.

Acara tersebut direncanakan akan diisi oleh dua narasumber lain selain penulis novel sendiri, yaitu Calon Walikota Depok, Ir. Imam Budi Hartono dan Kapolres Depok, AKBP Ahmad Subarkah seperti tertulis dalam surat permohonan izin ruangan yang dilayangkan Multivent Organizer dan Solusi Publishing kepada Gramedia Depok.

Reporter : Budi Setiawan | Editor : Ally | Jurniscom

Gramedia Depok Bantah Fasilitasi Lomba Berbusana Mirip Istri Teroris

DEPOK (Jurnalislam.com) – Asisten Manager Gramedia Depok, Aulia Siska, membantah pihaknya akan memfasilitasi lomba "Berbusana Mirip Istri Teroris" yang disandingkan dengan Launching Novel "Akulah Istri Teroris". Aulia mengatakan, pihaknya hanya menerima surat permohonan izin ruangan dari Multivent Organizer dan Solusi Publishing selaku penyelenggara. 

"Saya kaget, disini kan ditulis Launching dan Book Talk Show Novel, kenapa jadinya lomba fashion show. Sedangkan kesepakatan mengenai acara dan tehnisnya ini kami belum ada. Kenapa jadi berkembang luas tanpa sepengetahuan kami," kata Aulia saat disambangi Jamaah Ansharusy Syariah di tempat kerjanya, Jl. Margonda, Depok, sore ini, Jumat (29/5/2015).

Rencananya, pihak gramedia dan penyelenggara akan mengadakan rapat terkait tehnis penyelenggaraan acara tersebut pada hari Jumat (29/5/2019). Namun, pihak penyelenggara tidak datang.

"Rencananya hari ini kita mau ketemu sama Pak Anang Sam dan penulisnya untuk ngebahas nanti teknis hari H nya seperti apa yaa, gitu. Kami hanya punya ini, tapi orangnya belum datang kesini," ujar Aulia sambil menunjukkan surat permohonan izin ruangan dari Multivent Organizer bertandatangan Anang Sam itu.

Abu Zaidan, perwakilan Jamaah Ansharusy Syariah Jakarta meminta kepada Gramedia agar pihak penulis dan penerbit serta EO segera mengklarifikasi pamflet provokatif tersebut.

"Kalau Gramedia kan udah klarifikasi di twitter. Nah, penerbit dan penulis juga harus klarifikasi, bener gak nih ada acara seperti ini. Karena ini provokasi," tegas Abu Zaidan. 

Dalam pamflet bergambar wanita bercadar itu ditulis "Lomba Berbusana Mirip Istri Teroris" berhadiah sebesar Rp 1 juta bagi pemenangnya. Menurut Abu Zaidan, kalimat tersebut akan membangun stigma negatif tentang Islam.

Reporter : Budi Setiawan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Musuh Tinggalkan 2 Pos Besar dan 22 Pos Pemerikasaan di Uruzgan, Afghanistan

URUZGAN (Jurnalislam.com) – Laporan dari provinsi Uruzgan mengatakan bahwa Kamis pagi (28/05/2015) sekitar pukul 10.00 waktu setempat, kendaraan APC musuh tercerai berai akibat ranjau darat di daerah Sagzi kabupaten Dehrawod, membunuh dan melukai semua orang bersenjata yang berada di dalamnya sekitar satu jam kemudian.

Para pejabat juga mengatakan bahwa bentrokan yang terjadi kemarin saat Mujahidin menyerang pos besar musuh di daerah Kotal di Derayat dan pos lain di daerah Gari Bazaar mengakibatkan kematian Jenderal Abdul Mateen dari Kandahar yang merupakan komandan pasukan komando 300.

Di distrik Khas Uruzgan, tentara pengecut meninggalkan 2 pos pemeriksaan lagi di Qala Khor semalam, 2 di Sheikhi Panh, 1 di Badenzo dan satu lagi di daerah Badi Asia sementara sebelumnya pada hari yang sama, sebuah APC hancur oleh ranjau darat di daerah Sheikhano, membunuh dan melukai semua orang bersenjata bersenjata yang berada di dalamnya.

Selama 2 hari terakhir, Mujahidin di Dehrawod dan Khas Uruzgan menyerbu dan memaksa musuh meninggalkan 2 pos besar dan 22 pos pemeriksaan, sehingga sejumlah daerah yang luas saat ini sudah berada di bawah kendali Mujahidin.

Sementara itu di distrik Char Chino, Mujahidin berhasil menguasai 3 pos pemeriksaan di daerah Keshi Nawa sepanjang bentrokan yang berlangsung sejak Rabu, menewaskan 3 orang bersenjata termasuk komandan Jalat Khan dan menahan 3 orang lain serta menyita senapan mesin PKM, 4 senapan, peluncur RPG dan peralatan lainnya.

Juga hari ini, beberapa orang bersenjata upahan lain tewas ketika sebuah IED menghancurkan kendaraan mereka di daerah Gor kabupaten Chora.

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Jubir Menteri Luar Negeri Pakistan Kecam Hukuman Mati Mursi

KARACHI (Jurnalislam.com)  –  Aksi Pakistan pada hari Kamis (29/05/2015) bahwa mereka mengecam keras atas hukuman mati bagi Muhammad Mursi, Presiden pertama Mesir yang terpilih dalam pemilu, telah sesuai dengan prinsip-prinsip internasional, Anadolu Agency melaporkan.

Islamabad pekan lalu menentang hukuman mati untuk Mursi dan lebih dari 100 pendukungnya oleh pengadilan Mesir, dan menyebutnya sebagai "tragedi bagi demokrasi".

Menanggapi dengan sungguh-sungguh atas reaksi Pakistan tersebut, Kementerian Luar Negeri Mesir memanggil utusan Pakistan di Kairo pada hari Selasa dan menyebut pernyataan Islamabad itu sebagai campur tangan dalam urusan internal Mesir.

"Pernyataan kami mengenai penentangan hukuman mati yang diberikan kepada mantan Presiden Mesir berdasarkan pada prinsip-prinsip yang diakui secara internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Qazi Khalilullah, dalam menanggapi pertanyaan mengenai reaksi Mesir.

"Namun, saya ingin menggarisbawahi bahwa hubungan antara rakyat Pakistan dan orang-orang Mesir telah mengakar dalam sejarah, budaya dan nilai-nilai bersama. Kami yakin bahwa obligasi persaudaraan yang ada antara masyarakat Pakistan dan Mesir akan lebih diperkuat di masa yang akan datang," katanya.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

Astaghfirullah, Aktivis Anti Muslim Arizona akan Adakan Kontes Kartun Nabi Hari Ini

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Sekelompok aktivis anti-Muslim di negara bagian Arizona AS berencana untuk menyelenggarakan kontes kartun penggambaran Nabi Muhammad di kota Phoenix pada hari Jumat (29/05/2015), kata media lokal.

Acara tersebut hanya tiga minggu setelah dua orang bersenjata menyerang sebuah kontes serupa di Texas dan direncanakan berlangsung di depan Islamic Community Center of Phoenix, sebagai protes atas serangan tersebut.

Direncanakan di Facebook, acara ini digambarkan sebagai "tanggapan terhadap serangan di Texas baru-baru ini oleh 2 penyerang bersenjata, yang berusaha melakukan Jihad."

"Masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan amandemen kedua di acara ini untuk berjaga-jaga jika amandemen pertama terancam diserang," kata penyelenggara.

Mereka mengatakan bahwa Islamic Community Center of Phoenix dipilih karena "merupakan tempat yang diketahui sering dikunjungi oleh kedua penyerang."

Pada tanggal 3 Mei, dua orang bersenjata, yang diidentifikasi sebagai Elton Simpson dan Nadir Soofi, menembaki acara kartun anti-Muslim di Garland, pinggiran Dallas, melukai satu penjaga keamanan sebelum kemudian ditembak mati oleh polisi.

Kedua penyerang tinggal dalam satu rumah di Phoenix, menurut dokumen pengadilan Arizona.

Rabu malam, 146 orang telah mendaftar untuk menghadiri acara Jumat besok.

Usamah Shami, presiden Islamic Center, mengatakan ia telah diberitahu oleh polisi dan FBI mengenai acara tersebut, menurut 12 News yang berafiliasi dengan NBC.

"Semua orang memiliki hak untuk menjadi fanatik," katanya. "Semua orang memiliki hak untuk menjadi rasis. Semua orang memiliki hak untuk menjadi idiot."

Dia menambahkan bahwa umat Islam di daerah tersebut biasa beribadah pada Jumat malam seperti biasa.

Penyelenggara acara kontes mengatakan hari Jumat memang sengaja dipilih karena, "Tiap hari Jumat wilayah ini adalah tempat muslim melakukan ibadah mingguan besar.”

Kontes dijadwalkan dimulai pukul 18:15 waktu setempat.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Masih Ada Noda Dalam Ukhuwah Islamiyah

ALLAH SWT telah mencipatakan manusia dengan berbagai suku dan berbangsa-bangsa, yang satu dan lainnya tidak sama dan penuh perbedaan. Masing-masing manusia pun Allah berikan anugerah kelebihan dan kelemahan agar saling menguatkan. Tak ada satupun manusia yang sempurna sehebat apapun ia. Semua punya keterbatasan dan kekurangan. Dan semua sama di hadapan Allah, dari bangsa dan golongan manapun. Hanya imam dan taqwa sebagai pembeda.

Allah SWT berfirman ” Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah,” (QS al-Hujurat [49]:13).

Jelas betapa manusia hanya mulia disisiNya apabila bertaqwa, menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya secara kaffah dan keseluruhan tanpa kecuali. Jelas pula Allah menciptakan manusia dari berbagai suku bungsa agar saling mengenal. Bukan sebaliknya, saling tak peduli ataupun mengabaikan.

Manusia dengan manusia yang lain saling membutuhkan. Allah yang Maha Tahu segalanya, betapa dengan RahmatNya pun telah menciptakan seperangkat aturan tentang hubungan antar manusia agar saling mengenal, dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah biasa diartikan sebagai persaudaraan Islam.

Persaudaraan karena Allah semata yang harusnya tak boleh dibatasi oleh suku, bangsa, kepentingan atau apapun itu. Persaudaraan yang menghendaki adanya sifat saling tolong menolong, saling mengasihi saudaranya sesama muslim karena taqwa semata. Karena Allah sang Maha Pemurah yang memerintahkan. Bukankah telah nyata yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa? Paling menaatiNya. Paling tunduk padaNya dalam kondisi apapun.

Allah berfirman, ” Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.” (QS al-Hujurat [49]: 10).

Rasulullah pun bersabda, ” Kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai…” (HR. Muslim)

Namun, terkadang persaudaraan Islam hanya bicara di atas kertas. Saat sekarang persaudaraan Islam mulai ternoda disana sini. Bahkan bukan hal yang aneh lagi menimpa aktivis dakwah, karena terpesona oleh keindahan haraqah, kelompok dan partai sendiri. Merasa kelompok dan partai sendiri yang paling baik dan yang lain salah. Kelompokisme lambat laun mendarah daging, dan ukhuwah Islamiyah hanya jadi sebuah retorika.

Beberapa kasus berikut bisa jadi bahan renungan kita semua umat Islam. Umat yang Allah perintahkan untuk saling membantu, saling menasihati dalam kebaikan, saling merasa sakit kala saudara muslimnya disakiti. Sebagaimana rasul bersabda, ”

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mungkin diantara kita pernah mendengar fenomena kelompok-kelompok yang “rebutan” masjid. Hanya kelompok penguasa yang boleh menggunakan masjid untuk agenda kajian mereka. Di luar kelompok itu terlarang untuk ikut berperan serta memakmurkan masjid. Bahkan kejadian seperti ini pernah menimpa para aktivis dakwah di suatu kampus. Masjid hanya diperbolehkan dipakai pengajian suatu kelompok yang katanya mengharamkan ashobiyah, dan kelompok yang lain tak diperkenankan dengan alasan tak sepemikiran, tak seharokah, tak sejalan dan lain lain dalih pembenaran. “Perang dingin” antar kelompok pun muncul. Hal remeh temeh siapa boleh ngisi pengajian masih jadi permasahan, di saat umat muslim dalam kondisi seperti buih di lautan.

Seolah mereka lupa, betapa persaudaraan Islam adalah perintah Allah dan RasulNya. “Sesungguhnya perumpaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya laksana bangunan kokoh, yang saling menguatkan satu dengan lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada juga fenomena, masjid yang terlarang sebagai tempat “bernaung” barang sesaat bagi musafir. Seseorang yang sedang melakukan perjalanan, jauh dari kampung halaman yang Allah pun amat mengistimewakan keberadaannya, dengan menyematkan musafir menjadi seseorang yang berhak mendapat zakat atau bantuan lainnya. Apalagi bagi musafir yang memilih mushola/masjid/sebagai “tempat berteduh” pastilah bukan dari golongan ekonomi mapan yang mudah menyewa hotel/penginapan.

~Atau bisa jadi kehabisan bekal, sehingga memilih “rumah Allah” untuk sekedar melepas penat. Berbagai alasan pun dijadikan dalih pembenar atas larangan ini. Mulai dari masjid tempat sholat bukan tempat untuk tidur, masjid menjadi kotor, sang musafir tak dikenal atau dikenal tapi dari kelompok yang berbeda, dan sebagainya. Persaudaraan Islam terkoyak oleh prasangka buruk, bahkan oleh sekat-sekat kelompokisme dan nasionalisme.

Perintah Allah agar umat Islam saling tolong menolong dalam kebaikan terlupakan. Sebuah kisah teladan yang Rasul ajarkan tentang “bahkan seekor anjing pun bisa menjadi jalan syurga bagi seorang pelacur” dilupakan. Menolong anjing yang kehausan di jalanan saja adalah salah satu jalan syurga, apalah lagi menolong musafir, sesama hamba yang mungkin butuh tempat untuk sekedar meluruskan badan. Lupakah dengan nasihat indah ini? “ Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling mendengki, membenci, atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allaah yang bersaudara.” (HR. Bukhari : 5604).

Belum lagi fenomena lain yang amat memiriskan hati atas kebiadaban yang menimpa muslim Rohingnya. Nasionalisme menjadi penghalang dan bisunya pemerintah Indonesia dan banyak negeri muslim lainnya, atas kedhaliman dan kesewenang-wenangan yang dialami muslim Rohingnya. Muslim di negri Myanmar yang nyawanya tak ada harganya sama sekali dan begitu mudah dibantai oleh para bhiksu. Yang kehausannya akan darah muslim Rohingnya hingga saat ini semakin menjadi dan memaksa sebagian muslim Rohingnya berlari mengungsi.

Atas nama nasionaisme, negri negri muslim diam membisu, pelaku kejahatan kemanusiaan di Rohingnya tak tersentuh hukum manapun. Paling banter bantuan diberikan hanya jika ada pengungsi yang masuk ke wilayah negara. Tapi untuk mengirim pasukan dan menghentikan kedhaliman terhadap saudara sesama muslim di Rohingnya tak mau.

Seruan Rasulullah seakan tak ada artinya, ” Barangsiapa yang melonggarkan (menghilangkan) satu kesukaran seorang mukmin dari kesukaran-kesukaran dunianya, maka Allaah akan menghilangkan satu kesukaran dari kesukaran-kesukaran dia pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan pada orang yang kesulitan, maka Allaah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupi aibnya di dunia maupun di akhirat. Dan Allaah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu selalu menolong saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lebih mengherankan lagi, pada saat muslim Rohingnya meradang dengan penderitaannya, ada kelompok Islam yang punya agenda besar menggelar agenda dan atraksi mengenang kejayaan Islam masa lalu di banyak kota yang menelan biaya tidak sedikit. Kelompok Islam yang lebih memilih menggunakan dana yang dimilikinya untuk menggugah semangat keIslaman daripada membantu muslim Rohingnya yang sedang menghadapi kesusahan luar biasa. Sebuah acara yang tak jelas korelasinya dengan kebangkitan Islam. Tak ada jaminan selesai menggelar acara peserta-pesertanya lebih berani melawan kemungkaran, mengatakan yang benar di hadapan syara adalah benar, salah adalah salah.

Ukhuwah Islamiyah mulai ternoda dan terkoyak kini oleh berbagai kepentingan dan batas-batas nasionalisme, kelompokisme, partaiisme, sukuisme dan sebagainya. Tak lagi memandang sesama muslim bersaudara, bagai satu bangunan yang saling menguatkan.

Hanya karena berbeda harokah, kelompok, partai, ayat-ayat Quran dan hadits dinodai, diambil sebagian yang menguntungkan, dan yang tak sesuai dengan hawa nafsu pun dicampakkan. Bila masih ada pengurus masjid, pejabat mushola atau aktivis dakwah yang melarang masjid/mushola sebagai tempat bernaung sementara seorang musafir, bahkan kemudian mengusirnya, maka perlu dipertanyakan kehanifan iman dan hatinya. Telah sampai dan jelas ayat -ayat tentang persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah Allah turunkan. Tak ada sekat kelompok, partai, suku, golongan atau apapun itu. Mungkinkah persatuan umat Islam terwujud oleh aktivis dakwah seperti ini? Yang masih rebutan kekuasaan masjid? Yang masih memandang mereka yang berhak ditolong adalah yang sekelompok. Yang berbeda tak perlu diakui dan kalau perlu didhalimi. Tak peru lagi dihargai hati dan perasaannya sebagai sesama muslim?

Mungkinkah penerapan syariat Islam secara kaffah dapat tercipta melalui tangan aktivis dakwah seperti ini? Yang praktek tentang ukhuwah Islamiyah saja masih gagap? Masih tebang pilih? Mungkinkah sebuah negara yang akan mempersatukan seluruh ummat Islam sedunia, dapat terbentuk oleh aktivis dakwah, yang “diam-diam” berperilaku laksana rayap yang menggerogoti bingkai persaudaraan Islam? Mungkinkah musuh-musuh Islam terkalahkan oleh aktivis dakwah, yang masih tak mampu menunaikan hak saudara sesama muslimnya untuk diperlakukan sebagai saudara dalam tali ukhuwah Islamiyah? Bahan renungan untuk kita semua.

Masihkah mau ukhuwah Islamiyah terkoyak oleh hawa nafsu, oleh kepentingan kelompokisme, partaiisme dan semacamnya yang telah dengan amat nyata Allah dan RasulNya larang sejak berabad-abad silam? Wallahu ‘alam. []

Ketua FPI : Wali Songo Ajarkan Al Qur’an dengan Langgam Arab

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI), KH Ahmad Shabri Lubis mengatakan sejak awal kedatangannya, Islam di Indonesa belum pernah mengajarkan membaca Al Qur'an dengan langgam daerah.

“Awal Islam datang ke sini pun kita belum pernah menemukan adanya catatan adanya qari membaca dengan langgam daerah. Sebutkanlah Wali Songo, mereka mengajarkan Al-Quran dengan langgam arab,” jelasnya dalam dialog dengan Menag di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (28/5/2015).

Beliau juga menegaskan pembacaan Al Qur'an dengan langgam jawa merupakan bagian dari ghazwul fikri atau perang pemikiran.

“Kita menghadapi liberasisasi agama. Kita harus konsen menjaga aqidah dan pemahaman kita. Bagian dari gozwul fikri ini salah satunya adalah pembacaan dengan langgam jawa.” tegasnya.

Selain itu, FPI menyampaikan tiga tuntutan kepada Lukman Hakim Saifuddin. Pertama, Menteri khususnya sebagai penanggung jawab acara Isra Mi’raj di Istana Negara, harus bertaubat kepada Allah karena telah melakukan istihza (memperolok-olok). Kedua, tidak mengulangi perbuatan seperti itu dan meminta maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia.

Reporter : Zul | Editor : Ally | Jurniscom

Ini Tiga Tuntutan FPI Kepada Menag

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Syura DPP Front Pembela Islam (FPI), Mishbahul Anam menyayangkan sikap Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin yang mendukung pembacaan Al Qur'an dengan langgam jawa.

Menurut Misbah, sikap Menag itu dikhawatirkan akan menjadi pembenaran kepada umat Islam.

“Ini akan menjadi pembenaran kepada umat apabila pak menteri mengizinkan menjadi penanggung jawab hanya pembacaan alquran langgam jawa,” ujarnya saat berdialog dengan Menag di Kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (28/5/2015).

Oleh sebab itu, FPI menyampaikan tiga tuntutan kepada Menag terkait sikapnya tersebut, diantaranya :

1. Menteri khususnya sebagai penanggung jawab acara Isra Mi’raj di Istana Negara, harus bertaubat kepada Allah karena telah melakukan istihza (memperolok-olok).

2. Jangan lagi mengulangi perbuatan seperti itu.

3. Meminta maaf kepada seluruh umat Islam di Indonesia.

Selain FPI, perwakilan ormas Islam dari Majelis Mujahidin, Forum Umat Islam (FUI) dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) juga hadir dalam dialog tersebut.

Reporter : Zul | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Gagas Bacaan Al Qur'an Berlanggam Jawa, Menag : "Astaghfirullahul'adzim"

Menag Klaim Qari Internasional Tak Menyalahkan Bacaan Al Qur'an Langgam Jawa 

Majelis Mujahidin Minta Menag Minta Maaf Kepada Umat Islam

Majelis Mujahidin Minta Menag Minta Maaf Kepada Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Terkait pembacaan Al Qur'an dengan langgam jawa yang digagas oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Abu Jibril meminta Menag untuk meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam.

Hal itu beliau sampaikan kepada awak media selepas acara audiensi dan dialog tentang penyimpangan beraudiensi dan dialog tentang "penyimpangan pembacaan Al Qur'an dengan langgam jawa" di kantor Kemenag, Jakarta, Kamis (28/5/2015).

"Pertanyaan-pertanyaan tadi tidak dijawab tuntas sebagaimana yang kita inginkan. Contoh dalam hal mengakui kesalahan. Dia mengaku kesalahan, harus ada tindakan meminta maaf di mana dia melakukan itu. Misalnya di televisi, dia undang seluruh televisi, kemudian dia nyatakan bahwa pendapat saya tentang ini salah, saya minta maaf kepada seluruh umat Islam," tegas Ustadz Abu Jibril.

Kalau ini tidak dilakukan, lanjutnya, berarti ngeles. "Kalau kepada kita saja dia meminta maaf, tapi perlakuan itu didengar oleh kaum muslimin di Indonesia bahkan dunia, dia harus menyatakan itu," ujar Abu Jibril.

Beliau juga mengaku tidak puas dengan jawaban-jawaban Menag. "Bagaimana mau puas, orang dia ngeles aja," cetusnya.

Reporter : Zul | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Menag Klaim Qari Internasional Tak Menyalahkan Bacaan Al Qur'an Langgam Jawa

Gagas Bacaan Al Qur'an Berlanggam Jawa, Menag : "Astaghfirullahul'adzim"