Apakah Uang Kertas Bisa Tularkan Covid-19?

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sejak pandemic virus corona berlangsung, masyarakat diharapkan menggunakan uang elektronik sebagai pencegahan penularan. Sebenarnya seberapa besar kemungkinan terpapar Covid-19dari uang tunai?

Ketua Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) Dr Moh Adib Khumaidi SpOT mengatakan, transaksi menggunakan uang tunai memungkinkan untuk menularkan virus corona. Pasalnya, uang tersebut berpindah dari tangan ke tangan yang tidak diketahui riwayat kebersihannya.

“Saat ada transaksi yang uang tunai dari tangan ke tangan, kita tidak tahu orang yang pegang uang itu tangannya habis apa? Entah pegang kuping, entah tidak cuci tangan, atau lainnya, di mana virus dan kuman bisa berpindah ke uang,” kata dr Adib dalam konferensi virtual Positif Gotong Royong Digital, Kamis (30/4).

Menurut dr Adib, penelitian sudah membuktikan jika virus corona dapat bertahan di benda seperti kertas dan logam selama 48 jam. Oleh karena itu, penularan melalui uang tunai cukup memungkinkan.

“Bukan hanya uang tunai saja tapi dengan benda-benda tertentu juga. Ada penelitiannya bahwa di benda logam bisa bertahan 24-48 jam. Ini penelitian yang penting. Akhirnya kebutuhan uang tunai beralih menjadi uang digital dan ini penting,” katanya.

Dokter Adib juga mengungkap jika mendeteksi penyebaran virus corona bisa dilakukan menggunakan sinar ultraviolet (UV). “Sekarang ada teori juga untuk menghentikan Covid bisa dengan penggunaan sinar UV. Meski tidak membunuh, tapi bisa dipergunakan untuk itu. Ya, tapi sinar UV kan harus ada alat khususnya. Bisa juga dengan mencelupkan uang ke cairan klorida, tapi nanti uangnya rusak,” ujar dr Adib.

“Kalau hanya disemprot-semprot sanitizer saja ya bisa, tapi itu sifatnya hanya seperti cuci tangan, untuk membersihkan dari kuman. Tapi, kalau membunuh virus tidak direkomendasikan,” katanya menambahkan.

Sumber: republika.co.id

Komisi VIII Kritik Soal Tas Cap Bantuan Presiden

JAKARTA(Jurnalislam.com)– Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto mengkritik penditribusian bantuan sosial (bansos) oleh pemerintah di sejumlah daerah. Pasalnya, terdapat penyaluran bantuan yang terhambat karena tas pembungkus berlabel “Bantuan Presiden” belum tersedia.

“Keterlambatan itu ya kita sayangkan kalau alasannya tas bertuliskan ‘Bantuan Presiden’. Kan bukan tasnya yang mau dimakan. Berasnya, sama bahan-bahan pokoknya,” ujar Yandri kepada wartawan, Kamis (30/4).

Menurut dia, dalam bansos tak diperlukan embel-embel “Bantuan Presiden”. Hal yang diperlukan masyarakat adalah sembako untuk menyambung hidupnya, bukan hal remeh seperti itu.

Selain itu, hal ini bukanlah alasan terjadinya keterlambatan dalam pendistribusian bansos. Pasalnya, bantuan tidak hanya sekali disalurkan ke masyarakat. “Yang penting tepat waktu sehingga masyarakat tidak berkeliaran dan tidak banyak yang pulang kampung dan tidak banyak masalah dan mengeluh,” ujar Yandri.

Wakil Ketua Umum PAN itu pun meminta pemerintah pusat, khususnya Kementerian Sosial, untuk memperbaiki proses penyaluran bansos, terutama dalam hal pendataan, agar bantuan dapat tersalurkan pada yang berhak. “Jangan sampai salah sasaran. Tapi, kita sudah dengar dari Pak Mensos, beliau menyerahkan kepada bupati dan wali kota untuk mengatur siapa nama-nama yang berhak mendapatkan bantuan sosial,” ujar Yandri.

Sebelumnya, Menteri Sosial Juliari Batubara menyebut bahwa paket sembako untuk warga terdampak virus Covid-19 sempat tersendat. Sembako sudah tersedia, tetapi tas pembungkus belum tersedia.

Pembungkus itu belum tersedia karena produsen tas tersebut mengalami kesulitan impor bahan baku sehingga menyebabkan distribusi bansos terkendala meski paket sembako sudah tersedia. Tas untuk mengemas paket sembako itu bertuliskan “Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Covid-19”. Di tas itu juga terdapat logo Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Sosial serta cara-cara agar terhindar dari virus Covid-19.

Sumber: republika.co.id

Mendagri Sampaikan Dua Skenario Jika Covid-19 Berlanjut hingga 2021

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian memaparkan dua opsi skenario khusus dalam menangani Covid-19, jika pandemi tersebut terus berlanjut sampai 2021.

Hal itu ia sampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) secara virtual, Kamis (30/4).

“Karena harus melakukan perencanaan di tengah ketidakpastian, sekali lagi meskipun kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar krisis ini bisa berakhir di tahun ini juga, namun kita harus juga siapkan juga dua skenario jika ini berlanjut,” ujar Tito dalam keterangan tertulisnya.

Opsi pertama, jika wabah ini masih berlanjut maka fokus tetap pada penanganan Covid-19.

Mulai dari mencegah penyebarannya, memperkuat sistem kekebalan tubuh warga, memperkuat kapasitas dan sistem kesehatan, ketahanan pangan, pengembangan industri alat kesehatan, dan juga mendukung jaring pengaman sosial.

Jaring pengaman sosial dilakukan melalui bantuan-bantuan sosial kepada warga yang sulit. Selain itu, lanjut Tito, pemerintah menjaga agar dunia usaha tetap bisa hidup agar ekonomi tetap berjalan meskipun lamban dibandingkan sebelumnya.

Opsi kedua, apabila Covid-19 ini masih tetap berlangsung sampai tahun 2021. Maka yang harus diprioritaskan adalah program-program yang mendesak bagi skala nasional.

Strategis sifatnya dan kemudian program yang mendesak untuk tingkat kewilayahan atau daerah itu sendiri yang tidak bisa ditunda. Sedangkan, bila pandemi Covid-19 ini berakhir tahun ini, maka 2021 pemerintah harus fokus pada pemulihan ekonomi.

“Tahun 2020 selesai krisis ini maka di tahun 2021 kita harus fokus pada pemulihan, terutama pemulihan ekonomi, pemulihan sektor-sektor yang dapat memajukan kesejahteraan rakyat,” kata Tito.

Ia menuturkan, ada lima program pembangunan Indonesia lima tahun ke depan yang menjadi patokan bagi pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Kerja Pembangunan Daerah. Akan tetapi, rencana itu terkendala karena adanya wabah virus corona.

“Semua itu berubah atau terkendala dengan adanya fenomena dunia yang tidak diprediksi sebelumnya yakni krisis yang dipicu oleh Covid-19,” tutur Tito.

Lima program itu di antaranya pembangunan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, perbaikan regulasi, penyederhanaan birokrasi untuk mendorong investasi, dan transformasi ekonomi. Tito menambahkan, pemerintah akan tetap melanjutkan program-program tersebut.

Sumber: republika.co.id

 

Pemda Diminta Waspada Pemudik Nakal

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Tindakan sebagian masyarakat yang nekat mudik, bahkan sampai mencoba mengelabui razia petugas, dinilai sebagai tindakan yang egois.

Pemerintah daerah (Pemda) diminta untuk bersiaga jika di daerahnya terjadi penyebaran virus akibat pemudik nakal tersebut.

“Itu nyata-nyata tindakan yang sangat egois, tidak berpikir keselamatan diri sendiri, apalagi mementingkan keselamatan orang yang ditemui selama perjalanan, dan keluarga di desa,” jelas Wakil Ketua Umum PKPI, Keke Parawansa, dalam keterangannya, Jumat (1/5).

Ia menyebutkan, saat ini muncul kecenderungan arus penyebaran Covid-19 mulai bermigrasi dari Jabodetabek ke daerah-daerah lainnya.

Jika hal itu diperparah dengan mudik, maka bukan tidak mungkin akan menyebabkan gelombang penyebaran yang lebih masif dan sulit untuk dikontrol. Pemda pun diminta untuk bersiaga akan hal itu.

“Pemerintah daerah sudah harus siaga, apabila terjadi pandemi di daerahnya akibat pemudik nakal. Mengingat rumah sakit (RS) dan fasilitas kesehatan yang terbatas di daerah, terutama ketersediaan unit ventilator yang dibutuhkan saat penderita dalam tahap kritis,” terangnya.

Menurut Keke, pemerintah telah mendistribusikan hampir 8.500 ventilator ke 2.867 RS seluruh Indonesia, di mana mayoritas RS di Pulau Jawa. Jika dihitung, setiap RS tersebut hanya memperoleh dua sampai tiga unit ventilator. Ia menilai, itu tentu masih di bawah jumlah ideal dari kebutuhan darurat.

Dia mengatakan, kesadaran masyarakat yang besar serta gerakan membantu pemerintah diperlukan untuk menghentikan wabah Covid-19 ini. Menurut dia, oknum yang masih mencoba mudik sebaiknya ditindak tegas. Apabila sudah berada di desa, maka oknum tersebut harus benar-benar dikarantina.

“Kalau ketahuan sudah di desa, harus di karantina, kalau perlu di jauhkan oleh tetangga. Jangan jadi pemudik nekat, kecuali mau cepat-cepat lihat akhirat!” ungkap dia.

Sumber: republika.co.id

Bacalah Al Qur’an, Ia Akan Memudahkanmu Shalat Malam di Bulan Ramadhan

(Jurnalislam.com) – Ulama mengatakan: level ibadah tertinggi adalah tilawah Al-Quran dalam shalat, level kedua tilawah Al-Quran di luar shalat, level ketiga puasa sedangkan level keempat zikir.

 

Bulan ramadhan mengumpulkan seluruh ibadah tersebut dalam satu waktu. Artinya siapa yang mengerjakan shalat malam dia *telah mendapatkan kenikmatan yang sangat-sangat besar* karena mengumpulkan berbagai macam ibadah teragung dalam satu waktu.

 

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

 

“Barangsiapa yang shalat dalam Ramadhan (dengan niat) iman (ibadah) dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu” (Muttafaq alaih)

 

Para ulama membagi shalat malam di bulan ramadhan menjadi dua; dengan berjamaah yang disebut terawih dan shalat sendirian disebut tahajud.

 

Menurut Imam Asy-Syafii rahimahullah waktu paling afdhal shalat tahajud setelah bangun tidur.

 

Tahajud merupakan ibadah shalat malam yang paling agung *bertingkat-tingkat martabatnya sesuai dengan waktu*. Tingkatan tertinggi tahajud Nabi Dawud:

 

كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ

 

”Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam  malam terakhir.”

 

Selain itu ada waktu lain, yaitu *tahajud di akhir sepertiga malam* dan tidak tidur supaya tidak terlewat sahur.

 

Martabat tahajud paling rendah adalah shalat malam *antara waktu maghrib dan isya*. Setelah shalat maghrib dia mengerjakan tahajud.

 

Sebagian ulama memperbolehkan hal ini dengan hujah, setelah maghrib sudah masuk waktu malam. Firman Allah:

 

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

 

”Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (Al-Baqarah: 187)

 

Maksudnya, sempurnakan puasa sampai malam. Al-Quran menyebut waktu maghrib berbuka sudah masuk waktu malam dan bila telah masuk malam shalatlah termasuk tahajud. Dalil yang lainnya:

 

*كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ*

 

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Az-Zariyat: 17)_

 

Sebagian salaf menafsirkan dengan shalat malam antara maghrib dan isya.

Dari sini bisa dipahami, waktu tahajud sangatlah panjang. Mulai dari bada shalat maghrib hingga azan subuh.

 

*Sebab itu janganlah seseorang tertinggal dari shalat malam meskipun hanya membaca empat puluh ayat, seperti yang dilakukan oleh Imam Syafii.*

 

Beberapa ahlul ilmi saat ditanya tentang orang yang tidak shalat malam menjawab: Dia tidak akan bisa menghafal Al-Quran. *Kebiasaan shalat malam seseorang bisa dinilai dari berapa sering interaksinya dengan Al-Quran.*

 

Jadi, bacalah selalu Al-Quran agar dimudahkan munajat dalam tahajud.

 

(Zen Ibrahim Abu Asad)

 

Update Corona 1 Mei: 10.551 Kasus Positif, 800 Kematian

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Pemerintah mencatat adanya penambahan kasus baru pasien positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia, sebanyak 433 orang, sehingga total pasien terkonfirmasi Covid-19 menjadi 10.551 kasus.

Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan data tersebut diperoleh hingga siang ini, Jumat (1/5/2020).

Menurutnya, data terbaru itu dihimpun dari seluruh rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 di seluruh Indonesia. Penambahan kasus positif Covid-19 itu diperoleh dari hasil pemeriksaaan polymerase chain reaction (PCR).

“Maka, total pasien yang positif kini yang telah terkonfirmasi menjadi 10.551 kasus,” jelas Yuri, sapaan Yurianto, dalam konferensi pers, Jumat (1/5/2020).

Selain itu, ada penambahan kasus meninggal sebanyak 8 orang. Dengan demikian, hingga saat ini sudah ada 800 orang yang meninggal akibat virus SARS-CoV-2 di Indonesia.

Di sisi lain, ada sebanyak 69 pasien yang dinyatakan sembuh. Dengan begitu, total ada 1.591 pasien yang telah sembuh.

“Kasus pasien positif Covid-19 yang sembuh tertinggi ada di DKI Jakarta,” ujarnya.

Yuri menyatakan masih tingginya kasus baru positif Covid-19 menunjukkan bahwa masih ada orang yang terpapar Covid-19 di sekitar masyarakat.

Oleh karena itu, Yuri meminta masyarakat untuk mematuhi imbauan pemerintah yaitu cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menggunakan masker, menjaga jarak sosial, dan menghindari kerumunan.

Sumber: bisnis.com

 

64 Persen Responden Alamai Depresi Karena Corona

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melayani swaperiksa masalah psikologis terkait pandemi Covid-19 secara daring melalui situs resmi www.pdskji.org.

Saat ini, 64,3 persen (1.305 responden) dari 1.522 responden yang telah swaperiksa, memiliki masalah psikologis cemas atau depresi.

“Ada 1.522 orang yang sudah melakukan pemeriksaan masalah psikologis ini, dan ternyata didapatkan ada 64,3 persen yang mengalami gangguan cemas dan depresi,” ujar psikiater dari Pengurus Pusat PDSJKI, Dr Lahargo Kembaren dalam konferensi pers virtual di Youtube BNPB, Jakarta, Sabtu (1/5).

Ia menuturkan, mereka mengalami gejala-gejala diantaranya rasa takut, khawatir yang berlebihan, merasa tidak bisa untuk rileks dan nyaman, adanya gangguan tidur, kewaspadaan yang berlebihan, bahkan adanya gangguan stres pascatrauma psikologis.

Sebanyak 80 persen dari hasil periksa, responden mengatakan, mengalami suatu trauma psikologis terkait dengan kondisi ini.

Gejala seperti adalah merasa jauh dan tidak terhubung dengan orang lain, serta merasa terus menerus waspada dan berjaga-jaga.

Lahargo mengatakan, PDSKJI memberikan dukungan psikososial kepada masyarakat di tengan wabah virus corona dengan mengerahkan 1.000 psikiater yang tersebar di seluruh Indonesia.

Para psikiater tersebut siap melakukan pendampingan psikososial secara daring, salah satunya akun Instagram @pdskji_Indonesia. Mereka juga membuka konsultasi secara gratis melalui aplikasi Sehatpedia milik Kementerian Kesehatan.

Dengan demikian, ia mengajak masyarakat memeriksakan kesehatan jiwa apabila timbul kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan saat pandemi Covid-19. Padahal, menjaga kesehatan jiwa juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik dalam menghadapi wabah virus corona ini.

“Sehingga kita tetap bisa berkonsultasi dengan baik kepada profesional dan apa yang kita rasakan saat ini. Jangan ragu-ragu berkonsultasi ke profesionalnya apabila dibutuhkan,” kata Lahargo.

Sumber: republika.co.id

Masjid di Australia Buka Layanan ‘Drive-Through’ untuk Buka Puasa

AUSTRALIA(Jurnalsilam.com)–Komunitas Muslim di Gold Coast, Australia mengatakan telah membuka apa yang disebutnya sebagai layanan drive-through pertama di Australia yang menyediakan makanan buka puasa.

Perhimpunan Islam Gold Coast, dengan ketuanya Hussin Goss mengatakan pandemi virus corona telah memaksa mereka untuk berpikir kreatif dalam menggelar kegiatan di bulan Ramadan.

“Kami harus menemukan ide untuk memberi makan orang puasa di tengah bulan suci Ramadan,” katanya.

“Seperti restoran cepat saji McDonalds yang punya layanan ‘drive-through’, kami juga punya ‘drive-through’ bagi orang-orang berbuka puasa.”

Layanan ‘drive-through’ ini dilayani oleh tujuh orang, terdiri dari dua koki yang menyiapkan sekitar 400 makanan, sementara dua orang lainnya yang menyiapkan wadah ‘takeaway’.

Dengan donasi yang terkumpul, mereka membagikan makanan seperti nasi, roti, dan kari dengan daging domba, sapi dan ayam.

Hussin tidak menyangka akan melihat antrean panjang untuk mendapatkan makanan ini, termasuk dari kalangan mahasiswa internasional.

“Banyak mahasiswa internasional, seperti yang kita sudah tahu, mereka tidak punya pekerjaan sehingga tidak ada penghasilan yang masuk.”

Salah satu mahasiswa yang mengakses bantuan ini adalah Junaid Ali, yang merasa sedih karena tidak bisa merayakan Ramadan dengan keluarganya.

“Bulan Ramadan adalah salah satu bulan terbaik dalam setahun. Saya berdoa agar pandemi ini cepat berakhir.”

Menurut Hussin, bulan suci Ramadan menjadi kesempatan untuk berbagi dan menunjukkan rasa belas kasihan.

“Bantuan ini terbuka bagi siapapun di komunitas kami yang membutuhkan.”

sumber: republika.co.id

Kepala Daerah Diminta Amankan Rantai Distribusi Kebutuhan Pokok

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta para menteri ekonomi dan semua kepala daerah untuk peduli sekaligus mengamankan rantai distibusi bahan kebutuhan pokok masyarakat.

Efektivitas koordinasi harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Penerapan pembatasan sosial hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak boleh memutus atau merusak rantai distribusi bahan kebutuhan pokok.

“Semua kepala daerah jangan hanya fokus pada penerapan pembatasan sosial atau PSBB saja, tetapi juga peduli dan sensitif terhadap stok kebutuhan pokok masyarakat. Untuk mencegah panic buying, kekurangan stok setiap bahan kebutuhan pokok tidak boleh mencapai skala yang ekstrim,” ujar Bamsoet di Jakarta, Kamis (30/4).

Mantan Ketua DPR RI menuturkan, Presiden Joko Widodo telah menerima laporan tentang defisit bahah kebutuhan pokok di sejumlah daerah atau provinsi. Misalnya, defisit stok beras terjadi di tujuh provinsi.

Stok jagung defisit di 11 provinsi, stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi, stok telur ayam defisit di 22 provinsi dan stok gula pasir defisit di 30 provinsi.

“Kekurangan stok bahan kebutuhan pokok di beberapa daerah itu mestinya bisa dihindari. Karena ketersediaannya di dalam negeri dilaporkan lebih dari cukup. Telur ayam melimpah di pasar. Begitu juga gula pasir dan ketersediaan jagung. Bahkan stok beras dilaporkan surplus hingga Juni 2020,” urai Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini menilai, jika ada daerah yang mengalami defisit beras, jagung, telur ayam hingga gula pasir, masalahnya tentu pada lalu lintas informasi antar-institusi yang tidak efektif.

Akibatnya, komoditas yang tersedia tidak terdistribusikan ke daerah yang butuh atau daerah defisit.

“Masalah lain yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan terganggunya rantai distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit akibat penerapan pembatasan sosial. Hal ini harus segera diatasi oleh para menteri dan kepala daerah untuk mencegah kepanikan di masyarakat,” pungkas Bamsoet.

Sumber: republika.co.id

Survei BPS Selama Pandemi: Kebutuhan Kuota Meningkat, Pemasukan Turun

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pandemi virus corona baru (Covid-19) telah mengubah pola konsumsi rumah tangga di Indonesia, terutama dari ragam kebutuhan masyarakat. Data ini didapatkan melalui Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19yang kini sedang dikerjakan BPS.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kebutuhan untuk alat kesehatan seperti obat, vitamin dan sanitasi, mengalami kenaikan.

Sebanyak 73,28 responden mengaku mengalami perubahan pengeluaran dengan memasukkan alat kesehatan sebagai kebutuhan sehari-hari mereka saat ini.

Kondisi serupa terjadi dengan pulsa yang kini semakin dibutuhkan seiring peningkatan penggunaan internet setelah kebijakan work from home (WFH). Sebanyak 56,55 persen responden mengaku, kebutuhan mereka terhadap pulsa bertambah setelah pandemi.

Di sisi lain, Suhariyanto menambahkan, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) justru tidak berubah.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diindikasikan menyebabkan masyarakat semakin jarang melakukan mobilisasi dengan kendaraan.

Dampaknya, tingkat pengeluaran mereka untuk konsumsi BBM masih sama, atau bahkan cenderung turun.

“Bisa dilihat, Covid-19 tidak hanya mengubah perilaku masyarakat, tapi juga mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga,” tutur Suhariyanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR secara virtual, kemarin.

Survei ini bertujuan melihat persepsi dan pemahaman masyarakat mengenai Covid-19 serta dampak yang dirasakan masyarakat. Suhariyanto mengatakan, BPS berupaya menangkap poin tersebut, sehingga pemerintah mampu mengantisipasi dan berusaha memahami apa yang dilakukan masyarakat dalam menghadapi pandemi.

Melalui data ini, Suhariyanto mengatakan, pemerintah dapat membuat kebijakan untuk mengakomodir barang-barang yang kini menjadi kebutuhan masyarakat.

Sebab, ketika permintaan meningkat, sedangkan ketersediaan terbatas, tentu akan mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi.

Dari survei yang sama, BPS juga menemukan, sebanyak 56 responden menyatakan adanya peningkatan pengeluaran.

Sedangkan, hanya 0,96 persen responden yang mengalami kenaikan pemasukan. Lebih dari 50 persen di antara mereka justru mengalami penurunan pemasukan.

Dengan berbagai kondisi ini, Suhariyanto mengatakan, pemerintah harus terus melakukan refocusing dan realokasi APBN sebagai respons mengatasi dampak pandemi.

“Sebab, gimanapun, kita harus utamakan keselamatan dan kesehatan, meski juga perlu memikirkan perekonomian,” ucapnya.

Sumber: republika.co.id