Peduli Muslim Tolikara, Me-Dan Samarinda Galang Dana

SAMARINDA (Jurnalislam.com) – Sejumlah relawan dari tim Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-Dan) menggelar aksi peduli Muslim Tolikara, Papua di Masjid Raya Darussalam Jln. Abdulloh Marisie dan Islamic Center Jln. Slamet Riyadi no.1 Teluk Lerong Ulu, Samarinda, Jum'at (24/7/2015).

Mereka mengumpulkan donasi dari umat Islam di Samarinda untuk disalurkan kepada Muslim Tolikara yang sedang membutuhkan bantuan untuk membangun kembali masjid, kios dan rumah mereka yang habis dibakar sekelompok umat Kristen GIDI pada Jum'at (17/7/2015) pekan lalu.

"Acara ini sengaja kami gelar sebagai bentuk simpati kami kepada sodara se-iman kami di tanah papua yang saat ini sedang terdzolimi," ungkap salah satu relawan kepada Jurniscom.

Tragedi Tolikara telah menggugah simpati umat Islam di Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, bantuan dari umat Islam terus mengalir untuk meringankan beban umat Islam Tolikara. 

Reporter : Riyanto | Editor : Ally | Jurniscom

Bantu Bangun Kembali Musholla dan Kios, Rumah Zakat Salurkan Dana Awal Rp50 Juta

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Melalui perwakilannya, Andi Mangewai Latif, Rumah Zakat (RZ) Jayawijaya, Papua menyalurkan dana bantuan sebesar Rp50 juta kepada Ketua Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial Pemerintah Daerah (Pemda) Tolikara, Edy Rangek Tasak.

"Itu baru dana bantuan awal yang kita serahkan," kata Andi kepada anggota JITU, Achmad Fazeri di kantor bupati lama Tolikara, Jum'at (24/07/2015) siang.

Sebab, kata Andi lagi, jika melihat hasil diskusi dengan tim dari Pemda, dana untuk membangun kembali musholla dan kios itu besar. Maka, RZ akan menyalurkan kembali dana bantuan selanjutnya.

"Untuk nominalnya saya belum tahu, nanti akan kita bicarakan dulu dengan teman-teman di RZ," ujar Andi.

Andi menegaskan bahwa RZ juga siap melakukan pengawalan terhadap tim Pemda dalam mengelola dana bantuan tersebut agar benar-benar disalurkan sesuai dengan apa yang diamanahkan.

"Itu prosedur kami, Mas. Setiap dana yang tersalurkan akan kita kontrol dan kawal," kata Andi.

Dari dana bantuan itu, Andi berharap sedikitnya bisa membantu para korban tragedi pembakaran kios dan Masjid Baitul Muttaqien yang merambah ke rumah warga Tolikara pada Jum'at (17/07/2015) pekan lalu.

"Dengan dana itu semoga musholla dan kios sementara, bisa segera dibangun kembali dan cepat selesai. Sehingga warga muslim Tolikara khususnya juga punya tempat yang representatif untuk menjalankan sholat," pungkasnya.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Tragedi Tolikara Sebabkan Putra Imam Shalat Idul Fitri Trauma

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Tragedi pelemparan batu dan pembakaran kios yang menjalar ke rumah warga hingga mushollah Baitul Muttaqin saat sholat Idul Fitri sedang berlangsung di Karubaga, Tolikara, Jum'at (17/07/2015) pekan lalu, itu menyisakan kesedihan dan trauma yang mendalam bagi sebagian korban.

Salah satunya adalah putra dari Imam shalat Iedul Fitri saat itu, Ali Muchtar yang masih berusia 13 tahun. "Putra saya yang umur 13 tahun itu sampai sekarang masih mengalami trauma, namanya Dimas Firmansyah," kata istri Ali Muchtar, Siti Suma'ah kepada Anggota JITU Achmad Fazeri di salah satu mess koramil Tolikara, Kamis (23/7/2015).

Siti menuturkan, anaknya masih merasa ketakutan dan susah tidur saat malam hari. "Kalau malam susah tidur, pindah ke sana pindah ke sini, lihat jendela," kata Siti.

Siti menegaskan, bahkan selama dua hari pasca kejadian itu, pada siang hari putranya sering mengigau sendiri dan ketakutan jika melihat segerombolan orang. "Itu begitu karena putra saya trauma toh," lanjut Siti.

Selain itu, Siti mengungkapkan, dari tragedi tersebut semua harta yang ia miliki seperti kios dan rumahnya ludes terbakar.

"Saya keluar rumah untuk sholat Ied itu tidak membawa apa-apa. Namanya sholat cuma bawa baju yang melekat di badan sama mukena toh," kenangnya dengan raut wajah lesu.

Hingga berita ini diturunkan, Siti beserta keluarganya masih menumpang di salah satu mess Koramil Tolikara. Rencananya, ia akan mengunjungi putranya yang ada di kota Malang untuk memeriksa putranya yang sampai saat ini masih trauma.

"Insya Allah saya mau pulang ke Jawa untuk memeriksakan anak saya," pungkas Siti.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

GIDI Denda Warga Tolikara yang Tidak Mengecat Simbol Bendera Israel

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat rumah atau kiosnya dengan bendera Israel.

"Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios," kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), kepada Republika.co.id di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7/2015).

Agil menuturkan pengecatan ruko, rumah, dan trotoar jalan diwajibkan dengan warna biru dan putih. Dalam kegiatan itu, lanjutnya, pihak GIDI menjelaskan kepada warga bahwa instruksi pengecatan tersebut dalam rangka menyambut kedatangan pendeta dari Israel.

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI di Jayapura, acara seminar KKR Internasional DIGI yang berlangsung pada 15 Juli-19 Juli di Kabupaten Tolikara dihadiri pendeta asal Israel, yakni Benjamin Berger.

Tidak hanya penduduk Muslim, seluruh masyarakat Tolikara ikut diwajibkan mengecat rumah mereka dengan warna bendera Israel. Pantauan Republika.co.id ruas jalan dan ruko-ruko pedagang dicat berwarna biru putih. "Saya ikut cat saja daripada harus bayar Rp 500 ribu," ujarnya.

Sumber : Republika | Editor : Ally | Jurniscom

Warga Muslim Tolikara Shalat Jum’at di Kantor Koramil

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Siang ini, Jum'at (25/07/2015) warga muslim Tolikara menunaikan sholat Jum'at di dalam kantor Koramil Tolikara setelah Darem Tri Yuniarto memberikan jaminan keamanaan.

"Kita jamin keamanannya karena memang situasi masyarakat sudah kondusif dan tidak ada larangan," kata Tri usai melakukan mediasi dengan TPF Komat Tolikara bersama Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial di kantor Koramil Tolikara, Jum'at (25/07/2015).

Tri juga menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi siapapun yang ingin melaksanakan ibadah sholat Jum'at karena menurutnya kebebasan dalam menjalankan ibadah itu dijamin dan dilindungi negara.

"Ibadah itu amanat undang-undang dan dilindungi negara. Toleransi antar warga sebetulnya sudah terjalin sejak dulu," tandasnya.

Untuk sholat Jum'at yang akan datang, selama musholla sementara yang akan dibangun di halaman Koramil, menurut Tri, tidak perlu lagi adanya kemananan khusus sebab kondusi sudah kondusif.

"Kita sudah komunikasikan dengan tokoh agama gereja dan itu tidak ada masalah," tegas Tri.

Tri sendiri berharap dalam waktu satu minggu kedepan musholla sementara sudah selesai dibangun sehingga warga muslim Tolikara sudah bisa menjalankan ibadah sholat.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Bupati Tolikara : Soal Pembangunan Musholla Itu Urusan GIDI

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Daerah Tolikara melalui Bupati Usman Winambo menegaskan bahwa peletakan batu pertama untuk bangunan mushola sudah dilakukan di depan mess koramil Tolikara.

"Mushola kita sudah peletakkan batu pertama di koramil," kata Usman kepada wartawan, Kamis (24/07/2015) sore.

Namun, saat ditanya lebih lanjut soal pembangunan kembali bangunan mushola, Usman mengatakan bahwa itu merupakan urusan gereja dengan tanah adat yang punya wilayah di Tolikara.

"Soal komentar itu (pembangunan musholla,red) saya tidak bisa tanggapi karena itu selalu ada urusan dengan gereja GIDI. Saya hanya bicara yang bisa saya jawab," tandas Usman.

Sebagaimana diketahui, Bupati Usman Wanimbo bersama dengan Pangdam Cenderawasih Papua, Kapolda Papua, Kapolres Tolikara, Tokoh Islam Tolikara, Tokoh Gereja Tolikara, dan beberapa pihak terkait lainnya telah melakukan peletakkan batu pertama bangunan kios dan pasar untuk warga Tolikara, Kamis (24/07/2015) sore.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Simbol Bendera Israel Dibuat Guna Sambut Peserta Seminar Internasional GIDI

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Kepala Dewan Adat Wilayah Tolikara, Jhon Bogum mengatakan bahwa simbol bendera Israel yang terpampang di rumah-rumah warga Kristen Tolikara dibuat untuk menyambut orang-orang Yahudi dari gereja di luar Papua yang datang ke Tolikara untuk mengikuti seminar Internasional GIDI.

"Itu mereka mau datang ke Papua untuk warga Tolikara. Itu Yahudi orang-orang gereja ke sini. Itu penyambutan saja buat mereka," kata Jhon saat dikonfirmasi sejumlah wartawan usai peletakkan batu pertama bangunan kios dan pasar untuk warga Tolikara, Kamis (24/07/2015) sore.

John juga membenarkan adanya provokasi dari pemimpin gereja di luar wilayah Tolikara yang menyebabkan tragedi penyerangan terhadap umat Islam dan pembakaran masjid Baitul Muttaqien pada Jumat (17/7/2015) lalu.

"Iya itu benar sekali," ujar John.

Sementara itu, di waktu yang berbeda Komando Kompi Satgas Pengamanan Daerah Rawan (Pam Rahwan) Yonif 756  Lettu Infantri Wahyu H. mengatakan bahwa ada sebuah bendera Israel yang dibawa oleh massa saat terjadi tragedi tersebut.

"Memang bendera-bendera Israel itu ada di bawa dengan diikat pada kayu. Itu ada selama kegiatan seminar GIDI berlangsung. Saat penyerangan terjadi saya lihat ada satu bendera Israel yang dibawa masaa," ungkap wahyu kepada wartawan di depan posko Yonif 756/ WMS di Tolikara, Jum'at (25/07/2015) pagi.

Sejauh pantauan awak JITU di lapangan, memang logo bendera Israel tersebut tampak di beberapa dinding kios serta rumah warga di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Para Tokoh Muslim Australia Tolak Kebijakan “Anti Ekstremisme” Pemerintah

MELBOURNE (Jurnalislam.com) – Para pemimpin Muslim mengkritik kebijakan de-radikalisasi pemerintah Australia, mengatakan bahwa kebijakan itu berfokus pada langkah-langkah penegakan hukum dan risiko yang berkontribusi terhadap stereotip negatif tentang Islam.

Kuranda Seyit, sekretaris Dewan Islam Victoria dan pemimpin di komunitas Muslim Victoria, mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Kamis (23/07/2015) bahwa kebijakan tersebut "bersifat menghukum" dan berpotensi mengasingkan pemuda yang kecewa.

"Kebijakan ini mengirimkan pesan bahwa Anda tidak diinginkan, sehingga bisa mendorong orang-orang muda yang tidak puas masuk ke tangan kelompok radikal," kata Seyit. "Dari perspektif tersebut, kebijakan itu menjadi kontra-produktif. Kebijakan ini juga kontra-produktif dalam hal tidak memberikan orang pilihan apapun untuk rehabilitasi atau reintegrasi. "

Sejak tahun lalu, Australia merasa khawatir tentang warga negaranya bergabung atau mendukung kelompok pertempuran di Timur Tengah yang bisa berdampak pada negara jika mereka kembali.

Bulan lalu, Perdana Menteri Tony Abbott memperkenalkan hukum yang kontroversial yaitu setiap warga Australia pemegang kewarganegaraan ganda yang diduga terlibat dalam "terorisme" dapat dilucuti kewarganegaraannya.

Australia telah melarang warganya bepergian ke Suriah kecuali mereka memiliki "tujuan yang sah" untuk berada di sana – kebijakan yang dikritik kelompok penilai hak-hak sipil karena menempatkan beban pembuktian pada individu.

Komentar Seyit keluar sehari setelah presiden Asosiasi Muslim Lebanon yang kuat, yang berbasis di Sydney mengutuk keras pendekatan deradikalisasi pemerintah, menolaknya sebagai kebijakan yang "sia-sia" dan "berantakan".

Dalam sebuah opini pada hari Rabu, Samier Dandan menggambarkan kebijakan tersebut  usang dan sederhana, serta menekankan pada penegakan hukum bukannya berfokus pada faktor-faktor sosial, seperti yang disarankan oleh akademisi internasional.

Dia mengkritik pemerintah yang baru-baru ini mengatakan penyebutan radikalisasi "seolah-olah adalah hasil dari ideologi Islam," dan mengkritik undang-undang kewarganegaraan yang baru.

Seyit, seorang guru di sebuah sekolah Islam, menyatakan persetujuannya dengan apa yang dikatakan Dandan, dan mengatakan bahwa kebijakan de-radikalisasi adalah sia-sia.

Dia mendukung kritik Dandan mengenai bahasa yang digunakan dalam diskusi KTT melawan kekerasan ekstremisme terakhir.

"Kebijakan ini melanggengkan stereotip dan asumsi bahwa Islam secara intrinsik terkait dengan semacam ideologi ekstremis," katanya, kekesalannya tampak jelas. "Kebijakan ini juga tidak menyebutkan masalah generik ekstremisme yang ada di supremasi kulit putih dan kelompok Neo Nazi serta ideologi agama lainnya."

Seyit mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa bahasa yang digunakan oleh pemerintah Abbott masuk ke dalam narasi divisi dalam masyarakat, yang "menyebabkan munculnya kelompok anti-Islam seperti Reclaim Australia."

"Semua orang sekarang berpikir ada epidemi teroris yang mengancam setiap warga Australia, yang menimbulkan bahaya besar bagi kohesi sosial," ia memperingatkan.

Seyit juga menyuarakan keprihatinannya bahwa pemerintah tidak mencari umpan balik berbasis luas dari masyarakat Muslim Australia, mengacu pada pertemuan yang ia hadiri bersama Jaksa Agung George Brandis tahun lalu sebagai "tokenisme" murni.

"Itu bukan dialog dua arah. Kami sedang dibicarakan dalam pertemuan itu, "katanya.

Seyit menggarisbawahi bahwa masyarakat Muslim Australia menginginkan "pendekatan yang preventif dan rehabilitatif daripada pendekatan semacam hukuman yang diambil pemerintah saat ini."

Juga pada hari Kamis, Abbott merilis Strategi Kontra-Terorisme Australia, cetak biru kontra-terorisme nasional jangka panjang yang komprehensif.

Sebuah pernyataan dari kantor Perdana Menteri menyatakan: "Australia saat ini menghadapi ancaman terorisme yang paling signifikan sepanjang sejarah bangsa kita."

Pernyataan ini mengingatkan bagaimana tingkat Siaga Umum Terorisme Nasional meningkat tinggi pada bulan September, yaitu ketika negara mengalami dua serangan – dengan enam serangan lain yang diduga gagal – dan melemparkan tuduhan terhadap 23 orang sebagai hasil operasi kontra-terorisme.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

 

Tentara Zionis Israel Bunuh Seorang Pria Palestina Saat Menolong Anaknya

JERUSALEM (Jurnalislam.com) – Tentara penjajah Israel pada hari Kamis (23/07/2015) membunuh seorang pria Palestina di Tepi Barat ketika sedang menolong anaknya dari pasukan zionis yang mencoba untuk menangkapnya.

Saksi mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasukan Israel menembak Falah Hamdi Abu Maria di kota Beit Ummar.

Laporan medis mengatakan dia ditembak di dada.

"Puluhan warga Palestina mulai tiba di rumah Abu Maria. Kemarahan merebak di kota," tambah saksi tersebut.

Pada hari Rabu, pasukan militer Israel membunuh seorang pemuda Palestina di Tepi Barat bagian utara.

Lebih dari 20 warga Palestina telah tewas dan 2.156 lainnya telah ditahan oleh militer Israel sejak awal  tahun 2015, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengatakan dalam sebuah laporan yang dikeluarkan awal bulan ini.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Pemda Tolikara Bentuk Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial

TOLIKARA (Jurnalislam.com) – Pemerintah Daerah Tolikara melalui bupati Usman Wanimbo telah membentuk Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial untuk Tolikara.

"Tim pemulihan pasca bencana sosial dibentuk untuk melakukan dua tugas pokok," kata Ketua Tim Pemulihan Pasca Bencana Sosial, Pdt. Edy Range Tasak saat berdiskusi dengan Tim Pencari Fakta (TPF) Komat Tolikara di Kantor Bupati Lama Tolikara, Kamis (24/07/2015).

Pertama, kata Edy, yaitu rekonsiliasi dengan ketua Ernes Enjeleka yang bertugas memediasi antara semua korban baik putra daerah (pribumi,red) maupun pihak pendatang.

"Korbannya itu bukan seluruh umat muslim, tetapi ada yang non-muslim," ujar Edy.

Edy menyampaikan, pihaknya sudah mendata semua korban akibat tragedi yang terjadi pada Jum'at (17/07/2015), akan tetapi belum selesai semuanya.

"Mungkin besok data-data sudah kami rampungkan dan akan kami rilis," imbuhnya.

Edy menyampaikan dalam rekonsiliasi yang dilakukan tim adalah bagaimana mengedepankan hubungan harmonis yang telah terbangun lama di antara penduduk asli Tolikara dengan para pendatang.

"Kami menjembantani supaya tidak ada pihak yang merasa disepelekan, baik pendatang maupun penduduk asli," tegas Edy.

Kedua, yaitu rekontruksi bangunan yang terbakar dalam tragedi tersebut, baik bangunan kios, mushola maupun rumah warga.

"Itu yang akan kita lakukan sampai adanya perdamaian umum. Kita sudah melakukan mediasi dengan gereja gereja GIDI, kader-kader dengan warga pendatang. Sehingga kedepan terjalin keharmonisan itu lagi," demikian Edy.

Edy menambahkan, jika dirinya tidak ingin ada ekses yang semakin melebar ke tempat-tempat lain. Maka pihaknya akan terus meminimalisir supaya tidak terjadi konflik baru dengan segera meredamnya.

"Saya mewakili Pemda Kabupaten Tolikara mengucapkan terimakasih atas kehadiran saudara-saudara semua," tandas Edy.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom