Pedagang Sebut Harga di Pasar Merangkak Naik

JAKARTA (Jurnalislam.com)— Kenaikan harga pangan pokok di pasar mulai terjadi. Hal tersebut berpotensi kenaikan harga pada Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 sangat tinggi.

“Untuk periode minggu-minggu ini memang ada beberapa komoditas yang saya lihat cukup jelas naiknya,” kata Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Abdullah Mansuri, Senin (3/12) lansir Republika.co.id.

Beberapa bahan pangan pokok tersebut yakni minyak goreng curah yang kemarin di angka Rp 12 ribu kini Rp 12.500. Begitu juga dengan aneka cabai yang mengalami kenaikan harga.

Cabai rawit merah mengalami kenaikan sekitar Rp 300 sampai Rp 500 per kg dari Rp 32.700 ke Rp 33.400.

“Bawang merah juga potensinya kelihatan. Sekarang Rp 29.700 per kg dari sebelumnya Rp 29 ribu per kg,” ujar dia.

Telur ayam saat ini dijual di angka Rp 24.600 per kg, idelanya harga telur di kisaran Rp 21 ribu per kg. Sedangkan harga daging ayam masih bertahan di angka Rp 35 ribu per kg.

“Menurut saya ini angka yang sangat mengkhwatirkan,” katanya.

Sebab, untuk harga daging ayam dan telur ayam belum bisa diturunkan pemerintah sejak empat bulan lalu. Saat itu kenaikan terjadi lantaran adanya kendala pada pakan jagung.

“Semuanya karena pangan sih jadi merembet,” lanjut dia.

Meski telah mengalami kenaikan harga, diakui Abdullah belum terjadi adanya kenaikan permintaan kecuali pada Sabtu dan Minggu. “Dua hari itu kan banyak keluarga yang kumpul. Momen-momen itu baru ada kenaikan permintaan,” kata dia.

Menurutnya, harga mengalami kenaikan lantatan stok yang tidak banyak terutama pada cabai dan bawang. Stok dua komoditas tersebut mengalami gangguan karena musim hujan dan membuat distribusi berkurang.

sumber: republika.co.id

223 Mahasiswa Papua di Surabaya Pendukung Papua Merdeka Dipulangkan

 SURABAYA (Jurnalislam.com) – Memperingati 1 Desember sedikit sebanyak 600 orang mahasiswa Papua di Surabaya menggelar aksi unjukrasa menuntut akan kemerdekaan Papua. Aksi tersebut mendapatkan respon penolakan dari Ormas yang ada di Surabaya. Hal ini berdampak terjadinya ricuh antara dua massa yang bertemu.

Hal tersebut membuat pihak aparat mengambil tindakan dengan melakukan pemulangan Mahasiswa Papua yang berada di Surabaya melalui Terminal Bis Bungurasih, Ahad (2/12/2018).

Ada 50 orang penumpang berangkat pada cluster pertama dengan tujuan Malang, disusul cluster kedua tujuan Bungurasih sebanyak 57 orang.

Kemudian bus ketiga memberangkatkan sebanyak 33 orang dengan tujuan Bungurasih. Mereka yang diberangkatkan ke Terminal Bungurasih akan pulang ke daerah masing-masing di luar kota Surabaya.

“Kami mau naik bis tidak berani karena melihat banyaknya penumpang dari papua dengan wajah yang seram naik secara bersamaan. Sehingga kami semua memilih untuk turun dan menaiki bis lain”, kata Hadi, salah satu penumpang bus.

Pemulangan mahasiswa papua ini mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Setidaknya pada pukul 21.30 seluruh mahasiswa papua sudah terlihat tidak ada dan dipulangkan menggunakan armada bus.

Kisah Perjuangan 20 Peserta Tunarungu Hadiri Reuni Akbar 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Terbatas fisik tidak menghalangi orang ikut berkumpul bersama umat. Sedikitnya 20 Tunarungu dari yayasan Majelis Taklim Tuli Indonesia menghadiri Reuni Akbar 212 jilid dua di Monas, Jakarta Pusat.

Dody Nur, selaku pemandu jama’ah MTTI mengungkapkan tadinya ada 50 jama’ah yang ingin mengikuti acara tahunan umat Islam itu. Hanya saja ketika dikumpulkan di kantor yayasan MTTI di Jakarta Selatan, hanya 20 jama’ah yang bisa ikut.

“Mereka kan tidak tinggal di yayasan, mereka memiliki kesibukan masing-masing. Alhamdulillah ini bisa ikut 20 jama’ah. Dan memang mereka semangat sekali untuk mengikuti acara ini,” ujar Dody setelah shalat subuh di belakang panggung utama aksi Reuni 212, Ahad (2/12/2018), kepada INA News Agency.

Redaksi meminta Dody untuk membantu kami mewawancarai satu dua orang jama’ah MTTI. Oleh Dody atau yang biasa dipanggil Daud pun memanggil wakil ketua yayasan MTTI yang juga Tunarungu, dia adalah Rama asal Medan, sudah lama tinggal di Jakarta.

Dengan diterjemahkan menggunakan bahasa isyarat oleh Dody, redaksi menanyakan perihal motivasi para Tunarungu ini menghadiri aksi reuni 212, yang menurut penulis pribadi cukup menguras energi, terlebih orasi yang dibawakan para orator kesemuanya berupa suara, tidak ada yang menggunakan bahasa isyarat.

Rama menjawab dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Daud.

“Kami senang dan termotivasi mempelajari Islam lebih dalam, karenanya kita hadir ke acara ini,” ujar Rama pada jejaring berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Baca juga: 

Kami pun menanyai apakah para Tunarungu memahami apa yang disampaikan oleh orator. Rama menjelaskan bahwa mereka tidak tau apa yang disampaikan orator, hanya saja ia dan teman-temannya merasa terbantu dengan pendamping dari yayasan MTTI yang menerjemahkan orasi.

“Tapi kadang ada yang nyambung ada yang tidak, kaya khutbah jumatan saja, tidak semuanya paham,” ujar Rama.

Rama juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa semangat ketika peserta reuni lain menunjukkan ekspresi semangat dengan mengacung kepalan tangan ke udara sembari meneriakkan takbir – terlihat dari ekspresi peserta reuni.

Sementara itu, salah satu jama’ah MTTI, Tengku Farid asal Aceh mengungkapkan motivasinya menghadiri reuni 212 jilid dua ini. Menurutnya, ia bahagia bisa bertemu dengan saudara-saudaranya seiman.

“Senang bertemu umat Islam, mentabligh ajaran Islam. Kita tunarungu, tertutup awam, kita harus banyak belajar, jangan hanya diam saja, di MTTI banyak belajar, Alhamdulillah,” ujarnya.

Terakhir Daud pun menjelaskan bahwa teman-teman Tunarungu ini kebanyakan mengalami krisis akidah. Karena tidak adanya penjelasan, beberapa di antara mereka diawal masuk MTTI tidak mengerti siapa itu Allah.

“Bahkan ada yang menyebut nabi Muhammad adalah istri Allah,” ujar Daud jejaring berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Atas pernyataan ini, kami merasa bergetar, betapa di Indonesia yang mayoritas masyarakat nya Islam, masih ada yang tidak paham siapa Tuhan mereka.

Sebagaimana diketahui, Reuni 212 adalah gerakan simpatik yang pernah dilakukan tujuh juta warga Indonesia pada 2 Desember 2016 yang menuntut keadilan atas penistaan terhadap ayat suci Al Quran oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama.

Basuki, atau akrab disapa Ahok, akhirnya diputuskan bersalah dengan vonis 2 tahun penjara oleh hakim atas kasus penodaan agama pada Mei 2017. Ahok kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. [INA/Muhammad Jundii]

Turis Australia: Reuni 212 Sangat Tertib dan Santun, Kami Merasa Nyaman

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Jutaan orang dilaporkan menghadiri aksi reuni akbar 212 di Monas, Ahad (2/12/2018).

Pantauan Jurnalislam.com, massa terus berdatangan hingga menjelang siang menuju monas. Kawasan Bundaran HI pun ramai dengan peserta aksi, tak terkecuali para wisatawan asing.

Beberapa orang tampak melakukan selfie di kolam Bundaran HI. Salah satu wisatawan asing asal Australia, Jonathan mengaku senang dan nyaman melihat ketertiban peserta aksi.

Baca juga: 

bule 212
Tampak beberapa turis asing sedang berjalan-jalan di kawasan Bundaran HI, Ahad (2/12/2018)

“Kami merasa nyaman dengan aksi yang luar biasa tertib dan santun ini. Kami tidak merasa sedikitpun mendapatkan intimidasi dari para peserta aksi reuni akbar 212”, kata Jonathan kepada Jurnaislam.com, sambil tersenyum.

Menurut beberapa laporan, diperkirakan lebih dari tujuh juta orang menghadiri acara reuni akbar 212. Beberapa tokoh nasional tampak hadir seperti Ketua MPR Zulkifli Hasan, KH Abdullah Abdurrasyid Syafii, Ustaz Yusuf Martak dan lainnya.

 

Posko Pijat Gratis Pherthi Laris Dikunjungi Peserta Reuni Akbar 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Wahyu Pujinanto tampak ramah melayani para peserta aksi reuni 212 yang memadati Monas pada Ahad pagi (2/12/2018).

Dengan seutas senyum, Wahyu menawarkan para jamaah untuk melepaskan penatnya.  Cukup duduk di tanah beralaskan tikar, para peserta akan mendapatkan servis pijat maksimal.

Jika ada keluhan, tinggal tunjuk mana bagian yang ingin dipijat.

“Gratis pak, gak usah bayar,” kata Wahyu. Satu persatu para peserta aksi langsung duduk. Sisanya mengantre, menanti giliran untuk dipijit.

Mereka dilayani para pemijat dari Persatuan Therapis Indonesia (Pherthi) yang datang dari Magelang, Purworejo, Klaten, dan Yogyakarta.

“Tidak dapat yang bisa kita berikan untuk 212, kecuali ini,” ujar Wahyu, Ketua Umum Perthi kepada INA News Agency, menunjuk para anggotanya yang memijat puluhan peserta pagi itu.

Seorang peserta aksi lantas bertanya kenapa Wahyu dan kawan-kawannya menggratiskan layanan pijatnya. Padahal layanan pijat biasa merogoh kocek ratusan ribu.

Baca juga: 

Merespons pertanyaan itu, Wahyu hanya menjawab enteng, namun mendalam.

“Biarkan akhirat nanti yang membayar kami. Pahalanya lebih besar,” ujar pria berkopiah putih itu.

Wahyu mengaku datang pada Sabtu pagi bersama 19 orang anggota Perthi.

Mereka tidur di sekitar Monas untuk melayani peserta aksi yang dikabarkan dipadati tujuh juta peserta.

“Jumlah anggota kami ada seribu mas. Kami biasa menggelar pelatihan pijat gratis,” kata dia kepada media sindikasi berita JITU ini.

Wahyu lantas mengajak para peserta yang mengalami sakit dan keletihan, untuk tak sungkan mengunjungi lokasi pijatnya.

“In sya Allah. Lillahi Ta’ala,” tutup dia. (SM)

Ondel-ondel Turut Meriahkan Reuni Akbar 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Kesenian khas Betawi yaitu ondel-ondel turut serta memeriahkan helatan reuni akbar 212 yang dihadiri jutaan umat Islam dari daerah di Indonesia.

Pantauan Jurnalislam.com di daerah Sarinah, ondel-ondel terus bergerak di tengah padatnya massa aksi.

“Ini kami sengaja kami suguhkan pada acara reuni 212 kali ini. Selain untuk menghibur peserta aksi ini juga bertujuan mengenalkan budaya asli betawi”, ungkap koordinator dari Sanggar Betawi Dongkek Jaya.

Di tempat yang sama, ada beberapa peserta yang kelelahan. Dengan sigap, posko medis yang berada di sekitar melayani para peserta reuni.

Baca juga: 

“Ya kami disini semua saudara sehingga tidak ada kata untuk tidak saling membantu. Kami disini semua karena 1 yaitu Islam”, kata Fatimah yang turut membantu peserta yang pingsan.

Sampai saat ini, massa terus berdatangan dari berbagai penjuru Ibu Kota. Diperkirakan lebih dari 7 juta massa memadati kawasan Monas hingga siang ini. Tampak aparat bersiaga dengan menurunkan barracuda dan lainnya.

Lebih dari 7 Juta Orang Dilaporkan Hadir di Reuni Akbar 212

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Sebuah stasiun televisi swasta melaporkan bahwa diperkirakan ada lebih dari 7 juta orang yang hadir di Reuni Akbar 212, Ahad (2/12/2018).

Pantauan beberapa jurnalis INA News Agency, bahwa massa sampai sekarang masih terus berdatangan tak henti-hentinya, bahkan puluhan bus masih dalam perjalanan dari tol Cikampek menuju Monas.

Pantauan Jurnalislam.com, massa dari Bundaran HI pun beruyun-duyun memenuhi Jalan Thamrin. Kawasan Sarinah mulai padat, sedangka kawasan Bundara Bank Indonesia sudah tidak bergerak.

Baca juga: 

Hal serupa terjadi di stasiun-stasiun kereta. Di Jatibaru daerah Tanah Abang misalnya, massa terus berdatangan menuju monas.

Beberapa pedagan kawasan Monas pun merasa bahwa acara hari ini lebih ramai ketimbang Aksi 212 pada bulan Desember 2016.

Sampai sekarang, Tagar #ReuniAkbar212diMonas di Twitter masih menempati puncak topik paling trending sejak Ahad pagi,

 

Sejarawan: Bicara Nasionalisme Indonesia Tanpa Islam Adalah Nonsense

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Sejarawan Tiar Anwar Bachtiar menegaskan banyak umat Islam yang salah paham dalam mengartikan kekuasaan. Ketika umat berbicara kekuasaan selalu diarahkan pada hegemoni dalam urusan politik.

 

“Ketika berbicara kekuasaan, langsung meloncat pada masalah politik. Dahulu, ketika Masyumi dibubarkan pemerintah Soekarno, Buya Muhammad Natsir berkata, politik kita ditentukan oleh dakwah kita,” ujar anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dalam tabligh akbar bertajuk Arah Perjuangan Umat di Masjid Raya Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu, (01/12) lansir INA News Agency.

 

Maka dari itu, politik kita tidak ditentukan oleh sebesar apa suara partai-partai Islam, tapi kekuatan dakwah Islam. Sepanjang dakwah tidak berhenti, Islam akan tetap jaya.

 

Pembina komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) ini menambahkan, pada masa kemerdekaan yang menumpahkan darah dan memunculkan identitas Indonesia adalah umat Islam.

 

“Setelah para ulama dan santri menggerakkan perlawanan melawan, maka kita punya definisi tentang apa itu Indonesia. Sebab, sebelumnya kita dinamai oleh orang Belanda sebagai Inlander,” tambahnya.

 

Kemudian, pada Abad ke-20 peran umat Islam dalam identitas kebangsaan di Indonesia semakin mengental. Saat itulah munculnya gerakan-gerakan islam semisal Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Persis, Al-Irsyad.

 

“Oleh karena itu, jika bicara nasionalisme di Indonesia tanpa keislaman hal itu adalah nonsense,” pungkasnya.(Fajar Sadikov)

Ungkap Peran Islam untuk NKRI, MIUMI Gelar Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Ribuan umat Islam berkumpul di Masjid Al Azhar Jakarta pada Jumat untuk mengikuti Tabligh Akbar bertema “Arah Perjuangan Umat”.

Kegiatan ini digelar oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) untuk merumuskan peta perjuangan umat Islam ke depan.  Dalam kesempatan ini, Sejarawan Tiar Anwar Bachtiar menegaskan Indonesia berhutang kepada perjuangan Ulama dan Umat Islam.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kata Tiar, para ormas Islam telah eksis dan berjuang membebaskan Indonesia dari tangan penjajah Belanda, bahkan sebelum berdirinya NKRI.

“Syarikat Islam, Muhammadiyah, NU, Al Irsyad, Persis, itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka,” ujar Doktor Sejarah UI ini seperti dikutip INA News Agency.

“Maka kalau ada yang bilang Pancasilais tapi minus Islam itu adalah omong kosong,” tegas Tiar. Tiar juga menegaskan bahwa kekuatan politik Islam ditentukan dari sejauh mana dakwah umat Islam itu sendiri.

“Sekarang capres mana yang tidak butuh suara umat Islam, itu karena kekuatan masyarakat sipil umat Islam, bukan parpol,” jelas dia.

Karena itu, lanjut dia, Mohammad Natsir menyerukan para petinggi Masyumi untuk menguatkan dakwah saat Masyumi dibubarkan.

“Kemenangan umat Islam landasannya adalah ideologi dan gerakannya adalah dakwah,” tukas Tiar.

Menyambung pernyataan Tiar, Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal menegaskan bangsa Indonesia tak perlu ada ketakutan dengan kalimat takbir di negeri ini.

Sebab negeri ini dibebaskan dengan kalimat takbir dan tauhid.

Sejumlah tokoh lintas ormas Islam seperti Bachtiar Natsir (AQL), Jeje Zainuddin (Persis),  Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah),  Zain An Najah (DDII), dan lain sebagainya.

Tabligh akbar ini bertepatan jelang reuni 212 yang akan digelar Ahad besok.

Gerakan 212 adalah aksi simpatik yang dilakukan tujuh juta warga Indonesia pada 2 Desember 2016 yang menuntut keadilan atas penistaan terhadap ayat suci Al Quran oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama.

Basuki, atau akrab disapa Ahok, akhirnya diputuskan bersalah dengan vonis 2 tahun penjara oleh hakim atas kasus penodaan agama pada Mei 2017. Ahok kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. (SM)

UBN : Belah Perut Indonesia, Di Situ Ada Darah Para Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Sekjen MIUMI Ustaz Bachtiar Nasir menegaskan bangsa Indonesia telah berhutang kepada para ulama. UBN, sapaan akrabnya, menegaskan para ulama telah berjasa dengan mengorban jiwa dan raganya untuk memerdekakan Indonesia.

 

“Belahlah perut Indonesia, maka di situ ada darah para ulama,” tegas UBN dalam Tabligh Akbar Arah Perjuangan Umat di Masjid Al Azhar Jakarta pada Jum’at seperti dikutip INA News Agency, sindikasi berita yang diinisiasi JITU.

 

Untuk itu di tengah situasi yang tengah kacau, UBN menyerukan umat Islam untuk mengikuti ulama yang keputusannya diambil berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

 

“Ulama yang keputusannnya berdasarkan Quran dan Sunnah pasti adil. Ikuti ulama,” tegas UBN. UBN lantas mengritisi pihak-pihak yang menstigma umat Islam anti NKRI.

 

Padahal, kata dia, yang paling memahami Empat Pilar Kebangsaan adalah umat Islam. Sebab nilai-nilai kebangsaan dan Pancasila telah diwarnai spirit ajaran Islam.

 

“Kalau dia sekuler dan liberal, jangan percaya kalau bicara Pancasila,” tegas UBN.

 

“Yang paling Bhineka Tunggal Ika adalah umat Islam. Dan itu sudah dibuktikan dalam aksi 212  di mana rumput saja kita jaga,” sambung UBN.

 

Sejumlah tokoh lintas ormas Islam hadir dalam tabligh akbar ini seperti Jeje Zainuddin (Persis),  Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah),  Zain An Najah (DDII), Buya Gusrizal (MUI Sumbar) dan lain sebagainya.

 

Tabligh akbar ini bertepatan jelang reuni 212 yang akan digelar Ahad besok.

 

Gerakan 212 adalah aksi simpatik yang dilakukan tujuh juta warga Indonesia pada 2 Desember 2016 yang menuntut keadilan atas penistaan terhadap ayat suci Al Quran oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama.

 

Basuki, atau akrab disapa Ahok, akhirnya diputuskan bersalah dengan vonis 2 tahun penjara oleh hakim atas kasus penodaan agama pada Mei 2017. Ahok kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. (SM)