ANKARA (Jurnalislam.com) – Sejak pecahnya perang Suriah yang menghancurkan, Turki telah menjadi persinggahan pertama bagi jutaan orang pengungsi. Perempuan dan anak dipaksa untuk meninggalkan rumah, pekerjaan, sekolah dan keluarga mereka, lansir Andolu Agency, Kamis (01/10/2015).
Dalam menghadapi konflik yang memburuk, Ankara membuat keputusan penting membuka perbatasan mereka untuk rakyat Suriah yang berkumpul dalam jumlah yang meningkat di pagar kawat di perbatasan selatan Turki – langkah yang dijuluki 'kebijakan pintu terbuka’.
Pemerintah Turki – dan banyak warga biasa – bergegas mengulurkan tangan membantu tetangga yang sekarang menjadi tamu mereka. Sekitar 500 orang Suriah pertama kali memasuki Turki dari distrik Yayladagi Hatay pada tanggal 29 April 2011.
Sebuah eskalasi serius dalam jumlah pengungsi terlihat sejak Juni, ketika kota Suriah Jisr al-Shughour – populasi 41.000 – sebagian besar dikosongkan menjelang serangan rezim. Jumlah pengungsi yang datang ke Turki tidak lagi diukur dalam ratusan, tetapi ribuan.
Sejak itu, Perdana Menteri menugaskan Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (Disaster and Emergency Management Authority/AFAD) untuk mengambil alih upaya bantuan kemanusiaan. AFAD sekarang mengkoordinasikan semua layanan untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi Suriah berkoordinasi dengan Bulan Sabit Merah Turki.
Dengan demikian, dua lembaga bantuan utama Turki tersebut meluncurkan “Operasi Bantuan Kemanusiaan Krisis Suriah” bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri.
Dengan meningkatnya jumlah orang Suriah yang mencari perlindungan di Turki, Ankara mendirikan kamp akomodasi untuk menjadi tuan rumah bagi pengungsi sekaligus menawarkan makanan, pakaian dan kesehatan.
Saat perang terjadi, jumlah pengungsi Suriah yang terdaftar di Turki sendiri telah melampaui 2,2 juta.
Tindakan ini menempatkan Turki berada di antara negara-negara tuan rumah terbesar di dunia bagi orang yang mengungsi dari perang, menurut Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi.
Pada 28 September 2015, total 258.974 pengungsi Suriah telah ditampung di 25 pusat akomodasi sementara, termasuk dalam tenda dan kontainer di kota-kota di 10 provinsi Turki, yang dibangun oleh AFAD.
AFAD juga mengirimkan tunjangan, yang telah mencapai jumlah 3,47 miliar lira Turki ($ 1,140,000,000 setara dengan Rp 16,644,000,000,000,- kurs 1$ Rp 14,600), bagi pemerintah provinsi tempat kamp para pengungsi berada.
Pengungsi Suriah di Turki dapat mengakses layanan kesehatan gratis, terutama yang disediakan oleh organisasi medis Turki di kamp-kamp.
Mereka juga dapat menerima perawatan medis di rumah sakit pemerintah di seluruh Turki.
Aktif dalam upaya kesehatan dan makanan di kamp-kamp, tim Bulan Sabit Merah Turki memasang tenda untuk kegiatan sosial dan doa; mereka juga menyediakan dukungan psikososial bagi para pengungsi.
Dipisahkan dari rumah mereka, anak-anak pengungsi Suriah disediakan dengan sekolah yang baik di ruang kelas yang dibangun di kamp-kamp dan di lembaga-lembaga publik.
Menurut angka terbaru dari AFAD, ada total 78.425 murid Suriah di akomodasi pusat-pusat pengungsian, mulai dari TK sampai tingkat SMA.
Lebih dari 3.200 guru bekerja di 22 sekolah di kamp-kamp. Hanya 389 guru yang berasal dari Turki; sisanya, sejumlah 2831, berasal dari negara-negara Arab.
Di luar kamp, terdapat sejumlah total 150.000 murid Suriah berusia antara 6-12 yang menghadiri sekolah di seluruh Turki, terutama di propinsi-propinsi yang menjadi tuan rumah terbesar bagi rakyat Suriah.
Mereka menerima pendidikan di bawah pengawas yang ditunjuk oleh Departemen Pendidikan Turki.
Turki juga menyelenggarakan pelatihan untuk orang dewasa Suriah di kamp-kamp, seperti kejuruan, baca-tulis dan program komputer.
Sebanyak 62.000 pengungsi telah menyelesaikan kursus ini sampai sekarang sementara 14.000 lainnya masih melanjutkan pendidikan mereka.
Lebih dari 75.000 anak-anak Suriah telah berpartisipasi dalam proyek pendidikan dua tahun UNICEF, yang dilakukan bersama dengan AFAD, Departemen Pendidikan Nasional dan lembaga medis Turki, dengan dukungan keuangan dari Uni Eropa.
Sejak 2011, Turki telah menghabiskan $ 7,600,000,000 pada bantuan pengungsi keseluruhan; sekitar $ 5,600,000,000 dari angka ini untuk pengungsi Suriah, laporan terbaru AFAD menyebutkan.
Menurut Kantor Diplomasi Publik Perdana Menteri Turki, jumlah dukungan keuangan yang telah diterima Turki dari lembaga PBB adalah $ 304.000.000, sementara negara Uni Eropa menyumbang hanya $ 1,5 juta dalam laporan akhir September.
Perang di Suriah telah menewaskan lebih dari 250.000 jiwa dan membuat negara tersebut menjadi sumber pengungsi dan orang terlantar tunggal terbesar di dunia.
Menurut data UNHCR bulan Juli, jumlah pengungsi yang melarikan diri dari konflik ke negara-negara tetangga telah melampaui angka empat juta.
"Pendatang baru di Turki dan data yang diperbarui dari otoritas Turki mengenai pengungsi yang telah berada di negara itu telah melebihi jumlah total pengungsi Suriah di negara-negara tetangga sebesar lebih dari 4.013.000 orang," kata lembaga itu dalam sebuah pernyataan.
PBB memperkirakan angka ini akan mencapai sekitar 4,27 juta pada akhir tahun ini.
Setidaknya tambahan 7,6 juta orang adalah yang mengungsi di dalam wilayah Suriah.
Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom