Taklim Jurnalistik Jabodetabek Gelar Kelas Fotografi Beretika

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Bertempat di Tugu Monas Jakarta Pusat, Ahad (26/1/2020) Pengurus Internal Komunitas Taklim Jurnalistik (Taktik Community) Perwakilan Jabodebek & Banten menggelar Meet & Greet.

Rangkaian sederhana ini menghadirkan pemateri dari Jasa Fotografer CoGan Galeri juga Pemotret profesional dari Betawi.

Mas Andre Hariyanto, Sang Founder Taklim Jurnalistik memaparkan selain pertemuan  pengurus sebagai evaluasi dan pemantapan program kerja acara juga digabung penambahan ilmu Jurnalistik, baik Kepenulisan ataupun fotografer.

“Meet & Greet sebagai wadah silaturahmi antar pengurus, namun juga upgrade diri salah satunya kali ini menghadirkan pemateri seorang Fotografer. Jadi pertemuan ini mendapat manfaat sekaligus,” jelas pria asal Surabaya, Jawa Timur.

Hadir juga Eks Ketua Taklim Jurnalistik Perwakilan Jabodetabek 2017-2018, Wakil Ketua Umum Taklim Jurnalistik Pusat, Humas Cahaya Pena Nusantara dan Bendahara Taklim Jurnalistik Perwakilan Jawa Barat serta Pengurus Jabodetabek khususnya.

Dalam penyampaian Kak Andriant sebagai Narasumber, ia katakan bahwa Fotografer saat ini menjadi kegiatan lazim yang dilakukan oleh banyak orang. Namun ada etika dalam memotret.

“Etika ini menjadi penting  jika berkaitan dengan manusia lain,” ucapnya.

Jadi sebagai fotografer, lanjutnya, ada beberapa etika dalam memotret diantaranya; usahakan orang menerima kehadiran kita, Jangan Pernah memberi tips dan janji muluk, bisa membedakan area, Hindari Memotret nude, Jangan Memotret minuman keras, hentikan memotret korban Musibah, Menghormati jalannya upacara keagamaan, Memasukkan form kontrak rilis.

“Setelah teman Sekalian memahami tips tersebut, insya Allah menjadi Fotografer beretika,” tutupnya. (AR CoGan)

 

Pemakaman Wakaf Firdaus Memorial Park Akan Hadir di Kabupaten Bandung dan Bogor

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Setelah sukses hadir di Cikalong Wetan, Bandung Barat, kini Firdaus Memorial Park siap menebar manfaatnya di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor.

Sinergi Foundation melalui Firdaus Memorial Park mencoba menjadi solusi atas sempitnya lahan pemakaman, serta susahnya mencari pemakaman syar’i dan jauh dari unsur bisnis, yang menjadi persoalan dewasa ini.

“Berkonsep wakaf, Pemakaman Muslim “Firdaus Memorial Park” mengusung konsep Asri, Nyaman, Ramah Lingkungan dan Sesuai Syariah. FMP menjadi aset sebuah aset publik, non-profit oriented, yang sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat, dan bersumber dari dana wakaf,” tutur Asep Irawan, CEO Sinergi Foundation dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Ia menjelaskan, wakaf tersebut telah termasuk sejumlah benefit. Di antaranya: 1 kavling makam untuk pewakif (2 lubang, bisa menampung 6 jenazah), penyediaan makam untuk dhuafa, wakaf produktif, berpartisipasi dalam 9 program wakaf yang dikelola Sinergi Foundation (9 in 1 Wakaf), serta layanan pemulasaraan jenazah.

“Insya Allah, dana yang wakif wakafkan dalam program Firdaus Memorial Park, akan menjadi amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir dan bertumbuh sebagai bekal dalam menapaki perjalanan hidup selanjutnya,” kata Asep.

Ia pun mengutip QS Al Baqarah: 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Asep mengajak masyarakat turut serta bersinergi wakaf di Sinergi Foundation. Ia melanjutkan, masyarakat yang berminat dengan program Firdaus Memorial Park 2 & 3, dapat langsung mengunjungi www.sinergifoundation.org. []

JAS dan Mualaf Center Semarang Gelar Kajian Keluarga

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Jamaah Ansharu Syariah (JAS) Semarang bersama Mualaf Center Indonesia (MCI) Semarang menggelar kegiatan Safari Dakwah di beberapa masjid di Kota Semarang pada Sabtu (18/1/2020).

Kegiatan yang berlangsung hingga Ahad (19/1/2020) ini digelar di Perum BPI Ngalian, lalu ke Masjid At Taufiq Jalan Durian Raya, dan terakhir di Masjid Taqwa, Jalan Halmahera 3 Karang Tempel. Safari Dakwah diisi oleh anggota Majelis Syariah Jamaah Ansharu Syariah, Ustadz Fuad Al-Hazimi.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Fuad menjelaskan tentang tugas berat dari seorang laki laki ketika menjadi seorang kepala keluarga.

Ia dituntut untuk bisa bertanggung jawab dalan membawa keluarganya masuk ke dalam Surga.

“Tugas besar seorang suami atau bapak telah disampaikan dalam surat At-Tahrim ayat 6, ‘Wahai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu’, ayat ini memberikan peringatan kepada seluruh kepala keluarga agar anak dan istrinya jangan sampai tersentuh api neraka walaupun hanya satu detik saja,” katanya.

“Dan inilah tugas yang paling mulia dan berat bagi seorang suami atau ayah dalam menghindarkan keluarganya dari api neraka,” imbuh ustaz Fuad.

Sedangkan tugas seorang istri atau ibu, kata ustaz Fuad, adalah menaati suami dalam hal kebaikan karena surga terdekat seorang istri adalah pada suaminya.

“Dalam hadist disampaikan apabila seorang istri sholat lima waktu dengan menjaganya, lalu ia melaksanakan puasa ramadhan secara penuh, dan taat kepada suaminya serta menjaga kehormatan diri dan keluarganya maka akan dikatakan kepadanya di akhirat masuklah kamu ke dalam surga dari pintu manapun yang kamu kehendaki,” pungkasnya.

Aman Palestin Hadirkan Ulama Palestina dalam Roadshow di Jawa Tengah

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Yayasan Aman Palestin menggelar Roadshow syaikh asal Palestina As’ad Hamouda di beberapa kota di wilayah Jawa Tengah pada sabtu-ahad, (18-25/1/2020).

Roadshow bertajuk ‘Hangatkan Bumi Syam Dengan Cinta’ itu dimulai di Masjid Miftahul Jannah, Simo, Boyolali pada sabtu, (18/1/2020) kemudian berlanjut di beberapa Masjid di kota Solo dan ditutup di Masjid Al Barokah, Nandan, Mojolaban, Sukoharjo pada Sabtu (25/1/2020).

Branch manager Aman Palestin Jogjakarta – Jateng Dodi mengatakan bahwa kegiatan roadshow tersebut untuk lebih mengenalkan kondisi Palestina kepada masyarakat yang ada di Jawa Tengah.

“Adanya roadshow syaikh dari Palestina masyarakat bisa lebih paham terhadap kondisi terkini negara palestina dan juga warganya yang saat ini terjajah oleh Zionis Israel,” katanya.

“Selain itu, Kami mengajak kaum muslimin Indonesia untuk peduli dengan saudara seiman di seluruh dunia, terkhusus dengan kondisi rakyat Palestina saat ini,” imbuhnya.

Dalam roadshow kali ini, Dodi menyebut Aman Palestin juga mengadakan daurah kepada santri di Ponpes Salman Al Farisi Karangpandan dan Darusy Syahadah Boyolali.

“Selain mengisi materi kajian bertema Palestina, event ini juga mengadakan penggalangan dana untuk bantuan warga Palestina yang saat ini sedang berlangsung musim dingin di kawasan Syam,” ungkapnya.

Kegiatan tersebut diharapkan Dodi bisa membuat masyarakat untuk lebih peduli lagi kepada saudaranya yang berada di Palestina yang saat ini masih terus dijajah oleh Zionis Israel.

“Banyaknya bantuan dari muslimin di Indonesia berupa donasi yang masuk, secepatnya akan disalurkan kepada para pengungsi yang ada di Palestina maupun diluar palestina melalui Yayasan Aman Palestin,” pungkasnya.

Reporter : Hasan Shogir

IDI Minta Pemerintah Pastikan Turis Cina di Indonesia Bebas Virus Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng Mohammad Faqih mengingatkan agar wisatawan asal Kunming, China yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Sumatra Barat, pada Ahad (26/1/2020), harus dipastikan bebas dari riwayat kontak perjalanan ke daerah terpapar virus corona jenis baru (2019-nCoV). Virus tersebut muncul pertama kali di Wuhan, China.

“Kalau dia dari daerah yang terinfeksi, dia sudah masuk yang dicurigai,” kata Daeng kepada Antara, Jakarta, Ahad.

Daeng menjelaskan bahwa masa inkubasi dari mulai terinfeksi virus ini sampai menimbulkan gejala pertama ialah dua hari sampai dua minggu. Sementara perjalanan langsung dari Bandara Kunming di Provinsi Yunan ke bandara di Sumatra Barat itu hanya membutuhkan waktu empat jam penerbangan.

Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan dari saat virus atau patogen menginfeksi hingga mulai menimbulkan gejala pertama kali. Daeng mengatakan, yang dikhawatirkan ialah andaikan para turis pernah melakukan perjalanan ke daerah yang terpapar virus kemudian melakukan kunjungan ke Indonesia dalam masa inkubasi itu.

Jika belum lewat masa inkubasi, menurut Daeng, maka bisa jadi gejala belum muncul saat seorang wisatawan tiba di wilayah atau negara yang dikunjungi. “Kalau dia melakukan perjalanan ke daerah situ (terpapar virus corona) dan yang datang ke daerah kita belum dua minggu dari masa inkubasi itu harus dicurigai makanya harus dimonitor,” ujarnya.

Untuk itu, otoritas bandara melakukan upaya pencegahan dengan melakukan deteksi terhadap orang yang dicurigai terkena virus itu dengan menggunakan thermal scanner yang dapat mendeteksi panas tubuh manusia di atas rata-rata normal. Thermal scanner dapat melacak jika didapati panas suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius.

Selain melakukan deteksi panas tubuh, pihak otoritas juga perlu melihat gejala yang ditimbulkan virus corona 2019-nCoV pada manusia seperti batuk, pilek, demam, hingga ada keluhan sesak napas. Tidak ada atau ada gejala terlihat perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan riwayat kontak perjalanan wisatawan tersebut.

Menurut Daeng, kesiapsiagaan juga perlu ditegakkan sekalipun turis asal China itu tidak ada gejala panas terlacak thermal scanner, tapi pernah melakukan perjalanan ke daerah terpapar virus corona. Turis itu harus dikarantina untuk diperiksa lebih lanjut kalau mereka ke Indonesia dalam rentang masa inkubasi.

sumber: republika.co.id

Muhammadiyah Minta Indonesia Terlibat dalam Perdamaian Timur Tengah

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua Biro Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional PP Muhammadiyah Muhyiddin Junaidi mengatakan, Pemerintah Indonesia perlu menangani konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dengan maksimal.

“Kami berharap dari Pemerintah Indonesia, Kemenlu, Komisi 1 DPR  untuk berperan secara maksimal karena Indonesia sudah begitu berpengalaman dalam menyelesaikan konflik-konflik regional dan konflik dunia,” kata Muhyidin dalam acara Roundtable Discussion (RTD) dengan tema “Amerika vs Iran dan Masa Depan Perdamaian Dunia”, Kamis (23/1) di gedung Kantor CDCC, Jakarta.

“Saatnya Indonesia harus tampil dengan megaphone informasi, bukan hanya dengan konstruktif diplomasi seperti yang dilakukan oleh Turki atau menggabungkan antara keduanya sehingga keberadaan Indonesia itu dikenal oleh dunia internasional,” tegasnya.

Direktur Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri RI Ferdy Piay mengatakan, diskusi itu sangat membuka wawasan dan pengalaman.

Menurutnya, Presiden AS Donald Trump saat ini lebih fokus ke internal negaranya menjelang pemilu. Jadi, ia meyakini bahwa sampai November atau awal tahun depan tidak akan terjadi konflik.

Ia juga menilai, Iran pun akan lebih hati-hati setelah kehilangan sedikit kepercayaan dari masyarakatnya terhadap Pemimpin Tertinggi Iran dan presidennya.

Menag Ingin Jadikan Indonesia seperti Arab Saudi dan UEA soal Moderasi Beragama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan keinginannya merubah Indonesia seperti Arab Saudi terkait moderasi agama.

“Di Arab Saudi, ada penguatan relasi antara identitas keagamaan dan kebangsaan. Hal itu tertuang dalam visi Arab Saudi 2030, di mana penguatan keduanya berada dalam satu kotak yang sama, tidak dipisahkan,” katanya saat menjadi pembicara kunci pada Rountable Discussion tentang “Pasang Surut Relasi Agama dan Negara” di Ruang Diorama,  Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah, Kamis (23/1/2020).

Menurut dia, Saudi punya pengalaman kurang baik saat memisahkan identitas kebangsaan dan keagamaan.

“Saudi saat ini tidak mau memisahkan lagi antara identitas keislaman dan kebangsaan.”

Indonesia dari dulu juga begitu, membangun wawasan keislaman dan kebangsaan menjadi sebuah paket yang tidak terpisahkan. Dia juga bercerita tentang perkembangan moderasi beragama di Uni Emirate Arab.

Toleransi menjadi nilai yang dikedepankan hingga banyak sekali wisatawan dan investor yang datang ke sana.

“Wisatawan tidak akan datang kalau masyarakat tidak toleran. Toleransi terus dikampanyekan, tapi hal itu tidak menghilangkan identitas keislaman di sana,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa apa yang diceritakan terkait perubahan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bukan berarti akan diterapkan di Indonesia.

Namun informasi tersebut diharapkan bisa menjadi bahan kajian dalam upaya terus merawat kerukunan dan relasi agama dan negara di Indonesia.

“Kesepakatan, toleransi, dan penegakkan keadilan dalam menjaga relasi agama dan negara ini penting,” katanya.

Dalam konteks Indonesia, Pancasila adalah hasil kesepakatan para pendiri bangsa. Karenanya, nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam kehidupan yang penuh toleransi dan berkeadilan.

Melalui Persatuan Arab Indonesia, AR Baswedan Berperan dalam Peralihan Status Etnis Arab

BOGOR (Jurnalislam.com) – Peneliti Belanda terkait etnis Arab dan Hadrami di Indonesia Huub de Jonge mengatakan, A.R Baswedan memiliki peran penting dalam peralihan status etnis Arab di Indonesia.

Bahkan menurut dia, pada saat Baswedan menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan Kabinet Sjahrir III ada banyak perubahan di etnis tersebut.

“Baswedan saat itu juga terus memperjuangkan etnis Arab, hingga akhirnya muncul Persatuan Arab Indonesia (PAI)” ungkapnya saat ditemui di Bogor, Rabu (22/1/2020).

Dari pendirian PAI ada partisipasi politik yang meningkat dari etnis Arab di Indonesia. Suara mayoritas dari persatuan itu beralih ke salah satu partai besar era Bung Karno, Masyumi.

Peneliti dan indonesianis asal Radbound University Nijmegen, Belanda ini menilai, pendirian PAI pada 1930-an dirasa mampu mengembalikan status keturunan Arab menjadi lebih baik.

Utamanya dibandingkan masa kolonial Belanda yang telah membagi etnis tertentu ke dalam beberapa golongan.

“Ada banyak perubahan di kelompok Arab pada rentang 1900-1950. Utamanya di sistem sosial,” kata dia.

Pada saat kolonial Belanda, pelarangan terhadap etnis Arab memang tidak ada. Namun demikian, mereka dipaksa membentuk lingkungannya sendiri dan terpisah dengan masyarakat di Indonesia saat itu.

“Itu menjadi alasan mengapa identitas etnis Arab kuat di Indonesia dan cenderung tertutup dengan masyarakat lain,” katanya.

Tak berhenti di situ, menurutnya, diskriminasi masih terasa hingga beberapa periode mendatang pascaproklamasi meskipun tak terlalu signifikan.

Terkait PAI yang kemudian menjadi suara partai nasionalis pada saat itu, ia tak menampiknya. Hingga akhirnya Bung karno berjanji memberikan status penuh pada etnis Arab, meskipun tak terjadi.

Dia menambahkan, meski hingga periode 1970-an masih ada diskriminasi bagi etnis Arab, seperti sulit mendapatkan akses paspor Indonesia, hal tersebut sudah lebih melebur saat ini.

Terlebih, etnis Arab di banyak wilayah di Indonesia yang dulunya hanya terpaku pada kelompoknya, kini juga sudah lebih melebur.

Menurut dia, hal itu terbukti dari aspek menarik ketika orang Arab atau etnis Arab menikahi wanita lokal Indonesia.

“Bagian kecil dari wanita itu secara langsung menjadi Arab,” kata

Melalui Program Sahabat Guru Indonesia, ACT Bantu Bea Hidup Guru

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Manfaat program Sahabat Guru Indonesia (SGI) kembali dirasakan guru-guru prasejahtera di Tasikmalaya.

Beaguru kali ini diberikan kepada 52 guru honorer yang mengajar di Diniyah yang ada di setiap desa dan kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

Acara ini dilaksanakan di Madrasah Nurul Falah RT/RW 28/11 kampung Cipari desa sirnajaya kecamatan sukaraja kabupaten Tasikmalaya Kamis (23/1/2020). Sebanyak 52 guru berbahagia karena menerima bantuan bea hidup guru ini.

Enco selaku salah satu guru dari madrasah Diniyah Babul Huda Pasirangin, Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya, ia yang mengabdi sejak Tahun 1994 mengutarakan rasa terimakasihnya kepada ACT atas bantuan biaya hidup yang ia terima.

Sejak tahun 1994 ia mendapatkan honor sebanyak 50.000/bulan. Hingga saat sampai saat ini sebanyak 100.000/bulan.

“Saya dan juga teman-teman mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang menurut kami ini sangat besar, haturnuhun. Jazakallahu Khair,” ungkapnya

Selain menjadi guru, Enco yang seorang disabilitas ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diri dan keluarganya memiliki pekerjaan sampingan yaitu buruh serabutan.

Fauzi Ridwan selaku Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia mengatakan, “Dengan terlaksananya program ini diharapkan semakin banyak guru yang terbantu ” pungkas Fauzi.

Peneliti Huub de Jonge Ungkap Hubungan Keturunan Arab dengan Indonesia

BOGOR (Jurnalislam.com) – Peneliti Belanda terkait etnis Arab dan Hadrami di Indonesia Huub de Jonge memaparkan, etnis Arab di Indonesia memiliki sejarah tersendiri dalam berdirinya NKRI.

Namun demikian, ada banyak peralihan posisi dari masa ke masa terkait etnis Arab di Indonesia.

“Ada kesan akomodasi yang selektif pada masa kolonial,” katanya saat ditemui di Bogor, Rabu (22/1/2020).

Menurut akademisi asal Radbound University Nijmegen, Belanda hal itu karena ada klasifikasi kelas pada masa kolonial.

Etnis Arab dan orang Arab pada saat itu masuk ke kelompok asing dan bukan asli pribumi karena sistem perbedaan kelas saat itu.

“Sehingga ada diskriminasi dan tekanan dari Belanda yang kentara pada etnis Arab khususnya Hadrami, layaknya ke pribumi,” katanya.

Namun menurut Huub, ada perubahan kelas yang terjadi pada 1944, utamanya pada saat Jepang masuk ke Indonesia. Posisi etnis Arab pada saat itu disetarakan dengan pribumi oleh pemerintahan Jepang.

Huub menuturkan, meski ada sedikit perubahan pada masa Jepang, namun itu tak bertahan lama.

Menjelang kemerdekaan, etnis Arab menjadi tak terlalu diperhatikan secara intens karena ditakutkan menimbulkan kecemburuan sosial dari etnis lainnya Indonesia.

“Tapi ada masa peralihan lagi pada masa pemerintahan Bung Karno di mana saat itu A.R Baswedan menjadi tokoh penting di lingkungan keturunan Arab,” ucapnya.

Dia menjelaskan, perjuangan etnis Arab pada saat itu ada di beberapa bidang.

Namun, politik menjadi sarana utamanya, terlebih menurut Huub, pendirian Persatuan Arab Indonesia (PAI) oleh A.R Baswedan yang saat itu menjabat Menteri Muda Penerangan Kabinet Sjahrir III dinilai menjadi salah satu sarana penting.

“Dia juga pejuang dan pahlawan nasional. Bahkan, perannya juga merembet sebagai jurnalis yang mendirikan majalah Hikmah dan menjadi suara partai Masyumi saat itu,” kata dia.

Perjuangan A.R Baswedan menurut Huub cukup intens. Hingga akhirnya, Bung Karno berjanji akan memberikan status penuh layaknya warga Indonesia pada etnis Arab di Indonesia.

“Walaupun itu tak dipenuhi,” ujarnya.

Huub menjelaskan, setelah kemerdekaan Indonesia diakui Belanda pada 1949, pemerintah Indonesia juga belum memberikan kejelasan pada etnis Arab.

“Satu konklusi, orang Arab selalu diganggu oleh kepentingan politis yang kurang baik. Banyak diskriminasi, bahkan kesulitan mendapatkan paspor juga,” kata dia.