Geram Dengan Ulah IJABI, Wakil Walikota Bandung : Pak Wali Kecolongan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Wakil walikota Bandung, Oded Muhammad Danial Soal terlihat geram ketika walikota Bandung, Ridwan Kamil menjelaskan kronologis diizinkannya perayaan hari Asyura Syiah yang digelar Ikatan Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Kang Oded, sapaannya, mengatakan Ridwan Kamil kecolongan.

"Setelah mendengar tanggapan Pak Wali tadi, bahwa dalam kondisi kepepet, setelah mendapat telepon bahwa seribu orang telah berkumpul tapi tidak mendapat tempat. Saya sih melihatnya ini Pak Wali kecolongan. Dan syukur alhamdulillah pak wali telah menyampaikan permohonan maaf kepada kita" ungkap saat mendampingi walikota Bandung, Ridwan Kamil dalam pertemuan dengan sejumlah elemen umat Islam di Balai Kota Bandung, Jl Wastukencana No. 2., Selasa (27/10/2015).

Kang Oded menilai pihak IJABI telah 'menodong' walikota Bandung dan dengan sengaja memanfaatkan kondisi walikota yang saat itu sedang tidak berada di Bandung

"Mereka (IJABI-red) nodong pak wali. Apa namanya kalau bukan menodong? Ini apa-apaan, ini sudah bukan itikad baik," tegasnya

"Secara aturan juga ini sudah gak bener. Makanya dari kepolisian juga keberatan." sambung Kang Oded.

Namun demikian, Kang Oded berharap kedepannya kejadian di Sidolig tidak terulang lagi. Ia mengatakan pemkot akan menggelar musyawarah dengan seluruh unsur Muspid Kota Bandung agar kedepannya tidak kecolongan lagi.

Ally | Jurniscom

Minta Maaf kepada Umat Islam, Walikota Bandung Tegaskan Dirinya Bukan Syiah

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Walikota Bandung, Ridwan Kamil menegaskan dirinya bukan penganut Syiah. Pria yang akrab disapa Kang Emil itu juga meminta maaf kepada umat Islam atas keputusannya mengizinkan kelompok Syiah dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) melaksanakan acara perayaan hari Asyura di Stadion Persib, 23 Oktober lalu.

"Saya bukan Syiah, saya ini ahlu sunnah (Sunni-red). Islam saya seperti yang diajarkan Ibu saya. Dan setelah dewasa saya  tahu, Islam saya teh Sunni," tegasnya dihadapan puluhan perwakilan elemen umat Islam Bandung, Selasa (27/10/2015).

(Baca juga : Ini Alasan Ridwan Kamil Izinkan IJABI Gelar Asyura di Sidolig)

Terkait keputusannya mengizinkan kelompok Syiah IJABI melangsungkan acara peringatan hari Asyura di Sidolig, Emil meminta maaf.

"Jadi hari ini, jika keputusan yang ragu-ragu berlatar belakangkan keamanan ini dianggap melukai hati umat Islam, di forum ini saya mohon maaf. Tidak ada maksud sedikitpun untuk melegalisasi," tuturnya.

Keputusan tersebut ia ambil dengan terpaksa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat, ribuan penganut Syiah terlantar karena tidak mendapatkan izin tempat dimanapun.

Emil juga meminta umat Islam untuk mengerti posisinya sebagai walikota yang memimpin semua kelompok masyarakat. Emil menuturkan dirinya hanya mencoba menjadi pemimpin yang adil, 

"Tapi saya sebagai walikota mencoba seadil-adilnya sebagai pemimpin. Saya minta bapak-bapak mengerti posisi saya," tuturnya.

Sedikitnya 37 perwakilan ormas dan komunitas di kota Bandung mendatangi Balai Kota Bandung untuk meminta klarifikasi walikota terkait keputusannya memberikan izin perayaan peringatan hari Asyura Syiah di stadion Persib (Sidolig) pekan lalu.

Ally | Jurniscom

Puluhan Ribu Warga Sipil Suriah Melarikan Diri Hindari Serangan Udara Brutal Rusia

IDLIB (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu warga Suriah melarikan diri dari serangan pesawat tempur Rusia yang menargetkan daerah-daerah sipil, lansir Anadolu Agency, Senin (26/10/2015).

Di kamp pengungsi Atmeh di Suriah-Turki peningkatan jumlah pengungsi dari provinsi Hama, Homs, Idlib dan Aleppo telah tiba sejak Rusia memulai serangan udara pada tanggal 30 September.

"Pesawat Rusia telah membombardir daerah pemukiman, warga sipil dan anak-anak siang dan malam," Abdulkarim al Ahmed, dari Aleppo selatan melaporkan kepada Anadolu Agency. "Kami tidak punya pilihan selain melarikan diri ketika rumah kami dihancurkan."

Sebagian besar pengungsi berasal dari daerah di mana pasukan rezim Bashar al-Assad bertempur melawan koalisi pejuang Suriah.

Sejak Rusia mulai meluncurkan serangan udara, mereka mengklaim hanya menyerang Daesh (IS). Namun, anggota aliansi militer anti-Daesh, termasuk Turki, mengatakan warga sipil dan pasukan oposisi moderat anti rezim juga menanggung beban akibat serangan.

"Kami ingin dunia Muslim bersama-sama dan mengangkat suara terhadap pembantaian ini," kata Ahmed.

"Apa salah warga sipil terhadap tentara Rusia? Kami tidak memiliki afiliasi apapun dengan Daesh namun kami dibombardir setiap hari. "

Ahmed Abu Saleh mengatakan terdapat kedatangan puluhan ribu lainnya, yang meninggalkan rumah mereka. Laporan ini didukung oleh badan-badan bantuan yang mengatakan eskalasi kekerasan sejak Rusia bergabung dalam perang Suriah mengancam krisis kemanusiaan terburuk dalam empat tahun terakhir ini.

"Bentrokan telah diintensifkan di Aleppo dan kota-kota lain dengan bantuan serangan udara Rusia," kata Saleh. "Sekitar 20.000 orang telah meninggalkan rumah mereka selama tujuh hari terakhir dan menetap di kamp-kamp tenda di sepanjang perbatasan."

Dia menambahkan: "Kami datang ke sini dengan sekitar 300 keluarga lainnya. Kami takut akan dibom di jalan, karena mereka menjatuhkan bom barel pada orang-orang yang melarikan diri."

Serangan udara Rusia di Homs Utara pada 15 Oktober menewaskan sedikitnya 59 warga sipil, termasuk 33 anak-anak, menurut pernyataan Human Rights Watch (HRW) yang dikeluarkan pada hari Ahad seperti dikutip para pekerja darurat dan aktivis.

Kelompok itu mengatakan serangan tersebut merupakan "pelanggaran serius terhadap hukum perang".

Serangan itu merupakan bagian dari serangan udara yang lebih luas oleh Rusia pada wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali koalisi pejuang pejuang Suriah dan  untuk membantu serangan darat yang dilakukan oleh pasukan rezim dan sekutunya.

"Warga sipil di Homs utara mungkin memiliki tempat untuk bersembunyi atau melarikan diri saat serangan semakin intensif," Nadim Houry, wakil direktur HRW Timur Tengah mengatakan.

"Rusia harus memastikan mengerahkan semua tindakan pencegahan untuk melindungi warga sipil dan warga sipil yang mampu meninggalkan daerah jika mereka inginkan, tanpa terkena serangan udara Rusia atau Suriah."

Kelompok hak asasi mengatakan tidak ada peringatan atau pengumuman yang dibuat untuk warga sipil sebelum serangan 15 Oktober meskipun hukum perang menentukan adanya peringatan sebelum serangan yang dapat mempengaruhi warga sipil.

Itu bukan pertama kalinya pasukan Rusia menyerang warga sipil. Suriah-American Medical Society mengatakan serangan udara Rusia menghantam sembilan rumah sakit di Suriah pada bulan Oktober, membunuh dan melukai warga sipil dan staf.

Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, serangan udara Rusia telah menewaskan sedikitnya 127 warga sipil, termasuk 36 anak-anak, sejak 30 September.

"Rusia berbicara tentang serangan mereka yang tepat sasaran, namun laporan dari darat dan rekaman dampak serangan menunjukkan bahwa banyak warga sipil terbunuh," kata Houry.

"Rusia harus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil dari serangan mereka sendiri."

 

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Ribuan Pasukan Iran Berada di Suriah, AS akan Undang Teheran Untuk Perundingan di Wina

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Iran, sekutu utama rezim Suriah Bashar al-Assad, akan diundang untuk berpartisipasi dalam pembicaraan di Wina membahas mengakhiri konflik di Suriah, kata AS, lansir Aljazeera, Rabu (28/10/2015)

Departemen Luar Negeri mengatakan pada hari Selasa (27/10/2015) bahwa mereka  mengharapkan agar Damaskus, sekutu utama Iran, diajak berpartisipasi dalam pembicaraan, yang akan dihadiri oleh Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan timpalannya dari Rusia Sergey Lavrov bersama dengan diplomat Arab dan Negara Eropa lainnya.

"Undangan bagi Iran untuk berpartisipasi, saya pikir para pemimpin Iran bisa menilai bahwa itu adalah undangan multilateral yang asli," kata juru bicara Departemen Luar Negeri  AS, John Kirby kepada kantor berita AFP.

Para pejabat AS tidak akan mengatakan kekuasaan mana yang akan memberikan undangan ke Teheran dan tidak tahu apakah Iran akan menerimanya.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang global menemui jalan buntu, dengan adanya Rusia dan Iran menempel  pada rezim Assad sementara AS dan Arab Saudi bersikeras bahwa Assad harus setuju untuk mundur.

Tujuan dari pembicaraan, Kirby mengatakan, adalah untuk membuat awalan menyetujui kerangka kerja transisi politik untuk mengakhiri perang dan membuka jalan keluar bagi Assad.

"Jadi saya tidak bisa mengatakan dengan tepat apakah hasil pertemuan hari Jumat akan menjadi bab terakhir – saya meragukannya," katanya.

Iran telah menghabiskan miliaran dolar dalam empat tahun terakhir untuk menjaga rezim Assad tetap berkuasa, dengan ribuan pasukannya di lapangan.

Sekitar 2.000 tentara Iran berada di Suriah dan Irak membantu pemerintah Assad, seorang perwira militer AS mengatakan.

Korps Marinir Jenderal Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan pada hari Selasa bahwa jumlah pasukan Iran di Irak telah berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Di depan militer, Pentagon mengatakan akan meluncurkan serangan udara lebih banyak dan bahkan akan meluncurkan serangan darat langsung oleh pasukan khusus terhadap pejuang pejuang Suriah.

Upaya Washington untuk memasukkan Iran dalam proses diplomatik mungkin akan membuat marah musuh Teheran yaitu Arab Saudi.

Gedung Putih mengatakan bahwa Barack Obama dan Raja Saudi Salman telah membahas peningkatan dukungan untuk oposisi Suriah moderat dalam sebuah panggilan telepon  pada hari Selasa. Tidak jelas apakah mereka membahas pertemuan pekan ini di Wina.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Hamas: Zionis Netanyahu Berhasil Bohongi Para Pemimpin Dunia

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Hamas menganggap serbuan militer Israel dan gerombolan zionis, Selasa (27/10/2015) ke Masjidil Aqsha sebagai bukti kelanjutan Israel menodai Masjidil Aqsha, dan mengubah suasana di sana, Infopalestina melaporkan Selasa.

Jubir Hamas, Sami Abu Zuhri dalam siaran persnya, Selasa mengatakan, “Serbuan yang terus berlanjut menegaskan bahwa Netanyahu telah membohongi para pemimpin dunia dan pemimpin di kawasan.”

Abu Zuhri menyerukan segenap pihak yang mengapresiasi statmen Netanyahu untuk kembali mempertimbangkan kekeliruan ini, dan membuat kebijakan serius dan nyata untuk melindungi Masjid al Aqsha dan rakyat Palestina.

Puluhan pemukim zionis menyerbu halaman Masjidil Aqsha, dan sengaja menyakiti perasaan rakyat Palestina dan kaum muslimin, dengan pengawalan ketat yang setiap hari dilakukan, baik oleh polisi zionis, serdadu dan para pemukimnya, di saat yang sama dihadapi para Murabithun (kaum muslimin yang bersiaga) di Al-Aqsha, dengan takbir dan kesiagaan.

Sementara Dewan Wakaf Islam di Al-Quds menegaskan, kondisi saat ini di Masjidil Aqsha seperti sebelum penjajahan Israel tahun 1967, tak ada perubahan suasana, klaim Israel tak benar, pernyataan zionis berbeda dengan kebijakannya di lapangan yang bertentangan dengan semua norma dan hukum internasional dan HAM.

Hal itu disampaikan Dewan Wakaf di Al-Quds, pasca serbuan brutal yang menimpa Masjidil Aqsha, kaum muslimin yang bersiaga dan rakyat Palestina oleh pasukan Israel dan gerombolan yahudi, termasuk pembantaian terhadap warga sipil Palestina.

Dewan Wakaf menolak upaya simbolis Israel mengambil kendali Al-Aqsha.

Ketua Dewan Wakaf, Syekh Abdul Adzim Salhab dalam sambutannya menjelaskan, Al-Aqsha berada di area seluas 114 Acre lebih dengan semua bangunan di dalamnya, adalah milik kaum muslimin berdasarkan keputusan Rabbani yang termaktub dalam Al-Quran.

Semua upaya Israel dan klaimnya tak berdasar dan tidak sah, ungkap Syekh Salhab, di saat yang sama mengapresiasi sikap Raja Yordania yang menganggap Al-Aqsha sebagai garis merah yang tak boleh dinodai.

Syekh Salhab menegaskan, Departemen Wakaf  Islam yang berada di bawah kordinasi pemerintah kerajaan Yordania merupakan pihak legal satu-satunya yang berhak mengendalikan urusan Al-Aqsha, tak ada hak bagi penjajah zionis mengintervensi urusan wakaf dan Al-Aqsha.

Departemen Wakaf mendesak bangsa Arab dan umat Islam, OKI dan Liga Arab untuk melindungi Al-Aqsha, dan menghilangkan kezaliman yang menimpanya, karena Al-Aqsha merupakan bagian dari akidah kaum muslimin, dan tidak ada satu pihakpun yang boleh menodainya.

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Biksu Buddha Myanmar Rayakan Disahkannya Hukum Represif, Anti Islam

MYANMAR (Jurnalislam.com) – Biksu Buddha di Myanmar telah memulai perayaan kemenangan dua pekan dan bergembira atas diberlakukannya hukum yang ditakuti banyak pihak yang akan merusak hak-hak perempuan dan dapat digunakan untuk menekan kelompok agama minoritas yaitu Muslim, Aljazeera melaporkan.

Ratusan pendukung kelompok ultra-nasionalis Ma Ba Tha membentuk konvoi truk dan bus yang merayap melalui kota utama Yangon pada 14 September untuk menyambut pengenalan empat Hukum Perlindungan Ras dan Agama (Budha), yang disusun oleh kelompok mereka sendiri.

Human Rights Watch mengatakan bahwa undang-undang yang ditandatangani akhir bulan lalu, menetapkan aturan "yang melanggar hukum" bagi orang yang ingin mengubah agama, dan dapat digunakan untuk memaksa ibu menunggu tiga tahun untuk setiap kelahiran.

Para biksu senior ma Ba Tha ini memicu kekerasan anti-Muslim dengan menyebarkan makar-makar, provokasi dengan khotbah bahwa Buddhisme, agama mayoritas di sana, berada di bawah ancaman Islam.

"Jika perlu kita harus membangun pagar dengan tulang kita," lagu itu menggelegar dari speaker saat konvoi truk di pagi hari tersebut meninggalkan Shwedagon Pagoda, situs paling suci Myanmar, dalam perjalanan ke sebuah biara besar di timur Yangon.

Lagu ini menjadi populer setelah kerusuhan yang dipimpin Buddha meletus pada tahun 2012, yang membunuh ratusan warga serta menggusur puluhan ribu kaum Muslim, sebagian besar Muslim Rohingya.

Ketika wartawan Al Jazeera mencoba untuk ikut dengan konvoi, pengemudi sebuah truk keluar dari jendela dan berteriak: "Jangan ikuti kami, pergi, Anda akan ditangkap!"

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

 

Acara Asyura Syiah di Sidolig Ternyata Tak Kantongi Izin Kepolisian, IJABI Berbohong?

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Syamsuddin Baharudin mengklaim pihaknya telah mengantongi izin dari kepolisian terkait acara peringatan hari Asyura Syiah yang digelar di Stadion Persib Jl. Jend. Ahmad Yani, Bandung, Jumat (23/10/2015).

“Kalau acara berlangsung dari awal sampai akhir dengan pengawalan pihak kepolisian, itu artinya ada izin atau tidak? Silahkan tanyakan ke mereka ada izin atau tidak. Yang berhak memberikan izin kan pihak kepolisian,” kata Syamsuddin kepada Jurniscom di depan Stadion Persib, Jumat (23/10/2015).

Namun, walikota Bandung, Ridwan Kamil mengatakan acara tersebut digelar atas izinnya yang diberikan secara lisan melalui sambungan telepon.

“Kejadiannya adalah magrib saya ditelpon oleh pengurus IJABI itu yang mengatakan sudah ada ribuan orang tapi tidak mendapat tempat, takut chaos. Saya juga sedang tidak berada di Bandung,” ungkap Kang Emil, sapaannya, dalam pertemuannya dengan sejumlah ormas Islam di Balai Kota Bandung, siang tadi, Selasa (27/10/2015).

“Maka dengan terpaksa saya bilang, ini harus cepat-cepat beres supaya tidak menimbulkan dampak keamanan. Akhirnya secara lisan saya izinkan (di Sidolig-red), itu pun saya bilang maksimal satu jam dan segera bubar,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Emil juga mengatakan bahwa kepolisian tidak memberi izin kepada IJABI untuk menggelar acara tersebut.

“Makanya saya bilang ke Pak Kapolres, saya tahu bapak tidak mengizinkan tapi ini tolong diamankan dan secepatnya tolong dipulangkan,” ujarnya.

Tidak seperti pengakuan ketua IJABI, izin tersebut bukan berasal dari kepolisian, akan tetapi dari walikota Bandung. Itu pun dengan terpaksa, karena Ridwan tak ingin ada gangguan keamanan di kota yang dipimpinnya.

“Saya harus memutuskan sesuatu yang masuk logika saya, yaitu Bandung harus aman,” cetusnya.

Satu jam waktu yang diberikan walikota Bandung untuk acara tersebut membuat pihak kepolisian harus mengevakuasi seluruh peserta Asyura.

Sebelumnya, pihak IJABI telah menyewa gedung Mepro di Jl. Soekarno-Hatta. Namun, pihak Mepro membatalkannya dengan alasan acara peringatan hari Asyura Syiah tersebut diketahui tidak mendapat izin dari pihak kepolisian.

Ini Alasan Ridwan Kamil Izinkan IJABI Gelar Asyura di Sidolig

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Walikota Bandung, Ridwan Kamil mengakui dirinya memberikan izin kepada Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) untuk menggelar acara peringatan hari Asyura Syiah oleh di Stadion Persib pada hari Jumat, 23 Oktober 2015 lalu. Namun, Kang Emil, sapaannya, membantah dirinya melegalisasi acara tersebut. Lalu bagaimana kronologis izin tersebut bisa ia berikan?

"Kejadiannya adalah magrib saya ditelpon oleh pengurus IJABI itu yang mengatakan sudah ada ribuan orang tapi tidak mendapat tempat, takut chaos. Saya juga sedang tidak berada di Bandung. Disitu saya harus memutuskan sesuatu yang masuk logika saya, yaitu Bandung harus aman," jelasnya kepada puluhan perwakilan ormas Islam dan komunitas di Balai Kota Bandung Jl Wastukencana No. 2, Selasa (27/10/2015).

Kang Emil mengaku terpaksa mengizinkan acara tersebut, karena khawatir menimbulkan dampak keamanan.

"Maka dengan terpaksa saya bilang, ini harus cepat-cepat beres supaya tidak menimbulkan dampak keamanan. Akhirnya secara lisan saya izinkan (di Sidolig-red), itu pun saya bilang maksimal satu jam dan segera bubar," paparnya.

"Jadi pertimbangan itu lebih banyak ke pertimbangan keamanan. Karena kalau formal pasti saya juga tidak akan memberikan izin itu. Jadi tolong pahami asbabunuzul (asal-usul, red)nya. Daripada berkumpul di jalan dan terjadi ekskalasi yang tidak terkendali, akhirnya saya ambil keputusan itu," tambah Emil.

Atas keputusan tersebut, Emil menyatakan permohonan maaf kepada umat Islam. Dirinya tidak bermaksud untuk melegalisasi acara tersebut.

"Jadi hari ini, jika keputusan yang ragu-ragu berlatar belakangkan keamanan ini dianggap melukai hati umat Islam, di forum ini saya mohon maaf. Tidak ada maksud sedikitpun untuk melegalisasi," tuturnya.

Selain itu, Emil juga menegaskan dirinya siap mempertanggungjawabkan keputusannya itu di hadapan Allah Swt.

"Dalam hidup saya ada persimpangan-persimpangan emergensi yang saya terpaksa harus memutuskan. Tapi Allah Maha Tahu isi hati saya. Pada akhirnya kebenarannya saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Saya tidak menyukai Syiah," ujar Kang Emil.

Siang tadi, puluhan perwakilan ormas Islam mendatangi walikota Bandung, Ridwan Kamil untuk meminta klarifikasi terkait izin yang diberikan kepada IJABI untuk menggelar acara peringatan Asyura Syiah di stadion Persib (Sidolig).

Ally | Jurniscom

Terkait Izin Asyura di Sidolig, Ormas Islam Datangi Ridwan Kamil

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 35 perwakilan ormas Islam dan komunitas siang tadi, Selasa (27/10/2015) mendatangi Balai Kota Bandung Jl Wastukencana No.2, untuk meminta klarifikasi Walikota Bandung, Ridwan Kamil terkait izin yang diberikan kepada kelompok Syiah menggelar acara peringatan hari Asyura di Stadion Persib pada hari Jumat 23 Oktober 2015.

Gabungan ormas yang diwakili oleh Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Jawa Barat, ustadz Muhammad Roinulbalad itu meminta Ridwan Kamil untuk memberikan klarifikasi tentang pernyataan IJABI yang mengklaim telah mengantongi izin atas acara tersebut.

"Jika walikota mengaku tidak mengeluarkan izin ataupun rekomendasi penyelanggaraan Asyura, maka walikota Bandung harus mengusut dan juga menindak pihak IJABI yang mengatasnamakan Walikota Bandung Ridwan Kamil memberikan izin, rekomendasi atau kemudahan acara," terang Ustadz Roin.

Ustadz Roin juga meminta walikota mengeluarkan surat himbauan pelarangan kegiatan dan perayaan hari raya Syiah di Kota Bandung. Untuk mewujudkan hal tersebut, perwakilan ormas Islam meminta pemkot Bandung untuk mengumpulkan MUSPIDA (MUI, Kemenag, TNI, Polri).

Beliau melanjutkan, umat Islam percaya bahwa walikota Bandung akan berupaya mendukung umat Islam Bandung menjaga akidah umat Islam dari aliran sesat.

"Kami berharap Bapak Ridwan Kamil dapat menjalankan amanah dengan sebaiik-baiknya dan siap mendengar masukan warganya dan juga ulama," harapnya.

Sementara itu, perwakilan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), ustadz Abdul Hadi mengatakan umat Islam di Jawa Barat telah diresahkan oleh kegiatan-kegiatan kelompok Syiah yang telah melanggar UU PNPS No. 1 tahun 1965 tentang penafsiran yang menyimpang dalam suatu agama.

"Jadi kami di lapangan sering mendapatkan porsi yang tidak adil oleh pemerintah. Kami meminta supremasi hukum itu betul-betuk ditegakkan, bukan keadilan yang hanya diatas kertas," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan penganut Syiah dari Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menggelar acara peringatan hari Asyura di stadion Persib, Jl. Jend. Ahmad Yani, Bandung, Jumat (23/10/2015) dengan dalih telah mengantongi izin dari kepolisian dan pemerintah kota Bandung.

Ally | Jurniscom

Edisi Kedua Al Risalah Tampilkan Mujahidin Veteran Kebangsaan Australia

SURIAH (Jurnalislam.com) – Al Qaeda di Suriah telah merilis edisi kedua Al Risalah, sebuah majalah berbahasa Inggris. Publikasi, yang didistribusikan melalui media social, Ahad (25/10/2015), berisi pesan resmi Al Qaeda.

Dalam edisi kedua majalah Al Risalah tersebut terdapat wawancara dengan mujahidin yang dikenal sebagai Usama Hamza Australi, yang berasal dari Queensland, Australia. "Aku sudah menjadi anggota Al Qaeda selama kurang lebih empat belas tahun – sejak pertengahan tahun 2001 hingga saat ini," kata Usama Hamza.

"Saat ini saya di Suriah sebagai anggota Al Qaeda Central (AQC), bekerja atas nama mereka dengan Jabhah Nusrah."

Keputusan Al Qaeda untuk mengirim veteran ke Suriah, di mana mereka membantu untuk mengarahkan Jabhah Nusrah, cabang  resmi  Al Qaeda, dan telah terdokumentasi dengan baik.

Namun, tidak semua mujahidin diidentifikasi secara publik. Dalam wawancara itu, Usama Hamza Australi mengungkapkan tidak hanya perannya sendiri, tetapi juga rincian tambahan mengenai operasi al Qaeda.

Deddy | Jurniscom