Iran Tidak Menganggap Milisi Komunis PYD Teroris

TEHERAN (Jurnalislam.com) – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Hossein Jabari Ansari menolak menyebut kelompok milisi komunis Suriah PYD sebagai sebuah organisasi teroris saat konferensi pers di Teheran, lansir World Bulletin, Selasa (23/02/2016).

PYD dan sayap bersenjatanya YPG, dipandang sebagai organisasi teroris oleh Turki dan dunia Internasional, yang mengatakan kelompok tersebut mendukung rezim Bashar al-Assad serta berada di belakang serangan bom mobil hari Rabu (17/02/2016) di Ankara yang menewaskan 28 orang dan melukai 61 lainnya.

Pada konferensi pers di ibukota Iran Teheran pada Senin, wartawan Anadolu Agency mengajukan pertanyaan: "Apakah Iran secara resmi menerima YPG sebagai organisasi teroris?".

Namun, bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan PYD, juru bicara mengatakan: "Iran mengutuk tindakan teroris kejam seperti aksi teroris di Ankara".

Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan hari Kamis bahwa serangan itu dilakukan bersama-sama oleh anggota YPG Suriah dan anggota PKK yang berbasis di Turki.

YPG adalah sayap bersenjata PYD yang mendapatkan dukungan dari AS merupakan cabang di Suriah dari kelompok teroris komunis PKK.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Al Shabaab Ancam Tingkatkan Serangan di Kenya

SOMALIA (Jurnlislam.com) – Pemimpin cabang lokal Al Shabaab di Kenya mengancam lebih banyak serangan di dalam negerinya, pernyataan tersebut dilontarkan di hadapan mujahidin di sebuah kamp pelatihan, menyusul serangan pasukan Kenya bulan lalu di El Adde, Somalia. Al Shabaab adalah lengan resmi Al Qaeda di Afrika Timur. Pemimpinnya, Syeikh Ahmed Iman Ali, juga membahas alasan untuk menargetkan pasukan Kenya di negara tetangga Somalia, lansir The Long War Journal, Selasa (23/02/2016).

"Kita tahu pasti bahwa bencana telah melanda El Adde. Kenya sudah diperingatkan lagi dan lagi dan lagi," kata Syeikh Ali, menurut terjemahan bahasa Inggris dari video yang dirilis oleh Global Islamic Media Foundation (GIMF) Al Qaeda. Ali melanjutkan dengan mengatakan: "Saya katakan kepada Anda, bahwa satu-satunya benda yang saya beli adalah turban saya. Senjata, tas dan seragam saya semuanya adalah rampasan perang (ghonimah) dari pasukan Kenya."

Dia kemudian membahas kejahatan perang yang dilakukan oleh Angkatan Pertahanan Kenya (Kenyan Defence Force-KDF) di Kenya dan Somalia.

"Pertama, saudari (muslimah) kita yang sedang hamil dilemparkan oleh kuffar (murtadin) dari lantai tiga," kata Ali. "Saudari kita yang lain di daerah yang sama juga dilempar dari atas rumah sampai tulang punggungnya patah. Di Mandera, mereka datang dan menculik ibu kami yang memiliki lima anak dan untuk mendukung mereka.”

Mujahidin kemudian mengancam Kenya dengan serangan di masa depan dengan mengatakan Al Shabaab akan memaksa Kenya untuk "mengubah bendera mereka dengan menghapus semua warna kecuali merah sebagai indikasi darah yang akan kita tumpahkan di Kenya." Dia menyimpulkan ancamannya dengan menyatakan "Kenya telah menenggelamkan dirinya ke dalam perang padahal mereka tidak sepenuhnya memahami arti perang."

Dalam video tersebut, Syeikh Ali juga mengarahkan fokus ke keluarga yang dibunuh tentara KDF, juga. "Jika keluarga dari orang yang memiliki senjata nomor 490 ini mencari anak mereka, beritahu mereka bahwa saya sekarang memiliki rampasan perang yang diambil dari dia." Selain itu, ia menyatakan bahwa "Setiap warga Kenya yang telah kehilangan anggota keluarga mereka karena menjadi tentara Kenya yang dikalahkan singa-singa Shabaab harus menghubungi kami."

Dalam membahas El Adde, Syeikh Ali mereferensikan serangan bulan terakhir pada basis Kenya di kota Somalia selatan di mana lebih dari 60 tentara KDF dilaporkan tewas. Shabaab menyebutkan tentara KDF yang tewas berjumlah lebih tinggi dari 100. Hanya beberapa hari kemudian, KDF menarik diri dari El Adde dan Shabaab menguasai kota.

Baca juga:

Somalia Selatan Kembali ke Pangkuan Mujahidin al Shabaab

Al Shabab Rilis Serangan di Basis Militer Kenya, 100 Tentara Salib Tewas, Lainnya Ditangkap

 

 

 

Deddy | TLWJ | Jurnalislam

 

ECHR Kutuk Italia atas Penculikan Imam Mesir oleh CIA

ITALIA (Jurnalislam.com) – Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (The European Court of Human Rights-ECHR), pada hari Selasa (23/02/2016) mengutuk Italia atas penculikan CIA tahun 2003 terhadap seorang imam Mesir yang telah diberikan suaka politik oleh otoritas Italia, World Bulletin melaporkan Selasa.

Imam Osama Mustafa Hassan Nasr, lebih dikenal sebagai Abu Omar, "diculik" saat berjalan menyusuri jalan di Milan dan dibawa ke sebuah pangkalan angkatan udara AS di Jerman dan kemudian ke Mesir, katanya, menyatakan bahwa Italia bersalah atas lebih banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia.

Kesalahan Italia itu termasuk melanggar larangan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi atau merendahkan bawah Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia.

"Pengadilan menetapkan bahwa pihak berwenang Italia sadar bahwa pemohon telah menjadi korban dari suatu operasi rendisi luar biasa yang dimulai dengan penculikan di Italia dan dilanjutkan dengan pemindahan ke luar negeri," katanya.

Pengadilan juga memutuskan bahwa prinsip sah 'rahasia negara' jelas telah diterapkan oleh eksekutif Italia dalam rangka memastikan bahwa para pelaku tidak harus bertanggung jawab atas tindakan mereka.

"Penyelidikan dan pengadilan tidak menghukum mereka yang bertanggung jawab, yang pada akhirnya diberikan kekebalan hukum," tambahnya.

Italia membantah terlibat dalam penculikan Abu Omar, yang kini tinggal di Mesir dan juga dihukum in absentia dan dijatuhi hukuman enam tahun oleh pengadilan Italia pada tahun 2013.

Dua puluh tiga orang Amerika, termasuk 22 agen CIA, dihukum in absentia tahun 2009 oleh pengadilan Italia atas penculikan tahun 2003, setelah Abu Omar diterbangkan ke Mesir di mana pengacaranya mengatakan dia disiksa.

Sidang di Italia adalah salah satu yang terbesar di dunia mengikuti Program Washington yang luar biasa kontroversial, yang ditetapkan setelah 11 September 2001 untuk menangkap dan menginterogasi tersangka teror.

Dalam program ini, tersangka dikirim ke negara-negara untuk ditahan, diinterogasi dan mungkin mengalami penyiksaan atau perlakuan buruk.

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Perang Suriah Menjadi ‘Multi-sided Proxy War’

SURIAH (Jurnalislam.com) – Perang Suriah telah berubah menjadi konflik proxy multifaset (perang proxy banyak pihak) yang dibentuk oleh jaringan rumit aliansi, penyelidik PBB mengatakan Senin, lansir World Bulletin, Selasa (23/02/2016).

Komisi Internasional Independen tentang Penyelidikan Suriah mengatakan dalam laporan terbaru kejahatan perang yang "merajalela" dalam konflik ini, dan bahwa mereka diperburuk oleh "impunitas terang-terangan".

"Resolusi Dewan Keamanan sebagian besar tetap diabaikan dan tidak diimplementasikan. Kejahatan terhadap kemanusiaan terus dilakukan oleh pasukan rezim pemerintah Assad dan oleh kelompok Islamic State (IS)", isi laporan tersebut.

"Konflik telah menjadi proxy war multi sisi yang dikemudikan dari luar negeri oleh jaringan aliansi yang rumit ", katanya, menambahkan bahwa negara-negara besar "yang seolah-olah mendorong solusi damai untuk perang, sesungguhnya mereka malahan yang terus melakukan eskalasi militer."

Suriah tetap terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim menindak protes unjuk rasa dengan kebrutalan yang tak terduga.

Lebih dari 470.000 korban tewas dan lebih dari 10 juta menjadi pengungsi.

Penyelidik PBB mengatakan pasukan rezim dan sekutunya serta IS "sengaja" menargetkan rumah sakit di daerah yang tidak di bawah kendali mereka, menambahkan bahwa serangan ini "mengakibatkan sedikit atau bahkan hilangnya bantuan medis".

Rezim Assad dan serangan udara Rusia juga terus menyerang pasar, toko roti dan tempat-tempat bantuan kemanusiaan di daerah yang dikuasai oposisi, kata laporan tersebut.

"Serangan ke daerah penduduk berfungsi untuk menakut-nakuti warga sipil, bahkan menghapus jaminan keamanan. Serangan yang mendominasi berita utama ketika terjadi di Eropa, secara tragis merupakan serangan biasa di Suriah", tambahnya.

Komisi itu juga menegaskan kembali permintaan sebelumnya kepada Dewan Keamanan PBB untuk merujuk situasi di Suriah ke Mahkamah Pidana Internasional.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Turki Ragu Gencatan Senjata Suriah dan Ancam Tetap Bombardir Milisi PYD

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki mengatakan mereka tidak optimis tentang pelaksanaan gencatan senjata Suriah yang diumumkan oleh Amerika Serikat dan Rusia, dan mengancam untuk menjaga serangan artileri balasan terhadap pejuang Kurdi Suriah, lansir Aljazeera Selasa (23/02/2016).

"Saya menyambut gencatan senjata ini, tapi tidak terlalu optimis bahwa gencatan itu akan dihormati oleh semua pihak," kata Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus kepada wartawan di Ankara, Selasa.

Dia memperingatkan bahwa Turki bisa melanjutkan penyerangan terhadap target kelompok bersenjata Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi Suriah di dalam wilayah Suriah, dan "jika perlu" akan terus menyerang balik serangan yang masuk dari negara tetangga bahkan setelah gencatan senjata mulai berlaku pada tanggal 27.

"Turki akan mempertahankan integritas teritorialnya. Itu jelas," Kurtulmus menambahkan, seraya menunjukkan bahwa ia memiliki "reservasi" tentang kelangsungan gencatan senjata karena ia takut Rusia hanya akan melanjutkan pemboman udara di Suriah.

"Kami berharap bahwa tidak akan ada yang mencoba dan melakukan serangan udara dan bahwa tidak ada yang akan membunuh warga sipil selama gencatan senjata."

Turki khawatir dengan kemajuan pasukan YPG di Suriah utara, takut bahwa mereka berusaha menciptakan wilayah otonomi Kurdi di depan pintu Turki.

Ankara menuduh YPG, sayap bersenjata Partai Uni Demokrat Suriah (PYD), menjadi cabang Partai Pekerja Kurdistan (PKK) Suriah terlarang yang telah melakukan operasi bersenjata selama puluhan tahun terhadap negara Turki.

Ankara juga menuduh pasukan Kurdi Suriah bekerja bersama Rusia, yang sangat menentang tujuan strategis utama Ankara untuk mengusir Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada hari Senin (22/02/2016) oleh Moskow dan Washington, tetapi tidak berlaku untuk afiliasi Al Qaeda, Jabhah Nusrah dan  lainnya serta kelompok Islamic State (IS). (baca juga: AS dan Rusia Sepakati Gencatan Senjata Perang Suriah)

Pemerintah Suriah mengatakan akan menerima penghentian "operasi tempur" dan akan berkoordinasi dengan Rusia untuk memutuskan kelompok apa yang harus dikeluarkan dari rencana, seperti Jabhah Nusrah dan Islamic State (IS)

Komite Negosiasi Tinggi Oposisi Suriah (The Syrian Opposition High Negotiations Committee-HNC) – kelompok oposisi moderat utama yang terlibat dalam negosiasi – mengatakan akan menerima segala persyaratan, meskipun menyatakan pesimisme bahwa pemerintah Suriah akan menghormati tawar-menawar.

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Oposisi Moderat Suriah Adakan Pertemuan di Riyadh

SURIAH (Jurnalislam.com) – Kelompok payung oposisi utama moderat Suriah bertemu di ibukota Saudi pada hari Senin saat Washington dan Moskow bekerja untuk mengamankan gencatan senjata.

"Ada pertemuan," Monzer Makhous, juru bicara Komite Negosiasi Tinggi (HNC), mengatakan di Riyadh, World Bulletin melaporkan, Senin (22/02/2016).

Pertemuan diperkirakan akan terus berlanjut selama dua atau tiga hari untuk membahas perkembangan sejak kelompok itu memutuskan untuk menghadiri pembicaraan damai di Jenewa bulan lalu, kata Makhous.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Kekuatan dunia, yang mendorong penghentian perang Suriah hampir lima tahun, berharap untuk melihat gencatan senjata berlaku Jumat lalu namun masih berjuang untuk persetujuan persyaratan.

Mereka mengusulkan gencatan senjata juga termasuk diperluasnya akses kemanusiaan, dalam upaya membuka jalan bagi perundingan perdamaian yang dipimpin PBB terus berlanjut.

Pembicaraan runtuh awal bulan ini dan dijadwalkan berlanjut lagi Kamis, tetapi utusan PBB Suriah Staffan de Mistura telah mengakui bahwa jadwal saat ini tidak lagi realistis.

Pada akhir pekan, oposisi mengatakan akan menyetujui gencatan senjata hanya jika para pendukung rezim Moskow dan Teheran menghentikan serangan mereka.

Kepala HNC Riad Hijab mengatakan setiap gencatan senjata harus dicapai "dengan mediasi internasional dan dengan jaminan yang mewajibkan Rusia, Iran dan milisi Syiah serta tentara bayaran mereka menghentikan pertempuran".

Rusia, salah satu arsitek gencatan senjata yang diusulkan, sedang melakukan serangan udara dalam mendukung rezim Nushairiyyah Bashar al-Assad, yang juga didukung oleh Republik Syiah Iran.

HNC dibentuk pada bulan Desember ketika faksi oposisi moderat Suriah utama datang bersama-sama di Riyadh untuk negosiasiyang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah berbulan-bulan upaya mediasi Arab.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

AS dan Rusia Sepakati Gencatan Senjata Perang Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – AS dan Rusia telah mencapai kesepakatan rencana penghentian perperangan antara rezim pemerintah Assad dan kelompok oposisi moderat Suriah, World Bulletin melaporkan, Senin (22/02/2016).

Usulan yang disepakati Senin itu menyerukan semua pihak untuk menandatangani kesepakatan pada tengah hari Jumat 26 Februari dan menghentikan permusuhan mulai tengah malam hari berikutnya.

Editor diplomatik Al Jazeera, James Bays, melaporkan dari New York, bahwa sumber-sumber tingkat tinggi dari sejumlah negara telah mengkonfirmasi tercapainya kesepakatan antara Rusia dan AS.

"Memang mereka masih harus mendapatkan agar semua pihak yang bertikai menandatangani kesepakatan itu tetapi sudah ada negosiasi tentang bagaimana rencana ini akan bekerja," kata Bays.

"Saya mengerti Menteri Luar Negeri AS John Kerry akan mengumumkan kesepakatan itu dalam waktu dekat."

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Moskow untuk "mengembangkan prosedur" untuk memastikan agar mereka ang mematuhi kesepakatan itu tidak diserang oleh angkatan bersenjata Rusia atau koalisi pimpinan AS.

"Amerika Serikat dan Federasi Rusia bersama-sama memanggil semua pihak Suriah, negara-negara regional dan kelompok lain dalam masyarakat internasional untuk mendukung penghentian segera kekerasan dan pertumpahan darah di Suriah," kata pernyataan itu.

AS dan Rusia adalah co-chair (wakil pimpinan) dari gugus tugas internasional yang bekerja menuju pengurangan konflik.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon menyambut baik rancangan kesepakatan dan berharap langkah itu akan menjadi langkah pertama menuju gencatan senjata abadi.

Perkembangan ini bisa membuka jalan bagi pembicaraan lebih lanjut dan kemungkinan gencatan senjata antara pemberontak dan pemerintah Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad.

Kesepakatan itu tidak termasuk kelompok  afiliasi Al qaeda, Jabhah Nusrah dan lainnya serta Islamic State (IS).

Analis politik senior Al Jazeera Marwan Bishara mengatakan langkah tersebut mencerminkan tekad Rusia dan Amerika Serikat untuk memaksa perubahan di tanah di Suriah.

"Sekarang ada keinginan di pihak Rusia dan Amerika untuk mengupayakan hal ini … Saya pikir orang Amerika cukup muak dan mereka benar-benar menginginkan sesuatu beberapa minggu lalu," kata Bishara.

"Moskow kehabisan target di Suriah dan mengetahui dengan sangat baik bahwa mereka tidak dapat melanjutkan permainan lama yang sama yang dimulai pada 30 September tanpa hasil yang nyata."

"Apakah rencana itu bekerja atau tidak di dart pada akhir bulan masih harus dilihat."

Sebagian faksi perlawanan yang terlibat dalam proses perdamaian Jenewa cenderung mematuhi kesepakatan, kemungkinan Rusia akan memaksa Assad untuk mematuhinya juga, kata Bishara.

Perang Global Suriah mulai lima tahun lalu pada Maret 2011 diawali protes damai terhadap kekuasaan Assad yang brutal.

Konflik telah menewaskan sedikitnya lebih dari 470.000 orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

Massa Umat Islam Tolak Pembangunan RS Sekar Kamulyan Kuningan

KUNINGAN (Jurnalislam.com) – Ratusan warga Kuningan bersama ormas Islam berunjuk rasa menolak pembangunan Rumah Sakit Sekar Kamulyan di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Senin (22/2/2016).

Massa mendatangi kantor Bupati Kuningan guna meminta kejelasan Bupati atas rencana pembangunan Rumah Sakit Sekar Kamulyan di Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Massa juga menyampaikan penolakannya atas pembangunan Rumah Sakit tersebut.

“Massa Ormas Islam sempat geram dengan respon para pejabat di lingkungan pendopo Bupati Kabupaten Kuningan, karena terkesan tidak tegas menolak rencana pembangunan Rumah Sakit yang rencananya terbesar se-Jawa Barat itu,” Koordinator Umum Aliansi Masyarakat Nahi Munkar  ALMANAR), Ustadz Marwi dalam rilisnya kepada jurnalislam.com, pada Selasa (23/2/2016).

Menurut ALMANAR, warga masyarakat Muslim Kabupaten Kuningan pada umumnya merasa tidak nyaman dengan rencana pembangunan Rumah Sakit yang akan dibangun oleh kalangan non-Muslim itu. Protes masyrakat Kuningan didukung oleh sejumlah ormas Islam di antaranya, GARDAH (Gerakan Pagar Aqidah), FPI (Front Pembela Islam), GPK (Gerakan Pemuda Ka'bah), GAMAS (Gerakan Masyarakat Anti Maksiat), ALMANAR, JAS (Jamaah Anshorusy Syariah), Gapas , dan lain-lain.

“Penolakan dilakukan warga masyarakat bersama ormas-ormas Islam Kabupaten Kuningan menjadi bukti tingginya kekhawatiran masyarakat Muslim dengan potensi gerakan pemurtadan melalui pembangunan Rumah Sakit,” ucapnya.

ALMANAR berpendapat, pemberiaan izin pembangunan RS Sekar Kamulyan akan mengganggu kondusifitas di Kabupaten Kuningan khususnya dan wilayah Jawa Barat pada umumnya. Menurutnya, Pemda Kuningan seharusnya peka dan tanggap dengan persoalan tersebut. Karena, lanjutnya, sudah menjadi rahasia umum jika pengadaan fasilitas kesehatan dan pendidikan oleh pihak Kristen/Katolik seringkali dijadikan modus pendekatan dan tempat pemurtadan.

“Fakta didaerah lain sangat jelas menunjukan hal itu dan mereka dikenal ulet untuk menempuh berbagai dalih,modus bahkan tak segan dan tak malu untuk mempermainkan perjanjian serta persyaratan jika seandainya diberi peluang persyaratan. Cukuplah ini menjadi pelajaran bagi kaum Muslimin.” tegas Ustadz Sarwi.

ALMANAR menegaskan, pihaknya akan menggalang penolakan lebih besar bila tuntutan pembatalan pembangunan RS Sekar Kamulyaan tidak dipenuhi.

Reporter: Yusuf | Editor:  Zarqawi | Jurnalislam

 

Komandan Arbaki Terkenal Kejam Tewas Bersama 3 Pasukannya dalam Serangan Istisyhad Taliban

 

PARWAN (Jurnalislam.com) – Seorang komandan Arbaki terkenal jahat, Mushtaq dan tiga Arbakis lainnya tewas dalam operasi syahid di provinsi Parwan utara, menurut laporan Al-Emarah News, Senin (22/02/20160

Mohammad Rosool, penduduk provinsi Paktia melakukan serangan pada Senin pagi di distrik Syagard provinsi Parwan dengan rompi penuh bahan peledak, membunuh Mushtaq, sasaran utama, asistennya dan Naqibullah, komandan lain dan melukai puluhan orang bersenjata lainnya.

Target adalah salah satu komandan paling buas dan brutal yang terlibat dalam serangkaian kejahatan yang manusiawi mulai dari intimidasi, pemerasan, perampokan, pembunuhan dan sebagainya.

Kemudian sebanyak 13 aparat dan pengawal gubernur tewas ketika Mujahidin melakukan serangan senjata berat ke arah staf gubernur di ibukota provinsi Baghlan utara Senin pagi.

Dalam laporan lain dari Baghlan, Mujahidin Imarah Islam merebut pos musuh di distrik Pol-e-Hisar provinsi Baghlan Senin pagi, menguasai8 senapan Kalashnikov, 1 roket-granat, 1 PK, sebuah senapan mesin berat dan banyak amunisi. Namun, tidak ditentukan berapa banyak tentara musuh yang menderita korban jiwa dalam baku tembak berikutnya.

Selain itu, pejuang Mujahidin menewaskan empat tentara boneka dan menghancurkan tank lapis baja di distrik Polo Khomri kemarin malam.

 

Deddy | Al Emarah News | Jurnalislam

 

Faksi Palestina Peringatkan ‘Bencana Kemanusiaan’ di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Faksi Palestina di Jalur Gaza telah memperingatkan bencana kemanusiaan di wilayah Palestina, yang telah menderita di bawah blokade Israel selama 10 tahun, World Bulletin melaporkan, Senin (22/02/2016).

Dalam sebuah pernyataan hari Senin, faksi-faksi mengatakan bahwa situasi ekonomi dan kemanusiaan di daerah pesisir pantai telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Situasi kemanusiaan yang memburuk telah menyebabkan naiknya tingkat kemiskinan, pengangguran hingga menyebabkan kematian," kata pernyataan itu.

Zionis telah memberlakukan blokade yang melumpuhkan Jalur Gaza setelah Hamas menguasai pemerintahan di Gaza 10 tahun yang lalu.

Bulan lalu, Euro-Med Monitor, pembela Hak Asasi Manusia yang berbasis di Jenewa mengatakan blokade Israel telah menyebabkan 43 persen dari 1,9 juta penduduk Gaza menjadi pengangguran.

Menurut LSM, 40 persen dari penduduk Gaza berada di bawah garis kemiskinan dan 60 persen lainnya tidak memiiki makanan.

Akibat blokade zionis di pesisir pantai dan di darat lima puluh lima persen dari warga Palestina di Gaza menderita depresi klinis dan 40 persen menerima air hanya 5-8 jam setiap tiga hari karena pasokan listrik yang tak mencukupi, tambahnya.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam