Bupati Tolikara Ancam Pecat Staf Dinas yang Tak Jalankan Tugas

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Bupati Tolikara, Usman G. Winambo akan memberikan kesempatan bagi para pejabat daerah kabupaten di Tolikara untuk bisa menjalankan tugasnya untuk ikut menyelesaikan Tragedi Tolikara hingga Rabu (28/72015) mendatang.

"Dengan tegas saya katakan, bahwa saya sudah putuskan memberikan kesempatan kepada para pejabat dinas daerah di Kabupaten Tolikara untuk menjalankan tugasnya," tegas Wanembo kepada di Kantor Bupati Lama Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Wanembo menambahkan, jika hal tersebut tidak dikerjakan dengan benar, maka ia akan memecat para pejabat daerah Tolikara secara tidak hormat.

Sementara, lanjut Wanembo, bagi para pejabat daerah yang tidak pro-aktif, maka lanjutnya akan dipindahkan ke daerah-daerah lain di luar wilayah Karubaga, Kabupaten Tolikara.

"Orang-orang tidak boleh seperti itu. Ketika terjadi musibah seperti ini, maka sudah seharusnya mereka kerjasama dengan saya," tegas Wanembo.

Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu Kepala Dinas Pemerintah Daerah (Pemda) Tolikara, bahwa di Kabupaten Tolikara ada sekitar 20 dinas yang dibawahi langsung oleh Pemda Tolikara. Namun, pasca terjadinya tragedi di Tolikara, hanya ada beberapa pejabat Pemda yang aktif ikut membantu.

"Iya ada sekitar 20 dinas di sini. Tetapi yang aktif ikut membantu paling cuma beberapa pejabat saja," tandas salah satu Kepala Dinas yang tidak ingin disebutkan namanya kepada anggota JITU, Sabtu (27/07/2015).

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Pasca Tragedi Tolikara, Pendeta GIDI Jamin Kebebasan Umat Islam Jalankan Ibadah

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Tokoh Agama dari Gereja GIDI Pdt. Ernes Yanengga mengatakan, massa yang melakukan kerusuhan saat tragedi pelemparan batu dan pembakaran kios dan rumah warga hingga merambah ke musholla Baitul Muttaqin di Distrik Karubaga, Tolikara Jum'at (17/07/2015) adalah gabungan pemuda dari gereja GIDI yang merupakan peserta seminar Internasional.

"Itu pemuda gereja dari mana-mana, di luar Tolikara. Itu tamu atau peserta seminar kegiatan gereja," kata Ernes kepada wartawan usai mediasi antara kapolres Tolikara dengan Tokoh Adat dan Gereje GIDI di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Ernes menegaskan, massa yang ikut dalam kerusuhan yang berujung kepada terbakarnya musholla itu berasal dari pemuda gereja GIDI dan peserta seminar KKR yang datang dari seluruh wilayah Indonesia.

"Ini pikir orang pemuda gereja Tolikara yang ikut membakar, padahal bukan. Kita itu sudah ikut menghalau bahkan mengusir tapi karena massa banyak maka kita tidak mampu," ujar Ernes.

Selain itu, Ernes mengungkapkan bahwa dari dulu belum pernah terjadi konflik antara muslim dengan warga non-muslim di Tolikara atau bermusuhan satu sama lainnya.

"Kita di sini hidup rukun berdampingan sudah dari dulu. Ini terjadi di luar dugaan dan rencana kita," tukasnya.

Seperti diketahui, pada Sabtu (25/07/2015) kemarin, pihak Polres Tolikara mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh adat dan pihak gereja GIDI di Karubaga, Tolikara.

"Tadi ada 4 kepala suku yang ikut mediasi dengan pihak polres Tolikara. Ada juga pihak gereja GIDI," kata Ernes.

Ernes pun berharap kedepannya kerukunan antar umat beragama pasca tragedi yang terjadi di Karubaga, Tolikara terjalin kembali. Warga muslim bisa menjalankan ibadah tanpa ada diskriminasi dan bisa mendirikan tempat ibadah tanpa ada larangan.

"Iya, itu sudah pasti," tandas Ernes menanggapi pertanyaan wartawan terkait jaminan kebebasan bagi warga muslim Tolikara dalam menjalankan ibadah dan mendirikan tempat ibadah.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Kapolres Tolikara Bantah Pembakaran Dipicu oleh Tembakan Aparat

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Ada tudingan bahwa aksi pembakaran masjid Baitul Muttaqien dan kios-kios milik Muslim Tolikara oleh massa Gereja Injil di Indonesia (GIDI) dipicu oleh tembakan aparat kemanan. Namun, hal tersebut dibantah langsung oleh Kapolres Tolikara, AKPB Suroso, SH.

"Penembakan pertama itu adalah peringatan karena jamaah sholat Idul Fitri itu dilempari batu oleh massa pemuda gereja GIDI yang merupakan peserta acara seminar Internasional," kata AKBP Suroso saat dikonfirmasi oleh wartawan di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Dikatakan AKBP Suroso, sebenarnya massa telah tenang dan berhenti usai polisi mengeluarkan tembakan peringatan. Namun, massa kembali datang dengan jumlah yang lebih besar, yakni 500 orang. Mereka datang dari tiga arah yaitu titik Giling Batu, BPD dan belakang musholla Baitul Muttaqin.

"Sekali lagi kita melakukan tembakan pertama bertujuan guna menghentikan aksi massa gereja GIDI. Itu juga diarahkan ke atas udara," tegas AKBP Suroso.

Ditegaskan AKBP Suroso, dirinya melihat asap membumbung tinggi dari salah satu warga dan sesaat kemudian ia mendengar tembakan untuk kedua kalinya.

"Begitu di depan mata saya melihat asap, dari arah belakang saya mendengar suara tembakan yang kedua kalinya," ungkap AKBP Suroso yang juga berada di lokasi kejadian saat tragedi berlangsung.

Jadi, lanjutnya, jika dibilang pembakaran terjadi karena penembakan itu tidak mungkin. Sebab, tembakan pertama itu sudah jelas untuk menghentikan aksi dan tembakan di arahkan ke atas udara.

"Dan saya baru tahu ada informasi korban dibawa ke rumah sakit itu setelah semuanya rata dengan tanah," pungkas AKBP Suroso.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Kapolres Tolikara : Bisa Jadi Aksi Massa Gereja GIDI Itu Provokasi dari Pihak Luar Tolikara

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Kapolres Tolkara, AKBP Suroso, SH mengungkapkan saat negoisasi dengan massa pemuda dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) -yang merupakan peserta Seminar Internasional (KKR)- pada Jum’at (17/7/2015) dirinya disuruh melepaskan songkok yang dipakainya.

"Saya disuruh untuk melepas songkok. Dan saya juga dipukul sekali di dada," kata AKBP Suroso, SH kepada wartawan di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Bahkan AKBP Suroso, SH menuturkan, jika dalam negoisasi itu, Bupati Tolikara Usman Winambo juga didorong-dorong dan ditunjuk-tunjuk oleh massa GIDI. Namun usai kejadian pendorongan itu, Usman Winambo menghilang entah kemana.

"Pak Bupati kemana saya tidak tahu. Kabarnya Pak Bupati itu pulang ke rumah setelah didorong-dorong," imbuh AKBP Suroso yang ada saat tragedi berlangsung.

AKBP Suroso mengatakan, Bupati Usman memang ikut membantu untuk melakukan negoisasi dan menghalau, tetapi ia sudah tidak dianggap lagi oleh massa GIDI yang merupakan peserta Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Seminar Internasional itu.

"Bisa jadi massa yang melakukan aksi itu bukan dari pemuda gereja GIDI Tolikara tetapi dari wliayah luar Tolikara. Sebab kalau orang sekitar Tolikara itu mereka pasti tahu dan kenal saya. Meskipun saya pakai kaos, atau tidak pakai baju dinas," papar AKBP Suroso.

"Tetapi yang jelas itu kan massa dari gabungan dari gereja-gereja GIDI di seluruh Indonesia," tegas AKBP Suroso.

Untuk itu, dalam kesimpulan sementaranya, AKBP Suroso menegaskan bisa jadi aksi anarkis massa dari pemuda gereja GIDI itu juga akibat provokasi dari pihak di luar gereja GIDI Karubaga, Tolikara.

Seperti diketahui, pada Jum’at (17/7/2015) sekelompok massa melempari batu kaum muslimin yang tengah Shalat Idul Fitri Musholla Baitul Mutaqqin dan membakar kios-kios milik umat muslim. Dalam aksi penyerangan itu, Musholla Baitul Mutaqqin terbakar hingga jamaah shalat berhamburan keluar.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

GIDI Abaikan Perintah Kapolres Soal Perizinan Seminar Internasional

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Kapolres AKBP Suroso, SH mengatakan Gereja Injilli Di Indonesia (GIDI) mengabaikan perizinan keramaian terkait kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) seminar Internasional.

"KKR itu kan ada orang asing, aturannya harus izin ke Intelkam Mabes Polri dan bukan kewenangan kami ataupun Polda Papua," kata AKBP Suroso.

Jadi, lanjutnya, kalau menyangkut izin keramaian yang melibatkan orang asing harus ijin dari Intelkam Mabes Polri.

"Tetapi kenyataannya, faktanya itu tidak dijalankan sama pihak gereja GIDI," ujar AKBP Suroso.

Maka dari itu, AKBP Suroso menuturkan, bahwa dirinya juga sempat memanggil wakil ketua panitia penyelenggara, Yaqub Jikwa, untuk menanyakan mengapa surat izin belum juga dibuat karena itu persyaratan yang harus dipenuhi.

"Itu diabaikan sama mereka. Katanya sudah diurus sama panitia provinsi, lalu saya cek ke Intelkam Mabespolri tetapi ternyata juga belum ada perizinan," ungkap AKBP Suroso.

Menurut Suroso, aturan main izin seminar internasional harus melalui Intelkam Mabes Polri terlebih dahulu, baru kemudian turun ke Polda Papua lalu ke Polres Tolikara. Namun, sekali lagi, hal itu tak ditaati oleh GIDI.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Kapolres Tolikara: Pendeta Israel Ikut Resmikan Monumen GIDI Di Tolikara

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Kapolres Tolikara, AKBP Suroso, SH menyampaikan bahwa setelah pembukaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Seminar Internasional GIDI, pada Rabu (15/07/2015) sore, telah terjadi peresmian monumen GIDI di wilayah atas Tolikara.

"Dari muspida yang datang, hanya saya sendiri. Sementara Bupati sendiri tidak datang karena lelah. Gubernur Papua dan Ketua DPR juga tidak datang, cuma Asisten 2 yang mewakili pemerintah yang datang, yaitu Panus Kogoya," kata Suroso kepada wartawan di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015) siang.

AKBP Suroso juga mengatakan bahwa ada pendata asing dari beberapa negara yang hadir dalam acara tersebut.

"Kalau dari pihak gereja yang hadir itu ada orang asing, seperti pendeta dari Israel, Belanda, Palau, serta Papua Nugini," ungkap AKBP Suroso.

Usai pemotongan pita dan keliling monumen itu, AKBP Suroso mengambil langkah untuk memastikan apakah yang dikomunikasikan sebelumnya (soal edaran GIDI yang melarang warga muslim untuk sholat Idul Fitri,red), itu sudah disampaikan atau belum.

"Itu komunikasi yang saya lakukan tujuannya supaya bisa meredam agar tidak terjadi gejolak. Dan itu saya tegaskan lagi ke presiden GIDI," lanjut AKBP Suroso.

"Saya nggak ambil pusing sama pendeta-pendeta asing itu," imbuh AKBP Suroso.

AKBP Suroso menyampaikan kepada presiden GIDI bahwa pada hari Jum'at (17/07/2015) warga muslim akan melaksanakan sholat Ied di halaman kantor koramil. "Dan jawaban Presiden GIDI, saat itu, seolah-olah menyejukkan hati sebab tidak mempermasalahkan hal itu," tandasnya.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Kapolres Tolikara Pernah Minta Pihak GIDI Cabut Surat Edaran

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Kapolres Tolikara, AKPB Suroso SH membenarkan adanya surat edaran Gereja Injili di Indonesia (GIDI) tentang larangan untuk Sholat Iedul Fitri dan memakai jilbab bagi kaum muslimin. Menurut Suroso, mulanya surat edaran tersebut ditemukan di Pos Kopassus anggota intel pada Senin (13/7/2015).

"Surat edaran itu bukan diantar ke kantor Polres, meski di surat tersebut ada tembusannya kepada Kapolres Tolikara," tegas AKBP Suroso kepada wartawan di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015) siang.

Jadi, kata AKBP Suroso, sebetulnya dari Pos Kopassus itulah surat edaran GIDI diperoleh. "Ada anggota intel, dan saya kan biasa komunikasi dengan rekan intel, dari situlah didapat surat edaran GIDI yang difoto sama anggota intel," ungkapnya.

Setelah surat itu ditemukan, anggota intel lalu memberikan laporan melalui handy talky (HT). Tak butuh waktu lama, anggota intel itu akhirnya langsung melaporkan surat GIDI ke Polres karena jarak pos dengan Polres Tolikara tidak terlalu jauh.

"Habis itu, surat saya minta di-print baru kemudian saya hubungi Bupati melalui sambungan telpon. Saat itu, ternyata posisi Bupati sedang di Jakarta dan baru tiba di Tolikara malamnya," kata AKBP Suroso.

Mengetahui Bupati tiba Rabu malam (15/7/2105), AKBP Suroso segera membuat janji pada malam itu juga guna meminta tanggapan Bupati soal surat edaran dari GIDI tersebut.

"Saya pun janji malam itu bisa ketemu Bupati untuk meminta tanggapan soal surat edaran itu," kata AKBP Suroso.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati mengatakan bahwa surat edaran GIDI itu tidak berdasar dan ia akan menghubungi pihak GIDI wilayah Tolikara supaya segera mencabut surat edaran itu.

"Surat itu tidak betul dan saya akan telpon panitia GIDI wilayah Tolikara untuk meminta segera mencabut surat edaran tersebut," kata AKBP Suroso mengutip kembali pernyataan Bupati Tolikara.

Dari situ, AKBP menyatakan jika dirinya merespon baik pernyataan Bupati. Sebab, menurutnya, surat edaran itu bisa menimbulkan keresahan warga yang tahu, melihat atau mendengar mengenai surat edaran GIDI. Maka, dirinya meminta untuk mencabut surat edaran tersebut.

“Setelah itu, baru saya menghubungi presiden GIDI. Dan presiden GIDI saat itu posisinya ada di Jayapura," tandas AKBP Suroso.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Ratusan Tentara Zionis Serang Masjidil Aqsa, Rusak Fasilitas Masjid Termasuk Al Qur’an

 

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Ratusan tentara Zionis Israel mengepung Masjid Al Aqsa dari pintu Barat maupun pintu Qibliyah, menyerang para jamaah serta merusak sejumlah fasilitas masjid termasuk Al Qur'an, pagi ini Ahad (26/7/2015). Wartawan Indonesia di Palestina, Abdillah Onim melaporkan.

"Pasukan Israel masuk ke dalam masjid Alaqsa dan menyerang secara membabi buta kepada para Jamaah yang berada didalam Masjid Alaqsa, mereka menghancurkan pintu dan kursi serta melarang kaum Muslimin yang masuk ke dalam masjid," kata Bang Onim dalam rilisnya kepada Jurniscom, Ahad (26/7/2015).

Bang Onim melanjutkan, info dari Radio Alaqsa mengatakan lebih dari 9 orang mengalami luka-luka akibat tembakan gas air mata dan pukulan dari senjata militer Israel.

"Mereka pun menghancurkan pintu masjid Al Aqsa serta menggembok pintu lainnya. Tidak puas menghancurkan pintu, pasukan militer Zionis Israel merangsek masuk ke dalam dan menghancurkan rak Al Qur'an, lemari, porak-porandakan Al Qur'an serta menghancurkan properti di dalam masjid Al Aqsa, juga melemparkan bom suara serta gas air mata ke dalam masjid Al aqsa Al Mubarok," ungkap Bang Onim.

Melihat kekejaman Israel atas Masjid Al Aqsa, lanjut Bang Onim, para Jamaah tidak tinggal diam. "Mereka hanya melawan dengan tangan kosong diringi takbir,"

"Doakan Masjid Al Aqsa Al Mubarok, kiblat pertama umat Islam dunia, tempat suci dan tempat ibadah bagi umat Islam dunia kini dinodai oleh Zionis Israel..laknatullah alaikum, Yahudi," ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, kata Bang Onim, bentrokan di Masjid Al Aqsa masih berlangsung.

Laporan Bang Onim langsung dari Gaza, Palestina | Editor : Ally | Jurniscom

Galeri Foto Penyerangan Tentara Zionis di Masjidil Aqsa 

Video Penyerangan Tentara Zionis di Masjidil Aqsa

Sejak Awal Tahun 2015 lebih dari 2.000 Aksi Teror Dilakukan PKK di Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Partai Pekerja Kurdistan (PKK) telah terlibat dalam lebih dari 2.000 tindak kekerasan di Turki pada tahun 2015, sumber-sumber keamanan mengatakan, Anadolu Agency melaporkan, Sabtu (25/07/2015).

Militan PKK telah melakukan 2.099 tindakan kekerasan di Turki sejak awal tahun 2015, statistik otoritas keamanan menunjukkan.

Tindakan ini termasuk serangan bersenjata terhadap polisi dan warga sipil, serangan dengan batu dan senjata, serangan bom, serta pembajakan atau penculikan, menurut statistik polisi.

Militan telah menyebabkan sedikitnya 31 kendaraan terbakar selama minggu terakhir, saat terjadi pembunuhan polisi di tenggara Turki di provinsi Sanliurfa, Diyarbakir dan Kilis.

Pada hari Rabu, dua petugas polisi ditemukan ditembak mati di rumah bersama mereka di distrik Ceylanpinar Sanliurfa. PKK mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Sehari kemudian, polisi lain tewas dalam serangan senjata di Diyarbakir.

Dan pada hari Jumat, petugas polisi lainnya diculik saat menuju Mus dari Mardin bersama dengan keluarganya di Diyarbakir-Bingol Highway, kata polisi.

Militan PKK juga dilaporkan menyabotase jalan dan kendaraan di berbagai tempat di tenggara Turki.

Pemerintah Turki meluncurkan sebuah inisiatif di awal 2013, yang dikenal sebagai "proses solusi", untuk mengakhiri konflik puluhan tahun dengan PKK, yang telah merenggut nyawa lebih dari 40.000 orang selama lebih dari 40 tahun.

Polisi telah menangkap 320 orang yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok perlawanan di 22 provinsi Turki pada hari Jumat dan Sabtu pagi.

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

Apel Siaga Umat Islam Solo Raya, Wujud Solidaritas untuk Muslim Tolikara

SOLO (Jurnalislam.com) – Ribuan umat Islam Solo Raya mengikuti Apel Siaga dalam rangka Solidaritas untuk Muslim Tolikara, Papua, Jumat (24/7/2015). Selepas shalat Jum'at, massa yang berjumlah 8000 orang itu berkumpul di masjid Kota Barat dan dipimpin langsung oleh Ketua MUI Solo, Prof. Dr. Zaenal Arifin Adnan dan Ketua Dewan Syariah Kota Surakarta Dr. Muinudinnillah Basri, MA untuk longmarch menuju Bundaran Gladag.

Ustadz Muin, sapaan Dr. Muinudinillah Basri, meminta kepada Kapolri untuk segera menangkap pelaku pembakaran masjid Baitul Muttaqin dam pembubaran serta pelemparan batu terhadap jamaah Sholat idul Fitri 1436 H pada Jum'at (17/7/2015) pekan lalu. Selain itu, beliau juga mendesak Kapolri untuk meminta pertanggungjawaban Gereja Injili Di Indonesia GIDI atas pelarangan jilbab dan pelarangan perayaaan Idul Fitri 1436 H.

Ustadz Muin juga mengatakan bahwa DSKS siap membangun kembali masjid yang dibakar dan mengirimkan da'i untuk berdakwah di Papua.

Sementara itu Prof Zaenal mengatakan, ”Jika Kapolri tidak tegas terhadap pelaku Teror terhadap umat Islam, maka kasihan Presiden jokowi, pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat.”

Massa juga membentangkan spanduk serta yel-yel kecaman terhadap GIDI. "GIDI… ?" Serempak massa menjawab "Teroris!"

Acara juga dihiasi oleh aksi laskar Jama'ah Ansharusy Syari'ah yang melakukan atraksi ketangkasan sebagai bentuk kesiapan mereka untuk berjihad ke Papua jika diperlukan.

"Hal ini (atraksi ketangkasan, red) sebagai bentuk kesiapan kami jika sewaktu-waktu diminta untuk diterjunkan berjihad ke Papua jika teroris kristen GIDI terus mendholimi umat Islam," kata salah seorang laskar.

Hadir dalam apel siaga ini Ketua MTA Ust. Ahmad Sukina, Sekjen MMI Ust. Shobarin Syakur, Direktur Al Mukmin Ngruki KH. Wahyudin, Tokoh NU Abdul Halim, Tokoh Mega Bintang Mudrik Sangidu, Ketua LUIS Edi Lukito, Amir JAS Jateng Surawijaya, Ketua FKAM Ust. Rohmad dan beberapa pengurus dari Muhammadiyah Solo, KOKAM Solo, FJI DIY, Brigade Al Ishlah, Aktvis Muslim Papua, HMI, Anggota DPR RI, MPI, KAMMI, FUI Klaten, JAT, FUI Karanganyar, FUI Sragen, Darusy Syahadah Boyolali, Isykarima Karanganyar, FUI Semarang, MUI Sukoharjo, FPI Klaten, Hidayatullah Al Kahfi, dan dari jamaah masjid.

Reporter : Endro, Riyanto | Editor : Ally | Jurniscom

Foto ribuan umat Islam Solo Raya pada Apel Siaga Solidaritas untuk Muslim Tolikara