Sejumlah Elemen Soloraya Gelar Aksi Peduli Gempa dan Tsunami Palu

SOLO (Jurnalislam.com) – Semangat membantu korban bencana gempa dan tsunami Palu dan sekitarnya terus dilakukan, seperti sejumlah elemen Soloraya di sejumlah titik keramain Surakarta pada Kamis (4/9/2018).

Aksi bakti sosial berupa penggalangan dana tersebut dilakukan sejak sore hingga malam hari. Selain itu, elemen yang terdiri dari Waroeng Murah, Komunitas Pendaki Muslim, Suami Merdeka, Relawan Al-Fath, Semut Ibrahim, Komunitas Nahi Mungkar Soloraya, dan Bang Japar Solo ini menjajakan nasi murah seharga 2.000 rupiah dengan berbagai macam lauk, dan hasilnya akan didonasikan untuk korban bencana Palu.

“Sementara baru ini yang bisa kita lakukan untuk kepedulian saudara kita di Palu, semoga ini bisa sedikit meringankan beban mereka,” ungkap korlap aksi, Mas Nur kepada Jurnalislam di sela-sela kegiatan.

Aksi penggalangan dana

Dalam aksi penggalangan dana itu, terkumpul donasi sebesar 2,2 juta rupiah. Rencananya, dana tersebut akan dikirimkan langsung ke korban bencana di Palu melalui beberapa relawan yang sudah berada disana, setelah digabungkan dari hasil penggalangan dana beberapa hari kedepan.

Sebagaimana diketahui, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tercatat hingga Rabu (3/10/2018) siang, jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.407 jiwa, ribuan korban luka berat dan ringan, korban hilang mencapai 113 orang, korban tertimbun 152 orang, dan sebanyak 70.821 orang mengungsi.

Ratna Sarumpaet dan Interpersonal Deception Theory

Oleh: Fajar Aditya, Jurnalis Jurnalislam.com

“Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu”

Boom. Publik Indonesia seolah meledak dengan kerasnya. Dua hari ini jagat raya merah-putih tampak fokus mengikuti berita seorang aktifis perempuan tua yang diduga dipukuli oleh sejumlah manusia tidak beradab dan diluar batas nalar kemanusiaan. Wajahnya lebam, bonyok.

Perhatian pun datang dari berbagai pihak dan golongan, baik itu dari rakyat biasa, warga net, sampai figur politik. Ada yang sekadar menyebarkan berita itu di media sosial, ada juga yang langsung datang menemui nenek tua vokal tersebut. Namanya juga aktivis yang pernah hidup di 3 jaman, pasti sudah menjadi figur yang disegani karena ketegasannya membela kaum-kaum tertindas.

Namanya ibu Ratna Sarumpaet, lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, 16 Juli 1948; umur 70 tahun. Beberapa hari ini dia dipercaya menjadi Juru Kampanye Badan Pemenangan Nasional Prabowo – Sandiaga, Paslon Capres dan Cawapres RI dengan nomor urut 2.

Pantas saja Prabowo bersama tim mendatangi Ratna Sarumpaet, pada Selasa (2/9/2018) sore untuk menanyakan kebenaran berita yang kadung viral tersebut. Sebagai pemimpin tim yang Ratna masuk didalamnya, ia merasa perlu. Dan benar saja, Ratna mengaku seperti berita yang telah beredar. “Dipukuli di Bandung”.

Prabowo jenguk Ratna Sarumpaet

Dah singkat cerita setelah dua hari yang panjang tersebut, dengan isak tangis Ratna menggelar jumpa pers kepada Media, bahwa ia mengakui dia berbohong dan meminta maaf kepada publik, termasuk para tokoh yang telah ia kenai tipu.

“Jadi tidak ada penganiayaan, itu hanya cerita khayal entah diberikan oleh setan mana ke saya, dan berkembang seperti itu”

Berbicara kebohongan, ternyata ada teori komunikasi khsusus terkait hal ini, namanya Interpersonal Deception Theory (Teori Penipuan Antar Pribadi).

Dicetuskan oleh David Buller dan Judee Burgoon. Tradisi yang mendasari adalah sosiopsikologis. Bohong merupakan manipulasi dari sebuah informasi.

Ciri-ciri pesan yang mengandung kebohongan: pesan tidak mengandung kepastian, dalam penyampaian pesannya komunikator tidak segera menjawab, pesan yang disampaikan itu tidak relevan dengan topik, dalam berperilaku saat berkomunikasi pengirim berupaya untuk menjaga hubungan dan juga citranya.

Bohong menciptakan perasaan bersalah dan keraguan. Keberhasilan dari bohong tergantung dari tingkat kecurigaan respondennya. Pembohong akan terus berurusan dengan tugas-tugas yang kompleks berkaitan dengan mengatur strategi kebohongannya.

Kebohongan melibatkan manipulasi informasi, perilaku, dan citra yang dilakukan dengan sengaja untuk membuat orang lain memercayai kesimpulan atau keyakinan yang palsu. Dugaan pelaku komunikasi merupakan dasar yang penting untuk menilai perilaku. Jadi, dugaan memainkan sebuah peran yang pasti dalam situasi kebohongan. Ketika dugaan penerima menyimpang, kecurigaan mereka dapat muncul. Demikian juga ketika dugaan pengirim menyimpang, ketakutan kebohongan mereka juga mungkin akan muncul.

Dalam sebuah hubungan dekat, kita memiliki bias atau dugaan tertentu tentang apa yang akan kita lihat. Bias kebenaran (truth bias) membuat kita kurang cenderung melihat kebohongan. Sebaliknya, sebuah bias kebohongan akan menonjolkan kecurigaan kita dan membuat kita berpikir bahwa orang lain sedang berbohong padahal mereka sebenarnya tidak.

Kemampuan kita berbohong atau mengetahui kebohongan juga dipengaruhi oleh tuntutan percakapan (conventional demand) atau jumlah tuntutan yang kita alami sementara kita berkomunikasi.

Teori ini digunakan untuk menjelaskan kebohongan-kebohongan komunikasi seseorang dengan cara memancing komunikan dengan informasi yang tidak benar sehingga terbongkarlah kenyataan bohongnya. Teori ini secara asumsi tergolong ke dalam kategori humanistik. Sangat sulit dengan teori ini untuk meramalkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi pada pikiran manusia. Artinya apakah seseorang melakukan kebohongan atau tidak, agak sulit diramalkan.

Dengan kata lain, pesan-pesan yang disampaikan oleh seseorang termasuk yang benar atau tidak, agak sulit diduga. Kecuali kalau sudah lama terjadinya, atau kita melakukan uji lanjutan guna meneliti validitasnya.

Selain itu, teori ini juga bisa menjelaskan jenis-jenis tindakan muslihat yang berbeda-beda, motivasi melakukan muslihat, dan menjelaskan faktor-faktor yang mengukur keberhasilan upaya melakukan muslihat dari seseorang.

Interpersonal deception merupakan teori yang sangat berguna bagi seseorang yang mencoba melakukan muslihat, atau berpikir seseorang akan melakukan muslihat kepada orang lain. Teori ini membantu melihat ke belakang, pada situasi yang telah lalu, guna mengevaluasi peristiwa dan perilaku komunikasi verbal ataupun nonverbal dengan tujuan untuk mengungkap apakah seseorang telah melakukan kebohongan atau tidak.

Setiap orang pernah berbohong, juga dibohongi. Dengan alasan ini maka teori ini sangat berguna dan sangat praktis dilakukan.

Dijelaskan, ada tiga strategi atau cara dalam upaya pengirim untuk berbohong pada penerima.

Pertama falsification (pemalsuan)

Kedua concealment (menyamarkan atau menyembunyikan kebenaran)

Ketiga Equivocation (mengaburkan)

Pesan pengirim yang mengandung kebohongan, dijelaskan biasanya mempunyai ciri:

Pesan yang disampaikan tidak mengandung kepastian atau tidak jelas;

Dalam penyampaian pesannya pengirim tidak segera menjawab, pernyataan yang sudah disampaikannya ditarik kembali;

Pesan yang disampaikan itu tidak relevan dengan topik (disassociation);

Dalam berperilaku saat berkomunikasi, pengirim berupaya untuk menjaga hubungan dan imej.

Bohong juga menciptakan perasaan bersalah dan keraguan, yang akan terlihat dari tindak tanduk atau perilakunya. Keberhasilan dari bohong ini tergantung juga dari kecurigaan respondennya. Responden biasanya punya kecurigaan yang sayangnya dapat dengan mudah dirasakan oleh si pembohong. Kecurigaan ini berada pada kenyataan dan fiksi.

Padahal sebetulnya dengan melakukan kebohongan tersebut berarti kita telah menorehkan luka dan sekaligus dosa kepada yang kita bohongi. Seperti halnya dalam teori kebohongan antar pribadi (interpersonal Deception Theory) dari David Buller dan Judee Burgoon.

Yaitu bahwasannya seseorang terkadang melakukan kebohongan. Bohong merupakan manipulasi dari sebuah informasi. Dalam teori ini bahwa apa yang disampaikan oleh pembohong terlihat berubah ubah, tidak konsisten dan pesannya tidak pasti.

Apabila kita bohong sudah terlalu banyak, maka akan terjadi kebocoran / leakage, dan kebocoran ini akan tampak pada perilaku non verbal. Bahkan ada yang bilang sekalipun mulut kita diam terkadang mata kita mampu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang kita tutupi.

Jadi sesungguhnya yang terbaik adalah melakukan kejujuran. Jujur jika diartikan secara baku adalah “mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran” Mungkin ada yang bertanya kapan dan bagaimana kita memulai kejujuran.

Yang namanya kejujuran itu adalah membuat ketenangan, sementara kebohongan itu akan menciptakan kegelisahan.

Maka yang paling baik adalah tidak menunjuk orang lain, tetapi memulai kejujuran dari dalam diri sendiri secara mendalam. sehingga mampu menanamkan kejujuran dalam diri yang mumpuni, karena bagaimanapun dibohongi itu menyakitkan dan kita juga tidak mau disakiti. Maka mulailah dengan kejujuran dari dalam diri supaya tidak menyakiti.

Menyoal Kasus Ratna Sarumpaet, Fahri Hamzah: Biadab!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kasus dugaan penganiayaan yang menimpa aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet mendapat tanggapan dari wakil ketua DPR RI, Fahri Hamzah. Menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak bermoral dan biadab.

“Mohon maaf, perempuan tua umur 70 tahun ada yang mukul sampai kaya begitu, menurut saya biadab itu, itu polisi harus cepat tangkap pelakunya,” ungkapnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/10/2018).

“Pasti bajingan betul itu orangnya,” tambahnya.

Ia mengatakan, kejadian seperti ini dapat mengancam kebebasan berpendapat. Ibu Ratna itu, kata dia, adalah aktifis perempuan yang sangat vokal, dan dengan kejadian ini dapat membuat teror terhadap perempuan-perempuan lain yang juga vokal jika tidak ditangani dengan baik.

“Ini biadab dan harus dikejar. Harus bekerja cepat polisinya, jangan ada istilah lambat. Kalau bisa 1-2 hari ini (sudah ditangkap),” tegasnya.

Lebih dari itu, ia menilai, teror seperti ini dapat menjadi efek domino untuk para aktifis, kritikus, dan semua orang yang suka berbicara di depan khalayak umum.

“Sebab kalau tidak, teror semacam ini akan terus berlangsung kepada orang-orang yang suka berbicara, saya lihat saya juga termasuk karena suka berbicara,” paparnya.

“Orang yang suka berbicara tidak boleh dilawan dengan kekerasan, harus dilindungi dong,” lanjut Fahri.

Fahri juga menegaskan, 3 orang yang melakukan tindakan aniaya pada 21 September 2018 lalu di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat ini sudah hilang sisi kemanusiaannya.

“Jahat betul, manusianya pasti kebinatangannya lebih menonjol dari kemanusiannya, dan mungkin tidak ada kemanusiaannya. Polisi jangan lihat kiri kanan, harus dikejar segera,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto mengungkapkan bahwa terkait kasus Ratna Sarumpaet ini, pihaknya belum menerima laporan polisi (LP).

“Ratna Sarumpaet, kita belum mendapatkan laporan, hanya informasi katanya dia dianiaya tanggal 21 September, nah itukan sudah lama, enggak ada laporan, ya kita enggak tahu,” kata Setyo di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa (2/10/2018).

Ketika Anak SD Peringati Hari Batik Untuk Musibah Gempa dan Tsunami Sulawesi

SOLO (Jurnalislam.com) – Pagi ini, Selasa (2/10/2018) Hall SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo dipenuhi siswa kelas 1-6 yang berkostum batik. Mereka tampak antusias memakai kostum batik dengan berbagai motif dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional.

Namun, ada yang berbeda dari peringatan Hari Batik Nasional tahun ini. Momentum ini disisipkan dengan kegiatan sosial positif: doa bersama dan penggalangan dana untuk musibah gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah bertajuk #Pray for Palu.

Seluruh siswa, guru, dan karyawan tampak khusyuk mendoakan korban bencana yang saat ini sudah mencapai angka ratusan dan terus bertambah tersebut. Mereka seolah-olah merasakan kesedihan dan penderitaan yang dialami para korban. Setelah selesai doa bersama yang dipimpin oleh guru agama, para siswa mungil ini secara bergantian memasukkan uang yang sudah mereka bawa ke kotak yang sudah disiapkan.

Doa bersama untuk korban musibah gempa dan tsunami Sulawesi

Sehari sebelumnya pihak sekolah memang mengumumkan kepada para siswa bahwa peringatan Hari Batik Nasional akan diisi dengan kegiatan peduli gempa dan tsunami Palu. Selain memakai kostum batik para siswa juga diimbau membawa uang seikhlasnya untuk membantu korban bencana.

Arkan Danendra, salah satu siswa kelas 4 mengaku sedih dengan peristiwa gempa dan tsunami yang mengguncang Palu dan sekitarnya. Kesedihannya menderas setelah mengetahui jumlah korban yang terus bertambah.

“Saya mengikuti berita gempa dan tsunami dari berita televisi,” ungkapnya.

Harapan Bantuan

Arkan mengharapkan pemerintah dan semua rakyat Indonesia bersatu membantu saudara-saudara di Palu. “Saya tadi ikut membantu doa dan uang, meskipun sedikit mudah-mudahan bisa meringankan penderitaan warga Palu,” imbuhnya sedih.

Wakasek Bidang Kesiswaan dan Humas, Muhamad Arifin mengungkapkan, doa bersama dan penggalangan dana ini merupakan implementasi nilai gotong-royong yang sangat penting diajarkan kepada para siswa.

“Gotong-royong merupakan nilai luhur bangsa kita yang harus terus diajarkan sejak dini kepada para siswa,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan penggalangan dana ini akan diadakan selama tiga hari ke depan. Untuk hari pertama ini terkumpul dana sebesar Rp. 16.678.500,00 dan akan disalurkan melalui Muhamadiyah Disaster Management Center (MDMC) Solo.

Wow, Dari Panggung Nobar Film G30S/PKI, Tokoh Etnis Tiongkok Ini Serukan 2019GantiPresiden.

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh asal etnis Tiongkok Lieus Sunkarisma menilai, selama ini pemerintahan Jokowi terkesan membiarkan paham komunis tumbuh di Indonesia. Pernyataan itu ia sampaikan sesaat nonton bareng (nobar) film G30S/PKI bersama warga dan pelaku sejarah di Solo, Ahad (30/9/2018).

“Saya kira sekarang ini timing-nya tepat, sepertinya sejarah berulang, ada kekhawatiran PKI akan bangkit, makanya film (G30S/PKI) ini jadi penting, jadi penting banget kita tonton dan kita hayati.”

“Inilah yang menyemangati kita,
untuk 2019 ganti presiden, itu hak kita, sebagai warga negara kita punya hak konstitusi. Kenapa? Karena sepertinya ada pembiaran (paham komunis berkembang -red) dari pemerintah sekarang,” ungkap Lieus dengan penuh semangat.

Selain itu, Lieus juga angkat bicara terkait banyaknya ketidakadilan pemerintahan Jokowi terhadap umat Islam, ia mencontohkan kasus yang menimpa mantan gubenur DKI Jakarta Ahok.

“Saya termasuk yang terkejut Pilkada DKI, ada orang yang jelas-jelas menista agama Islam, Ahok. Tapi kayaknya dibulat, diputer terus. Intoleransi, radikal, nggak pancasila, ini sebetulnya masalah keadilan,” ungkapnya.

“Saya yakin benar dan saya ikut terlibat, karena saya lihat ada ketidakadilan terhadap umat Islam yang agamanya dinista tapi pemerintahnya berlarut larut tidak menyelesaikan,” sambung Lieus.

Lebih lanjut, Lieus meminta masyarakat agar tidak takut untuk terus menyuarakan kebenaran dan terus mengkritisi pemerintah apabila memberikan kebijakan yang tidak pro dengan rakyat.

“Jadi saya rasa malam ini kita berkumpul dengan semangat yang satu, nggak ada takut karena nasib kita Tuhan yang menentukan. Setiap orang ada jalannya, dan kalau bukan bagian kita, itu tidak akan kebagian, dan yang penting kita harus jaga persatuan,” tandasnya.

Ia mengatakan, dengan banyaknya masyarakat menggelar aksi nobar Film G30S/PKI di sejumlah daerah sebagai langkah yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan akan kembali bangkitnya paham komunis di Indonesia.

“Bayangkan Orang Masih Hidup Ditali Diatas Tangga, Digergaji Hingga Putus”

SOLO (Jurnalislam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta, KH Subari mengapresiasi gelaran nobar dan sarasehan film G30S/PKI di halaman Masjid Nurul Iman, Kalitan, Solo pada Ahad, (30/9/2018). Dalam sambutannya ia mengatakan, paham Komunis merupakan ideologi berbahaya yang harus di waspadai akan kebangkitannya.

“Dan saya atas nama MUI Surakarta mengucapkan terima kasih. Saya tegaskan Ideologi komunis tidak akan pernah mati dan selalu ingin hidup, dan kalau hidup akan menghabisi yang lain,” katanya dihadapan ratusan masyarakat yang hadir.

Menurut KH Subari yang juga ketua PDM Muhammadiyah Surakarta ini, film G30S/PKI dapat menggambarkan peristiwa bersejarah pemberontakan PKI tahun 1965 secara jelas, dan gamblang. Pemberontakan tersebut, katanya, merupakan runtutan peristiwa serupa yang dilakukan PKI di tahun 1948.

“Setelah peristiwa yang luar biasa tahun 1965 yang dulu beruntun sejak tahun 1948, korban yang meninggal luar biasa kekejamannya diluar pri Kemanusiaan,” terangnya.

“Karena ketika saya membaca tulisan yang dikumpulkan pak Taufik Ismail, PKI itu membunuh lawan-lawannya mesti sebetulnya tidak melawan, salah satunya di gergaji diatas sumur, bayangkan orang masih hidup ditali diatas tangga di gergaji, hingga putus, ini kekejaman mereka yang menganut ideologi komunis,” sambung KH Subari.

PKI Kejam

Kembali ulama Solo menyebut peristiwa sejarah tahun 1965 sebagai bentuk kejahatan yang sulit diterima nalar manusia. Pasalnya, banyaknya jendral yang dihabisi oleh PKI dalam semalam dikatakannya sebagai yang terburuk dalam sejarah di dunia.

“Dan mungkin yang tahun 1948 bisa di filmkan juga, tapi mungkin sulit. tapi alhamdulillah yang tahun 1965 dapat di filmkan, yang mungkin dalam sejarah dunia belum ada 6 jendral yang dihabisi dalam semalam, perang apapun di dunia itu belum ada dalam sejarahnya 6 jendral dibunuh bareng,” tandasnya.

Untuk itu, MUI Surakarta meminta kepada masyarakat agar terus mewaspadai paham komunis yang dikhawatirkan akan bangkit kembali di Indonesia.

Ingatkan Bahaya Laten PKI, Masyarakat Solo Gelar Nobar dan Sarasehan Film G30S/PKI

SOLO (Jurnalislam.com) – Ratusan masyarakat Soloraya ikut hadir dalam gelaran nonton bareng (nobar) dan sarasehan Film G30S/PKI di halaman Masjid Nurul Iman, Kalitan, Solo pada Ahad (30/9/2018) malam.

Dalam sarasehan tersebut, panitia menghadirkan sejumlah tokoh untuk jadi pembicara seperti Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, Irjen Pol (Purn.) Anton Tabah Digdoyo, ketua MUI Solo KH Subari, tokoh pergerakan Sri Bintang Pamungkas, mantan bupati Wonogiri, Begug Purnomo Sidi hingga tokoh etnis tiongkok Lieus Sunkarisma.

Panitia Nobar dan Sarasehan, Dr Muhammad Taufik menjelaskan, kegiatan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB itu ditujukan untuk mengingatkan kembali peristiwa sejarah kelam bangsa Indonesia kepada masyarakat khususnya kaum muda di Soloraya.

“Ini untuk menyadarkan kita kepada masyarakat bahwa dulu ketika kita masih kecil sejarah itu mengajarkan kita film tentang kekejaman PKI, tapi negara kan tidak pernah menjelaskan kembali,” katanya kepada wartawan di sela sela acara.

“Kalau kita bicara yang dilarang TAP MPRS no 25 tahun 1996 termasuk didalamnya kan termasuk simbol palu arit, buku-buku dan yang lainnya, jadi kami ingin generasi muda itu mengenali,” imbuhnya.

Taufik menilai, seharusnya negaralah yang mengintruksikan kepada jajarannya untuk mengingatkan bahaya laten PKI kepada seluruh warga Indonesia, Bukan atas inisiatif warga.

“Dan kenapa yang menyelenggarakan bukan Korem, Kodim atau yang lainnya, itu pertanyaan kembali ke penyelenggara negara ini, kita bukan ingin mengambil alih, tapi di ruang ruang kosong itu, kita akan disadarkan kembali, dan kami yang menyatakan bahwa PKI itu bahaya,” ungkapnya.

Dalam acara sarasehan dan nobar tersebut, panitia menyediakan minuman dan makanan gratis hasil kerja sama dengan Warung Murah, Laskar Sedekah dan Ekspreso.

Ulama dan Politik

JAKARTA (Jurnalislam.com) –

“Darah Ulama seperti racun bagi orang yang menyentuh atau meminumnya, sebab Ulama adalah orang-orang yang dipilih Allah sebagai pewaris Nabi dan Rasul, hati-hatilah bersikap kepada Ulama jika tidak memahaminya” seru ustadz Bachtiar Nasir (UBN) pada pembuka khutbah jumat bertema “Ulama dan Politik” di masjid AQL Islamic Center siang tadi.

Ia sangat miris dengan kondisi tanah air akhir-akhir ini, persoalan ulama dan politik merambah kepada situasi yang tidak menguntungkan umat Islam, terutama dengan cacatnya maruah ulama dan kelembagaan ulama di Indonesia. Hal ini sangat merugikan umat Islam karena ulama adalah faktor penting dalam kepemimpinan umat.

UBN mengungkapkan, semua ini ada yang merekayasa, dan pastinya kelompok anti agama yang menginginkan ini terjadi. Kelompok anti agama dengan kemunafikannya melakukan upaya-upaya busuk untuk membenturkan antar umat beragama atau intra umat beragama.

Dalam situasi seperti ini, UBN dalam khutbahnya mengimbau agar umat Islam tetap konsisten berjalan diatas nilai-nilai Al-Quran dan As-Sunnah dalam menyikapi persoalan ulama dan politik, menghindari perpecahan dan fitnah terutama di sosial media yang dapat menyebabkan sikap persekusi kepada ulama.

Kemudian UBN menjelaskan pengertian ulama dalam bahasa Arab yang dikenal dengan kata ‘alim berasal dari kata ‘alima ya’lamu artinya yang mengerti tentang hukum-hukum Allah, sunnah-sunnah Rasul dan mengambil istinbath. Dalam Al-Quran, kata dia, ada kata ulama, seperti diistilahkan imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, yaitu ulama Su’ dan ulama warasatul anbiya. Ulama Su’ seperti yang dijelaskan surat Asy-Syu’aro yaitu ahlul kitab yang mengajak kemungkaran dan mencegah kebaikan.

Sedangkan ulama Warasatul Anbiya seperti dijelaskan pada QS Fathir ayat 28 yaitu hamba-hamba yang takut pada Allah hanyalah para ulama. Yang dimaksud adalah ulama-ulama yang dengan ilmunya mereka takut kepada Allah.

Akhir-akhir ini khususnya di Indonesia, sering mudahnya pemberian gelar ulama pada seseorang yang dilakukan oleh orang-orang awam, apakah itu karena tokoh yang dianggap soleh dan bersorban kemudian disebut ulama, atau pemimpin organisasi tanpa kedalaman ilmu tafsir dan bahasa Arab diberi gelar ulama. Hal ini terjadi bisa disebabkan tidak adanya lembaga akreditasi ke-ulama-an.

Kapan Seseorang Disebut Ulama?

UBN mengambil pendapat Ibnu Taimiyah, pada seseorang terkumpul ilmu dan standar keilmuan tersebut minimal mengenal hukum-hukum Allah yang tertuang pada kitab-Nya dan mampu mengambil secara cerdas untuk itu dengan rasa takut, menguasai ilmu-ilmu tentang sunnah Rasul dan diberi kemampuan untuk mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberian gelar ulama bukan dilakukan oleh orang awam, melainkan oleh orang-orang yang memiliki kesetaraan ilmu dan memiliki kepakaran ilmu dalam keagamaan.

Tentang ‘Ulama dan Politik’ pimpinan AQL Islamic Center ini menerangkan, memang ketegangan pernah terjadi pada awal-awal sejarah Nabi dan Rasul antara ulama dan penguasa. “Seperti halnya Ibrahim dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Zakariya dan Yahya yang disembelih oleh penguasa, kemudian nabi Yusuf yang dipenjarakan,” ungkapnya.

Ulama ada yang bukan pejuang, pejuang ada yang bukan ulama, tetapi ada ulama yang ia pun pejuang, yang berani mengambil resiko berhadapan dengan penguasa, baik penguasa yang ada diinegerinya sendiri atau pun penguasa-penguasa dzalim lainnya di muka bumi.

Menyoal Ulama

Baik di dunia maupun Indonesia sejauh pengetahuan yang diketahui olehnya, banyak aktifis-aktifis yang sebenarnya belum sampai pada derajat ulama kemudian oleh umat dijuluki ulama, hal ini sangat berbahaya.

“Seharusnya orang-orang seperti ini sadar akan posisinya karena akan membahayakan umat, meskipun mereka berada dalam organisasi ke-ulama-an, ini menjadi catatan penting karena di Indonesia belum ada lembaga akreditasi ulama,” jelasnya.

Meskipun begitu, setidaknya umat dapat melihat, ulama mana yang takut kepada Allah dengan ilmunya dan mana ulama ‘pelacur keduniaan’ yang menjual agama hanya untuk kepentingan dunia.

Bukan berarti salah jika ulama dekat dengan penguasa, seperti halnya Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali mereka adalah ulama yang juga pemimpin, namun mereka mendahului itu dengan dakwah dan meraih kepimpinan bukan didasari atas syahwat ingin berkuasa, dimana kala itu para sahabat sulit untuk menentukan yang menjadi penguasa.

“Berbeda dengan konteks hari ini dimana ulama berlomba untuk menjadi penguasa dengan upaya yang menampakan kecintaannya pada dunia,” kata UBN.

Dengan kekhawatiran kondisi sekarang ini, ia menganjurkan kepada para asatidz, para cendekiawan, dan para bakal calon ulama lapis kedua, untuk merapatkan barisan, bersatu, memperbaiki kembali kepemimpinan ummat kedepan.

Diakhir pesannya, UBN menjelaskan posisi ulama menjadi bawahan umaro tidak pernah terjadi. Dapat diambil pelajaran kisah Imam Abu Hanifah yang dipaksa dan disiksa menjadi Qodi hakim agung pada masanya. Imam Abu Hanifah menolak karena khawatir jika ia dibawah pemimpin yang jahat akan mempengaruhi persoalan yang besar.

Kemudian Imam Ahmad Ibnu Hambali dipersekusi, dipenjara hanya karena tidak ingin mengatakan Al-Quran adalah kudus sebagai kitab suci yang terbatas waktu. “Lalu dari negeri kita sendiri Buya Hamka, yang dikhianati muridnya sendiri, difitnah mengkhianati negeri ini, diinterogasi selama 15 hari siang malam tanpa istirahat kecuali saat makan dan shalat, hanya untuk mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukan, mereka para ulama yang tidak pernah gentar.”

“Itulah sikap-sikap ulama cerdas. Ulama Robbani warosatul anbiya seperti ini yang harus menjadi panutan,” pesan dia.

Diujung khutbahnya UBN kembali menegaskan “Hati-hati, darah ulama adalah racun, tinta-tintanya ulama jauh lebih hebat dari hunusan pedang, bedil-bedil para penguasa. Jika umat ingin tetap lurus, maka hormatilah ulama, tentunya ulama Robbani warasatul anbiya” pungkasnya.

Penulis: Jumi Yanti Sutisna

Nurhasan Inisiasi Konflik Pembebasan Lahan Pelabuhan Patimban Menjadi Prioritas Nasional

SUBANG (Jurnalislam.com) – Jumat kemarin (22/9/2018) rombongan kunjungan kerja spesifik dari komisi V DPR RI, didampingi oleh kementerian perhubungan, kementerian PU, dirjen perhubungan laut, dan lainnya sampai di Pelabuhan Patimban, Subang. Kedatangan mereka disambut langsung oleh PLT Bupati Subang.

Tujuan kunjungan spesifik ini yaitu memastikan berjalannya segala perangkat dalam pembangunan pelabuhan Patimban. Pelabuhan ini diharapkan dapat memberi support pada pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Kunjungan ini diinisiasi oleh anggota DPR RI di dapil tersebut, yaitu Nurhasan Zaidi. Ia menyebutkan pembangunan ini berpotensi meningkatkan perekonomian jangka panjang masyarakat Subang. “Jelas meningkatkan ekonomi, namun hal penting dan tujuan saya pribadi datang kesini yaitu untuk menyelesaikan konflik pembebasan lahan,” ujarnya.

Anggota Komisi V DPR RI, Nurhasan

Selain itu, masyarakat setempat mengeluhkan harga pembebasan lahan yang kurang layak. “Saya anak petani disini merasa harga yang diajukan sangat murah,” kata salah satu warga. Nurhasan menyepakati dan menanggapi bahwa harga Rp. 300 ribu itu tidak pantas ditukar dengan lahan disini yang sangat subur.

“Kami sepakat dengan modernitas, namun masyarakat harus tetap jadi prioritas, insya Allah kami akan perjuangkan sekuat tenaga” tambah politisi PKS ini.

Hasil dari kunjungan ini akan dibawa pada pembahasan terakhir di DPR, sebagai keputusan final. “Kunjungan ini saya inisiasi dan semoga masyarakat melihat keseriusan kami yang ingin menyelesaikanya,” papar Nurhasan. “Kami mengubah jadwal yang sebelumnya ke Lombok menjadi ke Patimban karena kami sudah jadikan ini sebagai prioritas nasional,” tutupnya.

Cegah Pendangkalan Akidah, MCS Gelar Bakti Sosial

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Mualaf Center Semarang (MCS) menggelar kegiatan sosial pembagian 100 paket sembako dan santunan kepada anak yatim gratis di Kampung Jagalan Tengah, Gabahan, Semarang Tengah, Jumat (21/9/2018). Daerah tersebut diduga rawan pemurtadan akidah.

“Acara ini sebagai bentuk peduli kita kepada saudara muslim, terutama kepada para mualaf, janda, anak yatim dan para dhuafa,” ucap Agus Triyanto, ketua Mualaf Center Semarang disela-sela kegiatan.

Agus mengatakan, dengan membantu, dakwah kepada umat lebih mudah diterima masyarakat. “Karena dengan membantu, kita lebih akrab dengan warga,” ungkap Agus.

Ketua RW setempat, Eko Nurcahyo mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada MCS dan meminta agar acara tersebut dilanjut dengan pembinaan Islam yang menyeluruh.

Kegiatan Bakti Sosial MCS

“Saya ucapkan terimakasih kepada MCS atas bantuannya kepada masyarakat gabahan terutama di RW 5, bermanfaat kepada warga, terutama mualaf, kami berkeinginan ini berkelanjutan, bisa membina untuk keIslaman yang utuh, MCS bisa memberi pengajaran dalam pendidikan Islam,” tuturnya.

Menurut pengakuan seorang warga, yang juga berprofesi sebagai guru TPQ (sekolah dini Islam) ditempat, ia menyampaikan model kristenisasi atau pemurtadan berlangsung dengan cara pengobatan gratis, pemberian sembako mura,h sampai belajar gratis.

“Disini sering diadakan pengobatan gratis dan sembako murah, penyebaran buku natal dan les gratis. Bahkan ada TPQ sebelah daerah Pringgading setiap hari Sabtu anak-anak diajak ke Greja,” paparnya.