Hoax La Nyalla Dimaafkan Jokowi, Fahri: Harusnya Dipenjara!

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, ada perbedaan tindakan hukum pada kasus penyebaran berita bohong (hoax) eks Kader Gerindra, La Nyalla Mattalitti dengan Ratna Sarumpaet.

“Pengakuan dan permohonan maaf tak membuat Ratna dimaafkan oleh hukum…begitulah juga kepada orang lain yg membuat pengakuan yang mengandung unsur pidana. Menuduh dan memfitnah seseorang keturunan PKI tanpa dasar harusnya dipenjara bukan dimaafkan,” cuit Fahri di akun Twitter-nya @Fahrihamzah, Kamis (13/12/18).

Cuitan Fahri Hamzah

Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini mengatakan, akan timbul opini publik yang negatif terhadap pemerintah. Sebab, La Nyala saat ini bergabung dengan tim kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf.

“Pak Jokowi harusnya jangan senang dibela oleh orang yang punya kepentingan dan masalah terutama dalam hukum. Sebab itu adalah metode pembusukan yang efektif,” tulisnya.

“Ketidakmauan menghukum pengakuan pidana pada satu kubu dan penghukuman di kubu lain adalah tindakan yang mengundang kecurigaan bahwa pengakuan ini hanyalah sandiwara untuk membebaskan diri dari masalah lain. Hukum harus tegak sama!,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Eks Kader Gerindra La Nyalla Mattalitti blak-blakan mengakui bahwa dirinya pernah menyebarkan isu Presiden Joko Widodo atau Jokowi simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa waktu lalu.

Selain itu, dia juga mengaku pernah memfitnah Jokowi beragama kristen dan keturunan Cina.

Tiga Sebab Utama Allah Hancurkan Suatu Negeri

Oleh: Hamzah Baya, Ketua Mimbar Tauhid

JURNALISLAM.COM – Dewasa ini, Indonesia tengah dilanda berbagai masalah. Baik itu masalah bencana, sampai dengan masalah separatisme dan gerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di tanah Papua yang tengah memakan puluhan korban.

Pemerintah bersama masyarakat terlihat aktif untuk mencari solusi dalam bentuk tindakan dan pikiran. Bahu-membahu agar bumi Pertiwi kembali stabil, tidak terlihat goncang lagi. Setidaknya ada tiga sebab utama yang dirangkum penulis mengapa Allah menghancurkan sebuah negeri:

1. Bermaksiat Kepada Allah.

Diantara sebab Allah menghancurkan sebuah negeri yaitu disebabkan karena ulah manusia yang membuat kerusakan di bumi baik secara langsung dengan sengaja atau disebabkan kelalaianya.

Banyak yang memahami “kerusakan di muka bumi” hanya sebatas pada hal-hal yang nampak, seperti bencana alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi, kebakaran, pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit menular dan lain sebagainya.

Sementara kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata, juga banyak dilakukan oleh manusia. Padahal ini adalah kerusakan yang paling besar dan fatal akibatnya, bahkan kerusakan inilah yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan yang nampak jelas di atas. Allah Ta’ala berfirman,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

“Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Maka ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti “kerusakan” yang sebenarnya dan merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Imam asy-Syaukaani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Dalam ayat ini) Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirk dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta” (Kitab “Fathul Qadiir: 5/475).

2. Pemimpin yang tidak menjalankan syariat Allah

Allah Menghancurkan Suatu Negeri Lewat Pemimpinnya, Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada Pembesar di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
(Surah Al-Isra’ ayat 16).

Sungguh benar ayat ini membuktikan bahwa setelah kurang lebih 1400 tahun sejak zaman Rasulullah, banyak sekali ayat-ayat yang muncul sebagai kebenaran yang nyata.

Sudah terlihat apabila Allah berkehendak menghancurkan suatu negeri maka para Pembesar, Pejabat, Pemerintah atau orang-orang yang hidup dalam kemewahan telah melakukan berbagai macam kekufuran. Entah itu banjir di Kota Besar karena perselisihan pemerintahannya, entah itu hutan yang gundul karena keserakahan orang-orang kaya, bahkan para pemimpin yang jelas jelas tidak mau memberlakukan syariat Allah di dalam negeri tersebut dan masih banyak lagi contoh-contohnya.

Maka jika semua itu terjadi (kekufuran pembesar-pembesar itu) maka hak Allah untuk menghancurkan suatu negeri sudah final dan Allah akan mengahncurkan negeri itu sehabis-habisnya.

3. Tidak bersyukur kepada Allah (Kufur Nikmat)

Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ ﴿١٥﴾ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ﴿١٦﴾ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Q.S As saba’ 34:15-17)

Kemakmuran negeri saba’.

Kerajaan ini terkenal dengan hasil alamnya sehingga banyak orang yang berhijrah dan berdagang ke sana. Dengan demikian, kerajaan ini bisa menjadi kerajaan yang sangat kaya dan makmur pada saat itu. Allâh Azza wa Jalla mengabadikan keadaan mereka di dalam al-Qur’ân:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allâh) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri [Saba’/34:15]

Dua kebun itu sangat luas dan terletak di hamparan lembah antara dua gunung di Ma’rib. Tanahnya sangat subur dan menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan.

Qatâdah rahimahullah dan ‘Abdurrahmân bin Zaid rahimahullah, dua orang tâbi’i, menceritakan bahwa apabila ada seseorang masuk ke dalam kebun itu dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar maka keranjang tersebut akan dipenuhi dengan buah-buahan tanpa harus memetik buah tersebut. Dan di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kelajengking dan ular. (At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin ‘Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.)

Kenapa Allah hancurkan kaum saba’?

Sebelum Ratu Bilqis masuk Islam, kaum Saba’ menyembah matahari dan bintang-bintang. Setelah beliau memeluk Islam, maka kaumnya pun mengikutinya.

Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ dalam keadaan bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla , hingga akhirnya kembalilah mereka ke agama nenek moyang mereka.

Allâh Azza wa Jalla telah mengutus tiga belas rasul kepada mereka. Akan tetapi, mereka tetap saja tidak mau kembali ke dalam Islam. Allâh Azza wa Jalla pun murka dan menghancurkan bendungan yang telah mereka buat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir Al-‘Arim (Q.S Saba’/34:16)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna al arim di ayat tersebut. Maknanya yang mereka sebutkan adalah sebagai berikut: air yang ditampung bendungan, air yang sangat besar, nama wâdi (lembah), dan mengirim seekor tikus yang menghancurkan bendungan . (Sunan At-Tirmidzi. Abu ‘Îsa At-Tirmidzi. Riyadh: Maktabah Al-Ma’ârif)

Dengan adzab yang Allâh Azza wa Jalla turunkan itu, hancurlah semua kebun yang mereka banggakan selama beratus-ratus tahun dan Allâh Azza wa Jalla gantikan dengan kebun-kebun yang tidak berarti.

Ini semua adalah balasan bagi orang yang sangat kafir kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Wallahua’alam bisshowab

Begini Kritik Pedas Fadli Zon Menyoal Tercecernya Ribuan e-KTP di Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengomentari persoalan tercecernya ribuan Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP di area persawahan Pondok Kopi, Jakarta Timur, Sabtu (8/12/2018). Menurutnya, itu merupakan peristiwa yang memalukan.

“Masalah e-KTP ini tidak selesai-selesai dan harusnya ada suatu evaluasi. Saya baca itu menteri dalam negeri siap dipecat untuk apa itu, harusnya mengundurkan diri saja kalau memang tidak sanggup ya,” katanya melalui rilis yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Selasa (11/12/2018).

Wakil Ketua Umum Gerindra ini menilai, Mendagri Tjahjo Kumolo tidak sigap dalam mengurai persoalan e-KTP. Padahal, kata Fadli, pemerintah sudah berjalan empat tahun, dan polemik seperti ini terus terjadi.

“Mengurus daftar pemilih tetap (DPT) dan juga mengurus data-data kependudukan. Ini masalah-masalah dasar kok. Selama 4 tahun ini ngapain aja gitu loh,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pria yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintah ini menyebut e-KTP itu adalah dokumen penting bagi warga negara. Sebab, e-KTP punya andil besar pada Pemilu dan Pilpres 2019.

“Ya terserah itu mau ada masalah dari pemerintahan sebelumnya atau dari sebelum-sebelumnya tapi kan diberikan waktu. Sudah 4 tahun lebih. Kan berarti dari alokasi waktu 4 tahun lebih ini tidak bisa menyelesaikan persoalan,” tandasnya.

Diduga Daerah ‘Rawan Aqidah’, Mushola dan Sejumlah Elemen Solo Gelar Kegiatan Ini

SOLO (Jurnalislam.com) – Mushola Al Barokah, Kenteng, Semanggi, Solo bersama sejumlah elemen Soloraya menggelar aksi baksos dan tabligh akbar bertajuk ‘Aqidahmu Surgamu’ Jumat (7/12/2018).

Ketua panitia Aqila mengatakan, aksi baksos dan tabligh akbar itu untuk memperkuat keimanan masyarakat sekitar.

“Ada kajian akbar, pembagian 200 paket sembako untuk dhuafa,” katanya kepada Jurnalislam.com disela sela kegiatan.

Baksos berupa makan gratis

Lebih dari itu, dengan kegiatan baksos dan tabligh akbar Aqila berharap dapat membentengi masyarakat muslim dari upaya pendangkalan aqidah yang diduga dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab di daerah sekitar.

Selain pembagian paket sembako, panitia juga menyediakan paket nasi gratis dari Warung Murah, kopi gratis dari Exs Preman Solo (Exspreso).

Habib Rizieq: Ada 5 Gerakan Sistematis Sedang Menghancurkan NKRI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) mengatakan, ada lima indikasi gerakan sistematis dan terstruktur yang sedang menghancurkan kesatuan NKRI.

“Pertama pembiaran aliran sesat dan penodaan agama secara masif, bahkan para pelakunya dilindungi dan dibesarkan, padahal agama apapun tidak boleh dinista dan dinodai apalagi agama Islam yang merupakan agama rahmatan lil alamin,” katanya kepada jutaan massa aksi Reuni Akbar Mujahid 212 melalui teleconference (sambungan jarak jauh) di Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018).

“Kedua pembiaran kezaliman dan ketidakadilan yang meruntuhkan sendi-sendi penegakan hukum. Sehingga yang disukai rezim bebas melanggar hukum sedang yang tidak disukai dikerjai dengan merekayasa rekayasa,” imbuh HRS.

Nomor tiga menurut Rizieq adalah permasalahan ekonomi. Ia mengkritisi adanya pemberdayaan ekonomi neolib berdasarkan sistem untungkan penjajah asing dan aseng.

“Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, lapangan kerja dipelihara asing, nilai mata uang terus merosot, pasar rakyat dilibas habis oleh konglomerat kita, bahkan kaum cilik banyak yang kelaparan dan kekurangan gizi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, pembiaran kemungkaran dan kemaksiatan seperti perdukunan, korupsi, pornografi, pornoaksi, prostitusi dan LBGT disebut HRS juga sebagai indikasi yang bisa merusak NKRI.

“Sehingga kemaksiatan seperti ini merajalela. Keterusan generasi bangsa secara menakutkan sekaligus mengundang bencana dimana mana. Inalillahi wa innailahi rojiun,” katanya.

Terakhir, Rizieq menyebut saat ini adanya tindak pembudayaan dan pelestarian kebohongan dalam pengelolaan negara.

“Ironisnya bohong dijadikan tradisi dan dipertontonkan secara massal, bahkan dalam soal kecil sekalipun harus bohong, rakyat terus dicekoki berita hoaks dan fitnah. Pernyataan-pernyataan yang penuh dusta dan bohong,” paparnya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh umat Islam dan rakyat Indonesia untuk segera bersatu dan bahu-membahu dalam melakukan perbaikan dan perubahan yang lebih baik.

“Saudaraku seiman seakidah, saudaraku sebangsa dan setanah air, kondisi buruk dan situasi gawat ini harus segera dihentikan. Kondisi buruk yang sangat berbahaya ini harus segera di berhentikan tidak boleh dibiarkan,” pungkasnya.

Reuni Akbar Mujahid 212 Tertib dan Damai, Begini Apresiasi Ketua Fraksi PKS

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Reuni Akbar 212 yang telah berlangsung dengan lancar, rapi, tertib, aman dan penuh kedamaian.

“Umat kembali membuktikan betapa mereka sangat dewasa dalam berdemokrasi. Dengan jumlah massa jutaan yang diprediksi lebih banyak dari reuni sebelumnya, semua berjalan tertib dan aman. Bahkan, sekali lagi kita harus angkat topi, selesai acara Monas dan sekitar tempat acara kembali bersih tak ada sampah tersisa. Masya Allah,” katanya melalui rilis yang diterima redaksi Jurnalislam.com, Senin (03/12/2018).

Menurutnya, ini bukti nyata bahwa Reuni 212 bukan gerakan yang macam-macam seperti dikhawatirkan sebagian pihak, bukan gerakan bayaran, bukan gerakan yang bakal menganggu atau mengancam bangsa seperti ditiduhkan pihak-pihak tertentu secara tidak bertanggung jawab.

“Kita menyaksikan sendiri rakyat berbondong-bondong datang karena panggilan nurani dan semangat silaturahim. Siapa yang sanggup membayar untuk menghadirkan massa sebanyak itu?,” tanya Jazuli.

Untuk itu, lanjut Anggota DPR Dapil Banten ini, sudah selayaknya kita berikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir atas semangatnya, besarnya arti persaudaraan, dan kedewasaannya yang luar biasa dalam mencontohkan kepada bangsa ini bagaimana berdemokrasi yang rapi, tertib, aman dan damai.

Warna-warni Bendera Tauhid dan Merah-putih bersanding di aksi Reuni Akbar Alumni 212, Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018). Foto: Jajat/Jurnis

Sementara itu, kepada pemerintah Jazuli berpesan bahwa spirit 212 yang ditunjukkan oleh jutaan massa dari berbagai daerah, suku, bahkan lintas agama hari ini adalah modal sosial yang besar untuk kemajuan bangsa.

“Saya tegaskan lagi, spirit 212 sangat positif untuk mengokohkan keindonesiaan. Memberi pesan kuat bahwa rakyat khususnya umat Islam siap menjaga dan mengawal Indonesia sesuai nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah harus menangkap pesan itu!,” pungkas Jazuli.

Reporter: Ally M Abduh

Orasi Ketua MPR di Reuni Akbar 212: NKRI Harga Mati Bagi Umat Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua MPR RI, Zulkifiki Hassan berorasi dalam Reuni Akbar Mujahid 212 di Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018).

Ia menyampaikan pesan kepada umat non muslim untuk tidak takut dengan umat Islam. Karena umat Islam lah yang telah memerdekakan dan mempersartukan bangsa ini.

“Percayalah, tidak usah khawatir dengan umat Islam. Umat Islam sudah hatam soal toleransi, persatuan itu harga mati bagi umat Islam. Karena Indonesia tidak akan pernah merdeka tanpa peran umat Islam,” katanya di hadapan jutaan massa Reuni Akbar Mujahid 212 di Monas, Ahad (2/12/2018).

Ia menjelaskan, tokoh Islam kembali menjadi peran dalam mengembalikan NKRI yang sempat menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) atas desakan kolonial pasca kemerdekaan.

“Pak Natsir (Mohammad Natsir-red) membuat Mosi Integral dan berhasil mengembalikan NKRI,” paparnya.

Oleh sebab itu, kata dia, jangan pernah meragukan kecintaan umat Islam kepada NKRI.

“NKRI sudah harga mati bagi Umat Islam tapi dengan syarat jangan diganggu. Marilah sayangi umat Islam, maka umat Islam akan menyayangi umat lainnya,” tutur Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu.

Dalam kesempatan itu, Zulhass, sapaannya, juga mengimbau kepada peserta reuni 212 untuk menjadi pelopor pemilu yang damai.

“Saya berharap alumni 212 menjadi pelopor Indonesia dan pemilu damai, pemilu yang membawa kemajuan bagi indonesia,” ujarnya.

Selain itu, Zulhass juga mendoakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab yang saat ini masih berada di Arab Saudi.

“Doa kita untuk imam kita, untuk guru kita Habib Muhammad Rizieq Bin Husein Shihab,” imbuhnya.

Reporter: Ally M Abduh

Ahmad Dhani Berharap Tahun Depan 2 Desember Menjadi Hari Libur Nasional

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Musisi Ahmad Dhani berharap tanggal 2 Desember diresmikan menjadi hari ukhuwah Islamiyah umat Islam Indonesia dan menjadi hari libur nasional.

“Saya berharap tahun depan Prabowo presiden dan 2 Desember menjadi Hari Ukhuwah dan menjadi hari libur nasional, amin,” katanya kepada wartawan di kawasan Monas, Jakarta, Ahad (2/12/2018).

Pentolan band Dewa ini juga mengaku sudah resah dengan rezim saat ini yang berlaku tidak adil kepada rakyatnya khususnya umat Islam.

“Pada rezim ini ketidakadilan nyata-nyata dipamerkan, jadi memang harua segera diganti,” tegasnya.

Baca juga: 

Dhani terlihat hadir dalam acara Reuni Akbar Mujahid 212 di panggung utama. Dia duduk di samping Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon.

 

Ini Sambutan 3 Tokoh Penggagas Aksi Reuni Akbar Mujahid 212 di Monas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tiga tokoh penggagas aksi Reuni Akbar Mujahid 212 memberikan sambutan hangat kepada jutaan massa yang memenuhi Monas dan sekitarnya pada Ahad (2/12/2018).

Ketiga tokoh yang terdiri dari Ketua Umum FPI KH Sobri Lubis, Ketua GNPF Ulama ustaz Yusuf Martak dan ketua persaudaraan 212 ustaz Slamet Ma’arif memberikan sambutan kepada peserta secara bergantian.

Sobri Lubis yang mengawali sambutan menyebut berkumpulnya jutaan umat Islam di Monas kali ini sebagai bentuk upaya persatuan, dalam komitmen bersama membela agama dan bangsa Indonesia dari para musuh-musuhnya.

“Kedatangan kita tidak lain adalah untuk mengecharge iman kita, kesatuan kita selalu komitmen untuk membela agama dan negara,” katanya dari atas panggung utama.

Selanjutnya, Yusuf Martak mengatakan, banyaknya peserta yang hadir dari berbagai tempat membuktikan besarnya ukhuwah umat Islam meski kedatangan peserta tidak mudah ke Ibukota.

Baca juga: 

“Saya mengucapkan ahlan wa sahlan kepada para mujahid yang susah payah menuju kesini karena rasa cinta dan ingin bertemu,” ungkapnya.

Sementara itu, Slamet Ma’arif mengatakan, fitnah dan upaya kriminalisasi yang dilakukan kepada Habib Rizieq tidak akan mampu menghilangkan kecintaan terhadap imam besar FPI tersebut.

“Sampai kapanpun kalian tidak bisa menghapuskan kecintaan kita pada Habib Rizieq Shihab, hei musuh Islam kamu benci kalimat tauhid, tapi sampai kapanpun kita akan menegakan tauhid di buminya Allah Subhanahu Wata’ala,” paparnya.

“Satu bendera tauhid kau bakar, hari ini kita kibarkan sejuta bendera tauhid saudara,” tandasnya.

“212 Lebih Tinggi Dari Politik, Jangan Jadikan Dia Di Bawahnya”

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw membantah tudingan bahwa Reuni Akbar Mujahid 212 ditunggangi kepentingan politik. Menurutnya, justru politik itu ada di bawah 212.

“212 itu lebih tinggi dari hanya politik, bukan politik yang mengatur 212. Tapi 212 lebih tinggi nilainya dari hanya sekedar politik,” katanya kepada Jurnalislam.com di Kawasan Monumen Nasional (Monas), Ahad (2/12/2018).

Penceramah muda dan mualaf ini mengatakan, presiden boleh diganti siapa saja tetapi 212 akan selalu ada. Dan politik dalam demokrasi itu boleh memilih siapa saja, akan tetapi meninggikan kalimat tauhid adalah pilihan satu-satunya bagi kaum muslimin.

Baca juga: 

“Jadi politik itu di bawah 212, jangan jadikan dia di atasnya,” ujarnya.

Ustaz Felix Siauw menghadiri acara Reuni Akbar Mujahid 212 di Monas, Jakarta. Foto: Ally Muhammad Abduh/Jurnis

Pria bertopi aksara tauhid putih yang hadir dalam acara Reuni Akbar Mujahid 212 itu juga menyampaikan, aksi 212 adalah pesan perdamaian bagi agama-agama selain Islam. Hal tersebut dibuktikkan dengan hadirnya undangan dari kalangan non-muslim dalam acara tersebut.

“Aksi ini juga menunjukkan pesan perdamaian kepada agama lain. Mereka aman berada di tengah-tengah kaum muslimin,” pungkasnya.