Kapolres Tolikara : Tragedi Tak akan Terjadi, Jika Presiden GIDI Berkomunikasi dengan Jemaatnya

TOLIKARA (Jurnalislam.com) –  Sebelum tragedi Tolikara pecah, Kapolres Tolikara, AKBP Suroso, SH mengaku telah meminta Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) untuk mencabut surat edaran yang melarang umat Islam melaksanakan shalat Iedul Fitri. 

Menurut Suroso, suara presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) itu didengar oleh seluruh umat nasrani di wilayah Papua karena punya kapasitas. Selain memiliki kekuatan atau power, ia juga menjadi pimpinan gereja GIDI di tanah Papua.

"Makanya sebelum tragedi Tolikara terjadi saya terus komunikasi dengan presiden GIDI, selaku pimpinan gereja GIDI di Tolikara khususnya dan Papua pada umumnya," kata AKBP Suroso kepada wartawan di Kantor Polres Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Suroso mengatakan, dirinya yakin jika komunikasi kepada seluruh warga itu dilakukan oleh presiden GIDI, maka tragedi itu tidak akan pernah terjadi. Tetapi, lanjutnya, ia tidak tahu sudah sejauh mana hal itu dilakukan pihak gereja GIDI.

"Komunikasi saya tidak pernah putus, Pak. Saya melakukan komunikasi itu untuk terus mengingatkan," kata Suroso.

Selain itu, Suroso mengatakan bahwa pada hari Selasa (14/07/2015) meski tidak ada komunikasi dengan pihak GIDI tetapi ia berharap bupati dan presiden GIDI sudah mensosialisasikan kepada seluruh peserta KKR Seminar Internasional maupun warga muslim di Tolikara.

"Adapun Rabu (15/07/2015) saya juga berkomunikasi lagi dengan presiden GIDI, sebab pada hari itu akan digelar acara pembukaan KKR Seminar Internasional," ungkap Suroso.

"Dan pada hari itu pula (Rabu, 15/07), terjadi perang antar suku di Panaga," imbuhnya.

AKBP Suroso menyampaikan jika ia menerima informasi mengenai perang antar suku di Panaga tersebut sekitar pukul 08.00 WIT, kemudian ia pun melaporkan hal itu ke bupati.

"Jadi, akhirnya saya tidak bisa hadir dalam acara pembukaan KKR Seminar Internasional GIDI. Apa yang disampaikan presiden GIDI saya juga tidak tahu," pungkas AKBP Suroso.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

500 Tahun Islam di Papua, Dari Raja Ampat Hingga Sultan Papua

Gema Takbir mengumandangkan kebesaran Allah di nusantara ternyata meluas, bahkan hingga ke Papua. Lautan luas, diterabas, ombak diterjang oleh muslim untuk menyiarkan Islam ke penjuru nusantara. Di bumi Papua, kita dapat merasakan kehadiran dakwah Islam, bahkan sejak lima ratus tahun yang lalu.

Papua sendiri telah dikenal sejak lama. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Papua disebut Janggi. Pelaut Portugis yang pernah singgah di Papua tahun 1526-1527 menyebutnya ‘Papua.’ Namun ada pula yang menyebutnya Isla de Oro (Island of Gold). Kemiripan fisik orang Papua dengan orang Afrika membuat pelaut Spanyol menyebutnya ‘Nieuw Guinea’, merujuk pada wilayah Guinea di Afrika Barat.[1] Papua, mungkin juga berasal dari bahasa Melayu, pua-pua, yang berarti keriting. Istilah ini dipakai oleh William Mardsen tahun 1812, dan terdapat dalam salah satu kamus bahasa Melayu -Belanda karya Von der Wall tahun 1880, dengan kata ‘papoewah’ yang berarti orang yang berambut keriting.[2]

Istilah Papua sendiri tampaknya berasal dari bahasa Tidore, Papo Ua, yang berarti tidak bergabung atau tidak bersatu. Maksudnya adalah wilayah luas dan tanah besar itu (Papua) tidak termasuk ke dalam induk kesultanan Tidore.[3]

Berbagai sebutan untuk Papua menyiratkan pada kita, akan keragaman bangsa yang berinteraksi dengan orang-orang Papua. Salah satu bangsa yang diketahui berhubungan dagang dengan orang-orang Papua adalah pedagang Cina. Pertukaran barang seperti porselin dan tembikar terjadi diantara mereka. Bahkan di kalangan masyarakat Seruni, terdapat keturunan Cina. Hubungan lain tercipta antara Kerajaan Majapahit dengan orang-orang Papua. Terutama dengan penduduk Papua di Onin (Wwanin), Fakfak. Hubungan ini diketahui dari SyairNegarakertagama karya Empu Prapanca (1365M), dalam sebuah bait syair disebutkan kata Wwanin (Onin, Fakfak) dan Sran (Kowiai atau Kaimana).[4]

Tak hanya dengan bangsa di Asia, para penjelajah Eropa juga telah mengunjungi Papua sejak abad ke 16. Tahun 1526, misalnya, Gubernur Portugal pertama di Maluku bernama Jorge de Menesez mengunjungi Pulau Waigeo (Raja Ampat). Tahun 1545, Kapten Ynigo Ortiz de Retez  dari Spanyol mencapai sekitar Sarmi, di muara Sungai Mamberamo. Ia kemudian memberi nama pulau itu (Papua) Nueva Guinea.[5] Hubungan orang Papua, yaitu Raja Waigeo dengan orang Portugis bisa ditelusuri dari catatan perjalanan Miguel Roxo de Brito, yang menjelajah ke Raja Ampat tahun 1581. Dari catatan De Brito, tampaknya dapat kita simpulkan Raja Waigeo telah memeluk agama Islam.[6]

Peta Papua di masa lalu. Sumber foto: Papuaweb.org

Peta Papua di masa lalu. Sumber foto: Papuaweb.org

Kontak-kontak orang-orang Papua dengan berbagai pihak tersebut biasanya sebatas perdagangan. Namun kontak orang-orang Papua dengan muslimlah yang kemudian memberikan dampak yang berbeda. Kontak orang-orang Papua dengan muslim tak hanya terbatas pada soal perdagangan, namun juga perubahan hidup mereka dengan memeluk Islam.

Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat hingga Fakfak. Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua. Kebanyakan sumber sejarah masuknya Islam di Papua berdasarkan sumber-sumber lisan masyarakat setempat. Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam bukanlah dibawa dari luar seperti Tidore atau pedaganh Muslim, tetapi Papua sudah Islam sejak Pulau Papua diciptakan oleh Allah. Versi ini tentu saja tidak bisa diterima, namun secara tersirat versi ini menandakan Islam di Papua telah menjadi kepercayaan yang menyatu dengan masyarakat setempat.[7]

Versi lain adalah versi Aceh. Versi ini berdasarkan sejarah lisan dari daerah Kokas (Fakfak) yang menyebutkan Syekh Abdurrauf dari Kesultanan Samudera Pasai mengirim Tuan Syekh Iskandar Syah untuk berdakwah di Nuu War (Papua) tahun 1224. Syekh Iskandar kala itu membawa beberapa kitab yakni mushaf Al Qur’an, kitab hadits, kitab tauhid dan kitab kumpulan doa. Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip daun lontara. Beberapa manuskrip tersebut diyakini selamat hingga saat ini. Namun versi ini perlu dipertimbangkan kembali, mengingat btu nisan Sultan pertama Pasai, Malik As Shalih di Pasai berangka tahun 1297M. Artinya, abad ke 13 adalah masa-masa awal Kesultanan Samudera Pasai. Dakwah Kesultanan Samudera Pasai saat itu (abad ke 13) sepertinya masih terkonsentrasi di Sumatera, mengingat saat itu, wilayah-wilayah lain di Sumatera pun belum sepenuhnya memeluk Islam. Manuskrip warisan yang disimpan hingga kini, akan lebih baik jika diteliti secara filologi.

Menurut tradisi lisan lain di Fakfak, Islam disebarkan oleh mubaligh bernama Abdul Ghafar asal Aceh pada tahun 1360-1374 di Rumbati. Makam dan Masjid Rumbati menjadi peninggalannya. Namun informasi lain menyebut Abdul Ghafar datang ke Rumbati tahun 1502 M. Kemungkinan ini perlu ditinjau kembali, terutama dalam hal waktu masuknya Islam. Kemungkinan Abdul Ghafar datang pada abad ke 16, bersamaan dengan masa keemasan Kesultanan Ternate dan Tidore sebagai bandar jalur sutera dan meluaskan kekuasaannya dari Sulawesi hingga Papua.[8]

Versi lain masuknya Islam di Papua adalah versi Arab. Versi ini menyebutkan Islam di Papua disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al Qathan (Syekh Jubah Biru) dari Yaman , yang terjadi pada abad ke 16. Hal ini sesuai dengan adanya Masjid Tunasgain yang dibangun sekitar tahun 1587. Informasi lain menyebut Syekh Jubah Biru datang pada tahun 1420M.[9]

Pendapat yang tampaknya lebih kuat mengenai masuknya Islam di Papua adalah datangnya Islam di Papua melalui Kesultanan Bacan (Maluku). Di Maluku terdapat empat Kesultanan, yaitu, Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore (Moloku Kie Raha atau Mamlakatul Mulukiyah).[10]  J.T. Collins, menyebutkan, berdasarkan kajian linguistik, Kesultanan Bacan adalah Kesultanan tertua di Maluku. Syiar Islam oleh Kesultanan Bacan disebarkan di wilayah Raja Ampat.

Terbentuknya Kolano Fat (Raja Ampat atau Raja Empat, dalam bahasa Melayu) di kepulauan Raja Ampat oleh Kesultanan Bacan, dapat dilihat dari nama-nama gelar di kepulauan tersebut; (1)  Kaicil Patra War, bergelarKomalo Gurabesi (Kapita Gurabesi) di Pulau Waigeo, (2) Kaicil Patra War bergelar Kapas Lolo di Pulau Salawati. (3) Kaicil Patra Mustari bergelar Komalo Nagi di Misool, (4) Kaicil Boki Lima Tera bergelar Komalo Boki Sailia di Pulau Seram.Isitilah Kaicil adalah gelar anak laki-laki Sultan Maluku. Menariknya, nama Pulau Salawati menurut tutur lisan masyarakat setempat,, diambil dari kata Shalawat.[11]

Ada beberapa nama tempat yang merupakan pemberian Sultan Bacan. Seperti Pulau Saunek Mounde (buang sauh di depan), Teminanbuan (tebing dan air terbuang), War Samdin (air sembahyang). War Zum-zum (penguasa atas sumur) dan lainnya. Nama-nama tersebut merupakan bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi Raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat. Kemungkinan Kesultanan Bacan menyebarkan Islam di Papua sekitar pertengahan abad ke 15 dan kemudian abad ke 16, terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat, setelah para pemimpin-pemimpin Papua di Kepulauan tersebut mengunjungi Kesultanan Bacan tahun 1596.[12]

Pendapat ini didukung pula oleh catatan sejarah Kesultanan Tidore ‘Museum Memorial Kesultanan Tidore Sinyine Malige’, yang menyebutkan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) melakukan ekspedisi ke Papua dengan satu armada kora-kora. Ekspedisi ini menyusuri Pulau Waieo, Batanta, Salawati, Misool di Kepulauan Raja Ampat. Di wilayah Misool, Sultan Ibnu Mansur yang sering disebut Sultan Papua I, mengangkat Kaicil Patra War, putra Sultan Bacan dengan gelar Komalo Gurabesi. Kacili Patra War kemudian dinikahkan dengan putri Sultan Ibnu Mansur, yaitu Boki Thayyibah. Dari penikahan inilah Kesultanan Tidore memperluas pengaruhnya hingga ke Raja Ampat bahkan hingga Biak.[13]

 

Peta Indonesia Timur. Sumber foto: Andaya, Leonard Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

Peta Indonesia Timur. Sumber foto: Andaya, Leonard Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

 

Penyebaran Islam kemudian juga disebarluaskan ke berbagai wilayah pesisir Papua Barat, seperti Kokas, Kaimana, Namatota, Kayu Merah, Aiduma dan Lakahia oleh para pedagang muslim seperti dari Bugis, Buton, Ternate dan Tidore. Kehadiran orang Buton diperkuat dengan kesaksian Luis Vaes de Torres di tahun 1606. Ia menyebutkan di daerah pesisir Onin (Fakfak) telah menetap orang Pouton (Buton) yang berdagang dan menyebarkan agama Islam.[14]

Syi’ar Islam di Papua menjadi lebih mudah karena kesamaan budaya dan bahasa. Bahasa yang dipakai tergolong bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia, seperti bahasa di Bacan dan Sula (bahasa Biak di Raja Ampat; Tobelo dan bahasa Onin di Fakfak dan Seram; maupun bahasa non Austronesia seperti di Ternate; Tidore dan Jailolo karena masuk golongan Bahasa Halmahera Utara, yaitu bahasa Galela). Bahasa Onin telah lama digunakan sebagai lingua franca yang berguna sebagai bahasa untuk perdagangan dan penyebaran agama Islam. Bahasa ini dipakai oleh kalangan pedagang dan elit (pemimpin masyarakat) yang terdapat di pesisir pantai selatan ‘Kepala Burung’ dan Semenanjung Bomberey (Fakfak dan Kaimana).[15]

Peta Raja Ampat. Sumber foto: Andaya, Leonard Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

Peta Raja Ampat. Sumber foto: Andaya, Leonard Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

Kemudahan komunikasi dengan para pemimpin masyarakat Papua, yang kemudian memeluk Islam, mendorong berdirinya kerajaan-kerajaan (Petuanan) otonom di bawah Kesultanan Tidore. Kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terdapat di Raja Ampat (Kolano Fat), yang tetap terpatri hingga kini sebagai identitas Pulau Papua. Kerajaan di Raja Ampat terdiri dari Kerajaan Waigeo (yang berpusat di Weweyai), Kerajaan Salawati (berpusat di Sailolof), Kerajaan Misool (berpusat di Lilinta) dan Kerajaan Batanta.[16] Kerajaan-kerajaan ini berdiri dengan perangkatnya masing-masing, yang diberi gelar oleh Kesultanan Tidore, sebagai imbal atas upeti kerajaaan tersebut kepada Kesultanan Tidore.[17]

Di wilayah Fakfak dan Kaimana kerajaan-kerajaan (Petuanan) ini terbagi menjadi sembilan, yaitu Petuanan Namatota, Komisi, Fatagar, Ati-ati, Rumbati, Pattipi, Sekar, Wertuar dan Arguni. Pengaruh Kesultanan Tidore di Kerajaan Wertuar misalnya, dapat dilihat dari pelantikan Raja Wertuar VII yang dilakukan oleh Sultan Tidore, Muhammad Tahir Alting pada tahun 1886. Sedangkan di Kampung Ugar, Fakfak, terdapat dokumen  silsilah Raja-Raja Ugar beraksara Arab, yang tertulis tahun 1929 M.[18]

Pengaruh Islam kepada masyarakat papua dapat diperkirakan dengan melihat penerapan ajaran Islam yang terdapat di masyarakat Papua saat itu. Penerapan hukum Islam, misalnya, telah diterapkan masyarakat Pulau Misool, hinggak akhir masa kolonial Belanda. Di sana terdapat Hakim Syara’ yang bertugas mengurusi perihal perkawinan, kematian dan sholat berjamaa’ah. Kehadiran Masjid-masjid tua, seperti misalnya Masjid Tunasgain, yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1587. Atau di Patimburak, yang diperkirakan sejak abad ke 19.[19]

Kehadiran Masjid ini selain peninggalan fisiknya, dapat pula kita perkirakan kedudukannnya dalam masyarakat. Kehadiran Masjid sejak abad ke 16, menandakan sejak lama telah dilaksanakannya pendidikan Islam melalui khotbah Jum’at. Kehadiran Masjid bisa pula kita perkirakan berfungsi sebagai tempat pendidikan, meski dalam bentuk yang sederhana di masyarakat. Pola pendidikan sederhana ini dapat kita telusuri dengan ditemukannya kitab Barzanji, bertanggal 1622 M dalam bahasa Jawa Kuno dan teks khutbah Jum’at yang bertarikh 1319 M.[20]Kehadiran kitab Barzanji, dapat kita perkirakan sebagai upaya untuk menumbuhkan tradisi Islam dalam masyarakat.

Pengaruh Islam lainnya dalam masyarakat, dapat dilihat dari nama-nama yang terdapat dalam masyarakat papua pribumi. Di desa Lapintol dan Beo, pada umumnya, kaum pria memakai nama-nama Arab seperti Idris, Hamid, Abdul Shomad, atau Saodah untuk perempuan.[21] Islam juga mengubah penampilan masyarakat. Jika di pedalaman Papua, masyarakat aslinya belum berpakaian, dan hanya menutup bagian vitalnya saja, maka di pesisir penduduk Papua keadaan sangat berbeda.[22] Tak dapat dipungkiri, Syiar Islam di Papua mengalami proses yang gradual. Masih dapat ditemukan muslim Papua saat itu yang mempercayai kepercayaan Animisme atau kepercayaan lokal lainnya. Proses penyebaran Islam melalui kepala suku atau pemimpin masyarakat, membuat syi’ar Islam sangat bergantung kepada kepedulian kepala suku tersebut. Syiar Islam di Papua sedikit banyak juga terpengaruh oleh dinamika yang terjadi di Maluku.

Pasang-surutnya kekuasaan Kesultanan Tidore mempengaruhi kehidupan yang terjadi di Papua. Kehadiran bangsa asing yang menjajah Maluku, seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda berpengaruh besar terhadap kekuasaan Kesultanan Tidore dan Ternate. Kedudukan Kesultanan Tidore pada masa Sultan Saifuddin yang sebelumnya sejajar dengan Belanda, lama kelamaan mengalami masa surut.[23]

Konflik internal dan suksesi kepemimpinan di Kesultanan Tidore ikut menyeret Belanda ke dalam pusaran konflik. Pergantian kepemimpinan di Kesultanan Tidore lambat laun melibatkan campur tangan VOC (Belanda). Kesultanan Tidore dan Ternate yang saling bertikai, memaksa keduanya bertekuk di bawah VOC dan menjadivasal VOC. Hal ini berdampak pada pengaruh Kesultanan Tidore di Papua. Kesultanan Tidore mulai kehilangan pengaruhnya di Papua terutama sejak abad ke 18.[24]

Kondisi Kesultanan Tidore yang lemah, membuat seorang Pangeran Kesultanan Tidore, yaitu Pangeran Nuku memberontak terhadap kekuasaan Tidore. Pangeran Nuku kemudian menjadi simbol perlawanan terhadap VOC yang bersekutu dengan Sultan Tidore serta Ternate.Perlawanan Pangeran Nuku yang anti Belanda, menggerogoti kekuasaan Belanda di Maluku. Pangeran Nuku tidak saja mampu memperoleh dukungan dari orang-orang di Tidore, Ternate, Seram, dan juga Halmahera, tetapi ia terutama memperoleh dukungan dari orang-orang Papua terutama di Raja Ampat. Dukungan orang-orang Papua di Raja Ampat, membuatnya bergelar Sultan Papua II. Meneruskan Sultan Ibnu Mansur (Sultan Tidore X) yang bergelar Sultan Papua I.[25]

Kekuatan pasukan Pangeran Nuku begitu hebat, terutama saat ia bersekutu dengan Inggris untuk memerangi VOC. Yang menarik, Pangeran Nuku juga disebutkan didukung oleh ulama dan tokoh haji berpengaruh, yaitu Haji Umar. Ambisi Pangeran Nuku untuk membebaskan dan memunculkan kembali empat Kesultanan Maluku memang tak tercapai. Namun ia berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari pengaruh Belanda. Hingga ia wafat (1805), Kesultanan Tidore mampu berdiri tanpa pengaruh Belanda. Namun Semenjak ia wafat, Kesultanan Tidore tak mampu lagi mempertahankan kemerdekaannya. Belanda kembali menguasai Kesultanan Tidore.[26]

Masuknya kembali pengaruh Belanda ke Kesultanan Tidore membawa pengaruh besar di Papua. Belanda akhirnya terjun langsung ke bumi Papua, untuk menegakkan kekuasaannya. Motivasi Belanda menguasai langsung Papua setidaknya terdapat lima motif, (1) Belanda hendak mencegah intervensi asing seperti Inggris ke wilayah Papua. (2) Belanda juga berhasrat untuk melindungi kekuasaannya di Maluku. (3) Belanda memiliki kepentingan ekonomi di Papua, terutama dari hasil produk hutan, laut dan eksplorasi agararia. (4) Melindungi Belanda dari perompak, yaitu Suku Tugeri (Marind-Anim) di Papua. (5) Belanda hendak mendukung penyebaran Kristen (Katolik dan Protestan) di Papua.[27]

Belanda mendirikan benteng pertamanya di Papua, yaitu Benteng Du Bus. Dinamakan Benteng Du Bus, sebagai penghargaan terhadap Komisaris Jenderal Hindia Belanda, L.P.J. du Bus de Gesignies yang mengusulkan dibangunnya pos perdagangan di Papua (1826-1830). Belanda kemudian mengumumkan kepemlikan Raja Netherland atas seluruh wilayah Papua bagian barat, kecuali yang menjadi hak Sultan Tidore di Mansarij, Karandefur, Ambapura dan Umbarpon.[28] Meski Benteng Du Bus tak bertahan lama, namun hal ini menandakan berkuasanya Belanda di Papua secara langsung, setelah selama ini mereka ‘berkuasa’ melalui perantara Kesultanan Tidore. Namun pada kenyataannya Belanda mengalami kesulitan mengontrol Papua bagian barat, terutama pesisir bagian selatan. Di wilayah itu (Fakfak), masyarakat pribuminya beragama Islam, dan secara struktur kekuasaan berbentuk kerajaan (pertuanan) sehingga lebih dekat kepada pengaruh Tidore.[29]

Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900. Sumber foto: Koleksi Foto Tropen Museum Belanda. (http://collectie.tropenmuseum.nl/default.aspx?ccid=208239)

Haji Oea Saraka di Onin (Fakfak). Foto diambil antara tahun 1890-1900. Sumber foto: Koleksi Foto Tropen Museum Belanda. (http://collectie.tropenmuseum.nl/default.aspx?ccid=208239)

Di antara kelima motif Belanda di Papua, mungkin dukungan Belanda terhadap penyebaran Kristen Protestan dan Katolik di Papua, yang paling berpengaruh negatif terhadap syi’ar Islam di Papua. Belanda amat Kristenisasi di Papua. Kristenisasi di Papua di mulai sejak 5 Februari 1855 dengan kehadiran Carl Willem Ottow dan Johann Gottlob Geissler di Mansinam, Manokwari.[30] Mereka berdualah yang kelak dijuliki ‘Rasul Papua’, dan tanggal kehadiran mereka kini diperingati setiap tanggal 5 Februari oleh Gereja Kristen Injili di Papua.[31] Dengan mendukung Kristenisasi di Papua maka, Belanda mendapatkan justifikasi untuk menduduki Papua, menutupi motif utama mereka, mengeruk keuntungan dari tanah Papua.

Di Papua bagian barat, penyebaran Kristen (Zending) bersaing dengan Missi Katolik. Para zending dibantu oleh guru zending yang berasal dari Ambon dan Manado-Sanger. Sedangkan missionaris Katolik dibantu guru yang berasal dari Kei. Kehadiran zending dan missi di Papua bagian barat ini menjadikan penduduk pribumi Papua memeluk Katolik dan Kristen. Namun lain halnya dengan Papua bagian selatan. Di wilayah ini dikuasai missi Katolik, sebagai akibat dari kebijakan Asisten Residen Kroesen. Pada Agustus 1905, missi Katolik dimulai dengan kehadiran Pastor H. Nollen, Pastor P. Braun dan Bruder Roessel di Merauke. Mereka mulai memfokuskan pada kajian bahasa, mengajarkan membaca, berhitung dan menulis. Tahun 1921 missi Katolik mulai mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak Papua.[32]

Di Papua wilayah tengah, lembaga zending Christian and Missionary Alliance membuka pos penginjilan mereka di Baliem. Missi Katolik juga turut serta di wilayah ini. Namun daya cakupan zending lebih luas dibandingkan lainnya. Bagaimanapun, pemerintah kolonial mendukung penuh penyebaran Kristen dan Katolik di Papua,[33] hal ini bertolak belakang dengan sikap mereka terhadap syi’ar Islam di Papua. Tak ada dukungan, misalnya untuk anak-anak muslim pribumi di Papua.[34]

Syi’ar Islam sejak bercokolnya Belanda di Papua, lebih banyak bergantung kepada umat Islam itu sendiri. Tahun 1910, Haji Abdul Majid mulai mendirikan pendidikan Islam di Jayapura dan mendirikan sebuah masjid pertama di Jayapura. Ia pulalah yang menjadi imam masjid tersebut. Di Merauke, tahun 1908, seiring dibukanya perkebunan kapas, pemerintah Belanda mendatangkan orang-orang Jawa di wilayah tersebut. Anak-anak pendatang ini kemudian mempelajari agamanya dengan bantuan guru mengaji.[35]

Tahun 1930, Tengku Bujang, seorang yang berstatus diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda (Digulis), tiba di Merauke dan memulai dakwahnya dengan membangun Masjid Sepadin. Di Masjid inilah ia memulai khotbah Jumat dengan bahasa Indonesia. Ia pula yang mempelopori Sholat Ied di lapangan. Di Merauke ia kemudian membentuk Muhammadiyah. Antara tahun 1933-1936 Muhammadiyah mengirimkan tiga orang mubaligh ke Papua, yaitu Ustadz Jais, Ustadz Asarar dan Ustadz M, Chatib.[36]

Di Fakfak, Muslim Papua membentuk Kesatuan Islam Nieuw Guinea (KING), yang dipimpin oleh Raja Rumbati, yaitu Haji Ibrahim Bauw. Ia kemudian membuka sekolah Islam. Tahun 1933, bersama pembimbingnya, Daeng Umar, ia mendirikan Muhammadiyah Fakfak. Namun hal ini tak berlangsung lama, Haji Ibrahim ditangkap dan Daeng Umar diasingkan ke tempat lain. Tahun 1950, bahkan pekerja-pekerja Muslim yang ada di Jayapura dikembalikan secara besar-besaran ke luar Papua. Jayapura menjadi kosong dari penduduk Muslim. Masjid Jayapura pun dijadikan bar dan restoran.[37]

Pemerintah Belanda memang beriskap diskriminatif terhadap muslim di Papua. Buku-buku agama Islam sulit diperoleh, sehingga didatangkan dari Jawa atau daerah lainnya. Pemerintah Belanda, hanya mendirikan sebuah sekolah untuk anak-anak muslim, yaitu Openbare Vervolg School (O.V.V.S), itupun dilakukan menjelang pengalihan kekuasaan Belanda pada Indonesia ditahun 1960an.[38]

Syi’ar Islam di Papua semakin semarak sejak Papua bergabung dengan Indonesia. Pemerintah kemudian mendirikan berbagai sekolah, termasuk sekolah pendidikan Agama Islam di Papua. Syi’ar Islam kembali menguat sejak dibukanya program transmigrasi di era Orde Baru.[39] Muslim-muslim yang hadir di Papua meneruskan kembali dakwah Islam di Papua yang telah dimulai setidaknya sejak 500 tahun yang lalu, ketika Islam menjadi agama pertama yang masuk ke Papua. Maka sungguh ironis jika umat Islam, yang telah hadir di Papua sejak 500 tahun yang lalu, diintimidasi dalam melaksanakan ibadah dan syi’ar agamanya.

Oleh : Beggy Rizkiyansyah – Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

 


[1] Wanggai, Toni Victor M. 2008. Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua. Disertasi tidak diterbitkan. Jakarta:  Sekolah PascaSarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

[2] Gelpke, J Sollewijn. 1993. On the Origin of the Name Papua. BKI Vol 149 No: 2.Leiden.

[3] Wanggai, Toni Victor M. 2008.

[4] Ibid

[5] Ibid

[6] Gelpke, JHF Sollewijn. 1994. The Report of Miguel Roxo de Brito in His Voyage in 1581-1582 To the Raja Ampat, the MacClur Gulf and Seram. BKI Vol 150 No: 1 Leiden.

[7] Ibid

[8] Ibid

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Ibid

[12] Ibid

[13] Ibid

[14] Ibid

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Sinaga, Rosmaida. 2013. Masa Kuasa Belanda di Papua: 1898-1962. Depok: Komunitas Bambu.

[18] Ibid

[19] Ibid

[20] Ibid

[21] Ibid

[22] Andaya, Leonard Y. 1993. The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Modern Period. Honolulu: University of Hawaii Press.

[23] Ibid

[24] Ibid

[25] Satrio Widjojo, Muridan. 2002. Cross-Cultural Alliance-Making and Local Resistance in Maluku during Revolt of Prince Nuku, c. 1780-1810. Leiden: Universitas Leiden.

[26] Ibid

[27] Sinaga, Rosmaida. 2013.

[28] Ibid

[29] Wanggai, Toni Victor M. 2008.

[30] Sinaga, Rosmaida. 2013.

[31] Wanggai, Toni Victor M. 2008.

[32] Sinaga, Rosmaida. 2013.

[33] Ibid

[34] Wanggai, Toni Victor M. 2008.

[35] Ibid

[36] Ibid

[37] Ibid

[38] Ibid

[39] Ibid

 

Sumber : Jejak Islam

 

Tim Komat Tolikara Salurkan Bantuan Ke Ponpes Al Istiqomah Walesi Papua

WAMENA (Jurnalislam.com) – Tim Komite Umat (Komat) untuk Tolikara bersama beberapa lembaga amil zakat seperti Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat menyalurkan bantuan ke Pesantren al-Istiqomah Distrik Walesi, Jayawijaya, Papua, Ahad (26/7/2015).

Bantuan itu disalurkan setelah tim rombongan Komat Tolikara dan badan amil zakat tersebut beberapa hari ini melakukan investigasi sekaligus juga menyalurkan bantuan dana untuk para korban, serta membangun kios dan Musholla Baitul Muttaqin di Karubaga, Kabupaten Tolikara pasca terjadinya tragedi Idul Fitri di Tolikara.

Perwakilan Dompet Dhuafa, Imam al-Faruq mengatakan bahwa ada cahaya Islam di tanah Papua. Maka dari itu, ia berharap kepada para santri Pesantren al-Istiqomah selalu mempertahankan aqidah, dan mendakwahkan Islam di tanah Papua sebagai generasi penerus perjuangan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.

"Semoga bantuan ini bisa memberikan manfaat buat adik-adik di sini," kata Imam.

Perwakilan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Agus Siswanto menambahkan bahwa tanah Papua itu sangat indah dan begitu melimpah hasil alamnya, sehingga ia pun berharap para santri Ponpes al-Istiqomah memanfaatkan itu untuk berjuang mendakwahkan Islam di tanah Papua.

"Semoga adik-adik di sini bisa selalu semangat dalam menimba ilmu wabil khusus agama Islam sebagai bekal untuk mendakwahkan Islam di sini," kata Agus.

Sementara perwakilan Rumah Zakat Jayapura, Andi Mangewai bersyukur serta juga berharap kepada para santri Ponpes al-Istiqomah untuk terus dan terus bersemangat dalam menuntut ilmu.

"Mudah-mudahan adik-adik di sini bisa menjadi generasi penerus Rasulullah dalam mendakwahkan Islam di tanah Papua," demikian pesan Andi.

Abu Hanifah selaku perwakilan dari Ponpes al-Istiqomah mengucapkan rasa syukur dan terimakasih atas bantuan yang diberikan. Dan berharap bantuan itu bisa bermanfaat untuk para santri.

"Kami atas nama Pelopor Islam Walesi, Kepala Suku Kampung Muslim Walesi serta Pemuda-Pemudi Islam Walesi dan Pengurus Ponpes mengucapkan terima kasih kepada rombongan berserta ustadz Fadhlan," kata Hanifah dalam sambutannya.

Hanifah menegaskan, jika benteng Islam Papua itu ada di lereng gunung kampung Walesi. Maka, lanjutnya, ia sangat berharap bisa mendapatakan dukungan penuh dari saudara-saudara muslim di Indonesia.

"Sebab walesi ini akan dijadikan pusat peradaban Islam di tanah Papua," pungkas Hanifah.

Bahkan Ketua rombongan TPF Komat Tolikara Ustadz Fadhlan Garamathan mengatakan bahwa dirinya yakin jika para santri dari pesantren al-Istiqomah Walesi mampu menjadi generasi para penerus Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dalam mendakwahkan Islam di tanah Papua.

"Jangan dilihat nilainya. Hal terpenting adalah kita (umat Islam) akan terus mendukung pesantren al-Istiqomah ini dalam berjuang mengislamkan tanah Papua," pungkas Fadhlan.*

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom

Uni Jihad Islam Jelaskan Detil Kerjasamanya pada Operasi Azm Taliban

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com)Islamic Jihad Union (IJU), sebuah faksi jihad yang berafiliasi dengan jihad global al Qaeda dan Imarah Islam Afghanistan  (Taliban) beroperasi di Afghanistan dan Pakistan, menjelaskan perannya saat Operasi Azm Taliban di Afghanistan serta keterlibatannya dalam memerangi pasukan pemerintah Pakistan di Waziristan Utara.

IJU menjelaskan operasinya dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situsnya pada 22 Juli. Pernyataan mereka dimulai dengan mengatakan bahwa mereka "berpartisipasi aktif dalam operasi kompleks" di Afghanistan dan di barat laut Pakistan. Di Afghanistan, IJU mengatakan bahwa mereka "terlibat dalam operasi di Afghanistan selatan, provinsi-provinsi timur Paktika, Paktia, dan Nangarhar, dan juga beroperasi di provinsi utara Badakhshan dan Kunduz." Di Pakistan, kelompok beroperasi dengan "Mujahidin Waziristan Utara," yang sepertinya mengarah ke beberapa faksi Taliban, termasuk Gerakan Talibain di Pakistan, Hafiz Gul Bahadar Group, Jaringan Haqqani,  Al Qaeda, dan kelompok-kelompok jihad lainnya yang berbasis di sana.

Di Afghanistan dan Pakistan, "saudara IJU melaksanakan pekerjaan mereka bersama Taliban."

Di Badakhshan, IJU melaporkan telah mengirimkan "ekspedisi pertama" mereka ke sana dan pejuang mereka terlibat dalam pengumpulan dan perencanaan intelijen.

Di Kunduz, IJU mengatakan bahwa "saudara imigran kami terlibat dalam pendidikan saat penaklukan Kunduz," tampaknya menyebut militan asing yang menghadiri kamp pelatihan di provinsi Afghanistan utara.

Di Paktika, faksi jihad IJU dilaporkan menyergap sekelompok tentara  boneka Afghanistan di kawasan pegunungan. Tiga hari sebelum serangan ini terjadi IJU juga mengatakan bahwa mereka mampu menghancurkan Humvee milik Afghanistan Army dengan granat berpeluncur roket. Selain itu, IJU mengatakan bahwa mereka menyerang sebuah kamp militer Afghanistan dengan bantuan "tiga bersaudara Arab," dari al Qaeda.

IJU juga mengatakan bahwa penembak jitu mereka melakukan lebih dari 10 operasi dalam beberapa hari terakhir. Serangan "Mansour Turki".

IJU juga menyebut delapan pejuangnya yang gugur dalam pertempuran di Pakistan dan Afghanistan. Para pejuang tersebut berasal dari negara-negara Asia Tengah Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kyrgyzstan:

    – Ja'far Kukes, dari Kazakhstan, gugur  saat berperang dengan tentara Pakistan di Mirali, Waziristan Utara, yang dikenal sebagai kubu IJU.
    – Muhammad (dari Kazakhstan), Mus`ab (dari Tajik), dan Sunnatullah (dari Uzbek) gugur saat berperang "pasukan Pakistan antek AS di wilayah Waziristan."
    – Ahmad (warga Tajik), "gugur bersama istri dan dua anak perempuannya" dalam serangan udara Angkatan Udara Pakistan di "wilayah Waziristan."
    – Elia (asal Kyrgyz) dan Abu Khalid (asal Uzbek)gugur  di Mir Ali "oleh serangan udara AS."
    – Shuaib (warga Uzbek), gugur  saat menyergap sekelompok pasukan ANA (Afghanistan National Army) di "Afghanistan utara," kemungkinan di Kunduz.

Pembaruan IJU tanggal 22 Juli terjadi satu bulan setelah mereka mengatakan bahwa, bersama dengan Taliban, al Qaeda, dan Harakah Islam Turkistan, "melakukan sejumlah serangan" di Afghanistan timur. Dalam sebuah serangan, para jihadis menyerang sebuah pangkalan militer Afghanistan dan membunuh "banyak tentara antek AS " sebelum bala bantuan tiba.

Di daerah pegunungan di Afghanistan timur, IJU mengatakan bahwa mereka dan al Qaeda melakukan serangan di sebuah pos Afghanistan "menghancurkan semua pertahanan."

IJU telah mempublikasikan hubungan dekat mereka dengan Taliban di masa lalu. Pada Desember 2011, kelompok ini merilis sebuah video yang membahas pelatihan pejuangnya, menunjukkan kerjasama dengan Taliban Afghanistan dan serangan di beberapa provinsi, dan memberikan nama-nama pejuang  yang gugur dalam pertempuran di Afghanistan.

IJU (juga dikenal sebagai Islamic Jihad Group) adalah faksi jihad dari Gerakan Islam Uzbekistan, dan sejumlah besar anggotanya berasal dari Asia Tengah. Sebelum serangan Angkatan Darat Pakistan di Waziristan Utara yang dimulai pada bulan Juni 2014, IJU berbasis di Mir Ali.

IJU telah melancarkan jihad di wilayah Afghanistan-Pakistan selama lebih dari satu dekade. Mereka memelihara hubungan dekat dengan para pemimpin Al Qaeda dan Imarah Islam Afghanistan.

Pemerintah aggressor Amerika Serikat mencatat mereka sebagai organisasi teroris global Specially Designated pada Mei 2005. Anggotanya yang ditahan "telah bersaksi mengenai hubungan dekat antara pemimpin [IJU] dan Syeikh Osama bin Laden serta Syeikh Mullah Omar," kata departemen Luar Negeri AS.

Jaringan IJU di Afghanistan telah berada dalam radar militer AS. Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (International Security Assistance Force -ISAF) mendokumentasikan 19 serangan operasi khusus mereka terhadap IJU antara tahun 2007 dan 2013. 19 serangan tersebut adalah serangan yang telah dipublikasikan, tetapi ada kemungkinan lebih banyak operasi yang belum diungkapkan.

Banyak Muslim Jerman dan Turki berada dalam Islamic Jihad Group. Beberapa pejuangnya disebut sebagai ‘Taliban Jerman,’ dan kelompok ini merilis sebuah video tentang ‘desa Taliban Jerman' di Waziristan pada tahun 2009. Pejuangnya terlihat berlatih di kamp-kamp dan melakukan operasi militer.

Anggota Jerman dari Islamic Jihad Union juga gugur dalam pertempuran di Pakistan. Eric Breininger, seorang pria Jerman yang masuk Islam, syahid saat menyerang sebuah pos militer Pakistan di Waziristan Utara pada 28 April. Tiga pejuang Uzbek juga gugur dalam serangan itu. Breininger dicari karena merencanakan serangan terhadap pangkalan militer dan personil AS di Jerman.

Warga Amerika ada juga yang bergabung dengan Islamic Jihad Group. Pada tahun 2009, dua orang Amerika, Abu Ibrahim al Amriki dan Sayfullah al Amriki, ditampilkan dalam publikasinya yang dirilis oleh jihadis.

Islamic Jihad Group telah menjadi sasaran serangan udara AS di beberapa wilayah kesukuan Pakistan. AS membunuh Najmuddin Jalolov, mantan Amir IJU, dalam serangan udara Predator di Waziristan Utara pada 14 September 2009.

Anggota Turki IJU dilaporkan gugur bersama dengan seorang komandan Al-Qaeda dalam serangan pengecut Predator  (drone) AS di Waziristan Utara pada 19 Juni 2010.

IJU tidak membatasi serangannya hanya di wilayah Afghanistan Pakistan dan Asia Tengah. Pada 8 September 2010, pesawat tak berawak AS membunuh Qureshi, seorang komandan IJU yang melatih pasukan asal Jerman untuk melakukan serangan di negara asal mereka.

Pada bulan Februari 2012, AS menambahkan Mevlut Kar, warga negara ganda Jerman dan Turki yang juga dikenal sebagai Mevlut Zikara, dalam daftar Khusus  Internasional.

Kar adalah anggota dari sel IJU yang berusaha menyerang personel militer di Jerman pada tahun 2007. Sasaran serangan itu termasuk Ramstein Air Base dan Bandara Internasional Frankfurt.
 

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom

Serangan Al-Shabab Hancurkan Hotel di Mogadishu, Setelah Presiden AS Kunjungi Nairobi

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Setidaknya 10 orang tewas dalam serangan bom mobil di sebuah hotel di Mogadishu, ibukota Somalia.

Sirene ambulans dan tembakan segera terdengar setelah ledakan pada hari Ahad (26/07/2015), dekat Jazeera Palace Hotel, yang sering dikunjungi oleh pejabat pemerintah dan tokoh terkemuka dan merupakan rumah bagi beberapa kedutaan.

Mujahidin al-Shabab dengan cepat mengaku bertanggung jawab atas  serangan bom dan senjata terhadap pejabat pemerintah dan pihak sekutu dalam upaya menggulingkan pemerintah boneka Somalia.

"Sebuah bom mobil meledak di gerbang Jazeera Hotel," Major Nur Osoble, seorang polisi, mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Pasukan  AU di Somalia (AMISOM) mengatakan mereka membantu mengevakuasi yang terluka.

Hotel ini telah menjadi target penyerang al-Shabab di masa lalu, termasuk pada 2012 ketika bom mobil menghantam hotel saat Presiden Hassan Mohamud berada dalam hotel.

Pada hari Sabtu mujahidin  al-Shabab mengeksekusi  Abdulahi Hussein Mohamud, anggota parlemen, memberondong kendaraan dengan tembakan saat melakukan perjalanan melalui distrik selatan Mogadishu, serta membunuh dua penjaga dan sopirnya.

Mujahidin Al-Shabab mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "pejuang Mujahidin menargetkan anggota parlemen dan pengawalnya", dan menambahkan bahwa Al Shabab "akan terus menargetkan" para legislator.

Serangan pada hari Ahad tersebut terjadi sehari setelah Presiden AS Barack Obama selama kunjungannya ke Nairobi, di negara tetangga Kenya, mengatakan bahwa walaupun al-Shabab telah "melemah", ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh mereka tetap ada secara keseluruhan.

"Kami telah mampu menurunkan kekuasaan mereka yang efektif di Somalia dan telah melemahkan jaringan-jaringan yang beroperasi di sini, di Afrika Timur, tapi tidak berarti masalahnya selesai" katanya.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

 

Muslim Kashmir Taruhkan Nyawa Selamatkan Peziarah Hindu dari Banjir Bandang

SRINAGAR (Jurnalislam.com) Menampilkan kasih sayang sejati Islam, Muslim Kashmir bergegas membantu dan menyelamatkan nyawa peziarah Hindu setelah banjir bandang menyapu kamp mereka, saat mereka sedang menuju ke kuil Amarnath.

"Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata apa yang dilihat mata saya," Ayatri dari Gurdaspur Punjab mengatakan kepada Kashmir Media Service News pada hari Ahad (26/07/2015).

Ayatri adalah salah satu dari ratusan peziarah Hindu yang sedang dalam perjalanan mereka menuju kuil Amarnath untuk ziarah saat banjir bandang melanda di Baltal Base Camp di kabupaten Gandarbal.

Ketika semua orang berlari menyelamatkan hidupnya, termasuk polisi dan tentara laki-laki India, Muslim Kashmir mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan umat Hindu.

"Banjir bandang tidak hanya menghanyutkan tenda dan barang-barang lain tetapi manusia juga hanyut dalam air bah yang bising. Kami menangis minta tolong. Semua orang berlari untuk berlindung," kata Ayatri, mengingat saat-saat mencekam itu.

"Penduduk Kashmir lokal muncul dan menyelamatkan saya dan anggota keluarga saya termasuk dua anak-anak kecil. Bagaimana saya bisa berterima kasih kepada mereka. Saya tidak punya kata-kata," tambahnya.

Peziarah Hindu lain dari Mathura Uttar Pradesh mengatakan bahwa apa yang Muslim lakukan pada hari itu menghapus informasi yang salah yang menyebar tentang mereka dan keyakinan mereka selama bertahun-tahun oleh organisasi Hindu.

"Suami saya dan saya tidak pernah membayangkan muslim Kashmir yang sangat kita benci ternyat  menjadi penyelamat kami," Pratibah Devi, yang tampak lemah dan lapar, mengatakan.

"Jumat malam itu kami menyadari bahwa apa pun laporan media India tentang orang-orang  muslim Kashmir berdasarkan kebohongan putih. Bahkan organisasi Hindu menikmati propaganda negatif tentang orang-orang yang tinggal di sini. Orang-orang dari muslim Kashmir tidak hanya berani tapi mereka juga sangat membantu," katanya.

Mengkritik polisi dan pasukan India karena gagal memberikan bantuan, peziarah Hindu lainnya mengatakan bahwa mereka berutang nyawa  mereka kepada orang-orang Muslim dari Kashmir.

"Dengan tangan terlipat saya mengucapkan terima kasih kepada seorang Muslim lokal, yang menyelamatkan hidup anak saya Rahul yang berusia 19 tahun," kata Anil Khana dari Chanakyapuri New Delhi.

"Tidak pernah dalam hidupku aku akan melupakan uluran tangan yang diperpanjang oleh orang-orang muslim Kashmir terhadap kita."

Muslim Kashmir terbagi menjadi dua bagian dan diperintah oleh India dan Pakistan, yang telah berjuang dalam dua dari tiga perang sejak kemerdekaan 1947 di kawasan ini.

Pakistan mendukung hak rakyat Kashmir untuk menentukan nasib sendiri, pilihan tersebut ditentang oleh pemerintah New Delhi.

Deddy | OnISlam | Jurniscom

 

Pos Strategis Musuh di Warduj Direbut Mujahidin IIA, 110 Pasukan Bayaran Termasuk Komandan Ditahan

Badakhshan (Jurnalislam.com) – Laporan yang datang dari kabupaten Warduj provinsi Badakhshan utara mengatakan bahwa Mujahidin heroik Imarah Islam berhasil menguasai pos penting musuh yang strategis bernama 'Qala' yang terletak di daerah Terigran pada sore hari, El Emarah News melaporkan, Sabtu (25/07/2015).

Mujahidin berhasil membunuh dan melukai 25 orang bersenjata sebelum mengambil alih pos tersebut, menahan 110 orang sewaan ANA, polisi dan milisi Arbaki serta menyita 10 senjata mesin PKM, 10 peluncur RPG, 90 senapan, 3 senapan mesin berat DShK, 2 tabung mortir, sepotong artileri serta sejumlah besar amunisi dan peralatan militer lainnya.

Para pejabat mengatakan bahwa Mujahidin juga mengambil kendali 6 pos pemeriksaan di dekat pangkalan serta membersihkan musuh dari 12 desa besar terpencil, menambahkan bahwa hanya 1 Mujahid yang syahid dalam operasi ini (semoga Allah menerima dia) dan 9 lainnya terluka.

Musuh kini hanya menguasai kantong-kantong kecil di sekitar pusat kabupaten, sementara seluruh kabupaten saat ini di bawah kendali Imarah Islam Afghanistan.

Pengepungan pos ini telah berlangsung selama 2 hari terakhir di mana 12 polisi sebelumnya tewas dan 15 orang pasukan bayaran lainnya ditahan awal Sabtu pagi.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

Assad Akui Pasukannya di Suriah Tinggal Sedikit

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Dalam pidato televisi yang disiarkan Ahad (26/07/2015), Presiden rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad mengakui bahwa militer rezim nya telah habis oleh peperang yang masih berlangsung di negara itu, yang sekarang masuk tahun kelima, Anadolu Agency melaporkan.

Namun, walaupun mengakui bahwa kapasitas militernya berkurang jauh akibat peperangan, ia sesumbar bahwa tentaranya masih mampu melaksanakan tugasnya.

Dia juga mengatakan bahwa “proposal politik” yang bertujuan mengakhiri perang hanya berpengaruh kecil jika mereka tidak didasarkan pada premis memerangi dan mengakhiri mujahidin”.

Dalam sambutannya, yang disiarkan di televisi pemerintah Suriah, Assad juga memuji dukungan militer Syiah Iran untuk rezimnya, dan menggambarkan Iran sebagai “negara saudara”.

Dia juga memuji “pasukan Syiah Libanon”, yaitu pada milisi Syiah Hizbullah Libanon, yang selama dua tahun terakhir telah berjuang bersama tentara Syiah Suriah melawan faksi faksi jihad Suriah.

Assad melanjutkan dengan menggambarkan Rusia dan China sebagai “katup pengaman”.

Menurut PBB, lebih dari 230.000 orang telah tewas di Suriah sejak pembantaian pasukan rezim Assad terhadap warga sipil hingga pertempuran dimulai pada awal tahun 2011 antara pasukan pro rezim Assad – yang meliputi Syiah Hizbullah dengan koalisi mujahidin Suriah.

Laporan PBB menunjukkan sekitar setengah dari penduduk negara tersebut sejak saat itu mengungsi akibat peperangan, dengan hampir empat juta warga Suriah saat ini mengungsi ke Turki, Lebanon dan Yordania.

Mufti Palestina : Seruan Luas untuk Pidanakan Israel atas Kejahatanya di Al-Aqsha

AL QUDS (Jurnalislam.com) –  Serbuan pasukan penjajah Israel dan kelompok permukim yahudi ke dalam Masjid Al-Aqsha pada hari Ahad pagi (26/07/2015) yang dipelopori Partai Haikal menimbulkan kecaman luas dan seruan yang semakin kencang untuk mempidanakan Israel atas kejahatanya terhadap Al-Aqsha dan Kota Suci, lansir Infopalestina.

Mufti umum Al-Quds dan wilayah Palestina, Syaikh Muhammad Husain menyerukan agar pemerintah Israel dipidanakan secara internasional atas kejahatanya menodai dan menganiaya jama’ah shalat yang sedang melakukan ibadah di dalamnya.

Dalam keteranganya, Syaikh Husain mengatakan, berlanjutnya penodaan dan penganiayaan terhadap kesucian Masjid Al-Aqsha. Kejahatan mereka ini akan mengakibatkan kawasan sebagai bom waktu yang siap meledak kapan saja, selain ancaman perang agama yang makin memanas.

Ia menjelaskan, pemerintah Israel telah memblokade Masjid Al-Aqsha dan melarang kaum muslimin memasukinya. Pada saat yang sama, mereka mempersilahkan kelompok pemukim Zionis menodai dan mengotorinya dengan menggunakan berbagai alat untuk mengusir bangsa Palestina dari dalam tempat sucinya.

Mufti Palestina ini mengatakan, berlanjutnya kejahatan Zionis ini akan mengarahkan pada pembantaian massal di Al-Aqsha hingga terjadinya perang dahsyat yang diketahui kapan akhirnya.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Bupati Tolikara Bentuk FKUB Untuk Jaga Kerukunan Umat Beragama

TOLIKARA (Jurnalislam.com) –  Bupati Tolikara, Usman Winambo mengatakan untuk menjaga kerukunan umat beragama di Tolikara maka akan dibentuk Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB). Pembentukan FKUB ini akan dilakukan melalui Kementerian Agama (Depag) di Tolikara.

"Selain terus bekerjasama membangun kerukunan umat bergama di Tolikara kita juga akan bentuk FKUB," kata Winambo kepada wartawan di Kantor Bupati Lama, Tolikara, Sabtu (25/07/2015).

Menurut Winambo, hal itu dilakukan karena tugas pokok dari FKUB di antaranya menciptakan kerukunan antara umat beragama sehingga diharapkan tidak akan terjadi indisiden atau konflik lagi. Sementara, di Tolikara sendiri belum ada FKUB bahkan kepala dinas Kemenag saja tidak pernah datang ke Tolikara.

"Ini salah satu masalah, sebab kepala kantor tidak pernah datang ke Tolikara. Seharusnya yang membentuk FKUB itu tugasnya Depag," tegas Winambo.

Winambo pun mengungkapkan, bahwa dirinya pernah bertemu sekali dengan Kepala Dinas Kemenag meskipun setelah itu ia mengaku tidak pernah ketemu lagi sampai sekarang.

"Saat ketemu itu saya marah sama dia (Kepala Dinas Kemenag,red). Saya tidak mau menjabat tangannya," pungkas Winambo.

Laporan Achmad Fazeri/JITU | Editor : Ally | Jurniscom